Bab 1

Rumah mungil itu hanya dihiasi cahaya lilin. Tak ada lampu penerangan, karena pemilik rumah tak mempunyai cukup uang untuk membeli token listrik. Untungnya dia memiliki tetangga yang baik hati, bersedia memberikan air dua ember besar, untuk bekal memasak dan mandi. Karena listrik mati, otomatis mesin air pun tak menyala. 

Tetangganya sudah sangat baik beberapa kali memberikan pinjaman uang untuk membeli listrik ataupun yang lainnya. Hanya saja ia tak mau terlena dengan bantuan tetangga kanan kirinya. Meskipun janda dengan seorang anak yatim, ia tetap harus bisa mandiri, tidak ingin menyusahkan orang lain.

"Mama...susu!" pinta sang putri yang berusia dua tahun, kini terbaring lemah karena badannya panas.

"Sebentar ya, Dek. Mama buatkan, ade di sini aja ya, ga usah ikut ke dapur," ujar Tara pada putrinya.

" Tapi delap," cicit Sofia, nama balita itu.

" Ade'kan hebat, di sini saja ya."

Sofia mengangguk tapi tatapannya tak lepas dari mamanya yang berada di dapur. Anak seusia Sofia pasti takut jika mati lampu. Sofia tiduran di bangku ruang tamu karena masih sore sebenarnya, masih jam tujuh malam. Ia belum mengantuk, hanya saja kepalanya sakit dan dia sedikit demam. Tara kembali dari dapur dan memberikan susu pada Sofia. Balita cantik itu meminumnya dengan cepat.

"Uueekk...." Sofia tiba-tiba memuntahkan semua susu yang baru saja habis dia minum. Tara kaget dengan sigap memijat punggung Sofia agar semua muntahnya keluar. Setelah itu Tara ke dapur untuk membersihkan muntahan anaknya.

Air matanya menetes. Obat demam anaknya tersisa sekali lagi untuk diminum malam ini, untuk besok ia tak punya persediaan obat.

" Maaf mama." ucap anaknya pelan. Tara tersenyum dikeremangan cahaya lilin.

"Ga papa kok sayang, kan Fia lagi sakit." Tara menenangkan. Sambil memijat kaki anaknya menceritakan tentang hewan kesukaan anaknya yaitu kelinci.

****

"Mas... Mbak Tara ga kita kabari dulu, kalau kita mau ke rumahnya?" tanya Meilisa pada suaminya.

"Ga usah Dek, dadakan saja. Nanti malah dia repot nyiapin ini itu, kasian," ujar Henry Zakaria, suami dari Meilisa. Atau biasa dipanggil Zaka.

Zaka melajukan mobilnya dengan pelan saat memasuki pelataran perumahan. Terlihat beberapa anak-anak main di jalanan depan rumah mereka.

"Sudah rame ya Mas. Padahal waktu almarhum Rahman baru membeli rumah di sini, masih sepi," komentar Mei pada suaminya.

" Iya De, namanya rumah murah, cepetlah diserbu orang." sahut suaminya, kini memasuki blok N menuju rumah janda temannya.

"Mas kok gelap rumahnya mba Tara?"

"Eh..iya, orangnya pergi kali ya."

"Tapi itu sepedanya ada, ada cahaya lilin juga kayaknya, " sahut istrinya. Zaka memarkirkan mobil sedannya tepat di depan rumah Tara.  Mereka turun dengan tergesa. Samar-samar terdengar suara Tara yang sedang mendongengkan kisah untuk anaknya.

"Assalamualaikum," seru Zaka dan Mei

"Wa'alaykumussalam," sahut Tara berdiri dari duduknya dan membuka pintu.

" Eh...Mbak Mei, Mas Zaka. Ayo masuk!" ajak Tara canggung karena rumahnya gelap sendiri, sedangkan tetangga kanan kirinya lampu rumahnya menyala.

Zaka dan Mei duduk menatap Fia yang sedang terbaring lemah.

"Fia sakit, Nak?" tanya Zaka. Anak itu mengangguk.

"Sakit apa Fia, Mbak Tara?" tanya Mei saat Tara kembali dari dapur dengan membawa dua cangkir teh dia atas nampan.

" Mungkin masuk angin, Mbak. Ayo diminum!"

" Maaf ya, minum dalam gelap-gelapan." Tara nyengir kuda untuk menutupi rasa malu dan sedihnya.

"Kenapa gelap-gelapan Mbak?" tanya Mei.

"Mama da ada uit bi listik." oceh Fia sambil memegang bonekanya.

"Fiaaa..." Tara menginterupsi ucapan anaknya.

Zaka dan Mei terhenyak, ga menyangka bahwa janda temannya ini begitu kesulitan keuangan. Tampak Zaka mengeluarkan ponselnya, menatap istrinya seakan meminta izin. Mei mengangguk.

"Berikan nomor token listriknya Mbak!" ucap Zaka.

" Eh..ga usah jadi ngerepotin Mas, besok saya baru mau beli." Tara salah tingkah, bingung sendiri harus bagaimana lagi.

"Ga papa, Mbak," sahut Mei

Tara masuk ke dalam kamarnya, lalu kembali ke ruang tamu dengan memberikan selembar kertas kepada Zaka.

Tak lama Zaka keluar rumah dan memasukkan nomor tokennya.

Kliik...

Lampu menyala. "Alhamdulillah..." seru Tara dan Mei bersamaan.

"Hole...nyala, mama pia mau toton pipi," celoteh Fia sambil tersenyum karena lampu sudah menyala.

"Fia..ayo bilang terimakasih sama Mm Zaka dan Tante Mei." titah Tara pada anaknya.

"Maaciih papa kaka maacih tete Mei."

"Eh.." Fia menutup mulutnya,"calah ya..macih Om Kaka Tete Mei."

Zaka dan Mei mengangguk sambil tersenyum ke arah Fia. Anak yang menggemaskan, sudah lama Zaka dan Mei mendamba anak dari pernikahan mereka, namun sudah enam tahun pernikahan, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. 

Padahal Rahman dan Tara menikah belakangan tapi mereka duluan dipercaya Tuhan untuk memiliki anak. Zaka dan Mei sudah berkonsultasi ke dokter, juga menjalani beberapa treatment, namun Tuhan belum memberikan, mereka harus lebih sabar dan rajin usaha tentunya.

Setelah setengah jam mengobrol, Zaka dan Mei pamit pulang, tak lupa Zaka menurunkan sekarung beras dan sekantong sembako untuk Tara dan sekantong lagi penuh makanan untuk Fia.

"Ya Allah terimakasih Mas , Mbak. Semoga Allah balas semua kebaikan kalian," ucap Tara penuh sukur. Mata Fia seketika berbinar saat melihat ada sekantong penuh dengan snack ringan, biskuit, susu dan banyak lagi lainnya.

Zaka dan Mei pamit meninggalkan rumah Tara. Sedangkan Tara dengan suka cita merapikan barang-barang pemberian Mas Zaka dan Mbak Mei. Betapa terkejutnya Tara di dalam bungkusan sembako ada amplop coklat yang saat dibuka ternyata isinya uang lembaran merah sebanyak lima lembar. Tak hentinya Tara meneteskan air mata penuh syukur, betapa beruntungnya ia memiliki teman seperti keluarga Mbak Mei.

Sejak saat itu Zaka rutin memberikan santunan kepada Tara. Sembako dan uang lima ratus ribu, yang diantarkan oleh seorang kurir. Ingin sekali Tara mengucapkan terimakasih secara langsung pada keduanya namun Tara tak memiliki ponsel, karena ponselnya sudah ia jual dahulu, untuk biaya makan dia dan anaknya. Tara yang tidak bisa bekerja diluar rumah cukup kesulitan keuangan jadinya, dia tidak bisa meninggalkan Fia karena Fia memiliki riwayat asma akut yang sering kambuh tiba-tiba. Untuk kebutuhan sehari-hari Tara hanya mengandalkan dengan mengajar calistung beberapa anak tetangganya. Karena basic Tara adalah pendidikan, meskipun tidak kuliah sampai selesai karena terkendala biaya.

Suatu hari penyakit asma Fia kambuh lagi, Tara membawa Fia ke puskesmas terdekat. Namun dokter menyarankan agar Fia dirujuk ke rumah sakit besar. Dengan menaiki angkot turun naik nyambung beberapa kali, akhirnya Tara sampai juga di rumah sakit besar dengan membawa surat rujukan dari puskesmas. Nafas Fia sudah semakin ngosngosan langsung dibawa ke UGD rumah sakit.

Tara sedang duduk tergugu sambil meneteskan air mata, saat menunggu antrian membayar administrasi awal rumah sakit. Tara tidak mempunyai BPJS karena memang tidak cukup uang yang dia hasilkan untuk membayar iuran tersebut.

"Mbak Tara..." panggil seorang pria, yang Tara hapal betul suaranya. Suara mas Zaka teman dekat almarhum suaminya. Tara menoleh dengan mata sembab.

"Ya Allah... Mbakada apa?" tanya Zaka panik.

"Fia..Mas," sahutnya pelan, sambil menahan isakan.

Dengan tergesa Zaka masuk ke ruangan UGD, berbicara dengan dokter jaga disana, Zaka melihat tubuh Fia sudah sangat lemah dengan nafas sesak.

"Tolong lakukan yang terbaik dok, saya akan membayar biayanya," ucap Zaka tegas, lalu menoleh ke arah Tara yang kini menatapnya penuh rasa syukur.

Kini Fia sudah dipindahkan ke ruang perawatan kelas tiga. Itu saja Tara sudah sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan mas Zaka. Sebenarnya Zaka bukannya juga orang yang kaya, tetapi cukuplah untuk ukuran kepala marketing disebuah perusahaan otomotif. Apalagi Zaka dan Mei sama-sama bekerja dan belum ada anak. Jadi tabungan mereka utuh. Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari sudah lebih dari cukup.

"Terimakasih Mas atas bantuannya, tapi...apa tidak apa-apa dengan mba Mei?" ucap Tara merasa sungkan dengan istri Zaka.

"Tidak papa Ra, dia pasti mengerti. Saya pamit ya, besok saya kemari lagi dengan Mei," ujar Zaka pamit sambil mengusap lembut pipi Fia dan mengecupnya sayang. Tara tersentuh dengan pandangan itu.

"Papa..cini temani Fia," oceh Fia dalam tidurnya. Zaka terhenyak, wajahnya menjadi kaku.

"Maafin Fia, Mas. Salam untuk Mbak Mei ya," ucap Tara sedikit kikuk dengan ucapan Fia dalam tidurnya. Zaka mengangguk lalu berjalan keluar kamar perawatan.

Dua hari sudah Fia dirawat dan selama dua hari berturut-turut Zaka mengunjungi Fia, hari pertama Mei ikut menemani, namun hari kedua Zaka datang sendiri karena Mei ada workshop di Bandung.

Hari ketiga, saat kondisi Fia sudah dinyatakan cukup sehat untuk dibawa pulang. Zaka menjemput Tara dan juga Fia. Di dalam mobil Fia tersenyum senang. Jarang sekali Fia bisa naik mobil.

"Mbak Tara..."

"Ya, Mas."

"Mmmm...bagaimana jika mba Tara menjadi istri kedua saya?" 

*****

Bab 2

Siang hari setelah mengajar murid lesnya Bimo calistung, Tara melanjutkan dunianya sebagai ibu rumah tangga. Tara menyuapi Fia dan juga merapikan rumah. Kondisi Fia sudah lebih sehat, hanya saja dokter tidak membolehkan Fia minum es, chiki dan coklat. Fia tengah asik bermain bersama boneka barbie, hadiah dari Mei saat Fia diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Tara masih memikirkan perkataan Zaka beberapa hari lalu, Zaka memberikan waktu kepada Tara untuk memikirkan hal tersebut selama dua pekan. Baru tiga hari saja rasanya otak Tara sedikit lemot, banyak bengong dan melamun.

"Mama....asap." ujar Fia sambil menarik arah pandangnya ke bawah.

"Astaghfirulloh..." pekik Tara saat tersadar mukena terbagus pemberian almarhum suaminya gosong, karena Tara menyetrika sambil melamunkan perkataan Zaka. Cepat Tara menyingkirkan setrikaan dan menatap sedih mukenanya yang bolong bagian dadanya.

"Fia!" Tara menarik Fia ke pangkuannya. Fia menatap wajah Tara sambil tersenyum manis.

"Kalau Fia punya papa mau ga?"

"Maaauu...." Fia mengangguk cepat.

"Ayo tita beli setalang ma!" ajak Fia menarik tangan Tara.

"Hehehe..papa tidak ada di warung nak, papa adanya di rumah." terang Tara sambil mencium gemas pipi Fia.

"Dua ya ma, papanya." ucap Fia sambil mengangkat dua jarinya. Papa bukan permen nak.

"Kok dua?" tanya Tara heran.

"Bial dantian?"

"Gantian?" Hahahaha." Tara tertawa keras mendengar ucapan polos Fia. Baju kali nak ada gantinya. Batin Tara. Mengusap pucuk kepala Fia yang masih asik memainkan rambut barbie di pangkuan Tara.

"Belbi yaya tantik...milip mama!" Fia menatap boneka dan ibunya bergantian dengan penuh takjub. Tara nyengir kuda. Taukan barbie yang kulitnya hitam, naahh..itu dia kata Fia mirip mamanya.

Begitulah keseharian Tara dan Fia, selalu penuh senyuman dan keceriaan, meskipun kehidupan ekonomi mereka sangat terbatas sejak suami Tara meninggal setahun yang lalu. Tara tengah merapikan kamarnya saat suara pintu rumahnya diketuk.

"Assalamualaikum." suara di balik pintu. Kening Tara berkerut, suaranya seperti tak asing. Tara mengintip dari jendela.

"Eh...Wa'alaykumussalam Mba-Mas." sahut Tara lalu membukakan pintu rumahnya. Mempersilahkan Mei dan Zaka masuk.

"Mana Fia, Mba?" tanya Mei saat tak melihat Fia di rumah.

"Oh..sedang main ke tetangga sebelah, Mba. Baru saja. Nanti saya panggilkan. Sebentar saya ke dapur dulu." Tara sedikit canggung karena Zaka terus memperhatikan dirinya. Tara kembali dengan dua cangkir teh manis hangat.

"Silahkan Mba-Mas diminum tehnya." ucap Tara lalu duduk di kursi tamu, tepat di seberang Mei.

"Begini Mba Tara, maksud kedatangan saya kemari adalah....."

Setelah cukup pusing memikirkan perkataan Zaka beberapa hari lalu, sekarang dia dipusingkan dengan perkataan Mei. Kayaknya di dunia ini bisa dihitung dengan jari wanita yang rela suaminya melakukan poligami. Kebanyakan para istri hanya menginginkan cinta dan perhatian suaminya hanya tercurah untuk dirinya saja, bukan berbagi dengan wanita lainnya.

Kata ikhlas sebenarnya sangat sulit untuk dijabarkan bentuknya dalam perbuatan, karena namanya manusia, pasti ada sifat iri dan dengkinya walaupun setitik. Anehnya lagi, Mei rela berbagi suaminya dengan Tara asal suaminya tetap tinggal bersamanya, tidak boleh menggunakan perasaan saat berdekatan dengan Tara dan tidak boleh memiliki anak dari Tara. Jadi pernikahan ini hanya sebatas status saja, untuk menghindari prasangka orang jika Zaka berkunjung menjenguk dirinya dan untuk membantu kesulitan ekonomi Tara juga puterinya.

Pernikahan bukanlah suatu hal yang bisa dianggap main-main, lelaki yang menikahi seorang wanita wajib memberikan mafkah lahir dan batin serta bertanggung jawab atas diri sang istri. Istri wajib patuh pada suami, mengikutinya perintahnya dan menjadi penyejuk hati dan hiasan pandangan suami. Tapi aturan yang disebutkan Mei tadi sangatlah tidak masuk akal buat Tara. Tapi ya sudahlah, Tara kembali meluruskan pemikirannya, bahwa Zaka melakukan ini atas dasar kemanusiaan, menolong janda sahabatnya.

****

"Saya terima nikah dan kawinnya Tara Zakia binti Danu Zaki Suherman dengan mas kawin cincin emas lima gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."

SAH...SAH...

Dengan balutan hijab dan gamis putih boleh seragam dari pengajian ibu-ibu, Tara terlihat begitu manis. Kulitnya yang sawo matang dengan make up natural membuatnya sangat enak dipandang mata. Bapak dan pamannya datang dari Solo untuk menikahkan Tara dengan Zaka. Bapaknya malah bersuka cita dengan peristiwa ini karena bapak Tara cukup mengenal Zaka dari Rahman menantunya. Tara mencium punggung tangan Zaka dengan sedikit kikuk, karena Tara tidak pernah bersentuhan langsung dengan lelaki selain suaminya dan keluarganya. Meskipun ini pernikahan siri, tapi tampak hadir juga beberapa tetangga dan aparat lingkungan sekitar perumahan tempat tinggal Tara. Mei ikut hadir disana, memberikan restunya, senyumnya terbit walau tak lama akhirnya air matanya jatuh juga. Tara yang memperhatikan merasa sungguh tak enak.

"Mama tantik deh." puji Fia kini tengah duduk di pangkuan Tara.

"Masa sih? cantikkan Fia dong." puji Tara balik kepada Fia yang kini tengah memainkan payet kerudung yang dipakai Tara.

"Fia...sini sama papa!" Zaka menghampiri Tara dan Fia, diikuti oleh Mei.

"Fia..mulai sekarang panggil om Zaka, papa ya." lanjut Zaka lagi sambil duduk di sebelah Tara yang tersenyum. Fia menatap wajah ibunya, seakan meminta persetujuan ibunya. Tara mengangguk, lagi-lagi dengan senyuman.

Acara pun selesai para tamu pamit satu persatu setelah memberikan doa restu.

"Saya antar Mei pulang dulu, Pak." ucap Zaka pada bapak Tara.

"Oh..iya..hati-hati. nanti balik lagi tho?" tanyanya. Zaka mengangguk.

Tara memperhatikan sampai mobil Zaka menghilang dari pandangan.

"Nduk..sini!" titah bapak Tara pada puterinya, menuntun Tara agar duduk disebelahnya.

"Ya Pak."

"Kamu kan jadi istri kedua, jadi harus banyak sabar dan ikhlas, Zaka sekarang adalah suamimu juga suami Mei. Namun kamu tetap harus patuh dan tunduk pada Zaka. Melayaninya dengan sabar saat ia berkunjung. Berikan selalu senyuman padanya, jangan pernah sekalipun kamu berwajah masam pada suamimu. Ingat, kamu sudah ditolong oleh Zaka dan Mei, jadi tidak boleh egois apalagi serakah." petuah bapak Tara mampu membuat air matanya meleleh.

"Iya, Pak." pesan bapak akan Tara ingat.

Tara menatap wajah pulas Fia yang tengah tertidur. Malam sudah semakin larut, dan Tara tahu bahwa Zaka pasti tidak akan kembali ke rumahnya, sebelum berpamitan tadi Zaka sudah memberitahukan hal ini pada Tara. Zaka akan pergi ke Malaysia, tempat orangtuanya Mei yang menetap disana. Tara tidak masalah, meskipun sedikit ada rasa sedih, tapi ya sudahlah, namanya juga yang kedua. Tara mengambil bingkai foto almarhum suaminya dari dalam laci lemari.

"Sekarang saya sudah menikah dengan mas Zaka, Mas. tapi ya jadi istri kedua, ga papa kan Mas?" Tara mengajak bicara foto suaminya, hal ini sudah sering dia lakukan semenjak suaminya meninggal. Hal sekecil apapun selalu dia sampaikan pada foto suaminya, seakan foto itu hidup dan mampu mendengarkan keluh kesahnya.

"Doakan saya bisa menjadi istri yang baik dan patuh ya, Mas. Mas tidak perlu cemburu, karena Mas Zaka dan saya menikah hanya karena dasar kemanusiaan, menolong saya dan Fia, semoga Mas Rahman mengerti. Cinta Tara sudah bulat dan tak terbagi hanya untuk Mas Rahman." ucapnya lagi sambil memeluk hangat foto almarhum suaminya. Hingga matanya terlelap masih dengan memeluk figura tersebut, rindu semakin membuncah, namun hanya bisa ia sampaikan lewat ayat-ayat suci. Semoga Allah memberikan surga bagi suaminya.

Keesokan paginya, bapak dan pamannya pamit, setelah menunggu sampai siang hari Zaka belum juga kembali. Bapak memeluk Tara dengan hangat. "Kuat ya nduk." bapak Tara merasa ada yang aneh dengan pernikahan yang dilakukan anaknya. Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri sebagai orangtua yang kehidupan ekonominya sangat pas-pasan, tidak sanggup jika harus menanggung biaya hidup Tara dan Fia.

Raut ceria Tara tunjukkan kepada bapaknya, tak ada keluhan. Tara mencoba mensyukuri segala pemberian Allah pada dirinya.

"Pak..ini ongkos dan uang pegangan selama di jalan." Tara memberikan titipan uang dari Zaka untuk bapaknya.

"Makasih nduk, kamu ndak minta tho sama suamimu?" tanya bapak sedikit khawatir.

"Ndak, Pak. Justru, ini uang Mas Zaka yang titipin."

"Ya udah jaga diri ya nduk, bapak dan pamanmu balik dulu." pamit bapak dan pamannya. Tara pun mencium punggung tangan keduanya.

Setelah bapak dan pamannya berangkat dengan ojek, Tara menutup pintu rumahnya, bersiap mengajar Salma, murid les membacanya. Fia sedang menonton televisi baru yang dibelikan Zaka. Sekilas Tara melihat ponselnya, ponsel yang diberikan oleh Mei, ponsel lama tapi masih bagus dan bisa dipakai untuk berfoto juga berkirim pesan dengan WA.

"Taraaa...Taraa...bukan cuma suaminya aja bekas Mei, bahkan ponselnya juga bekas Mei." gumam Tara sambil menatap ponselnya. Tak ada pesan apapun dari Zaka ataupun Mei.

*****

Bab 3

Sudah sebulan sejak hari pernikahannya dengan Zaka. Namun Zaka tak pernah menampakkan diri muncul di rumah Tara. Beberapa tetangga mulai kasak kusuk, ada yang mencibir ada juga yang bersimpati pada Tara. Entahlah Tara tak pernah ambil pusing. Toh dia juga menikah bukan karena atas dasar cinta atau pun suka. Semua ia lakukan demi kebaikan dirinya juga Sofia anaknya. Kurir yang biasa mengantar paket sembako dan titipan amplop dari Zaka, baru saja sampai saat Tara baru selesai melaksanakan sholat ashar. Pria muda itu menyerahkan bungkusan plastik besar berisi sembako dan sekardus aneka snack untuk Fia.

"Terimakasih, Mas," ucap Tara sambil menyunggingkan sedikit senyumnya.

"Baik, Bu. Saya permisi," ucap pria muda tersebut.

"Mas...maaf, apakah Pak Zaka sudah kembali dari Malaysia?" tanyanya tiba-tiba, entah hatinya ingin sekali tahu di mana keberadaan lelaki yang sebulan lalu menikahinya.

"Sudah, Bu," jawabnya lalu segera pergi dengan mengendari motor PCX yang sedang hits saat ini. Baru saja menutup pintu, Tara menepuk jidatnya, kenapa dia sangat bodoh menanyakan hal itu pada orang lain.

"Ck, Tara...Tara....jangan ngarep, Raaa." Tara bermonolog, berjalan membawa aneka barang yang diantarkan tadi.

Pukul delapan malam, Tara telah selesai menidurkan Fia. Tara meluruskan pinggang, hari ini nambah lagi murid les nya, anak pak RT kelas tiga SD les mata pelajaran padanya. Lumayanlah buat tambahan sehari-hari.

Tok..tok..

Suara pintu diketuk. Siapa malam-malam gini bertamu, pikirnya. Tara mengambil kerudung yang terlampir di gantungan pintu. Berjalan cepat mengintip dari jendela, matanya membulat, apakah dia berhalusinasi. Zaka suaminya di depan pintu rumahnya. Dadanya berdegub kencang. Zaka masih mengenakan kemeja biru muda dengan logo perusahaan di sudut kantongnya.

"Assalamualaikum..Ra...," seru suara Zaka dari balik pintu.

"W-wa'alaykumussalam." Tara membuka pintu dengan tergesa. Manik keduanya bersinggungan, Tara tersenyum kikuk menyambut kedatangan suaminya.

"Kok lama buka pintunya, sedang apa?" tanya Zaka yang kini tengah melepas penat dengan bersandar di kursi tamu.

"Eem..itu Mas, Mmm..lagi ngelonin Fia. Maaf," ucap Tara merasa bersalah.

"Oh...ga papa."

"Mas mau saya buatkan teh atau kopi?" tawar Tara.

"Sayang ingin air jahe, bisa buatnya?"

"Eehmm..bisa Mas. " Tara menarik nafas lega, untung saja tadi pagi ia membeli berbagai macam bumbu dapur, termasuk jahe. Tara melangkah cepat ke dapur.

"Saya istirahat di mana?" tanya Zaka sedikit berteriak.

"Di kamar, Mas. Sebentar saya rapikan." Tara jadi salah tingkah, kasurnya berukuran nomor dua yang jika ditiduri dua orang dewasa dan satu anak balita pasti sangat sempit. Tara menggeser posisi Fia menjadi di tengah. Gundah gulana, deg deg an, apakah malam ini suaminya akan meminta haknya? Ah...iya Tara lupa, bahwa pesan Mei, tidak ada kontak fisik antara dia dan mas Zaka. Jadi sepertinya aman.

Zaka masih di dalam kamar mandi saat Tara selesai merapikan kamarnya. Tara membawa air jahe yang telah selesai ia buat, ke ruang tamu. Tara berdebar menunggu Zaka keluar dari kamar mandi, tiba-tiba hujan gerimis melanda di malam jum'at ini. Perasaan Tara semakin tak menentu. Zaka keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Tara tak berani menatap. Tubuh basah Zaka yang harumnya memabukkan indera penciuman itu, membuat kaki Tara lemas.

"Maaf saya lupa bawa baju salinnya tadi, " ucap Zaka sambil mengambil sesuatu dari dalam ranselnya.

Tara masih menunduk malu, benar-benar tak ingin melihat, tak siap jika akhirnya ia jatuh cinta pada teman almarhum suaminya.

"Cari apa sih di bawah? Dari tadi nunduk terus?" tanya Zaka yang benar bingung dengan Tara.

"Aah, ini..ada kecoa, Mas," kilahnya. Tara menghembuskan nafas lega, saat Zaka kembali masuk ke kamar mandi. Jantung Tara masih maraton.

Zaka keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, setelan piyama tidur warna coklat, melekat begitu pantas di tubuhnya. Hingga tak sadar Tara jadi terpesona.

"Mii..minum Mas!" Tara mempersilakan, sekilas menatap wajah Zaka yang begitu tampan setelah mandi. Zaka mengambil secangkir air jahe, menikmatinya dengan santai.

"Pas..," komentar Zaka saat menikmati air jahe buatan Tara. Tara menyambutnya dengan senyuman

Zaka yang melihat Tara tersenyum manis, tiba-tiba saja hatinya berdesir.

"Saya akan menginap di sini selama tiga hari."

"Ah, ii-iyaa Mas."

"Kamu tidak keberatan'kan?"

"Apa boleh sama Mbak Mei Mas?"

"Boleh, selagi dia di Thailand ada urusan bisnis."

"Malah dia yang suruh saya untuk ke sini," ucapan Zaka barusan entah kenapa menyentil Tara. Oh..jadi jika Mbak Mei tidak menyuruhnya ke sini, maka ia takkan lagi menginjakkan kaki di rumahku. Nasib mu Raa..sabarlah yaa.

"Baik Mas, saya akan menyiapkan tempat untuk saya dan Fia dulu," pamit Tara bangun dari duduknya

"Mau ke mana Ra?"

"Mau pasang kasur lipat di depan sini Mas, biar saya dan Fia tidur di depan. Mas bisa istirahat di kamar. "

"Ngapain, bukannya kita bisa tidur seranjang?" tanya Zaka heran.

"Aah..itu kasur saya sempit Mas." Tara beralasan, padahal iya sudah setengah mati menahan dadanya yang berdebar.

"Muat kok, yuk tidur. Saya cape!" ajak Zaka masuk terlebih dahulu ke dalam kamar Tara. Zaka menatap kamar minimalis Tara sangat rapi dan teratur, tampak Fia tengah pulas tidur di atas ranjang yang tak terlalu besar ini. Zaka merebahkan tubuhnya. Aah..rasanya hari ini begitu melelahkan.

Tara masuk ke dalam kamarnya, setelah sebelumnya mengunci pintu rumah, dan mematikan lampu depan. Pelan Tara membuka pintu kamar, berharap Zaka sudah tertidur. Namun keberuntungan sedang tidak berpihak pada Tara. Saat ini Zaka malah asik senyum-senyum sendiri di depan ponselnya. Pasti sedang chat dengan istrinya. Tara menutup pintu pelan, Zaka masih tidak menyadari kehadiran Tara. Tara naik ke ranjang, posisinya di sebelah Fia yang kini posisinya berada di tengah kasur. Tara tidur dengan gamis dan kerudungnya. Pelan merebahkan kepalanya, menatap ke langit-langit kamar. Tak berani berbalik menghadap Zaka, apalagi memunggunginya, dosa.

"Ra..kamu tidur memang seperti ini ?" tanya Zaka heran melihat Tara memakai pakaian lengkap

"Hhmm..gak juga sih, Mas."

"Mau tidur, apa mau pergi pengajian?"

"Mau tidur, Mas."

Zaka terkekeh, Tara polos sekali menjawab semua pertanyaan Zaka.

"Saya'kan suami kamu, Ra. Ga papa toh jika kamu memperlihatkan rambut kamu pada saya!"

"Mm..iya, Mas."

"Ayo buka! Pasti tidak nyaman tidur begitu," titah Zaka menatap intens ke arah Tara.

Ragu Tara turun dari kasur. Membalikkan badan, membuka kerudungnya, rambut hitamnya tergerai indah sepanjang pinggang. Tak berani berbalik badan, karena ia tahu Zaka pasti tengah memperhatikannya.

"Taraaa...." panggil Zaka.

"Aah..iya Mas." Tara tersadar dari lamunanya. Pelan ia buka gamisnya, di dalam gamisnya sudah ada daster sepaha bewarna biru terang. Jantung Tara berdegub kencang. Saat ia membalikkan badannya. Duh malunya, tubuh yang berlemak dan dekil ini dilihat Mas Zaka. Pasti dia ilfil deh, bukan seleranya.

"Nah..gitu kan pantes," ucap Zaka kini meletakkan kembali kepalanya di atas bantal.

"Cantik juga " gumam Zaka seraya menutup kedua matanya. Apakah Tara bisa tidur? Jawabannya tentu tidak, Tara merasa sangat risih dan malu. Lampu kamar redup, membuat suasana gerimis di luar semakin sahdu. Tara membalikkan tubuhnya saat dia rasa tak ada pergerakan lagi dari Zaka.

Akhirnya Zaka tidur juga, pikirnya. Kini posisi Tara menghadap Fia dan Zaka yang juga sedang terlelap menghadap Fia. Dalam keremangan Tara memperhatikan wajah Zaka. Garis bibirnya tertarik. "Suamiku tampan," bisiknya dalam hati.

Zaka membuka mata, bertatapan dengan Tara yang juga tengah memperhatikannya. Tara sangat malu ketahuan memperhatikan Zaka. Mau berbalik badan lagi tentu tidak mungkin, akhirnya Tara memejamkan paksa matanya.

"Ra...," bisik Zaka.

"Mmm..ya, Mas."

"Boleh saya meminta hak saya malam ini?"

******

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED