Bab 1

Pintu yang menghubungkan antara kamar tidur dan tempat menjemur pakaian kubuka dengan gerakan pelan. Aku baru saja keluar dari kamar mandi yang terletak di samping tempat menjemur pakaian.

Aku terkejut mendapati Kang Oded berdiri mematung, memandangiku yang baru saja masuk ke dalam kamar. Ia berdiri tegak di depan meja kamar. Meja satu-satunya dalam kamar sempit ini, tempat meletakkan rice cooker dan keranjang kecil berisi peralatan makan yang berbilang tak sampai sepuluh. Sepasang matanya memandang ke arahku dengan sorot mata yang sulit untuk kupahami. Kemudian bibirnya terbuka dan meluncurlah ucapannya.

“Kamu selingkuh, Dik?” Kang Oded menatapku lurus-lurus.

Aku yang hendak melangkah menuju lemari pakaian, tertegun. Kuusap anak rambut yang masih basah di dekat telinga.

“Kenapa Akang tanya begitu?” Aku tatap balik matanya. Langkahku menuju lemari plastik kecil berisi aneka pakaian menjadi terhenti.

“Ini buktinya!” Kang Oded mengacungkan ponselku. Mataku mengerjap sekali.

Ponsel itu aku tinggalkan di atas kasur ketika ke kamar mandi. Mungkin tadi sewaktu aku mandi, dibacanya isi pesan-pesanku kepada Mas Rudi. Tumben ia mengutak-atik ponselku, perhatian sekali. Biasanya aku jungkir balik pun ia tak mempermasalahkan.

Aku memang tak pernah menghapus pesan dan obrolan antara aku dan Mas Rudi. Aku membiarkan riwayat percakapan itu mengendap di alat komunikasiku. Ceroboh? Bukan. Aku sengaja melakukan itu karena merasa tak perlu menyembunyikannya dari Kang Oded. Mungkin di sudut hatiku yang terdalam, aku memang ingin Kang Oded menemukan pesan-pesanku kepada Mas Rudi, agar pernikahan hambar ini segera menemui titik akhir.

Suamiku, tak pernah mencurigai aku sedikitpun. Ia tak pernah tertarik mengetahui dengan siapa saja aku mengobrol di aplikasi pesan. Ia memang membatasi pergaulanku dengan para tetangga di lingkungan perumahan ini, tapi tak pernah memedulikan ponselku. Satu hal yang jelas, aku tak menyukai sikapnya yang terkadang abai terhadap kegiatanku dan terkadang amat membatasi ruang gerak pergaulanku.

Entahlah. Aku tak tahu pasti maksud dari sikapnya. Apakah ia memang tak punya rasa cemburu ataukah ia amat memercayaiku? Sulit bagiku untuk membedakan diantara kedua hal itu. Aku menghela napas, lalu duduk di tepi ranjang.

“Akang baca isi pesanku buat Mas Rudi? Baguslah jika Akang sudah tahu,” kataku santai, lalu menyandarkan punggung pada bantal yang kususun di atas kasur.

Tubuhku sangat penat. Sepulang bekerja sebagai buruh jahit di sebuah pabrik konfeksi, aku hanya ingin beristirahat setiap kali selepas jam kerja. Duduk seharian menghadapi mesin jahit dan menjahit aneka gaun dan blus membuat pinggangku rasanya kaku dan kram.

“Dik, sejak kapan kamu berubah?” Kang Oded menatapku penuh luka. Tak terdengar nada marah dalam suaranya.

“Sudah sejak lama, Kang. Akang saja yang tidak pernah perhatian,” jawabku penuh perasaan, puas akhirnya bisa mengatakan kegondokanku terhadap sikapnya selama ini.

“Padahal aku selalu percaya kamu, membebaskan kamu ketika ingin ini dan itu ....” Bahu Kang Oded turun dan suaranya menjadi lirih.

“Ya, Aku memang dibebaskan untuk berbuat apa saja. Tapi Akang juga kurang perhatian dan kasih sayang sama aku,” balasku dengan suara yang semakin melengking.

Sudah lama aku menantikan saat ini. Momentum konfrontasi terbuka yang tidak lagi menyediakan ruang buat menutupi dan memendam sesuatu. Biarlah malam ini aku ungkapkan semua kekesalan dan unek-unekku selama menikah dengannya. Biar tuntas semua rasa. Malam ini akan menjadi puncak dari titik klimaks pernikahan kami.

“Ketika kamu ingin kerja, Akang perbolehkan. Apa itu kurang perhatian?” tanya Kang Oded keheranan.

Oh, alangkah lugunya Kang Oded. Apa dipikirnya perempuan cukup dituruti kemauannya saja maka itu sudah merupakan perhatian?

“Ya. Aku senang. Tapi Akang ingat, ketika aku minta dijemput pulang selepas jam kerja pabrik? Akang malah menyuruhku pulang sendiri naik angkot,” jawabku penuh semangat. Aku menatap Kang Oded tajam. Mungkin ada nyala api kekesalan yang terpancar dari sorot mataku. Aku tak lagi peduli.

“Padahal aku sudah bilang dari malam sebelumnya, bahwa aku pulang pukul empat sore. Seharusnya, sebelum pukul empat Akang sudah menjemputku. Paling tidak ada kemauan datang sendiri, tak perlu sampai aku telepon minta jemput,” tambahku semakin bersemangat. Kang Oded menunduk.

Kelebat bayangan peristiwa yang kusebutkan terlintas jelas di dalam benak. Sore yang cerah itu, sinar matahari menyorot kuat. Aku selesai bekerja dalam kondisi yang amat lelah dan sangat ingin pulang. Aku menunggu Kang Oded di depan pabrik. Berkali-kali mengecek jam lantaran Kang Oded tak kunjung tampak batang hidungnya.

Beberapa rekan kerja melewati tempat dudukku, menyapa dan bertanya demi basa-basi dan mengucapkan kalimat pamit karena sudah dijemput terlebih dahulu.

“Menunggu dijemput, Tis?” tanya Mira. Aku mengangguk lesu.

“Aku duluan, ya.” Aku menatap punggung Mira yang pergi dengan tergesa-gesa, setelah ia melihat pacarnya sudah menunggu di depan gerbang pabrik.

Sepuluh menit berlalu. Sebagian besar rekan-rekanku yang tidak tinggal di mess pabrik sudah pulang seluruhnya. Lima belas menit terlampaui. Teman-teman yang tinggal di mess telah kembali ke mess. Aku sendirian di kursi, bengong sendirian seperti anak sekolah yang kebingungan karena jemputannya terlambat datang.

Emosi naik dari dada sampai ke ubun-ubun. Di mana Kang Oded? Aku menggertakkan gigi saking kesalnya. Di puncak kejengkelanku, aku memutuskan untuk menelepon Kang Oded. Sekali saja panggilan, teleponku langsung diangkat.

“Di mana, Kang? Aku sudah lama menunggu.” Aku langsung memberondongnya dengan tuntutan, bahkan sebelum ia sempat berkata halo.

“Menunggu? Oh, hari ini kamu enggak menginap di pabrik, ya? Maaf, Akang lupa. Hari ini ada order jahitan yang masuk dan Akang sibuk,” jawabnya tanpa rasa bersalah.

Dongkol bukan main, itulah yang kurasakan. Genggamanku pada ponsel semakin erat, saking kesalnya hatiku mendengar jawaban Kang Oded di seberang sana.

“Jadi bagaimana sekarang?” aku masih berusaha mengontrol suara meskipun jengkelku sudah sampai ke pori-pori kulit.

“Kamu pulang naik angkot saja ya, Dik? Akang betul-betul enggak bisa meninggalkan pekerjaan sekarang.”

Bagus! Enteng betul Kang Oded menyuruhku pulang naik angkot. Tanpa berkata apa-apa lagi, langsung saja kumatikan ponsel. Daripada aku mengomel panjang-pendek di telepon dan semakin menarik perhatian satpam yang mulai memerhatikanku dari balik gardu jaganya.

Bayangan itu pupus, berganti dengan pemandangan kamar sempit yang amat aku benci.

“Padahal lagi, aku hanya pulang seminggu sekali ke rumah, hari-hari lainnya aku lembur dan tidur di pabrik. Itupun Akang malas menjemputku, malah pernah Akang menyuruh Mas Rudi yang menjemputku di pabrik!” Napasku naik-turun mengatur rasa sesak di dada.

Mas Rudi teman suamiku yang sering datang ke rumah. Mereka begitu akrab hingga beberapa kali lelaki yang umurnya hanya selisih tiga tahun di atasku itu menginap di rumah kami yang bertipe RSSS, rumah sangat sempit sekali.

“Aku ini istrimu, Kang! Tapi kenapa malah menyuruh temanmu yang menjemputku? Jadi jangan salahkan aku kalau jadi akrab dan dekat dengan temanmu,” dengkusku gemas.

Salahnya sendiri membiarkan aku akrab dengan temannya, hingga akhirnya aku dan Mas Rudi pun memiliki rasa yang terlarang di dalam hati. Seperti kata orang-orang Jawa kuno, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta hadir lantaran terbiasa.

Bab 2

Kang Oded semakin menunduk. Matanya mulai berair. Dasar lembek! Baru segitu saja sudah menangis. Bukankah seharusnya aku yang menangis dan dia yang marah?

“Dik, aku maafkan perselingkuhanmu,” tuturannya terdengar tulus. Di telingaku justru terdengar konyol. Siapa juga yang minta maaf sampai harus dimaafkan. Aku sama sekali tak merasa bersalah kepadanya, meskipun perbuatanku terlihat keliru di mata masyarakat dan agama.

“Apa saja kesalahanku, aku mau memperbaiki diri, Dik,” Kang Oded mengangkat mukanya, kini menatapku lurus penuh tekad. Sorot matanya memancarkan kesungguhan hati. Namun sayang ….

Aku mencibir. Mengapa baru sekarang? Setelah semua telanjur terjadi dan aku terlampau jauh melangkah.

Aku tahu telah melewati sebuah pintu dan daun pintu itu sudah tertutup dengan bunyi berdebum yang keras di belakang punggungku. Mendengar bunyi itu, aku tahu sudah tak ada lagi jalan pulang buatku. Pintu itu pasti telah terkunci, sehingga tak mungkin lagi dapat dilewati untuk kembali.

“Sudah terlambat, Kang. Aku sudah enggak ada rasa,” tolakku dingin. Wajah ini sengaja aku palingkan dari jarak pandangnya. Aku tak ingin lagi menatapnya. Seumur hidup, baru kali inilah aku merasa luar biasa benci terhadap suami

Tangan Kang Oded meraih tanganku, tapi kutepiskan tanda tak sudi.

“Apa sepuluh tahun menikah tidak ada artinya buatmu, Dik?” Bujuknya lagi, mengingatkan akan semua hal yang pernah terjadi diantara kami.

Aku terdiam. Selama itukah aku sudah menikah dengannya? Buang-buang umur saja. Baru aku sadari bahwa selama ini aku begitu naif dan lugu mau bersamanya.

Kang Oded memintaku pada Bapak tepat setahun aku lulus SMP. Umurku 16 tahun saat itu. Setahun luntang-lantung tak bersekolah, hanya membantu Bapak dan Ibu di rumah.

Lantaran tak ada biaya, Bapak tak mampu membiayai pendidikanku ke SMU. Bapak hanya seorang perajin tas buatan tangan kecil-kecilan yang penghasilannya tak tentu. Ibuku, ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan. Beliau menikah ketika berumur 16 tahun, sama dengan umurku saat menikah dengan Kang Oded.

Kang Oded datang dengan mahar pekerjaan di tangannya, lebih baik daripada teman-temanku lelaki yang pengangguran semua. Dengan bangga Kang Oded mengatakan ia telah memiliki penghasilan yang dapat menafkahiku setelah menikah. Mungkin karena itulah Bapak tertarik menerima lamaran Kang Oded, lelaki yang umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku.

Aku mengangguk saja ketika ditanya maukah menikah dengannya. Tak sekolah dan tak ada pekerjaan, mau apa lagi aku? Lebih baik aku menikah, daripada menjadi beban orangtua.

“Tentu ada artinya, Kang. Artinya, aku sudah bosan hidup begini-begini terus tidak ada kemajuan,” kataku sengaja menyakitkan hati. Semoga ia sadar bahwa aku sudah tak mau dengannya lagi.

Setelah menikah, aku dibawanya ke rumah kontrakan RSSS ini. Rumah yang hanya memiliki dua kamar dan satu kamar mandi di luar. Satu kamar di depan menjadi ruang kerja Kang Oded sekaligus ruang tamu. Satu kamar yang lebih kecil menjadi kamar tidur kami. Tak ada tempat buat memasak.

Setiap hari pekerjaanku hanya menemani Kang Oded, menonton sinetron di televisi, dan sesekali ke tetangga di depan rumah. Membosankan sekali. Apalagi aku tak kunjung hamil, entah kenapa.

“Padahal aku sudah berencana mencicil rumah sendiri, Dik. Kita nggak akan tinggal di sini terus,” bujuknya lagi. Mungkin ia mengira aku bosan tinggal di rumah kecil sewaan terus. Persoalannya bukan itu saja, Kang.

Aku mengembuskan napas, lelah. Setelah sepuluh tahun menikah, Kang Oded masih saja tak peka akan keinginan-keinginanku. Sepuluh tahun kami bersama, tapi aku merasa telah serumah bersama lelaki yang bebalnya keterlaluan. Bahkan kucing saja memahami tabiat tuannya setelah beberapa waktu bersama.

“Aku bosan menanti datangnya buah hati,” tampikku dengan embusan napas lelah yang sengaja aku keraskan.

“Anak itu pemberian Tuhan, Dik. Bukan kita yang menentukan kapan akan diberi anugerah,” Kang Oded menyampaikan alasan yang itu lagi itu lagi.

Sampai bosan aku mendengar dalihnya tentang anak. Bersabar dan terus bersabar, sementara tak ada usaha memeriksakan diri kami ke ahli kandungan. Bukankah itu sama saja mengharap makan buah rambutan tapi tak ada usaha mengambilnya dengan galah? Sampai kapanpun, buah rambutan tak akan jatuh sendiri dari pohonnya, kecuali buah itu sudah busuk.

“Sudahlah, Kang! Aku itu sudah malas meneruskan pernikahan kita,” kataku seraya mengibaskan tangan di depan wajah. Raut wajahku bertambah masam.

Kang Oded terpana.

Tak ada niatku berkata kasar kepadanya, tapi Kang Oded tipe lelaki yang tak akan kunjung paham perkataan halus apabila tidak diterangkan secara blak-blakan. Jika aku tak berkata lugas, maka ia akan memahami lain maksud hatiku.

“Jadi maksudmu?” Kang Oded menatap wajahku dengan sorot mata tajam dan lurus. Kulit wajah di seputar kedua sudut bibirnya yang kering tampak tegang, menyiratkan keseriusan ucapannya. Mungkin, seberkas pemahaman akan tekad hatiku telah menyeruak di dalam benaknya.

Baguslah jika memang demikian. Ucapanku berikutnya tidak akan membuatnya ambruk ke lantai saking kagetnya. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan dari tarikan udara yang tipis oksigen di dalam kamar kecil ini. Begitu udara yang kuhirup mengembangkan rongga paru-paruku, aku meluncurkan kalimat dengan sepenuh hati dan tekad baja.

“Aku mau cerai saja!” semburku tegas. Aku tatap matanya terang-terangan untuk membuktikan bahwa aku serius. Bahwa tak ada tangis dan duka dalam keputusanku. Aku mantap.

“Ce, cerai, Dik?!” Sepasang mata Kang Oded yang sayu kini melotot, menampakkan kedua bola hitam di tengah-tengah yang seolah ingin melompat keluar. Sepasang tangannya bergetar dan menggapai-gapai mencari pegangan. Tubuhnya yang kurus akibat banyak merokok dan jarang makan itu goyah, lalu akhirnya tangannya berhasil meraih televisi sebagai sandaran.

Dasar lemah! Baru mendengar satu kata itu saja sudah sempoyongan. Lelaki macam apa yang sudah menikahiku selama sepuluh tahun ini? Memalukan bukan kata yang tepat. Kata sifat yang lebih pas mungkin adalah; menyedihkan.

“Iya, Kang. Kita sudahi saja semua ini.” Tanpa menunggu tanggapan Kang Oded, aku bergerak kembali ke tujuanku semula.

Aku menguap lelah dan rasa kantuk mulai menyerang pelupuk mata. Setelah melemparkan pernyataan cerai selugas barusan, aku mendadak kehabisan energi untuk melanjutkan obrolan. Topik tentang masa depan pernikahan ini sudah tamat buatku.

Rasa-rasanya tenagaku sudah terkuras habis. Tak ada lagi minatku untuk berbantah-bantahan dengan Kang Oded. Lagipula, memang sudah tak ada lagi hal yang perlu dibahas. Setelah sekian tahun berlalu dengan memendam rasa dongkol dan makan hati, aku memerlukan istirahat. Jiwa dan raga.

Aku tata bantal di kasur, lalu mulai bersiap tidur. Tak aku hiraukan Kang Oded yang masih berdiri terpaku, terguncang dengan keputusanku. Untuk sesaat tak ada kata-kata yang keluar dari bibir hitamnya yang setiap waktu mengisap rokok. Harapanku memang ia tak lagi mencoba membuka ruang perbincangan diantara kami, agar tak ada lagi adu mulut yang tak berguna. Bungkam lebih baik bagi kami.

Kepala aku letakkan di atas bantal. Nyaman betul rasanya. Aku berbaring memunggungi Kang Oded. Entah apa yang akan dilakukannya untuk melewati malam ini. Terserah dia saja. Aku sudah tak ambil pusing dengan segala kelakuan dan kegiatannya.

Gemerisik kain seprai akibat kasur yang dinaiki terdengar di belakang punggungku. Selama sesaat aku tercekam dan membeku dalam posisi berbaring. Jadi Kang Oded memutuskan mendekatiku. Gerakan badan Kang Oded yang kian tak berjarak membuat kasur bergoyang-goyang di belakang punggungku. Napasku tertahan, sementara jantung ini semakin cepat berpacu.

Bab 3

Kang Oded semakin menunduk. Matanya mulai berair. Dasar lembek! Baru segitu saja sudah menangis. Bukankah seharusnya aku yang menangis dan dia yang marah?

“Dik, aku maafkan perselingkuhanmu,” tuturannya terdengar tulus. Di telingaku justru terdengar konyol. Siapa juga yang minta maaf sampai harus dimaafkan. Aku sama sekali tak merasa bersalah kepadanya, meskipun perbuatanku terlihat keliru di mata masyarakat dan agama.

“Apa saja kesalahanku, aku mau memperbaiki diri, Dik,” Kang Oded mengangkat mukanya, kini menatapku lurus penuh tekad. Sorot matanya memancarkan kesungguhan hati. Namun sayang ….

Aku mencibir. Mengapa baru sekarang? Setelah semua telanjur terjadi dan aku terlampau jauh melangkah.

Aku tahu telah melewati sebuah pintu dan daun pintu itu sudah tertutup dengan bunyi berdebum yang keras di belakang punggungku. Mendengar bunyi itu, aku tahu sudah tak ada lagi jalan pulang buatku. Pintu itu pasti telah terkunci, sehingga tak mungkin lagi dapat dilewati untuk kembali.

“Sudah terlambat, Kang. Aku sudah enggak ada rasa,” tolakku dingin. Wajah ini sengaja aku palingkan dari jarak pandangnya. Aku tak ingin lagi menatapnya. Seumur hidup, baru kali inilah aku merasa luar biasa benci terhadap suami

Tangan Kang Oded meraih tanganku, tapi kutepiskan tanda tak sudi.

“Apa sepuluh tahun menikah tidak ada artinya buatmu, Dik?” Bujuknya lagi, mengingatkan akan semua hal yang pernah terjadi diantara kami.

Aku terdiam. Selama itukah aku sudah menikah dengannya? Buang-buang umur saja. Baru aku sadari bahwa selama ini aku begitu naif dan lugu mau bersamanya.

Kang Oded memintaku pada Bapak tepat setahun aku lulus SMP. Umurku 16 tahun saat itu. Setahun luntang-lantung tak bersekolah, hanya membantu Bapak dan Ibu di rumah.

Lantaran tak ada biaya, Bapak tak mampu membiayai pendidikanku ke SMU. Bapak hanya seorang perajin tas buatan tangan kecil-kecilan yang penghasilannya tak tentu. Ibuku, ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan. Beliau menikah ketika berumur 16 tahun, sama dengan umurku saat menikah dengan Kang Oded.

Kang Oded datang dengan mahar pekerjaan di tangannya, lebih baik daripada teman-temanku lelaki yang pengangguran semua. Dengan bangga Kang Oded mengatakan ia telah memiliki penghasilan yang dapat menafkahiku setelah menikah. Mungkin karena itulah Bapak tertarik menerima lamaran Kang Oded, lelaki yang umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku.

Aku mengangguk saja ketika ditanya maukah menikah dengannya. Tak sekolah dan tak ada pekerjaan, mau apa lagi aku? Lebih baik aku menikah, daripada menjadi beban orangtua.

“Tentu ada artinya, Kang. Artinya, aku sudah bosan hidup begini-begini terus tidak ada kemajuan,” kataku sengaja menyakitkan hati. Semoga ia sadar bahwa aku sudah tak mau dengannya lagi.

Setelah menikah, aku dibawanya ke rumah kontrakan RSSS ini. Rumah yang hanya memiliki dua kamar dan satu kamar mandi di luar. Satu kamar di depan menjadi ruang kerja Kang Oded sekaligus ruang tamu. Satu kamar yang lebih kecil menjadi kamar tidur kami. Tak ada tempat buat memasak.

Setiap hari pekerjaanku hanya menemani Kang Oded, menonton sinetron di televisi, dan sesekali ke tetangga di depan rumah. Membosankan sekali. Apalagi aku tak kunjung hamil, entah kenapa.

“Padahal aku sudah berencana mencicil rumah sendiri, Dik. Kita nggak akan tinggal di sini terus,” bujuknya lagi. Mungkin ia mengira aku bosan tinggal di rumah kecil sewaan terus. Persoalannya bukan itu saja, Kang.

Aku mengembuskan napas, lelah. Setelah sepuluh tahun menikah, Kang Oded masih saja tak peka akan keinginan-keinginanku. Sepuluh tahun kami bersama, tapi aku merasa telah serumah bersama lelaki yang bebalnya keterlaluan. Bahkan kucing saja memahami tabiat tuannya setelah beberapa waktu bersama.

“Aku bosan menanti datangnya buah hati,” tampikku dengan embusan napas lelah yang sengaja aku keraskan.

“Anak itu pemberian Tuhan, Dik. Bukan kita yang menentukan kapan akan diberi anugerah,” Kang Oded menyampaikan alasan yang itu lagi itu lagi.

Sampai bosan aku mendengar dalihnya tentang anak. Bersabar dan terus bersabar, sementara tak ada usaha memeriksakan diri kami ke ahli kandungan. Bukankah itu sama saja mengharap makan buah rambutan tapi tak ada usaha mengambilnya dengan galah? Sampai kapanpun, buah rambutan tak akan jatuh sendiri dari pohonnya, kecuali buah itu sudah busuk.

“Sudahlah, Kang! Aku itu sudah malas meneruskan pernikahan kita,” kataku seraya mengibaskan tangan di depan wajah. Raut wajahku bertambah masam.

Kang Oded terpana.

Tak ada niatku berkata kasar kepadanya, tapi Kang Oded tipe lelaki yang tak akan kunjung paham perkataan halus apabila tidak diterangkan secara blak-blakan. Jika aku tak berkata lugas, maka ia akan memahami lain maksud hatiku.

“Jadi maksudmu?” Kang Oded menatap wajahku dengan sorot mata tajam dan lurus. Kulit wajah di seputar kedua sudut bibirnya yang kering tampak tegang, menyiratkan keseriusan ucapannya. Mungkin, seberkas pemahaman akan tekad hatiku telah menyeruak di dalam benaknya.

Baguslah jika memang demikian. Ucapanku berikutnya tidak akan membuatnya ambruk ke lantai saking kagetnya. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan dari tarikan udara yang tipis oksigen di dalam kamar kecil ini. Begitu udara yang kuhirup mengembangkan rongga paru-paruku, aku meluncurkan kalimat dengan sepenuh hati dan tekad baja.

“Aku mau cerai saja!” semburku tegas. Aku tatap matanya terang-terangan untuk membuktikan bahwa aku serius. Bahwa tak ada tangis dan duka dalam keputusanku. Aku mantap.

“Ce, cerai, Dik?!” Sepasang mata Kang Oded yang sayu kini melotot, menampakkan kedua bola hitam di tengah-tengah yang seolah ingin melompat keluar. Sepasang tangannya bergetar dan menggapai-gapai mencari pegangan. Tubuhnya yang kurus akibat banyak merokok dan jarang makan itu goyah, lalu akhirnya tangannya berhasil meraih televisi sebagai sandaran.

Dasar lemah! Baru mendengar satu kata itu saja sudah sempoyongan. Lelaki macam apa yang sudah menikahiku selama sepuluh tahun ini? Memalukan bukan kata yang tepat. Kata sifat yang lebih pas mungkin adalah; menyedihkan.

“Iya, Kang. Kita sudahi saja semua ini.” Tanpa menunggu tanggapan Kang Oded, aku bergerak kembali ke tujuanku semula.

Aku menguap lelah dan rasa kantuk mulai menyerang pelupuk mata. Setelah melemparkan pernyataan cerai selugas barusan, aku mendadak kehabisan energi untuk melanjutkan obrolan. Topik tentang masa depan pernikahan ini sudah tamat buatku.

Rasa-rasanya tenagaku sudah terkuras habis. Tak ada lagi minatku untuk berbantah-bantahan dengan Kang Oded. Lagipula, memang sudah tak ada lagi hal yang perlu dibahas. Setelah sekian tahun berlalu dengan memendam rasa dongkol dan makan hati, aku memerlukan istirahat. Jiwa dan raga.

Aku tata bantal di kasur, lalu mulai bersiap tidur. Tak aku hiraukan Kang Oded yang masih berdiri terpaku, terguncang dengan keputusanku. Untuk sesaat tak ada kata-kata yang keluar dari bibir hitamnya yang setiap waktu mengisap rokok. Harapanku memang ia tak lagi mencoba membuka ruang perbincangan diantara kami, agar tak ada lagi adu mulut yang tak berguna. Bungkam lebih baik bagi kami.

Kepala aku letakkan di atas bantal. Nyaman betul rasanya. Aku berbaring memunggungi Kang Oded. Entah apa yang akan dilakukannya untuk melewati malam ini. Terserah dia saja. Aku sudah tak ambil pusing dengan segala kelakuan dan kegiatannya.

Gemerisik kain seprai akibat kasur yang dinaiki terdengar di belakang punggungku. Selama sesaat aku tercekam dan membeku dalam posisi berbaring. Jadi Kang Oded memutuskan mendekatiku. Gerakan badan Kang Oded yang kian tak berjarak membuat kasur bergoyang-goyang di belakang punggungku. Napasku tertahan, sementara jantung ini semakin cepat berpacu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED