Salma tahu, lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Lima tahun adalah seribu delapan ratus dua puluh lima hari yang mereka lalui bersama Rifky, suaminya. Seribu delapan ratus dua puluh lima pagi yang dimulai dengan senyum dan kecupan di kening, seribu delapan ratus dua puluh lima malam yang diakhiri dengan pelukan hangat. Namun kini, semua angka itu terasa hampa, menguap seperti embun pagi yang tersentuh mentari. Hari ini, mentari itu adalah berita yang menghantam, mengoyak, dan membakar habis sisa-sisa harapan yang ia coba pertahankan. Rifky akan menikah lagi.
Bukan karena Rifky tak mencintainya lagi. Bukan karena Salma tak mampu memenuhi kewajibannya sebagai istri. Ini semua tentang satu kata yang menganga seperti jurang di antara mereka: keturunan. Ironis, bukan? Setelah segala perjuangan, segala obat-obatan yang pahitnya tak seberapa dibanding pahitnya harapan yang selalu pupus, setelah jarum suntik yang menembus kulitnya berulang kali, setelah doa-doa yang dipanjatkan hingga suaranya serak, takdir seolah menertawakan mereka. Rifky, yang sempat divonis memiliki masalah kesuburan, kini dinyatakan pulih. Pulih, dan siap memberikan keturunan. Tapi bukan dengannya.
Salma masih ingat dengan jelas hari itu. Hari ketika dokter menyatakan Rifky sepenuhnya sehat. Sebuah kelegaan yang seharusnya menjadi awal dari babak baru, justru menjadi penutup dari kisah mereka yang lama. Rifky pulang dengan wajah cerah, senyum yang tak pernah Salma lihat selama bertahun-tahun. Salma ikut bahagia, memeluk suaminya erat, membayangkan masa depan yang akhirnya akan lengkap dengan tangisan bayi. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan semalam. Keesokan paginya, Ibu mertua datang.
Hajah Fatma, dengan wajah yang selalu tenang namun sorot mata tajam, duduk di ruang tamu mereka. Ia tidak basa-basi. "Rifky sudah sehat, Salma," katanya dengan nada datar. Salma mengangguk, jantungnya berdebar-debar penuh harap. "Artinya, tidak ada lagi alasan untuk menunda." Salma tersenyum tipis, "Iya, Bu. Kami akan terus berusaha." Hajah Fatma menggeleng pelan, "Berusaha saja tidak cukup, Nak. Waktu terus berjalan. Rifky butuh anak. Pewaris."
Salma menelan ludah. Kata 'pewaris' selalu menjadi momok baginya. Seolah-olah nilai dirinya hanya terletak pada kemampuannya melahirkan. "Kami sudah berobat, Bu. Kata dokter, Rifky sekarang sudah normal. Tinggal menunggu waktu saja," Salma mencoba membela diri, juga membela harapan kecil yang masih bersemayam.
Hajah Fatma menghela napas panjang, tatapannya beralih pada Rifky yang duduk membisu di samping Salma. "Rifky, kamu setuju dengan Ibu, kan?" Rifky mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Di mata Rifky, Salma melihat konflik, rasa bersalah, dan juga sedikit keputusasaan yang selama ini ia coba sembunyikan. Rifky menunduk. "Iya, Bu."
Jawabannya sesingkat napas, namun cukup untuk menghentikan detak jantung Salma. "Setuju apa, Mas?" Salma bertanya, suaranya tercekat. Rifky tak menjawab, hanya menggenggam tangannya erat, seolah meminta maaf tanpa kata. Hajah Fatma melanjutkan, "Rifky akan menikah lagi. Dengan Siti Aisyah. Dia gadis baik-baik, solehah, dan yang terpenting, dia sehat dan subur. Dari keluarga yang baik-baik juga."
Dunia Salma runtuh. Benar-benar runtuh, seperti istana pasir yang dihantam ombak. Kepalanya berdengung, telinganya berdenging, dan matanya berkunang-kunang. Siti Aisyah. Nama itu asing, namun kini terukir jelas dalam memorinya sebagai simbol kehancuran. Salma menarik tangannya dari genggaman Rifky, berdiri dengan gemetar. "Mas, apa ini benar?"
Rifky akhirnya mendongak, matanya berkaca-kaca. "Maafkan aku, Salma. Ini... ini untuk Ibu. Untuk keluarga. Mereka butuh pewaris. Dan aku... aku tidak bisa mengecewakan Ibu."
"Lalu aku?" Suara Salma bergetar, lebih seperti bisikan yang nyaris tak terdengar. "Aku bagaimana? Lima tahun, Mas! Lima tahun kita berjuang bersama! Semua rasa sakit, semua harapan, semua air mata... apa itu semua tidak berarti apa-apa?"
"Berarti, Salma. Tentu saja berarti," Rifky mencoba meraih tangannya lagi, namun Salma mundur. "Tapi ini berbeda. Ini masa depan. Ini... ini amanah keluarga."
Hajah Fatma berdeham, "Salma, kamu harus berpikir jernih. Ini demi kebaikan bersama. Kamu tetap istri pertama Rifky. Kamu akan tetap mendapatkan hak-hakmu. Rifky tidak akan meninggalkanmu. Dia hanya akan... menambahkan."
Menambahkan. Kata itu terasa begitu dingin, begitu kejam. Seolah-olah Salma adalah sebuah benda, dan Rifky akan menambahkan benda lain di sampingnya. Salma menatap ibu mertuanya, lalu beralih pada Rifky yang kini terlihat begitu asing baginya. Apakah ini Rifky yang sama, yang dulu bersumpah akan mencintainya selamanya, dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit? Apakah ini Rifky yang pernah berbisik di telinganya bahwa ia tak peduli seberapa banyak anak yang mereka miliki, asalkan Salma selalu bersamanya?
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya. "Aku tidak mau, Mas. Aku tidak mau dimadu," ucapnya lirih, namun penuh penekanan. Prinsip itu telah tertanam jauh di lubuk hatinya. Sejak kecil, Salma selalu memimpikan keluarga yang utuh, cinta yang tak terbagi. Ia tidak pernah membayangkan dirinya berada dalam situasi seperti ini.
Hajah Fatma mendengus. "Jangan egois, Salma. Ini bukan hanya tentangmu. Ini tentang kelanjutan silsilah keluarga. Ini tentang memenuhi takdir Tuhan. Kalau kamu tidak bisa memberikan anak, maka kamu harus merelakan Rifky mencari dari yang lain."
"Tapi kami sudah berusaha, Bu! Berobat! Dokter bilang... dokter bilang aku tidak ada masalah! Mas Rifky juga sudah sembuh!" Salma meninggikan suaranya, rasa putus asa dan marah bercampur aduk.
"Sudah berapa lama kalian berusaha? Sudah berapa tahun? Lima tahun, Salma! Lima tahun itu bukan waktu sebentar! Apa kamu mau menunggu sampai Rifky tua, sampai dia tidak sanggup lagi? Apa kamu mau keluarga ini tidak punya pewaris?" Hajah Fatma balas meninggikan suaranya, sedikit menyinggung nada jengkel.
Rifky akhirnya mengangkat kepala, menatap Salma dengan tatapan memohon. "Salma, tolong. Pikirkan lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap bertanggung jawab padamu. Aku hanya... aku hanya ingin memiliki seorang anak."
"Kenapa harus dengan cara ini, Mas? Kenapa tidak kita coba lagi? Atau kita bisa adopsi? Ada banyak anak yang membutuhkan kasih sayang, Mas!" Salma menawarkan alternatif, sekuat tenaga mencari celah.
Rifky menggeleng. "Ibu tidak setuju dengan adopsi. Beliau ingin keturunan darah daging sendiri. Lagipula, Ibu sudah memilihkan Aisyah. Pernikahannya akan dilaksanakan tiga bulan lagi."
Tiga bulan. Hanya tiga bulan. Waktu yang terasa begitu singkat untuk Salma menata hatinya, namun begitu panjang untuk membayangkan neraka yang akan ia alami. Hati Salma mencelos. Jadi, ini bukan sekadar tawaran atau permintaan. Ini adalah keputusan yang telah bulat, yang telah disetujui, dan yang kini dihadapkan padanya sebagai sebuah ultimatum. Menerima, atau pergi.
Air mata Salma semakin deras. Ia menatap Rifky, mencari setitik harapan, setitik penyesalan yang lebih dalam, tapi yang ia temukan hanyalah kelelahan dan pasrah. Rifky memang mencintainya, Salma tahu itu. Tapi cinta itu kini terasa begitu rapuh di hadapan tuntutan keluarga dan keinginan untuk memiliki keturunan. Salma tiba-tiba merasa sangat kecil, sangat tak berdaya. Ia telah berjuang. Ia telah memberikan segalanya. Tapi seolah-olah, 'segalanya' itu tidak cukup.
Salma berbalik, berjalan gontai menuju kamar tidur mereka. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya terbebani timah. Punggungnya tegap, mencoba menyembunyikan kerapuhan yang merajalela di dalam. Ia mendengar suara Rifky memanggil namanya, namun ia tidak berhenti. Ia hanya ingin menghilang, ingin tenggelam dalam kesendirian, jauh dari tatapan penuh belas kasihan Hajah Fatma dan wajah bersalah Rifky.
Di dalam kamar, Salma mengunci pintu. Ia menjatuhkan diri ke lantai, memeluk lutut, dan membiarkan isakan pilu membanjiri ruangan. Ia tidak peduli jika Rifky atau Hajah Fatma mendengarnya. Ia hanya ingin meluapkan semua rasa sakit, semua amarah, semua kekecewaan yang kini menguasai dirinya.
Selama lima tahun ini, Salma selalu berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia mengurus rumah dengan baik, selalu mendukung karier Rifky, dan selalu ada di sampingnya dalam suka dan duka. Ketika mereka divonis memiliki masalah kesuburan, Salma adalah yang pertama mencari informasi, mencari dokter terbaik, mencoba segala macam pengobatan. Ia bahkan rela mengubah pola makannya, menjalani terapi yang tidak nyaman, semua demi satu tujuan: memiliki anak dengan Rifky. Ia tidak pernah berpikir untuk menyerah. Ia tidak pernah berpikir untuk mencari jalan pintas. Ia percaya pada proses, pada takdir, dan pada kekuatan cinta mereka.
Tapi sekarang, semua itu terasa sia-sia. Semua pengorbanan itu terasa tak dihargai. Seolah-olah, semua usahanya hanyalah angin lalu, tidak cukup kuat untuk membendung badai yang kini menerpa rumah tangganya. Hati Salma terasa hancur berkeping-keping. Rasa sakit itu begitu nyata, menusuk hingga ke ulu hati.
Ia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Siti Aisyah. Siapa dia? Bagaimana rupanya? Apa yang dia miliki yang tidak Salma miliki, selain rahim yang subur? Sebuah pertanyaan kejam yang terus-menerus muncul, menggerogoti harga dirinya. Salma selalu bangga dengan dirinya. Ia adalah wanita mandiri, berpendidikan, dan memiliki karier yang cukup menjanjikan sebelum ia memutuskan untuk lebih fokus pada rumah tangga. Ia tidak pernah merasa kurang. Sampai hari ini. Sampai ia merasa bahwa dirinya kini hanyalah cangkang kosong, tak berguna karena tidak bisa memenuhi ekspektasi utama sebuah pernikahan dalam pandangan banyak orang: melahirkan keturunan.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan pahitnya. "Salma... buka pintunya, sayang..." Suara Rifky terdengar parau dari balik pintu.
Salma tidak menjawab. Ia hanya terus menangis dalam diam.
"Salma, kumohon... kita bicara baik-baik."
Bicara baik-baik? Bagaimana bisa bicara baik-baik ketika hatinya sedang diremukkan seperti ini? Bagaimana bisa bicara baik-baik ketika ia baru saja diberitahu bahwa suaminya akan berbagi ranjang dengan wanita lain?
"Salma..." Suara Rifky terdengar lebih dekat, seolah ia menyandarkan keningnya di pintu. "Aku tahu ini berat. Aku tahu kamu marah. Tapi tolong... jangan seperti ini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Salma. Percayalah."
Salma mendengus. Janji itu terdengar begitu hampa sekarang. Bagaimana mungkin ia percaya pada janji itu, ketika janji untuk setia dan mencintainya seorang telah terkoyak? Poligami, bagi Salma, adalah bentuk pengkhianatan. Sebuah pengkhianatan yang dilegalkan, mungkin, tapi tetap saja pengkhianatan terhadap hati dan perasaannya.
Ia teringat kata-kata ibunya dulu, sebelum menikah. "Nak, pernikahan itu bukan cuma tentang cinta. Tapi juga tentang komitmen, kesetiaan, dan kemampuan untuk menghadapi badai bersama. Kamu harus kuat, Nak." Salma dulu mengira ia sudah cukup kuat. Tapi ternyata, badai ini terlalu besar. Badai ini mengancam untuk menenggelamkan seluruh kapalnya.
Beberapa saat kemudian, ketukan di pintu berhenti. Salma mendengar langkah kaki Rifky menjauh. Mungkin ia menyerah. Mungkin ia pergi. Atau mungkin ia pergi untuk melaporkan pada ibunya bahwa Salma masih keras kepala. Pikiran-pikiran negatif berpacu di benaknya, menambah beban yang sudah tak tertahankan.
Salma bangkit perlahan, berjalan ke jendela. Malam telah tiba. Bintang-bintang berserakan di langit Jakarta yang mendung. Lampu-lampu kota berkelip, seolah menertawakan kegelapan dalam hatinya. Ia melihat ke bawah, ke jalanan yang ramai. Orang-orang berlalu lalang, sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tak ada yang tahu, di balik jendela ini, ada seorang wanita yang hatinya sedang hancur lebur.
Apakah ia harus menerima ini? Haruskah ia mengkhianati prinsipnya sendiri demi mempertahankan sebuah rumah tangga yang kini terasa seperti kerangkeng? Apakah kebahagiaannya akan ada jika ia harus berbagi suami, berbagi cinta, berbagi semua yang pernah ia anggap miliknya sendiri? Salma merasa mual membayangkannya.
Ataukah ia harus melepaskan? Meminta cerai? Memulai hidup baru, sendiri, tanpa Rifky? Gagasan itu sama menakutkannya. Lima tahun. Lima tahun ia telah menaruh semua harapannya pada pernikahan ini, pada Rifky. Ia telah membangun hidupnya di sekeliling pria itu. Bagaimana ia bisa membongkarnya, meruntuhkannya, dan membangunnya kembali dari nol, sendirian? Rasa sakit perpisahan, rasa malu karena 'gagal' mempertahankan rumah tangga, pandangan masyarakat... semua itu terasa seperti tembok besar yang menghalanginya.
Tapi, bisakah ia hidup dalam bayang-bayang istri kedua? Bisakah ia melihat Rifky membagi kasih sayangnya, membagi perhatiannya, membagi waktunya dengan wanita lain? Bisakah ia tidur di ranjang yang sama, sementara ia tahu suaminya baru saja bersama wanita lain? Pertanyaan-pertanyaan itu menusuknya, memuntahkan rasa jijik dan penolangan yang kuat. Tidak. Hatinya menjerit, tidak akan bisa.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ia membuka galeri foto. Foto-foto pernikahan mereka, foto-foto liburan, foto-foto konyol mereka berdua. Senyum Rifky yang tulus, pelukan erat yang menenangkan. Semua kenangan indah itu kini terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa takdir seolah mempermainkannya?
Salma ingin berteriak. Ingin membanting semua yang ada di ruangan ini. Tapi ia hanya bisa menangis. Isakannya kini tak lagi tertahan, memilukan, memenuhi keheningan kamar. Ia meremas ponselnya, jari-jarinya memutih.
Malam itu, Salma tidak tidur. Ia menghabiskan malamnya dengan merenung, menimbang, dan mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang tak ada habisnya. Haruskah ia mengorbankan harga dirinya demi bertahan? Atau haruskah ia berani melangkah pergi, meski itu berarti menghadapi ketidakpastian yang mengerikan?
Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, seolah menjadi lagu pengantar tidur yang tak pernah berakhir.
"Akankah Salma menerima untuk dipoligami? Atau Salma meminta bercerai karena prinsip Salma tidak mau dimadu?"
Malam itu, di antara gugusan lara yang memenuhi pelupuk matanya, Salma tahu, keputusan besar ada di tangannya. Sebuah keputusan yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Dan ia sama sekali tidak tahu, apakah ia memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan yang benar.
Pagi menyapa Salma dengan semburat jingga di ufuk timur, namun hatinya tetap kelabu. Kepalanya terasa berat, matanya bengkak dan perih akibat semalaman menangis. Ia bangkit dari lantai, tubuhnya terasa kaku dan sendi-sendinya nyeri. Gorden kamar masih tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang mencoba menembus. Salma tidak ingin cahaya itu. Ia ingin kegelapan, agar bisa menyembunyikan kekacauan yang terjadi di dalam dirinya.
Ia melangkah gontai ke kamar mandi. Cermin memantulkan bayangan dirinya yang mengerikan: rambut kusut, wajah pucat, mata sembab dengan lingkaran hitam pekat. Ini bukan Salma yang dikenalnya. Salma yang dulu selalu ceria, penuh semangat, dan tak pernah ragu menghadapi masalah. Kini, ia melihat seorang wanita yang rapuh, hancur, dan kehilangan arah.
Di bawah guyuran air dingin dari shower, Salma membiarkan air mata kembali mengalir, bercampur dengan tetesan air yang membasahi tubuhnya. Ia mencengkeram kepalanya, berharap bisa menghapus semua yang terjadi semalam, seolah itu hanya mimpi buruk. Tapi kenyataan begitu kejam. Suara Hajah Fatma yang datar, tatapan bersalah Rifky, dan nama Siti Aisyah terngiang-ngiang di telinganya, menari-nari dalam pikiran.
Setelah membersihkan diri, Salma mengenakan pakaian longgar. Ia tak berniat keluar kamar. Ia tak ingin bertemu siapa pun, terutama Rifky dan ibu mertuanya. Ia hanya ingin bersembunyi. Namun, perutnya bergejolak. Ia sadar, ia belum makan sejak semalam. Sejak berita itu menghantamnya, nafsu makannya hilang entah ke mana.
Ketukan di pintu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan, lebih ragu-ragu. "Salma? Kamu sudah bangun?" Suara Rifky. Salma tetap diam. "Salma, aku bawa sarapan. Kamu harus makan."
Salma mendesah. Ia tidak bisa menghindar selamanya. Dengan berat hati, ia membuka pintu. Rifky berdiri di depannya, membawa nampan berisi bubur ayam dan segelas teh hangat. Wajahnya terlihat lelah, matanya merah, seolah ia juga tidak tidur semalaman.
"Kenapa kamu tidak tidur?" tanya Salma dingin, tanpa menatapnya.
Rifky memasuki kamar, meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. "Aku tidak bisa tidur, Salma. Aku memikirkanmu."
"Memikirkanku? Atau memikirkan bagaimana caranya agar aku setuju dengan rencana ibumu?" sindir Salma pahit.
Rifky menoleh, menatapnya dengan tatapan terluka. "Salma, jangan bicara seperti itu. Kamu tahu aku mencintaimu."
"Mencintaiku?" Salma tertawa sumbang. "Cinta macam apa itu, Mas? Cinta yang rela berbagi? Cinta yang rela menyakiti orang yang dicintai demi kebahagiaan orang lain?"
Rifky menghela napas panjang. Ia berjalan mendekat, mencoba meraih tangan Salma. "Salma, tolong dengarkan aku. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini menyakitimu. Tapi ini adalah satu-satunya jalan. Ibu..." Ia berhenti, seolah mencari kata yang tepat. "Ibu sangat menginginkan cucu. Dan aku... aku tidak bisa mengecewakannya."
"Dan aku? Apa aku bisa kamu kecewakan begitu saja?" Salma menarik tangannya. "Apa aku ini tidak berarti apa-apa dibandingkan keinginan ibumu dan keluarga besar Rifky?"
"Tentu saja kamu berarti, Salma! Kamu adalah istriku. Kamu adalah duniaku!" Rifky meninggikan suaranya, frustrasi. "Tapi masalah anak ini... ini sudah berlarut-larut. Ibu sudah menunggu terlalu lama. Aku sudah menunggu terlalu lama."
Hati Salma tercubit mendengar kalimat terakhir Rifky. Ia memang tahu, Rifky juga menginginkan anak. Keinginannya itu tulus. Tapi apakah keinginan itu harus mengorbankan Salma?
"Mas, kita sudah berobat. Dokter bilang kamu sudah sembuh. Aku juga tidak ada masalah. Kita hanya perlu terus berusaha. Kenapa tidak kita coba lagi setahun dua tahun ini? Kalau memang belum rezeki, kita bisa pikirkan solusi lain. Adopsi, misalnya," Salma mencoba menawarkan solusi yang ia anggap paling masuk akal dan tidak menyakitkan.
Rifky menggeleng. "Salma, kamu tahu bagaimana kerasnya Ibu. Beliau tidak mau adopsi. Beliau ingin darah daging sendiri. Dan jujur saja, Salma... aku juga ingin anak kandungku sendiri."
Pengakuan Rifky itu menghantam Salma telak. Jadi, selama ini ia menahan diri, menanggung rasa sakit pengobatan, menahan kekecewaan setiap kali tes kehamilan menunjukkan hasil negatif, namun pada akhirnya, semua itu tak cukup untuk Rifky. Ia menginginkan anak kandung, dan jika Salma tak bisa memberikannya, ia akan mencarinya pada wanita lain.
"Jadi, aku tidak cukup, Mas?" tanya Salma lirih, matanya berkaca-kaca lagi. "Aku tidak cukup sebagai istrimu? Aku tidak cukup sebagai pendamping hidupmu? Hanya karena aku belum bisa memberimu anak?"
"Jangan bicara begitu, Salma! Kamu lebih dari cukup! Kamu sempurna bagiku!" Rifky mendekat, mencoba memeluknya. "Tapi ini... ini adalah hal yang berbeda. Ini tentang melanjutkan nama keluarga. Ini tentang pewaris. Aku tidak bisa membiarkan garis keturunan ini terhenti karenaku."
Salma melepaskan pelukan Rifky. "Jadi ini bukan tentang 'kita' lagi, Mas? Ini tentang 'kamu' dan 'keluargamu'? Dan aku harus menelan semua ini demi kebahagiaan mereka?"
Rifky menunduk. Keheningan menyelimuti kamar. Hening yang terasa begitu memekakkan telinga Salma.
"Lalu, bagaimana dengan perasaanku, Mas?" Salma melanjutkan, suaranya bergetar. "Apa kamu pernah berpikir, bagaimana perasaanku jika aku harus berbagi suamiku? Bagaimana aku harus melihatmu bersama wanita lain, tahu kamu menyentuhnya, tahu kamu... tahu kamu mencintainya juga?"
Rifky mengangkat kepalanya, matanya penuh kesedihan. "Aku tidak akan mencintai wanita lain, Salma. Aku hanya akan menjalankan kewajibanku. Hatiku, cintaku, semuanya hanya untukmu."
Salma tersenyum getir. "Omong kosong! Bagaimana mungkin kamu bisa mencintai satu orang, tapi menikah dengan yang lain? Jangan munafik, Mas! Poligami itu bukan hanya tentang 'kewajiban', itu juga tentang hati dan perasaan! Kamu tidak bisa membagi hati seseorang seperti membagi roti!"
"Salma, itu berbeda. Ini adalah pernikahan yang dilandasi niat baik untuk memiliki keturunan. Ini bukan tentang cinta yang baru," Rifky mencoba meyakinkan.
"Oh ya? Lalu, setelah dia memberimu anak, apa yang akan terjadi? Apa kamu akan mencampakkannya? Atau kamu akan tetap bersamanya, membagimu antara aku dan dia? Apakah kamu akan tidur di kamar ini suatu malam, dan di kamar yang lain di malam berikutnya? Apa itu yang kamu sebut 'tidak mencintai wanita lain'?" Salma merasa amarahnya melonjak. Ia tidak bisa lagi menahan diri. "Bagaimana dengan malam pertama kalian, Mas? Malam ketika dia menjadi istrimu secara sah? Apa kamu akan berpura-pura tidak ada apa-apa? Apa kamu akan berpura-pura tidak merasakan apa pun dengannya?"
Pertanyaan-pertanyaan Salma menusuk Rifky. Wajahnya memucat, dan ia terlihat tak bisa menjawab. Ia tahu, Salma menyentuh titik paling sensitif dari masalah ini. Ia tahu, apapun yang ia katakan, akan terdengar seperti kebohongan atau pembelaan diri yang rapuh.
"Aku... aku akan adil, Salma. Aku janji." Hanya itu yang bisa diucapkan Rifky.
"Adil? Bagaimana kamu bisa adil dalam membagi hati, Mas? Bagaimana kamu bisa adil dalam membagi waktu? Bagaimana kamu bisa adil dalam membagi perhatian?" Salma menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah meminta lebih darimu, Mas. Aku hanya meminta kesetiaanmu, cintamu yang utuh. Itu saja. Tapi sepertinya, itu terlalu banyak bagimu."
Air mata kembali mengalir di pipi Salma. Ia tidak lagi peduli dengan penampilannya. Ia hanya ingin Rifky memahami rasa sakitnya, rasa sakit yang begitu dalam hingga ia merasa seperti sekarat.
"Salma, kumohon... ini demi kita juga. Demi kebahagiaan kita di masa depan. Aku ingin punya anak. Aku ingin rumah tangga kita lengkap. Kamu juga ingin anak, kan?" Rifky mencoba merangkulnya lagi.
"Aku ingin anak bersamamu, Mas! Hasil dari cinta kita! Bukan hasil dari paksaan keluarga, bukan hasil dari mengorbankan perasaanku!" Salma menyingkirkan tangan Rifky. "Aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Prinsipku tidak akan pernah bisa menerima untuk dimadu. Sejak awal kita menikah, aku sudah bilang ini padamu, Mas. Kamu ingat kan? Kamu bilang, kamu tidak akan pernah melakukannya."
Rifky terdiam. Ia ingat. Ia memang pernah mengatakan itu. Di hari pernikahan mereka, ia berjanji akan selalu setia, akan selalu mencintai Salma seorang. Janji itu kini terasa seperti bumerang, menghantamnya balik.
"Dulu kamu berjanji tidak akan pernah menyakitiku, Mas. Kamu berjanji akan selalu ada untukku. Kamu berjanji akan menghadapi semuanya bersamaku," kata Salma, suaranya tercekat. "Dan sekarang? Kamu ingin aku menerima ini? Setelah semua yang kita lalui? Setelah semua pengorbanan?"
"Aku tahu, Salma. Aku tahu aku salah. Aku melanggar janjiku. Tapi tolong... ini bukan kemauanku sepenuhnya. Ini tekanan dari Ibu. Dari keluarga," Rifky mencoba mencari pembenaran.
"Tekanan? Jadi kamu lebih memilih tunduk pada tekanan itu daripada mempertahankan perasaan istrimu sendiri?" Salma tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Mana Rifky yang dulu kukenal? Rifky yang selalu kuat, yang selalu berdiri tegak melindungiku? Mana dia, Mas?"
Rifky menundukkan kepala. Ia terlihat begitu kecil di mata Salma saat itu. Pria yang dulu ia kagumi kekuatannya, kini terlihat begitu tak berdaya di hadapan ibunya dan tuntutan keluarga. Rasa kecewa Salma memuncak. Bukan hanya karena Rifky akan menikah lagi, tapi juga karena Rifky yang ia kenal, seolah telah mati.
"Salma..." Rifky mencoba lagi, suaranya lebih lembut, lebih memohon. "Bagaimana kalau kita coba dulu? Kamu tidak perlu bertemu Aisyah dulu kalau kamu tidak mau. Kita bisa... kita bisa atur semuanya agar kamu tidak merasa terlalu sakit. Aku akan tetap memberimu prioritas."
"Prioritas?" Salma mendesah sinis. "Prioritas seperti apa, Mas? Prioritas seorang istri yang kesepian di rumah, sementara suaminya sedang bersama istri lain? Itu bukan prioritas, Mas. Itu adalah penghinaan."
Salma menatap Rifky dengan mata berkaca-kaca. "Apakah kamu pernah membayangkan bagaimana perasaanku nanti saat hari raya? Saat acara keluarga? Apakah aku harus berpura-pura baik-baik saja di depan orang banyak, padahal hatiku hancur? Apakah aku harus berbagi senyummu, perhatianmu, dengan wanita lain di depan umum?"
Rifky hanya terdiam. Ia tidak punya jawaban. Ia hanya bisa menatap Salma dengan tatapan memohon, tatapan yang penuh rasa bersalah, dan mungkin, sedikit ketakutan.
"Aku tidak tahu, Mas. Aku benar-benar tidak tahu," bisik Salma, suaranya nyaris tak terdengar. Ia merasa sangat lelah. Lelah dengan perdebatan ini, lelah dengan semua rasa sakit ini.
"Pikirkan baik-baik, Salma," kata Rifky pelan, mengambil nampan bubur yang tak tersentuh. "Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Salma hanya menatap punggung Rifky saat ia keluar dari kamar. Kata-kata "aku tidak akan pernah melepaskanmu" terdengar seperti ancaman daripada sebuah janji. Seolah-olah, Salma tidak punya pilihan lain selain menerima takdir ini.
Beberapa hari berikutnya, rumah itu terasa seperti kuburan. Salma mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar jika benar-benar perlu, dan menghindari bertemu Rifky atau Hajah Fatma. Makanan yang Rifky antarkan selalu ia biarkan dingin, hanya ia sentuh sedikit untuk mempertahankan diri. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya semakin pucat.
Rifky mencoba berbicara dengannya beberapa kali, namun Salma selalu menolaknya. Ia tak ingin mendengar alasan apa pun lagi. Tak ingin mendengar janji kosong apa pun lagi. Ia hanya ingin waktu untuk dirinya sendiri, untuk menenangkan badai dalam hatinya.
Hajah Fatma tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali mengetuk pintu kamar Salma, menanyakan apakah Salma ingin makan. Sikapnya dingin, seolah-olah Salma adalah anak bandel yang sedang merajuk. Itu membuat Salma semakin merasa terpojok dan sendirian.
Sahabat terbaik Salma, Aisha, mencoba menghubunginya beberapa kali. Salma tidak mengangkat teleponnya. Ia belum siap menceritakan semua ini. Aisha pasti akan terkejut, marah, dan mungkin menyuruhnya untuk segera bercerai. Salma tahu itu, dan ia belum siap menghadapi nasihat semacam itu. Ia masih terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menakutkan.
Setiap malam, Salma menangis dalam diam. Ia mengingat kembali masa-masa awal pernikahannya dengan Rifky. Mereka bertemu di bangku kuliah. Rifky adalah seniornya, seorang mahasiswa teknik yang cerdas dan humoris. Salma, yang saat itu masih lugu, langsung jatuh hati pada Rifky yang selalu perhatian dan melindunginya. Mereka pacaran selama tiga tahun, penuh tawa, canda, dan impian masa depan. Rifky berjanji akan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia, penuh cinta, dan saling mendukung.
Janji itu, kini, terasa begitu pahit. Hancur berkeping-keping.
Salma tahu ia harus membuat keputusan. Ia tidak bisa terus-menerus terkurung dalam kesedihan dan kemarahan ini. Ini akan menghancurkannya. Ia harus memilih: menerima takdir poligami yang ia benci, atau bercerai dan memulai hidup baru.
Jika ia menerima, ia harus menelan pil pahit ini seumur hidup. Ia harus melihat suaminya berbagi cinta dengan wanita lain. Ia harus memaksakan dirinya untuk ikhlas, untuk menerima kenyataan pahit bahwa ia tidak cukup. Ia akan kehilangan harga dirinya, kehilangan kebahagiaan yang utuh, dan mungkin, kehilangan dirinya sendiri.
Jika ia bercerai, ia akan kehilangan Rifky. Pria yang selama lima tahun ini menjadi pusat dunianya. Ia akan kehilangan rumah ini, kehilangan statusnya sebagai istri, dan menghadapi pandangan miring dari masyarakat. Ia akan memulai semuanya dari nol, sendirian, dengan hati yang terluka. Rasa sakitnya akan sama, bahkan mungkin lebih parah di awal.
Salma merasakan sakit di dadanya. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke lemari, dan membuka laci paling atas. Di sana, tersimpan rapi sebuah album foto. Album pernikahan mereka. Salma membuka halaman pertama. Foto mereka berdua, tersenyum bahagia di pelaminan. Rifky terlihat gagah dengan setelan jas hitamnya, dan Salma terlihat anggun dalam gaun pengantin putihnya. Di foto itu, Rifky mencium kening Salma dengan penuh cinta. Mata mereka berbinar, penuh janji dan harapan.
Salma menyentuh wajah Rifky di foto itu. "Kamu bilang kamu tidak akan pernah menyakitiku, Mas," bisiknya, air mata kembali mengalir. "Kenapa kamu melanggar janjimu?"
Ia membalik halaman. Foto-foto bulan madu mereka di Bali. Tawa mereka yang lepas, pelukan hangat di tepi pantai. Kenangan indah itu kini terasa seperti mimpi yang sangat jauh, tidak nyata, seperti bukan miliknya lagi.
Semakin lama Salma melihat foto-foto itu, semakin ia merasa marah. Marah pada Rifky, marah pada Hajah Fatma, marah pada takdir, dan marah pada dirinya sendiri. Marah karena ia merasa tak berdaya, terperangkap dalam situasi yang tidak ia inginkan.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya. Sebuah ide yang mungkin gila, tapi setidaknya bisa memberinya sedikit kekuatan, sedikit kontrol atas hidupnya yang kini terasa berantakan. Ia akan berbicara dengan Rifky. Bukan untuk memohon, bukan untuk berdebat. Tapi untuk membuat persyaratan.
Jika memang ia harus menerima ini, ia tidak akan menerimanya begitu saja. Ia akan berjuang untuk harga dirinya, untuk perasaannya. Ia akan menuntut sesuatu yang bisa memberinya sedikit ketenangan, sedikit rasa adil, jika keadilan itu memang ada dalam poligami.
Salma tidak tahu apakah Rifky akan setuju. Ia tidak tahu apakah itu akan mengubah apa pun. Tapi setidaknya, ia harus mencoba. Ia tidak ingin menjadi korban yang pasrah. Ia ingin menjadi wanita yang berjuang, bahkan ketika ia merasa semua kekuatannya telah terkuras habis.
Dengan tekad yang baru, meski masih rapuh, Salma bangkit. Ia membasuh wajahnya, mencoba menghilangkan jejak air mata. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan setiap sisa kekuatan yang ia miliki. Ia tahu, pertempuran ini belum usai. Ini baru permulaan dari babak baru yang lebih menyakitkan dalam hidupnya.
Salma keluar dari kamar. Jantungnya berdebar kencang. Ia mendengar suara Hajah Fatma di ruang keluarga, berbicara dengan Rifky. Sepertinya mereka sedang membicarakan persiapan pernikahan yang akan datang. Salma mengepalkan tangannya. Ia akan menghadapi mereka. Ia akan mengatakan apa yang ada di hatinya. Ini mungkin akan menjadi pertarungan terberat dalam hidupnya. Pertarungan antara prinsip, cinta, dan harga diri.
Langkah Salma terasa berat, namun tekadnya telah mengeras. Ia melangkah keluar dari kamarnya, jantungnya berpacu seperti genderang perang. Suara percakapan di ruang keluarga mereda begitu ia muncul. Hajah Fatma dan Rifky menoleh. Raut wajah Hajah Fatma tetap datar, namun sorot matanya sedikit terkejut melihat Salma akhirnya keluar dari 'persembunyian'. Rifky, di sisi lain, menatapnya dengan campuran lega dan kekhawatiran.
"Salma, kamu baik-baik saja?" Rifky bangkit dari sofa, mendekatinya.
Salma mengabaikan pertanyaan itu. Matanya lurus menatap Hajah Fatma. "Bisa kita bicara, Bu?" Suaranya terdengar serak, namun tegas.
Hajah Fatma mengangguk kaku. "Silakan, Nak. Ada apa?"
Salma berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengan mereka. Ia mengambil napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Saya sudah memikirkannya," ujarnya, memulai. Ia melihat Rifky menatapnya penuh harap, sementara Hajah Fatma hanya mengamati dengan tenang, seolah menunggu vonis.
"Saya akan menerima pernikahan Mas Rifky," kata Salma, kalimat itu keluar dari mulutnya dengan rasa pahit yang tak tertahankan. Seolah setiap suku kata mengikis bagian dari jiwanya.
Rifky menghela napas lega, raut wajahnya berubah seketika. "Salma, terima kasih. Aku tahu ini berat bagimu. Terima kasih banyak, sayang." Ia mencoba meraih tangan Salma, namun Salma menepisnya perlahan.
Hajah Fatma tersenyum tipis. Sebuah senyum kemenangan yang membuat hati Salma mencelos. "Alhamdulillah, Nak. Ibu tahu kamu wanita baik-baik. Ini memang yang terbaik untuk semua."
"Tapi," lanjut Salma, suaranya mengeras, memotong kelegaan mereka. "Ada syaratnya."
Senyum Hajah Fatma memudar. Rifky mengerutkan keningnya. "Syarat apa, Salma?" tanyanya, nada suaranya berubah menjadi hati-hati.
"Saya akan menerima dimadu, dengan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Jika tidak, saya akan meminta cerai," ucap Salma tegas, menatap lurus ke mata Rifky, lalu beralih ke Hajah Fatma. Kali ini, ia tidak akan mundur.
Hajah Fatma mendengus. "Salma, jangan mempersulit keadaan. Kamu harus mengerti posisi Rifky."
"Saya sudah cukup mengerti, Bu. Sekarang giliran Anda dan Mas Rifky yang mengerti posisi saya," balas Salma, tatapannya tak gentar. "Saya tidak akan menyetujui pernikahan ini jika syarat-syarat saya tidak dipenuhi. Saya punya harga diri, Bu. Dan saya juga punya batas."
Rifky menyentuh lengan ibunya, isyarat agar Hajah Fatma tetap tenang. Ia menatap Salma. "Baiklah, Salma. Katakan. Apa syaratmu?"
Salma menarik napas dalam, menata setiap poin yang telah ia renungkan semalam suntuk. "Pertama, saya tidak ingin bertemu dengan istri kedua Mas Rifky, Siti Aisyah, di rumah ini. Tidak akan ada kunjungan, tidak akan ada pertemuan. Jika Mas Rifky ingin menemuinya, silakan di luar. Rumah ini adalah rumah saya, rumah kita. Dan saya tidak ingin ada bayang-bayang dia di sini."
Rifky dan Hajah Fatma saling pandang. Hajah Fatma membuka mulutnya, mungkin ingin membantah, namun Rifky lebih dulu berkata, "Baiklah, Salma. Aku akan mengusahakannya. Aisyah akan tinggal di rumahnya sendiri."
"Bukan hanya tinggal di rumahnya sendiri, Mas," Salma mengoreksi, tatapannya tajam. "Maksud saya, tidak ada jejaknya di sini. Tidak ada barangnya, tidak ada kehadirannya, tidak ada nama dia yang disebut-sebut di rumah ini."
"Tapi Salma, nanti kalau ada acara keluarga..." Hajah Fatma memprotes.
"Itu poin kedua saya," potong Salma, tanpa ragu. "Poin kedua, saya tidak akan menghadiri acara keluarga atau pertemuan sosial lainnya di mana istri kedua Mas Rifky juga hadir. Jika ada acara yang mengharuskan dia hadir, maka saya tidak akan datang. Begitu juga sebaliknya. Saya tidak ingin ada situasi di mana kami harus bertemu atau berinteraksi. Saya tidak akan berpura-pura baik-baik saja di depan publik."
Hajah Fatma terperangah. "Apa maksudmu? Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa begitu? Apa kata orang nanti?"
"Apa kata orang lebih penting daripada perasaan saya, Bu?" Salma balas bertanya, nadanya menyiratkan kepedihan yang dalam. "Saya tidak ingin publik melihat saya sebagai wanita yang lemah dan pasrah. Dan saya juga tidak ingin menyaksikan suami saya berbagi dengan wanita lain di depan mata saya. Itu terlalu menyakitkan."
Rifky mengusap wajahnya. "Salma, ini akan sulit. Terutama di acara-acara penting."
"Kalau begitu, Mas Rifky harus memilih. Apakah Mas Rifky ingin saya hadir, atau istri kedua Mas Rifky yang hadir," tegas Salma. "Saya tidak akan berbagi ruang dengan dia. Ini harga diri saya, Mas. Dan ini adalah batas saya."
Keheningan menyelimuti ruangan. Hajah Fatma terlihat berpikir keras, wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Tapi ia juga tahu, Salma tidak sedang main-main.
"Baiklah," kata Rifky akhirnya, suaranya berat. "Aku akan mencoba mengatur itu."
"Mengatur saja tidak cukup, Mas. Ini harus menjadi kesepakatan mutlak. Jika salah satu dilanggar, maka saya akan meminta cerai saat itu juga. Tidak ada kompromi," Salma menambahkan, memastikan tidak ada celah.
Hajah Fatma berdeham. "Baiklah, apa lagi?"
"Poin ketiga," Salma melanjutkan, "Mas Rifky tidak boleh mengurangi hak dan kewajiban saya sebagai istri pertama. Nafkah saya, waktu Mas Rifky untuk saya, dan perhatian Mas Rifky kepada saya harus tetap sama, tidak boleh berkurang sedikit pun. Bahkan, saya berharap Mas Rifky bisa lebih memperhatikan saya. Saya ingin Mas Rifky tetap menghabiskan malam di rumah ini lebih sering daripada di rumah yang lain. Jika Mas Rifky berniat membagi waktu secara adil, maka saya tidak akan menerima itu."
Hajah Fatma langsung protes. "Ini namanya tidak adil bagi istri kedua, Salma! Dalam Islam, suami harus adil!"
"Adil?" Salma tertawa sinis. "Sejak kapan poligami itu adil, Bu? Kalau Mas Rifky mau adil, kenapa tidak sejak awal tidak menikah lagi? Kalau Mas Rifky bisa adil, kenapa Mas Rifky tidak bisa memenuhi hak saya sebagai satu-satunya istri? Saya tidak meminta lebih dari yang saya miliki sekarang, Bu. Saya hanya meminta agar Mas Rifky tidak mengurangi hak yang sudah ada. Jangan samakan saya dengan istri kedua. Saya adalah istri yang Mas Rifky pilih pertama kali, Bu. Yang menemani Mas Rifky dari nol, yang berjuang bersama Mas Rifky selama lima tahun ini. Jadi, wajar jika saya menuntut hak yang lebih besar."
Rifky terlihat dilema. Ia tahu, permintaan Salma tidak sepenuhnya salah. Tapi juga tidak mudah untuk dipenuhi, mengingat tuntutan dari pihak Siti Aisyah dan ibunya kelak. "Salma, aku akan berusaha seadil mungkin. Tapi memprioritaskanmu akan sangat sulit bagi yang lain."
"Maka Mas Rifky harus memilih, Mas. Saya, atau dia. Jika Mas Rifky tidak bisa memenuhi ini, berarti Mas Rifky tidak benar-benar menginginkan saya tetap di sini," Salma menjawab tanpa ragu. "Saya tidak mau menjadi istri yang terabaikan, hanya karena Mas Rifky punya istri lain."
Hajah Fatma menghela napas kasar. "Baiklah. Poin selanjutnya?"
"Poin keempat, tidak akan ada pembahasan atau perbandingan apa pun mengenai istri kedua di hadapan saya. Saya tidak ingin mendengar tentang bagaimana dia, apa yang dia lakukan, atau apa pun yang berhubungan dengannya. Begitu juga sebaliknya. Jika Mas Rifky ingin membicarakannya, silakan dengan Ibu, atau dengan siapa pun, tapi jangan di depan saya."
Ini adalah poin penting bagi Salma. Ia tidak ingin hatinya terus-menerus terlukai dengan perbandingan atau cerita tentang wanita lain. Ia ingin menjaga sisa-sisa kewarasannya.
"Dan terakhir, poin kelima," Salma melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha keras untuk menguasai emosinya. "Jika nantinya Mas Rifky memiliki anak dari istri kedua, saya tidak akan dimintai untuk mengurus atau merawat anak tersebut. Saya tidak akan ikut campur dalam urusan mereka. Anak itu adalah tanggung jawab Mas Rifky dan ibunya. Saya tidak akan menjadi pengasuh, atau bibi, atau figur ibu bagi anak itu. Saya tidak sanggup."
Mendengar poin terakhir ini, wajah Hajah Fatma memerah. "Salma! Itu tidak masuk akal! Cucuku juga cucumu! Bagaimana mungkin kamu tidak peduli?"
"Cucu Anda, Bu, tapi bukan anak saya," Salma membalas dingin. "Saya tahu saya belum bisa memberikan anak. Tapi saya tidak akan berpura-pura mencintai anak dari rahim wanita lain yang merebut suami saya. Itu terlalu kejam, Bu. Bagi saya. Saya tidak akan sanggup berpura-pura bahagia melihat anak itu, sementara saya sendiri hancur."
Rifky menunduk, tak berani menatap mata Salma. Permintaan ini, ia tahu, adalah yang paling berat. Permintaan yang menyentuh inti dari rasa sakit Salma.
"Kamu pikirkan baik-baik, Mas Rifky. Dan Ibu juga," kata Salma, bangkit dari duduknya. "Jika kelima poin ini disetujui dan disepakati, dengan jaminan bahwa Mas Rifky akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya, maka saya akan tetap di sini. Saya akan berjuang untuk pernikahan ini. Tapi jika ada satu saja yang dilanggar, atau Mas Rifky tidak sanggup memenuhi, maka saya akan langsung meminta cerai. Saya tidak akan pernah menengok ke belakang. Saya tidak akan pernah kembali."
Salma menatap mereka berdua, memberi kesempatan untuk merespons. Hajah Fatma terlihat marah, namun tak bisa membantah. Ia tahu, Salma tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan selain harga dirinya. Rifky, di sisi lain, tampak terbebani. Ia tahu betapa sulitnya memenuhi semua syarat itu, terutama di bawah pengawasan ketat ibunya.
"Pikirkan baik-baik, Mas Rifky," ulang Salma. "Ini adalah ultimatum saya. Kesepakatan kita. Jika Anda menyetujuinya, kita akan melanjutkan pernikahan ini. Jika tidak, maka kita berpisah."
Tanpa menunggu jawaban, Salma berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu perlahan, namun tegas. Di balik pintu, ia bersandar, napasnya tersengal. Jantungnya berdegup kencang. Ia telah mengatakan semua yang ada di hatinya. Semua amarah, semua rasa sakit, semua ketakutan yang ia rasakan. Kini, ia hanya bisa menunggu.
Waktu berlalu dengan lambat. Salma menunggu, setiap detiknya terasa seperti jarum jam yang menusuk. Ia tidak tahu berapa lama Rifky dan Hajah Fatma akan berdiskusi. Ia membayangkan perdebatan sengit di luar sana. Hajah Fatma pasti akan membantah, akan mengatakan Salma egois, tidak tahu diri. Rifky mungkin akan mencoba menengahi, atau mungkin menyerah pada ibunya.
Setiap suara yang ia dengar dari luar membuat jantungnya melonjak. Sebuah gelas pecah, suara langkah kaki yang tergesa, bahkan keheningan yang tiba-tiba. Semua itu terasa mencekam.
Beberapa jam kemudian, tepat ketika Salma mengira ia akan mati karena ketegangan, ada ketukan pelan di pintu. Kali ini, bukan ketukan biasa. Ada keraguan di dalamnya.
"Salma..." Suara Rifky terdengar di balik pintu, lebih rendah dan lebih serius dari sebelumnya. "Bisa kita bicara?"
Salma menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia membuka pintu. Rifky berdiri di sana, wajahnya terlihat letih, namun ada ketegasan yang tak biasa di matanya. Di belakangnya, Hajah Fatma berdiri dengan wajah masam, namun memilih untuk diam.
"Bagaimana?" tanya Salma, langsung ke inti.
Rifky menatapnya lurus. "Kami... kami menyetujui syarat-syaratmu, Salma."
Salma terkejut. Meskipun ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan ini, mendengarnya secara langsung terasa begitu sureal. Ia melihat sekilas ke arah Hajah Fatma. Wanita itu mengangguk kaku, sorot matanya menunjukkan kekalahan yang enggan.
"Kami tahu ini berat, Salma," lanjut Rifky. "Dan kami tahu ini akan sulit. Tapi aku... aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak ingin perceraian."
Salma merasakan sedikit kelegaan, namun bercampur dengan rasa pahit. Kelegaan karena ia tidak harus menghadapi perceraian yang ia takuti, namun pahit karena ia harus hidup dalam perjanjian yang ia benci.
"Aku akan berusaha keras untuk memenuhi semua yang kamu minta," kata Rifky, mendekat dan mencoba meraih tangannya. Kali ini, Salma membiarkannya. Genggaman Rifky terasa dingin, namun ada ketulusan di dalamnya. "Aku bersumpah, Salma. Aku akan menjagamu. Aku akan tetap memberimu prioritas. Dan aku akan pastikan tidak ada yang melanggar kesepakatan ini."
"Dan jika ada yang melanggar?" tanya Salma, menguji.
"Maka... maka kamu berhak untuk pergi," jawab Rifky, suaranya sedikit serak. "Aku akan menerimanya. Tapi aku harap itu tidak akan pernah terjadi."
Salma menatap mata Rifky, mencari kebohongan. Tapi yang ia temukan hanyalah keputusasaan dan rasa bersalah yang mendalam. Ia tahu, ini bukan keputusan yang mudah bagi Rifky. Ini juga bukan keinginan Rifky sepenuhnya. Tapi ia juga tahu, Rifky telah memilih. Ia memilih untuk tetap memiliki anak, bahkan jika itu berarti mengorbankan sebagian kecil dari kebahagiaan Salma.
"Baiklah," kata Salma pelan, suaranya nyaris berbisik. "Aku akan pegang janji itu, Mas. Aku akan bertahan. Tapi aku akan mengawasi setiap langkahmu. Dan jika kamu melanggar, sedikit saja, maka tamatlah semua."
Hajah Fatma berdeham. "Kalau begitu, semua sudah jelas. Sekarang, kita harus memulai persiapan pernikahan."
Salma tidak merespons Hajah Fatma. Ia hanya menatap Rifky. Ia tidak merasakan kemenangan. Yang ada hanyalah rasa hampa, dan rasa lelah yang luar biasa. Ia telah berjuang, ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan dalam bentuk kesepakatan. Tapi, apakah itu cukup untuk mengisi kekosongan yang kini menganga di hatinya?
Ia melihat Rifky yang kini memeluknya erat, seolah takut kehilangannya. Salma membalas pelukan itu, namun ada jarak tak kasat mata di antara mereka. Jarak yang tercipta dari keputusan yang baru saja mereka ambil. Jarak yang tercipta dari kehadiran Siti Aisyah, wanita yang belum pernah ia lihat, namun sudah menghancurkan sebagian besar dunianya.
Salma tahu, jalan yang ia pilih ini tidak akan mudah. Ini akan menjadi pertarungan panjang yang penuh emosi, air mata, dan godaan untuk menyerah. Ia harus kuat, lebih kuat dari sebelumnya. Ia harus menjaga dirinya sendiri, hatinya sendiri, dari luka yang akan terus-menerus mengancam.
Malam itu, Salma tidur. Tidak nyenyak, tapi ia tidur. Ia bermimpi tentang rumah yang dulu utuh, kini terbelah dua. Ia bermimpi tentang tawa yang dulu renyah, kini bercampur dengan suara tangisan bayi yang asing. Ia bermimpi tentang Rifky, yang kini memiliki dua bayangan yang mengikutinya.
Ia terbangun dengan perasaan cemas, namun juga sedikit lega. Setidaknya, ia telah membuat keputusan. Setidaknya, ia telah menetapkan batas. Sekarang, tinggal bagaimana ia akan menjalani ini. Tinggal bagaimana ia akan menghadapi kenyataan pahit bahwa ia adalah seorang istri yang harus berbagi suami, demi sebuah keturunan yang bukan darinya.
Salma bangkit dari tempat tidur. Ia melihat ke luar jendela. Matahari telah terbit sepenuhnya, menerangi kamarnya. Mungkin, ini adalah awal dari babak baru. Babak yang akan menguji batas kesabaran, kekuatan, dan ketahanan jiwanya. Ia akan melaluinya. Ia harus. Demi dirinya sendiri, demi harga dirinya. Dan mungkin, demi sebuah harapan kecil bahwa suatu hari nanti, kebahagiaan utuh akan kembali, meskipun ia belum tahu bagaimana caranya.