Pagi yang cerah di kawasan Jakarta. Alexa membuka mata dan melihat jam dinding. Sungguh terkejut sekali Alexa melihat jam yang sudah menunjukkan 06.30. Alexa bergegas bangun dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai Alexa segera memakai baju. Di ruangan makan Winda sedang mempersiapkan sarapan. Sambil clingak-clinguk Winda mencari keberadaan Alexa yang belum turun juga.
"Huh… ini anak belum bangun jam segini! Padahal hari ini kelulusan sekolahnya!" geram Winda.
Tak lama datang Gio sang suami mendekatinya sambil mengendus aroma tubuh Winda. Gio memeluk tubuh Winda dan menciumnya sambil bertanya, "Kenapa kamu geram gitu?"
"Putri kita belum bangun," jawab Winda yang kesal.
"Kalau begitu Mama gih bangunin. Papa ingin bicara dengan Alexa," suruh Gio yang serius.
"Baiklah," balas Winda yang melepaskan pelukannya lalu menuju ke kamar Alexa.
Sesampainya di kamar, Winda mengetuk pintu. Namun Alexa tidak kunjung keluar. Lalu Winda berteriak memanggil Alexa, "Alexa… Alexa… buka pintunya… mama ingin masuk."
Alexa yang selesai berkemas langsung membuka pintu. Kemudian Alexa melihat Winda sambil melemparkan senyuman yang manis itu, "Mama."
"Kamu enggak sekolah? Kok bangunnya siang banget," tanya Winda yang masuk ke kamar Alexa.
"Aku kesiangan bangun. Rasanya aku hari ini malas sekali berangkat sekolah," jawab Alexa.
"Hmmp… dasar anak muda sekarang. Bisa-bisanya ngomong malas. Bagaimana mau sukses kalau sedari awal malas begitu?" kesal Winda pada Alexa. "Mama tunggu di bawah dulu."
Alexi menganggukan kepalanya sambil melanjutkan berkemas. Lalu Alexa mengambil tas sekolahnya dan menuju dapur.
***
Sesampainya di dapur Alexa melihat Gio yang sudah rapi. Alexa memicingkan matanya sambil tersenyum kecut. Bagaimana bisa sang papa kembali ke rumah ini setelah dirinya dan sang mama ditinggalkannya begitu saja? Tanpa basa-basi Alexa menyapa Gio dengan memakai bahasa formal, "Selamat pagi Pak Gio."
"Lexa," panggil Winda. "Jangan panggil papamu dengan Pak Gio."
"Dia bukan papaku. Dia adalah musuh terbesarku di dalam hidupku. Mama tahukan selama ini kita menderita karena ulah orang ini," tunjuk Alexa ke arah Gio dengan penuh amarah.
"Winda… jangan diteruskan. Biarkan Alexa memanggilku apa," ujar Gio yang menyuruh Winda diam.
Winda terdiam sambil menuangkan susu untuk Alexa. Setelah selesai Winda duduk di samping Gio. Setelah semuanya kondusif, Gio meminta Alexa duduk di hadapannya, "Alexa duduklah."
"Aku tidak mau," ketus Alexa.
"Alexa… Duduklah sebentar! Papa ingin bicara sesuatu sama kamu!" tegas Gio.
Alexa menuruti kemauan Gio. Alexa duduk di depan Gio sambil menghembuskan nafasnya. Kemudian Gio mengeluarkan suaranya, "Alexa…. Terserah kamu memanggil papa apa? Papa enggak jadi masalah. Tapi ingatlah suatu hari kamu akan mengerti apa yang terjadi?"
"Kenapa papa pergi ketika Lexa menginginkan pelukan hangat darimu? Kenapa papa tidak pernah hadir ketika ulang tahun Alexa? Kenapa papa menghilang dari hidup Lexa? Kenapa pa?" tanya Alexa yang kecewa.
"Papa tidak bisa cerita sekarang. Jika ada waktu yang baik papa akan cerita," jawab Gio.
"Sebenarnya ada apa sih pa?" tanya Alexa yang bingung.
"Papa tidak akan cerita sekarang. Mulai saat ini papa akan serahkan kamu ke keluarga Snowden," jawab Gio yang serius.
"Maksud kamu apa mas?" tanya Winda yang pura-pura tidak tahu masalah sebenarnya.
"Kamu harus menikah dengan Martin Snowden. Titik tidak pake koma!" tegas Gio.
Mata Alexa membulat sempurna. Alexa menatap sendu wajah sang papa. Alexa sungguh kecewa dengan keputusan sang Papa yang mendadak itu. Alexa tidak habis pikir dengan keputusan sang papa, "Pa… setelah papa enggak pulang bertahun-tahun. Meninggalkan Alexa yang sendirian bersama mama. Lalu papa datang dengan menyuruhku menikah dengan Martin Snowden. Apakah papa pikir Alexa bahagia mendengar kabar berita itu?"
Gio hanya bisa menghembuskan nafasnya secara perlahan. Gio bingung harus menjelaskan awal mula dirinya yang menghilang.
"Alexa… kamu harus dengerin papa. Menurutlah pada papa jika kamu ingin selamat. Papa sudah tidak mempunyai harapan hidup lagi. Jika umur papa masih panjang. Papa akan bercerita kenapa keluarga kita bisa terpecah begini? Dan jika papa sudah tidak ada kamu jangan pernah menangis," pinta Gio. "Papa hanya meminta kepada kamu. Setelah kamu dari sekolah. Pergilah ke mansion Snowden. Jangan pernah kembali lagi ke sini."
Entah kenapa Alexa merasakan firasat buruk yang menimpa kedua orang tuanya itu. Alexa menganggukkan kepalanya dan berusaha menahan ingin tahunya itu.
"Makanlah. Mungkin ini masakan terakhir mama buat kamu," pinta Winda.
Alexa tersenyum keluh. Alexa mencoba memegang pisau dan sendok itu yang menghembuskan nafasnya sambil memakan sarapannya itu.
Dengan pelan Alexa mengunyah makanannya. Ada rasa sesak di dalam dada. Ingin rasanya menangis namun tidak bisa. Setelah mereka sarapan Alexa memeluk erat Gio dan mengendus aroma tubuh sang papa. Alexa berharap sang papa tidak akan pergi lagi dari rumah dan kehidupannya. Selesai memeluk Gio, Alexa berpindah ke Winda. Alexa membenamkan wajahnya di dada Winda dan memintanya jangan pergi.
"Mama!!! Jangan pergi dari Alexa," ucap Alexa yang menangis.
Winda yang merasakan Alexa menangis, hanya bisa menghapus air matanya. Selama ini Winda tahu apa yang dialami keluarganya itu. Beberapa tahun terakhir Winda dan Gio sering mendapatkan teror dari orang yang tidak dikenalnya. Lalu Gio mencoba menghadapi sang peneror itu. Namun usahanya sia-sia. Sang peneror itu selalu bersembunyi.
Setelah menangis Winda melepaskan Alexa dan berkata, "Janganlah menangis. Ingat pesan papa. Pergilah ke keluarga Snowden. Papa sudah menjodohkan kamu sama Martin. Seminggu lagi pernikahan kalian akan dilaksanakan."
"Kalau aku tidak ingin menikah?" tanya Alexa.
"Kamu harus menikah dengannya. Nanti kamu akan aman bersamanya," jawab Winda.
Alexa menganggukkan kepalanya dan melihat Winda dan Gio. Sambil menatap kedua orang tuanya Winda tersenyum manis sambil berkata, "Aku tidak jadi sekolah ya Ma."
Winda menggelengkan kepalanya sambil membalas senyumannya itu, "Pergilah ke sekolah. Mama ingin melihat nilai kamu."
Dengan berat hati Alexa langsung menganggukan kepalanya. Tak lama Alexa pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Alexa hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
Beberapa menit setelah Alexa pergi. Ada sekawanan orang yang memakai baju serba hitam datang. Mereka memasuki rumah Alexa dan mengepung Winda dan Gio.
"Apakah kalian sudah bersiap mati?" tanya seseorang yang baru masuk ke rumah itu dan mendekati Gio.
Gio melihat seseorang yang berada di depannya hanya bisa tersenyum sinis. Lalu Gio menatap wajah seseorang itu dengan penuh kebencian, "Nano… dari dulu aku memang sudah bersiap mati. Tapi kamu tidak bisa membunuhku."
"Jangan sombong. Sebentar lagi aku yang akan menghakimimu," geram Nano nama pria yang berada di depan Gio.
"Cih… apakah kamu Tuhan yang berhak menghakimi seseorang?" tanya Gio dengan dingin.
Nano tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan dari Gio. Lalu Nano menjawab pertanyaan dari Gio dengan tegas, "Aku adalah Tuhanmu yang berhak menghakimimu. Di mana kamu taruh dokumen Taurus Corps?"
"Aku tidak akan memberitahukan pada kamu," jawab Gio dengan tegas.
"Katakanlah kepadaku atau nyawamu melayang!" teriak Nano yang mengambil pistol di balik belakang jasnya.
Tak lama ada seseorang yang masuk lalu mendekati Nano. Tanpa basa-basi pria itu memberitahukan sebuah fakta yang berkaitan dengan Gio dan juga Winda. Setelah mendengar fakta, Nano tertawa terbahak-bahak. Nano mendekati Gio sambil menatapnya tajam, "Jika kamu tidak memberi tahukan di mana dokumen Taurus Corps. Putrimu akan aku habisi dengan tanganku sendiri!!!"
Gio yang mendengar Alexa dalam bahaya langsung lemas. Gio tidak ingin melihat Alexa mati sia-sia. Sementara itu Winda merasakan sesak di dada. Dalam diam Winda berdoa untuk keselamatan Alexa. Winda berharap keluarga Snowden tepat waktu untuk menolongnya. Lalu Nano langsung memberi perintah kepada orang tadi untuk segera menangkap Alexa.
"Tangkap segera Alexa!!! Aku akan menjadikan dia sebagai budak nafsuku!!!" titah Nano dengan suara meninggi.
Setelah mendapat tugas menangkap keberadaan Alexa, pria itu pergi meninggalkan Nano. Tak lama Nano menatap wajah Gio dengan penuh kebencian lalu berkata, "Hey... Gio!!! Aku sudah memberikan kamu waktu lima tahun untuk menyerahkan semua aset Taurus Corps. Tapi kenapa sampai saat ini kamu tidak memberikannya kepadaku!!! Bukannya papa menyuruh untuk membagi hasilnya untukku!"
Gio tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Nano. Lalu Gio menyahuti, "Kamu kamu tahu kenapa aku tidak memberikan seluruh aset Taurus? Jawabannya hanya satu karena kamu menjadi orang yang sangat serakah!!" Bukannya aku tiap bulan sudah membagi hasilnya! Di manakah uang yang aku berikan untukmu! Apakah selama ini kurang!!!" tegas Gio dengan suara meninggi.
Nano yang tidak terima dikatai serakah berang. Dengan cepat Nano mengarahkan pistolnya ke arah Gio. Nano menarik pelatuknya dan melepaskannya hingga terjadi,
Dor!!!
Dor!!!
Dor!!!
Gio langsung ambruk di hadapan Nano sambil menutup matanya. Lalu Nano melihat Winda yang penuh dengan kebencian. Nano mulai mengarahkan pistolnya itu ke arah Winda dengan tertawa devil.
Dor!!!
Satu peluru bersarang di jantung Winda yang membuatnya ambruk seketika. Ketika keduanya ambruk, Nano memeriksa keadaan mereka yang sudah tidak bernyawa lagi. Nano merasa puas sekali dan berkata, "Tidurlah adikku. Semoga kamu bertemu dengan kedua orang kita di surga. Dan satu lagi putrimu akan menyusulmu. Jadi bersiaplah menerima kedatangan putrimu itu!"
Nano tertawa terbahak-bahak dan memberikan sebuah kode agar para pengawalnya pergi menjauh. Setelah itu Nano menyebarkan para pengawalnya untuk mencari keberadaan Alexa.
Mansion Snowden.
Seorang pria paruh baya terkejut dengan informasi yang didapatkan. Pria itu tiba-tiba menjadi lemas dan hampir limbung. Dengan cepat Pengawal yang masih berada di depannya menangkap pria itu. Setelah menetralkan hatinya, pria itu memandang wajah para pengawalnya dengan seksama, "Apakah itu benar?"
"Ya Tuan. Kami datang terlambat untuk menyelamatkan Tuan Gio dan Nyonya Winda," Pengawal itu semakin pucat.
"Apakah Nano mengetahui keberadaan Alexa?" tanya James nama pria itu.
"Saya rasa belum Tuan," jawab pengawal itu.
"Cepat atau lambat Nano akan mendapatkan Alexa! Aku tidak akan membiarkan Alexa jatuh ke tangan Nano! Cepat kalian susul Alexa!" perintah James dengan serius.
"Baik Tuan," balas pengawal itu yang segera pergi meninggalkan James.
Air mata James mengalir. James tidak bisa memenuhi Gio sang anak angkatnya. James sangat menyesal sekali.
"Oh... Tuhan... Kenapa engkau mengambil nyawa Gio dan Winda? Apa salah mereka?"
Tak lama Linda datang dengan membawa sarapan James. Kemudian Linda menaruh sarapan di meja James. Linda menoleh dan melihat James yang menangis.
"James," panggil Linda sembari mendekati James.
"Linda, aku terlambat menyelamatkan Gio dan Winda," James semakin menangis dan memeluk Linda.
"Maksudmu?" tanya Linda yang tidak paham.
"Nano sudah membunuhnya," jawab James.
"Astaga... Gio... Winda!!! Lalu bagaimana dengan cucu angkat kita pa? Bagaimana kabar Alexa? Apakah Alexa selamat dari Nano?" tanya Linda secara bertubi-tubi.
"Para pengawal akan segera menjemputnya. Aku harap para pengawal tidak terlambat," jawab James.
Kedua orang tua itu sangat khawatir dengan kondisi Alexa. Mereka tidak menyangka Nano bisa sekejam itu membunuh keluarga adiknya hanya demi harta warisan.
SMA DARMA BAKTI.
Alexa yang baru sampai di sekolah, tidak mengetahui kalau orang tuanya sudah meninggal. Kemudian Alexa bergabung dengan Beautiful Girls Ganks.
"Hey Girls... Sebentar lagi pengumuman kelulusan. Ayo kita liburan," ajak Alexa.
"Liburan ke mana?" tanya Melly yang bingung.
"Bali lah," sahut Eve.
"Ngapain ke Bali. Bosan tahu," ucap Erin yang asyik membaca novel online.
"Terus ke mana?" tanya Alexa yang menyambar bakpia di depannya.
"Paris," jawab Erin yang masih fokus dengan novelnya itu.
"Ngapain ke Paris Rin? Lebih baik kita pergi ke Villa untuk bakar-bakar," celetuk Melly.
"Bakar apa ini? Bakar Villa maksudmu?" tanya Alexa yang sedang menikmati bakpia rasa keju.
"Idihhh... Bakar Villa... Kalau sampai Villa itu terbakar kemungkinan besar aku digantung sama bapakku," jawab Melly.
"Ide setuju tuh. Lebih baik kita pergi ke villa Merry dan bakar-bakar. Sekalian bawa pacar," usul Erin yang semangat.
"Aku tidak janji dech," ucap Alexa yang tiba-tiba saja gusar.
"Kenapa enggak jadi Xa?" tanya Melly. "Enggak bawa pacar juga enggak apa-apa. Kita kan melakukan liburan untuk membuat kenangan yang terindah."
Alexa menghembuskan nafasnya dan tidak menjawab pertanyaan Melly. Alexa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di mansionnya.
"Aku ingin pulang," pamit Alexa sambil mengambil tasnya dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
Dengan cepat Alexa berdiri lalu ditahan Melly. Kemudian Melly memintanya untuk tetap di sini, "Jangan pergi dari sini. Sebentar lagi akan ada pengumuman kelulusan."
Alexa mengambil air mineral dan meminumnya hingga tandas. Lalu Alexa bernafas lega sambil berkata dalam hati, "Ada yang tidak beres dengan mama papa."
Tak lama bel berbunyi. Mereka langsung berdiri dan berjalan menuju ke kelas masing-masing. Setelah sampai ke kelas Alexa duduk dengan gusar. Tak lama datang Bu Maya wali kelas Alexa. Bu Maya hanya memberitahukan bahwa kelulusan sekarang bisa dilihat dari web sekolah.
"Pagi anak-anak," sapa Bu Maya dengan tersenyum.
"Pagi Bu," jawab mereka serempak.
"Sehubungan dengan informasi dari pusat pemerintahan. Bahwa pengumuman hasil kelulusan hasil akhir sekolah bisa dicek di website sekolah," ucap Bu Maya.
"Lha... Kenapa ibu tidak memberi tahukan kepada kami jika pengumuman kelulusan lewat online?" tanya Alexa yang kesal.
"Maaf anak-anak. Pihak sekolah mendapatkan informasi ini sehari sebelumnya," jawab Bu Maya dengan jujur.
"Kalau begitu kami mau pulang," ucap Melly yang dibarengi oleh lainnya.
"Pulang ke rumah... Jangan melakukan konvoi kelulusan," ujar Bu Mira.
"Yach... Baiklah," sahut mereka dengan lesu.
Alexa sangat lega dan segera berlari ke pintu gerbang. Sebelum Alexa melewati pintu gerbang. Ada beberapa orang yang memakai baju serba hitam. Salah satu dari mereka menyapa Alexa dengan hangat, "Pagi Nona Alexa."
Seketika Alexa terkejut dan mulai ketakutan. Lalu salah satu Pengawal itu mengajak Alexa dengan menunjuk mobil hitam yang sudah terparkir di depannya, "Nona kami dari utusan Tuan James mengajak ke mansion utama."
"Kakek James?" tanya Alexa dengan mata berbinar.
"Iya nona. Kami disuruh menjemput anda," jawab sang Pengawal.
"Aku ingin pulang ke mansionku untuk mengambil laptop dan bertemu dengan kedua orang tuaku," pinta Alexa.
"Tidak perlu nona. Tuan James sudah mempersiapkan laptop baru untuk nona. Mari nona," ajak sang pengawal itu.
"Tapi bagaimana dengan orang tuaku?" tanya Alexa.
Dorrrrr!!!!
"Argh!!!!!" teriak Alexa sambil memegang pundaknya yang tertembak.
"Nona Alexa!!!" teriak sang pengawal lalu memegang tubuh Alexa. "Kejar orang yang baru saja menembak Nona Alexa!!!!"
Pengawal itu langsung mengangkat tubuh Alexa dan membawanya segera ke rumah sakit keluarga Snowden. Sementara beberapa pengawal langsung mengejar orang itu.
Ketika Alexa sudah mengeluarkan darah cukup banyak, seluruh teman-teman Alexa berkumpul. Melly, Eve dan Erin yang baru dari kelas ingin menyusul Alexa. Namun mereka melihat anak sekolah sedang berkumpul. Mereka berusaha masuk ke dalam dan ingin melihat apa yang sedang terjadi. Kemudian mereka melihat bahu Alexa mengeluarkan banyak darah. Salah satu dari mereka sangat terkejut, "Alexa!!!"
"Tenang aku baik-baik saja," ucap Alexa yang menenangkan teman-temannya itu.
Pengawal yang tadi berteriak membawa Alexa masuk ke dalam mobil. Pengawal itu menancap gasnya segera ke rumah sakit. Di dalam perjalanan Alexa pingsan dan tidak kuat melihat darahnya sendiri. Sang pengawal di sampingnya mencoba membangunkannya. Namun Alexa hanya bisa menyahutinya dan tidak membuka matanya.
"Nona... Nona... Jangan mati," seru sang pengawal itu.
"Aku tidak mati. Tapi aku hanya memejamkan mata. Kamu tahu aku sangat membenci darah. Apalagi dengan darahku sendiri yang sudah keluar banyak. Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah membuatku begini!!!" geram Alexa.
***
Sesampainya di rumah sakit. Alexa langsung dirawat di ruangan IGD. Pengawal yang membawa Alexa menghubungi James. Sementara di kediaman Snowden, Martin yang habis olahraga menemui James.
"Ada apa papa memanggilku?" tanya Martin.
"Ada sesuatu yang ingin papa bicarakan," jawab James dengan wajah datar.
"Iya.. terus?"
"Papa sudah menjodohkan kamu dengan Alexa."
"Alexa? Apakah Martin tidak salah dengar?"
"Tidak Martin. Kamu harus menikah dengan Alexa."
"Aku tidak mau pa. Aku menolak Alexa. Papa tahu kan kalau Alexa itu adalah keponakanku. Anak dari Kak Gio. Papa sudah gila kali ya... menyuruhku menikah dengan keponakan sendiri."
Di dalam kamar James dan Martin mulai berdebat. James yang menginginkan Martin menikahi Alexa. Sedangkan Martin menolaknya dengan tegas. Martin berpikir kalau sang papa sudah gila menyuruhnya menikah dengan keponakannya sendiri.
"Tidak pa! Aku tidak akan menikahi Alexa. Aku masih mencintai Nathalie!" tegas Martin.
"CK... Cinta... Kamu seolah-olah berbicara tentang cinta dihadapan Papa. Kamu pikir papa enggak tahu siapa Nathalie. Seorang wanita yang ingin menguasai aset Snowden," geram James.
"Tuhan... Bagaimana aku menjelaskan semuanya? Kalau aku memang sangat mencintai Natalie," gumam Martin.
"Jangan sebut Tuhan di hadapan Papa! Kamu kira papa tidak tahu! Kamu kira papa hanya menutup mata saja melihat gaya pacaran kamu! Martin!!! Papa tidak bodoh!!!"
James semakin marah ketika Martin menyebut Tuhan. James tidak menyukai Tuhan? Tidak itu tidak benar. James adalah pria yang taat beribadah. Namun James semakin geram jika sang putra menyebut Tuhan. Karena James tahu gaya pacaran Martin ala adat kebaratan.
"Tolong jangan bahas Tuhan di sini. Percuma saja kamu menyebutnya, sedangkan kamu sendiri sudah mengecewakanNya. Kamu tidur bersama Nathalie dan bercinta. Apakah kamu tidak malu dengan apa yang kamu lakukan?" tanya James yang mengingatkan Martin.
"Kenapa Papa kesal ketika aku menyebut Tuhan?" tanya Martin tanpa ada rasa bersalah.
"Jika kamu mengagungkan Tuhan... Tolong tinggalkan kebiasaan kamu yang tidur seenaknya. Tinggalkan Nathalie dan menikahlah dengan Alexa," jawab James yang masih emosi.
"Maaf pa... Jika papa menyuruhku meninggalkan Nathalie aku tidak bisa. Jika papa menyuruhku yang lain. Aku sanggup melakukannya. Walau aku harus menyeberangi neraka sekali pun," tolak Martin secara terang-terangan.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Mulai saat ini papa akan mencabut seluruh fasilitas yang kamu miliki. Dan papa akan melemparkan kamu ke jalanan," ancam James dengan serius.
Martin terdiam dan seakan tidak percaya bahwa sang papa akan menarik semua fasilitas yang di milikinya. Mau tidak mau Martin harus mengatakan iya.
"Iya pa... Aku akan menikahinya," kata Martin.
"Bagus kalau begitu. Seminggu lagi pernikahan kamu akan dilaksanakan," ujar James yang tersenyum merekah.
Beberapa saat kemudian ponsel James berdering. Lalu James meraih ponselnya di atas nakas dan melihat nomor yang tertera di layar ponselnya dan mengangkatnya, "Hallo..."
"Tuan... Nona Alexa tertembak dengan orang yang tidak dikenal," ucapnya yang ketakutan.
"Apa katamu?" tanya James yang tidak percaya apa yang didengarnya itu.
"Ya Tuan. Nona Alexa tertembak dengan orang yang tidak dikenal," jawab pengawal itu yang semakin gusar.
"Baiklah... Aku segera ke sana," sahut James.
James segera mematikan sambungan telepon itu. Lalu James mengajak Martin untuk pergi ke rumah sakit, "Martin... Ikut papa ke rumah sakit. Calon istrimu tertembak."
Martin menghembuskan nafasnya lalu keluar dari kamar James. Dengan kesalnya Martin masuk ke kamar dan membanting pintu kamar.
Brakkkkkkkkk!!!!
Linda yang tidak sengaja lewat di kamar Martin hanya mengernyitkan dahinya. Lalu Linda masuk ke dalam kamar Martin sambil melihat wajah putranya yang masam, "Kenapa kamu banting-banting pintu segala?'
"Mama keluar dech... Enggak usah ikut campur urusan Martin," usir Martin.
"Kenapa kamu tiba-tiba saja marah? Kenapa kamu tiba-tiba mengusir mama? Semenjak kamu pacaran sama wanita malam itu, kamu semakin melunjak!" geram Linda dengan suara meninggi.
"Nathalie bukan wanita yang seperti mama kira. Nathalie lahir dari keluarga baik-baik," balas Martin dengan suara meninggi.
"Hey... Martin... Jika kamu terus membanggakan Nathalie sekali lagi di depan Mama dan Papa. Cepat atau lambat kamu akan menyesali jika mengetahui siapa itu Nathalie! Camkan itu Martin," ancam Linda lalu keluar dari kamar Martin.
Setelah Linda keluar, Martin hanya bisa menghela nafasnya. Martin semakin marah karena sang kekasih yang dibanggakannya diejek oleh mamanya sendiri. Martin tidak perduli dengan apa yang terjadi pada kekasihnya itu.
"Argh.... Sialan itu Alexa!!! Gara-gara lu... Papa mamaku mulai menjelekkan kekasihku. Aku akan tetap menikahimu tapi kamu harus merasakan hidupmu di neraka!" geram Martin dalam hati.
Sesampainya di kamar, Linda melihat James yang sudah rapi. Kemudian James mendekati Linda sambil berpamitan, "Aku pergi ke rumah sakit dahulu. Aku ingin menjenguk Alexa yang tertembak oleh orang yang tidak dikenal."
Sontak saja Linda terkejut. Baru saja Linda mendengar Gio dan Winda meninggal. Lalu Linda mendengar Alexa tertembak. Linda akhirnya pingsan dan segera dipegang oleh James. Kemudian James mengangkat tubuh renta itu dan membaringkannya ke ranjang.
James segera mengambil minyak kayu putih di meja rias Linda. Kemudian James mendekati Linda sambil menaruh minyak kayu putih di hidungnya. Beberapa saat kemudian Linda membuka matanya.
"Bagaimana kabar Alexa?" tanya Linda yang mulai menatap kosong.
"Kita belum tahu apa kabar selanjutnya. Semoga Alexa baik-baik saja," jawab James yang penuh harap.
"Mama ikut," sahut Linda.
"Baiklah kalau begitu," balas James yang memegang tangan Linda.
Mereka akhirnya keluar dari kamar. Sebelum menaiki lift, James bertandang dulu ke kamar Martin. James ingin melihat apakah Martin sudah bersiap-siap apa belum?
Ceklek.
Pintu terbuka.
James melihat Martin yang masih santai sangat kesal sekali. Ingin rasanya James ingin menghajarnya. Namun James masih mempunyai stok sabar yang cukup banyak ketika menghadapi Martin. Dengan suara datarnya James menanyakan Martin, "Apakah kamu tidak ikut?"
"Maaf pa. Aku ada janji sama Nathalie. Sebentar lagi pesawat yang ditumpangi Nathalie tiba di Jakarta," tolak Martin dengan halus.
"Bisa enggak sih? Kalau kamu di sini enggak usah membahas Nathaliei? Ini mansion Snowden. Nathalie tidak berhak mendapatkan perlakuan yang spesial," protes James.
"Kenapa papa dan mama mengatur jodohku? Aku harus menikahi keponakanku. Papa meminta aku harus meninggalkan Nathalie. Enggak pa... Aku tidak akan pernah meninggalkan Nathalie sedetik pun," geram Martin.
"Ok... Terserah apa katamu. Jika kamu mengetahui siapa Nathalie dan keluarganya. Kamu akan menyesal," ucap James dengan datar.
"Aku yang akan menanggungnya," kesal Martin.
"Lihat saja nanti! Semoga Tuhan membuka mata hati kamu yang buta itu Martin," ujar James yang benar-benar kesal dengan Martin.
James keluar dari kamar Martin. James berharap agar mata hati Martin terbuka dan mengetahui siapa itu Nathalie. Setelah selesai berdebat, James mendekati Linda.
"Apakah mama sudah siap ke rumah sakit?" tanya James.