Mobil mewah terparkir di sudut malam kota Chicago yang dingin, menjadi saksi bisu atas perbuatan mesum Belvina dan Cattivo kekasihnya.
"Oohhh... nikmatnya Cattivo, teruskan..."
Erangan kenikmatan seorang wanita cantik bertubuh sintal di bawah kungkungan seorang pria bertubuh kekar.
"Kamu suka, Belvina ? Ini yang kamu suka ?"
Desis Cattivo yang makin kasar menghujamkan 'milik'nya berulangkali hingga Belvina menggeliatkan tubuhnya.
"Ya, Cattivo sayang. Aku suka goyanganmu yang kasar !"
Desis Belvina sembari memejamkan matanya menikmati kasarnya goyangan Cattivo.
"Oohhh...Cattivo... Teruskan...oohhh.."
Belvina mengerang penuh kenikmatan hingga tubuhnya makin menggelinjang hebat.
{"Benar-benar perempuan maniak sex !"}
Ujar Cattivo melihat perempuan pasangan sex-nya makin menggelinjang kenikmatan.
"Sebentar Belvina !"
Cattivo menghentikan hujaman, ia berhenti sejenak, menarik 'milik'nya keluar dari lubang vagina Belvina.
"Kenapa kamu berhenti, Cattivo ?"
Tanya Belvina, dengan mata melotot penuh kemarahan dan bangun dari jok kursi belakang.
*Cuuuiihhhh..*
Belvina meludahi wajah pria itu.
"Menungginglah, Belvina sayang !"
Sahut Cattivo sembari melap keningnya dari ludah Belvina. Perempuan itu mengganti posisinya dari telentang lalu menungging.
"Kamu suka ini, Belvina ?"
Tanya Cattivo sembari melanjutkan menyetubuhi Belvina.
"Ya, Cattivo..nikmatnya !"
Kenikmatan yang diberikannya membuat Belvina tak kuasa menahan kenikmatan sex, tubuhnya benar-benar makin hebat menggelinjang.
"Aaahhh.... Cattivo...",
Sesaat kemudian, belvina perempuan bertubuh sexy sintal itu mengerang hebat, akhirnya meraih puncak orgasme juga Belvina sampai tubuhnya lemas. Tapi tidak dengan cattivo yang makin mempercepat gerakan pinggulnya hingga..
"Aahh..Belvina sayang.."
pria bertubuh kekar itu mengerang hebat, sudah sampai ke puncak orgasme juga. Setelah beristirahat beberapa saat, Belvina meluncurkan mobilnya mengantar kekasihnya pulang lalu ia sendiri pulang ke rumahnya.
💰
Di dalam sebuah rumah mewah terdengar...
"mommy, aku mohon jangan pukuli aku !"
Wanita cantik berpenampilan glamour itu masih berkali-kali memukuli putri kecilnya yang menangis kesakitan.
"Mommy... Sakit, mommy !"
Mendengar keributan di sertai suara tangisan putrinya, Ragazza Perfetto keluar dari ruang kerjanya. Matanya terbelalak melihat Cassia Perfetto gadis kecil berusia 13 tahun sedang memohon-mohon nyaris bersujud di lantai di hadapan wanita cantik yang beringas memukuli tanpa mengenal ampun.
"BELVINA CATTIVA.. HENTIKAN !!"
"APA RAGAZZA PERFETTO ? KAMU BELA ANJING KECIL INI !"
Gadis kecil itu terkesiap mendengar kalimat yang meluncur dari bibir wanita cantik itu.
"Aku..aku bukan anjing kecil, mommy !"
Protes gadis kecil itu di sela-sela Isak tangisnya.
"Aku tidak habis pikir kenapa kamu sangat kasar pada Cassia Perfetto putri kita ? Belvina cattiva, kamu mommy kandungnya tapi sepertinya kamu membencinya !"
Ujar Ragazza Perfetto sembari menghempaskan tangan Belvina cattiva yang mencengkeram tangan kecil Cassia Perfetto.
"Daddy...Daddy... , mommy memukuli badanku dan menjambak rambutku ! Sakit, Daddy !"
Pengaduan lirih gadis kecil dengan raut wajah sedih bercampur ketakutan.
"Dasar perempuan iblis kamu, Belvina cattiva !"
Bisik pria tampan itu penuh emosi pada istrinya.
"Kenapa Ragazza ? Kamu tidak terima anjing kecil bodoh itu menerima pelajaran dariku ? Lihat semua nilainya jelek dan sekolah mana mau menerimanya ?"
ucap Belvina cattiva kemudian..
"Tapi kamu suka ketololan anjing kecil itu, Ragazza. Uruslah dia, tidak sudi aku mengurusnya !"
Hening sesaat..
Semua orang tahu jika Ragazza Perfetto pengusaha tampan ( 32 tahun ) dan istrinya Belvina cattiva ( 32 tahun ) mempunyai seorang anak perempuan kecil bernama Cassia Perfetto yang masih berusia 13 tahun. Ya, Ragazza Perfetto dan Belvina cattiva dulu menikah saat sama-sama berusia 19 tahun karena Ragazza Perfetto menghamili Belvina cattiva.
"Apakah selama ini kamu mengajari Cassia belajar di rumah ? Kamu lebih perduli berfoya-foya dengan semua temanmu daripada mengurusi putri kita. Tidak salah jika buruk semua nilai pelajaran Cassia. Mommy macam apa kamu,
Belvina ?"
Ujar Ragazza dingin sembari menatap istrinya yang berdiri dekat sofa.
"Sekali lagi kamu kasari Cassia, maka tidak segan-segan aku tarik semua fasilitas kemewahan. Siap kamu jadi gelandangan, Belvina ?!"
Belvina Cattiva menelan ludah gugup, menunduk.
"Ja-jangan.. Ragazza !"
"Kamu tahu apa imbas jika kamu berlaku kasar pada cassia putri kita, Belvina ?"
Suara rendah Ragazza membawa ketegangan yang pekat di rumah mewah mereka.
"Putri kita nanti bisa makin nakal dan bodoh, Belvina !"
Mendengar perkataan daddy-nya pada mommy-nya, Cassia menggeleng lemah dengan kepala masih menunduk menatap ujung sepatu daddy-nya yang mengkilap.
"Aku tidak bodoh dan tidak nakal, daddy."
Cassia menggigit bibir mungilnya, matanya berkaca-kaca menatap wajah Ragazza daddy-nya, kedua tangan mungilnya meremas rok seragam sekolahnya sendiri. Gadis kecil ini tahu dia kerap berulah mengganggu banyak teman di sekolah dan semua nilai pelajaran juga tidak bisa dibanggakan namun Ragazza daddy-nya sangat menyayangi dirinya bahkan tidak pernah memukul, hanya menasehati. Tapi Cassia kebal dengan semua nasehat Ragazza.
"Cassia putri kesayangan daddy, itu anak cantik yang pintar dan baik.
Ragazza bicara lagi, kini berjongkok di depan putri kecil kesayangannya. Tangannya terulur, mengangkat dagu Cassia hingga tatapan mereka bertemu.
"Buktikan pada Daddy jika kamu pintar dan baik, Cassia anak kesayangan daddy."
Untuk kesekian kalinya, Cassia melihat daddy-nya memelas padanya. Pria yang biasanya hanya bisa menasehati dan mengajaknya jalan-jalan. Cassia gadis kecil saat ini tidak memperdulikan pedulikan Belvina cattiva mommy-nya memasang tampang mengenaskan dan sorot mata penuh emosi membludak.
"Aku janji, pintar dan tidak nakal di sekolah baru, daddy !"
Ucapnya lirih penuh harapan agar daddy-nya mempercayai janjinya.
"Benar kamu janji pada Daddy ?"
tanya Ragazza sambil memperhatikan wajah Cassia putri kecil kesayangannya yang mengangguk.
"Daddy menyayangimu cassia."
Cassia mengangguk lagi dan memeluk erat leher Ragazza.
"Aku juga sayang daddy."
💰
SEMINGGU KEMUDIAN
Hujan lebat mengguyur kota Santiago membuat licin semua jalan. Anya Buona Miller gadis cantik berusia 17 tahun, berjalan dengan tergesa-gesa di koridor sekolahnya, berusaha untuk mencapai masuk ke dalam kelasnya sebelum terlambat. Gadis cantik berambut pirang panjang sepinggang ini, tidak ingin membuat guru kelasnya marah. Sialnya, ketika dia berbelok di sebuah sudut koridor sekolah,
*BRUAKK*
ia tidak sengaja menabrak Cassia Perfetto seorang murid baru yang sedang berdiri kebingungan mencari kelasnya. Cassia terkejut dan berusaha membereskan isi tasnya yang tercecer di lantai. sementara Anya merasa bersalah dan tidak nyaman pada gadis kecil lucu bermata bulat. Anya langsung ikut berjongkok dan membantu memasukan isi tas yang tercecer ke tas Cassia.
"Maaf, aku terburu-buru dan tidak melihatmu berdiri di sini !"
Tukas Anya mengalahkan suara hujan.
"Sudah hampir jam 8 tapi kamu belum masuk kelasmu !"
Lanjut Anya. dengan kebingungan Cassia menatap Anya dengan tatapan tak menentu.
"Aku belum tahu di mana kelasku !"
Ujarnya jujur dengan nada ketakutan
yang bergetar, Anya mengangkat wajahnya dan tersenyum ramah.
"Kamu murid baru ?"
Cassia mengangguk.
"Aku Anya Buona Miller. kelas 12."
Anya menyodorkan tangannya untuk berkenalan,
"Aku Cassia Perfetto kelas 9."
Jawabnya masih gemetar ketakutan sembari menjabat tangan Anya.
"Aku antarkan ke kelasmu ya, Cassia !"
Seketika itu juga wajah Cassia berseri-seri. Anya langsung mengandeng gadis kecil itu menuju ke kelasnya dan mengantarkan masuk ke dalam.
"Sebentar lagi, gurumu masuk kelas. Duduklah di bangku paling depan, Cassia ! Ok, selamat belajar !"
Ucap Anya dengan nada bersahabat, sebelum beranjak keluar kelas.
"Anya, apakah kelasmu di ujung koridor sekolah ini ?"
Tanya Cassia dengan nada agak keras karena suasana kelasnya riuh. Anya menoleh seraya mengangguk pada Cassia yang menatapnya dengan tatapan riang. Bergegas Anya menuju ke kelasnya sendiri.
💰
Kebanyakan para ibu mengantar anaknya yang masih kecil masuk ke sekolah di hari pertama, tapi Belvina Cattiva malah memilih menemui Cattivo kekasihnya daripada mengantarkan Cassia putrinya ke sekolah.
ini uangmu,, sayang !"
Belvina memberikan amplop tebal berisi uang dari dalam tasnya, yang diberikan pada Cattivo.
"Terima kasih, cantik !"
Cattivo tidak hanya meraih amplop dari tangan Belvina tapi juga meraih tubuh sintal kekasihnya sampai jatuh ke dalam pelukannya. Belvina merasa sangat pantas menerima perlakuan menggairahkan dari Cattivo karena ia sudah membayar kekasihnya.
"Aku ingin berendam denganmu Belvina cantik !"
Cattivo melumat bibir Belvina lalu menggendongnya ke kamar mandi.
"Semalam, setelah kamu mengantarku pulang. Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu, Belvina cantik !"
Cattivo melucuti bajunya juga baju kekasihnya.
"Aku cemburu jika kamu bercinta dengan suamimu, Belvina cantik !"
Belvina tertawa kecil, dirinya merasa senang jika Cattivo mencemburuinya.
"Mana mungkin aku bercinta dengan Ragazza suamiku kalau kamu sudah memuaskan aku, Cattivo !"
Belvina berjongkok dan dengan lahap mengulum 'milik' kekasihnya sampai benar-benar mengeras.
"Aku mencintaimu, Belvina cantik. Jangan membuatku cemburu !"
Cattivo menarik tubuh kekasihnya dan dengan kasar mendorong sampai menungging.
"Kamu suka yang kasar kan, Belvina Cantik !"
Cattivo dengan kasar memasukkan 'milik'nya kedua lubang secara bergantian. Mereka berdua benar-benar menikmati permainan sex di kamar mandi. Erangan kenikmatan saling bersahutan memenuhi seisi kamar mandi sampai Pria bertubuh kekar itu tahu dirinya dan kekasihnya akan orgasme segera mempercepat gerakannya.. lalu menekan kuat.
"Ohhh...gilanya goyanganmu, Cattivo sayang !"
"Kita orgasme bersama ya, Belvina cantik !"
Cattivo makin kasar menghujamkan 'milik'nya kemudian menekan kuat dan mengeluarkan semua spermanya. Belvina lupa dengan suaminya dan putrinya, yang ada di benaknya hanyalah bercinta dan berendam berdua di bathtub bersama Cattivo kekasihnya. Belvina benar-benar menikmati waktu berduaan di rumah Cattivo kekasihnya.
Tak terasa, bel istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas namun Anya masih tetap duduk di bangkunya, mengobrol dengan beberapa teman sekelasnya.
"Hai Anya.."
Anya menoleh ke asal suara dan tersenyum ramah.
"Cassia, kamu tidak bermain dengan teman-teman sekelasmu ?"
Dengan lesu, cassia menggelengkan kepalanya. Anya tersenyum lalu mengenalkan cassia pada beberapa temannya.
"Aku bawa bekal roti coklat dan jus leci. Ayo kita makan !"
Anya menyodorkan bekalnya. sembari bertukar cerita, mereka juga saling bertukar bekal. Entah kenapa, Anya merasa dekat dan sayang pada Cassia adik kelasnya yang baru dikenalnya. Demikian pula dengan Cassia yang merasa nyaman dan bahagia di dekat Anya, bahkan sering di jam istirahat, Cassia membawa buku pelajarannya ke kelas Anya. Kadang jika Cassia terlambat muncul, pasti Anya menghampiri Cassia di kelasnya. Kedekatan mereka berdua bagaikan kakak beradik.
💰
ENAM BULAN KEMUDIAN
Bagi Belvina, tiada hari tanpa bertemu dengan Cattivo kekasihnya yang selalu sukses memberikan kenikmatan sex pada dirinya. Seperti saat ini, lagi-lagi Cattivo membikin istrinya Ragazza Perfetto mendesah tiada henti di atas sofa ruang tamu.
"Aahhh... Cattivo... Teruskan....aahhhh..."
Cattivo pun makin mempercepat gerakan pinggulnya.
"Aahhh....aku suka.... Teruskan...aahhh...."
"Kamu suka yang kasar, Belvina cantik !"
Cattivo menarik rambut Belvina lalu melumat bibirnya. Pinggulnya makin bergerak dengan ritme kasar yang makin bertambah cepat.
"Nikmati ini, perempuan binal !"
"Aaahhh...Cattivo...aku
..aku mau klimaks !"
"Ya, kita sama-sama klimaks ya !"
Cattivo menyemburkan cairan putih kentalnya. Mereka berdua sama-sama terkulai lemas.
💰
Dari seberang jalan depan restoran mewah, Anya keluar dari taxi yang baru ia tinggalkan, gadis cantik imut itu mengawasi restoran mewah. Di pejamkan matanya, ia harus menuju ke restoran mewah walau penuh rasa was-was sekaligus ketakutan karena uang yang dibawanya tidak banyak.
(" Apa itu teman putriku ?" )
Desis Ragazza Perfetto dalam hati, matanya menatap tajam gadis itu menyeberang jalan, memasuki halaman restoran mewah hingga ketika langkah kaki itu berhenti tepat di samping mobilnya.
"Cassia, apa itu temanmu ?"
Tanya Ragazza pada putrinya yang asyik bermain game di ponselnya. Cassia mengangkat wajahnya dan menoleh ke luar jendela mobil, melihat temannya yang berdiri di samping mobil.
"Ya, Daddy. Itu temanku !"
Seru Cassia sembari menekan tombol otomatis di pintu mobil hingga kaca jendela mobil bergerak turun. Perlahan-lahan ia mengulurkan tangannya keluar jendela mobil, mencubit lengan temannya.
"Hai Anya..!"
Seru Cassia membuat Anya terlonjak kaget dan menoleh
"Ha ha ha.... Kaget ya ? Aku menunggumu dari tadi, Anya !"
Gadis itu tertawa terbahak-bahak di dalam mobil.
"Kamu di antar siapa, Cassia ?"
Tanyanya sembari mencoba melihat ke dalam mobil.
"Daddy-ku. Yuk kita makan malam bersama, Anya !"
Ucap Cassia, keluar dari mobil di susul Ragazza. Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam restoran mewah, mata elang Ragazza mengawasi putrinya yang tertawa riang dan Anya menggenggam erat tangan putrinya. Sesampai di dalam restoran, seorang pelayan menyambut dan menawarkan tempat di lantai bawah yang meriah karena banyak pengunjung namun Ragazza memilih tempat yang lebih tenang di lantai 2.
"Sebelum kalian belajar, kita makan dulu ya !"
Ragazza memilih menu makanan minuman dari daftar menu yang diberikan pelayan.
"Ya, daddy."
Sahut putrinya yang juga ikut memilih menu makanan. Sedangkan Anya malah asyik duduk bersandar sembari melayangkan pandangannya melihat ruangan restoran. Setelah pelayan restoran berlalu, ia berbisik...
"Cassia, apakah kamu memesankan makanan untukku ?"
"Ya, makanan kita sama. Kalau kamu tidak suka biar aku ganti menu lain saja, Anya !"
"Tidak..tidak. jangan di ganti makanan yang sudah kamu pesan, Cassia. maksudku.."
Anya tidak melanjutkan bicaranya, ia hanya menggigit bibirnya.
"Memangnya kenapa, Anya ?"
Cassia mengernyitkan keningnya, tidak paham maksud temannya yang pelan-pelan menjawab..
"Aku tidak makan di sini. Makanannya dibungkus saja, Cassia."
"Kenapa di bungkus, Anya ?"
"Buat ibuku di rumah, Cassia."