Bab 1

"Saya bisa mencari pengganti kamu. Bahkan lebih baik dari kamu. Apakah kamu pikir hanya kamu yang hebat? Hanya kamu yang bisa merawat ibu saya?"

****

"Saya sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke rumah ini!" teriak Tama. Matanya liar, menengok ke kiri dan ke kanan, menelusuri ruang tamu yang tampak sepi.

Rumah itu berdiri megah di tengah perumahan elite-bangunan dua lantai bergaya kolonial dengan pilar-pilar tinggi di teras depan.

Dindingnya berwarna putih gading, berpadu dengan jendela-jendela besar berbingkai kayu cokelat tua. Taman depan yang biasanya terawat kini tampak sepi, hanya terdengar suara angin menyapu dedaunan kering.

Di dalam, lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang temaram. Lorong-lorong panjang, ruang tamu yang luas dengan sofa beludru abu-abu, dan rak buku tinggi di ruang kerja-semuanya sunyi.

Tak ada suara televisi, tak ada denting sendok di dapur, hanya gema langkah kaki Tama yang terdengar menggema saat ia menyusuri setiap sudut, mencari Ayu yang entah di mana.

Meski besar dan megah, rumah itu hari ini terasa hampa. Dinginnya bukan lagi karena AC yang menyala, melainkan karena kehangatan yang telah hilang dari dalamnya.

"Maunya apa sih kamu, Ayu? Apakah harus  pakai cara keras dulu baru kamu ngerti?!" suaranya semakin lantang saat ia mulai melangkah lebih dalam ke rumah ibunya.

Tama berjalan dengan napas memburu, kakinya menghentak lantai rumah itu. Ia membuka satu per satu ruangan. Dapur kosong. Ruang belakang juga. Tinggal satu tempat yang belum ia cek-kamar ibunya.

"Ceklek ...."

Pintu kamar terbuka keras. Tama berdiri di ambang pintu, matanya langsung menangkap sosok Ayu yang sedang duduk di tepi ranjang. Ia tengah menyelimuti seorang wanita tua yang berbaring lemah-Lestari Widyastuti, ibu Tama.

"Kamu lagi-lagi di sini?!" Tama mendekat dengan tatapan menusuk. "Keluar! Sekarang juga!" Suara Tama sedikit pelan. Namun, tegas.

Ayu menoleh dengan tenang, meskipun jelas terlihat ketakutan. Tapi ia tetap menjaga nada suaranya lembut, "Tolong pelan-pelan, Mas. Ibu baru saja bisa tertidur. Tadi malam beliau gelisah terus."

Tama tidak peduli. Ia meraih pergelangan tangan Ayu dengan kasar, menariknya keluar dari kamar.

"Mas, pelan-pelan ...."

Ayu menoleh sejenak ke dalam kamar, memastikan selimut ibunya Tama tidak tersingkap. Dengan tangan bebasnya, ia menarik pintu perlahan dan menutupnya rapat.

"Ceklek ...."

Sunyi sejenak. Hanya suara napas mereka yang terdengar di lorong rumah itu.

Begitu mereka cukup jauh dari kamar Ibu Lestari, Ayu menghentakkan tangannya, melepaskan genggaman kasar Tama.

"Apa-apaan kamu, Mas, narik aku kayak gini?! Sakit tahu!" Ayu mengusap lengannya yang memerah, matanya memancarkan kemarahan yang selama ini ia tahan.

Tama menatapnya tajam. "Ayu, kamu ngapain lagi di sini, hah?"

"Aku hanya membantu merawat ibumu," jawab Ayu tenang, berusaha tetap sabar meski hatinya berkecamuk.

"Kamu nggak pantas ngerawat ibu saya! Sudah berapa kali saya bilang sama kamu nggak usah ikut campur urusan keluarga saya?! Kamu nggak punya telinga?!"

Tama mengacungkan jarinya tepat di depan wajah Ayu, nadanya sombong dan merendahkan. "Saya bisa cari pengganti kamu. Yang lebih baik, lebih profesional. Kamu bukan siapa-siapa!"

Tama marah besar. Bukan kali pertama ia meminta Ayu meninggalkan rumahnya dan berhenti merawat ibunya.

Setelan kemeja biru yang masih rapi sepulang kerja menambah kesan wibawa. Kata-katanya yang biasanya terdengar tenang dan penuh pertimbangan, kerap membuat orang lain menaruh hormat padanya.

Namun kali ini, amarahnya menghapus semua itu. Kewibawaan yang biasa ia jaga, luluh lantak oleh emosi yang meledak tanpa kendali.

Ayu mengatupkan rahangnya, menahan amarah. Tapi kali ini, ia tak bisa diam.

"Aku nggak butuh izin darimu untuk membantu ibumu. Aku di sini karena Ibu Lestari sendiri yang memintaku."

Tama melotot, suaranya meninggi. "Kamu pikir kamu siapa?! Berani-beraninya kamu melawan saya!"

Ayu menghela napas, lalu menatap Tama dengan dingin. "Aku tahu siapa kamu. Anak dari ibu yang sedang tertidur itu. Tapi aku nggak ngerti-kenapa kamu harus selalu merasa paling tinggi dan merendahkan orang lain?"

"Kamu bukan dewa, Tama. Dan tidak semua orang di dunia ini akan tunduk di bawah kakimu!"

Tama mengepalkan tangannya, merasa harga dirinya diinjak.

"Kamu nggak tahu tempat kamu di rumah ini! Kamu cuma dokter rendahan! Jangan sok bicara seperti kamu tahu segalanya!"

"Tapi aku tahu satu hal," sahut Ayu cepat, "Aku punya hati nurani. Dan aku peduli dengan ibumu. Sementara kamu? Datang-datang cuma bisa marah dan menyuruh orang pergi. Kapan terakhir kali kamu duduk dan bicara dengan ibumu? Tahu kamu, beberapa bulan yang lalu, beliau menahan sakit sendiri!"

Perkataan Ayu membuat Tama tersentak. Namun, egonya tak mau kalah.

"Saya nggak mau dengar ocehan kamu lagi. Sekarang juga, pergi dari rumah ini!" bentaknya sambil menunjuk ke arah pintu.

Ayu menatapnya tajam, lalu membalas, "Aku nggak akan pergi. Selama Ibu Lestari masih butuh aku, aku akan tetap di sini."

"Kalau kamu nggak keluar sekarang, aku akan panggil polisi!" ancam Tama.

"Silakan!" balas Ayu, matanya menyala. "Aku nggak takut! Aku di sini karena permintaan ibumu. Bukan kamu. Dan hanya Ibu Lestari yang punya hak untuk menyuruhku pergi. Bukan kamu!"

Tama melangkah maju, jarinya menunjuk tajam ke wajah Ayu.

"Kamu akan menyesal, Ayu. Aku akan tunjukkan siapa aku sebenarnya! Dan saat penyesalan itu datang, jangan harap aku akan memaafkanmu!"

Ayu hanya mendengus. "Aku nggak peduli," katanya dingin, lalu berbalik meninggalkan Tama.

Tama menatap punggung Ayu dengan amarah yang membara.

"Saya akan buat kamu menyesal seumur hidupmu!" teriaknya.

Ayu tak menoleh. "Ancamanmu nggak akan menghentikanku," jawabnya lantang, lalu melangkah mantap menjauh. Ia langsung pergi ke kamarnya.

'Laki-laki aneh ...,' gumam Ayu dalam hati sambil duduk di tepi ranjang. Tangannya sibuk merapikan tempat tidur dengan sapu lidi, membenahi seprai, lalu menggemburkan bantal yang terlihat agak kempes.

'Sejak pertama kali ketemu dia beberapa bulan lalu, sikapnya nggak pernah berubah. A rogan, pemarah, dan sombong. Sekarang malah makin menjadi-jadi,' pikirnya, sembari menggeleng pelan.

Ayu mendesah pelan, lalu menepuk-nepuk bantal sebelum merebahkan diri.

"Kasihan Ibu Lestari ... gimana nggak makin sakit, kalau anaknya kayak gitu?" bisiknya lirih, nyaris seperti gumaman pada dirinya sendiri.

Ia menatap langit-langit kamar, tatapannya kosong tapi pikirannya sibuk.

"Pantes aja nggak ada perawat yang tahan lama kerja di sini. Baru liat anak bosnya aja pasti langsung mikir dua kali. Kalau  bukan karena janji sama Mama dan permintaan Ibu Lestari, mungkin aku juga udah pergi."

Ayu menghela napas dalam-dalam. Ia bisa merasakan dadanya sesak. Amarah dan lelah bercampur jadi satu.

"Yang sabar, Yu ... kamu pasti bisa," ujarnya lirih, menenangkan dirinya sendiri. "Ini semua karena Mama ... dan demi Ibu Lestari juga. Sahabat sejati Mama ... aku harus kuat."

Ia menutup mata perlahan, berusaha menarik napas tenang dan mengusir bayangan wajah Tama dari benaknya.

Malam kian larut. Suasana rumah sunyi. Detik demi detik berlalu, suara jangkrik samar terdengar dari luar jendela.

Tiba-tiba, pintu kamar berderit pelan ... nyaris tak terdengar.

Seseorang melangkah masuk perlahan.

Bayangan tubuh tinggi berdiri di sisi tempat tidur Ayu. Tangannya menggenggam erat sebuah bantal.

Tanpa suara, sosok itu mendekat-dan dalam sekejap, bantal itu diangkat tinggi, siap ditekan ke wajah Ayu yang sedang tertidur pulas ....

Srettt-

***

"Amarah adalah api yang membakar diri sendiri, jika tidak dikendalikan, maka akan menghancurkan segalanya."

Bab 2

"Ingat ya, saya beri kamu satu bulan untuk mencari tempat tinggal baru. Kamu harus tinggalkan rumah ini. Kamu pikir rumah ini yayasan, menampung orang gratis."

****

'Kalo dengan perkataan halus kamu nggak ngerti juga, mungkin harus dengan cara seperti ini,' suara Tama terdengar penuh amarah. Matanya liar, dan wajahnya merah karena emosi.

'Dengan sedikit kekerasan, kamu pasti lebih paham. Lebih baik kamu rasakan ini, dan kita akhiri semuanya! Kamu cuma penghalang masa depan dan cita-cita saya!'

Tiba-tiba-Tama menenggelamkan wajah Ayu ke dalam bantal.

"HUAAHH!"

Ayu terbangun dengan napas memburu. Wajahnya pucat, keringat membasahi keningnya. Matanya nanar menatap sekeliling kamar yang gelap dan sunyi.

"Untung aja ... semuanya cuma mimpi," desah Ayu dengan suara gemetar.

Dadanya masih berdebar. Mimpi itu terasa sangat nyata-seseorang ingin menghabisinya.

"Ini sudah mimpi buruk yang ketiga ... ada apa sebenarnya? Kenapa perasaanku nggak enak terus?" gumamnya sambil memegang dada. Ia teringat mimpi semalam: seperti serigala yang seolah siap menerkamnya hidup-hidup.

Ayu bangkit dan segera membersihkan diri. Setelah itu, seperti biasa, sebelum matahari terbit, ia sudah bersiap ke dapur untuk menyiapkan makanan buat Ibu Lestari dan semua penghuni rumah.

"Pagi, Bi," sapa Ayu sambil tersenyum saat melihat Bi Inah sudah sibuk di dapur.

"Pagi, Mbak Ayu. Hari ini kita mau masak apa?" tanya Bi Inah sambil merebus air seperti biasa.

"Oh ya, Bi. Aku sudah buatkan roster menu, sudah aku tempel di pintu kulkas. Bibi bisa mulai siapkan bahannya, ya. Nanti aku yang masak."

Ayu menunjuk ke arah kulkas, lalu mulai membuka rak untuk mengambil bahan masakan.

"Baik, Mbak," jawab Bi Inah patuh.

Sudah hampir setahun Ayu tinggal di rumah Ibu Lestari. Mamanya, memintanya membantu sahabat lamanya itu. Sejak Ayu lulus dan ditugaskan di rumah sakit kota ini sebagai dokter gizi, mamanya menitipkan Ayu untuk membantu Ibu Lestari menjalani diet ketat karena komplikasi diabetes.

'Dia sudah banyak bantu kita, Yu,' kata sang ibu suatu hari.

'Terutama setelah papamu meninggal. Kamu bisa kuliah juga karena bantuan beliau.'

Ayu masih mengingat jelas pesan itu.

"Kalau bukan karena dua wanita hebat dalam hidupku-Mama dan Ibu Lestari-nggak mungkin aku tahan disini. Apalagi harus ketemu si-srigala sombong itu," gerutunya.

Ia kesal teringat kejadian semalam. Harga dirinya diinjak habis-habisan oleh Tama.

"Sum-pah, kalo bukan karena ingat sama dua wanita itu, udah ku sobek mulut si-Tama itu!" desisnya sambil memotong wortel dengan gerakan kasar. Seolah-olah wortel itu adalah wajah Tama.

Beberapa menit kemudian, semua menu sarapan telah siap di meja makan.

"Akhirnya, beres semua ya, Mbak," ujar Bi Inah sambil menyeka tangannya.

"Iya, Bi. Makasih ya, udah bantuin Ayu," jawab Ayu dengan senyum tipis, mencoba menekan kekesalannya.

Biasanya, Ayu mengurus semua sendiri. Tapi karena Tama menginap di rumah ibunya hari itu, Bi Inah ikut membantunya.

"Mbak Ayu belum siap-siap berangkat kerja? Biar bibi yang lanjut beresin di sini."

Ayu langsung mengangguk cepat. "Oke Bi, makasih ya. Aku beres-beres dulu."

Ia melangkah cepat, nyaris berbisik, lalu masuk ke kamarnya dengan terburu-buru. Ia harus menghindari pertemuan pagi itu dengan Tama-demi menjaga ketenangan Ibu Lestari.

Biasanya, Tama hanya mampir menengok ibunya sebulan sekali-itu pun tanpa menginap. Tapi kali ini berbeda. Sudah dua kali dalam sebulan ia datang, bahkan memilih untuk bermalam.

"Mudah-mudahan si-sombong itu belum bangun. Biar gak bikin mood aku rusak pagi-pagi begini," gumam Ayu sambil merapikan riasan di depan cermin, sikapnya tampak terburu-buru.

Ia memang tak tahu pasti jam berapa biasanya Tama bangun pagi. Selama ini mereka hampir tak pernah bertemu, apalagi menginap di rumah yang sama.

"Beres, deh," ujarnya pelan, memeriksa penampilannya sekali lagi sebelum beranjak.

Ketika Ayu sudah berangkat kerja, Tama keluar kamar dan menghampiri Ibunya.

"Bu, gimana kesehatannya?"

Tama bertanya serius sambil menyantap sarapan yang disiapkan Ayu.

Ibu Lestari, seperti biasa, memahami situasi. Setiap kali Tama datang, ia selalu membiarkan Ayu tidak bergabung di meja makan, demi menjaga suasana hati putranya.

"Ibu baik, bahkan jauh lebih baik sejak Dokter Ayu merawat Ibu. Ibu bersyukur sahabat Ibu punya anak gadis yang baik, pintar, dan perhatian seperti Ayu."

Ucapan itu sengaja diutarakan Ibu Lestari dengan nada hangat, memuji Ayu tanpa ragu. Ia ingin Tama menyadari betapa penting dan nyamannya kehadiran Ayu bagi dirinya.

"Tapi Bu ... Ibu mau pertimbangkan usulan Tama, ya? Tama punya kenalan dokter yang jauh lebih bagus dari si-gadis kampung itu."

Nada Tama terdengar dingin. Ia tetap berusaha membujuk sang ibu agar mengganti Ayu.

"Ibu, 'kan selalu nurutin kamu, Tam. Tapi hasilnya? Nggak pernah benar-benar memuaskan, 'kan? Sekarang Ibu sudah cocok dengan Ayu. Kenapa sih kamu nggak coba bersikap baik sama dia?"

"Gadis kampung songong itu? Bersikap baik? Duh, Ibu ada-ada aja. Dia itu lebih cocok jadi pembantu daripada dokter!"

Tama mendengus kesal, sudah beberapa kali ia mencoba meyakinkan ibunya-dan selalu gagal.

"Tama, dengar Ibu baik-baik. Ibu jauh lebih sehat sekarang sejak Ayu di sini. Lihat sendiri, 'kan? Dulu hampir tiap bulan Ibu harus dirawat di rumah sakit. Sekarang? Sejak Ayu merawat, Ibu nggak pernah masuk rumah sakit lagi."

"Tapi Bu-"

"Sudahlah, Tama. Ibu nggak mau bahas ini lagi. Ibu mau siap-siap. Hari ini Ibu ada kegiatan, dan Bi Inah yang akan antar. Kamu nggak kerja, Tam?"

"Iya Bu, nanti. Ibu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Tama."

"Mm ... kamu juga hati-hati, ya."

Ibu Lestari bangkit dari meja makan dan berjalan ke kamar untuk bersiap-siap.

Tak berapa lama Ibu Lestari dan Bi Inah sudah beranjak pergi dari rumah itu dan tinggal Tama sendirian di rumah.

Rumah terasa sangat sepi. Semua penghuni telah menjalani aktivitas masing-masing.

Tama sengaja tidak ke kantor hari ini. Ia memilih bekerja dari rumah ibunya, setelah sebelumnya menyerahkan sebagian tugas pada sekretarisnya.

"Gimana caranya meyakinkan Ibu, ya?" gumamnya sambil mondar-mandir di ruang tamu. "Kayaknya makin susah aja. Harus cari strategi lain. Tapi apa?"

Ia menghentikan langkahnya, wajahnya tampak serius. Sepanjang hari, di tengah kesibukannya, pikirannya terus dipenuhi upaya mencari solusi-hingga tanpa sadar, hari telah beranjak sore.

"Ya ... satu-satunya cara adalah mendesak Ayu-si anak kampung itu-untuk pergi dari rumah ini. Bagaimana pun caranya."

Tiba-tiba-

Ceklek.

Suara pintu depan terbuka.

Ayu baru saja pulang kerja, tanpa tahu bahwa Tama masih berada di rumah.

"Enak ya kamu, pulang kayak di rumah sendiri," sindir Tama lantang dari ruang tengah.

Ayu terkejut. Ia tidak menyangka pria itu masih di sana.

"Ya ampun, ngagetin aja! Mas, Kamu tuh kayak hantu. Nggak ada kerjaan, ya? Nungguin orang buat disindir?"

Ayu berusaha tetap tenang, meski jelas tampak lelah. Ia malas meladeni pria yang sejak awal hanya ingin mengusirnya.

Tama melangkah mendekat.

"Eh, makin nggak tahu diri. Jalan aja ngeloyor gitu, nggak ada sopan-sopannya."

Tama kehilangan kesabaran.

"Ayu Putri Wulandari! Saya mau bicara serius. Dengarkan saya!"

Ia mendekat cepat dan menarik lengan Ayu dengan kasar. Tubuh Ayu kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam pelukannya.

Keduanya terdiam sejenak. Mata mereka saling bertemu, ada kekakuan dalam tatapan yang tak sengaja terkunci itu.

"Ih! Apa-apaan sih kamu, Mas? Main tarik aja!"

Ayu langsung menjauh, berusaha menjaga jarak.

"Ingat ya," kata Tama, nadanya tajam. "Saya kasih kamu waktu satu bulan. Cari tempat tinggal lain. Kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Ini bukan yayasan sosial buat orang nggak jelas."

Ayu membalas dengan tatapan tajam.

"Dengar ya, Tuan Tama yang terhormat. Saya akan sangat senang pergi dari rumah ini. Nggak usah tunggu bulan depan, hari ini pun saya bisa pergi. Tapi saya akan dengar keputusan Ibu Lestari. Bukan kamu."

Tama makin geram.

"Saya nggak peduli! Pokoknya, sebulan lagi kamu harus pergi. Atau jangan-jangan kamu punya niat lain, ya? Kamu mau rebut harta Ibu saya? Nunggu ibu saya lengah, baru kamu main licik?"

Ayu mengepalkan tangan, menahan amarah.

"Sudahlah, kamu makin ngelantur, Mas!"

Ia berbalik, meninggalkan Tama begitu saja.

Tama mengejarnya, ia menarik baju Ayu hingga sobek dan terbuka bagian lengannya ... Tapi mendadak-

"Aw!"

KREKK!

Kainnya robek. Lengan Ayu terbuka.

Ayu membeku. Matanya menatap Tama dengan campuran syok dan amarah.

Tama pun terdiam. Hening.

Tiba-tiba-

"TAMA!"

Suara itu membelah udara.

Mereka menoleh bersamaan.

Seseorang berdiri di ambang pintu.

Wajahnya tegang. Matanya menajam.

Dan langkahnya mulai mendekat.

***

"Wanita harus kuat dalam menghadapi kesulitan, karena kekuatan itu akan membuatnya menjadi lebih tangguh dan mandiri."

Bab 3

"Kamu pikir saya senang gitu? Trus melompat-lompat bahagia bisa menikahi si-super sombong. Nggak sudi. Cuh ...!"

****

'Kamu bisa paham nggak sih, dengan bahasa manusia? Saya udah bilang berkali-kali, cepat angkat kaki dari sini. Kami nggak butuh pembantu model kayak kamu. Saya bisa cari orang yang seratus kali lebih baik dari kamu!'

Ucapan kasar Tama itu terus terngiang di kepala Ayu. Sambil berjalan pelan, ia menengok ke kiri dan kanan-mencari-cari apakah sosok menyebalkan itu masih ada.

"Huuh ... untung aja si-sombong itu udah pulang. Aman," gumam Ayu lega. "Nunggu bulan depan baru nongol lagi. Kayak je lang kung- datang nggak diundang, pulang pun nggak diantar. Ih ...."

Ia bergidik sendiri, membayangkan betapa menyeramkannya kalau harus berhadapan dengan Tama lagi.

Tak lama, Ayu berkeliling sambil membawa nampan berisi teh herbal dan camilan sehat buatan sendiri.

"Ibu di mana ya? Dari tadi dicari nggak kelihatan," gumamnya pelan sambil menyusuri sudut-sudut rumah.

Begitu sampai di teras, matanya langsung menangkap sosok Ibu Lestari yang tengah duduk menikmati udara sore.

"Eh, Ibu ternyata di sini toh! Ayu cari-cari dari tadi. Baru pulang, Bu? Gimana kegiatannya hari ini?"

Ayu segera menghampiri, lalu meletakkan nampan di meja kecil di sebelah Ibu Lestari.

"Nih Bu, teh herbal hangat dan camilan sehat. Semuanya aman untuk Ibu," ucap Ayu sambil tersenyum hangat.

Ibu Lestari membalas senyuman Ayu, lalu menepuk sisi kursi rotan di sebelahnya.

"Sini duduk di samping Ibu, Yu."

"Terima kasih, ya, untuk tehnya."

Ayu duduk, dan Ibu Lestari mengambil cangkir yang disodorkan dengan tangan ringan.

"Ibu senang banget hari ini ...," ucapnya, matanya tampak berbinar.

Ayu menoleh penasaran.

"Tadi Ibu ketemu istri-istri teman almarhum suami Ibu. Sudah lama banget nggak ngobrol sama mereka. Rasanya seperti nostalgia."

Senyuman lebar mengembang di wajah Ibu Lestari. Wajahnya tampak cerah-jauh dari kesan lelah.

Ayu ikut tersenyum. Momen seperti itu membuat semua rasa lelahnya seolah terbayar.

"Tahu nggak, Yu? Teman-teman Ibu tadi semuanya diantar cucu dan menantu. Ibu senang banget lihat mereka. Menantunya sopan-sopan dan sayang sama mertuanya," ujar Lestari sambil tersenyum lebar.

Matanya berbinar, penuh kebahagiaan yang seolah ikut menular.

"Lucunya lagi, ada yang bawa cucu kembar. Eh, mereka minta digendong sama omanya. Aduh ... gemes banget!"

Lestari tertawa pelan, tapi tanpa ia sadari, tawa itu perlahan berubah. Air matanya jatuh membasahi pipi.

Ayu yang duduk di sampingnya ikut terdiam, merasakan perubahan suasana yang tiba-tiba.

Wajah Lestari tertunduk. Nada suaranya berubah sendu.

"Tapi Ibu dan mamamu mungkin nggak seberuntung mereka, Yu. Kami nggak tahu ... umur kami sampai kapan. Apakah kami masih sempat melihat anak-anak kami menikah? Punya cucu? Apalagi Ibu, yang sudah sakit-sakitan begini ...."

Itulah unek-unek yang selama ini ia pendam.

Ayu mengelus lembut punggung Lestari.

"Sabar ya, Bu. Ayu yakin ... nggak lama lagi Mas Tama pasti bertemu jodohnya. Ibu jangan sedih, ya?"

Lestari mengangguk lemah, lalu berkata pelan, "Ibu takut, Tama salah pilih. Dia hanya melihat dari tampilan luar. Dia nggak bisa lihat hati orang. Nggak semua yang cantik itu baik, Yu. Harus lihat bibit, bebet, dan bobot."

Air matanya kembali menetes.

Ayu meraih tangan Lestari. "Kita sama-sama doain, ya Bu. Allah pasti kirimkan yang terbaik buat Mas Tama. Dan buat Ibu juga ... menantu yang bisa sayang seperti anak sendiri."

Ia memeluk wanita paruh baya itu sambil mengusap air matanya dengan saputangan.

Tiba-tiba Lestari duduk lebih tegak. Wajahnya serius.

"Maka dari itu, Ibu dan mamamu sudah sepakat dalam satu hal."

Ayu menoleh dengan bingung, tapi masih tersenyum.

"Kami mau menjodohkan kalian."

Ayu tercekat. "Uhuk! Uhuk!" Ia tersedak minuman yang baru saja ia teguk.

"Kamu pelan-pelan dong, minumnya," Lestari mengelus punggung Ayu.

"Maksud Ibu ...?" tanya Ayu, memastikan apa ia salah dengar.

"Iya, Yu. Kami sepakat mau menjodohkan kamu dan Tama."

"Tapi Bu ...."

Ayu tampak gugup. Ia mencari cara untuk menanggapi tanpa menyakiti hati Lestari.

"Ibu bercanda, 'kan? Ayu yakin Mas Tama sudah punya calon. Kita tunggu aja Bu, siapa tahu sebentar lagi Tama kenalkan orangnya."

"Ibu dan mamamu takut dapat menantu yang salah. Yang cuma sayang sama pasangan, tapi galak sama mertua. Ibu nggak sanggup kalau harus ngerasain itu."

Wajah Lestari terlihat cemas.

Ayu berusaha mencairkan suasana.

"Duh, Ibu sih kebanyakan nonton sinetron India. Jadi baper terus. Hahaha ...."

Ia mengelus punggung Lestari, mencoba menenangkan.

"Ibu harus hargai keputusan Mas Tama. Yang jalani rumah tangga, 'kan dia. Kita cukup mendoakan yang terbaik, bukan memaksakan."

"Tapi ... Ibu tetap yakin, orangtua bisa tahu mana yang cocok untuk anaknya."

Ayu hanya tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan.

Ia memilih mengalah untuk mengakhiri pembicaraan itu. Karena kalau dilawan, diskusi ini tak akan ada habisnya.

"Ayo, Bu. Kita makan malam. Ayu sudah siapkan semuanya," ucap Ayu lembut.

Namun, Ibu Lestari menahan langkahnya, menatap Ayu serius.

"Janji ya, Yu. Kamu akan pertimbangkan rencana perjodohan kami?"

Ayu tersenyum menenangkan, meski hatinya bergejolak.

"Iya, Bu. Ayu janji akan pikirkan baik-baik. Ibu jangan khawatir, ya ...."

Ia lalu membantu Ibu Lestari berdiri. Senyumnya tetap terjaga, meski pikirannya dipenuhi keresahan. Ia tak ingin Lestari terbebani, apalagi sampai jatuh sakit.

Saat mereka berjalan menuju ruang makan, Ayu menggumam dalam hati:

'Dijodohkan sama si-Sombong? Apa kata dunia? Belum kiamat, aku udah duluan masuk neraka! Ini nggak boleh terjadi. Nggak bisa.'

Namun langkahnya terhenti.

"Eh ... ayo dimak-"

Ucapan Ayu terputus. Tama tiba-tiba datang dan langsung duduk manis di meja makan, dengan wajah penuh senyum.

"Selamat malam, Bu. Ayo kita makan?" katanya riang.

Senyumnya lebar, seperti baru dapat kabar gembira.

Lestari dan Ayu saling berpandangan-heran.

Tama biasanya ogah menyentuh makanan rumah, tapi kini malah tampak seperti pelanggan tetap.

"Mmm ... enak banget," gumam Tama sambil terus makan. "Bi Inah, besok tolong bawain bekal ke kantor, ya."

"Iya, Den," jawab Bi Inah dari dapur sambil mencuci piring.

Tama menikmati setiap suapan. Ia bahkan memuji masakan yang sebenarnya ... bukan buatan Bi Inah. Tapi Ayu.

"Ibu les-in Bi Inah masak, ya? Sekarang masakannya naik kelas," katanya polos.

Ayu dan Lestari hanya diam, menahan senyum. Mereka tahu, jika Tama tahu itu buatan Ayu, pasti langsung dihina tanpa ampun.

Setelah makan, suasana agak cair. Namun, Ayu memilih diam, seperti biasa-tak ingin menyulut api yang bisa meledak kapan saja.

Malam semakin larut. Saat semua penghuni rumah sudah tertidur, ketukan terdengar di pintu kamar Ayu.

"Tok ... tok ... tok ...."

"Ayu, keluar. Temui saya di teras. Bikin kopi."

Dengan malas, Ayu menurut. Ia tahu Tama tak akan berhenti kalau tak dituruti.

Tama duduk di kursi teras, menyambut kopi buatan Ayu dengan ekspresi puas.

"Duduk kamu," katanya tajam sambil menyeruput.

Lalu, nada suaranya berubah dingin-tajam seperti pisau.

"Dengar baik-baik. Jangan kamu besar kepala karena Ibu saya selalu belain kamu. Jangan GR soal perjodohan itu. Kamu cuma numpang di rumah ini. Lebih baik angkat kaki sebelum kebusukan kamu dan Ibu kamu ketahuan. Pake alasan 'sahabat' buat nyuci otak Ibu saya? Hah!"

Ayu mengepalkan tangan. Darahnya naik.

"Kamu pikir saya senang? Melompat kegirangan bisa nikah sama pria super sombong, super nyebelin kayak kamu? Gak sudi! Cuh ...!"

Ayu berdiri dengan mata menyala. Ia ingin meledak.

Tapi demi Ibu Lestari, ia menahan segalanya. Ia hanya ingin masuk kamar dan menenangkan diri.

Namun, Tama menahan.

"Yu ... Ayu! Saya belum selesai bicara! Kamu mau ke mana?" suaranya meninggi.

Ayu terus berjalan. Bahunya menegang.

Namun, tanpa sengaja kaki Ayu tersandung oleh kaki meja dan membuat tubuhnya terhuyung jatuh ke arah Tama dan jatuh dalam pelukan Tama.

'Eh ... Kok bisa begini sih?' sahut Ayu dalam hati.

Dan tiba-tiba, Tama mendekatkan wajahnya.

Napas mereka nyaris bertemu. Ayu membeku.

Lalu ....

****

"Mendengarkan bukan berarti menyetujui, tapi menunjukkan rasa hormat."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED