Bab 1

Lana menggenggam ponselnya erat, menatap angka di layar yang terasa seperti hukuman mati. Saldo rekeningnya hanya tersisa puluhan ribu, dan pesan dari debt collector sudah masuk sejak pagi. Ia mengembuskan napas berat, menggigit bibirnya, menahan emosi yang meluap di dadanya.

"Hanya satu bulan lagi," gumamnya, mencoba menenangkan diri. Satu bulan lagi, dan ia mungkin akan benar-benar terlempar ke jalanan.

Ponselnya bergetar. Nama Valerie muncul di layar. Sahabatnya. Satu-satunya orang yang masih tersisa di hidupnya.

Tanpa berpikir panjang, Lana menerima panggilan itu.

"Kau ada waktu? Aku butuh bicara."

Suara Valerie terdengar mendesak, seolah ada sesuatu yang sangat penting.

"Selalu ada waktu untukmu," jawab Lana, meski pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran tentang tagihan yang belum terbayar.

Mereka bertemu di sebuah kafe mewah yang sering dikunjungi Valerie. Lana merasa sedikit canggung, sadar bahwa dirinya tidak cocok di tempat seperti ini dengan pakaian sederhana dan tas usang yang mulai mengelupas.

Valerie, di sisi lain, tampak sempurna seperti biasa. Gaun mahal membalut tubuhnya, rambutnya tertata rapi, dan wajahnya bersinar tanpa cela. Meski mereka berteman sejak lama, dunia mereka sangat berbeda. Valerie berasal dari keluarga kaya, sementara Lana harus berjuang untuk bertahan hidup.

Lana duduk, menunggu sahabatnya berbicara. Valerie menggenggam cangkirnya erat sebelum menghela napas panjang.

"Aku butuh bantuanmu, Lan."

Lana mengangkat alis, menunggu kelanjutannya.

"Aku ingin Ayah membatalkan pernikahannya."

Lana mengerutkan kening. "Val, maksudmu apa?"

"Calon istrinya itu brengsek, Lana! Dia hanya mengincar uang Ayah. Aku tahu itu. Aku sudah menyelidikinya, dia punya banyak hutang, dan aku yakin dia hanya berpura-pura mencintai Ayah untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan Ayah masuk perangkap ini!"

Lana diam sejenak, mencoba memahami maksud Valerie.

"Jadi... kau ingin aku apa? Membujuk ayahmu?" tanyanya hati-hati.

Valerie menatapnya lekat. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat Lana gelisah.

"Aku ingin kau menggoda Ayahku, Lana."

Jantung Lana seperti berhenti berdetak.

"Apa?" bisiknya, memastikan ia tidak salah dengar.

"Kau dengar aku. Aku ingin Ayah melihat bahwa wanita itu tidak layak untuknya. Jika dia tergoda oleh wanita lain, dia pasti akan ragu untuk menikah. Dan kau... kau adalah pilihan sempurna untuk itu."

Lana menelan ludah. Ini bukan sekadar permintaan biasa. Ini gila.

"Val, kau tidak serius, kan?"

"Aku sangat serius. Aku tahu ini bukan sesuatu yang mudah, tapi aku akan membayarmu. Kau butuh uang, kan?"

Lana terdiam. Matanya menatap meja di depannya, pikirannya berputar dalam kecepatan penuh.

Valerie tahu titik lemahnya. Ia tahu betapa putus asanya Lana saat ini.

"Kau ingin aku menjual diriku?" tanyanya dengan suara pelan.

"Tidak!" Valerie buru-buru meraih tangannya. "Aku tidak ingin kau tidur dengannya atau semacamnya. Aku hanya ingin kau membuatnya jatuh cinta padamu. Atau setidaknya, cukup tertarik hingga ia melupakan wanita itu. Kau cukup bicara dengannya, buat dia merasa diperhatikan. Itu saja."

Lana tertawa kecil, getir. "Kau pikir itu semudah itu?"

"Ayahku pria kesepian, Lana. Dia sudah lama bercerai dari Ibuku, dan dia pasti haus akan perhatian. Kau hanya perlu memberinya apa yang dia cari. Aku yakin dia akan goyah."

Lana menatap sahabatnya. Ini gila. Ini salah.

Tapi... ini juga satu-satunya jalan keluar dari kesulitannya.

"Aku akan membayarmu seratus juta jika kau berhasil."

Lana terdiam.

"Aku tahu kau butuh uang, Lan. Aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku. Kumohon."

Seratus juta. Jumlah yang lebih dari cukup untuk melunasi hutang-hutangnya dan memulai kembali hidupnya.

Namun, harga yang harus dibayar untuk itu... terlalu tinggi.

Lana menutup mata.

"Aku butuh waktu untuk berpikir," akhirnya ia berkata.

Valerie tersenyum kecil. "Aku tahu kau akan mengatakan itu. Aku akan menunggumu, Lana. Tapi jangan terlalu lama, ya?"

Malam itu, Lana menatap langit-langit kamarnya yang sempit. Bayangan wajah Valerie terus terngiang di benaknya, begitu pula tawaran yang nyaris mustahil untuk ditolak.

Jika ia menerima ini, ia bisa terbebas dari semua kesulitan. Ia bisa hidup dengan lebih layak.

Tapi, apakah ia siap menghadapi konsekuensinya?

Lana menghela napas panjang. Ia tak punya pilihan lain.

Dengan tangan gemetar, ia mengetik pesan singkat di ponselnya.

"Aku setuju."

Dan saat itu juga, hidupnya berubah selamanya.

Bab 2

Lana memandangi dirinya di cermin apartemen kecilnya. Malam ini, ia akan bertemu dengan Cedric Vellani untuk pertama kalinya. Pria yang harus ia hancurkan.

Tangannya meremas kain gaun sederhana yang dipinjamnya dari Valerie. Bahannya lembut, jatuh sempurna di tubuhnya, menampilkan siluet yang lebih mewah daripada pakaian yang biasa ia kenakan. Tapi tetap saja, ia merasa seperti seorang penyusup dalam dunianya sendiri.

Suara notifikasi ponsel mengalihkan perhatiannya. Pesan dari Valerie.

"Mobil sudah menunggumu di bawah. Ingat, jangan gugup. Kau hanya perlu bersikap alami. Buat Ayah terpesona. Aku percaya padamu."

Lana mengembuskan napas panjang. Ia tidak yakin bisa melakukan ini, tetapi sudah terlambat untuk mundur.

Dengan langkah ragu, ia mengambil tas kecilnya dan berjalan keluar.

Mobil mewah yang dikirim Valerie membawanya ke sebuah restoran eksklusif di pusat kota. Tempat yang hanya dihuni orang-orang dari kalangan atas, seperti Cedric Vellani.

Saat ia melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada pria itu.

Cedric duduk di meja pribadi di sudut ruangan, ditemani segelas wine merah. Posturnya tegap, dengan jas hitam yang disesuaikan sempurna untuk tubuhnya yang masih tegap di usianya yang lebih dari 45 tahun. Rahangnya tegas, matanya tajam dan penuh perhitungan.

Lana menelan ludah. Ini bukan pria biasa. Ini adalah seseorang yang telah terbiasa mengendalikan segalanya di sekelilingnya.

Ia menarik napas dalam, mengumpulkan keberaniannya sebelum melangkah mendekat.

Cedric mengangkat wajah saat merasakan kehadirannya. Mata gelapnya meneliti Lana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukan dengan tatapan cabul, tetapi dengan penilaian dingin yang membuat bulu kuduk Lana berdiri.

"Selamat malam, Tuan Vellani," Lana membuka suara, berusaha terdengar percaya diri.

Cedric tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap winenya perlahan, seolah menimbang-nimbang sesuatu.

"Kau bukan bagian dari lingkaran sosialku," katanya akhirnya. "Siapa yang mengundangmu?"

Lana tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

"Apakah itu penting?" balasnya, mencoba bersikap menggoda seperti yang diajarkan Valerie.

Satu alis Cedric terangkat. "Sangat penting."

Lana menelan ludah. Pria ini bukan seseorang yang bisa dimanipulasi dengan mudah.

Tapi ia tak boleh mundur.

"Aku kebetulan ada di sini, dan aku melihat Anda duduk sendirian. Saya hanya berpikir... mungkin Anda butuh teman bicara," katanya dengan nada seramah mungkin.

Cedric diam sejenak sebelum akhirnya menepuk kursi di seberangnya.

"Kalau begitu, duduklah."

Lana merasa lega, meski hanya sedikit. Ia duduk, berusaha menjaga posturnya tetap anggun.

Seorang pelayan segera datang, menawarkan menu. Lana melihat daftar harga dan hampir tersedak. Satu hidangan di tempat ini lebih mahal daripada uang sewa apartemennya selama sebulan.

Cedric tampaknya memperhatikan reaksi kecilnya.

"Pesan saja apa pun yang kau mau," katanya.

Lana tersenyum tipis. "Mungkin saya hanya akan memesan minuman."

Cedric menyandarkan punggungnya ke kursi, mengamatinya dengan seksama.

"Aku tidak suka basa-basi," katanya tiba-tiba. "Katakan padaku, apa sebenarnya tujuanmu?"

Denyut jantung Lana berdetak lebih cepat.

"Maksud Anda?"

Cedric mengetuk gelas winenya dengan jari.

"Wanita cantik sepertimu tidak akan mendekati pria sepertiku tanpa alasan. Jadi, apakah ini tentang uang? Atau ada hal lain yang kau inginkan?"

Lana mencoba mempertahankan ketenangannya. Ia tahu Cedric cerdas. Ia bukan tipe pria yang bisa dibodohi dengan kata-kata manis.

"Kenapa Anda berpikir bahwa saya menginginkan sesuatu?"

Cedric tersenyum kecil, tetapi senyuman itu dingin.

"Karena aku sudah terlalu sering melihat permainan seperti ini."

Lana menggigit bibirnya.

Ini tidak akan mudah.

Obrolan mereka berlanjut, meski lebih terasa seperti pertempuran mental dibanding percakapan biasa. Cedric terus menguji, sementara Lana berusaha bertahan.

Namun, ada satu hal yang ia sadari sepanjang malam itu: Cedric bukan pria yang mudah didekati.

Ia tajam, penuh kontrol, dan tak mudah terpengaruh oleh pesona siapa pun.

Saat makan malam berakhir, Cedric berdiri lebih dulu.

"Kau menarik," katanya singkat.

Lana menatapnya, menunggu kata-kata berikutnya.

"Tapi aku tidak tertarik pada permainan kecil ini," lanjut Cedric.

Darah Lana membeku.

"Apa maksud Anda?"

Cedric tersenyum tipis, lalu membungkuk mendekatinya, berbisik di telinganya dengan nada rendah yang penuh bahaya.

"Jika kau mendekatiku dengan motif tersembunyi, aku sarankan kau berhati-hati."

Lana menahan napas.

Sebelum ia sempat merespons, Cedric sudah berjalan pergi, meninggalkannya dalam kebingungan dan ketakutan.

Saat Lana kembali ke apartemennya malam itu, Valerie langsung menelepon.

"Bagaimana? Apa Ayah tertarik?"

Lana menggigit bibirnya.

"Aku pikir dia sudah mencium sesuatu. Dia tidak bodoh, Val."

Valerie menghela napas. "Aku tahu Ayah cerdas, tapi kau juga bukan wanita biasa, Lana. Aku yakin kau bisa membuatnya goyah."

Lana terdiam.

Sebelum bertemu Cedric, ia berpikir ini hanya akan menjadi tugas sulit. Tapi kini, ia menyadari sesuatu yang lebih besar-Cedric bukan hanya sulit, ia berbahaya.

Dan kini, ia telah menarik perhatian pria itu.

Bukan dalam cara yang ia inginkan.

Bukan sebagai wanita yang menggoda.

Tetapi sebagai ancaman yang harus diawasi.

Dan itu lebih berbahaya dari yang ia perkirakan.

Bab 3

Lana tidak bisa tidur semalaman. Kata-kata Cedric terus terngiang di kepalanya.

"Jika kau mendekatiku dengan motif tersembunyi, aku sarankan kau berhati-hati."

Peringatan itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ia tahu sejak awal bahwa Cedric bukan pria biasa. Tapi sekarang, ia menyadari bahwa pria itu jauh lebih berbahaya dari yang ia perkirakan.

Pagi harinya, Valerie datang ke apartemen kecilnya dengan wajah cemas.

"Ada apa? Kau terdengar kacau tadi malam," kata Valerie seraya duduk di sofa lusuh di sudut ruangan.

Lana menghela napas panjang, lalu menceritakan apa yang terjadi di restoran. Tatapan tajam Cedric, pertanyaan-pertanyaannya yang langsung menohok, dan peringatan yang ia berikan sebelum pergi.

Wajah Valerie mengeras. "Aku tahu Ayah pintar, tapi... dia tidak boleh sampai curiga terlalu jauh."

Lana menatap sahabatnya. "Bagaimana kalau dia sudah curiga? Aku merasa seperti tikus yang tertangkap basah di depan seekor singa."

Valerie menggigit bibirnya, berpikir.

"Kita harus buat Ayah percaya bahwa kau bukan ancaman," katanya akhirnya.

Lana menatap Valerie dengan kening berkerut. "Maksudmu?"

Sahabatnya menghela napas panjang sebelum menjelaskan rencananya.

"Kau harus muncul di hadapannya lagi. Tapi kali ini, bukan sebagai seseorang yang ingin mendekatinya. Kau harus jadi seseorang yang tampak... tidak tertarik. Atau bahkan seseorang yang butuh pertolongan."

Lana memutar bola matanya. "Aku memang butuh pertolongan, tapi aku tidak yakin dia peduli."

"Percayalah, Lana. Ayahku punya kelemahan."

Lana menatap Valerie, menunggu penjelasan.

"Dia tidak bisa mengabaikan seseorang yang terlihat rapuh, terutama seorang wanita," kata Valerie.

Lana terdiam. Jika itu benar, maka itu bisa menjadi celah untuk masuk ke dalam kehidupannya.

Tapi, bisakah ia benar-benar memainkan peran itu dengan sempurna?

Dua hari kemudian, Lana menemukan dirinya berdiri di luar gedung perusahaan Vellani Industries.

Jantungnya berdebar keras.

Ia mengenakan pakaian yang lebih sederhana kali ini-blus putih dengan rok pensil hitam, tampilan yang lebih formal namun tetap menunjukkan dirinya bukan seseorang dari dunia Cedric.

Ia berjalan masuk ke lobi, mendekati resepsionis dengan sikap gugup yang tidak perlu dibuat-buat.

"Halo, saya ingin bertemu dengan Tuan Cedric Vellani," katanya dengan suara yang dibuat ragu-ragu.

Resepsionis menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan skeptis.

"Apakah Anda memiliki janji?"

Lana berpura-pura menggigit bibirnya, menunjukkan ekspresi panik. "Saya... tidak. Tapi ini sangat penting. Bisakah Anda memberi tahu beliau? Saya hanya butuh lima menit saja."

Wanita itu tampak ragu, tetapi akhirnya menghubungi seseorang.

Beberapa menit kemudian, seorang pria berjas rapi mendekat. Dari posturnya yang tegas, Lana bisa menebak bahwa ini adalah salah satu tangan kanan Cedric.

"Nama Anda?" pria itu bertanya dengan suara datar.

"Lana," jawabnya.

Mata pria itu meneliti dirinya sejenak, lalu mengangguk. "Ikut saya."

Lana menarik napas dalam-dalam dan mengikuti pria itu menaiki lift ke lantai atas.

Saat pintu lift terbuka, ia langsung merasakan atmosfer berbeda. Kantor Cedric jauh dari sekadar mewah-ruangannya luas dengan jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.

Dan di sana, duduk di belakang meja kayu hitam mengkilap, Cedric Vellani menatapnya dengan mata penuh perhitungan.

Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang sedikit tergulung, tampak lebih santai daripada di restoran malam itu. Tetapi sikapnya tetap sama-dingin, penuh kendali.

"Jadi, kau datang lagi," katanya tanpa ekspresi.

Lana menelan ludah, mencoba bersikap seperti yang telah direncanakan.

"Saya... saya butuh pekerjaan."

Alis Cedric terangkat sedikit, seolah tidak menyangka jawaban itu.

Lana melanjutkan sebelum pria itu sempat menyela.

"Saya tahu ini terdengar aneh, tapi saya benar-benar butuh pekerjaan. Saya tidak punya banyak pengalaman, tapi saya bersedia belajar."

Cedric menyandarkan punggungnya ke kursi, mengamati Lana seperti seorang pemangsa yang sedang menilai mangsanya.

"Kau ingin bekerja di perusahaanku?" tanyanya, suaranya terdengar skeptis.

Lana mengangguk. "Saya bisa bekerja sebagai asisten, sekretaris, atau apa pun yang dibutuhkan."

Cedric tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, seolah mencoba menembus kebohongan yang tersembunyi di balik kata-katanya.

Akhirnya, setelah keheningan yang terasa seperti selamanya, Cedric berbicara.

"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan mempekerjakan seseorang yang bahkan tidak memiliki pengalaman?"

Lana menggigit bibirnya, berpura-pura ragu. "Saya... hanya berharap Anda memberi saya kesempatan."

Cedric masih menatapnya, lalu tiba-tiba berdiri.

"Baiklah."

Lana terkejut. "Maksud Anda?"

Cedric memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Aku akan memberimu kesempatan. Tapi bukan sebagai asisten atau sekretaris."

Lana menahan napas, menunggu apa yang akan ia katakan.

"Aku membutuhkan seseorang untuk mengelola beberapa pekerjaan pribadi. Semacam asisten pribadi di luar kantor. Jika kau tertarik, pekerjaan itu milikmu."

Lana mencoba menyembunyikan keterkejutannya.

Ini adalah peluang emas.

Dengan menjadi asisten pribadi Cedric, ia bisa lebih dekat dengannya-lebih dari yang ia bayangkan.

Lana mengangguk. "Saya akan menerimanya."

Cedric tersenyum kecil, tetapi ada sesuatu di balik senyum itu yang membuatnya merinding.

"Bagus. Maka mulai besok, kau bekerja untukku."

Malam harinya, Valerie langsung menelepon.

"Apa? Ayah benar-benar menerimamu bekerja?"

Lana mengangguk meski Valerie tidak bisa melihatnya. "Ya, tapi bukan di kantor. Aku akan menjadi asisten pribadinya."

Valerie terdiam sejenak. "Itu... tidak pernah terjadi sebelumnya."

Lana mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Ayah tidak pernah mempekerjakan seseorang untuk urusan pribadinya," kata Valerie pelan. "Dia punya sekretaris dan staf profesional yang mengurus bisnisnya. Tapi untuk urusan pribadinya, dia selalu mengerjakan semuanya sendiri."

Lana menggigit bibirnya. Jika begitu, kenapa Cedric menerimanya?

Apakah ini berarti ia sudah mencurigainya?

Atau justru sebaliknya-apakah ini artinya Cedric ingin mengujinya?

Hari pertama bekerja, Lana langsung menyadari bahwa tugasnya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Cedric memberinya jadwal padat-mengatur pertemuannya, mengurus dokumen-dokumen tertentu, bahkan mengurus pakaian dan barang pribadinya.

Tapi yang paling sulit bukanlah pekerjaannya.

Yang paling sulit adalah menghadapi Cedric setiap saat.

Pria itu memiliki aura dominan yang membuat siapa pun merasa kecil. Tatapan tajamnya seolah bisa membaca isi kepalanya kapan saja.

Tapi yang paling membingungkan Lana adalah sesuatu yang lain.

Ada saat-saat tertentu di mana Cedric tampak... berbeda.

Seperti saat ia sedang menandatangani dokumen, lalu tiba-tiba menatap Lana lama-lama tanpa berkata apa pun.

Atau ketika ia melewatinya di koridor, sengaja berjalan begitu dekat hingga Lana bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

Atau ketika pria itu berbicara dengan suara rendah, hampir seperti bisikan, membuat Lana merinding tanpa alasan yang jelas.

Sesuatu berubah.

Cedric Vellani tidak lagi hanya sekadar pria yang harus ia hancurkan.

Kini, ia adalah pria yang perlahan menariknya ke dalam jaring yang lebih dalam dan berbahaya.

Dan Lana mulai takut.

Bukan karena Cedric bisa menghancurkannya.

Tapi karena ia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan.

Ketertarikan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED