Bab 1

Langit sore berwarna kelabu ketika Ariana duduk di depan cermin, mengenakan kebaya putih sederhana yang terasa asing di tubuhnya. Riasan tipis di wajahnya nyaris tak mampu menyembunyikan ekspresi kosong yang terpancar dari matanya. Ini bukan hari bahagianya. Ini bukan pernikahan yang ia impikan.

Di luar kamar, suara tamu yang datang terdengar samar. Hanya keluarga terdekat dan beberapa rekan bisnis ayahnya yang hadir. Tidak ada pesta besar, tidak ada kebahagiaan. Hanya sebuah akad nikah yang diatur terburu-buru, seolah pernikahan ini hanyalah transaksi, bukan ikatan suci.

Ariana mengepalkan tangannya di pangkuan. Ayahnya sedang sakit keras, dan inilah permintaan terakhirnya. "Menikahlah dengan Daniel Aldrigham," begitu katanya. Suara ayahnya yang lemah masih terngiang di kepalanya, membuat dadanya sesak.

Ariana tidak punya pilihan. Menolak berarti mengecewakan satu-satunya orang yang selalu mencintainya tanpa syarat. Namun menerima berarti mengikat diri pada pria asing yang bahkan tidak pernah ia temui sebelumnya.

Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak. Ibu tirinya, Evelyne, masuk dengan ekspresi puas. "Sudah siap?" tanyanya dengan nada datar, seolah Ariana akan menghadiri pertemuan bisnis, bukan pernikahan.

Ariana menoleh pelan. "Apakah aku masih bisa mundur?"

Evelyne tertawa kecil, sinis. "Jangan konyol, Ariana. Ini bukan tentang kamu. Ini tentang keluarga kita. Ayahmu sudah memutuskan, dan kau tahu betapa buruk kondisinya sekarang."

Ariana terdiam. Tentu saja dia tahu. Itulah satu-satunya alasan dia masih duduk di sini, mengenakan pakaian pengantin dan bersiap menikahi pria yang bahkan belum pernah ia tatap sebelumnya.

***

Di ruang tamu besar yang dijadikan tempat akad, Daniel Aldrigham duduk dengan ekspresi datar. Pria itu mengenakan setelan hitam yang terlihat mahal, tetapi tak sedikit pun menunjukkan tanda bahwa hari ini adalah hari penting baginya.

Tatapannya kosong, rahangnya mengeras, dan tubuhnya tegang seolah ia ingin berada di mana saja selain di sini.

Ariana melangkah masuk, ditemani Evelyne. Sejenak, tatapan mereka bertemu. Mata Daniel dingin, tidak menyambut, tidak menolak. Hanya menilai.

Ketika penghulu mulai membaca akad, suasana semakin menegang. Daniel mengucapkan ijab kabul dengan suara yang tegas, tetapi tanpa perasaan. Semuanya berlangsung cepat, dan sebelum Ariana benar-benar bisa mencerna apa yang terjadi, ia telah menjadi istri dari pria asing itu.

Tidak ada ciuman di kening, tidak ada genggaman tangan hangat. Yang ada hanya keheningan canggung dan ekspresi datar dari pria yang kini menjadi suaminya.

***

Malam itu, Ariana duduk di tepi ranjang, menatap gaun pengantinnya yang sudah ia lepas dan tergantung di lemari. Daniel berdiri di dekat jendela, membelakanginya, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

"Aku harap kau tahu bahwa pernikahan ini tidak mengubah apa pun," katanya tanpa menoleh. Suaranya dingin dan tajam, membuat Ariana merasakan dorongan amarah yang tiba-tiba.

"Tidak mengubah apa pun?" Ariana mengulang kata-katanya dengan nada penuh ironi. "Aku sudah menjadi istrimu, Daniel. Bagaimana bisa itu tidak mengubah apa pun?"

Daniel akhirnya menoleh, matanya tajam dan menusuk. "Karena aku sudah memiliki seseorang. Dan tidak ada yang bisa mengubah itu."

Ariana membeku. Napasnya tersengal, matanya membelalak. Jadi, inilah alasannya kenapa Daniel tampak begitu enggan sejak awal.

"Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu, dan aku harap kau juga tidak berharap apa pun dariku," lanjutnya, suaranya terdengar lebih rendah, lebih mengancam. "Kau mungkin istriku di atas kertas, tapi itu saja. Jangan coba-coba mengubah apa yang sudah ada."

Ariana menelan ludah. Jadi, inilah takdirnya? Menjadi istri tanpa diakui? Menjadi bagian dari sebuah pernikahan yang bahkan sejak awal sudah penuh kebohongan?

Namun, dalam benaknya, sebuah peringatan terngiang-kata-kata dari ayah mertuanya sebelum pernikahan tadi.

"Buat dia melupakan perempuan itu, Ariana. Buat dia bertekuk lutut padamu."

Ariana mengepalkan tangannya. Jika ini pertempuran, maka ia tidak akan kalah begitu saja.

Bab 2

Malam pernikahan mereka berlalu dalam keheningan yang dingin. Daniel tidur di sofa, sementara Ariana tetap terjaga di ranjang, menatap langit-langit kamar yang begitu asing baginya.

Pagi datang dengan cepat. Ketika Ariana membuka matanya, tempat di sebelahnya tetap kosong, seolah Daniel bahkan tak pernah menganggap mereka tidur dalam satu ruangan. Ia menghela napas dan bangkit, mengenakan pakaian santai sebelum keluar dari kamar.

Di ruang makan, Daniel sudah duduk di meja, membaca koran dengan satu tangan, sementara cangkir kopi di tangannya masih mengepulkan asap tipis. Tidak ada sapaan, tidak ada tatapan. Seolah Ariana adalah sekadar bayangan yang tak perlu diakui keberadaannya.

Ariana menegakkan bahunya dan melangkah mendekat. "Pagi," katanya, mencoba terdengar biasa saja.

Daniel tidak mengangkat kepalanya. "Aku sudah mengatakan semuanya tadi malam. Jangan mencoba bersikap seperti istri yang perhatian."

Ariana mengepalkan tangannya. "Aku hanya menyapa. Itu bukan kejahatan."

Kali ini, Daniel menurunkan korannya dan menatapnya, ekspresi wajahnya tetap datar namun sorot matanya penuh peringatan. "Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kau menikahiku bukan karena aku menginginkannya. Jadi, jangan berharap apa pun."

Ariana menahan dorongan untuk membalas ucapan itu dengan kemarahan. Ia tahu, ia bukan orang yang diinginkan Daniel. Tapi, apakah ia harus terus diperlakukan seolah dirinya tidak berharga?

Sebelum ia sempat membalas, seorang wanita muncul dari arah pintu belakang rumah. Ariana langsung tahu siapa dia.

Perempuan itu cantik, dengan rambut panjang bergelombang yang tampak sempurna, bibir merah yang melengkung dalam senyuman tipis saat melihat Daniel. Ia tidak melihat Ariana, seolah dia bukan siapa-siapa.

"Daniel," suara lembut wanita itu terdengar manja. "Kau belum datang menemuiku hari ini."

Ariana menahan napas. Wanita itu bahkan tidak menyembunyikan keberadaannya. Seolah dia memang berhak berada di sini.

Daniel tersenyum tipis-senyuman yang tak pernah Ariana lihat sejak akad nikah kemarin. "Aku baru akan pergi setelah sarapan."

Ariana merasakan amarahnya berkecamuk. Ini benar-benar penghinaan.

Tanpa berpikir panjang, ia meletakkan sendok garpu dengan sedikit lebih keras di meja, membuat suara dentingan tajam yang akhirnya menarik perhatian si wanita.

Wanita itu menoleh, matanya akhirnya memerhatikan Ariana. Ekspresinya berubah, dari tak acuh menjadi meremehkan.

"Jadi ini istrimu?" tanyanya, nada suaranya terdengar geli.

Daniel hanya mengangguk pelan, tidak ada kebanggaan, tidak ada pengakuan.

Wanita itu tertawa kecil. "Kau serius, Daniel? Dia?"

Ariana bisa merasakan darahnya mendidih. Ini bukan sekadar hinaan-ini penghancuran harga dirinya di depan suaminya sendiri.

"Aku Ariana Aldrigham," katanya tegas, menatap langsung ke mata wanita itu. "Istri sah Daniel. Dan kau siapa?"

Wanita itu mengangkat alis, seolah terkejut Ariana berani melawannya. Namun, ekspresinya segera berubah menjadi senyuman penuh kemenangan. "Aku Eleanor," katanya, melirik Daniel sebelum kembali menatap Ariana. "Orang yang sebenarnya ada di hatinya."

Ariana merasakan sesuatu menyesakkan dadanya. Namun, ia menolak menunjukkan kelemahan.

"Aku tidak peduli siapa kau," katanya, suaranya tetap tenang meskipun hatinya bergejolak. "Tapi satu hal yang perlu kau ingat, Eleanor-aku yang menikah dengan Daniel. Aku yang sah di atas kertas, bukan kau."

Eleanor menyipitkan matanya, tetapi sebelum ia sempat membalas, Daniel berdiri.

"Cukup," katanya, nadanya dingin. Ia menatap Ariana dengan ekspresi tajam. "Jangan buang waktumu, Ariana. Kau tidak akan pernah bisa menggantikan Eleanor."

Ariana merasakan sesuatu dalam dirinya retak.

Namun, alih-alih mundur, ia tersenyum tipis, meskipun hatinya terluka. "Kita lihat saja nanti, Daniel."

Daniel menatapnya lama sebelum akhirnya pergi bersama Eleanor, meninggalkan Ariana sendirian di meja makan.

Ariana mengeratkan genggamannya.

Jika ini perang, maka ia akan bertarung. Bukan untuk mendapatkan cinta Daniel, tetapi untuk membuktikan bahwa ia bukan perempuan lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Bab 3

Ariana berdiri di depan jendela ruang tamu, matanya menatap kosong ke luar. Daniel telah pergi bersama Eleanor tanpa sedikit pun peduli pada perasaannya. Perempuan itu bahkan tidak repot-repot menyembunyikan hubungannya dengan Daniel di depan Ariana, seolah dirinya bukan siapa-siapa.

Tapi Ariana bukan seseorang yang bisa dihancurkan semudah itu.

Jika pernikahan ini adalah permainan, maka ia akan belajar bagaimana cara bermain.

Suara langkah mendekat membuatnya menoleh. Seorang pelayan berdiri dengan canggung di dekatnya. "Nyonya, Tuan Muda Daniel sudah pergi. Apa ada yang bisa saya siapkan untuk Anda?"

Ariana menatap wanita itu sesaat sebelum tersenyum tipis. "Siapkan sarapan untukku di ruang makan. Aku belum selesai makan tadi."

Pelayan itu tampak ragu. Mungkin karena selama ini mereka terbiasa melihat Daniel sebagai penguasa di rumah ini, dan Ariana hanyalah istri yang tak diinginkan.

Tapi Ariana harus mengubah itu.

Ia melangkah ke ruang makan dengan punggung tegak. Jika Daniel ingin mengabaikannya, biarkan saja. Jika Eleanor ingin meremehkannya, biarkan saja. Tapi ia tidak akan mundur.

Saat ia duduk kembali, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor asing.

"Jangan terlalu percaya diri hanya karena kau menikah dengannya. Kau tidak akan pernah menang, Ariana."

Ariana menatap layar dengan mata menyipit. Eleanor.

Tangan Ariana mencengkeram ponsel erat, amarah mulai membakar dadanya. Wanita itu tidak hanya merebut suaminya, tetapi juga berani menantangnya secara terang-terangan?

Ia tersenyum miring sebelum mengetik balasan.

"Aku tidak perlu menang, Eleanor. Aku hanya perlu membuatmu kalah."

Ariana meletakkan ponsel dan melanjutkan sarapannya dengan tenang. Jika Eleanor ingin bermain kotor, Ariana tidak keberatan.

Ia bukan lagi gadis yang bisa diinjak tanpa melawan.

***

Sore itu, Ariana pergi ke butik langganan keluarga Aldrigham. Jika ia harus menjadi nyonya di rumah itu, ia tidak akan tampil seperti seseorang yang bisa diremehkan.

Ia memilih gaun terbaik, sepatu hak tinggi yang elegan, dan tas mahal yang membuatnya terlihat seperti wanita dari keluarga berkelas. Jika Daniel ingin menjauhkannya dari lingkungannya, maka Ariana akan memaksa masuk ke dalam dunianya.

Saat ia baru keluar dari butik, sebuah suara menyapanya dengan nada sinis.

"Aku hampir tidak mengenalimu."

Ariana berbalik dan mendapati Eleanor berdiri di sana, mengenakan gaun merah yang menggoda dengan tatapan penuh ejekan.

Ariana tersenyum tipis. "Senang melihatmu, Eleanor. Ada yang bisa kubantu?"

Eleanor tertawa kecil. "Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya kau harapkan dari pernikahan ini?"

Ariana melipat tangannya di depan dada. "Aku tidak mengharapkan apa pun."

Eleanor menyipitkan matanya. "Kalau begitu, kenapa kau masih bertahan? Kau tahu Daniel mencintaiku."

Ariana menatapnya tanpa gentar. "Karena aku adalah istrinya, Eleanor. Apapun yang kau lakukan, kau hanya akan menjadi orang ketiga."

Eleanor terdiam sejenak sebelum tersenyum miring. "Kita lihat saja siapa yang bertahan lebih lama, Ariana."

Ia melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mahalnya di udara.

Ariana menghela napas panjang. Ini belum apa-apa.

Dan ia tidak akan kalah.

***

Malam itu, Daniel pulang lebih larut dari biasanya. Ariana sudah menunggunya di ruang tamu, duduk dengan anggun di sofa sambil menyeruput teh.

Ketika Daniel masuk, alisnya sedikit terangkat melihat Ariana yang tampak berbeda dari biasanya. Rambutnya disanggul rapi, gaun satin yang membalut tubuhnya memperlihatkan aura elegan yang tak bisa diabaikan.

"Kau menungguku?" tanyanya dengan nada skeptis.

Ariana tersenyum. "Sebagai istrimu, bukankah itu wajar?"

Daniel mendecakkan lidah, lalu berjalan melewatinya tanpa menjawab.

Namun Ariana tidak membiarkannya lolos begitu saja. "Kau menikmati waktumu dengan Eleanor?" tanyanya santai.

Daniel berhenti di tengah langkahnya, lalu menoleh. "Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu."

Ariana tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya. "Benarkah? Padahal aku ingin tahu... bagaimana rasanya berkencan dengan wanita lain sementara aku adalah istrimu yang sah?"

Daniel menatapnya dengan tajam, tetapi Ariana tidak mundur.

"Jangan mencoba bermain-main denganku, Ariana," suaranya merendah, mengandung ancaman.

Ariana hanya tersenyum. "Aku tidak bermain-main, Daniel. Aku hanya mengingatkanmu bahwa aku bukan wanita yang bisa kau abaikan begitu saja."

Mereka bertatapan lama, seperti dua musuh yang mengukur kekuatan satu sama lain.

Akhirnya, Daniel menghela napas panjang. "Lakukan apa pun yang kau mau. Aku tidak peduli."

Ia berjalan pergi, meninggalkan Ariana sendiri di ruang tamu.

Ariana mengepalkan tangannya.

Ia sudah berhasil membuat Daniel bereaksi.

Dan ini baru permulaan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED