Hingga sore menjelang magrib, Mas Tedy baru pulang. Di rumah warung sembako kecilku seharian sangat ramai pembeli, tetapi ia sama sekali tak ada niatan membantuku.
Parahnya lagi Mas Tedy tak menyapaku sejak pulang sampai keesokan paginya. Aku pun tak ingin menyapanya terlebih dulu. Dia yang salah, kenapa harus aku yang mengalah terus.
Pada saat makan siang Mas Tedy membuka tudung saja, terlihat ia menghela nafas setelah melihat menu.
"Bu, kamu cuma masak ini? Tadi kan habis dari pasar, kenapa enggak beli daging?" tanya Mas Tedy dengan raut wajah yang kesal.
Aku hanya menghela nafas dan menatapnya dengan malas. Memberi aku uang aja tidak, mau makan yang enak.
"Hai, Mas, kamu sadar enggak udah tiga bulan kamu enggak kasih aku uang. Harusnya kamu bersyukur aku masih bisa mencukupi kebutuhan makanmu dan kedua anak kita," jawabku dengan menahan emosi.
Biasanya jika ke pasar, aku menyetok banyak sayuran serta lauk seperti daging, tahu, dan tempe. Namun, kali ini aku hanya membeli sayuran, tahu, dan tempe.
Kulihat Mas Tedy menutup kembali tudung saji, lalu masuk ke warung mengambil satu butir telur. Ia menggoreng telur lalu ia makan dengan menambahkan saos pedas, tak lupa dia juga membuat es kopi capuccino saset.
"Enak banget Mas, makanmu. Padahal aku udah masak tumis kangkung sama goreng mendoan," decak lesalku.
"Itu untukmu dan anak-anak, enggak level makanan seperti itu," ucap Mas Tedy.
Dasar suami sombong, berpangku tangan bisanya. Mau makan enak tapi tak memberi nafkah kepada istrinya. Aku segera keluar karena ada pembeli yang datang, capek meladeni dia. Jika menuruti kemauannya untuk makanan enak, lama-lama uang akan habis untuk perputaran warung kecilku. Darimana lagi aku punya pemasukan kebutuhan anak-anak.
Dari dalam warung aku mendengar Mas Tedy menerima telpon dan aku sudah pasang telinga lebar-lebar, apalagi ia loud speaker karena tangannya untuk makan.
"Ted, masih ada enggak jagungnya yang kemarin? Kami enggak kebagian jagung, jagungnya udah habis di kasihkan ke tetangga semua. Kalau masih ada tak ambilnya lagi buat makan kita," ujar Mas Nobi, suaranya terdengar dari telepon.
"Kalau habis ya sudah lah, Mas, di rumah juga udah habis. Di kebun Mbahnya juga udah habis kemaren aku bawa semua," jawab Mas Tedy
Mas Tedy membalasnya dengan santai tetapi justru aku yang terbakar emosi mendengar penuturan kakak ipar yang tak tahu diri itu.
"Kalau jagung di kebun kita gimana?" tanya Mas Nobi kembali.
"Yang di kebun kita ya udah tua lah, Mas, bentar lagi panen mungkin tiga mingguan lagi," balas Mas Tedy.
"Oke deh, kalau ada lagi kabarin aku ya, atau kalau ada sayuran labu, kacang atau apa. Biasanya kan mertua kamu panen banyak tuh, jangan lupa minta juga yang banyak dan kabarin aku nanti biar kuambil," ucap Mas Nobi diujung telepon. Kakak ipar yang keterlaluan, kurang ajar sekali dia.
"Iya, gampang itu," jawab Mas Tedy.
Apa? Mas Tedy bilang gampang? Memangnya itu kebun siapa? Kebun Bapakku. Lebih besar juga kebun milik keluarga Mas Tedy, dasar keluarga pelit. Aku masuk ke dalam dan menghampiri suamiku.
"Mas Nobi bilang apa tadi? Dia minta jagung lagi karena enggak kebagian jagung. Itu kan salahnya sendiri, dia yang di kasih kenapa justru enggak merasakan aneh banget. Kamu sadar enggak sih, Mas, kamu tuh udah terlalu memanjakan Kakak-kakakmu membuat mereka memperlakukan kamu seenaknya tanpa mau mengerti kesulitan kita," ucapku dengan emosi.
Aku menghembuskan nafas kasar karena ini bukan pertama kalinya menasehati suamiku yang lebih memprioritaskan kedua kakaknya daripada keluarganya sendiri, padahal dia anak bungsu.
"Mas Nobi suruh kerja, jangan berpangku tangan terus, itu lahan kebun jatahnya Mbak Tasih, suruh nanami Mbak Tasih dan Mas Nobi sendiri," sambungku.
"Mereka enggak bisa bertani, Bu, lagian mereka mau modal dari mana? Buat makan aja susah," balas Mas Tedy.
Setelah meletakkan piring di wastafel Mas Tedy kembali keluar dan duduk di kursi ruang tamu.
"Orang serumah ada lima sedangkan mereka tak ada satu pun yang bekerja. Di kasih lahan dari Bapak aja enggak digarap, coba kalau digarap pasti dapat hasil. Emang kamu sendiri juga punya modal, modal kamu kan juga ambil hutang dan bayarnya setelah panen. Di dunia ini tuh enggak ada yang namanya enggak bisa, Mas, kalau kita mau berusaha." Aku mengikutinya ke ruang tamu. Tak mau dibiarkan terus-terusan seperti ini.
"Sudah lah, Bu, enggak usah bahas masalah ini terus. Aku melakukan ini karena membalas jasa Mbak Tasih, dulu waktu aku di Jakarta Mbak Tasihlah yang merawatku," jawabnya.
Mas Tedy menganggakat sebelah tangannya tanda meminta untuk tak perlu meneruskan percakapan iji. Dulu mas Tedy setelah lulus sekolah SMP ikut merantau Mbak Tasih ke Jakarta dan bekerja di sana.
Mas Nobi bekerja di sebuah pabrik pembuatan rak, dialah yang memasukkan Mas Tedy ke perusahaan pabrik rak tersebut.
Mas Nobi dan Mbak Tasih mengontrak di Jakarta dan Mas Tedy ikut. Setelah Mas Tedy menikah denganku, ia memilih keluar dari pekerjaannya dan menggarap lahan kebun dan sawah milik bapaknya.
Sudah tiga tahun Mas Nobi di PHK dan dia hanya di rumah tanpa berusaha untuk bekerja. Uang pesangon yang katanya tiga puluh juta pun mereka habiskan sia-sia, tanpa mau menggunakan untuk modal usaha.
Bapak mertuaku sudah membagikan lahan-lahannya untuk di garap ketiga anaknya. Namun, punya Mbak Tasih, Mas Tedylah yang digarap dengan bagian sepertiga karena mereka tak mau menggarap semuanya dengan alasan tak bisa bertani.
Di saat hati masih terasa dongkol, tiba-tiba datang kedua Kakak ipar bersama Mamak mertuaku.
"Ted, Arslen nangis terus dari kemarin minta dibelikan sepeda, sedangkan Masmu enggak punya uang. Mamak juga enggak punya. Kamu bisa kan pinjami uang untuk Masmu dulu?" ujar Mak Sarmi, ibu mertuaku, tanpa basa-basi.
Aku hanya diam, menunggu jawaban Mas Tedy sambil menahan napas. Di hatiku, sudah mulai muncul perasaan tidak enak.
"Aku juga enggak punya uang, Mak. Kalian tahu sendiri, kan? Panenan masih tiga minggu lagi. Nanti kalau udah panen aku pinjami deh," balas Mas Tedy santai.
"Tapi, Ted, masalahnya permintaan Arslen harus sekarang. Dia ingin merebut punya temannya terus. Kasihanlah Arslen," pinta Mas Tarji, suami Kak Tasih, dengan nada memelas.
Aku menggigit bibir, menahan kesal. Lagi-lagi mereka datang dengan permintaan yang sama, seolah kami ini ATM yang bisa diambil kapan saja.
"Mau gimana lagi, Mas. Aku juga enggak punya duit," ucap Mas Tedy sambil mengangkat bahu, tanpa sedikit pun menunjukkan kepedulian.
Tapi alih-alih berhenti, Mamak mertua kini malah beralih menatapku, memicingkan mata, dan berkata, "Lia, kamu pasti punya simpanan, kan? Kamu bisa dong pinjami dulu."
Jantungku serasa berhenti. Lagi-lagi aku yang harus menjadi sasaran. Padahal, lima tahun yang lalu Mas Tarji pernah meminjam kalung mas kawinku, hadiah dari pernikahan kami, katanya buat sunatan anaknya, Puji. Sampai sekarang kalung itu tidak pernah kembali. Dan di catatan nota harga kalung itu senilai delapan juta tiga ratus. Dia berjanji akan mengembalikan setelah dapat uang amplop, tetapi ternyata sampai sekarang uang itu belum juga balik.
"Aku enggak punya, Mak," balasku dengan tegas.
Rupanya, jawaban itu membuat wajah Mamak mertuaku berubah, mendelik tajam seakan aku adalah orang paling pelit di dunia.
"Kenapa sih kalian pada bilang enggak punya? Padahal hidup kalian serba kecukupan. Kamu enggak lihat apa Tarji harus jalan dengan satu kaki? Dia enggak bisa bekerja selincah Tedy. Jadi orang itu jangan pelit, Lia," bentak Mak Sarmi tajam.
Kata-katanya menamparku. Aku yang mati-matian bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, malah disebut pelit?
"Mak, memang kenyataannya aku enggak punya uang. Aku bisa mencukupi kebutuhan kami karena aku berusaha keras," jawabku, mencoba menahan emosi yang sudah memuncak.
Bukannya berhenti, Mamak mertuaku malah berkata tanpa ragu, "Kalau kamu enggak mau pinjami duit, ya sudah, Mamak pinjam kalungnya Kayla," ucapnya sembari matanya melirik kalung emas di leher putriku.
Aku membulatkan mata, tak percaya dengan permintaannya yang makin tak masuk akal. Saat ia mulai melangkah menghampiri Kayla, hatiku serasa mencelos, amarah bercampur dengan rasa terhina. Sejauh ini mereka akan memaksa, bahkan terhadap anakku sendiri?
---
"Gak bisa, Mak. Kenapa sih harus hari ini juga Arslen dibelikan sepeda, kalau hari ini gak bisa suatu hari nanti kan juga bisa kebeli sepeda. Lagian Kayla juga gak punya sepeda tuh," balasku.
Aku menahan geram, Mak Sarmi menghentikan langkahnya. Aku tak ingin kejadian yang kualami akan dialami putriku juga.
"Anakmu tuh tahu apa, tahunya cuma nonton tv dan masak-masakan. Beda sama Arslen yang pergaulannya luas dan mudah membaur dengan orang lain. Lagian kalung itu dibeli pakai uang anakku, jadi kamu gak berhak melarangnya. Orang yang kamu makan dan beli itu hasil berkebun Tedy dan kebun yang di garap Tedy itu punyaku," balas Mak Sarmi dengan ketus.
"Tedy, lepaskan kalungnya Kayla ya biar di jual Sutri sekarang. Kasihan tuh Arslen masih nangis terus, Mas-mu tuh gak bisa bekerja kayak kamu jadi kamu yang sehat wajib membantu," ujar Mak Sarmi. Ia berkata dengan halus kepada Mas Tedy sembari kembali duduk di sebelah Mas Tarji
Mas Teddy menatap ke arahku, aku menggelengkan kepala tanda tak mengizinkan.
Meski begitu Mas Tedy lebih mendengarkan omongan Mamaknya dari pada aku istrinya.
Mas Tedy mendekati Kayla, "Sayang, di lehermu kok ada semutnya sih. Coba Ayah ambil dulu ya."
"Masa sih, Yah, tapi aku gak merasa digigit semut," balas Kayla dengan wajah polosnya.
Mas Tedy dengan mudah melepas kalung Kayla, dia tersenyum mengusap kepala putrinya.
"Sudah Ayah ambil semutnya, Sayang," ucap Mas Tedy. Setelah itu ia berlalu ke arah Mamaknya.
"Ini, Mak." Mas Teddy menyerahkan kalung Kayla saat itu juga Mak Sarmi tersenyum senang sembari menerima kalung itu.
"Mas, kamu mikir nggak sih. Aku beli kalung itu dengan susah payah, aku ngumpulin uang buat bisa beliin Kayla kalung. Kamu kok ngambil seenaknya gitu!!" Aku sangat kecewa sekali kepada suamiku.
"Sudah, Bu, gak apa-apa. Nanti kalau panen aku kasihkan uangnya sama kamu untuk beli kalung buat kamu sama Kayla," balas Mas Tedy dengan santai.
Kedua mataku sudah berkaca-kaca, ingin sekali tangan ingin melayang pada pipi Mas Tedy yang berwarna kecoklatan itu.
"Tuh denger sendiri kamu kan, Li, jadi istri tuh jangan pelit-pelit. Ingat, kamu di sini tuh cuma numpang jadi gak usah sok ngatur Tedy." Mak Sarmi menatapku dengan tatapan tajam.
Ia segera beranjak dari duduknya dan mengajak Mas Tarji pulang. Rumah kami memang berjajar seperti kontrakan.
"Ayo, Tar, kita pulang. Ini Mamak udah dapat kalung, kamu bisa minta Sutri untuk menjualnya dan segera belikan sepeda untuk anakmu," ucap Mak Sarmi.
"Siap, Mak, Arslen pasti senang sekali," balas Mas Tarji.
Kedua orang itu telah pulang tanpa mengucapkan kata terima kasih kepada Mas Tedy. Mas Tarji terlihat sangat bersemangat dan ia berjalan terseok-seok menggunakan tongkat kayu.
"Kamu jahat sekali, Mas, aku gak nyangka kamu akan tega melakukan ini semua sama aku. Apa kamu lupa kalau Mas Tarji belum mengembalikan kalungku dan sekarang kamu berikan kalung Kayla pada mereka!!" Aku meluapkan semua emosiku.
"Tapi, Bu, dia itu Mas-ku dan dia gak bisa bekerja dengan normal. Harusnya kamu mengerti deh, jangan mengungkit-ungkit apa yang sudah kita berikan kepada mereka. Anggap saja itu sedekah, kita akan mendapat pahala. Kalau aku membiarkan mereka kekurangan itu sama saja aku berdosa sama mereka," balas Mas Tedy.
Aku yakin perdebatan ini akan semakin panas karena aku tak pernah mau mengalah.
"Kamu tahu dosa kan, Mas?? Kamu melakukan semua ini tanpa ridho dariku itu juga udah dosa besar. Percuma setiap hari kamu bersedekah tetapi anak istrimu tak di nafkahi dengan layak bahkan kamu tak mau peduli dengan kekurangan kami." Aku terus mendebatnya.
"Kamu ya, makin hari makin banyak menuntut. Harusnya kamu bersyukur karena aku gak ada pemasukan kamu masih bisa mendapat uang dari berjualan di warung sama jualan pulsa. La Mbak Sutri sama Mbak Tasih bisa dapat dari mana kalau suaminya nggak kerja, makanya aku bantu mereka semampuku. Aku semakin hari semakin muak sama kamu yang tak pernah menghargai keluargaku, kamu selalu melarang aku untuk membantu mereka."
Ucapan Mas Tedy semakin membuat hatiku sakit, aku tidak pernah melarangnya untuk membantu keluarga dia kalau masih dibatas wajar. La ini semua kebutuhan orang tua dan kakaknya dialah yang menanggung bahkan pernah aku tidak dikasih uang panen karena uangnya sudah habis di bagi-bagi.
Mas Teddy keluar dari rumah ia mengendarai sepeda motor entah mau kemana. Memang seperti itulah saat kami berdebat, bukannya mencari solusi justru Mas Tedy akan selalu menghindar dengan cara pergi main entah kemana.
*
Tiga Minggu telah berlalu, aku sudah menyiapkan bekal makan untuk di bawa Mas Tedy ke kebun. Hari ini dirinya akan panen jagung.
Biasanya aku selalu membantu mengupas jagung atau membereskan hasil panen, tapi setelah tahu uang panen terakhir hanya diberi tak seberapa, aku jadi enggan. Lebih baik aku fokus menjaga warung saja.
"Kamu beneran nggak mau bantu aku, Bu?" tanya Mas Tedy, matanya melirik ke arahku sejenak.
"Beneran lah, aku mau ke pasar belanja. Barang di warung banyak yang habis. Barang habis, duit nggak ada, ya gimana?" balasku dengan nada jengkel sambil memasang wajah cemberut.
"Ya sudah kalau nggak mau bantu," sahutnya santai.
"Nanti aku nitip lontong sayur ya, Bu. Bawain aja ke kebun pas balik dari pasar," lanjutnya sambil sibuk menata karung jagung di atas motor tuanya.
Aku menatapnya lama, menahan kesal. Sebenarnya, dia itu nggak peka atau emang nggak peduli sama aku? Udah kusindir soal duit yang mepet, eh, dia malah enak-enakan minta dibawain lontong sayur kesukaannya. Memangnya beli lontong pakai daun apa?
Aku mendesah. "Iya, kalau nggak lupa," jawabku dingin.
Mas Tedy cuma mengangguk, tak sadar betapa kesalnya aku. Motor tuanya menderu pelan saat ia berlalu, meninggalkan aku yang berdiri dengan hati yang penuh amarah dan kekecewaan.
Mungkin, sudah saatnya aku memikirkan kembali semuanya.
---