Keisha terbangun dengan rasa sakit kepala yang menusuk, seolah ada godam yang menghantam pelipisnya berulang kali. Bukan karena pesta yang meriah, melainkan karena tangisan semalaman dan tidur yang gelisah. Samar-samar, ia teringat kejadian kemarin: gaun putih, altar, tatapan iba, dan janji yang diucapkan tanpa cinta. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk yang tak kunjung usai.
Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar hotel yang megah. Indah, tapi hampa. Matanya beralih ke samping, ke arah sofa. Kosong. Dion sudah tidak ada di sana. Apakah semua itu hanya ilusi? Pengkhianatan Rafael, tawaran gila Dion, pernikahan mendadak?
Keisha bangkit duduk, selimut satin melorot dari bahunya. Dingin. Bukan hanya suhu kamar, tapi juga hatinya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Pukul tujuh pagi. Masih terlalu pagi untuk menghadapi kenyataan seberat ini. Ada beberapa pesan masuk, kebanyakan dari teman-teman yang mengucapkan selamat, beberapa dari kerabat yang bertanya kabar. Keisha hanya membaca sekilas, tidak berniat membalasnya. Bagaimana ia bisa mengucapkan "terima kasih" atas pernikahan yang terasa seperti hukuman?
Pintu kamar mandi terbuka, dan Dion keluar dengan handuk melilit pinggangnya. Rambutnya basah, dan ia tampak segar setelah mandi. Keisha terkesiap, buru-buru menarik selimut menutupi dadanya, meskipun ia sudah mengenakan pakaian tidurnya. Rasa canggung langsung menyelimuti ruangan. Dion, dengan tubuh atletisnya, memang selalu terlihat gagah, namun baru kali ini Keisha melihatnya tanpa balutan jas rapi. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya, pipinya sedikit merona.
"Oh, kau sudah bangun," kata Dion, suaranya datar, seolah tak ada yang aneh dari situasi ini. Ia berjalan ke lemari pakaian, mengambil kemeja putih dan celana bahan.
Keisha mengangguk kaku. "Ya."
Dion mulai mengenakan pakaiannya, tanpa canggung sedikit pun di depan Keisha. Ia tampak begitu biasa, seolah mereka sudah bertahun-tahun hidup bersama. Itu membuat Keisha merasa semakin aneh. Pria ini, yang kemarin sore masih berstatus kakak dari calon suaminya, kini adalah suaminya. Suami yang asing.
"Kita perlu bicara," kata Dion setelah selesai mengenakan kemejanya dan mulai mengancingkannya. Ia menatap Keisha, tatapannya serius.
Keisha menghela napas. "Tentang apa?"
"Semuanya," jawab Dion lugas. "Kita punya dua pilihan, Keisha. Pertama, kita mengumumkan pembatalan pernikahan ini, mengakui Rafael menghilang, dan menghadapi semua konsekuensinya. Nama baik keluargamu dan keluargaku akan hancur, skandal ini akan dibicarakan bertahun-tahun. Kedua, kita lanjutkan ini. Kita berpura-pura menjadi suami istri yang normal di depan publik, setidaknya untuk sementara waktu, sampai keadaan mereda."
Keisha menatapnya tajam. "Kau pikir ini semudah itu? Berpura-pura? Kita tidak saling kenal, Dion. Kita tidak punya perasaan apa-apa. Bagaimana kita akan melakukannya?"
Dion berjalan mendekat, kini berdiri di tepi ranjang. Ia menatap Keisha dengan tatapan yang intens. "Aku tahu ini tidak mudah. Ini adalah situasi terburuk yang pernah kita hadapi. Tapi pikirkanlah, Keisha. Apa yang ingin kau lakukan? Menjadi bahan gunjingan seumur hidup? Atau mencoba menjalani ini dan mencari jalan keluar terbaik?"
Hati Keisha mencelos. Dion benar. Membatalkan pernikahan setelah semua yang terjadi akan menjadi bencana yang jauh lebih besar. Rasa malu itu akan jauh lebih dalam. Tapi menjalani pernikahan palsu ini... itu sama saja dengan mengubur kebahagiaannya hidup-hidup.
"Kenapa kau begitu yakin Rafael tidak akan kembali?" tanya Keisha, suaranya bergetar. Sebuah harapan kecil masih tersisa di hatinya, harapan yang bodoh.
Dion menghela napas panjang. "Aku mengenal Rafael, Keisha. Jika dia benar-benar ingin menikahimu, tidak ada yang bisa menghentikannya. Fakta bahwa dia menghilang tanpa kabar, tanpa penjelasan... itu artinya dia sudah membuat keputusannya. Dia pengecut. Dan aku minta maaf karena dia melakukannya padamu."
Pengakuan Dion, meskipun jujur, tetap terasa menyakitkan. Rafael memang pengecut. Keisha sendiri tahu itu jauh di lubuk hatinya. Pria yang selama ini ia cintai mati-matian ternyata tidak seberani yang ia kira.
"Lalu, jika kita melanjutkan ini," kata Keisha, suaranya nyaris berbisik, "sampai kapan? Sampai kapan kita akan berpura-pura?"
Dion menatapnya lekat-lekat. "Sampai kita menemukan cara yang paling aman untuk mengakhiri ini. Atau, siapa tahu, sampai kita benar-benar bisa... menemukan kebahagiaan di dalamnya."
Kata-kata terakhir Dion membuat Keisha terkesiap. Menemukan kebahagiaan? Dengan Dion? Itu terdengar mustahil.
"Kita akan membuat beberapa aturan," lanjut Dion, mengabaikan ekspresi terkejut Keisha. "Pertama, di depan publik, kita adalah suami istri. Kita akan bersikap layaknya pasangan. Tunjukkan bahwa kita bahagia, bahkan jika itu palsu. Kedua, di balik pintu tertutup, kita akan saling menghormati privasi masing-masing. Ini adalah kesepakatan bisnis, Keisha. Sebuah solusi untuk masalah yang Rafael ciptakan."
"Kesepakatan bisnis?" Keisha mendengus. "Ini hidupku, Dion. Bukan bisnis."
"Ini adalah cara kita menyelamatkan hidup kita dari kehancuran total," Dion membalas, suaranya tenang namun tegas. "Aku tahu ini berat, Keisha. Aku juga tidak menginginkan ini. Tapi kita terjebak dalam situasi ini bersama. Dan aku bersumpah, aku akan melindungimu dari semua ini."
Ketulusan di mata Dion, meskipun diucapkan dengan cara yang pragmatis, entah mengapa sedikit menenangkan hati Keisha. Ia melihat bahwa Dion benar-benar peduli pada nama baik keluarga, dan juga tidak ingin Keisha menanggung malu sendirian.
"Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Keisha. "Dan orang tuaku?"
"Mereka sudah tahu," Dion menjawab. "Orang tuaku sangat terpukul dengan ulah Rafael. Tapi mereka juga setuju dengan rencana ini. Orang tuamu juga sudah kuberitahu, dan mereka sudah menyetujui, meskipun dengan berat hati."
Jadi, ia benar-benar sendirian dalam keputusannya ini. Semua orang sudah menyetujui, tanpa menanyakan perasaannya. Ia hanyalah pion dalam permainan takdir yang kejam ini.
"Dan setelah ini semua selesai... apa yang akan terjadi?" Keisha tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Dion menghela napas. "Kita akan membicarakan perceraian. Dengan cara yang paling tidak mencurigakan, tentu saja. Mungkin setelah beberapa tahun, kita bisa bilang ada perbedaan yang tidak bisa disatukan. Tapi untuk sekarang, kita adalah suami istri."
Masa depan terasa seperti kabut tebal. Perceraian. Kata itu menusuk hatinya, bahkan sebelum pernikahan ini dimulai. Keisha mengangguk kaku. Ia tidak punya pilihan lain.
"Baiklah," kata Keisha, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku setuju."
Hari-hari pertama pernikahan "palsu" mereka adalah neraka bagi Keisha. Mereka harus menghadapi kunjungan dari kerabat, acara makan malam keluarga, dan wawancara singkat dengan beberapa media yang masih meliput acara pernikahan mereka. Di depan kamera dan para tamu, Keisha harus memaksakan senyum lebar, menggenggam tangan Dion seolah ia adalah satu-satunya di dunia, dan bahkan berpose untuk foto ciuman pipi yang terasa begitu dingin.
Dion, di sisi lain, sangat pandai dalam perannya. Ia memancarkan aura seorang suami yang baru menikah, penuh perhatian dan kehangatan. Ia seringkali melingkarkan tangannya di pinggang Keisha, menariknya mendekat, dan berbisik hal-hal kecil yang membuat orang lain berpikir mereka sedang berbagi rahasia manis. Keisha harus mengakui, Dion adalah aktor yang ulung. Ia bahkan nyaris bisa membuat Keisha percaya pada sandiwara mereka.
Di balik pintu tertutup, di suite hotel yang menjadi tempat tinggal sementara mereka, suasana berubah drastis. Dion akan melepaskan topengnya, kembali menjadi pria yang tenang dan agak jauh. Mereka tidur di ranjang terpisah, atau lebih tepatnya, Dion tidur di sofa setiap malam, memberikan Keisha ruang sepenuhnya. Percakapan mereka terbatas pada hal-hal logistik: jadwal acara, rencana untuk menghindari pertanyaan sulit, dan strategi untuk tampil "normal".
Keisha menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamar, merenungi nasibnya. Ia seringkali menangis diam-diam di malam hari, merindukan Rafael, merindukan mimpi yang sudah hancur. Mengapa Rafael melakukan ini? Pertanyaan itu terus berputar di benaknya tanpa henti. Apakah ada wanita lain? Apakah dia tiba-tiba takut pada komitmen? Atau apakah ada sesuatu yang lebih besar yang ia sembunyikan?
Dion tidak pernah membahas Rafael secara langsung, seolah nama itu adalah tabu di antara mereka. Ia hanya menyebutkan "kesalahan Rafael" atau "ulah Rafael", tanpa pernah merincinya. Keisha sendiri terlalu takut untuk bertanya, khawatir akan jawaban yang mungkin lebih menyakitkan daripada ketidakpastian.
Suatu pagi, seminggu setelah pernikahan, Keisha duduk di sofa sambil membaca majalah fashion. Dion baru saja kembali dari kantor, meletakkan tas kerjanya di meja.
"Aku sudah mengatur semuanya," kata Dion, suaranya memecah keheningan. "Kita akan pindah ke rumahku besok."
Keisha mendongak, terkejut. "Rumahmu? Maksudmu, rumah yang kau tinggali sekarang?"
Dion mengangguk. "Ya. Itu lebih baik daripada terus-menerus di hotel. Lagipula, itu rumah yang cukup besar. Kita bisa memiliki privasi masing-masing."
Keisha merasa gelisah. Pindah ke rumah Dion berarti mereka akan hidup bersama di bawah satu atap, setiap hari. Ini akan membuat sandiwara mereka semakin nyata, semakin sulit untuk dihindari.
"Apakah itu perlu?" tanya Keisha. "Kita bisa mencari apartemen baru yang netral..."
"Tidak," potong Dion tegas. "Media akan mengawasi setiap gerak-gerik kita. Jika kita tiba-tiba mencari tempat baru, itu akan menimbulkan pertanyaan. Rumahku sudah menjadi rahasia umum sebagai rumah keluarga Prakasa. Akan lebih wajar jika kita tinggal di sana."
Keisha menghela napas, ia tahu Dion benar. Logika pria itu selalu tak terbantahkan. "Baiklah."
Rumah Dion benar-benar besar. Sebuah vila modern dengan desain minimalis, taman yang luas, dan kolam renang di belakang. Itu adalah rumah impian bagi banyak orang, namun bagi Keisha, rumah itu terasa dingin dan asing.
Dion sudah menyiapkan kamar tamu yang besar untuk Keisha, lengkap dengan kamar mandi dalam. "Kau bisa menata ini sesuai keinginanmu," katanya saat menunjukkan kamar itu. "Aku akan tidur di kamar utama di lantai atas. Kita akan memiliki ruang yang cukup."
Keisha mengangguk, mencoba untuk tidak terlihat terlalu lega. Jarak adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini. Jarak dari Dion, jarak dari kenyataan pahit yang ia alami.
Hari-hari pertama di rumah Dion terasa seperti menjalani kehidupan dalam kotak kaca. Keisha harus berhati-hati dalam setiap gerakannya. Ia tidak tahu kebiasaan Dion, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan di rumah sebesar ini. Dion sendiri tampak sibuk dengan pekerjaannya, seringkali pergi pagi dan pulang larut malam. Ketika mereka bertemu, itu adalah di meja makan saat sarapan atau makan malam, dalam keheningan yang canggung, atau diselingi percakapan basa-basi tentang berita hari itu.
Suatu malam, Keisha tidak bisa tidur. Pikirannya melayang pada Rafael lagi. Ia meraih ponselnya, mencari akun media sosial Rafael. Kosong. Rafael sudah menonaktifkan semua akunnya, menghilang tanpa jejak seolah ia tidak pernah ada. Dada Keisha terasa sesak. Ia merasa sangat marah, namun juga sangat terluka.
Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang, mencari udara segar. Malam itu, bintang-bintang bersinar terang, namun tidak mampu menerangi kegelapan di hati Keisha. Ia duduk di bangku taman, memeluk lututnya, dan membiarkan air mata mengalir.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia mendongak, dan melihat Dion berdiri di dekat pintu kaca, menatapnya.
"Kenapa kau di sini?" tanya Dion lembut, suaranya sedikit terkejut.
Keisha buru-buru menghapus air matanya. "Aku... tidak bisa tidur."
Dion berjalan mendekat, lalu duduk di bangku di samping Keisha, menjaga jarak yang sopan. "Kau memikirkan Rafael?"
Keisha terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku hanya tidak mengerti, Dion. Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa dia menghilang begitu saja?"
Dion menghela napas panjang. "Aku juga tidak mengerti sepenuhnya, Keisha. Rafael selalu sedikit... impulsif. Dia sering mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya. Tapi ini... ini di luar dugaanku."
"Apakah dia pernah punya masalah seperti ini sebelumnya?" tanya Keisha, memberanikan diri. "Apakah dia pernah kabur dari sesuatu?"
Dion terdiam, tampak ragu-ragu. "Tidak sebesar ini. Tapi dia memang punya kebiasaan menghindari masalah daripada menghadapinya." Ia menghela napas lagi. "Aku tahu ini tidak banyak membantu, Keisha. Tapi aku benar-benar minta maaf atas apa yang dia lakukan padamu."
Mendengar permintaan maaf tulus dari Dion, Keisha merasakan sedikit beban terangkat dari dadanya. Setidaknya, ada seseorang yang mengakui kesalahannya, meskipun itu bukan Rafael.
"Apakah kau tahu di mana dia sekarang?" tanya Keisha, matanya menatap Dion penuh harap.
Dion menggeleng. "Tidak. Aku sudah mencoba menghubunginya berulang kali, tapi nomornya tidak aktif. Dia tidak membalas pesanku. Orang tuaku juga sudah mencarinya, tapi tidak ada hasil."
Kenyataan itu menghantam Keisha lagi. Rafael benar-benar menghilang, tak ingin ditemukan. Ia telah dibuang, ditinggalkan, seperti sampah.
"Lalu bagaimana kita akan melanjutkan ini?" Keisha bertanya, suaranya lemah. "Bagaimana kita bisa hidup bersama seperti ini?"
Dion menatap lurus ke depan, ke arah taman yang gelap. "Kita harus mencobanya, Keisha. Kita tidak punya pilihan lain. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu nyaman. Dan jika suatu saat kau ingin mengakhiri ini, katakan saja padaku. Aku akan menemukan cara yang terbaik untuk kita berdua."
Kata-kata Dion memberikan sedikit harapan, sedikit cahaya di tengah kegelapan. Setidaknya, ia tidak sendirian. Ia punya Dion, yang meskipun asing, tampak bertekad untuk membantunya melewati badai ini.
"Terima kasih, Dion," bisik Keisha lagi.
Dion menoleh, dan untuk pertama kalinya, Keisha melihat senyum tulus di bibirnya. Bukan senyum palsu untuk kamera, melainkan senyum yang memancarkan kebaikan dan pengertian. "Tidak masalah, Keisha. Kita akan melewati ini bersama."
Malam itu, di bawah kerlipan bintang, duduk berdampingan di bangku taman, Keisha merasakan sedikit perubahan dalam dirinya. Sebuah celah kecil terbuka di dinding hatinya yang hancur. Ia tidak tahu apakah itu akan membawa kebahagiaan, tapi setidaknya, ada sedikit kedamaian dalam penerimaan. Penerimaan bahwa hidupnya tidak akan pernah sama, dan bahwa ia harus berjuang untuk membangun kembali dirinya, bahkan dengan Dion di sisinya. Babak baru ini memang dimulai dengan kepalsuan, tetapi mungkin, di tengah semua kebohongan itu, ada sebutir benih kebenaran yang bisa tumbuh. Kebenaran bahwa terkadang, takdir memang bermain dengan cara yang paling aneh, mempertemukan dua orang dalam keadaan yang paling tidak terduga, dan mungkin, suatu hari nanti, menciptakan sesuatu yang nyata dari sesuatu yang palsu. Keisha hanya bisa berharap.
Hari-hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kehidupan Keisha di bawah satu atap dengan Dion perlahan berubah menjadi rutinitas. Sebuah rutinitas yang aneh, canggung, namun entah mengapa, mulai terasa... biasa. Rumah besar itu memang menawarkan privasi yang cukup, dengan kamar Keisha di satu sisi dan kamar Dion di sisi lain. Mereka bertemu saat sarapan, terkadang saat makan malam, dan di beberapa acara keluarga yang tidak bisa mereka hindari.
Di depan umum, mereka adalah pasangan pengantin baru yang sempurna. Dion sangat pandai dalam perannya. Ia tak segan memegang tangan Keisha, melingkarkan lengannya di pinggangnya, atau memberikan senyuman menenangkan ketika Keisha merasa tertekan oleh tatapan orang banyak. Kata-kata "sayang" atau "cinta" mungkin tidak pernah terucap, tapi gestur kecil itu cukup untuk meyakinkan semua orang bahwa mereka baik-baik saja. Keisha sendiri, lambat laun, juga menjadi mahir dalam sandiwara ini. Ia belajar membalas senyum Dion dengan senyum yang tampak tulus, membalas sentuhan dengan sentuhan serupa, dan bahkan tertawa di tempat yang tepat.
Awalnya, setiap sentuhan Dion terasa asing, bahkan sedikit menjijikkan karena mengingatkannya pada kebohongan besar ini. Namun, seiring waktu, Keisha mulai menyadari bahwa sentuhan Dion selalu sopan, penuh perhitungan, dan tidak pernah melebihi batas. Ia tidak pernah memanfaatkan situasi mereka untuk kepentingan pribadi. Justru, Dion adalah bentengnya. Ia melindungi Keisha dari pertanyaan-pertanyaan sulit, dari tatapan simpati yang merendahkan, dan dari gosip-gosip yang beredar di kalangan sosialita.
Di balik layar, kehidupan mereka benar-benar terpisah. Dion sibuk dengan perusahaannya, yang memang sedang berkembang pesat. Ia seringkali pulang larut malam, terkadang bahkan tidak pulang karena harus ke luar kota. Keisha sendiri mencoba mencari kesibukan. Ia mulai mengambil kursus melukis, mencoba kelas yoga, dan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan. Ia ingin mengisi kekosongan dalam hidupnya, kekosongan yang ditinggalkan oleh Rafael.
Hubungan mereka di rumah lebih mirip antara dua teman sekamar yang sangat sopan. Mereka jarang bicara mendalam, apalagi tentang perasaan. Percakapan mereka seputar "Apakah kau mau makan malam di rumah?" atau "Aku akan pulang terlambat malam ini." Ada dinding tak terlihat yang membatasi mereka, dinding yang dibangun dari rasa malu, pengkhianatan, dan kesepakatan aneh yang mengikat mereka.
Namun, perlahan, retakan-retakan kecil mulai muncul di dinding itu.
Suatu sore, Keisha sedang berusaha memperbaiki keran yang bocor di dapur, yang ternyata lebih rumit dari dugaannya. Air memercik kemana-mana, dan ia mulai frustrasi. Tiba-tiba, Dion muncul, baru pulang kerja. Ia menatap Keisha, yang sudah basah kuyup dengan air.
"Ada apa ini?" tanya Dion, alih-alih tertawa, ia terdengar khawatir.
"Kerannya bocor," jawab Keisha, nada suaranya frustrasi. "Aku tidak bisa memperbaikinya."
Dion melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya. "Minggir, biar aku lihat."
Ia berjongkok, memeriksa keran dengan cermat. Tangannya cekatan. Dalam beberapa menit, dengan beberapa gerakan teknis yang Keisha sendiri tidak mengerti, air berhenti bocor.
"Sudah," kata Dion, berdiri dan membersihkan tangannya.
Keisha menatapnya takjub. "Bagaimana kau bisa?"
Dion mengangkat bahu. "Sedikit tahu soal perbaikan rumah. Adikku Rafael, dia tidak pernah mau tahu hal-hal seperti ini. Jadi aku harus belajar sendiri."
Kalimat itu, yang menyebut nama Rafael secara tidak langsung, menciptakan sedikit ketegangan. Namun, ada juga rasa kagum yang muncul di hati Keisha. Dion ternyata tidak hanya pintar dalam urusan bisnis, tapi juga praktis.
"Terima kasih," kata Keisha, sedikit malu karena telah terlihat tidak berdaya.
Dion hanya mengangguk, lalu berbalik pergi untuk mandi. Momen singkat itu, di mana Dion menunjukkan sisi lain dirinya-sisi yang kompeten dan membantu-meninggalkan kesan di benak Keisha.
Beberapa minggu kemudian, Keisha jatuh sakit. Demam tinggi, flu, dan batuk yang tak berhenti. Ia tidak sanggup bangun dari tempat tidur. Dion, yang biasanya sibuk, menemukan Keisha terbaring lemas saat ia pulang kerja.
"Keisha? Ada apa?" tanyanya, suaranya terdengar panik. Ia langsung mendekat, menyentuh dahi Keisha. "Kau demam tinggi sekali."
Tanpa banyak bicara, Dion pergi ke dapur, kembali membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia memeras handuk itu, lalu dengan lembut mengompres dahi Keisha. Sentuhannya dingin, menenangkan. Ia juga membawa semangkuk bubur hangat dan obat-obatan.
"Kau harus makan," kata Dion, membantu Keisha duduk. "Lalu minum obat."
Keisha terlalu lemah untuk menolak. Ia hanya bisa pasrah saat Dion menyuapinya bubur, sedikit demi sedikit. Dion merawatnya dengan penuh perhatian, mengganti kompres secara berkala, dan memastikan Keisha minum obat tepat waktu. Ia bahkan mengambil cuti dari kantornya selama dua hari untuk merawat Keisha.
"Kau tidak perlu melakukan ini," bisik Keisha suatu malam, saat Dion sedang duduk di samping tempat tidurnya, membaca buku.
Dion mendongak. "Tentu saja aku perlu. Kau adalah tanggung jawabku sekarang, Keisha."
Kata "tanggung jawab" itu kembali muncul. Sebuah kata yang dulu terasa hampa, kini entah mengapa, terasa sedikit menghangatkan. Dion tidak merawatnya karena cinta, melainkan karena rasa tanggung jawab yang kuat. Namun, bagi Keisha yang merasa sendirian dan rentan, itu sudah lebih dari cukup.
"Terima kasih," Keisha berbisik lagi, kali ini dengan perasaan yang lebih tulus.
Dion tersenyum tipis. "Istirahatlah."
Selama Dion merawatnya, Keisha melihat sisi lain dari pria itu. Sisi yang lembut, peduli, dan sabar. Sisi yang tidak pernah ia duga ada di balik persona tenang dan pragmatisnya. Itu adalah retakan kecil lainnya di dinding di antara mereka, memungkinkan sedikit cahaya masuk.
Seiring waktu, mereka mulai menemukan titik-titik temu. Keisha tahu Dion menyukai kopi hitam tanpa gula, dan Dion tahu Keisha tidak bisa memulai hari tanpa teh chamomile. Dion sesekali akan meninggalkan bunga segar di meja makan, yang ia beli dalam perjalanan pulang. Keisha, sebagai balasannya, akan membuatkan sarapan favorit Dion-roti panggang dengan alpukat-pada akhir pekan.
Mereka mulai berbagi cerita-cerita kecil. Dion menceritakan tentang proyek arsitekturnya yang menantang, tentang bagaimana ia membangun perusahaannya dari nol. Keisha menceritakan tentang impiannya menjadi desainer busana, tentang bagaimana ia dulu suka menggambar sketsa gaun pengantin sejak kecil. Dalam percakapan-percakapan singkat itu, mereka perlahan mulai mengenal satu sama lain, bukan sebagai suami istri palsu, tetapi sebagai individu.
Suatu sore, saat Dion sedang bekerja di ruang kerjanya, Keisha memberanikan diri mengetuk pintunya.
"Ada apa?" tanya Dion, mendongak dari layarnya.
"Aku... aku hanya ingin tahu," kata Keisha, sedikit gugup. "Apa kau pernah... punya kekasih serius sebelumnya?"
Dion terdiam, menatap Keisha dengan ekspresi terkejut. Itu adalah pertanyaan pribadi pertama yang Keisha ajukan.
"Pernah," jawab Dion setelah beberapa saat. "Seorang wanita bernama Sarah. Kami menjalin hubungan cukup lama, sekitar tiga tahun."
"Kenapa putus?"
Dion menghela napas. "Dia ingin menikah dan punya anak. Aku... aku saat itu belum siap. Terlalu fokus pada pekerjaan, pada membangun perusahaan. Dia bilang aku terlalu ambisius dan tidak memberinya cukup waktu. Jadi dia pergi."
Ada nada kesedihan yang samar di suara Dion, sesuatu yang jarang Keisha dengar. Itu membuat Dion terasa lebih manusiawi, lebih dari sekadar pria pragmatis yang menikahinya demi menyelamatkan muka.
"Aku mengerti," kata Keisha, suaranya lembut. "Terkadang memang sulit menemukan keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi."
"Ya," Dion mengangguk. "Dan kau? Rafael adalah pacar pertamamu?"
Keisha tersenyum pahit. "Dan terakhir. Sepertinya."
Dion menatapnya dengan simpati. "Kau akan menemukan kebahagiaan lagi, Keisha. Aku yakin itu."
Percakapan singkat itu terasa seperti terobosan. Mereka tidak lagi bicara hanya tentang hal-hal permukaan, tetapi mulai menyentuh bagian-bagian yang lebih dalam dari diri mereka. Dinding itu, yang dulu kokoh, kini memiliki lebih banyak retakan.
Enam bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang aneh itu. Keluarga dan teman-teman mereka sudah mulai terbiasa dengan status Dion dan Keisha sebagai suami istri. Mereka bahkan menerima undangan makan malam dari beberapa pasangan, yang mengharuskan mereka untuk tampil sebagai "pasangan bahagia."
Malam itu, mereka sedang menghadiri pesta ulang tahun seorang teman lama Dion. Keisha mengenakan gaun malam yang elegan, dan Dion tampak gagah dalam setelan jasnya. Mereka menari bersama, Dion memimpin dengan gerakan yang lembut dan sopan, sementara Keisha mengikutinya. Di mata orang lain, mereka adalah pasangan yang serasi, penuh kasih sayang.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini," bisik Dion di telinga Keisha saat mereka menari, membuat Keisha sedikit terkejut. Itu adalah pujian pertama yang Dion berikan padanya.
Pipi Keisha sedikit merona. "Terima kasih."
Malam itu, mereka banyak berinteraksi. Dion memperkenalkan Keisha kepada rekan-rekan bisnisnya, dan Keisha menemukan bahwa ia bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial Dion. Mereka bahkan tertawa bersama beberapa kali, tawa yang terasa lebih nyata dari sebelumnya.
Saat pesta usai dan mereka kembali ke rumah, ada keheningan yang berbeda di dalam mobil. Bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang nyaman.
"Pestanya menyenangkan," kata Keisha memecah keheningan.
"Ya," jawab Dion. "Kau bersenang-senang?"
"Lumayan. Kau sangat pandai berakting, Dion."
Dion terkekeh pelan. "Kau juga tidak kalah hebatnya, Nyonya Prakasa."
Sebuah sensasi aneh menjalar di hati Keisha saat Dion menyebutnya "Nyonya Prakasa." Itu adalah gelar yang seharusnya ia sandang dengan Rafael, namun kini ia menyandangnya dengan Dion. Anehnya, rasa sakit yang biasa muncul saat mengingat Rafael kini sedikit mereda.
Ketika mereka sampai di rumah, Keisha langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Saat ia keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama sutra, ia melihat Dion berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Kau mau kopi atau teh?" tanya Dion, suaranya pelan.
Keisha menatapnya, sedikit terkejut. Dion tidak pernah menawarkan hal seperti itu sebelumnya, apalagi di malam hari, di depan pintu kamarnya.
"Teh chamomile," jawab Keisha, mencoba menutupi kegugupannya.
Dion mengangguk, lalu berbalik menuju dapur. Keisha mengikuti langkahnya, bertanya-tanya ada apa ini.
Mereka duduk di ruang keluarga, di sofa yang berbeda. Dion menyerahkan secangkir teh panas pada Keisha. Keheningan kembali menyelimuti, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada semacam antisipasi.
"Aku tahu ini aneh," kata Dion akhirnya, menatap cangkir tehnya. "Tapi... aku ingin berterima kasih padamu, Keisha."
Keisha mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Untuk ini semua," Dion mengangkat pandangannya, menatap Keisha. "Untuk mau menjalani sandiwara ini bersamaku. Untuk mau menanggung semua ini. Tanpamu, aku tidak tahu bagaimana keluarga kami akan menghadapi skandal Rafael."
Ada ketulusan mendalam di mata Dion. Keisha merasakan hatinya sedikit menghangat. "Aku juga berterima kasih padamu, Dion. Kau sudah melindungiku. Kau sudah membuatku merasa... tidak sendirian."
Dion tersenyum tipis, senyum yang kali ini lebih hangat dan lebih nyata dari apapun yang pernah ia lihat. "Kita memang tidak sendirian."
Malam itu, mereka tidak banyak bicara lagi. Mereka hanya duduk di sana, menyesap teh dan kopi mereka, dalam keheningan yang nyaman. Dinding yang memisahkan mereka kini terasa lebih tipis, hampir transparan. Ada pengakuan yang tak terucap, sebuah pengertian baru yang muncul di antara mereka.
Keisha tidak tahu apakah ini adalah awal dari sesuatu yang lebih, atau hanya momen singkat kebersamaan di tengah badai. Namun, ia tahu satu hal: Dion Prakasa, pria yang ia nikahi karena keadaan, kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Ia adalah bagian dari hidupnya, bagian dari takdir yang aneh ini. Dan entah mengapa, di tengah semua rasa sakit dan kebingungan, ada secercah harapan kecil yang mulai bersemi di hatinya, harapan akan masa depan yang, mungkin saja, tidak seburuk yang ia bayangkan. Mungkin, dari retakan-retakan kecil ini, sesuatu yang nyata bisa tumbuh.