Bab 1

Pada hari di mana Keluarga Bernardi dan Keluarga Harlan bersatu melalui pernikahan, langit seolah-olah mengamuk dan dihiasi warna merah tua dari kobaran api.

Delia Harlan, masih terbalut gaun pengantinnya yang indah, dengan putus asa menyaksikan mempelai prianya, Alex Bernardi, dengan heroik menarik Jelita Hanafi ke dalam pelukannya dan berjalan melewati api yang berkobar, tanpa melihat sedikit pun ke arahnya.

Delia yang terjebak di bawah sekat besar yang jatuh tidak bisa bergerak, matanya berkaca-kaca karena tak berdaya dan ketakutan.

Udara dipenuhi asap yang tebal dan saat Delia berjuang untuk bernapas, penglihatannya mulai kabur. Pikiran tentang mati terbakar mulai memenuhi pikirannya.

Namun, ketika harapannya mulai memudar, terlihat ada seseorang muncul dari balik asap.

Lengan yang kuat mengangkatnya dengan mudah dan suara detak jantung sang penyelamat yang menempel di telinganya membawa kedamaian di tengah semua kekacauan itu.

Tiba-tiba terdengar desisan yang memecah suara-suara kehancuran yang teredam.

Dia tiba-tiba mencium bau yang mengerikan, yaitu bau daging yang terbakar.

Dengan jantung yang berdebar kencang karena ketakutan dan bingung, Delia mengumpulkan kekuatan untuk membuka mata, tetapi dia malah disambut oleh kepulan asap yang menyesakkan dan mengaburkan pandangannya, sehingga membuatnya semakin takut.

Saat dia meraba-raba secara buta di tengah kegelapan, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang lengket dan meresahkan. Pria yang menggendongnya itu refleks tersentak, tetapi hanya sebentar saja. Kemudian dia kembali membiarkan tangan Delia berkeliaran sesukanya.

Angin dingin menderu di telinga Delia.

Lambat laun, rasa panas menyengat yang terasa membakar wajahnya mulai hilang.

Dia berjuang membuka kelopak matanya untuk melihat penyelamatnya.

Melalui pandangannya yang kabur karena asap, sekilas dia melihat ada tahi lalat yang khas di dekat mata pria itu, tahi lalat yang membuatnya merasa sangat tak asing.

Saat kesadarannya mulai kabur lagi, Delia mendengar suara lembut menembus angin yang menderu. "Tuan Muda, ambulans sudah tiba. Keluarga Harlan juga sudah naik. Kita harus segera pergi. Lengan Anda memerlukan perawatan yang segera, dan terlebih lagi, hari ini adalah hari pernikahan Nona Harlan. Jika orang-orang melihatnya bersama pria lain, itu akan menjadi gosip."

...

Delia terbangun dari tidurnya di bangsal rumah sakit yang dingin dan hampa.

Terlihat bulan besar di luar menyinari segalanya dengan cahayanya yang suram dan menyeramkan. Ruangan itu diselimuti keheningan, tanpa kehadiran suami barunya.

Luka-lukanya cukup parah; tulang rusuknya retak dan pipi kirinya terluka parah. Dokter telah memperingatkan bahwa tanpa perawatan yang teliti, luka itu dapat meninggalkan bekas luka di wajahnya.

Saat fajar menyingsing, dokter kembali datang untuk memeriksa kondisinya.

Sambil melihat sekeliling ruangan yang kosong, dia bertanya, "Di mana keluargamu?"

Delia menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit. Dia telah mencoba menelepon Alex berkali-kali, tetapi tidak diangkat.

Sambil menghela napas, dokter menyarankan, "Cobalah untuk tidak terlalu banyak bergerak karena dapat memperburuk cederamu. Jika tidak ada seorang pun yang bisa membantumu, aku akan mengatur pengasuh untukmu."

Pada saat itu, seorang perawat muda menimpali, "Bukankah kamu pengantin dari insiden kebakaran yang menjadi berita utama? Apakah suamimu tidak ada di sini bersamamu?"

Kepala perawat mendengar percakapan itu dan kemudian terbatuk untuk memberi isyarat agar rekannya diam. Dia berjalan mendekat dan bergumam, "Dia sedang mengurus orang lain di atas."

Mata perawat muda itu terbelalak tak percaya. "Apa? Tangan perempuan itu hanya tergores sedikit!"

Kondisi Delia yang sekarang sangat membutuhkan orang untuk membantunya.

Kepala perawat menggelengkan kepala. "Di atas ada segerombolan orang yang mengurusnya. Sungguh tidak adil, 'kan?"

Pada saat ini, Delia merasa sangat malu dan putus asa. Dia yang duduk di tepi ranjang rumah sakit, merasakan darahnya seolah-olah berubah menjadi es dan tubuhnya menggigil.

Sambil bersandar ke dinding untuk menopang diri, dia berjalan ke lantai atas menuju bangsal pasien yang eksklusif.

Langkahnya terhenti di ambang pintu, dia melihat pria yang telah dicintainya selama sepuluh tahun itu sedang menyuapi adik perempuan tirinya, Jelita. Mereka saling bertatapan dan hubungan di antara mereka terlihat jelas.

Ibu tirinya, Kartika Ramanda, menutup mulut dengan tangan dan matanya berkaca-kaca. "Suamiku, mungkinkah ini karma? Apakah kesalahanku di masa lalu yang menghantui putri kita sekarang?"

Kaden Harlan, ayah kandung Delia yang merupakan suami Kartika, dengan lembut menyentuh bahu Kartika untuk menghiburnya. "Tidak, ini hanya sekadar kecelakaan yang tidak diharapkan. Ini semua bukan salahmu."

"Ayah! Ini bukan kecelakaan, ini pembunuhan! Kak Delia kesal karena Ayah dan Kak Alex lebih menyayangiku daripada dia. Dia sangat kejam. Pada saat kebakaran terjadi, hanya ada kami berdua dan dia mendorongku. Dia ingin aku mati."

Setelah berkata demikian, Jelita membenamkan diri dalam pelukan Alex, air mata mengalir di pipinya dan dia menangis tersedu-sedu.

Kartika menatap tangan putrinya yang tergores, sebelum mencondongkan tubuh ke Kaden dan mencari kenyamanan dalam pelukannya.

"Suamiku, Jelita mungkin bukan darah dagingmu, tapi dia telah menganggapmu sebagai ayah kandungnya. Siapa yang menyangka cintanya kepadamu malah mendatangkan bencana baginya? Aku sudah mengorbankan banyak hal agar Delia merasa puas, aku bahkan bersumpah untuk tidak punya anak lagi setelah menikah denganmu. Tapi tampaknya tidak ada yang dapat memuaskannya. Apa lagi yang diinginkannya dariku? Dia bisa mengambil apa saja dariku, bahkan hidupku, kalau itu yang dia mau! Tapi kenapa Jelita yang harus menderita? Dia tidak melakukan apa pun yang pantas untuk membuatnya mengalami semua ini."

Kartika terisak dengan penuh penderitaan, sampai-sampai orang yang melihat mungkin mengira bahwa Jelita-lah yang mengalami patah tulang rusuk dan terluka di muka.

Delia yang berdiri di luar tanpa sepengetahuan mereka mendengar setiap kata-kata fitnah yang ditujukan padanya.

Hatinya terluka saat menyaksikan kedua pria yang paling dicintainya, ayahnya dan suaminya, mencurahkan perhatian mereka pada Jelita dan tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membelanya.

Hatinya yang sudah rapuh hancur berkeping-keping.

Dengan tubuhnya yang penuh luka, Delia telah bersusah payah berjalan ke sini. Sekarang, dia berjalan kembali ke bangsalnya dengan setiap langkah yang berat dan penuh rasa sakit.

Setelah ibunya meninggal, dia juga telah kehilangan ayahnya.

Suaminya, yang tumbuh besar bersamanya, menyukai orang lain.

Sungguh sebuah pengkhianatan yang kejam.

Ketika hari mulai gelap, Alex akhirnya sampai di bangsal rumah sakit Delia sambil memegang wadah makanan.

Dia berhenti secara tiba-tiba di pintu, raut wajahnya dipenuhi dengan ekspresi jijik, seolah-olah udara di dalam sana membuatnya jijik.

Dia menatap Delia dengan tatapan yang dingin dan jauh.

Delia menegakkan tubuh dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, suaranya yang terdengar berat dipenuhi rasa putus asa dan sakit hati. "Aku bersumpah, aku tidak mendorong Jelita. Dia memberitahuku bahwa hadiah pernikahan untukku ada di gudang. Tapi saat kami masuk, api mulai melalap kami dan pintunya terkunci dari luar."

Dengan tatapan dingin dan sedikit ketidaksabaran, Alex bergumam, "Delia, berhentilah berdalih. Tidak ada gunanya berpura-pura lagi. Kamu selalu membenci Jelita karena dia mendapatkan kasih sayang semua orang, tapi kamu tega menyabotase hari pernikahan kita dengan niat jahat seperti itu. Aku tidak pernah menyangka kamu sekejam ini!"

Bab 2

Dengan sikap tenang dan mantap, Delia menjelaskan apa yang terjadi pada Alex, suaranya terdengar jelas. "Gudang itu dilengkapi kamera pengawas. Meski kebakaran mungkin telah menghancurkan kameranya, pasti ada data cadangan yang disimpan di suatu tempat."

"Cukup!" Mata Alex memicing saat dia menatap Delia, suaranya dingin dan diwarnai kemarahan. "Kamu hanya mencari-cari alasan untuk menyelamatkan diri dari ini. Rekaman kamera pengawas dapat dimanipulasi. Aku benar-benar tidak bisa memercayai sepatah kata pun darimu, dasar wanita penipu!"

Delia menatap tajam ke arah Alex.

Ekspresinya tetap tenang, tetapi tatapannya tajam dan tak tergoyahkan. Setiap kali pria itu menatap seseorang, tatapannya itu seolah-olah menusuk menembus mereka.

Selama lebih dari sepuluh tahun, Delia selalu berpegang teguh pada harapan naif bahwa dia dapat mencairkan hati Alex yang dingin. Akan tetapi, dia tidak pernah menyangka bahwa semuanya akan berakhir seperti ini.

"Pergi dan minta maaf pada Jelita sekarang juga!"

Perintahnya membelah udara bagai angin dingin, membuat Delia merasa ada seember air es yang disiramkan padanya, tubuhnya seketika terguncang.

"Aku istrimu! Kenapa kamu tidak percaya padaku?" tuntutnya, kata-katanya hancur karena beratnya tuduhan yang tak berdasar itu.

"Delia, kubilang padamu—minta maaf sekarang! Jika Jelita memutuskan untuk membawa masalah ini ke pengadilan, kamulah satu-satunya yang akan menangis dan memohon ampun."

Perkataannya yang tajam terasa bagai belati, merobek dinding hati Delia yang rapuh.

Pernikahan ini, sepuluh tahun yang dia pikir adalah bentuk cinta dan pengabdian, ternyata hanyalah lelucon kejam.

Dengan tarikan kasar di kerah blusnya, Alex menyeretnya ke bangsal Jelita.

Seorang perawat berlari cepat di belakang mereka, nada putus asa terdengar dalam suaranya. "Pak, tulang rusuk pasien retak. Dia butuh perawatan dan istirahat yang baik. Apa yang kamu lakukan sekarang adalah bentuk penganiayaan!"

Namun, Alex secara terang-terangan mengabaikan perkataannya.

Delia terhuyung-huyung, hampir tersandung saat suaminya itu menyeretnya melalui lorong-lorong rumah sakit yang bersih dan menuju bangsal VIP eksklusif.

Ruangan itu memancarkan aura hangat dan tenang. Jelita berbaring di tempat tidur saat Kartika, yang duduk di sampingnya, menawarkan buah-buahan yang sudah dipotong padanya.

Saat Delia masuk, Kartika menatapnya sekilas lalu mengalihkan pandangan, pura-pura tidak tahu akan kehadirannya.

Kaden mengerutkan kening dengan jijik. "Berani sekali kamu menunjukkan wajahmu di sini! Tahukah kamu bahwa adik perempuanmu terluka?"

Pada saat ini, Delia merasakan hatinya mati oleh rasa dingin yang menusuk.

Dia menoleh ke Kaden dan bertanya, "Ayah, apakah Ayah lupa bahwa aku adalah putri kandungmu? Apakah Ayah ingat pernah bersumpah untuk tidak menikah lagi setelah Ibu meninggalkan kita? Ayah berjanji untuk menjagaku. Apakah begini cara Ayah menepati janji itu?"

Ayahnya sendiri bahkan tidak bersedia memberinya kesempatan untuk menjelaskan atau membela diri.

Ekspresi Kaden berubah sesaat, alisnya berkerut oleh kejengkelan saat dia menatap tajam ke arah Delia. "Kamulah yang mengacaukan semuanya! Kenapa kamu menyeretku ke dalam masalah ini? Semakin lama, kamu menjadi semakin lancang, ya? Kamu bahkan berani berdebat melawanku sekarang!"

Di ranjang rumah sakit, Jelita tampak segar bugar meski kondisinya diduga mengalami cedera parah.

Dengan gerakan yang berlebihan, dia menekankan tangan ke dadanya seolah-olah kewalahan oleh ketidakpercayaan yang tiba-tiba. "Kak Delia, apakah kamu ingin Ayah menua dan menjalani sisa hidupnya seorang diri? Pernahkah kamu membayangkan betapa kesepiannya Ayah saat kamu menikah? Duduk sendirian di rumah besar itu, tanpa ada yang merawatnya saat dia sakit atau bahkan menuangkan segelas air untuknya?"

Setelah mengatakan itu, Jelita beralih ke Alex. "Kak Alex, apakah kamu sungguh-sungguh percaya aku akan menyalakan api hanya untuk membakar diriku sendiri?"

Alex bungkam, hanya bisa meresapi beratnya pembicaraan itu. Wajahnya semakin suram dengan berlalunya setiap detik, mencerminkan badai yang makin besar di dalam dirinya.

Dia menatap Delia dengan dingin dan tak kenal ampun, lalu memerintahkan dengan tegas, "Delia, berlutut dan minta maaflah pada Jelita!"

Delia menghadap Alex, ekspresinya menantang. Kenapa dia harus melakukan hal itu?

Tiba-tiba, Kartika bangkit dari kursinya dan menyerbu. Tanpa ragu sedikit pun, tangannya terayun di udara, mendaratkan tamparan keras di pipi Delia.

Tercengang, Delia hampir tidak dapat memproses serangan mendadak itu, sementara Kartika jatuh ke dalam emosinya yang berkecamuk dan menangis.

Sambil mengarahkan jari ke arah Delia, Kartika berteriak, "Delia! Kamu mencoba membunuh putriku! Bagaimana kamu bisa berdiri di sana, tanpa sedikit merasa bersalah, dan justru memfitnahnya? Oh, putriku yang malang! Akulah yang harus disalahkan atas segalanya. Seharusnya aku tidak pernah menjadi ibu tiri bagi putri orang lain. Ini semua salahku! Bukan saja kamu tidak bisa bersama dengan pria yang kamu cintai, aku juga membahayakan nyawamu! Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri atas semua ini!"

Kaden merasakan dadanya seperti ditusuk dengan belati tajam karena menyaksikan betapa menderitanya Kartika.

Didorong oleh luapan amarah, dia menghampiri Delia dan menamparnya dengan keras.

Tamparan itu membuat Delia terhuyung ke belakang, tubuhnya membentur dinding saat dia berjuang mempertahankan keseimbangan.

Dengan linglung, Delia bersandar ke dinding, pikirannya kusut sementara air mata mengaburkan pandangannya.

Dia menatap Alex, secercah harapan masih bersemi di hatinya.

Diam-diam, dia memohon agar suaminya ini membelanya, meski hanya memberikan satu kalimat untuk membelanya.

Namun, tanggapan Alex menghancurkan harapan terakhirnya saat dia berkata dengan tegas, "Minta maaf sekarang! Atau aku terpaksa harus menelepon polisi. Kamu sudah melakukan percobaan pembunuhan, Delia. Dan itu cukup bagimu untuk menghabiskan sisa hidup di penjara."

Bab 3

"Alex .…"

Meskipun Delia telah menguatkan dirinya untuk mendengar jawaban Alex, jawaban itu tetap saja menyakitkan, bagai bilah tajam yang merobek hatinya.

Berapa dekade yang dimiliki seseorang dalam hidup, hanya untuk mendapati bahwa itu tidak berarti apa-apa?

Dia telah mengabdikan sepuluh tahun hidupnya untuk mencintai pria ini, menginvestasikan jiwanya ke dalam hubungan itu.

Namun, apa yang diterimanya sebagai balasan hanyalah pembelaannya yang gigih terhadap wanita lain.

"Ya, panggil polisi!" Suara Kartika meledak di ruangan itu saat dia dengan panik meraih ponselnya. "Serahkan saja pembunuh ini pada mereka!"

Di tengah kekacauan itu, hanya Delia yang menangkap cara halus Jelita meremas tangan Kartika menyusul pernyataannya yang meledak-ledak.

Tatapan mereka bertemu dalam pertukaran pandangan sekilas yang diam.

Kartika terdiam, tekadnya goyah.

Suara Jelita dipenuhi pertimbangan. "Alex, aku tahu kamu peduli padaku, tapi ini masalah keluarga kami. Menelepon polisi dapat menyebabkan penangkapan kakak perempuanku dan mencoreng reputasi Keluarga Harlan. Itu adalah hal yang paling tidak aku inginkan. Mungkin sebaiknya kita ...."

Dia terdiam, menatap ke bawah, posenya yang anggun memungkiri kilatan licik dalam tatapannya. "Kita ... lupakan saja semua ini."

Sarannya menggugah Kaden dan menyebabkan alis Alex berkerut karena berpikir.

Matanya yang dingin menatap tajam ke arah Delia saat dia berbicara dengan kewibawaan yang kuat. "Kita tidak bisa melupakan ini begitu saja! Minta maaf sekarang! Berlututlah dan mohon ampun!"

Meski merasakan sakit yang amat sangat dari tulang rusuknya yang retak, Delia tetap teguh pada pendiriannya, tulang punggungnya kaku, tidak mau menunjukkan tanda-tanda kekalahan.

Pada saat yang mengerikan itu, kebenaran yang kejam terbentuk dalam pikirannya: penderitaannya hanyalah hiburan bagi seseorang yang tidak mencintainya.

"Sudah kubilang, aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Aku tidak bersalah, dan aku menolak untuk berlutut atau meminta maaf!"

Ketika dia baru saja selesai berbicara, Kaden menutup jarak di antara mereka dan menampar wajahnya dengan keras lagi.

Karena dampak dari tamparan itu, Delia, yang sudah rapuh, terhuyung-huyung secara berbahaya, tubuhnya gemetar seperti daun di tengah badai. Sebelum dia bisa berdiri tegak, sebuah tendangan keras menghantam punggungnya.

Dengan suara keras, dia jatuh berlutut.

Suara lututnya yang terbentur lantai keras bergema di seluruh ruangan, mengirimkan sentakan rasa sakit luar biasa yang menjalar dari lututnya ke dadanya.

Dia menopang diri dengan kedua telapak tangannya menempel di lantai. Darah mulai mengalir melalui perban yang melilit dadanya, mengubahnya menjadi warna merah mencolok.

Di ambang pintu, perawat tidak tahan lagi menyaksikan kejadian itu.

Dia bergegas menolong Delia, lalu menoleh pada Alex dengan ekspresi mengutuk keras. "Aku sudah melihat berita. Kamu suami Delia, 'kan? Saat kalian menikah, kalian seharusnya saling melindungi. Bagaimana kamu bisa memperlakukannya dengan kejam seperti itu? Dia terluka parah, dan tanpa perawatan yang tepat, cedera ini bisa menghantuinya selama sisa hidupnya."

"Aku tidak akan pernah menerima seseorang yang begitu kejam sebagai istriku." Alex melemparkan tatapan dingin dan sinis pada Delia yang tergeletak di lantai. Sorot matanya dingin, melihat wanita itu tidak lebih dari sekadar setitik debu di sepatunya. "Delia, kejadian hari ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Jelita mungkin pemaaf, tapi tindakanmu berat, dan kamu harus menghadapi konsekuensinya. Kamu akan berlutut di sini sampai kamu mengakui kesalahanmu!"

Dia lalu berbicara pada Kaden. "Ayah tentu tidak keberatan, 'kan?"

Dengan anggukan tajam, Kaden setuju, "Tentu saja, dia perlu melakukan introspeksi secara mendalam. Aku sepenuhnya setuju."

Pada saat ini, seorang dokter memanggil anggota keluarga, dan ruangan itu segera kosong, hanya menyisakan Delia dan Jelita.

Duduk dengan angkuh di ranjang rumah sakit, Jelita menatap Delia, yang masih berlutut, tangannya gemetar saat dia menopang dirinya sendiri. Senyum mengejek muncul di sudut bibir Jelita.

"Delia, apakah penting bahwa kamu anak kandung Ayah? Lihatlah dirimu, berlutut di hadapanku. Aku beri tahu kamu, aku memang menyukai Kak Alex, dan kalau dia bukan milikku, dia pasti tidak akan menjadi milikmu!"

Diam-diam, Delia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku dan menekan tombol rekam di ponselnya.

Kulit pucatnya basah oleh keringat, setiap tetesnya membasahi dahinya yang tegang.

Sambil menatap Jelita, dia bertanya dengan suara yang terdengar mantap dan jelas, "Jadi, kamu yang merencanakan pembakaran itu, 'kan?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED