"Anna...." Aku menoleh dengan malas, melihat siapa sih yang manggil dengan ngegas itu. Heran juga, kenapa suara itu bisa menelusup ke telinga yang kusumpal headset dengan volume full.
Andhika menghampiri mejaku yang tepat berada di depan meja guru. "Ada hadiah buat lo", katanya sambil meletakkan kotak persegi panjang yang terbungkus kado bercorak hati di atas bukuku.
"Dari siapa?" tanyaku tanpa mengalihkan mataku dari buku.
"Nggak tau, secret admirrer lo mungkin," Jawab Andhika. Cowok yang menjabat sebagai ketua kelas itu menyenderkan tubuhnya di meja guru.
"Jangan didudukin, kualat lo. Ilmu lo nggak berkah." Semburku saat tau Andhika menaikkan pantatnya mencoba duduk di meja itu.
"Tolong bukain dong." pintaku.
Dengan senang hati, Andhika langsung membuka kotak itu dengan tergesa. Lalu matanya berbinar cerah mendapati tiga batang coklat Silverqueen.
"Coklat Na..."
"Buat lo aja." kataku dengan masih menarikan pulpenku di atas kertas.
Sontak temanku yang lain berhamburan mengerubungi Andhika, mau dapat jatah coklat juga. Aku cuma geleng-geleng kepala.
Aku nggak suka coklat, makanya ku kasih saja sama yang suka coklat. Disisi lain, yang ngasih kado itu juga nggak jelas. Nggak ada namanya dari siapa, dan yang lebih nggak jelas lagi, nggak ada namaku yang katanya jadi penerima. Jadi kadang, aku nggak percaya sih kalo itu kado buat aku.
Kado itu nggak sekali dua kali dibawa Andhika lalu dikasih ke aku. Andhika dapatnya dari satpam sekolah, dan satpam pun nggak tau siapa pengirim kado itu. Dugaanku sih, si Pak Satpam cuma pura-pura nggak tau aja, biar sosok misterius pengirim kado nggak terbongkar identitasnya.
Kalo aku sih, diterima aja lha wong dikasih. Katanya nggak baik nolak pemberian orang. Apalagi isinya yang bisa dimakan, sayang deh kalo dibuang.
"Makasih Anna...." ucap Doni, temanku yang juga mendapat jatah coklat.
"Yoi." jawabku pendek sembari terus menyalin materi dari handphone ke buku.
Kalo boleh jujur, aku bakal milih ikut temanku yang lain tiduran di belakang kelas. Menggelar tikar, menjadikan tas sebagai bantal, lalu alunan lagu jawa yang terdengar, anggap saja sebagai lagu penghantar rebahan. Kegiatan yang sangat berfaedah yang menjadi kebiasaan saat hari sudah siang, dimana matahari lagi terik-teriknya, dan AC nggak bisa mendinginkan udara.
Atau kalo enggak, ikutan nobar film horor sama segerombolan cowok di pojok kelas. Mantengin dua kubu pemuja ML dan PUBG juga bisa, atau mempercantik diri dengan touch up kayak yang dua temanku cewek lakukan.
Di siang yang lagi puncaknya gerah melanda, ditambah lagi cacing perut yang meronta minta diisi makanan, bukannya dijejali tugas seambrek yang dikejar deadline.
Aku emang nggak bisa cuekin tugas kayak temanku yang lain. Rasanya mengganjal kalo hura-hura tapi masih punya tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Seenggaknya kerjain dulu, walaupun nggak sampai selesai karena lebih dulu dilanda rasa malas, lelah dan putus asa.
"Na...Anna..." Tarikan kecil di rambutku membuatku terpaksa menolehkan kepala ke belakang.
"Ada apa?" tanyaku dengan nada malas.
Wingki meringis, lalu cowok ini menggeliat, mengusir segala kepenatan yang melanda dirinya. Sebenarnya aku juga. Sudah lelah, malas dan putus asa buat melanjutkan nulis materi yang nggak kunjung usai.
"Kantin yuk. Gue traktir pop mi." tawarnya. Lalu dalam hati aku berkata, "Rejeki anak sholeh."
Wingki itu anak orang kaya. Tapi, dia nggak sombong, bahkan dia dermawan. Selalu ada disaat aku lagi nggak punya uang. Dengan rela bayarin foto copy soal-soal milikku pas aku gak bawa uang saku. Aku menganggap itu sebagai hutang, yang pasti akan kubayar. Tapi Wingki selalu nggak mau nerima uang pemberianku.
"Gue maunya mi sedap jinja pedas." Membayangkan kalo di suhu yang panas ini, makan mie pedas pasti bisa menghilang mumet di kepala.
Wingki membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas yang digantung di belakang kursi.
"Capcuss...." ujarnya sambil bangkit.
"Mau kemana lo berdua?" Andhika menghadang kami berdua tepat berada di depan pintu. Dengan mulut mengunyah coklat, kedua alis cowok itu naik menunggu jawaban.
"Gimana coklatnya, enak?" tanyaku. Andhika manggut-manggut. "Izinlah ke kantin, laper. Lo gak mau kan kalo gue pingsan disini?"
Si ketua kelas merenung, lalu merentangkan kedua tangannya. "Gue siap bopong lo ala bridal style ke UKS." Katanya penuh percaya diri.
"Bentar, nggak nyampe lima menit," Aku langsung menarik tangan Wingki, mengajaknya bergegas ke kantin, dan nggak memperdulikan Andhika.
Dulu, aku nggak pernah sekalipun memikirkan kalo aku bakal sekolah di SMK Negeri favorit di kotaku. Masuk jurusan TKR dengan modal nekat dan yakin, itupun enggak dari keinginanku.
Aku cuma iseng mencoba, apa nilai ujian Nasional SMP ku berharga di jurusan itu. Enggak berharap banyak juga, mengingat kalo aku lulusan SMP swasta dan bisa masuk ke SMK Negeri.
Pertama masuk kelas aku lumayan syok, mendapati murid satu kelas berkelamin laki-laki. Tapi ke terkejutanku mereda pas datang dua cewek yang ternyata satu kelas juga denganku. Seenggaknya aku nggak cewek sendirian di kelas.
Berteman dengan para cowok ternyata nggak seseram kelihatannya. Cukup asyik, dan nggak banyak drama. Nggak ada iri-irian kalo misalnya teman yang lain punya barang baru, nggak nyinyir-nyinyir an kalo lagi rebutan pacar, tapi langsung tinju-tinjuan.
"Eh Na, lewat kelas boga ya?" Wingki itu cowok paling tinggi di kelas, jadi untuk melihat dia aku harus mendongak.
"Ngapain sih, kan muter-muter jadinya," Kataku nggak setuju.
Kantin berada di gedung sebelah kiri kelasku, tinggal jalan ke kiri, lalu menuruni tangga sudah sampai. Tapi Wingki malah mengajak muter, melewati lapangan, di siang yang panas begini.
"Mau caper ke ciwi boga lo ya?" Ledekku. Wingki tersenyum malu-malu. Aku nggak tau sih, bisa jadi Wingki punya pacar anak boga. Jurusan boga itu mayoritas muridnya cewek. Satu-satunya jurusan cewek yang ada di sekolah ini. Sering juga anak teknik kalo nggak lagi praktek, pasti nongkrong di kantin boga. Sering juga, kalo pas lagi praktek, anak boga memasarkan hasil masakannya ke anak mesin. Sekalian caper lah, pumpung masih sekolah. Katanya masa SMA masa yang paling indah.
"Cari mie di kantin boga aja."
Wingki menghentikan langkahnya tepat di anak tangga.
"Kenapa? Cem-ceman lo lagi magang disana?" Ledekku lagi.
Wingki itu mantan anggota klub basket. Keluarnya dia dari klub basket sangat disayangkan oleh para anggota yang lain, bahkan juga guru pembimbing. Dia kan tinggi, sekali loncatan pasti tangannya menggapai ring, tapi sayang dia memilih keluar karena katanya terlalu banyak latihan, dan banyak menyita waktu luangnya. Emang sih, klub basket disini kan yang paling diandalkan, karena beberapa tahun terakhir berhasil menggondol banyak piala kemenangan.
Cowok-cowok klub basket juga yang paling banyak punya penggemar dari cewek jurusan boga. Ngerti kan, gimana pesona cowok basket pas lagi drible bola?
"Lo yakin disitu aman? Deket ruang BK lho," Wingki menatapku, tampak menimang ucapanku. Aku melihat keringat mengalir di pelipis cowok tinggi itu. Efek cuaca panas memunculkan keringat membasahi juga sebagian rambutnya.
"Aman pasti, sumpah ya panas banget." Katanya sambil mengusap keringat di keningnya. Aku ingat kalo di saku seragamku ada tisu bersih.
"Nih, cukup prihatin gue sama lo," Wingki meringis, lalu mengambil tisu yang kuulurkan.
"Sekalian diusapin juga boleh lo Na," Katanya menggodaku. Aku tak acuh, memutar bola mata, lalu meneruskan langkah.
"Jangan baper Na, gue cuma bercanda."
"Sae lo, lo kira gue Ratih, gampang baperan,"
Balasku menyebutkan nama teman satu kelas kami. Cewek anggun yang gampang baper, berkali-kali dibaperin doang tapi nggak jadian. Kan kasihan.
###
"Mbok... Bapak sudah pulang?" teriakku yang kutujukan buat wanita paruh baya yang tinggal di rumah depan rumahku.
Pintu rumah itu terbuka, tapi nggak ada tanda kehidupan di sana.
"Mbok..." teriakku lagi.
"Udah pulang....ke ladang mungkin," Sahutan itu terdengar, tapi tetap saja nggak tampak orang.
Aku memarkirkan sepedaku di teras. Melepas sepatu, lalu merebahkan tubuhku di lantai teras. Dinginnya lantai langsung tembus sampai ke tulang punggung, dan ini nyaman banget.
Istirahat dulu sebentar, sambil menghilangkan keringat. Sebelum nanti aku memasak makan malam. Bapak pasti sudah makan siang sama makanan yang kumasak tadi pagi sebelum berangkat sekolah.
Aku hidup berdua sama bapak. Dulu kata Bapak, aku punya dua kakak laki-laki, tapi sayang mereka harus dipanggil Tuhan duluan bersama ibu. Kapal yang mereka tumpangi saat akan menyusul kami disini tenggelam, merengut semua nyawa penumpang.
Waktu itu umurku masih dua tahun, dan sekarang aku sudah lupa gimana wajah ibuku. Pernah melihat dari foto yang bapak tunjukkan, ibuku cantik. Kedua kakak laki-lakiku juga tampan. Tapi sekarang, foto itu sudah hilang. Terbawa arus banjir yang dulu pernah melanda desa kami.
"Udah pulang Nduk?"
Aku bangkit buat melihat sosok yang bersuara itu. Bapak menurunkan rerambanan (daun dan rumput buat makan kambing), di teras samping.
"Udah Pak, Bapak udah makan siang?" tanyaku.
"Udah."
Aku berdiri membantu Bapak melepaskan ikatan di reramban. "Anna buatkan kopi ya Pak," ujarku lalu bergegas ke dapur.
Bapak bukan asli sini, ibu juga. Mereka asli Sumatra, lalu mencoba merantau di Jawa. Jadi, kami sebenarnya disini orang rantau. Tapi, bapak mengubah kependudukan menjadi warga sini, karena gak mungkin buat kembali ke tanah asalnya. Aku lahir juga di Sumatra, dan tempat lahirku di akta dipalsukan menjadi Kota Trenggalek.
Disini kami hidup tanpa sanak saudara. Saudara bapak entah dimana rimbanya, sementara orang tua bapak, kakek nenekku, sudah tiada. Orang tua ibuku juga nggak ada kabarnya, tepat setelah kepergian ibu.
Kami benar-benar sendirian disini. Tapi untungnya kami punya tetangga depan rumah yang baik hati. Mbok Iyem. Wanita paruh baya itu selalu membantu kami saat kami membutuhkan pertolongan. Dia tinggal sama suaminya di rumah, sementara anaknya sudah berumah tangga, dan tinggal di luar kota.
Kadang, jika anaknya pulang mengunjunginya, dia akan memberi kami oleh-oleh yang dibawa anaknya. Menyuruh kami untuk makan bersama di rumahnya.
"Nih Pak kopinya," Aku meletakkan segelas kopi hitam yang masih mengepul di sebelah bapak duduk. Malaikat tanpa sayap kedua setelah ibuku ini tampak sangat kelelahan. Keringat mengucur di pelipisnya, apalagi sekarang cuaca lagi panas banget, aku yakin tambah sumpek di badan.
"Gimana sekolahnya?" tanya bapak sambil meniup kopinya.
Aku tersenyum lalu menjawab, "Aman dong kayak biasa."
Bapak dengan sabar merawatku, mendidikku sampai umurku akan menginjak delapan belas tahun. Umur bapak udah nggak muda lagi, tapi jangan ragukan kekuatannya. Walaupun fisiknya terlihat lemah, bapak masih kuat memikul satu karung besar jagung gelondongan dari pucuk gunung, dibawanya ke kaki gunung.
Profesi bapak sama kayak orang di desa. Petani. Bapak punya lahan di gunung, punya ladang di kaki gunung, juga punya sepetak sawah yang ada di pinggir jalan raya. Bapak juga memelihara kambing yang kandangnya ada di belakang rumah.
"Jagungnya belum panen Pak?" tanyaku. Beberapa bulan yang lalu aku ikut bapak menanam jagung di sawah. Sering juga kutengok dan waktu lalu bapak membawa jagung muda buat kujadikan perkedel jagung.
"Bentar lagi, minggu depan kayaknya udah kering,"
"Anna ikutan ya Pak?"
"Boleh, nanti kamu yang angkutin."
Rumahku ada di desa pinggiran kota. Jalanannya sedikit menanjak, karena desaku nggak jauh dari kaki gunung. Gunung itu yang menjadi lahan pengais rezeki warga disini.
Sering juga aku ikut naik bersama bapak saat sekolahku libur. Definisi hiking yang sebenarnya. Aku bisa naik, tapi takut turun. Kalo udah gitu bapak bakalan nyuruh aku merosot. Benar sih bisa sampai bawah, tapi pantatku yang bergesekan sama tanah kering dan kerikil terasa panas.
Bapak nggak mau menikah. Padahal umur bapak waktu ditinggal Ibu masih belum tua. Bapak pasti masih segar bugar. Alasannya mungkin bapak nggak bisa move on dari ibu. Aku juga nggak pernah membicarakan ini sama bapak. Padahal kalo jujur, aku juga ingin merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi katanya, kasih sayang ibu tiri beda lagi rasanya.
"Anna..." Teriakan dari rumah depan disusul dengan Mbok Iyem yang muncul mengagetkanku. "Nggak usah masak, Mbok masak banyak," Katanya lagi.
Tanpa memakai sandal, aku berlari menghampiri Mbok Iyem yang membawa dua baskom di tangannya.
"Tumben Mbok, Mbak Yati mau kesini ya?" tanyaku sambil mengambil baskom.
"Iya, nanti malam ke sini aja."
Aku mengangguk mengiyakan tawarannya, lalu kembali ke rumah dengan hati senang.
Belum ada semenit bel istirahat berbunyi, tapi kelas sudah kosong melompong. Menyisakan aku dan juga Andhika yang masih asyik dengan game-nya.
Buku-buku kubereskan, lalu kukeluarkan bekal nasi yang kubawa dari rumah. Dari kelas satu sampai sekarang, aku selalu membawa bekal makan, dan hampir nggak pernah sarapan di kantin sekolah.
Alasan utamanya buat menghemat sih. Aku sungkan kalo minta uang saku sama bapak, sebelum bapak ngasih uangnya sendiri ke aku. Kadang bapak lupa nggak ngasih aku uang padahal waktu tenggat uangku habis sudah kelewat jauh. Makanya aku berhemat, buat jaga-jaga kalo suatu saat bapak lupa lagi nggak ngasih aku uang.
"Tumben lo nggak ke kantin," celetukku ke Andhika yang sudah duduk di kursi sebelahku. Kotak bekal miliknya tersaji di depan mata, dan nggak lupa botol Tupperware berisi air minum.
"Gue menghemat ini. Hemat kan pangkal kaya," responnya santai.
Aku mendelik, memberikan tatapan nggak percayaku. Cowok ini bakal jadi yang pertama keluar kelas saat bel istirahat berbunyi, dia bakal menerobos gerombolan anak-anak yang lagi desak-desakan beli makanan di kantin.
"Ceileh, sejak kapan lo sadar kalo hemat itu pangkal kaya," kataku menyindir. Aku membuka kotak makanku. "Oh gue tau, lo pasti bokek kan? Ibu lo belum tf duit ke lo," Sambungku.
"Nah, itu lo tau."
Andhika nge-kos nggak jauh dari sekolah. Dia nggak cuma satu-satunya temanku yang menyandang gelar 'anak kos'. Fajar, Yuda, dan temanku yang lain juga sama. Bahkan Riko, cowok yang sedikit pendiam itu satu kos sama Andhika.
"Lo masak apa?" tanya Andhika sambil melirik bekalku. Aku menyodorkan nasi goreng milikku. "Nasi goreng, mau?" tawarku.
Tawaranku di angguki, lalu menyerobot bekal di tanganku. Aku berdecak menyaksikan Andhika yang lahap menelan nasi goreng buatanku.
"Enak," Kunyahan nasi goreng di mulutnya belum tertelan sempurna, tapi dia menyempatkan ngasih pujian buat aku.
Aku tersenyum dan dengan bangga berkata, "Iya dong, gue kan calon istri idaman."
Andhika mengembalikan bekal makanku yang kini nasinya sudah berkurang beberapa sendok. Mata sipitnya menatap mengejek. "Heh, iya. Lo kan calon istri idaman gue," Aku mencebik menanggapi gurauan Andhika.
Sama sekali nggak memasukkan hati candaan si ketua kelas. Teman-temanku emang gitu, ngomongnya blak-blakan nggak bisa direm, sampai lupa kalo mereka berkelamin jantan. Ibu-ibu tukang ghibah mah kalah, kalo udah kalimat bar-bar nya keluar.
"Oh iya Na, hampir aja lupa" kata Andhika setelah memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. Cowok itu bergegas menuju ke mejanya, lalu kembali dengan membawa kotak persegi yang kali ini terbungkus kado bercorak bunga-bunga.
Aku yang asyik mengunyah cuma menunggu gerakan Andhika selanjutnya.
"Ada kado lagi buat lo,"
"Lagi?" Bola mataku membesar, lumayan terkejut melihat kado itu diangsurkan Andhika padaku. "Beneran ini buat gue lagi?" tanyaku. Kemarin aku sudah dapat kado tanpa nama pengirim, dan sekarang aku mendapat kado lagi dari tanpa nama pengirim juga.
"Buka aja,"
Andhika masih sama semangatnya kayak kemarin pas aku nyuruh dia buat bukain kado. Kalo kemarin matanya langsung berbinar cerah melihat isinya, tapi kali ini enggak. Dia tampak kecewa.
"Bukan coklat Na," keluhnya lirih.
Satu persatu isi kado dia keluarkan.
"Jepit rambut, anting-anting, kalung, bando,sama...." Sebuah amplop dia keluarkan, " Ada suratnya Na," lanjutnya sambil menunjukkan amplop di hadapanku.
Aku melahap suapan nasi terakhir," Baca", suruh ku di sela-sela mulutku mengunyah makanan.
"Maaf ya, selama ini kado-kado dariku buat kamu terganggu. Aku kayak pengecut nggak berani nampakin diri. Tapi kali ini, aku punya nyali buat nunjukin siapa aku. Kalo kamu penasaran, kamu bisa datang ke gazebo tengah sepulang sekolah," Usai Andhika membaca surat itu, kami saling tatap. Saling bertukar sorot mata enggak tau. Lalu dengan bersamaan kami berdua menoleh kanan kiri, menelusuri ruangan kelas yang masih kosong melompong.
"Anak sini nih berarti. Hebat lo punya secret admirrer,"
"Berasa jadi artis kan gue,"
"Songong lo." Andhika meraih bando pita berawarna pink yang menjadi isi kado tadi, lalu memakaikan aksesoris rambut cewek itu di rambutnya yang cepak. Mengambil cermin kecil di mejaku tanpa izin, dia lalu senyum-senyum nggak jelas di depan cermin. Berpose-pose layaknya dia pantas memakai benda itu.
"Gimana Na? Ucul kan?" katanya padaku sambil mengedip-kedipkan kedua matanya.
"Mirip banget sama banci JB, udah ikut nongkrong aja ntar malem, jangan lupa pake daster."
"Masa iya sih? Yaudah lo ikut gue juga ntar malem, cari om-om berduit,"
"Ogah." tolakku.
"Ini bando unyu banget di lo Na, pasti." Bando pink itu sudah berpindah di kepalaku, tentu Andhika yang memasangkannya. "Unyu banget sumpah, ngaca noh." ucapnya lagi sambil mengulurkan cermin.
Aku jarang memakai aksesoris rambut seperti jepit, bando, juga aksesoris yang lain. Terlalu kekanakan, dan girly menurutku. Cukup dengan menguncir rambutku ala ekor kuda, sudah bisa membuatku percaya diri menjalani hari. Beda sama Ratih si tukang baperan yang selalu menghiasi rambutnya dengan perintilan warna-warni. Sudah kayak rambut anak TK.
Melihat bando pink ini bertengger cantik di rambutku, nggak terlalu buruk. Nggak aneh dan lumayan bagus juga. Membuat rambut hitamku terlihat lebih hidup, dan nggak monoton. Bando ini bakal aku simpan dan aku pakai buat aksesoris rambutku lain waktu.
"Uluh uluh, comel banget sih, anak siapa?" Pujian Andhika yang kayak lagi muji anak kecil membuatku memutar bola mata kesal. Nggak tinggal diam, tangan cowok ini mencubit pipiku, itupun bukan cubitan gemas tapi lebih ke cubitan geram. Dan ini sakit banget.
"Ceileh, kalian berduaan di kelas, lagi pacaran? Awas nih benih-benih cinta bertebaran, cie," Wingki datang bersama anak-anak yang lain. Aku belum mendengar bel masuk berbunyi sih. Tumben kan mereka sudah kembali ke kelas.
"Eh Ka, mabar yok." Doni, temanku yang bertubuh paling tambun menghampiri Andhika yang masih menandaskan makanannya. Andhika sih kebanyakan ngomong, nasinya jadi terbengkalai.
Dengan buru-buru dia menutup bekal nasinya, lalu berlari mengikuti Doni ke pojok kelas.
"Guru baru bukan sih?" Ratih menghampiriku, menggeser kursi milik Wingki disejejarkan dengan kursiku. Pemilik kursi sudah melanglang buana menggerakan si Layla buat menghancurkan turennya Zilong.
Aku nggak menjawab karena menurutku Ratih bertanya sama Kenya yang duduk di kursi depanku.
"Lo tau nggak Na? "
Aku bingung, cewek ini tiba tiba saja datang lalu menanyaiku tanpa aku tau apa permasalahannya. Kan ambigu.
"Ratih tadi katanya ketemu sama mas-mas ganteng, masih muda. Dan asing wajahnya, kayaknya sih guru baru," jelas Kenya seakan tau kebingunganku.
"Oh....ngemeng dong, masa iya gue langsung ditanya begitu, kan gue bingung,"
"Beneran ganteng sumpah, kumisnya ya ampun." Ratih histeris, dan aku jadi penasaran seganteng apa guru baru itu.
"Ngajar kita nggak sih?" tanyaku.
"Kayaknya enggak deh," Kenya berasumsi. Cewek itu lalu mengeluarkan liptint dari saku bajunya. Men-touch up bibirnya biar kelihatan nggak pucat.
"Tapi, bukan tipe gue deh. Gue masih doyan yang muda," Lalu tawa lirih terdengar. "Buat Lo aja deh Na, kan lo pemuja pria berumur."
"Ya kali, sono mau sama gue" Aku merendahkan diri. Kedua temanku ini tau kalo tipe laki-laki idamanku itu yang umurnya lebih diatasku. Lebih tua dariku, yang lebih berumur, tapi gak tua-tua juga.
Lima tahun, atau enam tahun diatasku mungkin. Ya intinya masih pantas lah dipanggil 'mas', bukannya 'om'.
Nggak tau kenapa aku menanamkan prinsip itu dari sekarang. Disaat umurku masih belasan tahun, dimana anak seusiaku diluar sana pasti masih memilih buat menjalin hubungan dengan anak seusianya, beda denganku yang malah berharap dapat pria berumur.
"Gue kemarin habis beli lipcream warna baru. Warnanya cantik sih coral gitu, bakalan natural kalo dipake di bibir. Nggak bikin dempul. Kaya pake lipstik, tapi nggak kelihatan kalo pake," Pembicaraan kami tentang guru baru tergantikan. Ratih menuju mejanya lalu kembali dengan membawa lipcream kayak yang dibicarakannya.
"Emang bener nggak dempul?" Kayaknya Kenya nggak yakin sih. Biasanya ucapan Ratih emang berbanding terbalik dengan fakta.
"Cocok buat lo Na, gue kasih gratis deh,"
Kenya langsung merebut lipcream yang Ratih gembor-gemborin itu, mengoleskan isinya di punggung tangan. Mengetes warna dan tekstur mungkin.
"Ini mah pantesnya buat gue. Buat Anna mah cukup gitu aja, nggak usah dipakein apa-apa, bibirnya udah merah menggoda"
Ratih merebut kembali lipcream dari Kenya, dengan gaya kemayu sembari mengerucutkan bibir, dia berkata "Biar tambah seksi dong. Muah."
###
"Beneran nggak papa nih, gue ikut?"
Andhika tampak ragu-ragu. Padahal dia sudah janji buat nemanin aku menemui si pengagum rahasiaku.
"Enggak papa, kenapa sih? Lo kan teman gue," Aku meyakinkan. Sarana biar Andhika nggak kabur gitu aja ninggalin aku. Aku juga pengen tau, siapa sih dibalik kado-kado itu.
"Tapi bentar deh Na, kayaknya nggak etis banget deh kalo gue nemenin lo disini. Gue takutnya itu orang nggak jadi nampakin diri karena tau kalo lo nggak sendirian. Dia gak mau identitasnya ada yang tau selain lo,"
"Masuk akal juga sih,"
Andhika manggut-manggut argumennya ku setujui.
"Gimana kalo gue pantau dari jauh. Di balik tembok sono," Mataku mengikuti telunjuk Andhika yang menunjuk tembok yang dimaksud. " Ntar kalo dia macem macem, gue langsung nongol."
"Nggak mungkin juga dia macem macem disini Ka, sekolah nih. Masih rame. Ada cctv juga,"
"Ya kan siapa tau. Kemungkinan terburuk tuh harus diantisipasi."
"Hooh deh, sana sembunyi," Aku mendorong tubuh Andhika pelan, lalu cowok itu berlalu.
Menanti kedatangan sosok misterius yang nggak kunjung datang, aku terus melihat jam di handphone. Kalo gini terus aku bisa pulang kesorean, kasihan bapak belum makan kalo masakan yang kumasak tadi pagi sudah habis.
Aku memutuskan untuk menunggu lima menit lagi, kalo dia tetap nggak datang yaudah aku pulang.
"Riko...nungguin siapa?" Tanyaku pada cowok yang mendadak duduk di sebelahku. Teman kelasku yang satu kos sama Andhika, yang sedikit pendiam, dan sedikit juga interaksiku dengannya.
"Cari Andhika ya?" Kataku lagi setelah Riko tak berniat membalas tanyaku. Riko lagi lagi cuma diam, dan aku nggak tau harus ngapain, karena emang dari dulu Riko ini udah pendiam.
Dia menatapku tajam, tatapannya nggak biasa menurutku. Beda sama tatapan teman cowokku yang lain. Walaupun Wingki juga sering menatapku tajam kayak gini, tapi sorot mata Wingki nggak sama kayak sorot mata Riko.
"Kado-kado itu dari gue," Setelah sekian detik gak ada suara, Riko bersuara dengan nada yang dingin.
"Kado apaan?" tanyaku.
Aku sama sekali nggak membahas tentang kado. Dan masalah kado yang tau cuma aku sama Andhika, bukan Riko.
"Coklat, kalung, bando, surat, itu dari gue,"
Mendengar kalimat itu bibirku menganga. Belum sepenuhnya percaya sih kalo sosok misterius itu adalah Riko. Riko nggak pernah terlihat mencurigakan, dan aku sama sekali juga nggak mencurigai dia. Interaksinya denganku saja bisa dihitung dengan ruas jari kelingking.
Sedikit dan sejarang itu.
"Candaan lo gak lucu deh," Aku tertawa lirih. Siapa tau kan, Riko mengaku kalo dirinya bohong.
"Gue serius. Gue suka sama lo, gue nggak berani ngomong langsung ke lo. Dan kado kado itu sebagai penghantar. Gue kira lo bakalan kepo dengan pengirim tanpa nama itu, lalu lo cari. Dengan begitu gue bisa dengan berani nunjukin kalo dibalik kado itu ada gue yang suka sama lo. Tapi nyatanya, o cuek Na. Dan itu bikin gue lama-lama nggak tahan."
Aku masih ternganga dengan pengakuan Riko yang panjang lebar. Nggak nyangka kalo cowok yang pendiam di kelas ternyata menyimpan segenap rasa buatku. Lalu dia berani memaparkannya dengan panjang dihadapanku sekarang, walaupun butuh waktu yang lama buat ngumpulin keberanian.
"Sorry Rik, gue nggak tau," Aku mehela nafas lalu melanjutkan ucapanku, "Rasa suka itu wajar kok. Siapapun yang Lo suka itu hak lo. Gue maklumin." Aku tersenyum, berusaha meyakinkan bahwa keputusan Riko untuk jujur itu memang pilihan.
Aku nggak mau Riko menyalahkan dirinya karena sudah mengatakan hal itu sama aku, lalu dia bakalan menghindar karena malu.
"Gue sayang sama lo Na, tapi gue pengecut, nggak berani ngomong sama lo.
Lo mau gak jadi pacar gue? Nggak apa lo nolak, tapi seenggaknya hati gue udah lega berhasil ngungkapin semuanya ke lo," Senyum simpul tersungging dari bibir cowok berkumis tipis ini.
Aku bisa melihat gurat kelegaan hadir di wajahnya, juga sorot matanya yang tenang.
"Maaf nih ya Rik, gue lagi males pacaran. Jadi, gue tolak lo nggak apakan? Jadi teman aja oke?" Aku mengulurkan jari kelingking yang nggak lama kemudian disambut tautan jari kelingking Riko.
"Oke. Tapi lo jangan hindarin gue. Gue takut setelah gue ngomong ini ke lo, lo jadi ilfeel sama gue."
"Ya enggak dong. Asal lo nggak diam aja kayak patung. Btw, lo masih bakalan ngirim coklat ke gue kan? Si Andhika tuh seneng banget sama Silverqueen,"
"Na.... cepetan!" teriak Wingki dengan menolehkan kepalanya ke arahku. Aku mendengus sebal sambil terus bersikeras mengayuh sepedaku untuk menjejeri cowok itu.
Bisa-bisanya Wingki meninggalkan aku di belakang. Padahal tadi pagi aku yang duluan menjemput dia di rumahnya.
Semalam, Wingki mengabariku kalo dia mau berangkat sekolah bersamaku dengan naik sepeda.
Aku emang sudah terbiasa pulang pergi dengan sepeda, makanya kuingatkan Wingki kalo dia harus stay dijam enam lima belas kalo mau sampai sekolah tepat waktu. Saat aku tiba di rumahnya, Wingki baru saja bangun tidur. Aku sudah dongkol sejak itu.
Dia tetap saja membela, katanya berangkat setengah tujuh enggak papa. Emang sih jarak sekolah dan rumah kami lumayan dekat. Tapi jangan disamakan durasinya dengan naik motor, bisa tiga kali lipat kalo naik sepeda.
"Gara-gara lo ini," teriakku bersungut-sungut. Tepat banget, jam pertama itu pelajaran PPKn, gurunya nggak galak sih, tapi benci banget kalo ada muridnya terlambat. Enggak dimarahin juga, tapi bakal dicatat dimasukkan jurnal.
"Cepetan Na, gerbang bentar lagi tutup."
Begitu sampai di depan pintu gerbang, aku memilih berhenti. Mengatur deru nafasku, sementara Wingki sudah memarkirkan sepedanya di parkiran.
Menuntun sepedaku melewati pintu gerbang, langkahku dihadang dua cowok berseragam dengan bet warna hijau, artinya mereka siswa kelas satu.
Setiap pagi di depan pintu gerbang emang selalu ada yang namanya penertiban. Petugas Osis ini yang bakalan ngecek atribut sekolah.
"Ngapain sih, gue udah lengkap nih," Kataku sebal sambil memperlihatkan dasi dan bet kelasku. "Gue buru-buru," kataku lagi.
"Tolong lipstiknya dihapus Kak," ujar cowok bertopi yang tingginya sejajar denganku. Jelas aku mendelik mendapat suruhan itu.
"Lipstik apaan? Gue nggak pake lipstik." Protesku. Aku nggak pernah memakai lipstik ataupun liptint kaya yang cewek- cewek pakai disini. Enak saja menuduhku kayak cewek-cewek penggila make up itu.
"Cepetan hapus aja Kak, biar cepet masuk kelas," ucap cowok satunya.
Kekesalanku kayaknya udah berada di puncak ubun-ubun. Ini masih pagi tapi ada saja yang bikin aku mau marah.
Aku merebut tisu yang diulurkan ke aku.
Buru-buru menghapus bibirku, lalu menunjukkan tisu bekas bibirku ke dua cowok di depanku. "Tuh, lihat, bisa lihatkan, gak ada bekas. Gue gak pake lipstik, dibilangin juga. Ini bibir gue merah begini udah dari orok, bawaan bayi, ngerti bawaan bayi gak kalian?" kataku mencak-mencak.
"Ada apa ini? Kok ribut-ribut?" Seorang guru laki laki muda mendatangi kami.
Aku tambah jengkel kalo masalah ginian tambah panjang.
"Saya kan nggak pake lipstik Pak, masa dituduh saya pake. Kan nggak semuanya cewek pake lipstik," ujarku. Pak Ari menatapku, lebih tepatnya melihat ke bibirku. Kayak memastikan kalo ucapanku beneran. Dia guru Bahasa Jawa, sekaligus menjadi guru pembimbing OSIS, makanya dia ada disini. Pernah mengajar kelasku waktu kelas satu. Mungkin dia nggak ingat kalo aku murid yang pernah diajarnya dulu. Kan murid disini banyak, ratusan, bahkan sampai ribuan.
"Yaudah cepetan masuk," Perintah Pak Ari yang langsung kutaati. Beda dong, Pak Ari sama bocil. Laki-laki pengalaman emang lebih tau mana warna bibir asli dan warna bibir polesan. Apalagi Pak Ari punya gelar 'Hot Daddy', pasti khatam sama yang begituan.
Aku langsung ngacir meninggalkan dua cowok yang pasang muka pias, lalu segera memarkirkan sepedaku. Enggak sekali dua kali aku dibeginikan. Dikira memakai lipstik warna merah padahal bibirku enggak aku apa-apakan. Aku cuma memakai lipbalm karena bibirku gampang kering. Banyak yang nggak percaya kalo warna bibirku asli.
Emang sih kebanyakan cewek warna bibirnya merah muda, lain sama aku yang malah merah merekah.
Wingki beneran udah nggak kelihatan saat aku sampai di dalam sekolah. Cowok itu pasti sudah tiba di kelas barengan sama guru PPKn. Udah pasti namaku tercatat dalam jurnal terlambat.
"Aww," pekikku setelah pantatku mendarat keras di lantai anak tangga.
Udah jatuh tertimpa tangga aku pagi ini, apes banget. Gimana bisa, kakiku menginjak ujung rok hitam yang kupakai. Perasaan kemarin aku udah memotong rokku lima jari di atas mata kaki. Sudah pendek banget tapi masih ngribetin orang jalan.
"Sakit?" Tiba-tiba saja ada orang bertanya. Suaranya cowok, serak-serak basah gitu.
"Sakit banget ya ampun, ngalahin ditinggal nikah mantan,"
Bisa-bisanya aku menjawab begitu tanpa melihat orang yang bertanya tadi di belakangku.
"Kasihan banget sampe ditinggal nikah,"
Mataku membulat menyaksikan sosok yang bersuara tadi kini sudah berpindah di depanku. Mampus, aku malu seperempat mati. Kukira dia murid sini, tapi perkiraanku melenceng sembilan puluh derajat membentuk sudut siku-siku. Tersudutkan.
Ketergesaanku untuk tiba di kelas lebih cepat, hilang sudah tergantikan dengan tubuhku yang menegang panas dingin susah buat gerak. Beneran aku malu banget, buat benerin rokku yang tersingkap saja aku nggak bisa, apalagi lari, jadi aku cuma bisa menundukkan kepala sambil memejamkan mata.
"Sakit banget ya sampe merem gitu?" Kali ini suaranya terdengar dekat di telingaku.
Aku langsung membuka mata karena terfikir yang enggak-enggak, dan mendapati laki-laki yang kukira murid tadi, berjongkok di depanku.
Aku langsung bangkit, karena bahaya kalo terus-terusan begini. Bahaya kalo aku lebih lama terlambat.
"Enggak papa Pak, saya baik-baik saja. Permisi, " Aku menganggukkan kepala menunjukkan sikap hormat, lalu berlalu. Biar saja aku dicap sebagai murid enggak sopan karena mendahului guru.
Enggak etis banget jatuh di tangga terus ketauan guru. Apalagi gurunya muda dan aku nggak pernah lihat dia sebelumnya. Ganteng lagi, punya kumis, punya jambang tipis, Ya Tuhan....
Sadarkan aku buat nggak menghayal di waktu yang salah ini.
###
Siang-siang begini, biasanya Wingki akan mengajakku makan pop mi di kantin. Menyaksikan ciwi-ciwi boga lagi berhamburan menuruni tangga buat menikmati waktu istirahat. Itu hobinya Wingki, kalo aku bakal muas-muasin main medsos pake WiFi aula sekolah.
Lumayan hemat paket data. Aku lumayan pelit sih kalo masalah kuota. Agak nggak rela kalo buang uangku cuma buat beli kuota. Lebih baik kusimpan kubelikan yang lain.
"Na, sorry ya. Gue pulang duluan. Males gue, masuk kelasnya Bu Anik sama Bu Ninik, " Itu yang diucapkan Wingki tadi sebelum ngacir sama Andhika. Nggak mereka berdua saja yang milih kabur tiga puluh menit sebelum pelajaran Bu Anik. Sebagian temanku cowok, yang emang sudah terkenal sering bolos juga ikutan.
Benar sih, emang malas banget rasanya kalo harus mengikuti pelajaran matematika dan fisika, dijam-jam kayak gini. Hawanya tuh panas, lelah, laper, ngantuk bikin pengen tidur saja. Belum lagi ditambah sama rumus-rumus x dan y yang nggak habis-habis. Aku benci banget sama pelajaran yang mengandung rumus-rumus. Rumusnya sih bisa dengan mudah aku hafalin, tapi penerapannya itu bikin pusing tujuh keliling.
"Oh iya Na, jangan lupa kumpulin berkas kemarin di TU, " Itu pesan Andhika sebelum kabur dari kelas. Peluang kabur di jam usai praktek kejuruan emang besar banget. Satpam nggak akan curiga kalo keluar pintu gerbang dengan memakai seragam produktif.
"Kunci lemari mana ya?" tanyaku pada Rendi, si cowok penunggu kursi pojok kelas.
Rendi mengalihkan pandangannya dari game masak-masak lalu menatapku yang lagi mencuri pandang ke layar handphone-nya.
"Ya ampun, lo main cooking Mama?" tanyaku lalu terbahak. Heran sih, padahal temannya yang lain pada bergerombol membentuk kubu sana sini buat mabar PUBG sama ML.
"Ngapain sih lo kepo banget," balas Rendi nggak suka.
"Kunci lemari mana?" ulangku.
"Disitu nggak ada?" tanyanya balik.
"Ye, kalo ada, gue nggak tanya sama lo. Kan lo yang setia duduk disini, jagain pojokan, sama harta karun di lemari."
Rendi merenung sejenak, memikirkan sesuatu, lalu merogoh saku celananya. "Ada sama gue ternyata, hehehe" katanya sambil nyengir.
"Setau gue sih, setan sekolahan seneng banget nongkrong di pojokan kelas. Apalagi Mbak Kunti, dia kan paling seneng menyendiri gitu," kataku lirih tepat di telinga Rendi sebelum bergegas pergi usai mengambil setumpuk berkas.
"Gue nggak takut Anna Frozen!" teriak Rendi kencang, membuatku terkikik.
Kalo waktu istirahat siang gini, kursi-kursi yang diletakkan di sepanjang koridor lantai bawah selalu ramai jadi tongkrongan para cowok jurusan teknik. Karena emang gedung ini wilayah anak teknik. Beda lagi sama kursi di gedung dalam yang pasti penuh sama para cowok jurusan las, gambar bangunan, perkayuan, dan jurusan yang lain.
Emang enak banget kalo nongkrong sambil bercanda dan angin sepoi-sepoi bakal menyapu wajah membawa kesejukan. Kalo satu kursi panjang cuma diisi satu orang, bisa banget buat rebahan.
"Anna."
Ada yang manggil tapi nggak kelihatan orangnya yang mana. Karena disepanjang koridor banyak banget cowok yang pasang mata ke arahku yang lagi berjalan mau ke TU. Serasa jadi maskot di pawai agustusan jadinya.
"Anna," Satu panggilan lagi. Memutuskan aku buat berhenti dan menatap satu persatu deretan cowok itu. Lambaian tangan terulur dari satu cowok yang duduk nyempil diantara cowok yang aku nggak kenal.
"Riko, ngapain lo disitu? Gue kira ikutan kabur sama Andhika" kataku dari tempatku berdiri. Membuat sebagian cowok yang awalnya nggak melirikku jadi ikutan melihatku. Aku tersenyum kikuk. Agak malu juga kalo dilihatin begini. Padahal hampir tiga tahun aku hidup berdampingan sama cowok-cowok.
"Enggak, gue kan murid teladan. Mau kemana?" tanya Riko dari tempat duduknya.
"TU," jawabku singkat.
"Yaudah terusin aja," Aku langsung meneruskan langkah. Telingaku sempat menangkap suara-suara dari cowok di sebelah Riko, meminta Riko untuk memberi nomer WhatsApp-ku ke dia. Awas saja kalo aku membuka WhatsApp nanti, bakal banyak pesan masuk dari nomer nggak dikenal, bakal ku save satu-satu. Lumayan buat menambah kontak.
"Aduh," erangku lumayan keras, membuat Mbak TU yang nggak aku tau namanya melirikku dari atas mejanya. Untuk yang kedua kalinya pantatku menyentuh lantai, dan ini lebih sakit dari yang tadi.
"Hati-hati dong Dek, makanya jangan bengong di depan pintu," kata Mbak TU dengan sedikit sarkas. Menumbuhkan omelan di hatiku menyalahkan sosok dibelakang pintu yang membuatku jadi tersungkur begini.
Aku baru saja masuk dan berdiri di depan pintu, karena mataku mencari dimana meja yang harus aku tuju untuk mengumpulkan berkas. Tiba-tiba saja ada dorongan dari luar pintu, kencang banget, sampai aku terdorong dan tersungkur. Sial banget aku hari ini.
"Aduh, maaf ya Dek...." kata sosok yang membuatku jatuh begini.
Aku nggak menjawab, sibuk merapikan kertas-kertas yang berserakan. Nggak mau diinjak karyawan yang lewat, dan nggak mau diomelin lagi Mbak TU yang judes itu. Hatiku jelas dongkol sama orang ini.
"Loh, Mas Dinar udah nyampe?" Pertanyaan Mbak TU yang nadanya melengking berdengung di telingaku. Membuatku melepaskan pandangan dari kertas dan beralih ke sosok yang disebut 'Mas Dinar', yang masih berdiri di depanku.
Cuma laki-laki sebenarnya, pasti juga karyawan TU. Tapi dia nggak biasa, karena tadi pagi aku sudah bertemu dia di tangga depan kelas. Menyaksikan aku jatuh, dan juga membalas celetukanku tentang ditinggal nikah mantan.
Aduh, bakal malu lagi atau kesal aja akunya? Kan ini salah dia. Harusnya aku minta pertanggungjawaban sama kertas-kertasku yang berserakan.
"Ada keperluan apa kamu Dek?" tanya Mbak TU karena aku nggak juga bergeming dari tempatku.
"Mau ngumpulin berkas yang buat ujian," jawabku sambil membuang pandang, menjatuhkan tatapanku ke TV yang menempel di dinding. Laki-laki ini kayaknya menatap aku. Tampak dari ekor mataku, dia menyunggingkan senyum.
"Kelas tiga ya? Kumpulinnya ke Mas Dinar,"
Aku mengangguk, lalu mengikuti Mas Dinar yang menyuruhku untuk ikut ke ruangannya. Jadi, dia beneran karyawan TU, bukan guru kayak yang kukira tadi pagi.
"Jurusan apa?" tanyanya ke aku setelah dia duduk di kursi tempat kerjanya. Aku berdiri di depan meja, pengen duduk tapi nggak ada kursi.
"TKR 2," jawabku.
Mas Dinar mungkin nggak ingat kalo yang jatuh di tangga tadi pagi itu aku.
"Gimana?" tanyanya lagi.
Aku melotot, nggak faham sama pertanyaannya. Gimana apanya? Kan nggak logis.
"Apanya yang gimana?" tanyaku balik.
Mas Dinar tersenyum, menampakkan deretan giginya yang putih dan kecil-kecil.
Senyumannya maut banget. Aku yakin cewek diluaran sana bakal terkintil-kintil sama senyumannya itu.
"Masih sakit ditinggal nikah mantan?" tanyanya sambil menyodorkan kertas ke aku.
Tanganku berhenti sambil memegangi kertas yang disodorkan, terkejut. Dia nggak lupa kalo aku yang menyeletuk kalimat nggak lucu itu tadi pagi.
Aku tersenyum kikuk. Malu.
"Tulis kelas dan jurusan, jangan lupa sama tanda tangan, " kata Mas Dinar menghentikan aksi kikukku.
Aku mulai mengisi data kelengkapan berkas. Mengangkat kepalaku saat Mas Dinar mengeja nama di bet dada, " A double N, A. A double Y A, double S Andra". Matanya menyipit, lalu menatapku dengan tatapan bingung.
"Anna Ayyassandra" ujarku membenarkan namaku yang baru dibacanya dengan aneh.
"Kenapa hurufnya double semua?"
"Mana saya tau Mas, yang ngasih nama kan bapak saya waktu saya masih bayi merah," terangku.
Mas Dinar meloloskan tawanya. "Kamu ketua kelas?"
"Enggak. Ketua kelasnya absen, jadi saya yang wakilin,"
"Kamu wakil?"
"Enggak. Saya nggak punya pangkat apa-apa di kelas, " jawabku lengkap sebelum dia bertanya aku sekretaris atau bukan.
"Berkasnya udah lengkap?" tanyanya sambil meminta berkas di dekapan tanganku.
"Udah," Seharusnya sih begitu. Pengumuman TU buat mengumpulkan berkas sudah beberapa hari yang lalu. Dan berkas murid di kelasku masih dikumpulkan sekarang. Ini karena cowok-cowok kelasku yang bandelnya nggak ketulungan.
"Kenapa masih dikumpulin sekarang?" pertanyaan itu akhirnya ku dapat.
Aku menghela nafas, seolah-olah lelah menghadapi bandelnya anak-anak kelas.
"Cowok di kelas saya bandel semua Mas, lupa terus disuruh bawa fotocopy an KK sama Akta, padahal kerjaan mereka kan cuma nge-game sama tidur." keluhku jujur. Kalo aku nggak membantu Andhika gembor-gembor mengingatkan anak-anak setiap pulang sekolah, pasti berkasnya belum bisa kukumpulkan sekarang.
"Kamu pake lipstik?" Mas Dinar malah nggak menanggapi keluh kesahku, dan malah bertanya hal lain. Refleks aku menutup bibirku.
"Enggak,"
"Jangan ditutupin mau lihat," katanya. Jantungku langsung berdebar keras banget, ada rasa aneh gitu, tapi nggak tau rasa apa. Kurang ajar nggak sih, kalo Mas Dinar mengatakan kayak gitu.
Lumayan risih sih aku. Dia kan baru saja tau namaku, tapi sudah berani ngomongin lipstik. Bukan tuduhannya tentang memakai lipstik, tapi keberaniannya membahas bagian tubuh yang termasuk sensitif. Kalo ngomongin ini sama sesama cewek sih nggak papa, kalo sama Mas Dinar kan malu, apalagi dia bukan cowok sepantaranku.
"Banyak yang bilang kalo saya pake lipstik, tapi ini beneran warna bibir asli saya. Suer," terangku dengan mengangkat dua jari membentuk V.
Aturan nggak boleh memakai lipstik di sekolah emang yang paling banyak dilanggar. Hanya bagi cewek-cewek sebenarnya, yang padahal jumlah cewek disini hanya berapa persen dari jumlah cowok. Tapi tetap saja, aturan itu yang paling keras diberlakukan khusus bagi cewek.
Mas Dinar tersenyum lagi. Aku semakin nggak tau, dan bingung sama tingkahnya.
"Warnanya bagus," ujarnya lagi.
Jadi dia nggak percaya kalo aku beneran nggak pake lipstik. Boleh kubuktikan disini nggak sih. Tisu mana tisu.