Bab 1

Seorang pria tampan duduk termangu menatap ponsel. Foto seorang wanita paruh baya tampak memenuhi layar. Jarinya mengusap seolah-olah mengelus pipi. Ya, dialah Darren Gerald atau yang senang dipanggil 'Ge' --pria berusia dua puluh lima tahun itu tengah dirundung rindu kepada wanita cantik yang telah melahirkannya. Bagaimana tidak? Sembilan tahun yang lalu, Darren pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu meninggalkan ibunya seorang diri. Seharusnya ia pulang satu tahun yang lalu, tetapi terhalang oleh ongkos yang terbilang mahal. Bekerja sebagai montir ternyata tidak cukup dimana uang yang didapat ia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan dikirim kepada ibunya.

Nomor kontak yang bertuliskan 'My Mom' pun ia tekan.

Terhubung.

Saling menyapa satu sama lain mengawali percakapan antara ibu dan anak itu.

"Maaf, Bu, Ge belum bisa pulang. Nanti kalau uangnya sudah cukup, Ge cepet-cepet pulang, kok," kata Darren pada sambungan telepon.

"Iya, Nak, tidak apa-apa. Lebih baik uangmu simpan, jangan kirim ke Ibu terus. Ibu, kan, bisa kerja di sini," ungkap Rossi Sawitri --ibu Darren.

"Ge mohon, Ibu jangan kerja jadi buruh cuci lagi atau apalah. Sudah kewajiban Ge untuk nafkahin Ibu. Kalau uang yang Ge kirim kurang, Ibu harus bilang, ya?"

"Cukup, Nak. Sangat cukup. Dan soal pekerjaan, kamu tau sendiri kalo Ibu diam di rumah saja, badan Ibu suka pegel-pegel, Ge."

Darren hanya pasrah mendengar alasan Rossi, karena ia sangat tahu bagaimana sifat sang ibu. Obrolan berlangsung lama.

Darren menepuk kening saat melihat jam di dinding sambil berkata, "Mati!"

"Mati? Siapa yang mati, Ge?" tanya Rossi cemas.

"Anu ... itu, Bu. Ge ada janji dengan seseorang."

"Siapa? Pacarmu, ya?" goda Rossi.

Darren tersenyum. "Hehe ... iya, Bu."

Rossi mengatakan, ia sangat senang karena Darren sudah memiliki kekasih. Pun wanita paruh baya berusia empat puluh delapan tahun itu mengingatkan jika Darren harus tetap menjaga etika, jangan terpengaruh budaya barat. Darren pun menyanggupi dan berjanji akan menjaga amanat sang ibu.

Obrolan pun mereka akhiri dan sambungan telepon terputus.

"Aarrrgggh! Ya, ampun, telat lagi. Bagaimana ini?" ucap Darren sambil memilih baju yang pantas ia kenakan.

Setelah mengenakan baju yang pas, Darren bergegas pergi ke sebuah kafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya dengan menggunakan sepeda. Ya, pria bertubuh jangkung itu menempati sebuah bengkel dimana ia bekerja yang berada di pusat kota.

***

Tiba di kafe, matanya menyisir setiap meja. Bibirnya tersungging saat melihat sang kekasih duduk di meja pojok yang tengah fokus menatap laptop.

"Maaf, Sayang. Sudah nunggu lama, ya?" sesalnya sambil menarik kursi untuk ia duduki.

Bukannya marah, si wanita menyambutnya dengan senyuman, kemudian berkata, "Tidak apa-apa, Kak. Aku juga sambil ngerjain tugas."

"Oh, iya. Katanya ada yang diomongin, apa itu?" tanya Darren.

"Ish! Gak pesen minum atau makan dulu gitu?"

Darren tersenyum, kemudian dia memanggil seorang pelayan. Mereka memilih menu makan malam. Sambil menunggu pesanan datang, Darren meminta kekasihnya untuk bercerita.

"Sebelumnya aku minta maaf, Kak. Bukan maksud aku membohongi Kakak. Sebenarnya ... aku udah dijodohin," ungkap si wanita yang bernama Thalita.

"Apa?!"

Thalita menenangkan Darren. Ia pun mulai bercerita. Sedari kecil, dirinya dijodohkan dengan anak sahabat ayahnya, yang tentu saja rekan bisnis dimana membuat gadis bernama lengkap Thalita Abimanyu merasa terkekang. Bagaimana tidak? Laki-laki yang bernama Bagas itu memiliki sifat over posesif tidak mengizinkan Thalita jauh darinya. Rasa cinta yang tulus untuk Bagas membuat Thalita bertahan. Namun, cinta itu tidak bertahan lama. Hatinya hancur berkeping setelah ia mengetahui jika ternyata Bagas adalah seorang playboy. Gadis berparas cantik, putri dari seorang pengusaha itu pun berontak. Ia memohon kepada sang ayah untuk melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri. Sang ayah pun mengizinkan.

Darren tersenyum kecut. "Ya, sesama orang kaya itu tidak heran kalau soal jodoh menjodohkan. Lalu, kenapa di sini kamu gak cari orang kaya saja?"

"Yang perlu kamu tahu juga tentang Kakak ... Kakak itu orang miskin yang datang ke sini hanya mengandalkan beasiswa, pun dengan pendidikan S2, S3, sama ... semua mengandalkan beasiswa," lanjut Darren.

Thalita menggeleng. "Aku butuh laki-laki yang tulus sama aku. Aku butuh Kakak. Bukan pria seperti Bagas."

"Kalian sudah putus?"

Thalita menunduk. "Untuk kata putus belum terucap. Tapi, kan, yang terpenting adalah aku sudah tidak cinta lagi sama Bagas. Tapi ..."

"Apa?"

Thalita mendongak. "Sepertinya Bagas gak mau putus sama aku."

Darren terdiam. Ia menyelami hati dan pikirannya. Berpacaran dengan wanita yang sudah dijodohkan itu sudah jelas salah. Orang ketiga, itu adalah titel yang tepat untuk dirinya.

"Kak, kenapa diam? Kakak gak sayang sama aku? Kakak gak cinta sama aku? Kakak nyesel pacaran sam-"

Jari telunjuk Darren mendarat di bibir ranum Thalita membuat gadis itu terdiam. "Bisa mendapatkan cintamu saja Kakak beruntung. Sayang dan cinta ini tulus untukmu. Kamu satu-satunya wanita yang mampu membuat Kakak jatuh cinta pada pandangan pertama."

Thalita meraih tangan Darren dan mendaratkannya di pipi. "Terima kasih. Aku sayaaaang banget sama Kakak. Yang perlu Kakak tau, aku dan Bagas belum bertunangan, kok."

"Iya, sekarang belum. Tapi, besok?"

Thalita tersenyum. Ia sangat mengerti apa yang Darren takutkan. "Tidak akan pernah terjadi, Kak. Dulu, papa memang berniat menggelar pesta pertunangan, tetapi Bagas menolak."

Darren mengernyit. "Kenapa?"

"Bagas mengatakan jika dirinya tidak mau terikat. Dan sekarang sudah terjawab mengapa demikian. Yahh, mana mungkin seorang playboy, senang main perempuan terikat sama satu wanita saja."

Darren menarik napas dalam dan mengeluarkan kasar, kemudian mengangguk-anggukan kepala.

"Apa kamu yakin kita akan direstui orang tuamu?"

"Kakak ragu?"

Darren mencoba tersenyum, lalu menjawab, "Kamu bagaikan langit dan aku bumi. Duniamu sulit aku sentuh. Kita bukan hidup di dunia film atau novel yang dimana si miskin dan si kaya bisa bersatu hanya dalam sekian episode saja."

"Helooowww, Kakak ... Papa pasti melihat laki-laki mana yang baik buat aku. Papa gak mungkin biarin aku bersatu sama Bagas yang jelas-jelas dia itu suka mainin cewek. Aku yakin orang tuaku tidak memandang hal seperti itu."

Darren tersenyum, kemudian mengacak pucuk kepala kekasihnya. "Semoga kita berjodoh, ya? Apa pun yang terjadi nanti, kita hadapi bersama dan harus saling percaya."

Thalita mengangguk diiringi senyum yang mengambang dari bibirnya.

Pesanan pun datang. Mereka menikmati hidangan selagi hangat. Mulut terlihat menikmati setiap suapan yang masuk, tetapi tidak dengan isi kepala Darren. Ia merasakan sesuatu yang entah, setelah mendengar jika Thalita putri dari seorang pengusaha dan sudah dijodohkan pula. Namun, ia meyakinkan hatinya jika tidak ada yang tidak mungkin.

"Kakak hebat, ya, masih muda tapi sudah lulus S3. Cumlaude pula," puji Thalita.

Darren tersenyum. "Kebetulan."

"Iya, kebetulan Tuhan memberi otak Kakak yang sangat cerdas. Dari sekolah dasar sudah masuk kelas akselerasi dan mendapat beasiswa juga. Amazing! Pasti mama dan papa Kakak sangat bangga."

Darren berhenti menyuap. Helaan napasnya begitu jelas terdengar oleh Thalita.

"A-aku salah ngomong, ya? Ma-"

"Tidak. Ibu memang selalu bilang bangga sama Kakak," jawab Darren memotong ucapan Thalita sambil mengaduk makanan yang ada di mangkuk. "Dan untuk ayah ... ah, sudahlah, tidak usah dibahas," lanjutnya.

Melihat mimik wajah Darren, Thalita tidak berani bertanya. Dirinya sangat yakin jika sang kekasih tidak ingin disinggung perkara keluarga.

"Ya, udah, kita habiskan makanannya, Kak. Sepertinya enak semua. Kakak mau coba punyaku?" Thalita mencoba mengalihkan perhatian Darren. Tangannya terulur memegang sendok tepat di depan mulut Darren.

Darren tersenyum dan menerima suapan. Perlakuan manis seperti itu sering mereka lakukan. Bukan untuk sekadar kata romantis saja, melainkan menghibur pasangan disaat salah satu dari mereka dilanda sedih ataupun bad mood. Kedekatan selama satu tahun, rupanya membuat mereka cukup mengenal sifat, kebiasaan, bahkan segala sesuatu yang disukai dan tidak.

Jam yang melingkar di pergelangan Darren sudah menunjuk pada angka sembilan. Gegas ia mengajak Thalita pulang, tepatnya ke asrama kampus.

Bab 2

Hangat sinar mentari pagi berhasil masuk ke dalam kamar tatkala jendela terbuka lebar. Tangan kanan menggeliat seiring dengan tangan kiri yang menutup mulut karena menguap. Dialah Darren. Sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya ketika bangun tidur, berdiri tepat di balik jendela kaca sambil menatap lalu-lalang kendaraan.

Tok tok tok!

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.

"Sebentar!" seru Darren sambil melangkah untuk membuka.

"Eh, pagi, Bang?" sapanya. "Tumben ke sini, ada apa?"

"Boleh bicara sebentar?" Dialah Reyhan --seorang dokter sekaligus pemilik bengkel.

Darren mengangguk dan mengikuti langkah Reyhan. Mereka duduk di sofa saling berhadapan.

"Sepertinya serius. Ada apa?" tanya Darren lagi.

Reyhan mengatakan jika dirinya akan pindah ke Indonesia. Ayahnya meminta agar Reyhan memegang rumah sakit milik keluarga.

"Lalu, siapa yang megang bengkel ini, Bang?"

Sesungguhnya Reyhan menginginkan Darren yang mengambil kendali. Selain jujur, kinerja Darren patut diacungi jempol walau skill Darren didapat secara otodidak.

"Nanti keponakanku datang. Dan ini gaji plus bonus dariku," ucap Reyhan sambil memberikan amplop berwarna putih.

Darren melihat apa yang ada di dalam amplop karena memang tidak disegel.

"I-ini ... gak salah, Bang?" Mata Darren terbelalak melihat banyaknya lembaran uang.

Reyhan tersenyum, kemudian menepuk pundak Darren. "Itu hakmu. Kinerjamu sangat bagus. Setiap hari bengkel ini tidak sepi bahkan melebihi target."

Bagaimana tidak? Customer yang datang ke bengkel itu rata-rata mahasiswi yang sekadar ingin melihat Darren dengan alasan motor atau mobil mereka butuh servis. Ketampanan Darren memang menyedot perhatian.

Darren terkekeh-kekeh. "Kebanyakan yang mau diservis hatinya, Bang."

Pria berbeda usia tiga tahun itu pun tertawa. Tidak membuang waktu lama, Reyhan berpamitan. Saling memeluk menjadi tanda perpisahan mereka. Pun kata terima kasih atas kebaikan Reyhan terucap dari mulut Darren. Sejak kedatangannya ke Amerika, Reyhan menampung Darren dan menjadikannya sebagai karyawan. Tidak hanya itu, Reyhan menganggap Darren sebagai adiknya.

Selepas kepergian Reyhan, Darren termangu memandangi amplop. Tanpa ia ketahui, Thalita tengah menatap. Gadis itu berdiri di bibir pintu setelah saling sapa dengan Reyhan di pintu gerbang.

"Apa yang terjadi?"

Darren melihat ke arah suara. "Eh, Sayang. Sini, masuk."

Thalita tersenyum dan masuk, lalu duduk tepat di samping Darren.

"Bang Rey sepertinya mau pergi jauh. Aku liat tadi bawa koper," kata Thalita.

"Bang Rey mau ke Indonesia," ucap Darren.

Darren menceritakan apa yang sudah Reyhan katakan kepadanya termasuk uang yang Reyhan beri.

"Waah, semoga nanti kita bisa bertemu lagi sama Bang Rey," kata Thalita.

Darren mengangguk. "Ya, semoga."

Pun Darren mengatakan jika ia bingung dengan uang yang ada di dalam amplop akan digunakan untuk apa, membuat Thalita menepuk kening.

"Astaga, Kakak Sayang ... gunakan uang itu ongkos pulang atau shoping. Terserah Kakak."

Darren tersenyum malu. "Maklum, Kakak belum pernah memegang uang sebanyak ini. Apalagi ini dalam bentuk dollar. Dan untuk masalah pulang, sebetulnya tabungan Kakak sudah cukup."

Thalita mengernyit. "Lah, lalu?"

"Uang Kakak sudah terkumpul sekitar enam bulan yang lalu. Tapi, Kakak nunggu kamu biar kita pulang bareng. Kalo Kakak pulang lebih dulu, siapa nanti yang jagain kamu di sini? Dan ..."

"Dan apa?"

Darren menggenggam tangan Thalita. "Takut ada bule yang godain kamu."

Thalita terkekeh-kekeh. "Waw, terima kasih atas perhatiannya. Tapi, kasian ibunya Kakak. Kalian sudah lama tidak bertemu. Pulanglah, toh acara wisudaku minggu depan."

Memang, Darren sudah berbohong kepada Rossi, tetapi pria itu yakin jika Rossi akan mengerti dengan alasan yang ia berikan nanti dan tentu saja Darren ingin menghadiri acara wisuda sang kekasih. Jika ia pulang terlebih dahulu, tidak mungkin baginya kembali ke Amerika sekadar untuk menghadiri wisuda saja. Lagi, terhalang ongkos.

Ponsel milik thalita berbunyi. Gegas ia merogoh benda pipih itu di dalam tas. Thalita memandang Darren saat tahu siapa yang menghubunginya.

"Siapa?"

"Ba-Bagas, Kak," jawab Thalita gugup karena merasa tidak enak hati kepada Darren.

Darren tersenyum, lalu berkata, "Angkat saja."

Thalita mengangguk, lalu menerima panggilan. "Halo," sapanya.

Darren memberi isyarat jika Thalita harus menyalakan pengeras suara. Wanita itu pun mengikuti perintah Darren.

"Halo, Sayang. Apa kabar?" tanya Bagas.

"Ba-baik. A-ada apa?"

Bukannya menjawab, Bagas balik bertanya. "Kamu gak lagi sakit, kan?"

Thalita menatap Darren dan menarik napas dalam. "Enggak. Kenapa emangnya?"

Bagas mengatakan jika suara Thalita bergetar dan terbata. Namun, Bagas segera mengalihkan pembicaraan.

"Aku ditugaskan papamu untuk menghadiri acara wisudamu, Sayang. Kau senang, kan?"

Thalita menepuk kening. "Memangnya papa ke mana?"

"Ada rapat penting sama papi. Mungkin mamamu yang akan ikut."

Mau tidak mau Thalita menjawab senang, walau kenyataannya kehadiran Bagas tidak diharapkan.

"Sampai ketemu nanti, Sayang. Love you," ucap Bagas.

"Oke!" Thalita mematikan sambungan telepon sepihak.

Ting!

Bunyi pesan singkat masuk seiring dengan Thalita menyimpan ponsel di atas meja.

"Astaga! Apalagi, sih?!" gerutunya.

Rupanya Abimanyu --ayah Thalita, yang mengirim pesan. Permintaan maaf tertulis di sana. pun ia menyarankan agar sang putri kembali ke tanah air setelah acara wisuda selesai saja karena Bagas akan menggunakan pesawat jet milik Sadewo --ayah Bagas. Pesan balasan pun Thalita kirim. Ia menyetujui saran Abimanyu.

Melihat mimik Thalita yang berubah-ubah, membuat Darren bertanya.

"Ada apa? Tadi cemberut setelah menerima panggilan dan sekarang senyum-senyum."

Thalita terkekeh-kekeh. "Intinya kita akan pulang bareng, Kak. Sana mandi!"

Darren mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian pergi untuk mandi. Thalita, dengan hati senang membuatkan Darren sarapan lengkap dengan secangkir cokelat panas. Menyediakan sarapan serta menikmatinya bersama sudah Thalita lakukan sejak mereka menjalin hubungan. Thalita akan berada di sana sampai bengkel beroperasi setelah itu ia akan pergi kuliah. Namun, tidak semenjak kuliahnya selesai. Thalita akan menemani Darren sampai bengkel tutup.

***

Hari yang ditunggu tiba. Hari dimana perayaan atau pelantikan kelulusan mahasiswa perguruan tinggi sudah di depan mata.

"Cantiknya putri Mama," puji Angelina --ibu Thalita, saat melihat wajah putrinya selesai dipoles oleh seorang MUA di sebuah salon.

Berbalut kebaya modern warna peach dengan rambut digerai gaya half updo ditambah dengan jepit rambut berbentuk bunga menambah penampilan Thalita semakin memesona.

"Mama juga cantik. Makasih udah mau direpotin membuat kebaya untukku, Ma."

"Sama-sama, Sayang," ucap Angelina sambil mengusap pundak sang putri. Sudah menjadi impian Angelina yang merupakan seorang designer membuatkan dress atau gaun untuk dikenakan Thalita dihari bersejarahnya.

"Di mana Bagas, Ma?"

Angelina menjawab jika Bagas masih di hotel dan akan menemui Thalita di kampus.

"Kenapa? Kangen, ya?" goda Angelina.

Thalita tersenyum kecut. "Tidak. Cuman mau nyuruh bawain koper ke mobil. Bukankah kita akan langsung pulang?"

"Urusan koper belakangan, Nak. Fokus sama acaramu saja."

Thalita mengangguk sebagai jawaban.

***

Di kampus, Darren tampak gagah dengan stelan kemeja putih dilapis jas berwarna navy. Pria tampan yang tak lain adalah alumni kampus itu tengah duduk menunggu kedatangan Thalita dekat area parkir. Tidak lama berselang, mobil hitam nan mewah terparkir tepat dihadapannya.

Darren menyipit memperhatikan siapa yang akan turun.

Brug!

Suara pintu mobil yang tertutup cukup kencang tidak membuat Darren mengalihkan pandangan.

"Kakak!"

"E-eh, ka-kamu cantik sekali." Darren terperanjat saat sebuah tangan melambai tepat di depan mata.

Thalita terkekeh-kekeh. "Ciee, yang terpesona."

Darren memalingkan muka, kemudian berdiri. Matanya mengisyaratkan tanya kepada Thalita, siapa wanita paruh baya yang ada di sampingnya.

"Oh, iya, kenalin, Kak, ini Mamaku," ucapnya kepada Darren.

"Ma, ini Kak Ge. Yang aku ceritain sama Mama tadi," lanjut Thalita kepada Angelina.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, Thalita dengan antusias menceritakan siapa Darren, kecuali mengenai hubungannya.

Saling sapa dan berjabat tangan antara Darren dan Angelina membuat Thalita senang. Namun, Angelina terpaku melihat wajah Darren.

"Tante, eh, maaf ... Nyonya baik-baik saja, kan?" tanya Darren.

Angelina tergagap sambil melepaskan jabatan. "Si-siapa nama orang tuamu?"

"Nama ibuku ad-"

"Ayok, kita masuk," ajak Thalita memotong ucapan Darren ketika mendengar seorang pembawa acara mengatakan bahwa acara akan segera dimulai.

Darren menyetujui, sedangkan Angelina mempertanyakan keberadaan Bagas yang tentu saja Thalita tidak mengetahui.

"Ah, biarkan saja, Ma. Kalaupun dia niat mau menghadiri acara ini, seharusnya datang bersama kita," kata Thalita, kemudian melangkah pergi sambil menarik tangan Darren.

Angelina menghela napas, lalu mengikuti putrinya melangkah.

Acara dimulai. Semua mahasiswa dan para tamu yang hadir mengikuti rangkaian acara dengan khidmat. Riuh tepuk tangan menggema tatkala nama Thalita disebut sebagai salah satu mahasiswi terbaik dengan predikat cumlaude. Darren dan Angelina merasa bangga akan prestasi yang Thalita raih.

"Putriku memang cerdas. Sedari kecil, teman seusianya masuk taman kanak-kanak, tapi dia memaksa ingin masuk SD," ucap Angelina sambil menatap putrinya di panggung.

Darren yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum sekaligus bangga.

"Oh, ya, siapa nama ayahmu?"

Darren tersenyum. "Ayahku sudah tiada, Nyonya. Memangnya kenapa?"

Angelina menggeleng. "Tidak, hanya saja jika aku perhatikan ... wajahmu mirip dengan seseorang."

Darren hanya ber-oh ria saja. Pun tidak bertanya lebih lanjut.

Akhirnya acara selesai.

Angelina memeluk Thalita erat sambil memberikan selamat atas prestasi yang didapat.

Darren mengeluarkan satu tangkai bunga mawar dari saku jasnya dan ia berikan kepada Thalita. "Selamat, ya. Akhirnya kamu lulus juga."

Thalita menerima bunga mawar itu, lalu menciumnya. "Makasih, Kakak."

Darren tersenyum. "Maaf, Kakak gak bisa kasih kado apa-apa sekarang, Sayang."

Thalita dengan tegas mengatakan, jika dirinya tidak menginginkan apa pun kecuali kehadiran Darren.

"Ekhm!" Angelina mengalihkan perhatian Thalita dan Darren yang menurutnya terlihat romantis.

"Ma-maaf, Nyonya," kata Darren kepada Angelina.

"Kakak ke toilet dulu," sambungnya kepada Thalita.

***

Di toilet, Darren berdiri tepat di depan cermin sambil mengusap wajahnya kasar.

"Astaga! Kenapa mulut ini tidak bisa direm. Seenaknya saja bilang sayang di depan mamanya Thalita."

Tidak mau ambil pusing, Darren membasuh wajah, kemudian mengelapnya dengan sapu tangan dan ke luar.

Di luar, Darren dikejutkan dengan pemandangan yang menurutnya menyesakkan hati. Dadanya bergemuruh. Ingin rasanya ia marah, tetapi dirinya sadar posisinya saat itu, yakni perebut pacar orang. Bukan salah cinta, tetapi salah dirinya yang sedari awal bertemu tidak menanyakan status.

Menarik napas dalam dan mengeluarkannya kasar. Darren melangkah melewati dua sejoli yang mungkin sedang dilanda rindu, menurutnya.

"Maaf, sebaiknya kalian lakukan di tempat lain saja. Di sini menghalangi jalan," ucap Darren ketus.

Ya, mereka adalah Thalita dan Bagas. Darren melihat dengan jelas jika mereka tengah berciuman.

Langkah Darren semakin cepat. Samar ia mendengar jika Thalita mencaci Bagas karena tidak menerima atas perlakuannya.

"Kakak, tunggu!" seru Thalita, tetapi Darren tidak memedulikan. Pun Bagas menahan Thalita untuk pergi.

***

Darren sudah kembali ke bengkel. Tentu saja setelah berpamitan kepada Angelina.

Duduk di tepi ranjang sambil menatap foto Thalita dalam ponsel.

"Apa ini rasa cemburu?" gumamnya. "Ya, aku cemburu kepada jodoh orang," lanjutnya, lalu melempar ponsel ke kasur.

Ting!

Ponsel berbunyi pertanda pesan singkat masuk. Darren kembali meraih ponselnya.

"Kakak, please ... jangan berfikir yang macem-macem. Tunggu aku di bengkel. Jangan ke mana-mana!" isi pesan dari Thalita.

Darren tersenyum masam, kemudian memilih mengepak pakaiannya. Ia berencana akan kembali ke tanah air esok lusa.

Satu jam berselang, terdengar suara ketukan pintu. Gegas Darren membuka. Ia mencoba tersenyum saat melihat Thalita di balik pintu.

"Kakak marah?" tanya Thalita.

"Tidak."

"Tapi, kenapa tadi aku panggil malah pergi begitu saja?"

Darren menghela napas. "Mana mungkin Kakak mengganggu dua sejoli yang sedang ..."

"Cukup!" seru Thalita.

Di saat mereka berdebat, Bagas menghampiri. Ia menarik tangan Thalita agar segera naik ke mobil. Sangat jelas terpancar dari sorot matanya pria itu tidak suka kepada Darren.

"Ayok, Mamamu menunggu," kata Bagas.

Thalita mengajak Darren untuk pulang ke tanah air, tetapi Bagas melarang.

"Apa-apaan kamu? Enak saja mengajak laki-laki lain pulang bersama kita," ketus Bagas.

Thalita menarik tangan yang digenggam Bagas. "Kakak Ge ikut dan aku pun pulang! Atau tidak sama sekali! Pilih saja yang mana?!"

Bagas geram. Ia mengatakan tidak suka jika Thalita dekat dengan laki-laki lain.

Darren meminta Thalita untuk pulang terlebih dahulu tetapi Thalita bersikeras ingin pulang bersamanya. Akhirnya, setelah perdebatan panjang, Bagas mengalah. Namun, selama di perjalanan, Darren harus bisa menahan cemburu. Melihat gelagat Bagas yang genit tentu saja tidak akan membiarkan Thalita jauh darinya, pikir Darren.

Bab 3

Keputusan sudah bulat. Darren akan kembali ke tanah air bersama Thalita. Dua koper besar siap masuk bagasi mobil, tetapi Darren terus menatap ke arah bengkel. Tempat itulah yang mempertemukannya dengan Thalita. Saat itu Thalita datang mengantar temannya untuk memperbaiki motor. Diamnya Thalita justru menarik perhatian Darren daripada temannya yang terkesan ganjen, menurutnya. Modus teman Thalita yang datang setiap hari dengan dalih motor atau mobilnya yang rusak justru menumbuhkan benih-benih cinta antara Darren dan Thalita. Kisah cinta pun terjalin. Namun, kisah itu akan berakhir di tempat yang sama pula, pikir Darren.

"Mau ke mana?" tanya Bagas saat melihat Thalita membuka pintu mobil.

"Ck! Mau samperin Kak Ge!"

Suara sepatu yang beradu dengan lantai memecah lamunan Darren.

"Kak, ada apa?" tanya Thalita.

Darren menoleh, lalu mengembuskan napas kasar. "Tempat ini menjadi kenangan terindah sekaligus memilukan buat Kakak."

Thalita mengernyit. "Maksudnya?"

Darren tersenyum, kemudian berkata, "Ah, tidak penting, kok. Maaf, menunggu lama. Yuk, berangkat."

"Bang, aku pulang. Maaf, gak sempet beres-beres," pamit Darren kepada keponakan Reyhan.

"Oke, gak masalah. Hati-hati di jalan."

Darren menuju mobil meninggalkan Thalita yang tengah terpaku menatapnya. Penyataan Darren rupanya membuat tanya dalam benak Thalita.

"Maaf, Tuan, Nyonya, lama menunggu," kata Darren ketika duduk di kursi depan.

Bagas berdecih, sedangkan Angelina tersenyum ramah.

Melihat Thalita bergeming, Darren memberikan isyarat agar Thalita segera menaiki mobil. Gadis itu pun mengangguk dan mengikuti perintah.

Mobil pun melesat menuju bandara.

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya pesawat milik Sadewo berhasil mendarat di tanah air. Di bandara, para pengawal Sadewo dan mobil mewah milik Bagas siap membawa mereka pulang. Akan tetapi, lain halnya dengan Darren. Bagas sungguh tidak mengizinkan jika Darren menaiki mobilnya.

Sikap Bagas sungguh Thalita tidak menyukai. Ia menghubungi sopir pribadinya agar segera menjemput.

"Sayang, biar aku antar saja," kata Bagas.

Thalita berdecih. "Maaf, lebih baik aku menunggu sopir atau naik taksi saja daripada pulang dengan orang sombong seperti Anda, Tuan!"

Bagas tidak memedulikan ocehan Thalita. "Sudah dini hari. Udara pun tidak bersahabat. Naiklah!"

Angelina yang tahu betul sifat Thalita, tentu saja memberi penjelasan kepada Bagas agar membiarkan mereka pulang dengan sopir keluarga Abimanyu saja.

Thalita tersenyum penuh kemenangan dan Bagas pun pergi setelah berpamitan kepada Angelina.

Darren hanya bisa menatap kepergian Bagas. Antara tidak enak hati dan senang, itu yang ada di benaknya.

"Maaf, Nyonya, semuanya jadi kacau gar--"

"Dengan perginya dia, justru aku senang, Kak," ungkap Thalita memotong ucapan Darren.

Angelina menatap Thalita. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang meminta penjelasan kepada putrinya itu. Namun, Thalita hanya mengangkat kedua bahunya pertanda acuh.

Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya mobil milik keluarga Abimanyu tiba.

"Ayok, Kak. Biar sopir yang antar sampe rumah Kakak," ajak Thalita.

"Terima kasih. Kakak naik taksi saja. Tuh, kebetulan melaju ke arah sini."

"Tapi, Kak--"

"Maaf, Kakak pulang, ya," pamit Darren. "Permisi, Nyonya," lanjutnya kepada Angelina.

Thalita menatap kepergian Darren sampai taksi itu tidak terlihat lagi dari pandangannya.

***

Tepat pukul enam pagi, Darren tiba di kampung halaman. Kepulangannya sengaja tidak ia beritahukan terlebih dahulu kepada Rossi.

Tok tok tok!

Darren mengetuk pintu, kemudian berbalik membelakangi agar menjadi kejutan, pikirnya.

Tidak berselang lama, terdengar pintu terbuka.

"Maaf, mencari siapa, ya?"

Hening. Darren bergeming.

Rossi, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mendekati Darren dan ...

"Kejutan!" seru Darren, sambil berbalik.

Tidak percaya sekaligus senang, itu yang Rossi rasakan. Matanya berkaca sampai akhirnya bulir bening berhasil menetes.

"Ya, Tuhan, Ge!" Rossi memeluk putra semata wayangnya erat.

Rossi menuntun putranya untuk masuk dan menyuruhnya istirahat, sedangkan dirinya pergi ke dapur untuk membuat menu sarapan kesukaan Darren.

Sarapan sudah terhidang.

"Ibu tadinya mau ke mana sudah rapi?"

"Mau ke rumah pak RT, Nak. Beliau meminta Ibu untuk menjaga toko kelontong miliknya," jawab Rossi sambil menuangkan nasi di atas piring.

Darren menghela napas. "Mulai hari ini, Ibu tidak usah bekerja lagi. Titik!"

Rossi hanya pasrah dan akan mengabulkan keinginan Darren. Kembalinya Darren membuat suasana sarapan pagi itu menjadi hangat. Mereka menikmati kebersamaan dengan menceritakan keseharian Darren di luar negeri, pun dengan Rossi di rumah. Tangis bahagia dan tawa menghiasi perbincangan mereka.

"Pacarmu orang Indonesia juga?"

"Iya, Bu," jawab Darren, kemudian menceritakan siapa Thalita.

Darren melihat ekspresi Rossi yang tidak senang. "Ibu keberatan?"

Rossi membuang napas kasar dan menjawab, "Kalo bisa, lebih baik kamu pacaran atau bahkan nanti menikah dengan orang biasa-biasa saja, Nak."

"Kenapa memangnya?"

Rossi menghentikan suapannya. "Kita harus sadar diri. Ibu tidak mau siapapun menghinamu. Mengerti, kan, maksud Ibu? Terus, biasanya orang kaya itu sudah dijodohkan dengan keluarga orang kaya lagi, Ge."

Darren mengangguk sebagai jawaban. Apa yang dikatakan Rossi ia benarkan karena faktanya memang demikian.

"Tapi, kalo ternyata jodoh Ge dengan anak orang kaya, gimana, tuh?"

Rossi menyipit. "Apa jangan-jangan pacarmu itu sudah dijodohkan juga?"

"Tentu saja tidak, Bu," kilah Darren.

Rossi tersenyum. "Kalo soal jodoh, ya, itu lain cerita, Ge. Siapapun nanti jodohmu, Ibu do'akan agar kamu bahagia."

Keduanya tersenyum dan kembali menikmati sarapan. Setelah usai, Darren memilih beristirahat kembali di kamar.

***

Di kediaman Abimanyu, Thalita tengah menikmati sarapan. Gadis itu sungguh merindukan masakan rumahan sampai-sampai melahapnya rakus.

"Pelan-pelan, Sayang."

"Eh, Papa. Makan, Pa," kata Thalita dengan mulut penuh dengan nasi.

Abimanyu mengusap pucuk kepala sang putri. "Iya. Sekali lagi, maaf, ya, Papa gak bisa hadir di acara wisudamu."

Thalita hanya mengangkat ibu jari sebagai jawaban sampai akhirnya ritual sarapan selesai ia jalankan.

"Kapan siap masuk kantor?" tanya Abimanyu.

Mendengar pertanyaan Abimanyu, Thalita teringat kepada Darren. Kekasihnya itu pastilah membutuhkan pekerjaan.

"Aku akan masuk kantor Papa, tapi dengan satu syarat."

"Syarat? Apa itu?"

Thalita menjawab jika Abimanyu harus menerima Darren dan menempatkannya di bagian yang menjanjikan, tentunya sesuai dengan pendidikan Darren

"Siapa Darren?" tanya Abimanyu memastikan.

"Dia ad--"

"Besok lusa suruh temanmu itu ke kantor. Kebetulan aku butuh staf."

Thalita menoleh, melihat siapa yang memotong ucapannya. Siapa lagi kalau bukan Bagas.

"Tidak! Aku mau dia bekerja di kantor Papa!" cetus Thalita, sambil memalingkan muka.

Bagas menatap Abimanyu. Ia menggeleng pertanda Abimanyu harus menolak permintaan Thalita. Bagas sangat yakin jika Darren dan Thalita berada dalam satu kantor, maka hubungannya akan kacau.

"Begini, Sayang. Di kantor Papa tidak ada lowongan untuk posisi yang kamu inginkan. Ada juga OB, mau?"

Thalita mendengkus, lalu menggeleng. Perhatiannya kembali kepada Bagas.

"Ngapain pagi-pagi ke sini?"

Bagas menjawab ingin memastikan jika Thalita dan Angelina sampai rumah dengan selamat.

"Lebay!" cetus Thalita, lalu berpamitan untuk beristirahat.

***

Hawa panas berhasil membangunkan Darren dari tidur. Maklum, kamarnya sempit dan tidak ber-AC, tetapi nyaman untuk ditinggali. Pria berkulit putih itu beranjak dan membuka lebar daun jendela. Tangannya merogoh ponsel yang ia simpan di saku celana.

"Astaga! Banyak sekali pesan masuk," gumamnya.

Thalita, siapa lagi kalau bukan dirinya yang mengirim pesan, karena tidak ada lagi nomor ponsel wanita selain ibunya.

Ponsel berbunyi.

"Hal--"

"Kakak! Kemana aja, sih? Telepon gak diangkat, pesan gak dibales. Kakak udah bosan sama aku? Kakak udah gak sayang lagi sama aku? Aku cemas, Kak. Kakak udah sampe rumah belom? Sekarang di mana? Halo!!

Darren tersenyum. Mendengar Thalita bicara panjang lebar tanpa koma, ternyata pria itu menyimpan ponselnya di atas meja.

"Iya, halo. Udah ngomongnya?" tanya Darren, saat ponselnya kembali dalam genggaman.

"Kakak udah di rumah. Maaf, Kakak ketiduran dan HP kakak silent," lanjut Darren.

Thalita merasa bersyukur karena Darren dalam keadaan baik-baik saja walaupun tadi ia sempat merasa kesal setengah mati. Thalita memberi tahu mengenai pekerjaan yang Bagas tawarkan.

"Maaf, untuk sekarang di kantor papaku belum ada lowongan. Padahal, kalau ada kita bisa terus bareng, Kak."

Darren terdiam. Sejujurnya, memanglah ia butuh pekerjaan. Akan tetapi, untuk saat itu dirinya ingin menghabiskan waktu dengan Rossi. Memang, niat dan tekad Darren sedari awal menerima beasiswa ke luar negeri adalah untuk mengadu nasib setelahnya. Ya, ia berharap dengan mengenyam pendidikan tinggi, dirinya akan mendapatkan pekerjaan layak dan dapat mengangkat perekonomian keluarga.

"Kak, kok, diem? Gimana?"

"Maaf, akan Kakak pikirkan dulu."

Thalita mendesak agar Darren menerima tawaran itu. Selagi ada kesempatan, katanya.

"Kak, sebenarnya aku juga tidak mau Kakak bekerja di sana, tapi ..."

"Kenapa?"

Thalita menjawab jika dirinya ingin meminta bantuan Darren untuk mengawasi Bagas. Ia perlu bukti jika Bagas memanglah bermain perempuan, tepatnya dengan sang sekretaris. Desas-desus Bagas memang sudah lama Thalita dengar bahkan ia melihat sendiri Bagas sering pergi dengan banyak wanita, hanya saja Bagas selalu mengelak.

"Aku akan sering ke kantor Bagas, kok. Papa meminta agar aku belajar bisnis kepadanya."

Pekerjaan yang akan menguras emosi, pikir Darren. Bagaimana tidak? Ia akan bergelut dengan rasa cemburu. Rasa kesal dan cemburu kemarin saja belum sepenuhnya hilang.

"Please, Kak. Bantu aku terlepas dari Bagas. Aku ingin papa membuka matanya lebar-lebar kalau Bagas adalah cowok brengsek!"

"Oke, nanti Kakak kabari."

Panggilan telepon pun mereka sudahi. Darren bergegas menemui Rossi.

"Bu, di--"

Darren terpaku melihat Rossi yang sedang berkutat dengan adonan kue sambil sibuk menerima panggilan telepon.

"Iya, Bu, siap. Nanti saya antar."

Menuang adonan ke dalam loyang, mengangkat kue yang sudah matang dalam oven membuat peluh menetes. Hati Darren merasa sakit saat Rossi mengusap tetesan itu.

"Eh, Nak, ke sini. Ayok, cicipi brownies buatan Ibu," titah Rossi, saat melihat Darren berdiri di bibir pintu.

Darren tersenyum, lalu menghampiri.

Rossi mengatakan, dua hari sebelum kepulangan Darren, dirinya membuat kue untuk ia jual yang sebelumnya dipromosikan kepada para tetangga. Rasanya yang enak membuat Rossi kewalahan menerima pesanan.

"Bu ..."

Rossi tersenyum. "Tidak apa-apa, Nak. Ini semua Ibu lakukan untuk kita. Jangan sampai orang lain memandang sebelah mata. Udah hidup miskin, malas kerja pula. Lebih baik kamu bantu Ibu."

Darren mengangguk. Tangannya dengan cekatan mengeluarkan kue dalam cetakan dan memasukannya kedalam dus. Di sela kesibukan, Darren mengatakan jika dirinya mendapat tawaran pekerjaan.

"Wah, di mana, Nak?"

"Lumayan jauh. Di Jakarta, Bu."

Rossi menghentikan aktivitasnya. "Ja-Jakarta? Apa di perusahaan besar?"

"Iya, sepertinya perusahaan besar, Bu. Ibu keberatan?"

Rossi menggeleng. "Semoga diterima. Kalaupun tidak, jangan berkecil hati. Masih banyak perusahaan lain yang membutuhkan tenaga dan pikiranmu."

Akhirnya Darren memutuskan untuk menerima tawaran dari Thalita. Ia berjanji akan membahagiakan Rossi. Memberikan rumah yang megah dan tidak akan membiarkan Rossi mengeluarkan setetes keringat hanya untuk sesuap nasi. Pun dirinya akan berusaha mengenyampingkan perasaannya kepada Thalita. Ia akan membantu gadis itu semampunya walaupun suatu saat nanti Bagas'lah yang akan menjadi pendamping Thalita.

"Kalian bisa pegang janjiku, wahai wanita-wanitaku. Aku akan lakukan apa pun asalkan kalian bahagia." Batin Darren.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED