Bab 2

Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis, namun di hati Risa, kabut itu jauh lebih pekat. Ultimatum Nyonya Pramudya tentang keturunan terasa seperti belenggu yang mengencang di lehernya. Enam bulan. Itu bukan waktu yang lama, apalagi dengan kondisi pernikahannya yang jauh dari normal. Bagaimana mungkin ia bisa menghasilkan keturunan dengan seorang pria yang terasa seperti orang asing, yang memiliki begitu banyak lapisan rahasia?

Risa duduk di meja sarapan, memandangi hidangan mewah yang disajikan, namun nafsu makannya hilang entah ke mana. Dhimas duduk di seberangnya, seperti biasa, tampak patuh dan pendiam di bawah pengawasan ketat sang ibu. Ia mengenakan kemeja biru muda yang disetrika licin, rambutnya tersisir rapi, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, membuat matanya tampak kecil dan lesu. Risa mencoba mencari secercah emosi, sedikit petunjuk dari Dhimas yang ia lihat di taman atau di ruang musik, tapi nihil. Yang ada hanya sosok yang datar, seolah tak bernyawa.

"Risa, kenapa sarapanmu tidak disentuh?" suara Nyonya Pramudya memecah keheningan, menusuk telinga Risa.

"Saya... saya tidak lapar, Bu," jawab Risa pelan.

"Jangan mencari alasan. Kamu harus menjaga kesehatan. Bagaimana bisa hamil jika kamu kurus kering seperti ini?" Nyonya Pramudya menatapnya tajam, seolah Risa adalah seekor kuda pacu yang harus dijaga performanya.

Risa merasakan pipinya memanas. Dhimas hanya menunduk, sibuk dengan rotinya. Tidak ada pembelaan, tidak ada tatapan pengertian. Ini semakin memperkuat keyakinan Risa bahwa Dhimas yang asli tersembunyi jauh di balik topeng yang ia kenakan di hadapan ibunya.

Setelah sarapan, Risa memutuskan untuk melarikan diri ke kamarnya. Ia meraih kameranya, benda yang dulu selalu memberinya kebahagiaan. Dulu, ia akan memotret keindahan alam, ekspresi jujur dari hewan liar, atau detail kecil yang sering terlewatkan. Kini, kameranya terasa dingin di tangannya, seolah semua kreativitasnya telah mati suri.

Ia membuka laptopnya, menelusuri folder-folder lama berisi foto-fotonya saat menjelajah hutan, mendaki gunung, atau menyelam di lautan. Setiap foto adalah pengingat akan kebebasan yang kini terenggut. Rasa rindu pada kehidupan lamanya membuncah, bercampur dengan frustrasi dan ketidakpastian. Ayahnya, yang menjadi alasan utama ia terjebak dalam situasi ini, masih dirawat di rumah sakit. Setidaknya, ia tahu bahwa ayahnya mendapatkan perawatan terbaik berkat pengorbanannya. Pengorbanan yang terasa semakin berat setiap harinya.

Risa tahu ia tidak bisa terus-menerus meratapi nasib. Ia adalah Risa, yang selalu menemukan cara untuk bertahan hidup di tengah badai. Ia harus mencari tahu. Ia harus memahami Dhimas. Karena jika ia harus berjuang untuk keturunan, ia tidak bisa melakukannya dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenal.

Malam harinya, Risa memutuskan untuk menjalankan misinya. Ia tahu Dhimas sering keluar di malam hari, menyelinap tanpa sepengetahuan ibunya. Risa berpakaian sesederhana mungkin: kaus hitam, celana jins, dan jaket kulit kesayangannya. Ia menunggu dengan sabar di kamarnya, telinganya waspada terhadap setiap suara.

Sekitar pukul sebelas malam, ia mendengar langkah kaki pelan dari kamar sebelah. Jantungnya berdegup kencang. Itu pasti Dhimas. Risa mengintip dari celah pintu. Ia melihat Dhimas keluar dari kamarnya, mengenakan jaket kulit hitam, celana jins gelap, dan topi beanie yang menutupi sebagian rambutnya. Ia terlihat berbeda, lebih muda, lebih misterius. Tanpa kacamata.

Risa menunggu beberapa menit setelah Dhimas pergi, lalu ia menyelinap keluar. Ia mengikuti Dhimas dari jarak yang aman. Dhimas berjalan cepat menuju garasi, menyalakan motor sport-nya, dan melesat pergi. Risa dengan cepat memanggil taksi daring. Ia memberikan instruksi pada sopir untuk mengikuti motor Dhimas, menjaga jarak agar tidak terlihat.

Perjalanan itu membawa mereka ke sebuah klub malam di kawasan elit kota. Lampu-lampu disko berkedip-kedip, suara musik menghentak memenuhi udara, dan aroma alkohol serta keringat bercampur menjadi satu. Risa tak pernah menyangka Dhimas akan berada di tempat seperti ini. Dhimas yang patuh itu? Mustahil.

Risa turun dari taksi, membayar ongkosnya, lalu berjalan masuk ke dalam klub. Suasana di dalamnya lebih hingar-bingar dari yang ia bayangkan. Orang-orang menari tanpa beban, tertawa, dan minum. Risa mencari-cari Dhimas di antara kerumunan.

Ia menemukannya di sudut bar, dikelilingi oleh beberapa pria dan wanita. Dhimas tertawa, tawa yang lepas dan penuh kebebasan, tawa yang tidak pernah Risa dengar sebelumnya. Ia memegang segelas minuman di tangannya, dan ekspresinya jauh dari kesan datar. Ia terlihat tampan, karismatik, dan seolah tidak ada beban di pundaknya.

Di sampingnya, seorang wanita berambut pirang panjang yang mengenakan gaun minim tertawa genit, sesekali menyentuh lengan Dhimas. Jantung Risa mencelos. Sebuah rasa sakit yang aneh menyeruak di dadanya. Apakah ini kecemburuan? Atau hanya rasa terkejut akan realitas baru yang ia lihat?

Risa mengamati Dhimas yang lain. Dhimas yang ini adalah Dhimas yang berani, yang menikmati hidup, yang mungkin selalu ia impikan untuk ia temui dalam dirinya sendiri. Ironisnya, pria ini adalah suaminya, dan ia adalah bagian dari rahasia yang ia sembunyikan.

Tiba-tiba, mata Dhimas bertemu dengan mata Risa. Senyum di bibirnya memudar, digantikan oleh ekspresi terkejut, lalu marah. Ia segera berpamitan dengan teman-temannya, menyerahkan minumannya pada wanita pirang itu, dan berjalan cepat ke arah Risa.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" desis Dhimas, menarik lengan Risa ke arah sudut yang lebih sepi. Musik yang menghentak membuat suaranya nyaris tak terdengar.

"Aku mengikutimu," jawab Risa jujur, tidak ada gunanya berbohong.

"Kenapa? Kamu mata-mata Mama?" Dhimas menatapnya tajam, matanya memancarkan kemarahan.

"Bukan! Aku hanya... penasaran. Aku ingin tahu siapa suamiku sebenarnya," Risa membalas, nadanya tak kalah tajam. "Kamu memiliki begitu banyak wajah, Dhimas. Aku tidak bisa hidup dengan seseorang yang aku tidak kenal!"

Dhimas menghela napas panjang, frustrasi terlihat jelas di wajahnya. "Aku sudah bilang, Risa. Ada hal-hal yang tidak bisa kamu mengerti."

"Kalau begitu, jelaskan padaku! Beri aku kesempatan untuk mengerti!" Risa mendesak. "Siapa wanita tadi?"

Wajah Dhimas mengeras. "Dia tidak ada hubungannya denganmu."

"Tentu saja ada! Aku istrimu! Dan aku tidak akan membiarkan suamiku-"

"Kamu bukan istriku dalam arti sebenarnya, Risa!" Dhimas membentaknya, suaranya naik beberapa oktaf. "Pernikahan ini hanya formalitas! Aku setuju karena Mama mendesak! Aku setuju karena kamu adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan ayahmu! Jangan berharap lebih!"

Kata-kata itu menghantam Risa seperti tamparan. Sakit, sangat sakit. Ia tahu pernikahan ini adalah kontrak, tapi ia tidak menyangka Dhimas akan begitu kejam. Air mata mulai menggenang di matanya, namun ia menahannya mati-matian. Ia tidak akan menangis di depan pria ini.

"Lalu kenapa kamu menyembunyikannya dariku?" suara Risa bergetar. "Kenapa kamu terus bersembunyi di balik topeng?"

Dhimas membuang muka. "Itu tidak penting."

"Penting bagiku, Dhimas! Aku harus hidup di rumah itu, di bawah pengawasan ibumu, dengan ultimatum darinya! Sementara kamu... kamu hidup bebas di sini, dengan teman-temanmu, dengan wanita-wanita itu!"

Mata Dhimas kembali menatap Risa. Ada kilatan penyesalan di dalamnya, tapi segera menghilang. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku, Risa. Apa yang kamu lihat hanyalah permukaan."

"Kalau begitu, biarkan aku melihat dalamnya! Biarkan aku mengerti!" Risa nyaris berteriak.

Dhimas menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Semakin kamu tahu, semakin berbahaya bagimu."

"Berbahaya?" Risa mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Dhimas tidak menjawab. Ia melirik jam tangannya. "Aku harus pergi. Kamu pulang sendiri."

"Tidak! Aku tidak akan pulang sebelum kamu menjelaskan!" Risa mencekal lengannya.

Dhimas menatapnya dengan tatapan putus asa. "Risa, kumohon. Jangan mempersulit keadaan. Ada banyak hal yang sedang terjadi. Dan kamu... kamu akan lebih aman jika tidak terlibat."

Tanpa menunggu jawaban Risa, Dhimas melepaskan cekalan Risa dan melangkah pergi, menghilang di antara kerumunan. Risa ditinggalkan sendirian di tengah hiruk pikuk klub malam, hatinya hancur berkeping-keping.

Risa pulang dengan taksi, kepalanya pusing bukan main, bukan hanya karena suara musik yang masih berdengung di telinganya, tetapi juga karena kata-kata Dhimas yang terus berputar di benaknya. "Semakin kamu tahu, semakin berbahaya bagimu." Apa maksudnya? Bahaya apa? Dan mengapa Dhimas sangat tertekan di hadapan ibunya?

Keesokan harinya, Risa bangun dengan perasaan campur aduk. Marah, sakit hati, dan penasaran yang membara. Ia mencoba bersikap biasa saja di meja makan, namun Nyonya Pramudya seolah bisa mencium ketegangan di antara mereka.

"Dhimas, kamu terlihat lelah. Apa yang kamu lakukan semalam?" Nyonya Pramudya bertanya, tatapannya beralih dari Dhimas ke Risa, seolah mencari petunjuk.

Dhimas meneguk kopinya. "Aku hanya tidur sedikit larut, Mama. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."

Risa menahan napas. Pembohong ulung.

"Risa, kamu juga terlihat tidak segar," lanjut Nyonya Pramudya. "Ingat, kamu harus menjaga kondisi tubuhmu. Prioritasmu sekarang adalah keluarga ini."

Risa mengangguk kaku. Prioritasnya adalah ayahnya. Dan jika untuk itu ia harus menghadapi semua ini, maka ia akan melakukannya. Tapi ia tidak akan melakukannya tanpa mengetahui kebenarannya.

Beberapa hari berikutnya, Risa mencoba mencari celah untuk berbicara dengan Dhimas lagi, tetapi Dhimas selalu menghindarinya. Ia sibuk dengan pekerjaan, atau Nyonya Pramudya selalu berada di dekatnya. Risa merasa semakin terisolasi, terkurung dalam sangkar emas ini.

Suatu sore, saat Nyonya Pramudya sedang pergi arisan, Risa memberanikan diri mengetuk pintu kamar Dhimas. Tidak ada jawaban. Ia mencoba memutar kenop pintu. Tidak terkunci.

Dengan ragu, Risa membuka pintu. Kamar Dhimas sangat rapi, nyaris steril, mencerminkan kepribadiannya yang teratur di siang hari. Ada rak buku yang penuh dengan buku-buku bisnis dan ekonomi, meja kerja yang bersih, dan ranjang yang tertata apik. Risa mengamati sekeliling, mencari petunjuk.

Matanya tertuju pada sebuah laci kecil di meja samping tempat tidur. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu di sana. Dengan jantung berdebar, ia membuka laci itu. Di dalamnya, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terukir indah. Risa mengeluarkannya. Kotak itu tidak terkunci.

Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, ada beberapa benda. Sebuah foto lama, tampak sudah pudar, menunjukkan seorang anak laki-laki kecil yang tersenyum lebar, memeluk seorang wanita muda berambut panjang yang sangat mirip dengan Nyonya Pramudya, namun dengan senyum yang lebih lembut. Itu pasti Dhimas dan ibunya.

Di samping foto itu, ada sebuah medali emas dengan pita biru dan merah, bertuliskan "Kejuaraan Bela Diri Nasional - Juara 1". Risa mengingat Dhimas yang berlatih bela diri di taman. Jadi itu benar. Dia memang seorang petarung.

Dan yang terakhir, ada sebuah surat yang terlipat rapi, kertasnya sudah menguning. Risa ragu sejenak, apakah ia harus membacanya? Rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Ia membuka lipatan surat itu. Tulisan tangannya rapi dan elegan.

"Untuk Dhimas kecilku,

Jika suatu hari nanti Mama tidak ada di sisimu, ingatlah ini: hiduplah untuk dirimu sendiri. Jangan biarkan siapapun mendikte kebahagiaanmu. Dunia ini luas, nak. Jelajahi. Mama tahu kamu punya jiwa petualang seperti Papa. Jangan pernah kehilangan dirimu. Mama mencintaimu, Nak. Selalu."

Risa tertegun. Ini... bukan tulisan Nyonya Pramudya yang ia kenal. Nada surat itu begitu penuh cinta, begitu membebaskan. Ia membaca tanda tangan di bagian bawah. "Dari Mama tercinta."

Tapi kenapa Nyonya Pramudya yang ia kenal sangat berbeda? Apakah ini ibunya yang lain? Atau apakah ini ditulis sebelum Nyonya Pramudya berubah?

Risa mengamati foto lama itu lagi. Wanita muda di foto itu memang Nyonya Pramudya, tapi senyumnya... senyum itu penuh kehangatan, jauh berbeda dari tatapan tajam dan dingin Nyonya Pramudya sekarang.

Sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benak Risa, seolah sebuah potongan puzzle baru saja terpasang. Dhimas memiliki banyak wajah. Mungkin Nyonya Pramudya juga demikian. Atau mungkin... ada sesuatu yang terjadi pada Nyonya Pramudya, sesuatu yang mengubahnya menjadi sosok yang ia kenal sekarang.

Risa memasukkan kembali surat dan medali ke dalam kotak, lalu meletakkan kotak itu kembali ke dalam laci. Ia menutup laci itu perlahan, lalu keluar dari kamar Dhimas. Kepalanya kini penuh dengan pertanyaan baru.

Risa memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang sejarah keluarga Pramudya. Ia mencoba mencari informasi di internet, namun tidak banyak yang ia temukan. Keluarga itu sangat tertutup.

Ia memutuskan untuk berbicara dengan ART di rumah itu, seorang wanita paruh baya bernama Bi Sumi, yang sudah bekerja di sana selama bertahun-tahun. Risa mendekati Bi Sumi saat ia sedang menyiapkan teh di dapur.

"Bi, Bi Sumi sudah lama bekerja di sini, ya?" Risa memulai percakapan dengan nada ramah.

Bi Sumi tersenyum. "Sudah sejak Den Dhimas masih kecil, Nona."

"Oh, jadi Bi Sumi tahu banyak tentang keluarga ini, ya?"

Bi Sumi mengangguk. "Sedikit banyak, Nona. Ada apa, Nona Risa?"

Risa ragu sejenak, lalu memutuskan untuk memberanikan diri. "Bi, saya ingin bertanya tentang Nyonya Pramudya. Dulu... apakah beliau memang seperti ini?"

Ekspresi Bi Sumi berubah. Ia menatap Risa dengan tatapan khawatir, lalu melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain. "Nona Risa, sebaiknya jangan bertanya yang aneh-aneh. Nyonya itu orangnya keras."

"Saya tahu, Bi. Tapi... saya menemukan sesuatu. Sebuah surat dari Nyonya Pramudya yang isinya berbeda sekali dengan sifat beliau sekarang."

Bi Sumi menghela napas. Ia mendekati Risa, merendahkan suaranya. "Dulu, Nyonya tidak seperti ini, Nona. Dulu, Nyonya Pramudya itu wanita yang lembut, penyayang, selalu tersenyum. Seperti bidadari."

Risa terkejut. "Lalu, apa yang terjadi?"

Bi Sumi menunduk, matanya menerawang. "Tuan Pramudya... beliau meninggal karena kecelakaan mobil, saat Den Dhimas masih remaja. Sejak itu, Nyonya Pramudya berubah drastis. Beliau jadi pendiam, lalu lama-lama jadi sangat keras, dingin, dan kaku. Seolah semua kebahagiaannya ikut terkubur bersama mendiang Tuan."

"Kecelakaan?" Risa mengulang, ada nada terkejut dalam suaranya. "Apakah Dhimas ada di sana saat itu?"

Bi Sumi mengangguk. "Den Dhimas ada di dalam mobil, Nona. Beliau selamat, tapi... beliau trauma berat. Sejak itu, Nyonya Pramudya jadi sangat protektif pada Den Dhimas. Seolah Den Dhimas adalah satu-satunya yang tersisa."

Risa merasakan hatinya mencelos. Trauma. Itu menjelaskan banyak hal. Perubahan kepribadian Nyonya Pramudya, dan mengapa Dhimas sangat terikat pada ibunya, bahkan sampai harus menyembunyikan dirinya yang lain. Ia berusaha menjadi apa yang ibunya inginkan agar tidak menyakiti ibunya lebih jauh.

"Apa yang terjadi pada Dhimas setelah kecelakaan itu, Bi?"

"Den Dhimas jadi pendiam, Nona. Jarang tersenyum. Sekolahnya juga terganggu. Nyonya Pramudya membawa Den Dhimas ke psikolog berkali-kali, tapi tidak banyak membantu. Den Dhimas jadi punya dua kehidupan, Nona. Satu di depan Nyonya, dan satu lagi saat beliau bebas."

Risa menelan ludah. Jadi, Dhimas tidak memiliki dua wajah karena ia seorang penipu, melainkan karena ia seorang korban. Korban dari trauma yang mendalam, dan korban dari belenggu kasih sayang yang terlalu protektif. Ia membangun topeng-topeng itu untuk bertahan hidup, untuk menjaga kewarasannya, dan mungkin, untuk melindungi ibunya dari rasa sakit yang lebih dalam.

"Terima kasih, Bi," Risa berbisik.

Bi Sumi tersenyum tipis. "Semoga Nona bisa mengerti Den Dhimas."

Risa kembali ke kamarnya, pikirannya kalut. Jadi, Dhimas yang kasar di klub malam, Dhimas yang berlatih bela diri, Dhimas yang bermain piano, adalah sisi-sisi dari dirinya yang mencoba melarikan diri dari trauma dan tekanan yang tak terlihat. Ia mencoba hidup, mencoba bernapas, di luar cengkeraman ibunya.

Ia merasa bersalah karena telah menghakimi Dhimas. Ia mengira Dhimas adalah seorang penipu, padahal ia hanyalah seorang pria yang terluka, berusaha menemukan jalannya di tengah kegelapan.

Namun, satu pertanyaan masih mengganjal: mengapa Dhimas mengatakan Risa bukan satu-satunya wanita di sisinya? Dan apa kaitannya dengan ultimatum keturunan?

Malam itu, Risa melihat Dhimas masuk ke rumah, kali ini bukan dengan motor sport, melainkan dengan mobil mewahnya. Ia tampak lelah, rambutnya sedikit berantakan. Risa menunggu Nyonya Pramudya masuk ke kamarnya, lalu ia menyelinap ke ruang tamu, tempat Dhimas sedang duduk di sofa, memijat pelipisnya.

"Dhimas," Risa memanggilnya pelan.

Dhimas terkejut, mendongak. "Risa? Belum tidur?"

Risa mendekat, duduk di sofa seberangnya. "Aku ingin bicara."

Dhimas menghela napas. "Tentang apa lagi?"

"Tentang kecelakaan itu," Risa memulai. "Tentang Mama. Tentang kamu."

Wajah Dhimas langsung menegang. Ia menatap Risa dengan tatapan kosong, seolah Risa baru saja menyentuh luka lama yang sangat perih.

"Aku tahu sekarang," Risa melanjutkan, suaranya lembut. "Aku tahu kenapa kamu seperti ini. Aku tahu kenapa Mama seperti ini. Aku... aku minta maaf karena menghakimimu."

Dhimas memalingkan wajah, menatap ke arah jendela. "Kamu tidak tahu apa-apa, Risa."

"Aku tahu bahwa Mama kehilangan Papa, dan kamu kehilangan bagian dari dirimu sendiri," Risa mendesak. "Aku tahu kamu membangun tembok untuk melindungimu, dan Mama membangun sangkar untuk melindungimu. Tapi itu tidak sehat, Dhimas."

Dhimas terdiam lama. Keheningan terasa berat, hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan napas mereka.

Akhirnya, Dhimas berbalik, menatap Risa. Ada air mata yang menggenang di matanya, air mata yang ia tahan mati-matian. "Kamu tidak tahu bagaimana rasanya, Risa. Terjebak dalam kenangan, terjebak dalam rasa bersalah. Mama... Mama tidak pernah memaafkan diriku sendiri karena selamat."

Risa terkejut. "Bersalah? Kenapa bersalah?"

"Aku yang mengemudikan mobil saat itu," Dhimas berbisik, suaranya parau. "Aku yang selamat. Papa... Papa meninggal di tempat."

Risa merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ini adalah rahasia terbesar Dhimas. Rahasia yang sangat ia pendam.

"Aku... aku tidak tahu," Risa berbisik, mendekat ke Dhimas. Ia ingin memeluknya, memberikan kenyamanan, tapi ia tahu belum saatnya.

"Mama... Mama bilang aku harus hidup, harus melanjutkan semuanya. Untuk Papa. Tapi aku tidak bisa. Aku selalu merasa bersalah," Dhimas melanjutkan, air mata mulai mengalir di pipinya. "Setiap kali aku mencoba menjadi diriku sendiri, aku merasa mengkhianati Papa. Mengkhianati Mama."

"Itu bukan kesalahanmu, Dhimas," Risa berkata tegas. "Itu kecelakaan. Kamu harus memaafkan dirimu sendiri."

Dhimas menggelengkan kepala. "Bagaimana bisa? Mama tidak pernah membiarkan aku melupakannya. Dia selalu mengingatkanku bahwa aku harus kuat, aku harus sempurna, aku harus melanjutkan nama keluarga. Aku harus memberinya cucu... untuk menggantikan Papa."

"Menggantikan Papa?" Risa mengerutkan kening. "Jadi itu tujuan Mama? Bukan hanya melanjutkan nama keluarga?"

Dhimas mengangguk. "Mama ingin seorang anak laki-laki. Yang seperti Papa. Dia berharap cucunya akan... mengembalikan Papa."

Risa terdiam. Ini lebih rumit dari yang ia bayangkan. Obsesi Nyonya Pramudya pada keturunan bukan hanya tentang nama keluarga, tapi tentang duka yang mendalam, tentang harapan yang tak realistis untuk menghidupkan kembali masa lalu.

"Dan wanita-wanita itu... di klub?" Risa bertanya, suaranya pelan.

Dhimas menghela napas. "Mereka... mereka hanya pelarian. Pelarian dari kenyataan. Pelarian dari Mama."

"Tapi kamu bilang aku bukan satu-satunya wanita di sisimu," Risa mendesak, menatap matanya.

Dhimas ragu sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. "Ada satu orang lagi, Risa. Seseorang yang... penting bagiku."

Risa merasakan perutnya mulas. Apakah ini selingkuhan? Seseorang yang benar-benar ia cintai? Apakah ia hanya menjadi alat untuk memenuhi tuntutan ibunya, sementara hati Dhimas sudah dimiliki orang lain?

"Siapa?" Risa bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Dhimas menunduk. "Namanya... Luna."

Luna. Nama itu asing di telinga Risa. Apakah Luna adalah alasan mengapa Dhimas begitu dingin padanya, begitu terpisah darinya? Apakah ia telah masuk ke dalam pernikahan yang rusak, yang hati suaminya sudah menjadi milik wanita lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu kembali berputar di kepala Risa. Ia telah menemukan sebagian kebenaran tentang Dhimas dan ibunya. Tapi kebenaran itu membawa serta rahasia baru yang lebih menyakitkan. Luna. Siapakah Luna ini? Dan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin hanya menjadi alat, boneka, dalam drama keluarga ini?

Tantangan hidup Risa baru saja dimulai. Ia tidak hanya harus berjuang untuk kebahagiaan ayahnya, tetapi juga untuk menemukan kebahagiaan dan tempatnya sendiri di tengah badai rahasia dan tuntutan yang tiada henti.

Bab 3

Pengakuan Dhimas tentang Luna menghantam Risa seperti ombak besar yang memecah karang. Kata itu, nama itu, menggantung di udara di antara mereka, lebih berat dari semua beban rahasia yang telah terkuak sebelumnya. Ruang tamu mewah itu terasa dingin dan kosong, seolah menyerap semua kehangatan dan harapan. Dhimas kembali terdiam, matanya menatap kosong ke kejauhan, seolah pikirannya melayang ke tempat lain, kepada seseorang yang bernama Luna.

Risa merasakan hatinya sakit, perih yang menusuk. Ia memang tahu pernikahan ini adalah sebuah kontrak, sebuah transaksi. Tapi ia tidak siap dengan kenyataan bahwa suaminya, pria yang harus ia coba pahami, yang harus ia dekati demi tuntutan Nyonya Pramudya, ternyata sudah memiliki hati yang terikat pada wanita lain. Semua penjelasannya tentang trauma, tentang ibunya yang protektif, seolah pudar di hadapan fakta ini.

"Siapa Luna?" suara Risa bergetar, nyaris tak terdengar. Ia berusaha keras agar tidak terdengar rapuh, tidak terdengar cemburu, padahal di dalam hatinya badai sedang bergemuruh.

Dhimas menghela napas panjang, berat. Ia akhirnya menoleh ke arah Risa, matanya merah, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena kesedihan yang mendalam. "Luna... dia adalah masa laluku, Risa. Bagian dari diriku yang tidak bisa aku lupakan."

Masa lalu. Kata itu memberikan sedikit jeda bagi Risa. Bukan kekasih saat ini? Tapi nada bicara Dhimas menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan.

"Apakah... apakah kalian masih berhubungan?" Risa memberanikan diri bertanya.

Dhimas menggelengkan kepala pelan. "Tidak. Bukan dalam arti yang kamu pikirkan." Ia berhenti sejenak, menatap Risa lekat-lekat, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Luna... dia adalah cinta pertamaku. Kami tumbuh bersama. Dia adalah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti aku, sebelum Papa meninggal."

Risa terdiam. Jadi, Luna adalah orang yang mengetahui Dhimas sebelum ia mengenakan semua topeng itu. Orang yang melihat Dhimas yang asli, Dhimas yang bebas, Dhimas yang terluka.

"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Risa. Rasa sakit hati mulai bercampur dengan rasa ingin tahu yang aneh.

Dhimas menutup matanya, seolah mencoba menahan kenangan yang menyakitkan. "Dia... dia pergi. Setelah Papa meninggal, Mama melarangku berhubungan dengannya. Mama bilang dia membawa pengaruh buruk, membuatku lemah. Dia tidak ingin aku terdistraksi dari 'tugas'ku untuk menjadi sempurna."

Risa mengernyitkan dahi. "Tugas untuk menjadi sempurna? Tugas apa?"

"Tugas untuk melanjutkan warisan Papa. Tugas untuk menjadi pengganti Papa di mata Mama," jawab Dhimas, suaranya dipenuhi kepahitan. "Luna... dia tidak suka dengan semua itu. Dia bilang aku harus hidup untuk diriku sendiri. Mama bilang dia meracuni pikiranku. Jadi, Mama melakukan segalanya untuk memisahkan kami."

"Melakukan segalanya? Apa maksudmu?"

Dhimas membuka matanya, menatap Risa dengan tatapan kosong. "Luna dipindahkan ke luar negeri oleh keluarganya. Mama... Mama ikut campur. Dia mengancam keluarga Luna dengan pengaruhnya. Dia ingin aku fokus pada pendidikanku, pada warisan keluarga, pada... keturunan."

Risa terkesiap. Nyonya Pramudya telah pergi sejauh itu? Mengancam keluarga orang lain demi memisahkan Dhimas dari wanita yang dicintainya? Ini menunjukkan seberapa jauh obsesi wanita itu.

"Jadi... Mama yang memisahkan kalian?" Risa bertanya, tak percaya.

Dhimas mengangguk. "Dan aku... aku tidak berdaya. Aku terlalu hancur, terlalu takut pada Mama. Aku tidak bisa melindunginya. Aku tidak bisa melindungiku." Suaranya berubah parau, penuh penyesalan. "Sejak itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Tapi dia... dia selalu ada di sini." Dhimas menyentuh dadanya.

Risa menatapnya. Rasa sakit hati yang tadi ia rasakan perlahan berubah menjadi rasa simpati yang dalam. Dhimas adalah korban dalam kisah ini, sama seperti dirinya. Terperangkap dalam jaringan ekspektasi, trauma, dan kendali yang mencekik. Ia tidak memiliki Luna bukan karena ia tidak mencintainya, tetapi karena ia dipaksa untuk melepaskannya.

"Jadi, ketika kamu bilang aku bukan satu-satunya wanita di sisimu, maksudmu Luna?" Risa memastikan.

Dhimas mengangguk. "Dia selalu ada dalam hatiku, Risa. Aku tidak bisa menghilangkannya. Itu sebabnya... itu sebabnya aku tidak bisa memberikan apa pun padamu dalam pernikahan ini. Aku tidak bisa mencintaimu."

Kata-kata itu, meski jujur, tetap menyakitkan. Risa mengerti. Ia mengerti posisi Dhimas. Ia mengerti mengapa ia harus memakai topeng-topeng itu. Ia mengerti mengapa ia mencari pelarian di klub malam. Tapi itu tidak berarti rasa sakitnya hilang begitu saja.

"Aku mengerti," Risa berbisik. "Aku mengerti penderitaanmu, Dhimas. Tapi... pernikahan ini tetap harus berjalan. Mama memberiku ultimatum enam bulan untuk memiliki keturunan. Jika tidak, ayahku akan kehilangan perawatannya."

Dhimas menatapnya, ada sedikit keterkejutan di matanya. "Mama bilang itu padamu?"

Risa mengangguk. "Tadi siang. Dia bilang aku adalah harapan terakhirnya. Untuk 'menggantikan Papa'."

Wajah Dhimas mengeras. Ia mengepalkan tangannya. "Ini gila. Ini semua gila. Mama... dia tidak akan pernah berubah."

"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Dhimas?" Risa bertanya, menatapnya penuh harap. "Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku tidak bisa menghasilkan keturunan dari pernikahan tanpa dasar ini. Dan aku tidak bisa meminta Mama untuk membatalkan ultimatumnya."

Dhimas menghela napas berat. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Risa membiarkannya. Ia tahu Dhimas sedang memproses semua ini, semua tekanan yang membebaninya.

Akhirnya, Dhimas berhenti di depan Risa. "Kita harus menemukan cara," katanya, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. "Kita harus menunjukkan pada Mama bahwa kita serius. Tapi... kita tidak bisa melakukannya dengan cara yang dipaksakan."

"Lalu, bagaimana?"

Dhimas menatap Risa, tatapannya kini lebih jelas, lebih fokus. Bukan tatapan kosong yang biasa ia pakai di hadapan ibunya, atau tatapan liar yang ia pakai di klub malam. Ini adalah tatapan seorang pria yang sedang berpikir keras, mencari jalan keluar.

"Kita harus bekerja sama," kata Dhimas. "Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Dan kamu... kamu juga terjebak dalam perangkap Mama."

Risa terkejut. Bekerja sama? Ini adalah pertama kalinya Dhimas menawarkan sebuah bentuk aliansi.

"Maksudmu... kita harus berpura-pura?" Risa bertanya.

Dhimas mengangguk. "Untuk Mama, ya. Kita harus terlihat seperti pasangan normal. Kita harus menunjukkan padanya bahwa kita sedang berusaha. Mungkin itu akan memberi kita waktu. Waktu untuk memikirkan jalan keluar yang sebenarnya."

"Jalan keluar yang sebenarnya?" Risa mengulang.

Dhimas mengangguk lagi. "Aku tidak ingin ada anak yang lahir dari kebohongan ini, Risa. Aku tidak ingin anakku tumbuh dalam sangkar yang sama seperti aku." Suaranya dipenuhi tekad. "Kita harus menemukan cara untuk membebaskan diri dari Mama. Untuk membebaskanmu dari utangmu. Dan untuk membebaskanku dari... semua ini."

Risa menatap Dhimas. Ia melihat secercah harapan di mata pria itu. Harapan yang selama ini ia kira tidak akan pernah ia temukan dalam pernikahan ini. Harapan untuk kebebasan.

"Baiklah," Risa mengangguk. "Aku setuju. Kita bekerja sama."

Sebuah perjanjian tak terucapkan terjalin di antara mereka. Bukan perjanjian cinta, tapi perjanjian untuk bertahan hidup, untuk mencari kebebasan.

Keesokan harinya, Risa dan Dhimas memulai sandiwara mereka. Di meja makan, mereka berusaha terlihat lebih dekat. Risa sesekali menyentuh lengan Dhimas saat berbicara, dan Dhimas berusaha tersenyum lebih sering, meski senyum itu masih terasa kaku. Nyonya Pramudya memperhatikan mereka dengan tatapan tajam, seolah mencari celah dalam sandiwara itu.

"Bagaimana, Dhimas? Sudahkah kalian merencanakan masa depan?" Nyonya Pramudya bertanya, nadanya penuh selidik.

Dhimas menatap ibunya. "Tentu saja, Mama. Kami sedang berusaha."

Risa mengangguk. "Kami berencana untuk... pergi liburan akhir pekan ini, Bu. Mencari suasana baru." Itu ide Risa, sebuah upaya untuk menghabiskan waktu bersama Dhimas di luar pengawasan Nyonya Pramudya.

Nyonya Pramudya mengangkat sebelah alisnya. "Liburan? Untuk apa? Bukankah seharusnya kalian fokus pada... tujuan utama?"

"Justru itu, Mama," Dhimas menimpali dengan tenang. "Kami butuh waktu berdua. Agar lebih akrab."

Nyonya Pramudya tampak tidak yakin, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan macam-macam. Dan jangan sampai Risa kelelahan."

Risa dan Dhimas saling bertukar pandang. Ini adalah awal yang baik. Mereka berhasil mendapatkan sedikit ruang gerak.

Sabtu pagi, mereka berangkat. Risa memilih sebuah vila di Puncak, jauh dari keramaian kota. Sebuah tempat yang tenang, dikelilingi hutan pinus dan udara pegunungan yang segar. Risa berharap di sana, Dhimas akan merasa lebih bebas untuk menjadi dirinya sendiri.

Saat mereka tiba di vila, Risa segera merasakan perubahan pada Dhimas. Ia melepas kemeja formalnya, menggantinya dengan kaus dan celana pendek. Topi beanie kembali bertengger di kepalanya. Ia tampak jauh lebih rileks, aura ketegangan yang selalu menyelimutinya seolah menghilang.

"Terima kasih, Risa," kata Dhimas, suaranya tulus. "Aku butuh ini."

Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar vila, mengobrol, dan bahkan bermain catur. Risa berusaha mencari tahu lebih banyak tentang Dhimas yang tersembunyi. Ia bertanya tentang hobinya, tentang mimpinya sebelum semua trauma itu melanda.

Dhimas bercerita tentang kecintaannya pada musik, pada piano, pada seni bela diri. Ia bercerita tentang impiannya untuk menjelajahi dunia, melihat tempat-tempat indah, seperti Risa. Ada kilatan cahaya di matanya saat ia berbicara tentang hal-hal itu, kilatan yang menunjukkan Dhimas yang penuh gairah, Dhimas yang ia kenal dari medali dan surat lama itu.

"Aku selalu ingin mendaki gunung berapi yang aktif," kata Dhimas, matanya menerawang. "Dan melihat aurora borealis. Papa dulu sering bercerita tentang tempat-tempat itu."

Risa tersenyum. "Aku juga! Aku punya banyak foto tentang aurora. Aku bisa menunjukkannya padamu."

Mereka menghabiskan malam itu dengan berbagi cerita, Risa menunjukkan foto-fotonya, dan Dhimas menceritakan detail tentang setiap medali bela dirinya. Malam itu, di bawah bintang-bintang Puncak, mereka bukan lagi sepasang suami istri kontrak yang penuh rahasia. Mereka adalah dua jiwa yang terluka, menemukan sedikit kenyamanan dalam kebersamaan.

Namun, bayangan Luna tetap ada. Risa melihatnya di mata Dhimas setiap kali ia berbicara tentang masa lalu. Sebuah bayangan yang mungkin tidak akan pernah pudar.

"Tentang Luna," Risa memulai, di tengah keheningan malam. "Apakah kamu... masih mencintainya?"

Dhimas terdiam sejenak. Ia menatap bintang-bintang. "Aku tidak tahu," bisiknya. "Aku tidak tahu apakah itu cinta, atau hanya kenangan yang terlalu indah untuk dilepaskan. Dia adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa utuh sebelum Papa meninggal. Tapi waktu sudah berlalu. Aku tidak tahu apakah dia masih Luna yang sama."

"Apakah kamu ingin mencarinya?" Risa bertanya, jantungnya berdegup kencang. Ini adalah pertanyaan yang berisiko.

Dhimas menoleh pada Risa. "Untuk apa? Agar Mama semakin gila? Agar hidupku semakin rumit?" Ia menghela napas. "Tidak, Risa. Fokus kita sekarang adalah membebaskan diri dari belenggu ini. Jika aku harus mencari Luna, itu akan terjadi setelah aku bebas."

Risa mengangguk. Ia menghargai kejujuran Dhimas. Itu memberinya sedikit kelegaan. Mungkin, hanya mungkin, ada secercah harapan bagi mereka.

Akhir pekan itu berlalu terlalu cepat. Kembali ke Jakarta, kembali ke mansion mewah itu, Dhimas kembali mengenakan topengnya. Namun, ada sedikit perubahan. Sesekali, ia akan bertukar pandang dengan Risa, sebuah tatapan yang hanya mereka berdua pahami. Sebuah isyarat dari perjanjian tak terlihat mereka.

Nyonya Pramudya memperhatikan perubahan itu. Ia tersenyum tipis, senyum kepuasan yang membuat Risa bergidik. Nyonya itu pasti berpikir sandiwara mereka adalah tanda bahwa mereka mulai "berhasil" dalam misi keturunan.

Risa dan Dhimas mulai merencanakan langkah selanjutnya. Mereka tahu enam bulan adalah waktu yang sangat singkat. Mereka harus menemukan cara untuk mengungkap rahasia Nyonya Pramudya, atau mencari jalan keluar yang lebih permanen.

"Aku akan mencoba mencari informasi tentang perusahaan Papa," kata Dhimas suatu malam, saat mereka "berpura-pura" berinteraksi di ruang keluarga, sementara Nyonya Pramudya menonton televisi di dekat mereka. "Ada banyak hal yang tidak aku mengerti tentang bisnis keluarga. Mama sangat tertutup."

Risa mengangguk. "Aku akan mencoba mencari tahu lebih banyak tentang sejarah keluarga Luna. Mungkin ada sesuatu yang bisa kita gunakan."

Mereka mulai bekerja secara diam-diam. Risa menggunakan kemampuannya untuk mencari informasi, menggali data-data lama di internet, mencari berita-berita tentang keluarga Pramudya dan kecelakaan yang menimpa ayah Dhimas. Ia menemukan beberapa artikel berita lama tentang kecelakaan itu, mengkonfirmasi apa yang Dhimas dan Bi Sumi ceritakan. Namun, tidak ada detail tambahan yang signifikan.

Suatu siang, Risa menyelinap ke perpustakaan pribadi Nyonya Pramudya, sebuah ruangan yang jarang disentuh kecuali oleh sang pemilik. Ia mencari dokumen-dokumen yang mungkin bisa memberikan petunjuk. Di antara tumpukan buku-buku hukum dan bisnis, ia menemukan sebuah kotak tua yang tampak usang.

Dengan hati-hati, ia membukanya. Di dalamnya, ia menemukan dokumen-dokumen keuangan lama perusahaan Pramudya, beberapa akta tanah, dan... sebuah amplop cokelat tanpa nama. Jantung Risa berdebar kencang. Ia mengeluarkan isinya.

Ada beberapa lembar foto di dalamnya. Foto-foto lama. Foto-foto Dhimas muda, mungkin sekitar usia 10 atau 12 tahun, bersama seorang gadis kecil yang seusianya. Gadis itu memiliki rambut ikal panjang dan senyum cerah. Di beberapa foto, gadis itu mengenakan medali yang sama dengan medali yang ditemukan Risa di laci Dhimas.

Dan gadis itu... Risa melihatnya lagi di foto-foto lain. Gadis itu adalah Luna. Mereka tampak sangat dekat, tawa mereka alami, kebahagiaan mereka murni.

Di balik salah satu foto, ada tulisan tangan yang kecil dan rapi: "Dhimas dan Luna. Juara Nasional Karate Cilik. Anak-anak yang tak seharusnya terpisah."

Tulisan itu bukan tulisan tangan Nyonya Pramudya. Itu adalah tulisan yang sama dengan surat yang Dhimas simpan. Surat dari 'Mama tercinta'. Risa merasa otaknya berputar. Kenapa Nyonya Pramudya menyimpan foto-foto ini? Dan siapa yang menulis di balik foto itu? Apakah itu tulisan dari ibunya Dhimas yang asli?

Rasa penasaran Risa semakin memuncak. Ini terasa seperti puzzle yang semakin rumit.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Nyonya Pramudya! Risa segera memasukkan kembali foto-foto dan amplop itu ke dalam kotak, mengembalikannya ke tempat semula, dan merapikan buku-buku. Ia bergegas keluar dari perpustakaan, jantungnya berdebar kencang.

Nyonya Pramudya muncul di koridor, tatapannya menyapu Risa dengan curiga. "Risa? Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Saya... saya hanya mencari buku, Bu. Saya bosan di kamar," Risa berusaha terdengar tenang.

Nyonya Pramudya mengernyitkan kening, namun tidak berkata apa-apa lagi. Ia masuk ke dalam perpustakaan. Risa menahan napas, menunggu. Tak lama kemudian, Nyonya Pramudya keluar lagi, tanpa membawa apa-apa, dan berjalan pergi. Risa menghela napas lega. Ia nyaris ketahuan.

Malam itu, Risa menceritakan penemuannya pada Dhimas. Dhimas mendengarkan dengan saksama, matanya membesar saat Risa bercerita tentang foto-foto dan tulisan di baliknya.

"Itu tulisan Mama," Dhimas berbisik, menatap Risa dengan tatapan tidak percaya. "Mama yang dulu. Sebelum dia berubah."

"Berarti Nyonya Pramudya yang sekarang... bukan Mama yang dulu?" Risa bertanya, memastikan. "Apakah ada kemungkinan itu ibumu yang lain?"

Dhimas menggelengkan kepala. "Tidak mungkin. Mama adalah Mama. Tapi dia berubah. Sangat berubah."

"Mungkin... mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan tentang kecelakaan itu," Risa berspekulasi. "Atau tentang kesehatan mentalnya setelah kecelakaan itu."

Dhimas terdiam. Ide itu belum pernah terlintas di benaknya. Selama ini, ia hanya menerima bahwa ibunya berubah menjadi sosok yang kejam dan protektif karena trauma. Tapi bagaimana jika ada lebih dari itu?

"Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah kecelakaan itu," kata Dhimas, tekad kembali membara di matanya. "Mungkin ada dokumen medis, atau catatan apa pun yang bisa menjelaskan perubahan drastis Mama. Dan kenapa ia begitu terobsesi dengan keturunan."

"Dan tentang Luna," Risa menambahkan. "Kenapa Mama menyimpan foto-foto itu jika ia sangat membenci Luna?"

Sebuah pertanyaan baru muncul di benak Risa. Kenapa Nyonya Pramudya yang sekarang menyimpan bukti dari 'kesalahan' masa lalunya, dari orang yang ia paksa pergi?

"Ini semua tidak masuk akal," kata Dhimas, mengusap wajahnya dengan frustrasi.

"Mungkin ada orang lain yang tahu," Risa berpikir keras. "Seseorang yang dekat dengan keluarga Pramudya pada saat itu. Selain Bi Sumi."

Dhimas berpikir sejenak. "Paman Wijaya," katanya. "Adik Papa. Dia dulu sangat dekat dengan keluarga kami. Tapi setelah kecelakaan, dia juga menghilang. Mama bilang dia tidak peduli. Tapi aku tidak yakin."

"Kita harus mencoba mencarinya," Risa memutuskan. "Paman Wijaya mungkin tahu kebenaran yang tidak kita ketahui."

Risa dan Dhimas merasa semakin dekat dalam misi ini. Mereka adalah sekutu dalam perang melawan rahasia keluarga Pramudya. Perjanjian mereka bukan lagi hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang mencari kebenaran, mencari kebebasan, dan mungkin, mencari Luna.

Risa menyadari, di tengah semua kekacauan ini, ia mulai melihat Dhimas bukan hanya sebagai suami kontraknya, tetapi sebagai seorang pria yang terluka, yang berjuang untuk menemukan dirinya kembali. Dan tanpa disadari, di antara semua rahasia dan kebohongan, sebuah ikatan aneh mulai terbentuk di antara mereka, ikatan yang jauh lebih dalam dari sekadar kesepakatan formal. Ikatan yang terbentuk dari simpati, saling pengertian, dan sebuah tujuan yang sama.

Pertanyaan tentang keturunan masih menggantung, namun kini, prioritas mereka adalah mengungkap misteri keluarga Pramudya. Karena Risa tahu, ia tidak akan pernah bisa memberikan keturunan dengan ikhlas jika ia tidak memahami sepenuhnya siapa suaminya, dan mengapa ia terjebak dalam kehidupan yang penuh topeng ini.

Dan di tengah semua itu, bayangan Luna terus mengikuti mereka, sebuah pengingat akan masa lalu yang belum terselesaikan, sebuah kunci yang mungkin memegang kebenaran yang mereka cari. Akankah Risa dan Dhimas berhasil mengungkap semua misteri ini sebelum waktu mereka habis? Dan akankah Dhimas menemukan kembali dirinya yang hilang, atau akankah bayangan Luna selamanya menghantuinya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED