Bab 1
PENGHIANATAN HISYAM
Tin tiiin ....
Terdengar suara klakson dibunyikan panjang. Sekar bergegas menuruni tangga.
"Bun, Sekar berangkat dulu, ya! Sudah dijemput!" pamit Sekar.
"Iya, Nduk. Hati-hati!" sahut Ibunya.
"Bunda istirahat saja. Gak usah ngerjakan apa-apa. Biar Mbok Nah saja."
"Bunda bosen, Nduk, kalo gak boleh ngapa-ngapain," sahut Ibunya.
"Bunda kan, baru sembuh. Jadi, gak boleh terlalu capek."
"Iya, Nduk. Udah sana berangkat. Kasihan bosmu nunggu lama."
"Iya, Bun. Assalamualaikum," ujar Sekar sembari mencium tangan Ibunya.
"Waalaikumsalam," sahut Ibunya.
Sekar segera meninggalkan rumahnya. Rumah minimalis yang dibeli dari hasil catering Bundanya.
"Halo, sayang! Maaf, ya, nunggunya lama!" ujar Sekar setelah masuk ke dalam mobil.
"Gak papa. Disuruh nunggu berapa lamapun aku siap, kok! Apapun buat kamu, sayang!"
"Ish ... pagi-pagi sudah gombal. Udah ah, ayo, berangkat!"
"Oke, sayang!"
Aldi, atasan sekaligus kekasih Sekar segera melajukan kendaraannya. Aldi merupakan direktur utama di perusahaan tempat Sekar bekerja. Sedangkan Sekar adalah sekretarisnya.
Sekar mengawali karir di perusahaan tersebut sebagai staf administrasi. Berkat kelihaiannya, dalam waktu tiga tahun dia sudah naik jabatan menjadi sekretaris pribadi sekaligus kekasih gelap sang bos. Ya, hanya kekasih gelap karena sang bos telah memiliki seorang istri.
"Istri kamu gak curiga kamu sering pulang telat dan berangkat pagi-pagi gini?" tanya Sekar.
"Gaklah! Dia itu percaya sekali sama aku," sahut Aldi.
"Masak sih?"
"Beneran. Lagian, aku beralasan sama dia kalau kantor lagi ada masalah serius."
"Ha ... pinter banget kamu!" sahut Sekar.
"Iya, dong! Harus itu!" sahut Aldi.
*************************
Di rumah, Bunda Sekar menangis sedih. Jujur, dia tidak rela dengan jalan yang ditempuh Sekar. Namun, segala kesakitan yang pernah Sekar alami selama ini, mengobarkan api dendam di dalam dadanya.
Semua itu bermula pada kejadian dua puluh tahun yang lalu. Saat itu, Sekar berusia tujuh tahun.
*******
Dua puluh tahun yang lalu
"Bun, Ayah mana?" tanya Arum. Sekar kecil biasa dipanggil Arum. Sekar Arum Wardani, nama yang diberikan oleh sang ayah kepadanya.
"Maaf, Rum. Hari ini, Ayah ada pekerjaan yang gak bisa ditinggalkan," sahut Bundanya.
"Tapi, Bun, kan Ayah sudah janji. Pas hari ulang tahunku yang ketujuh, Ayah mau ngajak Arum jalan-jalan," rengek Arum.
"Iya, Sayang! Maafkan Ayah, ya! Begini saja, bagaimana kalau jalan-jalannya sama Bunda saja? Arum mau kemana?"
"Gak asik, Bun! Arum maunya sama Ayah juga!" rengek Arum lagi.
"Iya, Bunda faham. Perginya sama Ayah lain kali saja. Hari ini pergi sama Bunda. Bagaimana?" rayu Bundanya.
"Iya, deh, Bun! Arum mau. Kita ke kebun binatang, ya!" ujar Arum.
"Iya, sayang! Ya udah, yuk, kita siap-siap!"
Setelah selesai bersiap, mereka berdua segera berangkat naik sepeda motor. Walaupun sedikit kecewa, namun Arum tetap gembira bisa pergi jalan-jalan ke kebun binatang.
Setibanya di lokasi, Irma segera membeli dua buah tiket. Kemudian, mereka segera memasuki area kebun binatang. Hal yang pertama yang dilihat Arum adalah aneka burung. Berbagai jenis dari beberapa negara ada di situ. Arum merasa takjub dengan banyaknya jenis burung.
Selanjutnya, mereka menuju area binatang mamalia. Pertama, mereka melihat harimau. Ada empat ekor harimau yang tampak, dua ekor induk dan dua ekor masih anak-anak. Selanjutnya,mereka melihat singa, jerapah, gajah, dan lain-lain.
Setelah puas melihat-lihat, mereka menuju restoran yang ada di dalam lokasi.
"Bun, itu kan ayah?" tunjuk Arum. Irma mengikuti arah telunjuk putrinya.
Deg. Disana, tampak suaminya sedang menggandeng wanita hamil sekitar lima bulan dan menggendong seorang gadis kecil seusia Arum. Irma tampak terkejut.
Tanpa sengaja, pandangan mereka bersiborok. Ayah Arum pun tampak terkejut. Langkahnya terhenti. Dengan menggandeng putrinya, Irma melangkah mendekati mereka.
"Siapa mereka, Mas? Kenapa Mas Hisyam bisa sama mereka? Ini yang namanya ada urusan penting kantor?" tanya Irma beruntun.
"Irma, tolong jangan emosi dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," sahut Hisyam gugup.
"Ayah bohong! Katanya Ayah kerja, makanya gak bisa ngajak Arum jalan-jalan. Ini malah jalan-jalan sama mereka," ujar Arum marah.
"Arum sayang, maafkan Ayah, ya! Irma, tolong kamu bawa Arum pulang dulu! Setelah ini, aku akan menyusul!" ujar Hisyam.
Tanpa banyak kata, Irma segera meninggalkan lokasi tersebut. Di sepanjang jalan, air matanya tak berhenti menetes. Dia berharap, perkiraannya salah. Dia berharap, mereka bukan siapa-siapa dan hanya kebetulan bertemu saja. Namun, semakin dia berharap, hatinya semakin sakit. Karena apa yang dilihatnya, sudah tampak jelas.
"Bun, Arum lapar," ujar Arum.
Irma segera menghapus air matanya. Dia teringat, tadi sebelum bertemu suaminya, mereka memang berencana makan siang.
"Kita beli Kent*ky saja, ya?" sahut Bundanya.
L
"Iya, Bun."
Irma menghentikan sepeda motornya di sebuah restoran cepat saji.
"Bunda gak makan?" tanya Arum.
"Gak, Bunda gak lapar. Arum saja yang makan," sahut Bundanya.
"Gak boleh! Kata Bunda, kita harus makan tepat waktu agar gak gampang sakit! Kita bagi dua ya, makanannya?" ujar Arum.
Irma merasa terharu dengan perhatian putrinya.
"Gak usah. Ini buat Arum saja! Bunda pesan lagi saja, ya!" sahut Bundanya.
"Oke, Bun!"
Setelah menyelesaikan acara makan siangnya, mereka segera pulang.
"Arum, segera sholat dhuhur, habis itu tidur siang ya!" perintah bundanya.
"Siap, Bun!"
Irma segera menuju ke kamarnya. Setelah menunaikan sholat dhuhur, dia menunggu suaminya pulang. Sayang, yang ditunggu pun tak kunjung datang.
Hingga pukul 22.00, Ayah Arum baru menginjakkan kaki di rumah.
"Assalamualaikum!" ujarnya. Tak ada sahutan. Hisyam segera memasuki kamarnya. Dilihatnya, sang istri telah tertidur. Hisyam segera menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, dilihatnya istrinya sudah menunggunya disamping tempat tidur.
"Kamu memang belum tidur apa terbangun?" tanyanya.
Irma tak menanggapi. Hisyam duduk di sebelah istrinya.
"Ada yang ingin kamu jelaskan?" tanya Irma.
"Maafkan aku, Ir! Aku khilaf!"
"Siapa dia?"
"Dia juga istriku, Ir. Kami sudah menikah secara siri empat bulan yang lalu."
Tes ....
Airmata Irma menetes begitu saja. Hatinya begitu sakit. Sejak awal, dia sudah memperkirakan. Namun, mendengar sendiri dari bibir suaminya, hatinya terasa begitu sakit.
"Maafkan aku, Ir!" ujar Hisyam sembari menggenggam jemari istrinya.
Irma segera menarik tangannya. Dia tidak sudi disentuh oleh penghianat itu.
"Kamu jahat, Mas! Apa salahku?" ujar Irma tergugu.
"Kamu gak salah, Ir. Aku yang melakukan kesalahan. Tolong, maafkan aku!"
"Kamu tega, Mas! Apa kurangku selama ini?" tanya Irma masih tergugu.
"Kamu wanita yang sempurna, Ir."
"Bohong! Buktinya, kamu masih mencari kesenangan di luar!" ujar Irma sarkas.
"Maafkan aku, Ir. Aku siap menerima hukuman apapun, asalkan kamu mau memaafkan aku."
"Benarkah?" tanya Irma sangsi.
"Tentu saja."
Bab 2
RESMI BERCERAI
"Tinggalkan dia. Mungkin dengan cara itu, aku bisa memaafkan kamu," sahut Irma. Hisyam tampak terkejut.
"Kenapa? Gak bisa?"
"Maaf, Ir. Apa gak bisa syarat yang lain? Dia sedang hamil. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Dia menuntutku untuk menikahinya sah secara hukum. Tolong, terima dia menjadi madumu. Aku janji, aku akan adil."
Irma tak mampu menjawab. Hatinya begitu sakit. Irma meninggalkan suaminya dan memilih tidur bersama putrinya. Pagi hari, Irma tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Satu yang berubah, tak ada celotehan darinya.
"Bun, Arum lapar!" ujar Arum. Dia sudah bersiap untuk berangkat sekolah.
"Selamat pagi, anak Ayah!" sapa Hisyam. Arum tak menanggapi. Dia masih marah dengan kejadian kemarin.
"Disapa Ayah kok diam saja, sih?"
Arum masih diam seribu bahasa. Tak habis akal, Hisyam segera menuju ruang tamu. Tak lama kemudian, dia telah kembali dengan membawa boneka beruang warna merah muda seukuran Arum.
"Halo, Kak Arum! Mau main sama aku gak?" ujar Hisyam menirukan suara anak-anak. Arum memandang boneka tersebut dengan mata berbinar.
"Ini buat Arum, Yah?" tanya Arum antusias.
"Iya, dong! Sini, peluk Ayah!"
Arum segera berlari ke pelukan ayahnya. Hisyam mencium kening dan pipi putrinya dengan sayang.
"Selamat ulang tahun, ya, Sayang! Semoga menjadi anak yang shalihah kebanggaan Ayah dan Bunda!" ujar Hisyam.
"Maafkan, Ayah, ya! Lain kali, Ayah pasti ajak Arum jalan-jalan," lanjutnya.
"Janji, ya? Jangan bohong lagi!" ujar Arum sembari mengacungkan kelingkingnya.
"Iya, Ayah janji!" sahut Hisyam menyambut kelingking putrinya dengan kelingkingnya.
"Selamat pagi!" Seorang wanita muda yang sedang hamil nyelonong masuk ke dalam rumah.
"Winda, untuk apa kamu kesini?" tanya Hisyam.
"Mas, Nasha nanyain kamu terus, tuh! Katanya, dia mau berangkat sekolah diantar Papanya!" sahut Winda.
Hisyam merasa salah tingkah. Pasalnya, disitu ada Arum dan istrinya.
"Halo, Mbak Irma! Kenalkan, aku Winda! Istri kedua Mas Hisyam!" ujar Winda sembari mengulurkan tangannya.
Irma tak menanggapi. Dia biarkan tangan Winda menggantung. Akhirnya, Winda menarik tangannya kembali.
"Arum, kamu tunggu Bunda di kamar, ya!"
"Iya, Bun!" sahut Arum. Arum segera melangkah menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti. Dia bersembunyi dan mengintip dari balik dinding ruangan tersebut.
"Pergilah, Win!"
"Gak bisa gitu, dong, Mas! Lagian, Mbak Irma sudah tahu! Jadi, mulai sekarang, dia harus rela berbagi waktu suaminya!"
"Winda! Jangan ngomong sembarangan!" bentak Hisyam.
"Sembarangan bagaimana? Bukankah kemarin Mas bilang, Mas akan segera menikahi aku secara resmi. Sekarang Mbak Irma sudah tahu hubungan kita, jadi gak ada alasan lagi! Mbak Irma, kamu gak boleh egois! Aku juga istri mas Hisyam dan aku sedang hamil. Jadi, Mbak harus rela berbagi suami sama aku."
"Pergilah! Bawa suamimu! Aku sudah tak sudi!" ujar Irma sarkas.
"Irma! Apa maksudmu?" sahut Hisyam.
"Aku gak sanggup jika harus berbagi suami, Mas. Ceraikan aku!"
"Irma, jaga bicaramu!" bentak Hisyam.
"Aku tidak mau dimadu. Jika Mas ingin menikahinya, ceraikan aku dulu!" ujar Irma tenang.
"Irma!" bentak Hisyam. Winda tersenyum penuh kemenangan.
"Udah, Mas! Ceraikan saja dia! Aku gak mau, ya, anakku lahir tanpa ayah!" sahut Winda.
"Winda, sebaiknya kamu pulang dulu! Biar aku bicara dulu dengan Irma!" ujar Hisyam.
"Gak perlu, Mas! Gak ada lagi yang perlu dibicarakan!" sahut Irma.
"Ir, tolong pikirkan baik-baik! Bagaimana dengan Arum jika kita bercerai!”
"Arum akan ikut aku, Mas! Jangan khawatir! Dia tidak akan merepotkan kamu!" sahut Irma.
"Bukan itu maksudku! Dia butuh sosok seorang Ayah!"
"Kamu tetap Ayahnya, Mas! Aku tidak akan menghalangi kalian bertemu!"
"Irma … Arum masih kecil. Dia butuh keluarga yang lengkap."
"Untuk apa keluarga lengkap jika didalamnya hanya ada api? Lepaskan aku, Mas! Aku tidak mau dimadu!"
Hisyam menghembuskan nafas panjang.
"Baiklah, jika memang itu keputusanmu! Irmawati binti Abdurrohman, dengan ini aku jatuhkan talak padamu! Mulai hari ini, kamu bukan istriku lagi!"
"Ayo, Mas, kita pergi! Nasha sudah nunggu dari tadi!" ujar Winda, lalu menarik Hisyam meninggalkan rumah tersebut dengan senyum kemenangan.
Irma terduduk di lantai. Dia menangis tergugu. Rumah tangga yang dia perjuangkan, kini telah berakhir. Arum keluar dari persembunyiannya, lalu berlari mengejar ayahnya.
"Ayah ... jangan pergi! Jangan tinggalin Arum!"
Langkah Hisyam terhenti. Dia menoleh. Dilihatnya, putrinya berlari ke arahnya. Dia segera membawa Arum ke dalam pelukannya. Setelah puas memeluknya, Hisyam mencium kening dan pipi putrinya.
"Arum … Arum disini jaga Bunda, ya! Jangan nakal!"
"Ayah mau kemana?”
"Ayah harus pergi! Tapi Arum gak usah khawatir, Ayah akan sering-sering mengunjungi Arum."
Tin tin tiiiin ....
Winda memencet klakson dengan tak sabar.
"Ayah pergi dulu, ya!" Hisyam melepas pelukan putrinya, lalu segera masuk ke dalam mobil, dan melaju meninggalkan rumah tersebut.
"Ayah ...," ujar Arum lirih. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Yang dia tahu, wanita hamil di samping ayahnya dan gadis kecil yang duduk di bangku belakang itu telah merebut ayahnya.
Irma memeluk putrinya.
"Bun ... Ayah pergi!" ujar Arum sembari terisak.
"Gak papa, Sayang! Biarkan saja! Masih ada Bunda disini!" sahut Irma sembari menghapus air matanya.
Dua bulan setelah kejadian itu, surat cerai mereka telah keluar. Hak asuh Arum jatuh ke tangan Irma. Rumah yang mereka tempati selama ini diserahkan kepada Irma sebagai harta gono gini.
Tiga bulan pertama, nafkah untuk Arum masih berjalan lancar. Namun, memasuki bulan keempat, Hisyam sudah tidak mengirim uang untuk Arum.
Irma pun tak mau mengemis. Dia berjuang seorang diri untuk membesarkan putrinya. Irma tak bisa bekerja karena tidak tega meninggalkan putrinya sendirian. Tabungannya mulai menipis. Satu persatu aset telah terjual.
"Arum, boleh Bunda bicara sebentar?" tanya Irma.
"Ada apa, Bun?" tanya Arum. Dia menghentikan aktivitasnya mengerjakan PR.
"Rencananya, Bunda mau mengajak Arum pindah ke Surabaya. Bagaimana menurut Arum?"
"Kalau kita pindah kesana, trus, sekolah Arum bagaimana?"
"Ya … sekolahnya pindah, Sayang! Bunda rencananya mau buka catering disana."
"Kenapa gak disini saja, Bun?" tanya Arum.
"Arum gak mau, ya?" tanya Bundanya sedih.
"Arum mau, Bun, cuma …."
"Cuma apa, Sayang?"
"Kalau kita pindah kesana, apa kita masih bisa bertemu Ayah?" tanya Arum sedih.
Melihat hal itu, Irma pun turut sedih.
"Arum kangen ya, sama Ayah?" tanya Irma. Arum mengangguk.
"Sudah lama Ayah gak nengok Arum," ujarnya sedih.
"Bagaimana kalau besok kita temui Ayah ke rumah barunya?"
"Memangnya boleh, Bun?" Irma mengangguk.
"Hore! Terimakasih, Bunda!" ujar Arum, lalu memeluk Bundanya erat. Tanpa terasa, air mata Irma menetes. Namun, dia segera menghapusnya. Dia tak ingin putrinya melihat air matanya. Semoga besok tidak terjadi masalah, harapnya.
***
Pagi ini, Arum sangat bersemangat. Pasalnya, dia akan bertemu dengan sang Ayah. Dengan mengendarai sepeda motor milik Bundanya, mereka berangkat. Saat telah sampai di depan rumah tersebut, Irma menghentikan motornya.
Arum segera meloncat turun. Tanpa menunggu sang Bunda yang sedang memarkir kendaraannya, Arum segera berlari menghampiri rumah tersebut. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Melihat hal itu, Irma tampak heran. Dia segera menyusul putrinya.
Bab 3
PINDAH KE SURABAYA
Irma tertegun. Disana, tampak Hisyam sedang bermain ayunan dengan seorang gadis kecil seumuran Arum. Tampak wanita itu duduk di kursi tak jauh dari mereka. Mereka tampak seperti keluarga bahagia. Gadis itu tertawa riang.
"Papa, ayo dorong lebih kencang!" teriak anak itu.
"Memangnya kamu gak takut?" sahut Hisyam.
"Gak dong! Aku kan pemberani!"
"Oke, siap-siap, ya!" sahut Hisyam.
Lalu, Hisyam tampak mendorong ayunan tersebut. Anak itu tertawa kegirangan.
Melihat pemandangan itu, hati Irma terasa nyeri. Irma menyentuh pundak putrinya.
"Ayo, sayang! Katanya mau ketemu Ayah!" ujar Irma kepada putrinya.
"Gak jadi, Bun. Kita pulang saja!" sahut Arum.
"Kamu yakin?" Arum mengangguk.
Akhirnya, mereka meninggalkan rumah itu dan kembali pulang. Arum tampak murung. Sesampainya di rumah, dia segera masuk ke dalam kamarnya.
Irma sedih melihat keadaan putrinya. Hatinya nelangsa. Dihampirinya Arum yang sedang menangis tertelungkup di atas dipan.
"Arum!" panggil Irma.
Arum segera bangkit dan memeluk Bundanya.
"Ayah jahat, Bun! Ayah punya anak baru,makanya Ayah sudah gak ingat sama Arum!" ujar Arum sembari menangis.
Irma mengelus rambut putrinya. Dibiarkannya putrinya menangis hingga merasa puas.
"Bun!"
"Apa?"
"Kapan kita pindah ke Surabaya?"
"Apa?" tanya Irma terkejut.
"Kapan kita pindah ke Surabaya? Arum gak mau tinggal disini lagi."
"Arum yakin?"
"Iya, Bun. Aku gak mau ketemu sama Ayah lagi. Aku benci sama Ayah."
Irma menghembus nafas berat. Dia sadar, hati putrinya saat ini sedang terluka.
"Secepatnya, Sayang! Bunda akan segera mengurus semuanya!"
Keesokan harinya, Irma segera mengurus kepindahan sekolah Arum. Untuk sementara, dia akan tinggal di rumah nenek Widya, sahabat Irma semasa SMU dulu sampai rumahnya berhasil terjual dan dia bisa membeli rumah sendiri. Widya sudah menawarkan bantuannya saat dia cerita tentang masalahnya.
Alih-alih pulang ke kampung halamannya di Klaten, Irma sengaja memilih Surabaya menjadi kota tujuan. Dia ingin menghilangkan jejak dan tak ingin ditemukan oleh mantan suaminya. Dia ingin mengubur dalam-dalam semua kenangan itu.
Di Surabaya, usaha catering Irma berjalan lancar. Setelah rumahnya berhasil terjual, Irma segera membeli sebuah rumah sederhana untuk tempat tinggal mereka sekaligus untuk usaha cateringnya. Meski tidak berlebihan, setidaknya bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dan menyekolahkan Arum.
Di sekolah, Arum merupakan gadis yang pintar. Dia sering mengikuti olimpiade matematika dan memperoleh kejuaraan. Selain itu, dia juga tumbuh menjadi gadis yang cantik. Banyak teman sekolah dan kakak kelasnya yang menyukainya, namun Arum bersikap dingin kepada semua lelaki.
Dia telah dikecewakan cinta pertamanya, Ayahnya. Kini, dia tidak mau dikecewakan lagi. Dia menolak dengan tegas semua pria yang mencoba mendekatinya. Dia hanya dekat dengan seorang pria, Vano. Dia adalah sahabat Arum sejak awal masuk SMU.
Arum dan Vano berkenalan saat mereka mengikuti masa orientasi siswa. Saat itu, mereka sama-sama datang terlambat. Jadi, mereka sama-sama mendapat hukuman. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi dekat. Apalagi, selama tiga tahun, mereka satu kelas.
****
Sekar memasuki area perkantoran dengan penuh percaya diri. Dia melangkah disamping Aldi. Meski banyak bisik-bisik miring tentangnya, dia tidak peduli. Baginya, yang terpenting adalah mencapai tujuannya. Menghancurkan keluarga yang sudah menghancurkan hidupnya dan Bundanya.
Sesampainya di ruangannya, Sekar segera melaksanakan tugasnya. Hari ini, pekerjaannya menumpuk. Dia harus segera menyelesaikannya kalau tidak ingin lembur. Meski dia bekerja dengan maksud terselubung, namun dia tetap bekerja dengan profesional.
"Selamat pagi, Pak Aldi!" ujar Sekar memasuki ruangan atasannya. Dia membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani oleh bosnya.
Aldi tak berkedip memandang kecantikan Sekar. Sekar yang dipandang sedemikian rupa, melangkah mendekati meja atasannya dengan penuh percaya diri.
"Kenapa lihatnya sampai segitunya?" tanya Sekar. Setelah meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja, Sekar mendekati Aldi dan duduk di pangkuannya.
"Kamu benar-benar membuatku terpesona!" ujar Aldi. Sekar tersenyum menggoda.
"Benarkah?" tanyanya sembari memainkan jarinya di dada Aldi.
"Aku mau sarapan," ujar Aldi.
"Mau sarapan apa? Biar kubelikan!" sahut Sekar.
"Sarapan kamu!" sahut Aldi, lalu melumat lembut bibir gadis itu. Mereka melakukan pemanasan sebelum melakukan aktivitas kantor.
"Sudah, cukup! Jangan dilanjutkan, oke?" ujar Sekar kewalahan menghadapi aksi Aldi.
"Ayolah, Sayang! Sekali saja!" rengek Aldi.
"Gak! Sekali gak, tetap gak!" ujar Sekar tegas.
"Tega kamu!" Aldi mengeluarkan jurus merajuk.
"Kalau kamu mau melakukannya, nikahi aku dulu! Itu syarat mutlak dari Bunda! Gak bisa ditawar!"
"Gak bisa, Sayang! Aku belum berhasil menguasai harta Nasha."
"Nah, itu tahu. Ya sudah, sabar dulu! Main sendiri sana di kamar mandi!" ujar Sekar, lalu merapikan penampilannya dan segera meninggalkan ruangan Aldi.
Aldi yang sudah diujung tanduk, terpaksa menuntaskannya di kamar mandi.
"Memang apes nasib gue! Punya selingkuhan cantik, tapi gak bisa diapa-apain. Cuma bisa dipegang doang!" Aldi mengomel sendiri.
Memang, meski dirinya berstatus selingkuhan, atau yang lebih dikenal dengan istilah pelakor, Sekar tetap menjaga dirinya. Dia tidak mau melakukan hubungan layaknya suami istri bersama sang kekasih, Aldi. Untungnya, Aldi sudah bertekuk lutut dihadapannya. Dia mau menuruti semua permintaan Sekar.
Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, Sekar merasa sangat lelah. Dia ingin segera pulang.
Kring … kring ….
Ponsel Sekar berbunyi. Panggilan dari bosnya.
"Halo, Sayang! Ada apa?" ujar Sekar.
"Aku tunggu di parkiran."
"Oke."
Sekar segera melangkahkan kakinya menuju parkiran. Disana, Aldi sudah menunggu.
"Kita cari makan dulu ya, sebelum pulang!" ajak Aldi.
"Ayo! Mau makan dimana?" tanya Sekar.
"Kamu mau makan apa?" tanya Aldi balik.
"Ehm … aku mau makan steak," sahut Sekar.
"Oke, ayo!"
Diam-diam, Sekar mengirim lokasinya kepada seseorang.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka tiba di restoran yang dituju. Mereka memilih tempat duduk yang nyaman dan jauh dari pandangan orang. Aldi segera memesan steak sesuai permintaan Sekar.
Sembari menunggu pesanan datang, Aldi menyandarkan tubuhnya ke bahu sofa. Melihat hal itu, Sekarpun menyandarkan tubuhnya ke bahu Aldi. Untuk sesaat, mereka terhanyut dan mengulangi aksi tadi pagi.
"Mau kemana lagi, nih?" tanya Aldi setelah mereka menyelesaikan acara makan malamnya.
"Langsung pulang saja, ya! Aku capek banget nih!" ujar Sekar.
"Oke, deh!"
Tring ….
Sebuah pesan masuk ke ponsel Sekar.
[Misi terselesaikan!]
Sekar tersenyum misterius.