Bab 1

Keisha menghela napas, jemarinya membelai renda halus pada gaun pengantin putih yang dikenakannya. Cermin di depannya memantulkan bayangan seorang wanita muda yang tampak rapuh namun memancarkan aura keteguhan. Matanya sembap, sedikit kemerahan akibat tangis semalaman, tetapi senyum tipis masih terukir di bibirnya. Hari ini, adalah hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan setelah lima tahun penantian. Hari ini, ia akan menikah dengan Rafael.

Sejak Keisha berusia lima belas tahun dan Rafael menginjak tujuh belas, mereka adalah sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Cinta mereka tumbuh di antara lorong-lorong SMA, di bawah pohon beringin tua di taman kota, dan di meja kafe yang menjadi saksi bisu janji-janji masa depan. Rafael, dengan senyumnya yang menawan dan mata cokelat yang selalu memancarkan kehangatan, adalah segalanya bagi Keisha. Dia adalah pelabuhan, sahabat, kekasih, dan impian yang menjadi nyata. Keluarga mereka pun merestui, melihat betapa tulusnya cinta dua sejoli itu. Ibu Keisha seringkali mengatakan, "Rafael itu seperti anakku sendiri, Keisha. Kalian memang ditakdirkan bersama." Kata-kata itu selalu menghangatkan hati Keisha, meyakinkannya bahwa pilihannya sudah benar.

Persiapan pernikahan sudah dilakukan berbulan-bulan lamanya. Mulai dari pemilihan tanggal baik, lokasi resepsi yang megah di salah satu hotel bintang lima di pusat kota, hingga daftar tamu yang mencapai ratusan. Keisha sendiri terlibat langsung dalam setiap detailnya, dari pemilihan bunga hingga dekorasi pelaminan. Dia ingin semuanya sempurna, persis seperti yang ia impikan sejak kecil. Rafael pun demikian, ia tampak antusias dan berulang kali meyakinkan Keisha bahwa ia tidak sabar untuk memulai hidup baru bersamanya. Obrolan mereka kini tidak lagi seputar film terbaru atau tempat liburan impian, melainkan tentang tata letak rumah masa depan, nama anak-anak mereka, dan rencana pensiun yang masih jauh di angan. Semua tampak begitu nyata, begitu indah.

Namun, keindahan itu perlahan retak, tanpa Keisha sadari. Beberapa minggu menjelang hari H, Rafael mulai sedikit berubah. Ia lebih sering sibuk dengan ponselnya, panggilan teleponnya menjadi lebih rahasia, dan jam pulangnya semakin larut. Ketika Keisha bertanya, Rafael selalu menjawab dengan alasan pekerjaan yang menumpuk atau proyek mendadak yang harus diselesaikan. "Ini demi masa depan kita, sayang," katanya selalu, dan Keisha, yang terlalu mencintai dan percaya, tidak pernah sekalipun curiga. Ia malah merasa bersalah karena mengganggu kesibukan calon suaminya.

Puncaknya terjadi semalam. Keisha, yang seharusnya menghabiskan malam terakhirnya sebagai lajang dengan tenang, justru dihinggapi kegelisahan aneh. Rafael tidak bisa dihubungi sejak sore. Pesan teksnya tidak dibalas, panggilannya tidak dijawab. Panik mulai merayapi hatinya. Ia mencoba menenangkan diri dengan berpikir positif. Mungkin Rafael sibuk persiapan terakhir, atau ponselnya mati. Namun, hingga larut malam, hingga Keisha tertidur dengan air mata di pipinya, tidak ada kabar dari Rafael.

Pagi ini, kegelisahan itu berubah menjadi ketakutan yang mencekam. Saat Keisha tengah dirias, ibunya masuk ke kamar dengan wajah pucat. Matanya berkaca-kaca, dan tangannya sedikit gemetar saat menggenggam jemari putrinya.

"Keisha..." Suara ibunya serak, nyaris tak terdengar.

Keisha merasakan jantungnya berdebar kencang. Firasat buruk mulai menggelayuti. "Ada apa, Bu?" tanyanya, mencoba menjaga ketenangannya.

"Rafael... dia..." Ibu Keisha tidak mampu melanjutkan kalimatnya, isakan kecil lolos dari bibirnya.

Perias yang sedang memulaskan eyeliner pada mata Keisha menghentikan pekerjaannya, tatapannya penuh simpati.

"Ada apa dengan Rafael, Bu?" Nada suara Keisha mulai naik, kepanikan membuncah. Ia bangkit dari kursi riasnya, menghampiri ibunya.

Ibunya akhirnya berhasil bicara, suaranya tercekat. "Rafael... dia tidak datang, Nak."

Dunia Keisha seolah runtuh. Kata-kata itu menghantamnya seperti palu godam. Tidak datang? Bagaimana mungkin? Hari ini adalah hari pernikahan mereka. Bagaimana mungkin Rafael tidak datang?

"Apa maksud Ibu?" Keisha merasa suaranya asing di telinganya sendiri. "Ini hari pernikahan kami! Dia pasti datang!"

"Kakaknya, Dion, yang memberitahu Ibu. Dia sudah menunggu di lobi. Rafael mengirim pesan padanya, katanya ada hal mendadak yang tidak bisa dia tinggalkan. Dia... dia bilang tidak bisa menikahimu."

Kepala Keisha terasa berputar. Nafasnya tercekat. Rasa sakit yang tajam menghantam dadanya, lebih parah dari apapun yang pernah ia rasakan. Lima tahun... lima tahun kebersamaan, janji-janji, impian... semuanya hancur dalam sekejap. Tanpa penjelasan, tanpa alasan, Rafael menghilang di hari terpenting dalam hidup mereka.

"Tidak mungkin..." bisiknya, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang sudah dirias. Perias menatapnya dengan iba, segera mengambil tisu dan menyodorkannya.

"Keisha, Nak... Ibu tahu ini berat. Tapi kita harus kuat," kata ibunya, memeluk erat tubuh putrinya yang mulai bergetar. "Ada ratusan tamu di bawah. Kita tidak bisa membatalkan ini begitu saja."

"Lalu apa, Bu?" Keisha melepas pelukan ibunya, tatapan matanya kosong. "Aku harus bagaimana? Aku harus bilang apa pada semua orang? Bahwa pengantinku kabur?" Suara terakhirnya pecah menjadi isakan.

Pada saat itulah, pintu kamar terbuka dan Dion masuk. Pria itu tampak tegang, wajahnya kusut, dan matanya memancarkan kesedihan serta rasa bersalah yang mendalam. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, namun sorot matanya menunjukkan kekacauan batin. Dion adalah kakak laki-laki Rafael, seorang arsitek sukses dengan reputasi baik dan kepribadian yang tenang. Ia selalu menghormati Keisha dan seringkali menjadi penengah jika Keisha dan Rafael bertengkar.

"Keisha..." panggil Dion lembut, suaranya penuh penyesalan. "Maafkan aku... maafkan Rafael."

Keisha menatap Dion, air mata terus mengalir di pipinya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan marahnya. "Di mana dia, Dion? Kenapa dia melakukan ini? Kenapa?"

Dion menghela napas panjang, tampak kebingungan bagaimana harus menjelaskan. "Aku... aku tidak tahu secara pasti. Dia hanya mengirim pesan singkat pagi ini, bilang dia tidak bisa melakukannya. Dia bilang dia punya alasan, tapi belum bisa mengatakannya padaku."

"Alasan apa?!" teriak Keisha, emosinya meledak. "Setelah lima tahun?! Setelah semua ini?! Dia menghancurkan hidupku, Dion! Dia menghancurkan hari ini!"

"Aku tahu, Keisha. Aku tahu ini tidak adil," Dion berjalan mendekat, tatapan matanya memohon. "Tapi ada ratusan tamu di bawah. Semua media juga sudah menunggu. Nama baik keluargamu, nama baik keluargaku... ini akan menjadi bencana besar."

"Lalu aku harus apa?" Keisha balas berteriak, suaranya serak. "Pura-pura tidak terjadi apa-apa? Menikahi hantu?"

Dion terdiam sejenak, menatap Keisha dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan, namun juga tekad yang kuat di sana. "Aku... aku punya ide."

Keisha menatapnya bingung. Ibu Keisha juga ikut menatap Dion dengan tatapan penasaran.

"Aku akan menggantikannya," kata Dion, suaranya tegas namun sedikit gemetar. "Aku akan menikahimu."

Keisha mematung. Kata-kata itu menggema di telinganya. Dion? Menikahiku? Ini gila! Ini benar-benar gila!

"Apa?!" Ibu Keisha berseru kaget. "Dion, apa yang kau katakan?!"

"Aku serius, Tante," Dion menatap ibu Keisha dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak ingin nama baik Tante dan Om tercoreng. Aku tidak ingin Keisha menanggung malu sendirian. Rafael sudah berbuat kesalahan fatal, dan sebagai kakaknya, aku merasa bertanggung jawab."

Keisha tidak bisa berkata-kata. Ia menatap Dion, mencoba mencari celah kebohongan di matanya, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang mendalam. Dion, yang selalu dikenalnya sebagai sosok yang tenang dan rasional, kini menawarkan diri untuk menikahi calon adik iparnya sendiri, di hari pernikahan yang seharusnya menjadi milik adiknya.

"Tapi... tapi kau dan Keisha..." Ibu Keisha tergagap, tidak bisa membayangkan skenario aneh ini. "Kalian tidak saling... tidak ada perasaan..."

"Ini bukan tentang perasaan, Tante. Ini tentang tanggung jawab," potong Dion. "Kita bisa menjelaskannya nanti. Untuk sekarang, kita harus menyelamatkan situasi ini. Aku bersedia menikahi Keisha, apa pun risikonya."

Keisha merasakan sebuah dilema besar menghantamnya. Di satu sisi, ide ini terdengar absurd, seperti adegan dalam drama. Menikahi Dion? Pria yang adalah kakak dari Rafael, pria yang tidak pernah ia lihat lebih dari seorang kakak ipar potensial? Pria yang, sejujurnya, jarang sekali ia ajak bicara empat mata selain basa-basi.

Namun, di sisi lain, ada kebenaran dalam perkataan Dion. Ratusan tamu sudah menunggu. Keluarga besar Keisha dan Rafael sudah berkumpul. Media sudah siap memberitakan. Jika pernikahan ini batal, bukan hanya Keisha yang menanggung malu, tetapi seluruh keluarganya. Nama baik mereka akan hancur, dan berita ini akan menjadi skandal besar yang akan menghantui mereka seumur hidup.

Keisha memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir bebas. Hatinya sakit, hancur berkeping-keping karena pengkhianatan Rafael. Tapi otaknya, di tengah badai emosi, masih berusaha berpikir logis. Apa pilihan lain yang ia punya? Membatalkan pernikahan, menghadapi tatapan simpati yang merendahkan, dan hidup sebagai wanita yang ditinggalkan di hari pernikahannya sendiri? Atau... menerima tawaran gila Dion?

Ia membuka mata, menatap Dion yang masih berdiri tegak di depannya, menunggunya. Di mata Dion, Keisha melihat bukan hanya rasa bersalah, tetapi juga ketegasan, dan entah mengapa, semacam harapan. Harapan untuk memperbaiki sesuatu yang sudah rusak.

"Bagaimana, Nak?" Ibu Keisha bertanya lembut, tangannya mengelus bahu putrinya. "Apakah kau... mau?"

Keisha menggigit bibir bawahnya. Kata 'mau' terasa begitu berat untuk diucapkan. Mau menikah dengan pria yang tidak ia cintai, pria yang hanya dikenal sebatas kakak ipar, demi menyelamatkan muka keluarga? Ini terasa seperti sebuah pengorbanan besar, pengorbanan atas kebahagiaannya sendiri.

Namun, di benaknya terbayang wajah orang tuanya, wajah kakek neneknya, dan semua kerabat yang datang jauh-jauh untuk menyaksikan hari bahagianya. Apakah ia sanggup melihat mereka menanggung malu karena ulah Rafael?

"Aku... aku mau," bisik Keisha akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Keputusan ini terasa seperti melompat ke dalam jurang tak berdasar. Ia tidak tahu apa yang akan menantinya di bawah sana.

Dion menghela napas lega, senyum tipis terukir di bibirnya. "Terima kasih, Keisha. Aku janji, aku akan bertanggung jawab. Aku tidak akan mengecewakanmu."

Keisha tidak membalas senyumnya. Ia hanya menatap Dion dengan tatapan kosong. Pertanyaan-pertanyaan tak berujung mulai bermunculan di benaknya. Bagaimana mereka akan berpura-pura di depan semua orang? Bagaimana mereka akan membangun sebuah rumah tangga tanpa cinta? Apakah ia akan selamanya hidup dalam bayangan pengkhianatan Rafael, dengan Dion sebagai pengingatnya?

Perias dengan sigap melanjutkan pekerjaannya, sementara ibu Keisha membantu merapikan gaunnya. Suasana di kamar berubah tegang, namun juga penuh tekad. Mereka harus melewati ini.

Beberapa menit kemudian, Keisha sudah berdiri di depan pintu ballroom, di samping Dion. Musik yang mengiringi prosesi masuk pengantin sudah mulai terdengar. Dentuman jantung Keisha berpacu, mengalahkan irama musik yang syahdu. Ia merasa seperti robot, melangkah maju tanpa sadar.

Dion melingkarkan tangannya di lengan Keisha. Sentuhannya terasa asing, bukan kehangatan yang biasa ia rasakan dari Rafael. Keisha melirik Dion. Pria itu tampak tenang, meski rahangnya sedikit mengeras. Ia membalas tatapan Keisha dengan sebuah senyum kecil yang meyakinkan. "Kita bisa," bisiknya.

Pintu ballroom terbuka lebar. Ratusan pasang mata tertuju pada mereka. Kilatan lampu kamera tak henti-hentinya. Keisha memaksakan seulas senyum di bibirnya, berharap tidak ada yang bisa melihat kehancuran di matanya. Ia melihat orang tuanya duduk di barisan depan, ibu Keisha tersenyum dengan mata berkaca-kaca, sementara ayahnya tampak tegang namun mengangguk memberi isyarat dukungan.

Langkah demi langkah, Keisha dan Dion berjalan di atas karpet merah menuju pelaminan. Setiap langkah terasa begitu berat, seperti membawa beban seribu ton. Di pelaminan, penghulu sudah menunggu, siap memimpin janji suci. Keisha berusaha keras untuk tidak melihat ke bangku-bangku tamu, takut bertemu tatap dengan seseorang yang mungkin sudah tahu kebenaran, atau takut melihat rasa kasihan di mata mereka.

"Saudara Dion Prakasa, apakah Anda bersedia menerima Keisha Putri Wibowo sebagai istri Anda, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

Dion menatap Keisha, matanya memancarkan ketegasan. "Ya, saya bersedia." Suaranya lantang dan jelas.

Giliran Keisha. Penghulu menatapnya. "Saudari Keisha Putri Wibowo, apakah Anda bersedia menerima Dion Prakasa sebagai suami Anda, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

Keisha menelan ludah. Hatinya berteriak 'tidak', namun bibirnya berucap 'ya'. "Ya, saya bersedia." Suaranya serak dan hampir tak terdengar, namun cukup jelas untuk didengar oleh penghulu dan saksi.

Setelah pertukaran cincin yang terasa hambar, Dion mencondongkan tubuhnya ke arah Keisha. "Kau baik-baik saja?" bisiknya.

Keisha mengangguk kaku. Ia tidak tahu apakah ia baik-baik saja. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk, dan ia ingin segera terbangun.

Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama keluarga dan kerabat. Keisha dan Dion harus berpose, tersenyum, dan berinteraksi seolah-olah semuanya berjalan normal. Setiap senyum yang Keisha paksakan terasa seperti melukai jiwanya lebih dalam. Ia merasa seperti sedang mengenakan topeng, memainkan sebuah peran yang sangat ia benci.

Di tengah keramaian, Keisha melihat paman dan bibi Rafael, yang juga tampak bingung dan sesekali berbisik dengan orang tua Dion. Tentu saja, mereka pasti sudah diberitahu tentang skenario yang terjadi. Keisha hanya bisa berharap, berita ini tidak akan menyebar terlalu cepat.

Malam resepsi terasa begitu panjang. Keisha tersenyum, menyalami tamu, dan menerima ucapan selamat yang terasa hampa. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan, tanpa emosi, tanpa jiwa. Dion selalu berada di sampingnya, menjadi sandarannya, menjawab pertanyaan yang mungkin saja mengarah pada kecurigaan. Ia tampak luwes, profesional, seolah-olah tidak ada yang aneh dengan pernikahan mendadak ini. Keisha diam-diam mengagumi ketenangan Dion, meskipun di dalam hatinya ia merasakan gelombang emosi yang tak tertahankan.

Ketika akhirnya resepsi usai dan semua tamu sudah pulang, Keisha merasa lelah luar biasa. Ia bahkan tidak merasakan euforia yang seharusnya dirasakan oleh pengantin baru. Yang ada hanyalah rasa lelah, hampa, dan sedikit rasa takut akan masa depan.

Di kamar hotel, suite pengantin yang sudah dihias dengan indah, Keisha melepas mahkota pengantinnya dengan gemetar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wanita yang ia lihat adalah seorang pengantin, ya, tapi ia juga seorang wanita yang baru saja mengalami pengkhianatan terparah dalam hidupnya, dan kini terikat dalam pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Dion masuk ke kamar, masih dengan jas pengantinnya. Ia melepas dasinya dan melonggarkan kerah kemejanya. Ia tidak menatap Keisha secara langsung, memberikan ruang privasi.

"Kau bisa tidur di ranjang," kata Dion, suaranya tenang. "Aku akan tidur di sofa."

Keisha menoleh, menatap Dion. Ia melihat kelelahan yang sama di mata pria itu. "Kau tidak perlu melakukan ini," bisiknya.

Dion menghela napas. "Kita sudah melakukannya, Keisha. Ini sudah terjadi." Ia berjalan ke arah sofa, menarik bantal dan selimut yang sudah disiapkan oleh staf hotel.

"Tapi... mengapa kau melakukan ini?" tanya Keisha, rasa ingin tahu mengalahkan rasa sakitnya. "Kau tidak punya kewajiban. Kau bisa saja membiarkan kami menanggung malu."

Dion menoleh, menatap Keisha dengan tatapan yang dalam. "Rafael adalah adikku. Apa pun kesalahannya, dia tetap adikku. Dan kau..." Dion berhenti sejenak, tatapannya melembut. "Kau adalah calon adik iparku. Aku tidak bisa membiarkan kalian berdua hancur. Lagipula, ini salah keluargaku. Jadi, aku harus memperbaikinya."

Keisha tidak tahu harus menjawab apa. Ada kebaikan yang tulus di balik tindakan Dion, sesuatu yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang di tengah badai. Namun, kebaikan itu juga terasa begitu aneh, begitu berat untuk diterima. Ia tidak ingin berhutang budi sebesar ini pada Dion.

"Terima kasih," kata Keisha akhirnya, suaranya pelan.

Dion mengangguk. "Istirahatlah, Keisha. Besok kita akan membicarakan ini lebih lanjut." Ia lalu berbalik, berbaring di sofa, membelakangi Keisha.

Keisha duduk di tepi ranjang, menatap Dion yang kini membelakanginya. Suasana kamar terasa begitu canggung dan dingin, meskipun lampu-lampu romantis masih menyala. Ia adalah seorang istri, tetapi ia merasa sendirian. Ia merasa seperti tawanan dalam sebuah skenario yang tidak pernah ia pilih.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Apakah pernikahan ini akan bertahan? Atau apakah mereka akan berpisah setelah semua badai ini berlalu? Yang jelas, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Mimpi indahnya telah berubah menjadi kenyataan pahit, dan kini ia harus menghadapi hari esok, dengan seorang pria asing yang berstatus suaminya, dan bayangan pengkhianatan yang terus menghantuinya. Babak baru hidupnya telah dimulai, diwarnai dengan kepalsuan dan ketidakpastian.

Ia memejamkan mata, berharap saat ia membukanya nanti, semuanya hanyalah mimpi buruk. Namun, gaun putih yang masih melekat di tubuhnya, dan keberadaan Dion di sofa, adalah bukti nyata bahwa mimpi buruk ini adalah kenyataan. Keisha hanya bisa berharap, suatu hari nanti, ia akan menemukan kekuatan untuk bangkit dari puing-puing hatinya yang hancur, dan entah bagaimana, menemukan jalan untuk kembali bahagia. Atau setidaknya, menerima takdir yang telah digariskan ini.

Bab 2

Keisha terbangun dengan rasa sakit kepala yang menusuk, seolah ada godam yang menghantam pelipisnya berulang kali. Bukan karena pesta yang meriah, melainkan karena tangisan semalaman dan tidur yang gelisah. Samar-samar, ia teringat kejadian kemarin: gaun putih, altar, tatapan iba, dan janji yang diucapkan tanpa cinta. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar hotel yang megah. Indah, tapi hampa. Matanya beralih ke samping, ke arah sofa. Kosong. Dion sudah tidak ada di sana. Apakah semua itu hanya ilusi? Pengkhianatan Rafael, tawaran gila Dion, pernikahan mendadak?

Keisha bangkit duduk, selimut satin melorot dari bahunya. Dingin. Bukan hanya suhu kamar, tapi juga hatinya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Pukul tujuh pagi. Masih terlalu pagi untuk menghadapi kenyataan seberat ini. Ada beberapa pesan masuk, kebanyakan dari teman-teman yang mengucapkan selamat, beberapa dari kerabat yang bertanya kabar. Keisha hanya membaca sekilas, tidak berniat membalasnya. Bagaimana ia bisa mengucapkan "terima kasih" atas pernikahan yang terasa seperti hukuman?

Pintu kamar mandi terbuka, dan Dion keluar dengan handuk melilit pinggangnya. Rambutnya basah, dan ia tampak segar setelah mandi. Keisha terkesiap, buru-buru menarik selimut menutupi dadanya, meskipun ia sudah mengenakan pakaian tidurnya. Rasa canggung langsung menyelimuti ruangan. Dion, dengan tubuh atletisnya, memang selalu terlihat gagah, namun baru kali ini Keisha melihatnya tanpa balutan jas rapi. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya, pipinya sedikit merona.

"Oh, kau sudah bangun," kata Dion, suaranya datar, seolah tak ada yang aneh dari situasi ini. Ia berjalan ke lemari pakaian, mengambil kemeja putih dan celana bahan.

Keisha mengangguk kaku. "Ya."

Dion mulai mengenakan pakaiannya, tanpa canggung sedikit pun di depan Keisha. Ia tampak begitu biasa, seolah mereka sudah bertahun-tahun hidup bersama. Itu membuat Keisha merasa semakin aneh. Pria ini, yang kemarin sore masih berstatus kakak dari calon suaminya, kini adalah suaminya. Suami yang asing.

"Kita perlu bicara," kata Dion setelah selesai mengenakan kemejanya dan mulai mengancingkannya. Ia menatap Keisha, tatapannya serius.

Keisha menghela napas. "Tentang apa?"

"Semuanya," jawab Dion lugas. "Kita punya dua pilihan, Keisha. Pertama, kita mengumumkan pembatalan pernikahan ini, mengakui Rafael menghilang, dan menghadapi semua konsekuensinya. Nama baik keluargamu dan keluargaku akan hancur, skandal ini akan dibicarakan bertahun-tahun. Kedua, kita lanjutkan ini. Kita berpura-pura menjadi suami istri yang normal di depan publik, setidaknya untuk sementara waktu, sampai keadaan mereda."

Keisha menatapnya tajam. "Kau pikir ini semudah itu? Berpura-pura? Kita tidak saling kenal, Dion. Kita tidak punya perasaan apa-apa. Bagaimana kita akan melakukannya?"

Dion berjalan mendekat, kini berdiri di tepi ranjang. Ia menatap Keisha dengan tatapan yang intens. "Aku tahu ini tidak mudah. Ini adalah situasi terburuk yang pernah kita hadapi. Tapi pikirkanlah, Keisha. Apa yang ingin kau lakukan? Menjadi bahan gunjingan seumur hidup? Atau mencoba menjalani ini dan mencari jalan keluar terbaik?"

Hati Keisha mencelos. Dion benar. Membatalkan pernikahan setelah semua yang terjadi akan menjadi bencana yang jauh lebih besar. Rasa malu itu akan jauh lebih dalam. Tapi menjalani pernikahan palsu ini... itu sama saja dengan mengubur kebahagiaannya hidup-hidup.

"Kenapa kau begitu yakin Rafael tidak akan kembali?" tanya Keisha, suaranya bergetar. Sebuah harapan kecil masih tersisa di hatinya, harapan yang bodoh.

Dion menghela napas panjang. "Aku mengenal Rafael, Keisha. Jika dia benar-benar ingin menikahimu, tidak ada yang bisa menghentikannya. Fakta bahwa dia menghilang tanpa kabar, tanpa penjelasan... itu artinya dia sudah membuat keputusannya. Dia pengecut. Dan aku minta maaf karena dia melakukannya padamu."

Pengakuan Dion, meskipun jujur, tetap terasa menyakitkan. Rafael memang pengecut. Keisha sendiri tahu itu jauh di lubuk hatinya. Pria yang selama ini ia cintai mati-matian ternyata tidak seberani yang ia kira.

"Lalu, jika kita melanjutkan ini," kata Keisha, suaranya nyaris berbisik, "sampai kapan? Sampai kapan kita akan berpura-pura?"

Dion menatapnya lekat-lekat. "Sampai kita menemukan cara yang paling aman untuk mengakhiri ini. Atau, siapa tahu, sampai kita benar-benar bisa... menemukan kebahagiaan di dalamnya."

Kata-kata terakhir Dion membuat Keisha terkesiap. Menemukan kebahagiaan? Dengan Dion? Itu terdengar mustahil.

"Kita akan membuat beberapa aturan," lanjut Dion, mengabaikan ekspresi terkejut Keisha. "Pertama, di depan publik, kita adalah suami istri. Kita akan bersikap layaknya pasangan. Tunjukkan bahwa kita bahagia, bahkan jika itu palsu. Kedua, di balik pintu tertutup, kita akan saling menghormati privasi masing-masing. Ini adalah kesepakatan bisnis, Keisha. Sebuah solusi untuk masalah yang Rafael ciptakan."

"Kesepakatan bisnis?" Keisha mendengus. "Ini hidupku, Dion. Bukan bisnis."

"Ini adalah cara kita menyelamatkan hidup kita dari kehancuran total," Dion membalas, suaranya tenang namun tegas. "Aku tahu ini berat, Keisha. Aku juga tidak menginginkan ini. Tapi kita terjebak dalam situasi ini bersama. Dan aku bersumpah, aku akan melindungimu dari semua ini."

Ketulusan di mata Dion, meskipun diucapkan dengan cara yang pragmatis, entah mengapa sedikit menenangkan hati Keisha. Ia melihat bahwa Dion benar-benar peduli pada nama baik keluarga, dan juga tidak ingin Keisha menanggung malu sendirian.

"Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Keisha. "Dan orang tuaku?"

"Mereka sudah tahu," Dion menjawab. "Orang tuaku sangat terpukul dengan ulah Rafael. Tapi mereka juga setuju dengan rencana ini. Orang tuamu juga sudah kuberitahu, dan mereka sudah menyetujui, meskipun dengan berat hati."

Jadi, ia benar-benar sendirian dalam keputusannya ini. Semua orang sudah menyetujui, tanpa menanyakan perasaannya. Ia hanyalah pion dalam permainan takdir yang kejam ini.

"Dan setelah ini semua selesai... apa yang akan terjadi?" Keisha tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

Dion menghela napas. "Kita akan membicarakan perceraian. Dengan cara yang paling tidak mencurigakan, tentu saja. Mungkin setelah beberapa tahun, kita bisa bilang ada perbedaan yang tidak bisa disatukan. Tapi untuk sekarang, kita adalah suami istri."

Masa depan terasa seperti kabut tebal. Perceraian. Kata itu menusuk hatinya, bahkan sebelum pernikahan ini dimulai. Keisha mengangguk kaku. Ia tidak punya pilihan lain.

"Baiklah," kata Keisha, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku setuju."

Hari-hari pertama pernikahan "palsu" mereka adalah neraka bagi Keisha. Mereka harus menghadapi kunjungan dari kerabat, acara makan malam keluarga, dan wawancara singkat dengan beberapa media yang masih meliput acara pernikahan mereka. Di depan kamera dan para tamu, Keisha harus memaksakan senyum lebar, menggenggam tangan Dion seolah ia adalah satu-satunya di dunia, dan bahkan berpose untuk foto ciuman pipi yang terasa begitu dingin.

Dion, di sisi lain, sangat pandai dalam perannya. Ia memancarkan aura seorang suami yang baru menikah, penuh perhatian dan kehangatan. Ia seringkali melingkarkan tangannya di pinggang Keisha, menariknya mendekat, dan berbisik hal-hal kecil yang membuat orang lain berpikir mereka sedang berbagi rahasia manis. Keisha harus mengakui, Dion adalah aktor yang ulung. Ia bahkan nyaris bisa membuat Keisha percaya pada sandiwara mereka.

Di balik pintu tertutup, di suite hotel yang menjadi tempat tinggal sementara mereka, suasana berubah drastis. Dion akan melepaskan topengnya, kembali menjadi pria yang tenang dan agak jauh. Mereka tidur di ranjang terpisah, atau lebih tepatnya, Dion tidur di sofa setiap malam, memberikan Keisha ruang sepenuhnya. Percakapan mereka terbatas pada hal-hal logistik: jadwal acara, rencana untuk menghindari pertanyaan sulit, dan strategi untuk tampil "normal".

Keisha menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamar, merenungi nasibnya. Ia seringkali menangis diam-diam di malam hari, merindukan Rafael, merindukan mimpi yang sudah hancur. Mengapa Rafael melakukan ini? Pertanyaan itu terus berputar di benaknya tanpa henti. Apakah ada wanita lain? Apakah dia tiba-tiba takut pada komitmen? Atau apakah ada sesuatu yang lebih besar yang ia sembunyikan?

Dion tidak pernah membahas Rafael secara langsung, seolah nama itu adalah tabu di antara mereka. Ia hanya menyebutkan "kesalahan Rafael" atau "ulah Rafael", tanpa pernah merincinya. Keisha sendiri terlalu takut untuk bertanya, khawatir akan jawaban yang mungkin lebih menyakitkan daripada ketidakpastian.

Suatu pagi, seminggu setelah pernikahan, Keisha duduk di sofa sambil membaca majalah fashion. Dion baru saja kembali dari kantor, meletakkan tas kerjanya di meja.

"Aku sudah mengatur semuanya," kata Dion, suaranya memecah keheningan. "Kita akan pindah ke rumahku besok."

Keisha mendongak, terkejut. "Rumahmu? Maksudmu, rumah yang kau tinggali sekarang?"

Dion mengangguk. "Ya. Itu lebih baik daripada terus-menerus di hotel. Lagipula, itu rumah yang cukup besar. Kita bisa memiliki privasi masing-masing."

Keisha merasa gelisah. Pindah ke rumah Dion berarti mereka akan hidup bersama di bawah satu atap, setiap hari. Ini akan membuat sandiwara mereka semakin nyata, semakin sulit untuk dihindari.

"Apakah itu perlu?" tanya Keisha. "Kita bisa mencari apartemen baru yang netral..."

"Tidak," potong Dion tegas. "Media akan mengawasi setiap gerak-gerik kita. Jika kita tiba-tiba mencari tempat baru, itu akan menimbulkan pertanyaan. Rumahku sudah menjadi rahasia umum sebagai rumah keluarga Prakasa. Akan lebih wajar jika kita tinggal di sana."

Keisha menghela napas, ia tahu Dion benar. Logika pria itu selalu tak terbantahkan. "Baiklah."

Rumah Dion benar-benar besar. Sebuah vila modern dengan desain minimalis, taman yang luas, dan kolam renang di belakang. Itu adalah rumah impian bagi banyak orang, namun bagi Keisha, rumah itu terasa dingin dan asing.

Dion sudah menyiapkan kamar tamu yang besar untuk Keisha, lengkap dengan kamar mandi dalam. "Kau bisa menata ini sesuai keinginanmu," katanya saat menunjukkan kamar itu. "Aku akan tidur di kamar utama di lantai atas. Kita akan memiliki ruang yang cukup."

Keisha mengangguk, mencoba untuk tidak terlihat terlalu lega. Jarak adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini. Jarak dari Dion, jarak dari kenyataan pahit yang ia alami.

Hari-hari pertama di rumah Dion terasa seperti menjalani kehidupan dalam kotak kaca. Keisha harus berhati-hati dalam setiap gerakannya. Ia tidak tahu kebiasaan Dion, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan di rumah sebesar ini. Dion sendiri tampak sibuk dengan pekerjaannya, seringkali pergi pagi dan pulang larut malam. Ketika mereka bertemu, itu adalah di meja makan saat sarapan atau makan malam, dalam keheningan yang canggung, atau diselingi percakapan basa-basi tentang berita hari itu.

Suatu malam, Keisha tidak bisa tidur. Pikirannya melayang pada Rafael lagi. Ia meraih ponselnya, mencari akun media sosial Rafael. Kosong. Rafael sudah menonaktifkan semua akunnya, menghilang tanpa jejak seolah ia tidak pernah ada. Dada Keisha terasa sesak. Ia merasa sangat marah, namun juga sangat terluka.

Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang, mencari udara segar. Malam itu, bintang-bintang bersinar terang, namun tidak mampu menerangi kegelapan di hati Keisha. Ia duduk di bangku taman, memeluk lututnya, dan membiarkan air mata mengalir.

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia mendongak, dan melihat Dion berdiri di dekat pintu kaca, menatapnya.

"Kenapa kau di sini?" tanya Dion lembut, suaranya sedikit terkejut.

Keisha buru-buru menghapus air matanya. "Aku... tidak bisa tidur."

Dion berjalan mendekat, lalu duduk di bangku di samping Keisha, menjaga jarak yang sopan. "Kau memikirkan Rafael?"

Keisha terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku hanya tidak mengerti, Dion. Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa dia menghilang begitu saja?"

Dion menghela napas panjang. "Aku juga tidak mengerti sepenuhnya, Keisha. Rafael selalu sedikit... impulsif. Dia sering mengambil keputusan tanpa memikirkan konsekuensinya. Tapi ini... ini di luar dugaanku."

"Apakah dia pernah punya masalah seperti ini sebelumnya?" tanya Keisha, memberanikan diri. "Apakah dia pernah kabur dari sesuatu?"

Dion terdiam, tampak ragu-ragu. "Tidak sebesar ini. Tapi dia memang punya kebiasaan menghindari masalah daripada menghadapinya." Ia menghela napas lagi. "Aku tahu ini tidak banyak membantu, Keisha. Tapi aku benar-benar minta maaf atas apa yang dia lakukan padamu."

Mendengar permintaan maaf tulus dari Dion, Keisha merasakan sedikit beban terangkat dari dadanya. Setidaknya, ada seseorang yang mengakui kesalahannya, meskipun itu bukan Rafael.

"Apakah kau tahu di mana dia sekarang?" tanya Keisha, matanya menatap Dion penuh harap.

Dion menggeleng. "Tidak. Aku sudah mencoba menghubunginya berulang kali, tapi nomornya tidak aktif. Dia tidak membalas pesanku. Orang tuaku juga sudah mencarinya, tapi tidak ada hasil."

Kenyataan itu menghantam Keisha lagi. Rafael benar-benar menghilang, tak ingin ditemukan. Ia telah dibuang, ditinggalkan, seperti sampah.

"Lalu bagaimana kita akan melanjutkan ini?" Keisha bertanya, suaranya lemah. "Bagaimana kita bisa hidup bersama seperti ini?"

Dion menatap lurus ke depan, ke arah taman yang gelap. "Kita harus mencobanya, Keisha. Kita tidak punya pilihan lain. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu nyaman. Dan jika suatu saat kau ingin mengakhiri ini, katakan saja padaku. Aku akan menemukan cara yang terbaik untuk kita berdua."

Kata-kata Dion memberikan sedikit harapan, sedikit cahaya di tengah kegelapan. Setidaknya, ia tidak sendirian. Ia punya Dion, yang meskipun asing, tampak bertekad untuk membantunya melewati badai ini.

"Terima kasih, Dion," bisik Keisha lagi.

Dion menoleh, dan untuk pertama kalinya, Keisha melihat senyum tulus di bibirnya. Bukan senyum palsu untuk kamera, melainkan senyum yang memancarkan kebaikan dan pengertian. "Tidak masalah, Keisha. Kita akan melewati ini bersama."

Malam itu, di bawah kerlipan bintang, duduk berdampingan di bangku taman, Keisha merasakan sedikit perubahan dalam dirinya. Sebuah celah kecil terbuka di dinding hatinya yang hancur. Ia tidak tahu apakah itu akan membawa kebahagiaan, tapi setidaknya, ada sedikit kedamaian dalam penerimaan. Penerimaan bahwa hidupnya tidak akan pernah sama, dan bahwa ia harus berjuang untuk membangun kembali dirinya, bahkan dengan Dion di sisinya. Babak baru ini memang dimulai dengan kepalsuan, tetapi mungkin, di tengah semua kebohongan itu, ada sebutir benih kebenaran yang bisa tumbuh. Kebenaran bahwa terkadang, takdir memang bermain dengan cara yang paling aneh, mempertemukan dua orang dalam keadaan yang paling tidak terduga, dan mungkin, suatu hari nanti, menciptakan sesuatu yang nyata dari sesuatu yang palsu. Keisha hanya bisa berharap.

Bab 3

Hari-hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kehidupan Keisha di bawah satu atap dengan Dion perlahan berubah menjadi rutinitas. Sebuah rutinitas yang aneh, canggung, namun entah mengapa, mulai terasa... biasa. Rumah besar itu memang menawarkan privasi yang cukup, dengan kamar Keisha di satu sisi dan kamar Dion di sisi lain. Mereka bertemu saat sarapan, terkadang saat makan malam, dan di beberapa acara keluarga yang tidak bisa mereka hindari.

Di depan umum, mereka adalah pasangan pengantin baru yang sempurna. Dion sangat pandai dalam perannya. Ia tak segan memegang tangan Keisha, melingkarkan lengannya di pinggangnya, atau memberikan senyuman menenangkan ketika Keisha merasa tertekan oleh tatapan orang banyak. Kata-kata "sayang" atau "cinta" mungkin tidak pernah terucap, tapi gestur kecil itu cukup untuk meyakinkan semua orang bahwa mereka baik-baik saja. Keisha sendiri, lambat laun, juga menjadi mahir dalam sandiwara ini. Ia belajar membalas senyum Dion dengan senyum yang tampak tulus, membalas sentuhan dengan sentuhan serupa, dan bahkan tertawa di tempat yang tepat.

Awalnya, setiap sentuhan Dion terasa asing, bahkan sedikit menjijikkan karena mengingatkannya pada kebohongan besar ini. Namun, seiring waktu, Keisha mulai menyadari bahwa sentuhan Dion selalu sopan, penuh perhitungan, dan tidak pernah melebihi batas. Ia tidak pernah memanfaatkan situasi mereka untuk kepentingan pribadi. Justru, Dion adalah bentengnya. Ia melindungi Keisha dari pertanyaan-pertanyaan sulit, dari tatapan simpati yang merendahkan, dan dari gosip-gosip yang beredar di kalangan sosialita.

Di balik layar, kehidupan mereka benar-benar terpisah. Dion sibuk dengan perusahaannya, yang memang sedang berkembang pesat. Ia seringkali pulang larut malam, terkadang bahkan tidak pulang karena harus ke luar kota. Keisha sendiri mencoba mencari kesibukan. Ia mulai mengambil kursus melukis, mencoba kelas yoga, dan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan. Ia ingin mengisi kekosongan dalam hidupnya, kekosongan yang ditinggalkan oleh Rafael.

Hubungan mereka di rumah lebih mirip antara dua teman sekamar yang sangat sopan. Mereka jarang bicara mendalam, apalagi tentang perasaan. Percakapan mereka seputar "Apakah kau mau makan malam di rumah?" atau "Aku akan pulang terlambat malam ini." Ada dinding tak terlihat yang membatasi mereka, dinding yang dibangun dari rasa malu, pengkhianatan, dan kesepakatan aneh yang mengikat mereka.

Namun, perlahan, retakan-retakan kecil mulai muncul di dinding itu.

Suatu sore, Keisha sedang berusaha memperbaiki keran yang bocor di dapur, yang ternyata lebih rumit dari dugaannya. Air memercik kemana-mana, dan ia mulai frustrasi. Tiba-tiba, Dion muncul, baru pulang kerja. Ia menatap Keisha, yang sudah basah kuyup dengan air.

"Ada apa ini?" tanya Dion, alih-alih tertawa, ia terdengar khawatir.

"Kerannya bocor," jawab Keisha, nada suaranya frustrasi. "Aku tidak bisa memperbaikinya."

Dion melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya. "Minggir, biar aku lihat."

Ia berjongkok, memeriksa keran dengan cermat. Tangannya cekatan. Dalam beberapa menit, dengan beberapa gerakan teknis yang Keisha sendiri tidak mengerti, air berhenti bocor.

"Sudah," kata Dion, berdiri dan membersihkan tangannya.

Keisha menatapnya takjub. "Bagaimana kau bisa?"

Dion mengangkat bahu. "Sedikit tahu soal perbaikan rumah. Adikku Rafael, dia tidak pernah mau tahu hal-hal seperti ini. Jadi aku harus belajar sendiri."

Kalimat itu, yang menyebut nama Rafael secara tidak langsung, menciptakan sedikit ketegangan. Namun, ada juga rasa kagum yang muncul di hati Keisha. Dion ternyata tidak hanya pintar dalam urusan bisnis, tapi juga praktis.

"Terima kasih," kata Keisha, sedikit malu karena telah terlihat tidak berdaya.

Dion hanya mengangguk, lalu berbalik pergi untuk mandi. Momen singkat itu, di mana Dion menunjukkan sisi lain dirinya-sisi yang kompeten dan membantu-meninggalkan kesan di benak Keisha.

Beberapa minggu kemudian, Keisha jatuh sakit. Demam tinggi, flu, dan batuk yang tak berhenti. Ia tidak sanggup bangun dari tempat tidur. Dion, yang biasanya sibuk, menemukan Keisha terbaring lemas saat ia pulang kerja.

"Keisha? Ada apa?" tanyanya, suaranya terdengar panik. Ia langsung mendekat, menyentuh dahi Keisha. "Kau demam tinggi sekali."

Tanpa banyak bicara, Dion pergi ke dapur, kembali membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia memeras handuk itu, lalu dengan lembut mengompres dahi Keisha. Sentuhannya dingin, menenangkan. Ia juga membawa semangkuk bubur hangat dan obat-obatan.

"Kau harus makan," kata Dion, membantu Keisha duduk. "Lalu minum obat."

Keisha terlalu lemah untuk menolak. Ia hanya bisa pasrah saat Dion menyuapinya bubur, sedikit demi sedikit. Dion merawatnya dengan penuh perhatian, mengganti kompres secara berkala, dan memastikan Keisha minum obat tepat waktu. Ia bahkan mengambil cuti dari kantornya selama dua hari untuk merawat Keisha.

"Kau tidak perlu melakukan ini," bisik Keisha suatu malam, saat Dion sedang duduk di samping tempat tidurnya, membaca buku.

Dion mendongak. "Tentu saja aku perlu. Kau adalah tanggung jawabku sekarang, Keisha."

Kata "tanggung jawab" itu kembali muncul. Sebuah kata yang dulu terasa hampa, kini entah mengapa, terasa sedikit menghangatkan. Dion tidak merawatnya karena cinta, melainkan karena rasa tanggung jawab yang kuat. Namun, bagi Keisha yang merasa sendirian dan rentan, itu sudah lebih dari cukup.

"Terima kasih," Keisha berbisik lagi, kali ini dengan perasaan yang lebih tulus.

Dion tersenyum tipis. "Istirahatlah."

Selama Dion merawatnya, Keisha melihat sisi lain dari pria itu. Sisi yang lembut, peduli, dan sabar. Sisi yang tidak pernah ia duga ada di balik persona tenang dan pragmatisnya. Itu adalah retakan kecil lainnya di dinding di antara mereka, memungkinkan sedikit cahaya masuk.

Seiring waktu, mereka mulai menemukan titik-titik temu. Keisha tahu Dion menyukai kopi hitam tanpa gula, dan Dion tahu Keisha tidak bisa memulai hari tanpa teh chamomile. Dion sesekali akan meninggalkan bunga segar di meja makan, yang ia beli dalam perjalanan pulang. Keisha, sebagai balasannya, akan membuatkan sarapan favorit Dion-roti panggang dengan alpukat-pada akhir pekan.

Mereka mulai berbagi cerita-cerita kecil. Dion menceritakan tentang proyek arsitekturnya yang menantang, tentang bagaimana ia membangun perusahaannya dari nol. Keisha menceritakan tentang impiannya menjadi desainer busana, tentang bagaimana ia dulu suka menggambar sketsa gaun pengantin sejak kecil. Dalam percakapan-percakapan singkat itu, mereka perlahan mulai mengenal satu sama lain, bukan sebagai suami istri palsu, tetapi sebagai individu.

Suatu sore, saat Dion sedang bekerja di ruang kerjanya, Keisha memberanikan diri mengetuk pintunya.

"Ada apa?" tanya Dion, mendongak dari layarnya.

"Aku... aku hanya ingin tahu," kata Keisha, sedikit gugup. "Apa kau pernah... punya kekasih serius sebelumnya?"

Dion terdiam, menatap Keisha dengan ekspresi terkejut. Itu adalah pertanyaan pribadi pertama yang Keisha ajukan.

"Pernah," jawab Dion setelah beberapa saat. "Seorang wanita bernama Sarah. Kami menjalin hubungan cukup lama, sekitar tiga tahun."

"Kenapa putus?"

Dion menghela napas. "Dia ingin menikah dan punya anak. Aku... aku saat itu belum siap. Terlalu fokus pada pekerjaan, pada membangun perusahaan. Dia bilang aku terlalu ambisius dan tidak memberinya cukup waktu. Jadi dia pergi."

Ada nada kesedihan yang samar di suara Dion, sesuatu yang jarang Keisha dengar. Itu membuat Dion terasa lebih manusiawi, lebih dari sekadar pria pragmatis yang menikahinya demi menyelamatkan muka.

"Aku mengerti," kata Keisha, suaranya lembut. "Terkadang memang sulit menemukan keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi."

"Ya," Dion mengangguk. "Dan kau? Rafael adalah pacar pertamamu?"

Keisha tersenyum pahit. "Dan terakhir. Sepertinya."

Dion menatapnya dengan simpati. "Kau akan menemukan kebahagiaan lagi, Keisha. Aku yakin itu."

Percakapan singkat itu terasa seperti terobosan. Mereka tidak lagi bicara hanya tentang hal-hal permukaan, tetapi mulai menyentuh bagian-bagian yang lebih dalam dari diri mereka. Dinding itu, yang dulu kokoh, kini memiliki lebih banyak retakan.

Enam bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang aneh itu. Keluarga dan teman-teman mereka sudah mulai terbiasa dengan status Dion dan Keisha sebagai suami istri. Mereka bahkan menerima undangan makan malam dari beberapa pasangan, yang mengharuskan mereka untuk tampil sebagai "pasangan bahagia."

Malam itu, mereka sedang menghadiri pesta ulang tahun seorang teman lama Dion. Keisha mengenakan gaun malam yang elegan, dan Dion tampak gagah dalam setelan jasnya. Mereka menari bersama, Dion memimpin dengan gerakan yang lembut dan sopan, sementara Keisha mengikutinya. Di mata orang lain, mereka adalah pasangan yang serasi, penuh kasih sayang.

"Kau terlihat sangat cantik malam ini," bisik Dion di telinga Keisha saat mereka menari, membuat Keisha sedikit terkejut. Itu adalah pujian pertama yang Dion berikan padanya.

Pipi Keisha sedikit merona. "Terima kasih."

Malam itu, mereka banyak berinteraksi. Dion memperkenalkan Keisha kepada rekan-rekan bisnisnya, dan Keisha menemukan bahwa ia bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial Dion. Mereka bahkan tertawa bersama beberapa kali, tawa yang terasa lebih nyata dari sebelumnya.

Saat pesta usai dan mereka kembali ke rumah, ada keheningan yang berbeda di dalam mobil. Bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang nyaman.

"Pestanya menyenangkan," kata Keisha memecah keheningan.

"Ya," jawab Dion. "Kau bersenang-senang?"

"Lumayan. Kau sangat pandai berakting, Dion."

Dion terkekeh pelan. "Kau juga tidak kalah hebatnya, Nyonya Prakasa."

Sebuah sensasi aneh menjalar di hati Keisha saat Dion menyebutnya "Nyonya Prakasa." Itu adalah gelar yang seharusnya ia sandang dengan Rafael, namun kini ia menyandangnya dengan Dion. Anehnya, rasa sakit yang biasa muncul saat mengingat Rafael kini sedikit mereda.

Ketika mereka sampai di rumah, Keisha langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Saat ia keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama sutra, ia melihat Dion berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Kau mau kopi atau teh?" tanya Dion, suaranya pelan.

Keisha menatapnya, sedikit terkejut. Dion tidak pernah menawarkan hal seperti itu sebelumnya, apalagi di malam hari, di depan pintu kamarnya.

"Teh chamomile," jawab Keisha, mencoba menutupi kegugupannya.

Dion mengangguk, lalu berbalik menuju dapur. Keisha mengikuti langkahnya, bertanya-tanya ada apa ini.

Mereka duduk di ruang keluarga, di sofa yang berbeda. Dion menyerahkan secangkir teh panas pada Keisha. Keheningan kembali menyelimuti, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada semacam antisipasi.

"Aku tahu ini aneh," kata Dion akhirnya, menatap cangkir tehnya. "Tapi... aku ingin berterima kasih padamu, Keisha."

Keisha mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Untuk ini semua," Dion mengangkat pandangannya, menatap Keisha. "Untuk mau menjalani sandiwara ini bersamaku. Untuk mau menanggung semua ini. Tanpamu, aku tidak tahu bagaimana keluarga kami akan menghadapi skandal Rafael."

Ada ketulusan mendalam di mata Dion. Keisha merasakan hatinya sedikit menghangat. "Aku juga berterima kasih padamu, Dion. Kau sudah melindungiku. Kau sudah membuatku merasa... tidak sendirian."

Dion tersenyum tipis, senyum yang kali ini lebih hangat dan lebih nyata dari apapun yang pernah ia lihat. "Kita memang tidak sendirian."

Malam itu, mereka tidak banyak bicara lagi. Mereka hanya duduk di sana, menyesap teh dan kopi mereka, dalam keheningan yang nyaman. Dinding yang memisahkan mereka kini terasa lebih tipis, hampir transparan. Ada pengakuan yang tak terucap, sebuah pengertian baru yang muncul di antara mereka.

Keisha tidak tahu apakah ini adalah awal dari sesuatu yang lebih, atau hanya momen singkat kebersamaan di tengah badai. Namun, ia tahu satu hal: Dion Prakasa, pria yang ia nikahi karena keadaan, kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Ia adalah bagian dari hidupnya, bagian dari takdir yang aneh ini. Dan entah mengapa, di tengah semua rasa sakit dan kebingungan, ada secercah harapan kecil yang mulai bersemi di hatinya, harapan akan masa depan yang, mungkin saja, tidak seburuk yang ia bayangkan. Mungkin, dari retakan-retakan kecil ini, sesuatu yang nyata bisa tumbuh.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED