Bab 1

"Hai, namaku Nicholas James Carran. Panggil saja, Nick.”

Layla hanya memandang tangan besar dari laki-laki yang berdiri di hadapannya. Dia tak segera menyambut tangan tersebut, membuat Nick melihat ke arah tangannya kemudian menyeka pada kaos yang dia kenakan untuk bermain bola.

Melihat sikap Nick, Layla segera mengulurkan tangannya. “Layla Miriam Duane. Panggil aku, Layla.”

Nick tersenyum. Senyum manis dari wajahnya tampan yang selalu diam-diam Layla perhatikan dari jauh selama lima tahun itu. Dia memiliki wajah kecil dan mata biru keabuan yang sangat indah. Rambut pirang keemasan Nick selalu tampak berkilauan ketika berlari di lapangan kala sinar matahari menyinarinya.

Ya, benar. Selama lima tahun, Layla hanya dapat memandang dari kejauhan ketika Nick berada di lapangan dan bermain bola. Dan hari itu, Nick lebih dulu menghampiri Layla, menyapa bahkan memperkenalkan dirinya. Hari itu Layla tepat berusia enam belas tahun. Nick yang berada di hadapannya bagai sebuah kado ulang tahun baginya.

Sejak saat itu, seakan-akan Nick tak ingin membiarkan Layla kesepian di pinggir lapangan. Nick selalu menyempatkan waktu untuk menyapa Layla setelah latihan atau permainan bola selesai. Dari situ, Layla tahu bahwa Nick lebih tua dua tahun darinya dan tinggal tak jauh dari kediaman paman dan bibinya.

Nick dan Layla semakin akrab dua tahun belakangan. Saat itu, Nick sedang berlatih sendiri sebelum pertandingan permainan bola. Layla hendak menyaksikan latihan Nick dengan perasaan suka cita, dia menyusuri jalan dekat lapangan. Tendangan keras dari kaki Nick membuat bola melesat kencang ke arah Layla dan hampir mengenainya.

"Layla awaaasss!!!” Teriak Nick dari jauh.

Mendengar suara Nick dari jauh, Layla menoleh dan dia sungguh terkejut melihat kedatangan bola ke arahnya. Layla tak sanggup menghindar, dia hanya pasrah sambil memejamkan mata, menunggu bola tersebut datang menghantam dirinya.

….

Layla membuka matanya dan dia lebih terkejut lagi dengan sosok Nick yang sudah berada di depannya. Nick sudah memegang bolanya. Dia berbalik dan berjalan kembali ke lapangan.

"Bagaimana mungkin?” tanyanya lirih.

Kebingungan dan rasa penasaran yang terus menerus menghantui kepala Layla. Beberapa hal yang dapat terpikirkan olehnya.

"Apa kau … penyihir atau …?” tanya Layla hati-hati.

Menurut Layla, selain penyihir, hanya sosok makhluk lain yang dapat bergerak begitu cepat. Vampire.

"Tidak, Layla. Aku manusia.”

"Kalau begitu … kau benar-benar seorang penyihir, Nick?” Layla sungguh terkejut dengan pengakuan secara tak langsung dari Nick. Dia mengecilkan nada suaranya.

"Maafkan aku, t-tapi, bisakah kau rahasiakan ini?” Nick terdengar memohon pada Layla. Wajahnya nampak penuh penyesalan.

Nick memiliki kekuatan menghentikan waktu dan menggerakkan benda tanpa menyentuhnya.

Ayahnya berkali-kali berpesan pada Nick agar dia berhati-hati menggunakan kekuatan, apalagi di tempat umum.

"Tentu saja, Nick. Kau menyelamatkan aku. Aku pasti merahasiakannya.”

Senyum Nick sudah kembali di wajahnya. Itu cukup bagi Layla. Dia akan merahasiakan siapa Nick demi senyuman itu. Layla memang telah jatuh hati padanya.

****

Nick telah menjadi pujaan hati Layla selama sembilan tahun. Empat tahun mereka saling mengenal satu sama lain, bahkan dua tahun di antaranya, Layla mengetahui rahasia Nick. Hari itu, Layla memberanikan diri mengungkapkan perasaan pada Nick.

"Nick, aku mencintaimu.”

"Tak mungkin, Layla. Kau seperti seorang adik bagiku.”

Layla terkejut dengan kata-kata yang Nick ucapkan.

Dinginnya salju yang turun pada musim dingin saat itu, tak terasa di atas kulitnya yang pucat. Kata-kata yang Layla dengar seperti belati menancap sangat dalam, kemudian perlahan menyayat dan merobek hatinya. Hanya rasa sakit dan perih yang Layla rasakan.

"Adik? Adik? Aku begitu mencintainya, mendambakannya. Tak mungkin …," ucapnya dalam hati.

Mata dengan iris berwarna hazel, campuran hijau dan emas yang mirip mata kucing, perlahan mulai berkaca-kaca.

"Apa ini karena Georgina? Apa kau sungguh mencintainya?” tanya Layla tak percaya.

"Layla …,” ucap Nick lirih dengan suara parau khas miliknya.

Nick menatap Layla tepat di matanya. Seperti biasa, dia selalu berbicara dengan Layla sambil menatap matanya.

Hati Layla hancur berkeping-keping, tetapi dia tetap membalas tatapan Nick. Kesedihannya perlahan berubah menjadi kebingungan.

Lalu, tatapan apa ini? Jika tatapan seperti itu bukan tatapan yang menyiratkan rasa cinta, lalu apa? Menyayangi? Mengagumi? Mengasihani? Nick mengasihaniku?

Layla terus sibuk dengan pikirannya.

"Selama ini, kau tak mencintaiku, tetapi mengasihaniku? Mengapa? Karena aku yatim piatu? Karena itu kau juga tak menerima cintaku?” Layla memburu Nick dengan pertanyaan, penuh kemarahan.

Nick ingin menenangkan Layla, mengatakan sejujurnya dan meminta maaf pada Layla karena membuatnya salah paham. Tangannya hendak menggapai lengan Layla untuk meredakan amarah yang tampak jelas dari matanya. Namun, Layla dengan keras menepis tangannya.

"Aku bukan adikmu dan jangan perlakukan aku seperti adikmu!”

Layla berbalik dan pergi dari hadapan Nick sebelum sempat mendengar penjelasan dan permintaan maaf Nick.

Satu hari, satu minggu, satu bulan sampai tiga bulan berlalu sejak pertengkaran Nick dan Layla. Dia belum mendengar penjelasan dan permintaan maaf dari Nick. Layla hendak menemui Nick lagi hari itu untuk meredakan kemarahan dalam hatinya, tetapi Layla menemukan kejutan lain di hadapannya.

Layla melihat Nick bersama Georgina menuju kediaman keluarga Carran. Keduanya memakai pakaian resmi. Nick mengenakan kemeja tebal dengan bagian tangan lebar dan kerah yang datar, sedangkan Georgina mengenakan gaun panjang berwarna hijau dengan renda putih pada pinggirannya.

Dengan perasaan berat, Layla melangkahkan kaki, menghampiri keduanya.

Nick menyadari kehadiran Layla dari ujung matanya, dia menoleh dan tersenyum pada Layla. Dia menghampiri Layla dengan perasaan lega—Layla tak lagi marah padanya.

"Kalian akan makan malam bersama? Ada acara apa?” tanya Layla dingin dan sedikit penasaran.

"Umm, Georgina baru saja menerima lamaranku ….”

Layla melirik ke arah jari manis Georgina yang tersemat cincin berwarna hitam dengan permata biru sapphire berukuran sedang. Kemudian ke arah jari manis Nick yang juga memakai cincin dengan warna senada dan sebuah garis biru sapphire pada bagian tengah cincin tersebut.

Layla tak dapat mendengar lagi ucapan Nick. Suaranya perlahan memudar, berganti dengungan keras dalam kepalanya. Layla seakan terjatuh ke dalam lubang tanpa dasar, dia merasa pusing.

Dia berbalik meninggalkan Nick bersama Georgina di depan kediaman keluarga Carran. Berjalan tertatih-tatih menuju kediaman paman dan bibinya yang selama itu dia tempati.

Layla mengunci diri dalam kamar dan menangis sekencang-kencangnya sampai tak mendengar suara ketukan dari arah pintu kamar oleh bibinya yang mengkhawatirkan dirinya. Dia tertidur setelah lelah menangis.

Entah berapa lama Layla tertidur. Dia terbangun karena rasa sakit luar biasa di kepalanya. Rupanya tangisannya tak dapat menyembuhkan sakit dalam hati, justru menambah sakit di bagian kepala.

Berhari-hari kesedihan dan kemarahan tak juga reda dalam dirinya. Pagi hari itu, Layla yang patah hati memutuskan tak ingin menyimpan rahasia Nick lagi.

"Jika aku tak dapat memilikimu. Tak ada yang boleh memilikimu.”

Tak ada yang lebih menakutkan daripada seorang perempuan yang hati dan harga dirinya terluka.

Layla mulai menyebarkan berita, menimbulkan kegaduhan dan kecemasan di kota Sligo, Irlandia. Nick adalah seorang penyihir.

Para penduduk yang mendengar berita itu resah dan para pesaing dalam permainan bola marah. Mereka mulai mengait-ngaitkan kejadian yang satu dengan yang lain, seakan-akan Nick memang benar-benar menyihir mereka. Satu-satunya sihir yang Nick pakai hanya ketika menyelamatkan Layla.

Nick sudah mengetahui hari itu akan datang cepat atau lambat. Dia dapat dengan mudah menghentikan waktu dan pergi dari sana, tetapi dia tahu kemarahan Layla tak akan berhenti sampai di sana jika dirinya melarikan diri. Nick menerima takdirnya.

Belum sampai pukul sembilan malam, mereka mulai beramai-ramai mengerumuni dan menerobos masuk kediaman keluarga Carran. Mereka tak menemukan siapa pun selain Nick dan sebuah buku, di dalamnya terdapat tulisan yang para penduduk yakini sebagai mantra.

Mereka menyeret Nick, mulai menghujat dan menghukum Nick dengan hukum yang mereka buat sendiri.

Melihat Nick babak belur, Layla pun terenyuh. Namun, tatapan mata Nick masih sama seperti sebelumnya, membuat Layla kembali teringat dengan harga diri yang terluka karena Nick mengasihani dirinya. Layla kembali menghasut penduduk agar lebih menghukum Nick.

"Apa kau melihat untuk menyihirku, Nick?" Layla berpura-pura ketakutan.

Seorang penduduk menutup kepala Nick. Mereka mulai menyiapkan pembakaran untuk memusnahkan seorang penyihir.

"Masukkan dia ke dalam rumah dan bakar penyihir keji itu beserta rumahnya!" seru seorang penduduk bengis.

Mereka pun memasukkan Nick dan menguncinya di dalam rumah, kemudian membakar kediaman Carran tersebut. Sebuah cahaya terang memancar dari dalam kediaman itu setelah api melahap semuanya, membuat para penduduk dan Layla yang berada di sana ketakutan. Mereka bergumam, Nick sang penyihir kembali dan akan membalas mereka.

Namun, cahaya tersebut pun lambat laun menghilang bertepatan dengan kehadiran Georgina di kediaman sang tunangan.

"Nicholas ...."

Dia terjatuh dan berlutut, menangisi dirinya terlambat datang dan terpaksa merelakan kepergian Nick.

Georgina menatap Layla penuh kemarahan. Dia tahu, Layla menghasut penduduk dan berpura-pura meneteskan air mata seraya menyaksikan para penduduk menghukum Nick atas dosa yang tak dia perbuat.

"Kau perempuan pendusta dan berhati busuk! Jangan kau tunjukkan lagi wajahmu di hadapanku!" teriak Georgina seraya mengarahkan telunjuknya pada Layla.

Georgina telah mengetahui siapa Nick dan menerima dirinya, tetapi Nick bukan seorang penyihir seperti yang mereka tuduhkan. Kejahatan Nick adalah membiarkan Layla salah sangka dengan dirinya dan berpikir Layla tak akan menyakitinya.

Bab 2

Toronto, Kanada. Lebih dari tiga ratus tahun kemudian.

"Pencuri!!” Teriak seorang laki-laki muda. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Seorang pencuri di pagi hari.

Pencuri itu hanya diam saat Josh meneriaki dari belakangnya, membuat ia semakin geram.

"Sekuriti! Sekuriti! Ada pencuri di sini!!!”

Mendengar teriakan dari belakangnya, seorang perempuan yang menggunakan hoodie abu-abu pun berbalik. Ia hanya menemukan seorang laki-laki yang sedang menatapnyaa dengan tajam. Ia nampak kebingungan, mulai menoleh ke kanan kiri dan tak menemukan orang lain di sana. Hanya dirinya dan laki-laki yang barusan berteriak memanggil petugas keamanan—Josh.

Petugas keamanan akhirnya tiba, si laki-laki tadi tanpa ragu mengangkat telunjuknya, mengarah pada sosok perempuan yang berdiri di hadapannya—Jamie.

"Dia pencurinya, Sir.”

"Hah? Aku pencuri? Apa-apaan!" Dalam hati ia tak terima.

"Apa? Enak saja! Aku bukan pencuri!!” sergah Jamie sambil membelalakan mata.

Jamie dan Josh mulai saling berdebat. Josh mengatakan tingkah Jamie mencurigakan, sedangkan Jamie tak merasa dirinya mencurigakan dan tuduhan yang dilayangkan laki-laki tinggi dan kasar di hadapannya tak mendasar.

Para pengunjung The Market, sebuah supermarket yang terletak di lantai dasar sebuah gedung pencakar langit, mulai memasang mata—mengawasi situasi antara Jamie, Josh dan petugas keamanan.

Petugas keamanan yang bersama mereka, Ryan, baru mulai bertugas di The Market hari itu. Demi menunjukkan kerja yang baik di hari pertama, dia berinisiatif membawa keduanya ke kantor polisi terdekat.

Jamie merasa tak adil. Ia baru mengambil sebungkus Miss Vickie’s Potato Chip seharga tak lebih dari lima dolar dan hendak meletakkan ke dalam keranjang belanjanya.

Mengapa itu di sebut kejahatan? Pikirnya.

Namun, Jamie terpaksa ikut ke kantor polisi bersama mereka dan ia sudah benar-benar benci dengan Josh yang menuduhnya.

Setibanya di kantor polisi, seorang petugas bernama Max yang membantu mereka.

Josh mengatakan, dirinya mendengar Jamie bergumam, tak ada yang melihat (no one sees) dan berdiri sangat lama, karena itu ia curiga Jamie sedang mencuri.

"Dia berdiri sangat lama sambil memegang sebuah keripik kentang dan mengatakan tak ada yang melihat. Dia akan mencuri jika aku tak berada di sana.”

Mendengar ucapan Josh yang tak masuk akal. Jamie memukul meja, membuat Max, Ryan dan Josh terkesiap. Ia membantah bukan itu perkataannya.

"Itu karena aku sedang memilih varian antara Jalapeno, Kettle Corn dan Sea Salt! Dan aku tak mengatakan no one sees. Aku mengatakan, I don’t see it—“

I don’t see it dan no one sees, dua kalimat berbeda, tetapi jika diucapkan lirih dan cepat, memang terdengar agak mirip.

Namun, yang membuat Jamie menghentikan ucapannya adalah itu hanya dalam pikirannya. Bagaimana mungkin laki-laki yang saat kejadian tadi berdiri lima meter darinya, dapat mendengar pikirannya?

"Wait … Aku tak mengatakannya dengan kencang. Mana mungkin kau mendengarnya?” Jamie menyipitkan mata—mencurigai Josh.

Jamie mengatakan pada Max dan Ryan. Ia seorang pelanggan tetap. Semua karyawan The Market mengenalnya karena rumahnya berada tak jauh dari sana dan ia sering datang, bahkan hanya untuk satu porsi Lasagna.

Ia meminta Ryan untuk menghubungi salah satu karyawan untuk menjadi saksinya.

"Aku mengenal semua karyawan mereka, mulai dari bagian roti, makanan hangat sampai pengiriman, John, July, May, Joel, Beth dan masih banyak lagi. Lagipula mereka memiliki sistem keamanan. Apa ada bukti aku mencuri sesuatu?”

"Kau menggunakan mereka sebagai kenalanmu agar bisa melarikan diri? Dasar perempuan licik!” Josh masih menghakimi Jamie.

Mereka mulai kembali berdebat, membuat Max di hadapan mereka menyisipkan jemari di antara kepalanya dan menarik rambut karena frustrasi. Begitu banyak kasus di kantor polisi yang lebih penting dari sekedar pencurian Miss Vickie’s Potato Chip.

Max menanyakan kepada Josh jika ia memiliki rekaman atau bukti lainnya. “Apa ada bukti lain, selain Anda sebagai saksi?”

"Bukankah saya sebagai saksi sudah cukup, Sir?”

Max menghela napas panjang, dia semakin jengkel setelah mendengar pernyataan dari Josh. Tatapan jengkel Max berganti dari Josh ke Ryan, si petugas keamanan baru, dia tak memiliki bukti yang kuat, tetapi berani membawa dua orang keras kepala yang gemar berdebat ke kantor polisi.

Max meminta Ryan menghubungi karyawan di bagian makanan ringan, mengecek kamera pengawas dan memeriksa jumlah makanan, jika memang ada yang hilang.

Setelah dua jam, mereka mendapat hasil, tak ada makanan yang hilang, rekaman juga tak menunjukkan Jamie mencuri apa pun. Max mengambil kesimpulan sebagai sebuah kesalahpahaman dan meminta Jamie dan Josh melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.

Josh pun meninggalkan kantor polisi hanya dengan sebuah kata maaf yang dirasa Jamie tak tulus. Hanya Ryan yang berulang kali minta maaf pada Jamie dan Max. Ia sangat kesal.

Merasa tak adil, Jamie meninggalkan kantor polisi tergesa-gesa. Ia mengejar Josh.

"Hei, kau! Berhenti di sana!” Teriak Jamie dari depan kantor polisi.

Josh sedang dalam perjalanan menuju stasiun St. Clair. Ia berbalik dan memberikan wajah tak senang.

"Apa lagi sekarang?” tanya Josh tak sabar.

Apa lagi? Dia benar-benar bodoh dan tak ada rasa bersalah sedikit pun?

Jamie pikir laki-laki itu sudah membuat dirinya kehilangan kesabaran. “Kau sudah membuat kekacauan dan sekarang pergi begitu saja?”

"Aku sudah minta maaf, terus apa lagi?”

Tak tanggung-tanggung, jawaban Josh seakan menantang Jamie.

Jamie tak percaya dengan yang ia lihat. Laki-laki yang di hadapannya benar-benar sombong dan menyebalkan. Delapan belas tahun ia hidup dan tiga tahun tinggal di Toronto, baru kali itu ia bertemu dengan seorang manusia angkuh melebihi iblis.

Kalau aku melayangkan pukulanku padanya, apa aku kembali ke kantor polisi?

Jamie hanya sanggup memikirkannya, tanpa sanggup melakukannya.

Josh menyeringai—memberi tatapan menyebalkan, kemudian kembali menghampiri Jamie.

Ia memiliki tinggi 190 sentimeter, sekitar tiga puluh sentimeter lebih tinggi dari perempuan yang sedang menatapnya dengan tajam. Josh membungkuk dan berbisik di telinga Jamie.

"Coba saja kalau kau ingin masuk penjara karena kekerasan.”

Setelahnya ia melanjutkan perjalanan menuju stasiun, tanpa menoleh pada Jamie yang masih berdiri di depan kantor polisi.

Jamie membelalakan mata, ia hanya memandang punggung Josh yang sudah jauh meninggalkannya.

"Apa itu tadi? Dia bisa membaca pikiranku?”

Bab 3

Jamie baru saja kembali ke rumahnya. Ia terus menggerutu sepanjang pintu masuk sampai dapur tempat ibunya berada.

"Dasar menyebalkan!”

Anna—ibunya, yang berada di dapur dengan seorang pelayan, menaruh sebelah tangan di pinggulnya dan sebelah lagi terangkat menghadap ke atas—meminta penjelasan apa yang membuat putri satu-satunya jengkel.

Jamie pun tanpa ragu menceritakan bagaimana dirinya berakhir di kantor polisi hanya karena sebungkus Miss Vickie’s Potato Chip. Ia pun semakin kesal, teringat karena kejadian itu ia tak dapat menikmati camilan kesukaannya.

Jika kejadian itu terjadi pada anak lain, ibu anak tersebut pasti khawatir dan marah, bahkan menuntut Josh dengan pencemaran nama baik atau apa pun itu.

Namun, Anna hanya tersenyum kecil, dia tahu dengan baik siapa putrinya. Jamie tak mungkin melakukan hal itu dan mendengar Jamie berbicara terus-menerus karena merasa sangat marah—diperlakukan tak adil, dia mengambil kesimpulan, Jamie baik-baik saja.

"Jams, ingat hari ini kita ada undangan tetangga baru? Bersiap-siaplah. Dad masih di kantor, kau sebagai putrinya gantikan dia. Mom tak mungkin datang sendiri.”

Jamie memutar bola matanya—kesal dengan Anna yang tak mendengarkan keluhannya.

"Mom, apa kau mendengarkanku? Aku diperlakukan tak adil!”

"Apa polisi sudah menyelesaikannya?” tanya Anna pada Jamie dan Jamie mengangguk. “Apa orang itu sudah minta maaf?” tanyanya lagi.

Jamie mengangguk pelan, ia membuka mulut, hendak membantah. “T-Tapi—”

Sebelum Jamie mulai lagi, Anna mengangkat tangan dan menghentikan Jamie berbicara. “Case closed.”

Dia meminta Jamie segera bersiap-siap dan Jamie tak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan sang ibu.

****

Dua minggu lalu, sebuah keluarga, baru saja pindah ke lingkungan Forest Hill.

Forest Hill sebuah lingkungan yang terletak di kota Toronto. Lingkungan tempat tinggal Jamie dan keluarganya selama tiga tahun terakhir.

Keluarga tersebut mengadakan pesta pindah. Julia, adik dari William, sang pemilik rumah, yang datang mengundang keluarga Jamie dan beberapa keluarga lainnya. Istri William telah meninggal dunia, mereka dikaruniai dua anak laki-laki. Julia membantu kepindahan mereka karena dia tinggal di Kanada.

Biasanya pesta pindah rumah diadakan dengan mengundang keluarga atau teman-teman terdekat pemilik rumah, tetapi menurut Julia, keluarga terdekat William hanya dirinya.

Jamie dan Anna menuju kediaman William, tetangga baru. Mereka membawa hadiah, sepiring hidangan penutup, Poutine, salah satu hidangan terkenal di Kanada yang berasal dari Quebec. Itu hidangan kentang goreng dengan keju dan saus cokelat. Dan sebotol wine.

Jamie menekan bel dan membeku. Ia memejamkan mata seraya mencengkeram tangan Anna yang sedang memegang keranjang hadiah. Jamie menarik napas terkejut, kemudian membuka matanya. Ia melihat sesuatu yang janggal.

"Mom, tidak. Ada sesuatu … di dalam,” ucap Jamie panik.

Ia hendak pergi dari sana, tetapi, Julia sudah membuka pintu lebih dulu. Dia tersenyum hangat menyambut Jamie dan Anna. Jamie baru pertama kali menemuinya.

"Hadiah kecil untuk pesta rumah, Julia,” ujar Anna dan disambut gembira oleh Julia.

Jamie terpaksa mengikuti Anna ke dalam rumah menuju ruang tamu dengan arahan dari Julia, bertemu William dan tamu lain yang telah lebih dulu datang. William dengan ramah menyambut Jamie dan Anna.

"Berapa umurmu, Jamie?” tanya William penasaran.

"Delapan belas tahun, Sir. Maaf karena ayahku masih sibuk di kantor jadi aku menggantikannya.”

"Wow, Jamie, sungguh anak yang cantik dan berbakti, Anna.” Julia memuji.

"Putrimu sangat cantik dan hampir seusia putraku, Anna. Semoga mereka bisa berteman,” ungkap William.

Mendengar pujian datang dari tetangga barunya, membuat sudut bibir Anna sedikit terangkat.

Anna pun langsung berbaur dengan tamu lain dan melupakan putrinya yang dari tadi memberi kode rahasia. Setelah tiga puluh menit berlalu, Jamie mulai bosan.

William meminta kedua putranya untuk turun memperkenalkan diri. Mereka akan mulai acara makan siang.

Jamie hanya terus mengikuti Anna ke mana pun dia pergi. Walaupun ia banyak bicara, Jamie termasuk pemalu di depan orang asing, kecuali Josh, laki-laki yang menuduhnya saat di supermarket tadi dan yang baru saja muncul di depan pintu ruang tamu. Ia ternyata anak dari William, sang pemilik rumah. Josh dan Mike, adiknya, baru tiba di ruang itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?” Jamie dan Josh bicara bersamaan.

Keduanya saling membelalakan mata dan memandang penuh kebencian satu sama lain.

Anna dan William masing-masing bertanya pada anak-anaknya, apa yang terjadi.

"Dia yang melaporkanku ke polisi, Mom!” jawab Jamie dan ia menunjuk pada Josh.

"Dia yang akan mencuri di The Market tadi!” bantah Josh seraya menatap Jamie dengan tajam.

Tamu yang sudah hadir dan berada di ruangan itu pun menoleh pada Jamie. Seakan-akan Jamie benar mencuri dari The Market, padahal memikirkannya saja tak pernah.

Jamie semakin membelalakan mata bulat miliknya. Wajahnya menjadi merah—terbakar amarah dan malu.

Jamie dan Josh mulai saling bersahut-sahutan, membuat Anna dan William malu di hadapan tamu yang lain.

"DIAAAMMM!!” Julia menaikkan nada suara dan telapak tangan di depan Jamie dan Josh, memotong perdebatan mereka.

Julia memiliki perawakan perempuan paruh baya yang ramah dengan kacamata bulat yang selalu menempel di hidungnya dan tali panjang kacamata menggantung di lehernya.

Dia telah mempersiapkan acara pesta pindah rumah dengan susah payah sejak beberapa hari, membantu kakak laki-lakinya yang tak dapat mengadakan pesta sendiri. Julia tak akan membiarkan siapa pun merusaknya, termasuk keponakannya.

Namun, reaksi berlebihan Julia membuat para tamu terperangah.

"Josh, ikut bibi ke ruang keluarga,” ucapnya, “Jamie, bisa ikut bersama kami?” tanyanya dengan ramah.

Dia meminta Anna dan William bersama tamu lain menikmati makan siang di belakang rumah, kemudian memandu Jamie menuju ruang keluarga yang berada di seberang ruang tamu.

Jamie, Josh dan Julia menuju ruang keluarga. Sebuah ruangan lain dengan piano besar berwarna hitam berada di sudut ruangan. Beberapa bingkai foto berjajar di belakang piano, dekat jendela dan sebuah bingkai foto di atas piano tersebut.

Ahh, ruangan ini. Tidak … aku tak boleh berada di sini. Pikir Jamie.

Julia baru akan meminta Jamie untuk duduk, tetapi Josh lebih dulu menyela Julia.

"Mengapa? Ada yang menarik dan hendak kau curi di sini?” tanya Josh dengan sinis pada Jamie.

Jamie berbalik menghadap Josh yang berada di belakangnya. Namun, ia lebih terkejut dengan sosok lain yang berada di dekat Josh. Makhluk gaib tinggi, besar dengan aura gelap mengelilinginya. Roh jahat.

Jamie membayangkan sebuah kentang, tetapi semakin lama ia memandang, semakin menyeramkan bahkan untuk ukuran sebuah kentang. Dia memiliki mata merah dengan lingkaran hitam dan mulut penuh taring.

"Aku tahu kau melihatku.” Roh itu berbicara seraya menatap Jamie.

Glek!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED