Sore hari, mobil Arsenio tiba-tiba harus mencium pohon kersen. Dia membanting stir ke kanan demi menghindari tabrakan lebih parah. Dia lalu turun dari mobil dan menghampiri orang yang menabrak mobil dia.
"Berengsek! Bisa bawa motor tidak sih?" Arsenio menatap tajam mata Adelia.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja." Adelia mengangkat kedua tangannya memohon lalu memperhatikan mobil Arsenio. "Ya ampun mobilnya rusak parah lagi," batin Adelia.
"Aku tidak peduli kamu sengaja atau tidak! Lihat mobil depanku, kamu harus mengganti kerusakannya!" marah Arsenio.
"Iya, pasti saya ganti, tapi jangan hari ini saya benar-benar tidak ada uang." Adelia memelas kepada Arsenio.
Arsenio menyunggingkan senyumnya setelah mendengar ucapan Adelia. "Kapan kalau bukan hari ini? Waktuku sangat berharga, aku tidak mau buang-buang waktu berurusan dengan orang tidak penting macam kamu!" desis Arsenio lalu merogoh dompet di saku jas dan mengambil Kartu nama.
"Aku kasih waktu sampai besok, kamu harus bisa menggantinya." Arsenio menyerahkan kartu nama kepada Adelia.
Adelia membelalakkan matanya. "Besok ...."
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Besok kamu harus bisa menggantinya!" Arsenio memotong ucapan Adelia. "Besok uang dua puluh juta harus ada. Mobil mewah ini bukan mobil biasa.
Perbaikannya tidak main-main. Hanya orang-orang penting dan berduit tebal yang mempunyai mobil ini," desis Arsenio.
Adelia hanya bisa menelan salivanya sendiri setelah mendengar ucapan Arsenio.
***
Malam hari, Adelia sedang berada di kamarnya. "Bagaimana ini? Tidak ada yang punya uang segitu. Pinjam ke Bu Tari tidak mungkin aku masih punya hutang. Itu pun dipotong tiap bulan. Bilang sama ibu juga tidak mungkin, ibu jangan sampai tahu masalah ini," monolog Adelia.
***
Keesokan hari, Adelia sudah berada di perusahaan Arsenio. Dia sudah duduk di sofa. Begitu pun dengan sang CEO, dia ditemani asisten pribadinya bernama Bagas.
Arsenio mengerutkan keningnya memperhatikan Adelia. "kenapa diam saja? Kamu datang ke sini untuk membayar kerusakan mobilku 'kan? Jangan buang-buang waktu. Setengah jam lagi aku akan rapat." Arsenio melihat jam tangannya.
"Iya, maaf, Pak Arsenio. Saya ... saya hanya punya uang dua juta saja. Nanti separuhnya saya cicil." Adelia menatap Arsenio lalu menundukkan wajahnya.
Arsenio menyunggingkan senyum setelah mendengar ucapan Adelia. "Makanya bawa motor yang benar!" ketus Arsenio, "dan aku tidak mau menerima uang dua juta dari kamu.
Aku hanya ingin uang dua puluh juta dari kamu Kurang satu peser pun aku tidak akan mau menerimanya. Mengerti kamu!" desis Arsenio.
Adelia pun bingung sendiri setelah mendengar ucapan Arsenio, dia berpikir sejenak lalu berbicara kepada sang CEO. "Tolong kasih saya waktu. Saya akan mencarinya dalam seminggu ini," pinta Adelia.
"Seminggu kamu bilang? Kamu mau mempermainkanku!" bentak Arsenio.
"Tidak kok. Siapa yang mau mempermainkan Anda," sahut Adelia, "saya hanya butuh waktu karena buat saya uang segitu sangatlah besar."
"Apa jaminannya kalau dalam seminggu kamu tidak bisa mendapatkan uang dua puluh juta?" tantang Arsenio.
"Emm ... Pak Arsenio boleh melakukan apa saja kepada saya," kata Adelia.
Setelah Arsenio mendengar ucapan Adelia, dia langsung memperhatikan Adelia secara intens. Dia lalu menoleh kepada Bagas yang duduk di sampingnya sambil tersenyum miring.
"Asisten Bagas kamu saksi kalau dia akan melakukan apa saja. Jika dia tidak bisa membayar tepat pada waktunya," ucap Arsenio.
"Iya, Pak Arsenio," sahut Bagas.
Adelia merasa bingung melihat Arsenio seperti itu. Dia memperhatikan Arsenio lalu kepada Bagas.
"Gawat, sepertinya aku salah bicara," batin Adelia.
"Melakukan apa saja? Kamu tidak takut aku minta macam-macam sama kamu karena kamu bilang apa saja," tanya Arsenio.
"Iya, Pak. Tapi bukan melayani dalam hal ranjang. Yang lain saya akan melakukannya saya berjanji. Asalkan bukan masalah tidur bersama," urai Adelia.
Arsenio menyunggingkan senyumnya setelah mendengar ucapan adelia. "Kepedean sekali kamu mengatakan hal itu. Lagian siapa yang mau tidur denganmu?
Jangan sok, kepedean jadi perempuan. Aku pun tidak berminat tidur denganmu dan aku sedikit pun tidak tertarik denganmu," decit Arsenio.
"Baguslah," gumam Adelia lalu menunduk.
"Apa kamu bilang? Kamu bicara apa barusan?"
"Tidak, Pak, saya tidak bicara apa-apa," kelit Adelia.
***
Adelia sedang berada di tempat kerjanya. Dia sedang membungkus pakaian yang sudah dipesan oleh pembeli sambil melamun. Dia bekerja di toko online milik Bu Tari.
"Hei, Adelia, kamu malah melamun lagi." Mita menyenggol badan Adelia. "Kamu belum dapat uang sebanyak itu?" tanya Mita.
"Aku bingung harus cari ke mana lagi. Ini saja aku sudah malu pinjam sama teman-temanku termasuk kamu. Walaupun aku sekarang bisa pinjam lagi ke Bu Tari."
"Aku tidak mungkin pinjam uang sebanyak itu. Aku harus pinjam ke mana lagi?" urai Adelia lalu memajukan bibirnya.
"Sorry ya, Del. Aku tidak bisa bantu kamu." Mita merasa tidak enak.
"Sudah tidak apa-apa. Aku kesal saja sama CEO itu. Dasar tuh, CEO sialan! Dia benar-benar tidak mau dicicil. Wajah saja tampan, tapi gayanya amit-amit," umpat Adelia.
***
Seminggu berlalu saatnya Adelia bertemu Arsenio. Mereka janjian di cafe di jam makan siang.
"Ternyata Pak Arsenio belum datang." Adelia melihat jam tangannya.
Adelia kemudian duduk di kursi kosong. Dia sudah bingung sendiri, bagaimana akan menjelaskan kepada Arsenio. Tidak lama kemudian Bagas datang menghampiri Adelia.
"Asisten Bagas! Emm, Pak Arsenionya ke mana?" Adelia merasa bingung karena yang datang asisten pribadi Arsenio.
"Maaf, Nona, Pak Arsenionya sedang ada keperluan. Jadi saya yang mewakili Pak Arsenio," jawab Bagas lalu duduk di kursi bersebrangan dengan Adelia.
"Bagus deh," celetuk Adelia.
"Kenapa Anda senang sekali tidak bertemu dengan bos saya?" tanya Bagas.
"Bos Anda sangat menyeramkan."
"Makanya, Anda jangan sekali-kali berurusan dengan Pak Arsenio. Apa lagi kesalahan Anda fatal karena telah merusak mobil kesayangan Pak Arsenio," timpal Bagas, "ya sudah langsung ke pokok permasalahan. Mana uangnya?" lanjut Bagas.
"Em, maafkan saya, asisten Bagas. Saya tidak bisa melunasi semuanya. Saya cuma punya uang tujuh juta saja," kata Adelia.
"Kamu, 'kan bilangnya hari ini akan dilunasi. Kenapa tidak tepat waktu? Anda jangan mempermainkan Pak Arsenio," ucap Bagas.
"Saya tidak mempermainkan Pak Arsenio. Saya sudah berusaha, tapi tetap saja saya tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu," keluh Adelia.
"Oke, karena Anda tidak bisa menepati janji dan Anda pernah mengatakan Anda akan melakukan apa saja untuk Pak Arsenio. Jadi Anda tidak akan bisa menolak permintaan Pak Arsenio. Camkan itu!"
"Iya ... iya." Adelia menjawab terbata.
"Ada pilihan lain jika Anda tidak bisa melunasinya. Hutang Anda akan dianggap lunas, asalkan Anda bersedia menikah kontrak dengan Pak Arsenio!"
Empat hari sebelumnya di perusahaan Arsenio.
"Mamaku masih saja mau menjodohkanku dengan wanita pilihan mama dan aku disuruh cepat-cepat menikah. Aku belum menemukan wanita yang tepat."
"Mamaku malah menganggap aku lelaki tidak normal, hanya karena aku belum mempunyai kekasih sampai sekarang. Aku benar-benar pusing dibuatnya," keluh Arsenio.
"Sabar, Pak Arsenio. Bukannya, Pak Arsenio lagi dekat dengan Maura? Teman pak Arsenio semasa kuliah," kata Bagas.
"Hanya dekat begitu saja tidak lebih. Aku juga tidak menyukai dia. Dia begitu agresif aku tidak suka dan dia mendekatiku tidak tulus. Aku menginginkan wanita yang mencintaiku secara tulus. Aku tidak mau mereka mencintaiku hanya karena gelarku dan hartaku saja," urai Arsenio.
"Di mana aku harus mencari wanita seperti itu? Aku harus cepat-cepat mencarinya sebelum Mama menikahiku dengan wanita lain."
Bagas manggut-manggut setelah mendengarkan ucapan Arsenio. "Iya, memang sulit. Apa lagi di jaman sekarang," ucap Bagas lalu terbersit ide.
"Pak Arsenio! Anda tidak usah pusing-pusing mencari wanita. Ada Adelia, bukannya Adelia mau melakukan apa saja kalau dia tidak bisa membayar."
Arsenio mengerutkan keningnya lalu berpikir sejenak. "Boleh juga dan kamu tahu dia wanita aneh. Semua wanita menginginkanku dan selalu bersikap agresif terhadapku. Tapi dia sok jual mahal padaku," ucap Arsenio lalu menyunggingkan senyumannya.
"Berdoa saja agar Adelia tidak bisa membayar uang sebanyak itu. Aku perhatikan memang dia lain dari lain. Semua wanita sangat menginginkan Anda, tetapi Adelia sepertinya biasa saja kepada Anda," ledek Bagas.
"Sialan! Kamu malah meledekku," kesal Arsenio lalu tertawa.
***
Kembali ke sebuah cafe. Adelia sontak saja membelalakkam matanya ketika mendengar ucapan Bagas.
"Maksud, Asisten Bagas? Saya ... saya harus menikah kontrak dengan Pak Arsenio yang menyeramkan itu? Saya tidak mau!" kesal Adelia, dadanya kembang kempis karena tidak percaya akan ditawari menikah kontrak.
"Oke. Kalau Anda tidak mau. Mana uang dua puluh juta!?" Bagas mengulurkan tangan kepada Adelia.
Adelia langsung terdiam karena bingung.
"Kenapa diam? Anda tidak ada uang, 'kan? Dan Anda sendiri pernah berjanji kepada Pak Arsenio dan saya saksinya. Anda mau mengelak?" tegas Bagas.
"Iya, saya memang berjanji, tetapi kenapa harus menikah kontrak? Tidak ada pilihan lain selain itu? Saya lebih baik menjadi Asisten Rumah Tangga di rumah Pak Arsenio dari pada harus menikah kontrak." Adelia memberi usul kepada Bagas.
Bagas langsung menertawakan Adelia lalu menggelengkan kepalanya. "Anda memang wanita lain dari pada yang lain. Kamu tahu, Nona Adelia. Semua wanita sangat menginginkan berada di samping Pak Arsenio.
Mau Pak Arsenio mencintai wanita itu atau tidak, mereka tidak peduli. Yang terpenting mereka bisa berada di samping Pak Arsenio dan itu suatu kebanggaan bagi mereka," ungkap Bagas.
Adelia menyunggingkan senyumnya. "Saya bukan mereka. Jangan samakan saya dengan mereka!" ketus Adelia.
"Oke, kembali ke topik! Anda mau tidak mau harus menikah kontrak dengan Pak Arsenio! Ingat janji adalah hutang, Anda pun harus membayarnya dengan janji Anda!" Bagas menatap tajam mata Adelia.
Adelia menghela napas berat lalu menatap Bagas. "Ya sudah saya akan tepati janji. Tapi ingat ini hanyalah menikah kontrak. saya tidak mau melayani Pak Arsenio di atas ranjang," pinta Adelia.
"Baiklah saya akan mengatakannya. Kamu tenang saja," jawab Bagas, "besok kamu datang ke perusahaan pukul sepuluh harus tepat waktu!"
"Iya. Saya akan datang tepat pada waktunya. Saya bukan tipe yang suka datang terlambat," sahut Adelia.
***
"Kenapa hidupku apes banget? Masa aku harus menikah kontrak dengan CEO menyeramkan itu. Mimpi apa semalam sampai harus menikah segala?" Adelia menggerutu sambil mengendarai motornya.
"Jangan sampai ibuku tahu kalau aku akan menikah kontrak dengan CEO menyeramkan itu," lanjut Adelia.
***
Arsenio sedang dalam perjalanan pulang bersama Bagas.
"Dia benar-benar wanita aneh. Dia lebih memilih menjadi Asisten Rumah Tangga di rumahku, daripada harus berdampingan denganku. Ada-ada saja." Arsenio menggelengkan kepalanya.
Bagas melirik ke kaca spion lalu kembali fokus menyetir. "Ternyata ada juga yang menolak Anda. Aku pikir semua wanita akan bertekuk lutut kepada CEO yang bernama Arsenio Arfandra. Ternyata ada wanita biasa dan bukan dari kalangan wanita-wanita seksi dan juga ...."
"Terus saja berbicara aku akan potong gajimu!" kesal Arsenio.
"Baik, Pak aku akan diam," timpal Bagas lalu tertawa.
***
Adelia sudah berada di perusahaan Arsenio. Untuk yang kedua kalinya dia datang ke perusahaan Arsenio. Dia masih kagum dengan kemegahan perusahaan CEO menyeramkan.
"Sepertinya enak bekerja di sini. Gajinya pasti besar kalau bekerja di perusahaan ini. Seandainya aku bisa kuliah, aku pasti bakal bekerja di perusahaan besar seperti perusahaan ini. Tapi apalah daya aku hanya lulusan Sekolah Menengah Atas," batin Adelia.
***
Adelia sudah berada di lantai ruangan Arsenio. Dia mendekati meja sekretaris. "Permisi, Sekretaris Lily. Saya Adelia mau ...."
"Nona Adelia. Mari saya antar." Lily bangun dari duduknya, "Anda sudah ditunggu oleh Pak Arsenio."
"Oh, iya. Terima kasih." Adelia mengekor Lily dari belakang.
"Pak Arsenio. Nona Adelia sudah datang," ucap Lily setelah membuka pintu.
"Suruh masuk!" perintah Arsenio.
"Baik, Pak," jawab Lily lalu menoleh ke arah Adelia, "Nona Adelia. Silakan masuk."
"Iya. Terima kasih, Sekretaris Lily," sahut Adelia lalu masuk ke ruangan Arsenio.
"Pak Arsenio." Adelia menundukkan kepalanya setelah berada di hadapan Arsenio.
Arsenio tidak menjawab, dia malah memperhatikan wajah Adelia dengan tatapan dingin. "Wajahnya lumayan juga tidak akan membuat mama kecewa," batin Arsenio, "ya sudah duduk di sana." Arsenio menggerakkan kepalanya ke arah sofa.
"Iya. Terima kasih," ucap Adelia lalu berjalan ke arah sofa, "jutek banget," batin Adelia.
Arsenio pun bangun dari duduknya lalu ikut duduk di sofa. Dia kemudian mengambil ponsel dan menghubungi Bagas.
Sementara Adelia memperhatikan Arsenio yang sedang menghubungi Bagas. "Pak Arsenio memang tampan, tetapi kelakuannya itu loh menyeramkan. Tidak sesuai dengan wajah tampannya," batin Adelia.
Arsenio sudah selesai menghubungi Bagas lalu memperhatikan Adelia. "Ada apa denganku? Sampai kamu memperhatikanku seperti itu!" ketus Arsenio.
"Maaf, maaf, Pak Arsenio. Saya melamun." Adelia tersadar dan kikuk sendiri.
Tidak lama kemudian Bagas datang dan langsung duduk di samping Arsenio.
"Serahkan berkasnya sama dia. Aku tidak mau capek-capek bicara sama dia." Arsenio menggerakkan kepalanya ke arah Adelia.
"Baik, Pak Arsenio," sahut Bagas lalu menyerahkan berkas kepada Adelia, "ini, Anda baca dulu isinya setelah itu Anda tanda tangan di sini," pinta Bagas.
"Baik, Asisten Bagas." Adelia mengambil berkas lalu membaca berkas tersebut dengan sangat teliti.
Arsenio memperhatikan Adelia yang sedang membaca berkas. "Teliti sekali ini wanita."
Setelah Adelia membaca berkas tersebut. Dia tiba-tiba membelalakkan matanya. Tidak percaya melihat jumlah uang yang jumlahnya sangat besar di kertas tersebut.
"Ini ... ini benaran setengah milyar? Saya dibayar setengah milyar untuk menikah kontrak dengan Pak Arsenio?!" Adelia masih tidak percaya dengan jumlah uang yang sedang dilihatnya.
"Iya, betul, Nona Adelia. Anda dibayar setengah milyar oleh Pak Arsenio." Bagas menganggukkan kepalanya. "Dan di situ pun tertulis Pak Arsenio tidak akan melakukan kontak fisik dengan Anda. Seperti yang Anda inginkan dan Pak Arsenio pun memang tidak menginginkan hal tersebut."
"Kecuali jika di depan Bu Martha. Anda tidak mungkin berjauh-jauhan. Kalian harus bersikap romantis layaknya pasangan suami istri," jelas Bagas.
Sementara Arsenio hanya terdiam tidak bergeming. Dia hanya memperhatikan Adelia. Sesekal dia menyunggingkan senyumnya karena melihat ulah Adelia.
Adelia kemudian menganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapan Bagas. "Dasar orang kaya malah buang-buang uang demi menikah kontrak," batin Adelia.
"Ya, sudah. Saya akan menandatanganinya. Dan ingat Pak Arsenio pun jangan melanggar perjanjian kontrak ini." Adelia mengambil bolpen di atas meja.
"Mana mungkin aku melanggarnya! Ada-ada saja kamu ini!" kesal Arsenio.
"Iya, iya. saya, 'kan cuma mengingatkan saja. Tidak usah marah begitu," kesal Adelia, "dasar pemarah," umpat Adelia dalam hati.
***
Adelia sedang berada di rumahnya, dia memperhatikan Wulan yang sedang menjahit. Dia lalu mengambil kursi plastik dan duduk di depan Wulan. Sementara Wulan sangat serius menjahit.
"Bu. Mulai besok Adelia mau bekerja di rumah Bu Martha, ya. Adelia juga tidurnya di kediaman Bu Martha." Adelia berucap dengan sangat hati-hati sambil memperhatikan sang bunda menjahit.
"Kerja apa lagi, Adel? Bukannya kamu sudah kerja di toko online?" Wulan menoleh kepada Adelia lalu kembali fokus menjahit.
"Iya, Bu, Adel masih kerja di toko online. Yang di Bu Martha kerjanya mulai jam enam sore. Lagian kerjanya cuma bersih-bersih rumah doang kok, Bu." Adelia meyakinkan sang bunda dan hatinya harap-harap cemas.
"Kamu tidak capek? Sudahlah tidak usah, Adel?" ucap sang bunda. "Ibu tidak mau kamu terlalu menguras tenaga hanya untuk mencari uang, nanti kamu kecapean.Kecuali kamu belum mendapatkan pekerjaan baru itu tidak apa-apa."
"Tidak akan capek kok, Bu. Adel juga sudah kepalang janji sama Bu Martha kalau Adel mau kerja di rumahnya. Lagian Bu Martha baik kok, orangnya." Adelia menatap wajah sang bunda.
"Ya, sudah terserah kamu, tetapi kalau kamu capek berhenti jangan dipaksakan. Ibu tidak mau kamu tiba-tiba sakit karena kerja dua kali."
"Oke, siap, Bu." Adelia mengangkat satu tangan seperti akan memberi hormat. "Tenang saja, Bu. Adel akan menjaga kesehatan biar badan Adel tidak sakit," lanjut Adelia.
Wulan menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan wajah Adelia. "Iya.Ibu doakan semoga kamu sehat-sehat terus," ucap Wulan lalu tersenyum.
"Terima kasih, Bu." Adelia bangun dari duduknya lalu memeluk belakang tubuh sang bunda dan pipi sang bunda.
Tangan sang bunda langsung mengusap pipi sang anak yang sedang memeluknya.
***
Adelia sudah berada di rumah Arsenio. Dia sedang bermain ponsel. Tidak lama kemudian Arsenio menghampiri Adelia.
"Oh, iya. Aku mau mengingatkan kamu. Ingat sesuai perjanjian kamu itu siapa. Kamu terlahir dari orang kaya dan pekerjaanmu adalah seorang desainer pakaian," perintah Arsenio.
"Iya, Pak Arsenio. Saya masih ingat. Pak Arsenio tenang saja," kata Adelia.
"Aku hanya tidak mau kamu lupa. Repot urusannya nanti. Sebentar lagi aku mau menjemput mama ke bandara. Kamu tidak usah ikut, tunggu di rumah saja," pinta Arsenio.
"Iya, tenang saja aku tidak akan ikut. Lagian buat apa aku ikut ke sana," ucap Adelia.
"Ya, siapa tahu kamu ingin ikut sama aku. Oh, iya. Di depan mamaku kamu harus panggil aku sayang. Jangan keceplosan panggil aku Pak Arsenio!" perintah Arsenio.
"Baiklah," jawab Adelia.
"Ya sudah. Aku pergi dulu." Arsenio beranjak meninggalkan Adelia.
"Mudah-mudahan mamanya Pak Arsenio baik. Aku tidak mau kaya di novel-novel, mertua julid sama menantu," monolog Adelia setelah Arsenio tidak terlihat.
***
Arsenio sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Kamu ya, Arsen! Giliran Mama desak-desak baru kamu menikah," kesal Bu Martha, "dan kenapa menikahnya mendadak tidak dirayakan lagi? Kamu ini bikin malu Mama saja," kesal Bu Martha lalu menggelengkan kepalanya.
Arsenio menoleh ke arah Bu Martha lalu kembali fokus menyetir. "Iya, maaf, Ma. Sudahlah, Ma yang terpenting sekarang omongan, Mama tuh terbantahkan. Aku ini lelaki normal bukan seperti apa yang, Mama bicarakan," ujar Arsenio.
" Iya, iya. Ya Mama cuma takut saja kalau kamu pencinta sesama jenis. Mau di taruh di mana muka Mama kalau kamu ternyata pencinta sesama jenis. Mama sekarang sudah tidak usah khawatir lagi sama kamu, Arsen. sekarang kamu sudah ada yang ngurus."
"Mama ini ada-ada saja, pikiran, Mama terlalu jauh." Arsenio menggelengkan kepalanya.
Bu Martha lalu tertawa mendengar ucapan sang anak. "Oh, iya menantu Mama bagaimana cantik tidak? Anak Mama, 'kan tampan berarti pasanganmu harus cantik dong," ucap Bu Martha.
"Ya, cantiklah, Ma. Arsen yakin Mama pasti suka sama istri Arsen," ucap Arsenio.
"Mama jadi pengen cepat-cepat bertemu sama menantu Mama. Oh iya, Arsen kamu harus cepat-cepat kasih cucu buat Mama. Istrimu tidak menunda kehamilan, 'kan?"
"Tidak ... tidak kok, Ma. Buat apa istriku harus menunda kehamilan," kata Arsenio sedikit gugup dan merasa tidak enak.
"Bagus Mama suka itu. Pokoknya Mama akan selalu berdoa buat kamu dan istrimu. Semoga istrimu cepat hamil dan kalian mendapatkan momongan yang lucu," kata Bu Martha.
"Iya, Ma," sahut Arsenio, "aku jadi merasa bersalah karena telah berbohong sama Mama. Maafkan Arsenio, Ma. Arsen terpaksa melakukan hal ini," batin Arsenio.
***
Arsenio sudah datang bersama sang bunda. Adelia menyambut kedatangan Bu Martha sambil tersenyum. Dalam hati dia merasakan gugup karena takut ketahuan.
"Jadi ini mantu Mama? Cantik sekali kamu." Bu Martha memegang dagu Adelia lalu cium pipi kiri kanan.
"Terima kasih, Ma. Ayo, Ma. Mama pasti kecapean. Mama istirahat, ya." Adelia memegang lengan Bu Martha dan mengajak masuk Bu Martha.
"Iya. Mama istirahat dulu di kamar. Biar Adel yang mengantar Mama ke kamar," timpal Arsenio.
"Sudah tidak apa-apa. Mama pengen ngobrol-ngobrol dulu sama kalian berdua. Kalian, 'kan pengantin baru. Jadi Mama pengen ngobrol-ngobrol sama pasangan pengantin baru." Bu Martha berbicara dengan antusias.
"Mama tidak capek? mendingan, Mama istirahat dulu saja," pinta Arsenio.
"Tidak usah, Arsen. Pokoknya Mama pengen ngobrol sama kalian. Siapa tahu kalian butuh solusi dari Mama."
Adelia dan Arsenio merasa bingung dengan ucapan Bu Martha. Mereka kemudian saling lirik satu sama lain.
"Solusi? Maksudnya solusi apa, Ma?" tanya Arsenio.
"Itu masalah bercinta."