Bab 1

Rasanya baru saja mata pemuda itu terpejam. Namun, ponselnya sejak dua menit yang lalu tak juga berhenti bergetar, seakan ingin mengusik lelap pemuda berkulit putih itu.

Andra Pamungkas mengutuki dirinya yang telah terlupa untuk me-nonaktif-kan benda pipih itu sebelum memejamkan mata.

Masih dengan matanya yang setengah tertutup, jemari Andra meraba permukaan nakas di sebelah kanan tempat tidur. Dapat. Smartphone hitam berlambang apel tergigit, sudah dalam genggaman tangannya. Sedikit memicingkan mata, pemuda itu mengintip ke layar ponsel.

Siapakah seseorang yang berani mengusik tidurnya yang baru beberapa menit berjalan.

Ternyata yang menelepon Andra ialah Tante Siska. Wanita cantik dan seksi berkepala empat yang menghadiahi ponsel berlambang apel tergigit itu kepada Andra sebagai kado ulang tahun pada tahun lalu.

Bagaimana bisa Andra mengabaikan panggilan Tante Siska. Wanita itu saja sangat royal dan selalu menuruti semua keinginan seorang Andra.

"Pagi, Tante Siska." Andra menjawab panggilan telepon dengan suara yang serak.

"Kamu baru bangun, Ndra?"

Andra berdeham satu kali untuk menghilangkan gatal pada tenggorokan. "Lebih tepatnya baru mau tidur, Tante." Andra bergerak sedikit. Bangkit. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.

"Duh, maafin Tante, ya ... habis, Tante udah gak sabaran mau ngasih tau sesuatu ke kamu. Suami Tante bakal pergi keluar kota selama dua minggu," ujar Tante Siska terdengar riang dan semringah dari panggilan telepon.

"Waw, asyik, dong, Tante." Nada bicara, Andra buat seantusias mungkin. Biar wanita seksi itu senang dan bakal memberinya hadiah yang lebih banyak lagi.

"Makanya ... nanti kamu ikut Tante jalan-jalan ke villa di Puncak, ya. Temen-temen Tante juga bawa brondong mereka masing-masing." Nada suara Tante Siska manja menggoda. "Masak Tante harus pergi sendirian, sih?"

Andra tersenyum mendengar nada manja pada suara Tante Siska. "Tante atur aja ... apa, sih, yang gak buat Tante."

"Kamu memang the best, Andra." Tante Siska terdengar senang sekali.

Suara gemericik air ikut masuk ke dalam sambungan telepon mereka.

"Tante lagi apa, sih?"

"Mandi. Kamu mau lihat?"

Tanpa sadar jakun Andra bergerak naik-turun. Meski Tante Siska tak lagi muda, dia sangat pintar merawat kulit, badan, dan aset yang wanita itu miliki. Dengan tinggi badan imut 155 cm, tetapi dadanya amat kenyal membusung. Berukuran 38 B.

Body gitar Spanyol dibalut kulit putih terawat yang sering tersentuh lulur dan mandi susu, serta jarang berpanas-panasan di bawah terik sinar matahari secara langsung.

Belum sempat Andra menjawab, panggilan telepon dialihkan menjadi panggilan video. Tante Siska baru saja meminta untuk Andra mengubahnya. Lekas Andra geser layar ponsel ke atas.

Pemandangan syur seketika terpampang di depan mata Andra. Tante Siska polos seperti bayi yang baru terlahir ke dunia, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh sintalnya. Mata Andra ketar-ketir melihatnya.

Tante Siska sengaja meremas sepasang gunung kembar sembari menghadap ke kamera, dengan lidah menjulur menggoda.

"Kamu gak kangen apa, Ndra, sama mereka berdua ini? Hmm?"

Tante Siska memilin puting yang terlihat mengeras. Bibirnya terbuka, mendesah. Dia begitu menikmati setiap sentuhan-sentuhan jemarinya sendiri.

Darah di dada Andra berdesir. Seperti ada sesuatu yang menjalar di dalam tubuhnya. Mengeliat, membuat kejantanan pemuda itu terbangun dari tidurnya.

Benar saja. Milik pribadi Andra menegang. Mengeras seperti ingin keluar dari himpitan celana jeans ketat yang pemuda itu kenakan.

"Tante jahat, ih. Lihat ini!" Andra mengarahkan kamera ponsel ke barang pribadinya sendiri yang menjadi perkasa. Dua detik yang lalu pemuda itu sudah membebaskannya dari cekikan resleting. Rudal kejantanan Andra telah mengacung, memamerkan urat-uratnya yang menyembul.

"Tante bantu, ya. Biar abis ini kamu bisa tidur nyenyak."

Andra mengangguk. Tangannya mulai memilin kepala rudalnya itu. Tatapan Andra tak lepas dari Tante Siska yang semakin menggoda di balik layar ponsel dalam genggamannya.

Lidah Tante Siska terjulur, menjilati bibirnya yang padat berisi. Bulu kuduk Andra seketika meremang. Sentuhan lidah itu masih membekas dan tertinggal dalam memori Andra. Meliuk, basah, dan hangatnya Tante Siska.

Andra semakin mempercepat gerak tangan. "Tante, aku keluarin sekarang, ya, di mulut Tante?"

"Tentu, Ndra. Ayo ... hmmpf. Ah ...." Dua detik kemudian tubuh Andra menegang. Cairan hangat mengalir di sela-sela jemarinya. Dia meraih tisue lalu membersihkan cairan putih kental di seputaran rudalnya.

Ponsel Andra letakkan di atas nakas tanpa mematikan panggilan video. Sehabis membersihkan diri dengan air, Andra pakai kembali celana boxer dan rebah ke atas tempat tidurnya.

Andra raih kembali ponsel dan melihat Tante Siska sudah selesai mandi.

"Bagaimana?" tanya wanita itu.

"Aku udah ngantuk berat. Aku tidur dulu, ya, Tante. Nanti kalo bangun, aku langsung chat Tante."

"Baiklah, Sayang. Semoga mimpi indah. Muach ...!"

Panggilan terputus. Tak lupa Andra me-nonaktif-kan ponsel agar tak ada seorang pun yang akan mengganggu tidurnya lagi. Andra biarkan benda itu tergeletak di dekat bantal. Tak ingin membuang waktu, dia memaksakan mata untuk terpejam dan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Mengistirahatkan tubuh lelah yang seharian terjamah tangan-tangan wanita-wanita yang haus kasih sayang laki-laki muda seperti Andra Pamungkas.

***

Andra terbangun di jam empat sore dengan kepala pusing dan perut yang kosong keroncongan. Bangkit dan berjalan tertatih dia menuju kamar mandi. Pikirnya, mungkin jika kepala pemuda itu terguyur air dingin, rasa pusingnya akan segera hilang.

Andra memutuskan untuk mandi dan menyikat gigi. Benar saja, rasa berdenyut di kepalanya agak berkurang.

Mengeringkan rambut dengan handuk, Andra membuka lemari baju dua pintu. Memilih baju kaos dan celana jeans secara asal dan memakainya. Tak lupa jam tangan mahal yang dihadiahkan Tante Silvi dua bulan lalu, menghiasi pergelangan tangan kiri pemuda itu.

Andra memutuskan akan mengisi perut di rumah makan cepat saji yang berada tepat di seberang apartemen tempat tinggalnya itu. Setelah turun dengan menggunakan lift, Andra hanya butuh berjalan kaki saja hingga tiba di sana.

Setiba di toko itu Andra terpana memandangi wajah baru yang tak pernah pemuda itu lihat sebelumnya. Seorang gadis bernama Anna—Andra mengetahui namanya dari name tag yang dikenakan gadis itu. Wajahnya manis. Kulitnya putih. Alisnya terukir alami tanpa pensil. Hitam pekat senada dengan warna rambutnya.

"Selamat sore, mau pesan apa, Kak?" Suaranya lembut. Namun tiap kata yang diucap jelas terdengar di telinga Andra bahkan mampu menggetarkan sanubari pemuda itu.

"Saya mau pesan paket combo satu, satu paket." Andra terdengar agak gugup setelah dipandangi terus-terusan oleh mata Anna yang bening dan indah.

"Baik. Paket combo satu. Ada tambahan lain lagi, Kak?"

"Enggak." Andra menggeleng cepat. Setelah Anna menyebutkan sejumlah harga dan Andra membayarnya, pemuda itu meraih satu nampan pesanannya yang telah tersedia lalu mengambil tempat paling sudut di dekat jendela yang mempunyai kaca berukuran besar-besar.

Andra makan dengan lahap sebab perutnya sudah amat lapar. Isi di nampannya kini sudah habis. Saat hendak berjalan ke tempat cuci tangan yang disediakan, mata Andra dan gadis itu bersirobok. Namun, Anna bergegas mengalihkan pandang ke arah lain.

Andra tersenyum tipis penuh kemenangan saat menggosok kedua jemari tangan di wastafel. Andra merasa bahagia sebab baru saja mendapati fakta bahwa gadis itu sedang memperhatikan gerak-gerik Andra sedari tadi.

'Mungkin dia bisa kujadikan selingan sementara waktu. Aku sedikit bosan karena hidupku selama ini hanya dikelilingi wanita-wanita haus seks dan tidak perawan seperti Tante Siska dan Tante Silvy,' gumam Andra dalam hati.

Sebelum berjalan keluar, Andra sempat menolehkan kepala sekali lagi ke arah Anna. Benar saja gadis itu masih saja sesekali memandangi kepergian pemuda itu. Andra tak ingin membuang kesempatan. Dia mengedipkan sebelah mata ke arah Anna. Gadis itu terlihat tersentak dan melongo. Lalu menunduk secara buru-buru.

Andra tergelak.

'Yes! Dia sudah masuk ke dalam perangkapku. Siapa yang bisa menolak pesona Don Juan seperti aku, Andra Pamungkas. Setiap gadis yang kupandangi, pasti salah tingkah dan bergerak-gerak risih malu-malu.' Sekali lagi Andra menggumam dalam hati.

Dianugerahi wajah tampan, hidung mancung dan bibir merah alami, kata sebagian tante-tante yang menggunakan jasanya, wajah Andra mirip dengan Lee Min Hoo. Aktor Korea Selatan yang digandrungi kebanyakan wanita di belahan dunia mana pun.

Ya. Andra adalah seorang simpanan. Karena himpitan hidup yang berat, dia harus menjalani hidup seperti ini.

Andra Pamungkas berpredikat yatim piatu saat sepasang suami istri mengadopsinya dari panti asuhan. Kasih sayang dan semua kebutuhannya tercukupi oleh mereka. Namun, setelah sang istri berhasil mengandung dan mendapat anak hasil sendiri, sikap mereka berdua berubah seratus delapan puluh derajat terhadap Andra, anak angkat mereka.

Andra layaknya pembantu di rumah mereka hingga usia pemuda itu beranjak ke angka tujuh belas. Selesai tamat SMA dan punya KTP sendiri, Andra memilih kabur dari rumah orang tua asuhnya.

Dengan bermodalkan wajah rupawan dan ijazah SMA, Andra gampang saja mendapat pekerjaan menjadi SPG sebuah produk barang-barang terkenal.

Namun, gaji yang Andra dapat tidak cukup untuk menutupi segala kebutuhannya sehari-hari. Hingga suatu hari pemuda itu bertemu dengan Tante Siska. Mereka bertemu di sebuah club di kota Jakarta. Untuk pertama kalinya Andra bermabuk-mabukan karena tak kuat lagi menanggung segala nestapa yang dia hadapi sendirian di dunia ini.

Hendak mengakhiri hidup, Andra tidak punya cukup nyali.

Dalam keadaan setengah sadar, Tante Siska membawa Andra ke rumahnya yang mewah. Dalam keadaan setengah sadar pula, wanita itu menjamah dan bergoyang di atas tubuh Andra yang lunglai tak berdaya.

Akan tetapi, Andra masih bisa merasakan nikmat tiada tara yang selama ini hanya dalam khayalan pemuda itu saja. Semenjak itu Tante Siska menyuruh Andra untuk berhenti bekerja. Dia akan memenuhi segala kebutuhan Andra. Baik apartemen, pakaian, dan beberapa ATM yang tak pernah kosong saldonya.

Tentu Andra tidak bisa menolak segala kemewahan yang ditawarkan oleh wanita cantik sekaligus seksi itu, bukan?

***

Bab 2

Andra menarik napas panjang dan berusaha kembali tersadar setelah tak sengaja mengingat peristiwa menyedihkan itu yang pernah terjadi di dalam kehidupannya.

Lamunan pemuda itu teralih oleh sebuah panggilan telepon yang masuk ke ponselnya di dalam genggaman. Pada layarnya tertera nama Tante Silvi. Wanita royal nomor dua yang sanggup memberikan Andra apa saja.

"Ya, Tante?" Andra segera mengangkat panggilan telepon dari Tante Silvi.

"Andra ... kamu bisa ke sini, Sayang?" Suara Tante Silvi lirih dan mendesah terdengar di telinga Andra.

Andra melirik jam di tangan kirinya. "Tante di mana?"

"Di Rumah Kebun. Kamu ke sini, ya. Cepetan, Sayang." Tante Silvi mendesak sekaligus memohon pada pemuda itu.

"Oke, tunggu aku, ya. Sebentar lagi aku akan ke sana."

Panggilan mati secara sepihak dilakukan oleh Tante Silvi. Andra bergegas ke tempat parkir. Untungnya pemuda itu selalu menyelipkan kunci mobil di saku celana. Sebab situasi yang mendadak seperti barusan, pasti akan membuat Andra lelah jika harus kembali ke apartemen hanya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal.

Beberapa menit kemudian, Andra melajukan mobil sport putih membelah jalan tol yang cukup lenggang. Rumah Kebun yang dimaksud Tante Silvi adalah rumah peristirahatan dengan halaman luas yang terletak di pinggir Kota Bekasi.

Wanita kaya itu membeli satu hektar tanah dan membangun sebuah rumah asri di sana. Rumah yang dikelilingi tetumbuhan, pohon buah-buahan dan bunga yang terawat rapi. Jika Tante Silvi menyebutnya Rumah Kebun, Andra menyebutnya villa. Ya. Menurut Andra malah lebih mirip villa-villa di Puncak dengan udara yang menyejukkan.

Satu jam berkendara, akhirnya mobil pemuda itu berhenti di depan pagar tinggi bercat hitam. Security-nya bergegas membuka pintu pagar. Kebetulan mereka sering bertemu. Tante Silvi pun pernah memperkenalkan Andra pada pria asli daerah itu sebagai 'tamu istimewa'.

Pria itu tidak banyak bertanya lagi. Yang dia tahu Andra adalah orang istimewa bagi pemilik rumah alias majikannya sendiri. Sehingga si security tak perlu lagi banyak tanya tentang tujuan Andra datang ke sana.

Ponsel Andra kembali bergetar tak sabar dan berdering lagi. Pemuda itu mengangkatnya secara cepat.

"Ini aku udah di depan, Tante. Baru parkirin mobil."

"Kamu buruan. Langsung aja masuk ke kamar Tante, ya. Cepat!" Desah napas Tante Silvi begitu mendesak.

Mau tidak mau Andra harus turun dari mobil secara tergesa-gesa. Dia menyempatkan diri mengangguk pada Pak Udin—security—lalu melangkah cepat melewati anak-anak tangga menuju lantai dua rumah itu.

Andra mengetuk pintu bercat putih berpadu gold sebelum mendorongnya perlahan-lahan. Di atas ranjang ukir besi, Tante Silvi telentang tanpa busana. Matanya merem melek memainkan sebuah alat berbentuk 'milik pria' yang terbuat dari plastik jelly berwarna kuning.

Walau sadar akan kehadiran Andra, Tante Silvi tetap tak mau menghentikan kegiatannya itu. Tangannya yang lain malah terjulur pada pemuda itu. "Andra, bantuin Tante. Tante on berat."

"Tante abis minum apa, sih?" Andra menggoda. Namun, tetap melangkah ke ranjang mendekati wanita yang tanpa busana itu.

"Jangan nakal. Ayo, bantuin." Tante Silvi merengek lagi.

Tangan Tante Silvi meraih tangan Andra untuk diarahkan ke area pribadi milik wanita itu. "Kamu yang mainin. Cepetan. Ayo."

Andra menurut saja. Dia tak mau membikin Tante Silvi berubah menjadi bad mood. Jempol Andra membelai tonjolan kecil daging yang mencuat di tengah-tengah area sensitif Tante Silvi.

Tante Silvi mendesah. "Cium, Ndra. Please ... mainin lidahmu di situ."

Andra mendekatkan bibir. Aroma khas menguar di seputaran hidungnya. Dengan ujung lidah, Andra mainkan tonjolan itu. Sesekali mengulumnya, mengecapnya. Telunjuk Andra juga bergerak nakal, menusuk-nusuk ke lubang Tante Silvi yang sudah basah oleh cairan bening agak lengket.

Tante Silvi tiba-tiba bergerak dan meracau tak karuan. Tangannya berusaha memasukkan kembali mainan tadi agar melesak lebih ke dalam.

Andra menepis tangan Tante Silvi yang tidak sabaran. Andra sambar benda itu. Dilesakkan keluar masuk dan bergoyang cepat dengan lidahnya masih bergerak nakal.

Tante Silvi semakin menggila. Di satu kesempatan, dia melenguh panjang sambil meremas rambutnya sendiri. Tubuhnya menegang lalu berhenti bergerak, lemas lunglai.

"Udah?" Andra tersenyum.

"Gila, yak. Kalo gak kamu bantuin, Tante gak sampe-sampe dari tadi." Bibir tebal hasil operasi yang dijalani Tante Silvi setahun lalu, tersungging senyum.

"Berarti aku gak dibutuhin lagi, nih? Aku pulang, ya?" Andra sungguh suka menggoda wanita itu.

"Eits ... jangan dulu. Kamu, kan, tau sebelum lima ronde, Tante gak bisa tidur nyenyak." Wanita hiperseks itu menarik dan mendorong tubuh Andra hingga telentang di atas ranjang.

Jemari Tante Silvi yang berhias kutek berwarna hitam, mengendurkan tali pinggang Andra. Membuka resleting lalu membelai milik pemuda itu yang hanya terlapisi celana dalam saja.

Seperti biasa, bersama Tante Silvi, Andra tidak perlu menguras habis tenaga. Bak bayi Andra diperlakukan oleh Tante Silvi. Andra hanya baring telentang dan pasrah pada semua aksi wanita itu.

"Hari ini kamu gak ketemu Siska, Ndra?"

Andra menggeleng. "Belum, Tante."

"Berarti hari ini kamu punyaku, ya?"

Andra terkekeh. Namun matanya langsung berubah meredup saat Tante Silvi memasukkan milik Andra ke dalam mulutnya. Lidah wanita itu menjilat ujung kepala rudal Andra dan dua bolanya yang bergelantung. Jemari Tante Silvi pun menggenggam erat batangan Andra yang keras seperti otot-otot Samson, pelan-pelan diurutnya. Naik-turun.

Akan tetapi tetap saja Andra harus pandai mengontrol diri. Andra tidak boleh keluar sebelum mendapat izin dari wanita itu.

"Akhhh ...." Andra meraih kepala Tante Silvi. Andra sibak rambutnya yang bergelombang. Andra tekan sedikit kepala Tante Silvi lebih mendekat agar milik Andra bisa sepenuhnya berada dalam kuluman wanita itu. Tante Silvy hendak menyudahi, tapi Andra masih menahannya sebentar. "Tahan dulu, Tante. Akhhh ...."

Berkat tak tahan, Andra kelepasan. Andra mengeluarkan cairan dalam mulut wanita itu. Tante Silvi tak marah. Malah meneguk dan menjilati cairan Andra tanpa sisa.

"Sorry, Tante. Aku udah gak tahan. Abis Tante menggairahkan, sih." Andra senyum malu.

"Nakal kamu, ya." Tante Silvi menepuk pelan pipi Andra. "Tapi kamu masih sanggup, kan, beberapa ronde lagi?"

"Tentu dong. Tuh, lihat. Si Otong udah bangun lagi." Andra menunjuk ke arah miliknya yang sudah kembali perkasa.

Tante Silvi duduk di atas perut Andra. Sekali lesakan, rudal pemuda itu sudah menusuk lubang sensitif wanita itu.

Andra merem melek setelah merasakan rapet ,legit, dan menjepit. Selain operasi hidung dan bibir, Tante Silvi juga mengoperasi milik pribadinya.

"Akhhh ...." Sensani nikmat sekali lagi Andra rasakan saat Tante Silvi mulai bergerak naik turun di atas pemuda itu yang masih dengan posisi telentang. Semakin lama semakin cepat tempo yang Tante Silvi buat memompa keperkasaan Andra.

Di detik berikutnya, Tante Silvi mengejang dan berhenti. Andra bisa merasakan cairan hangat menyelubungi benda miliknya.

Tante Silvi bukanlah wanita egois. Tau bahwa Andra belum selesai dia kembali bergerak. Kedua tangan Andra menangkap gunung kembar Tante Silvi yang kenyal. Desahan dan erangan wanita itu berhasil memancing libido Andra. "Aku mau keluar, Tante."

"Di dalam aja. Gak apa-apa, kok." Tante Silvi menjawab di sela napas yang memburu.

Tubuh Andra menegang. Dua sama. Setelah itu Tante Silvi memberikan waktu istirahat hanya sepuluh menit kepada Andra. Hingga adu raga mereka terjadi lagi hingga lima ronde.

***

Hari sudah gelap. Andra merebahkan diri dengan Tante Silvi masih berbaring manja di sebelahnya dalam balutan selimut berwarna kelabu.

Ponsel Andra tiba-tiba berdering. Tanpa melihat pun dia sudah tau bahwa itu panggilan dari Tante Siska.

"Pergilah, Ndra. Temui Siska. Habis ini Tante mau kumpul dengan teman-teman Tante yang lain." Tante Silvi meraih ponselnya. Berkutat sebentar dengan benda itu, lalu dia perlihatkan layarnya pada Andra. "Tante sudah transfer kamu 20 juta, ya."

Andra mengecup pucuk kepala Tante Silvi. "Makasih, Tante." Bergegas pemuda itu bangkit berdiri. Dia meraih baju dan celana yang bertebaran di atas lantai. Andra memakainya kembali secara terburu-buru.

"Tante yang makasih. Kamu mau ke sini jauh-jauh dari Jakarta." Tante Silvi menopang dagu dengan kedua telapak tangannya sembari terus memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Andra.

Tanpa banyak bicara lagi Andra melambai pada Tante Silvi lalu menuju pintu. Hari sudah gelap tentu saja.

Andra mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dia tak ingin membuat Tante Siska menunggunya terlalu lama.

Di jalanan yang sepi, Andra meraih tutup dasbord lalu membukanya. Andra mengambil sebotol minuman penambah stamina dan menegaknya sampai habis tak bersisa.

Andra sangat membutuhkan minuman ini untuk menghadapi kedua wanita haus kasih sayang dan belaian laki-laki itu.

Di depan sebuah rumah besar bernuansa putih, Andra menghentikan laju kendaraan roda empat miliknya. Rumah itu tanpa penjaga. Namun, semua fasilitas yang terpasang sangat canggih. Pagar yang terbuka sendiri dan juga pintu yang kuncinya hanya membutuhkan sandi-sandi serta sidik jari.

Seperti biasa Andra bebas melenggangkan kaki masuk ke dalam kamar besar di sisi kolam renang. Tak ada sesiapa pun di situ. Namun, telinga Andra mampu menangkap gemericik air dari arah kamar mandi.

Secara mengikuti naluri, Andra melepas semua pakaian tanpa banyak bicara lalu melangkah saja ke sana. Dia mendapati sebentuk badan sintal sedang membelakangi. Andra peluk saja dari belakang, lantas ikut bergabung di bawah curahan air yang berasal dari keran shower.

Tangan Andra mulai bergerak nakal. Jemarinya mendekap sepasang gunung kembar Tante Siska dan meremasnya penuh perasaan. Wanita itu melentingkan tubuhnya ke belakang. Menungging, memasang, bersiap menerima milik Andra yang sudah menegang.

***

Bab 3

Andra sedikit merendahkan kaki-kakinya. Sekali lesak, kewanitaan Tante Siska sudah berhasil Andra bobol. Wanita itu memekik tertahan lalu mendesah. Kali ini Andra yang menggempurnya habis-habisan dari arah belakang. Pemuda itu mengentak-entakkan rudal miliknya menembus area sensitif yang sudah basah.

Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Tante Siska menegang. Dinding-dinding kewanitaannya bisa Andra rasakan berkedut dan mencengkeram.

Andra mencabut dan menggenggam rudal miliknya. Dia membalikkan tubuh Tante Siska menghadap ke arahnya. "Isap, Tante. Please ...."

Tante Siska tersenyum lalu berjongkok. Lidahnya yang nakal memainkan kepala rudal milik Andra, menari-nari, menggelitik membuat sensasi nikmat tiada tiara bagi Andra.

Tante Siska memang terbaik jika mengenai urusan ini. Dia pintar menerbangkan Andra hingga ke awang-awang.

Andra sedikit menggerakkan pinggul. Bergoyang seirama gerakan kepala wanita itu. Namun, Andra belum mau menyerah kalah. Andra menyambar bahu Tante Siska dan membuatnya kembali berdiri. Leher Tante Siska yang sekal dan wangi, Andra ciumi bertubi-tubi.

Bibir Andra turun ke bawah, dia menghisap secuil puting yang keras. Andra benamkan wajahnya di antara gunung kembar Tante Siska yang wangi dan montok.

Andra sangat menyukai aroma alami tubuh Tante Siska.

"Sekalian urutin, Tante. Disayang-sayang, dong," kata Andra saat dia merasakan tangan Tante Siska meraba-raba rudal milik Andra.

Tante Siska patuh. Jemari tangan wanita itu mengurut batangan milik Andra. Dari ujung hingga pangkal. Jika dengan Tante Siska, Andra bisa berlama-lama menikmatinya.

Andra mengambil lagi kendali, lalu dia mengangkat sebelah paha Tante Siska. Lagi-lagi Andra melesakkan rudal ke lubang di sana. Tante Siska merem melek dibuatnya. Begitu menikmati tiap gerakan pinggul Andra. Untuk kedua kalinya Tante Siska mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.

"Kamu malah belum, Ndra. Tante bantu, ya."

Tante Siska mendorong mundur tubuh Andra, mendudukkan pemuda itu ke atas penutup toilet duduk. Sambil membelakangi, Tante Siska mengambil posisi.

"Akhh ... sungguh nikmat." Andra berkata. Dia merasakan kehangatan bokong montok wanita itu.

Tante Siska mulai bergerak. Naik turun. Andra sembari memeluk tubuh Tante Siska dari belakang sambil menciumi leher dan meremas gunung kembar Tante Siska.

"Ahkk ... sungguh nikmat, Tante."

"Aku keluar sekarang, Tante."

Seakan tak peduli, Tante Siska semakin memompa bokongnya. Di saat Andra hendak mencapai puncak, dia menahan gerakan Tante Siska. Membiarkan rudal milik Andra terbenam keseluruhan dan berkedut di dalam liang wanita itu dengan kedua telapak tangan yang masih meremas payudara dan mengecup belakang leher Tante Siska.

"Akhhh ... Tante. Hmm."

***

Mereka berdua makan malam di sisi kolam renang. Tidak ada pembantu atau pun tukang kebun. Tante Siska meminta para asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya itu untuk pergi jika Andra datang berkunjung.

Jadi hanya ada mereka berdua saja sekarang. Sambil mendengarkan beberapa keluhan Tante Siska, Andra menikmati irisan daging steak-nya perlahan-lahan.

"Tadi kenapa teleponku gak diangkat, sih, Ndra?" Tante Siska memasukkan potongan besar daging ke mulutnya. Secara sensual menjilati saus yang menempel pada bibir. Andra tak ingin melewati pemandangan itu dan tak segera menjawab tanya dari Tante Siska.

"Ndra?" Tante Siska mengulang. Heran menatap Andra.

"Bibir Tante seksi." Andra nyengir.

"Kamu pinter, ya mengalihkan pembicaraan."

Andra meraih segelas air putih lalu meneguk setengah isinya. "Tadi aku ganti ban dulu, Tante. Bocor pas di jalan tol."

"Kok, bisa?"

Andra mengedik bahu. "Ya ... mungkin pas lagi apes."

Itu hanya alasan Andra saja. Hubungannya dengan Tante Silvi terjadi di belakang Tante Siska. Tante Siska sama sekali tidak ingin berbagi tubuh Andra dengan wanita lain, sedangkan Tante Silvi sendiri tau akan hal itu. Tante Silvi memaklumi jika dirinya hanya sebagai ban serep saja.

Tante Siska menyelesaikan makannya. Wanita itu mendorong piring yang masih berisi setengah ke tengah meja. Wanita itu berdiri lalu melepaskan piyama handuk yang dia kenakan. Tubuhnya kini menggoda dengan terbalut bikini hitam. Kontras sekali dengan kulitnya yang putih mulus.

"Tante mau berenang," katanya pada Andra.

Byur!

Tante Siska melompat ke dalam air. Mata Andra tak pernah lepas dari body-nya yang bagai gitar Spanyol.

Tante Siska berenang ke ujung dengan gaya bebas. Berbalik arah dengan gaya telentang. Gunung kembarnya yang padat berisi, menyembul di balik bikini. Mengapung mengkilat tertimpa sinar lampu sisi kolam renang.

Libido Andra naik kembali. Tanpa ragu, pemuda itu melepaskan celana boxer-nya.

Kini badan Andra bugil. Sekali lompat, Andra menyusul Tante Siska ke dalam kolam renang. Andra telah berada di sebelah Tante Siska.

"Hei, kamu tumben mau ikutan?" Tante Siska terperangah.

"Aku gak tahan dengan ini." Sekali rengkuh, Andra menarik tubuh Tante Siska. Pemuda itu memepetkan tubuh Tante Siska ke tepian kolam. Satu kali tarikan tali, bikini Tante Siska terlepas. Sepasang gunung sintal, mengapung bebas. Sekali lahap, Andra menyambar dengan mulutnya. Meremas dan menggigit pelan puting dengan bibir.

Wanita itu melenguh. Menikmati setiap sentuhan bibir Andra. Pemuda itu memang menggila jika bersama dengan Tante Siska. Tak ayal waktu yang dihabiskannya, hanya bercinta saja dengan wanita itu.

"Masukin sekarang, Ndra, ayo masukin!" Tante Siska terpekik-pekik tidak sabaran.

Andra terkekeh dibuatnya. Jemari Andra turun ke bawah, menyibak tali bikini yang dipakai Tante Siska.

Tante Siska telah mengambil posisi, melebarkan kedua pahanya.

Slup!

Rudal milik Andra kembali membobol kewanitaan Tante Siska.

"Ahhh ...." Tante Siska mendesah.

Kecipuk-kecipuk air terdengar menampar-nampar tepian dinding kolam renang saat pasangan berbeda usia itu saling beradu raga.

***

Waktu menunjukkan pukul 23.00 malam. Andra pamit pulang meski Tante Siska mati-matian menahan kepergiannya. Percuma saja Andra menginap. Andra tidak akan bisa tidur nyenyak di sebelah wanita seksi itu.

Mobil yang Andra kendarai tetap melaju perlahan, meski di simpang empat lampu merah tak ada kendaraan sama sekali.

Menoleh ke arah kanan, Andra menatap seorang ibu dan dua orang anaknya saling peluk dalam dinginnya suhu udara malam. Andra mengedarkan mata ke sekitar. Tak ada lagi warung makan atau toko yang buka.

Andra selalu merasa kasihan jika melihat kondisi seseorang yang terlunta-lunta di jalanan. Rasa dingin yang menusuk kulit, rasa lapar yang menyiksa serta sakit karena cemoohan orang, dulu pernah Andra rasakan waktu dulu ketika pemuda itu memutuskan untuk pergi dari rumah orang tua asuhnya.

Untungnya ada beberapa pengemis yang menawari Andra makanan. Meski hanya nasi putih dan tempe sepotong, perlakuan mereka terus melekat dalam ingatan Andra.

Itu sebabnya, Andra tidak pernah perhitungan pada kaum papa di jalanan. Seringkali Andra memberi uang atau langsung mengajak mereka makan di warung.

Namun, kali ini Andra tidak bisa berbuat banyak. Andra mengetuk-ngetuk setir mobil sambil mencari akal. Ah ... tiba-tiba saja Andra teringat rumah makan cepat saji yang buka selama 24 jam di depan apartemen tempat tinggalnya. Jaraknya dari lampu merah ini tidak begitu jauh lagi.

Andra injak gas setelah lampu hijau menyala. Dia melajukan mobil secara cepat. Memasuki jalur drive thru, Andra memesan empat paket porsi besar ayam goreng beserta nasi, kentang dan juga minuman soda.

Tak menunggu lama, bingkisan berisi makanan tersebut sudah berada di jok sebelah Andra. Andra kendarai lagi mobil ke arah tadi. Lalu sengaja menghentikan lajunya di depan ketiga orang berbaju lusuh yang tidur beralaskan kardus bekas.

Suara mesin mobil Andra, ternyata membangunkan sang ibu. Sehabis mengucek mata dia bangkit duduk. Andra berjongkok di depannya, dengan tangan terjulur menyodorkan tiga bingkisan tadi.

"Makan bareng aku, yok, Bu? Bangunkan anak-anak Ibu. Lebih seru kalo kita makan rame-rame."

Wanita berkulit kecokelatan itu tersenyum senang lantas mengangguk. Dia segera membangunkan kedua bocah dengan menggoyang-goyangkan tubuh mereka.

Anaknya yang lebih besar bangun terlebih dulu. Matanya berbinar menatap gambar di kantong plastik yang tergeletak di depannya. Dia juga ikut membantu ibunya membangunkan sang adik.

Respons bocah yang kedua sama, semringah. Seperti baru pertama kali melihat makanan yang mahal.

Lima menit kemudian Andra dan ketiga anak-beranak itu makan dengan lahap. Andra sendiri duduk dengan beralaskan kardus yang dipinjamkan si ibu, duduk tanpa canggung menyantap makanan bersama-sama dengan mereka.

Bagi Andra, rasanya seperti mengulang masa lalu. Duduk di trotoar tepi jalan, makan bersama-sama dengan para pengemis. Tak peduli pada tatapan heran atau bergidik jijik dari orang-orang yang berlalu lalang. Bagi Andra saat itu, yang penting hari ini dia dapat makan kenyang dan tidur dengan perut terisi.

Urusan besok, ya, besok saja. Besok mereka bisa bekerja kembali dan mengulang rutinitas yang sama. Karena tidak seperti orang kaya, mereka tidak pernah memikirkan masa depan. Memikirkan ingin jadi apa atau seperti apa nantinya. Tidak menjadi beban orang lain saja mereka sudah bersyukur.

Bagi mereka, impian hanya beban yang membuat diri menjadi malas bekerja keras untuk mencari sesuap nasi.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED