Keesokkan harinya, gadis berambut pirang terang terlihat tergesa-gesa berjalan menyalip setiap orang yang dirasa menghalangi jalannya.
Sepatu hak tinggi yang dikenakan gadis itu nampaknya tidak menjadi penghambatnya untuk segera menghampiri mesin jam digital yang sebentar lagi akan menunjukan pukul 8:00 pagi.
Dan lebih dari itu, gadis itu akan terhitung terlambat. Hal yang tidak gadis itu inginkan untuk mempengaruhi laporan magangnya pada bulan ketiga ia magang di perusahaan besar dan berkompeten itu.
"Touch down!!" serunya begitu ia berhasil meletakkan ibu jarinya di mesin sidik jari, tepat 1 detik sebelum jam berubah menjadi angka 8.
"Pada dasarnya, kita masih diberikan toleransi 15 menit untuk terlambat punch in, Meg. Kau baru saja menyia-nyiakan semangat kerjamu untuk berlari."
Gadis yang disebut Meg tersebut menoleh kearah kanan begitu bunyi Bip yang menandakan kalau absennya sudah masuk terdengar.
"Dan pada dasarnya aku adalah calon karyawan teladan yang menjunjung tinggi ketepatan waktu," balas Gadis itu sambil menyingkir agar laki-laki yang merupakan seniornya dapat melakukan absen.
"Oh, apa tadi kau tidak lihat? Mesin mendaftarmu pukul 8:00 lewat 3 detik. So, basically, kau sudah terlambat."
Laki-laki itu terkekeh ketika melihat gadis di sampingnya merutuk. "Megan Penelope tenang saja, sebagai senior yang baik, aku akan pura-pura tutup mata akan hal itu."
Perlahan senyum diwajah Megan mulai terlihat. "Aku tahu kau tidak akan tega kepadaku, Bos."
Laki-laki itu berdesis. "Aku berubah pikiran. Aku akan memasukan keterlambatanmu pada laporan bulan ini."
Begitu selesai mengabsen, laki-laki itu berjalan melalui Megan kedalam ruang kerjanya.
Megan terkejut dan ia langsung mengekori langkah laki-laki itu dengan cepat.
"Ah, maaf, Ed. Aku lupa akan aturan yang satu itu. Ed, kan? Aku berjanji tidak akan memanggilmu bos lagi. Jadi please, lepaskan kesalahanku yang satu itu, ya?"
Kedatangan dua orang itu cukup mengundang tatapan setiap orang yang sedang sibuk di kubikelnya masing-masing.
Sebagian ada yang tertawa, ada yang memilih mencuekinya. Bukan rahasia lagi memang kalau Ed atau Edward, Marketing Manager perusahaan itu tidak suka kalau dipanggil dengan sebutan Bos yang menurutnya terdengar sangat otoriter.
Semua orang tahu, bahkan hal itulah yang pertama kali Ed tekankan saat perkenalannya dengan karyawan magang, termasuk Megan.
Sementara itu, Megan sendiri juga memang dikenal friendly pada siapapun dan apapun kedudukan mereka, termasuk Ed sendiri yang notabene adalah Atasannya.
Ed menatap gemas kearah Megan dan memutuskan untuk menyentil kening gadis itu. "Kembali ke mejamu."
"Tapi kau berjanji tidak akan..."
"Kalau kau tetap berbicara di depanku, maka aku akan benar-benar memasukan keterlambatan 3 detikmu ke dalam laporan," potong Edward sambil berkacak pinggang.
Ia berhenti tepat di depan ruang kerja pribadinya sebelum Megan mengekori lebih jauh.
Tanpa berbicara lagi, Megan langsung berbalik dan berlari dari hadapan Edward yang tertawa melihat tingkahnya.
Megan kembali ke meja kerjanya lalu menyalakan komputer miliknya.
"Jam berapa kau pulang semalam?"
Megan menoleh ke sebelah kirinya, mendapati Claire, rekan kerja yang juga teman kuliah yang melakukan magang bersama di perusahaan itu sedang menatap penuh selidik kearahnya.
"Kau pulang terlalu cepat semalam dan melewatkan keseruannya," desis Megan tidak menjawab pertanyaan temannya secara langsung.
"Well, itu sudah jam 11 malam, -aku berani jamin itu sama sekali bukan pagi karena aku sudah mengantuk-, dan aku tidak melihat tanda-tanda kalian akan segera pulang. Maka itu aku..."
"Tania dilamar David, dan David akan merayakannya malam ini di klub. Kau ikut?" tanya Megan tanpa menunggu
Claire menyelesaikan jawabannya. "He what??" Pekik Claire terkejut. "Apa dia Iupa kalau dia masih harus menyelesaikan magang dalam 3 bulan lagi, dan masih banyak ujian yang menungg... Oh ya, Tuhan! Laki-laki itu memang bodoh. Dia menyepelekan segala hal."
Megan memutar bola matanya menanggapi gerutuan Claire yang sudah biasa ia dengar.
Dalam lingkungan pertemanannya, Claire dikenal sebagai ibu mereka yang suka melakukan ceramah.
David dikenal sebagai bungsu pembuat onar.
Tania yang paling innocent di antara mereka.
Sedangkan Megan adalah sosok kakak tertua yang selalu bisa di andalkan.
Claire menghela nafas dan kembali ke posisinya di meja kerja ketika Megan bergerak mendekat dengan kursinya dan berbisik, "Lalu kau tidak mau ikut malam nanti?"
Claire melirik kearah Megan yang sedang menggodanya dengan menggerakkan kedua alisnya naik turun sambil menyunggingkan senyumnya.
Claire terkekeh sambil mendorong tubuh Megan menjauh. "Tentu saja aku ikut, bodoh!"
***
Suara dering ponsel yang nyaring, di sertai dengan getaran yang membuat suara gesekan antara benda pipih dan meja kayu itu beradu mengganggu ketentraman dan ketenangan tidur laki-laki yang enggan membuka matanya pagi itu.
"Babe, your phone." Suara lembut seorang wanita terdengar berbisik di telinganya hingga mau tidak mau ia membuka matanya bersamaan dengan kecupan lembut yang mendarat di bibirnya.
Laki-laki itu sedikit terkejut, namun hanya beberapa detik sebelum ia sadar akan keadaannya. Ia meraih ponsel yang masih bergetar riang di atas nakas sambil menarik tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang.
Wanita yang tadi membangunkannya kini melingkarkan kedua tangannya di perut telanjang laki-laki itu sambil memejamkan mata. Laki-laki itu masih setengah tersadar ketika ia menjawab panggilan itu.
"Alceo speaking."
"Sir, apa kau akan segera tiba? Rapat akan dimulai dalam 10 menit."
Suara dari seberang sana cukup membuat Alceo mengernyit dan menggaruk pelipisnya sebelum tangannya kembali membelai punggung telanjang wanita di sebelahnya yang sudah mulai menyentuh setiap jengkal tubuh tegapnya dan membangunkan kembali nafsunya.
"Pukul berapa ini?" tanya Alceo.
"P-pukul 9 lewat 35 menit pagi, sir."
Pria di seberang telepon menjawab dengan suara sedikit gugup.
"Pagi?" tanya Alceo tidak penting.
Begitu sadar kalau pertanyaannya sama sekali tidak bermutu, ia kembali bersuara.
"Undur rapatnya 1 jam lagi."
"S-sir, saya rasa tidak bisa."
Alceo mengernyit. Sedikit terkejut ketika ia merasakan tangan wanita di sebelahnya sudah menyentuh bagian bawahnya yang tidak tertutup apapun sisa dari perbuatan mereka semalam.
Seperti bisikan, Alceo bertanya, "Kenapa?"
"Ayah anda sedang berada disini. Dan beliau ingin memantau jalannya rapat hari ini."
Alceo seperti disiram air dingin begitu mendengar penuturan sekretatisnya barusan.
Nafsunya langsung padam, tubuhnya menegap dan matanya melotot.
"APA?!"
Alceo benar-benar ketakutan saat ini. Takut bukan dalam artian ayahnya akan memarahinya, membentaknya bahkan memukulinya.
Takutnya Alceo dalam artian ayahnya akan marah karena dia tidak hadir dalam rapat pagi ini hanya karena seorang wanita. Pekerjaannya terbengkalai demi urusan pribadinya.
Alceo tidak tahu bagaimana caranya ia bisa sampai di kantor 15 menit kemudian. la berjalan cepat tanpa menghiraukan tatapan mata pegawai yang mengarah kearahnya dengan tatapan menelanjangi yang biasa ia dapatkan.
Kalau biasanya Alceo akan menyempatkan diri untuk sekedar berkedip, melambai, atau mengirim kecupan bayangan ke karyawan perempuannya, kali ini ia tidak memiliki waktu itu.
Van, Sekretarisnya yang terlihat gelisah berdiri mondar mandir di depan pintu lift menghela nafas lega begitu melihat Alceo keluar dari dalam sana.
"Sir, meeting hari ini." Van mengekori langkah besar Alceo hingga ke depan pintu ruangannya.
"Biarkan aku ke ruanganku dulu untuk mengambil beberapa berkas. Kau bisa-"
Alceo tidak melanjutkan ucapannya ketika ia melihat punggung laki-laki yang ia kenali sedang membelakanginya di dalam ruang kerjanya yang dulu merupakan ruang kerja laki-laki itu sebelum memutuskan untuk menyerahkan kuasanya pada Alceo.
"Meeting sudah saya undur sampai makan siang nanti." Suara penuh wibawa dari laki-laki yang masih memunggungi Alceo mampu membuat dua laki-laki muda itu merinding.
Van memilih untuk mundur dan tidak ikut campur dalam masalah yang sepertinya tidak akan berhubungan dengan pekerjaannya kali ini.
Ia cukup bingung ketika mantan bos besar perusahaan itu memundurkan jadwal secara tiba-tiba tadi dengan mengatakan kalau ia dan Bos mudanya perlu berbicara.
Dan sepertinya Van tidak memiliki keinginan terlibat di dalam pembicaraan itu kalau masih mau bekerja disana.
Alceo sedikit membeku sebelum berhasil menemukan nafasnya dan mengontrol wibawanya dengan menutup pintu dan menghampiri punggung ayahnya.
Selangkah sebelum ia sampai, ayahnya sudah berbalik sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Laki-laki itu mengernyit, memperhatikan penampilan putranya dari bawah hingga ke atas.
"M-maaf, Dad. Aku.. bangun kesiangan."
Seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan hasil ulangannya yang jelek, Alceo tidak berani menatap mata ayahnya.
"Sebutkan alasan kenapa aku membiarkanmu untuk tinggal terpisah dari kami?" tanyanya dengan nada penuh intimidasi.
"Agar aku bisa mandiri," jawab Alceo pelan.
"Lalu?"
"Agar aku bisa belajar bertanggung jawab," sambungnya.
"Lalu?"
"Agar aku... Oh ayo lah, dad. Aku hanya terlambat."
Alceo menatap arloji di pergelangan tangannya. "8 menit. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil, Dad" Alceo berbicara sambil merengek di hadapan ayahnya.
"Then stop acting like one, Alceo!" gerutu ayahnya, Nandito Tyler sambil berkacak pinggang.
Alceo ingin membela dirinya. Namun tidak ada kalimat yang bisa ia keluarkan. Alhasil ia kembali diam menerima ceramah sang ayah tercinta.
"Kau bukan anak kecil lagi, Alceo. Kau memiliki tanggung jawab atas perusahaan beserta nasib seluruh pegawai yang bekerja di sini," tutur Nandito.
"Kau anak tertua dari kedua adik kembarmu, tapi kenapa kau tidak sama sekali bisa memberi contoh yang baik untuk kedua adik kembarmu?"
Alceo memutar bola matanya. Ia paling tidak suka dibanding-bandingkan dengan kembarannya.
Lagipula ia hanya terlambat 8 menit, bukan 8 bulan yang dimana harus di khawatirkan kalau ia adalah seorang wanita dan ia terlambat 8 bulan, yang berarti -oke, ia mulai ngaco.
"Lihat Austin. Kenapa Mommy dan Daddy membiarkan Austin untuk mengurus perusahaaan Grandpa di Indonesia? Karena dia bertanggung jawab. Lalu adik perempuanmu, Auryn, dia sekarang sedang magang menjadi dokter."
"Dad aku mengerti. Aku hanya terlambat 8 menit, dan kau tidak perlu membanding-bandingkan anak-anakmu seakan aku sangat tidak berguna sama sekali," sungut Alceo.
"8 menit dan ini bukan pertama kalinya, Alceo." Nandito melembutkan suaranya. "Daddy tidak bermaksud membandingkanmu, tetapi Daddy mau kau mulai bertanggung jawab dan berhenti bermain-main."
Mata Nandito menyipit kearah Alceo. Kemudian ia menghela nafasnya yang terdengar lelah. Ia memijat pelipisnya yang dirasanya berdenyut.
"Dad tidak akan terkejut kalau suatu saat ada satu atau beberapa wanita yang datang ke rumah dan mengatakan kalau mereka sedang mengandung cucu Daddy yang merupakan anakmu."
Alceo terkejut. Ia langsung menoleh kearah Nandito. Kenapa ayahnya tiba-tiba bisa membahas masalah itu?
Dan ketakutan itu sebenarnya tidak mendasar karena selama ini Alceo selalu bermain aman. Sangat aman hingga Alceo yakin kalau kenakalannya itu tidak diketahui siapapun.
Nandito kembali menghela nafas sambil menggerakkan dagunya kearah Alceo, "Kalau kau mau mempermalukan dirimu. Lakukan di tempat lain, jangan disini. Ada tanda kemerahan di lehermu yang aku yakin bukan berasal dari gigitan nyamuk."
Tangan Alceo sontak langsung menutupi kedua lehernya dengan wajah terkejut. Apa wanita kemarin yang Alceo lupa siapa namanya meninggalkan bekas disana? Hal yang selama ini Alceo larang ke setiap wanita yang tidur dengannya.
Lalu dagu Nandito kembali menunjuk bagian bawah Alceo.
"Kau juga lupa mereseleting celana kerjamu," sambung Nandito.
Mata Alceo melotot dan langsung menatap bagian bawahnya yang dengan cerobohnya belum ia tutup dengan baik.
Apa ini alasan orang-orang menatapnya tadi? Dan apa ini alasan ayahnya marah? Sepertinya iya.
Bagaimanapun ia membela diri. Ia hanya akan terlihat bodoh dengan dua hal ini yang sedang mengejeknya.
***
Tidak pernah ada yang lebih menenangkan dari mendengar musik berirama kencang dengan beberapa gelas minuman keras yang mampu mengimbangi bunyi bising yang masuk ke indra pendengarannya saat ini.
"Bagaimana kemarin?"
Alceo mendongak dari tempatnya untuk menatap laki-laki yang barusan bertanya dari dalam meja bar.
"I'm too drunk to feel it." Alceo terkekeh sambil menegak cairan di gelas yang berada di genggamannya.
"Well, i hope you're not too drunk to use a condom." Laki-laki itu terkekeh mengejek Alceo.
"Kau tahu aku tidak seceroboh itu, Ger!" ujar Alceo sambil menyodorkan gelas kosongnya kearah Gary, Bartender yang sedang berbicara dengannya.
"Bagaimana klub hari ini? Apa ada laporan yang harus 11 aku ketahui?"
Gary memberikan gelas yang sudah kembali terisi kepada Alceo sambil bergumam, "Berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa, Bos. Kau tidak perlu khawatir."
Alceo mengangguk sambil kembali menegak cairan bening itu dan berdesis puas.
Kesehariannya memang selalu seperti ini. Bekerja di kantor, dan menghabiskan waktu di kelab malam yang juga merupakan satu sumber penghasilan Tyler Enterprise yang diwariskan kepadanya, lalu bersenang-senang dengan wanita random setiap harinya.
Siapa yang tidak mengenal Alceo Marvello Tyler? Tampan, kaya, sukses, dan menduduki tingkat tertinggi the most wanted man setelah Pangeran William.
Tidak ada wanita yang bisa menolak pesonanya selama ini. Dan Alceo tidak tahu harus bersyukur atau malah menyesali semua itu karena hingga saat ini.
Alceo hanya mengenali 1 tipe wanita dalam hidupnya yaitu wanita yang mendekatinya karena segala kesempurnaan yang melekat di dirinya.
"Barbara mencarimu kemari tadi." Gary membuyarkan lamunan Alceo.
Laki-laki itu mengisi lagi gelas bos besarnya dengan cairan yang sama tanpa di minta.
"Dia meninggalkan nomor teleponnya dan memintaku memberikannya padamu."
Alceo mengernyit. "Barbara? Siapa?" tanyanya mencoba mengingat nama yang Gary sebut barusan.
Gary terkekeh, maklum dengan kelupaan Alceo akan nama setiap wanita yang ia tiduri hampir setiap harinya. Karena ini bukan hal pertama Alceo lupa.
Gary berdeham dan mencoba membantu Alceo untuk mengingat. "Wanita berambut pirang ikal yang kau temui minggu lalu disini. Kau bahkan sempat berjanji akan membawanya ke Hawaii kalau aku tidak salah ingat."
"Aku?" Alceo mengernyit.
Ia kembali mencoba menggali memorinya tapi tidak ada satupun yang ia ingat akan ciri-ciri wanita bernama Barbara itu. Apalagi janji yang Gary sebut tadi.
"Kau yakin? Aku tidak ingat. Lagipula, aku tidak menyukai wanita berambut pirang. Jadi nomor itu untukmu saja," sahut Alceo acuh.
Gary terkekeh dan menggeleng. "Terima kasih, tetapi aku sudah kapok dengan wanita ibahanmu yang terus menerus menerorku menanyai kabar dan menagih janjimu pada mereka. Jadi...."
Gary meraih secarik kertas yang bertulisan sederetan nomor ponsel di atasnya, lalu merobeknya menjadi partikel kecil.
"Thanks, but no, thanks."
Kedua orang itu terbahak.
Gary memang bartender di kelab malam milik keluarga Alceo. Tapi sebelum menjadi bartender, ia dan Alceo adalah sahabat baik.
Alceo memberikan pekerjaan ini pada Gary saat Gary mengalami kesulitan ekonomi pasca orang tuanya meninggal.
Tawa kedua orang itu teredam begitu suara nyaring dari panggung pertunjukan yang tersedia di kelab itu memekikkan telinga mereka. Bahkan DJ yang sedang bertugaspun terpaksa berhenti karena suara nyaring seseorang yang entah bagaimana bisa berada disana sambil memegang mic.
"Baiklah, Clubbies... Maaf mengganggu kesenangan kalian sebentar," ucapnya dengan lantang di depan banyak mata yang menatapnya.
"Kau mau aku memintanya turun?" tanya Gary sudah mengeringkan tangannya dengan kain.
Alceo menoleh kearah Gary sesaat, mengalihkan pandangannya dari wanita berambut pirang yang berada di atas panggung.
"Tidak perlu," ucap Alceo kembali menatap kearah panggung. "Kita lihat apa yang ingin dia lakukan." Alceo menyunggingkan senyumnya.
"Beberapa menit yang lalu, Aku kalah taruhan dengan sahabatku. Dan oleh sebab itu, aku berada disini untuk melakukan tantangan dari mereka."
Wanita itu terkekeh sambil menunjuk kearah meja yang mungkin adalah tempat teman-temannya berkumpul.
"Untuk Tania dan David, Selamat atas pertunangan kalian! This song is for you, guys! Bisa kalian membantuku ucapkan selamat untuk kedua orang di meja nomor 13?" pinta wanita itu dengan senyum lebarnya.
"Tunggu aku kembali dan aku akan menendang bokong kalian karena sudah mempermalukanku."
"She gonna sing. Kau mau aku menghentikan aksi gilanya?" Gary sudah keluar dari meja barnya dan berdiri di sebelah Alceo yang masih menatap kearah panggung.
Alceo menahan dada Gary tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Biarkan. Aku mau mendengar suaranya," gumamnya pelan.
Oh, baby, look what you started The temperature's rising in here Is this gonna happen?
Been waiting and waiting for you to make a move
Before I make a move
So, baby, come light me up, and maybe I'll let you on it
A little bit dangerous, but, baby, that's how I want it
A little less conversation and a little more "touch my body"
'Cause I'm so into you, into you, into you
Got everyone watchin' us, so, baby, let's keep it secret
A little bit scandalous, but, baby, don't let them see it
A little less conversation and a little more "touch my body"
'Cause I'm so into you, into you, into you, on yeah
Mendengar lagu yang melantun dan juga bagaimana cara wanita itu bergoyang dan menyentuh dirinya sendiri membuat Alceo merasa terprovokasi hingga gairahnya timbul tanpa ia sadari.
Pikiran nakalnya berlarian membayangkan wanita itu berada di bawahnya malam ini.
"Il have her tonight on my bed," gumam Alceo seraya menegak minumannya dan berdiri hendak mendekati panggung.
Gary menyekal tangan Alceo sebelum laki-laki itu pergi. "Apa yang terjadi dengan 'aku tidak menyukai wanita berambut pirang?" tanya Gary seraya mengernyit.
"Rambutnya tidak ikal," kilah Alceo sambil menunjuk kearah panggung, dimana wanita itu sudah hampir selesai bernyanyi.
"Tapi rambutnya pirang." Gary mengingatkan.
Alceo menoleh kearah Gary dan tersenyum. Ia lalu menepuk pundaknya.
"Jangan terlalu old fashion, Gary. Itu hanya rambut. Yang kau nikmati itu adalah tubuhnya, bukan rambutnya."
Gary mengerjap kebingungan. Kenapa jadi ia yang terkesan buruk mendengar kalimat Alceo barusan? Yang ia lakukan hanya mengingatkan Alceo akan ketidak sukaannya, bukan?
"Watch and learn, Buddy." Alceo menepuk bahu Gary sebelum berlalu lagi kearah panggung.
Wanita itu sudah selesai bernyanyi dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari orang-orang yang menikmatinya. Termasuk Alceo.
Laki-laki itu menunggu di samping panggung dengan senyum lebarnya. Begitu Wanita itu menuruni panggung.
Tanpa peringatan, aba-aba dan izin. Alceo langsung melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan melumat bibirnya yang secara mengejutkan, terasa manis untuknya.
Wanita itu terkejut, matanya terbelalak hingga ia kira kalau matanya akan melompat keluar dari tempatnya.
Dengan segala kesadaran dan kekuatan yang masih tersisa, wanita itu mendorong tubuh Alceo, menatap laki-laki itu tidak percaya.
Ketika Alceo ingin kembali menciumnya, wanita itu dengan cepat meraih lengan Alceo, memutarnya lalu mengunci tangan kekar Alceo di belakang tubuhnya.
"Arghhh! Apa yang kau lakukan?!" pekik Alceo terkejut mendapatkan perlakuan yang berbeda dari yang ia bayangkan.
"HIDUNG BELANG!" pekik wanita itu sambil menendang bokong Alceo hingga laki-laki itu terjungkal ke depan.
***
Megan memijat pelipisnya. Kepalanya masih terasa pening akibat pengaruh alkohol, juga kejadian tidak menyenangkan yang menimpanya kemarin malam. Tidak pernah seumur hidupya ia dilecehkan serendah itu oleh seseorang.
Oh well, mungkin laki-laki yang melecehkannya tampan. Amat tampan, kalau Megan bisa menambahkan. Tetapi perilaku laki-laki itu nol besar. Apa laki-laki itu mengira Megan adalah wanita murahan yang bisa dicium dan di ajak tidur semudah itu?
Laki-laki itu sudah gila kalau benar-benar mengira Megan serendah itu.
Bukan sampai sana saja kesialannya. Ternyata laki-laki yang melecehkannya, dan juga laki-laki yang ia tendang bokongnya adalah tamu penting. Kalau mendengar dari penuturan bartender yang tiba-tiba menengahi keributan mereka semalam.
Kalau bukan karena hari itu adalah hari berbahagia kedua sahabatnya, David dan Tania, Megan tidak akan meminta maaf dan memilih melupakan pelecehan itu.
Laki-laki hidung belang sepertinya harus diberantas. Karena menurutnya, laki-laki hidung belang itu seperti virus. Sangat mudah menyebar dan sangat mengganggu kesejahteraan hidup umat manusia.
Megan bersumpah ia tidak akan kembali ke kelab malam itu, apapun yang terjadi.
Bungkusan roti isi yang tiba-tiba melayang ke mejanya membuyarkan lamunan Megan.
Megan menoleh lalu mendapati Claire sudah duduk di kursi sebelahnya sambil melahap roti yang sama seperti yang tadi di lemparkan ke atas meja.
"Aku sudah dengar dari Tania," ujar Claire.
"Katanya laki-laki itu tampan, ya? Aku jadi menyesal tidak ikut dan melewatkan pertunjukan kemarin."
Megan berdesis menanggapi ejekan Claire. Ia meraih roti di atas meja dan membukanya dengan gerakan kesal.
"Jangan bahas masalah kemarin lagi. Aku benar-benar ingin memandikan laki-laki itu dengan 1 tangki alkohol agar virusnya tidak menyebar kesiapapun."
Claire terbahak hingga nyaris tersedak mendengar gerutuan Megan.
"Laki-laki memang seperti itu, Meg. Kau hanya terlalu sering bergaul dengan David yang hidupnya lurus. Bahkan mungkin saja dibalik itu semua, David juga memiliki sifat hidung belang itu, tidak ada yang tahu."
"Aku akan menyemprot David dengan pestisida kalau sampai ia melecehkan Tania," gerutu Megan dan mengabaikan candaan Claire.
"Kau kira sahabatmu itu sayuran berhama?" tanya Claire lalu kembali terbahak.
Megan memajukan bibirnya sesaat sebelum ia ikut tertawa bersama Claire.
Tawa mereka berhenti ketika karyawan di kantin mendadak ribut dan berlari ke satu arah pintu masuk beserta jendela yang mengarah ke Lobby utama kantor mereka.
"Ada apa? Apa ada artis lewat?" tanya Claire bingung.
Megan menggidikkan bahunya. "Palingan model untuk produk bulan depan," ujar Megan tidak tertarik.
"Boleh aku bergabung?" suara Edward, atau yang sering mereka panggil Ed, terdengar bersamaan dengan bunyi nampan yang diletakkan di atas meja mereka.
Megan tersenyum lebar sambil mengangguk. "Silahkan saja."
"Ed, artis mana yang datang? Kenapa heboh sekali?" tanya Claire yang sepertinya masih penasaran dengan kumpulan fans dadakan itu.
"Artis?" Ed terkekeh lalu menggeleng.
"Itu bukan Artis. Tetapi CEO perusahaan ini."
"CEO? Kenapa mereka heboh seperti itu?" Claire mengernyit.
Dalam bayangan Claire dan Megan, CEO perusahaan sebesar ini pastilah sudah berumur dan bertubuh gempal.
Jadi kalau reaksi yang terlihat seakan menyambut dewa Yunani begitu, tentu saja membuat Claire juga Megan bertanya-tanya.
Ed terkekeh dan menggidikkan bahu. "Sepertinya kau harus melihatnya sendiri, karena kalian pasti akan menertawakan jawabanku," ujarnya.
Setelah mengatakan itu, Ed mulai melahap makan siangnya tanpa meladeni Megan dan juga Claire.
Megan dan Claire saling bertatapan. Mereka seakan berbicara secara telepati untuk melihat sendiri kehebohan itu.
Namun belum sampai kata sepakat, kerumunan itu sudah membubarkan diri dengan helaan nafas kecewa yang ketara.
Alceo bersumpah ia tidak akan kembali lagi ke kelab malam miliknya yang satu itu.
Seumur hidupnya, ia tidak pernah dipermalukan seperti itu oleh seorang wanita kecuali adik kembarnya. Tidak ada satu wanita pun yang berani menginjakkan kaki di atas harga dirinya. Tidak seorang pun.
"Apa kau merasa tidak berlebihan, Marvel?" suara bass Gary menyadarkan Alceo dari lamunannya.
"Kalau kau tidak mau kesana lagi. Kenapa juga kau harus memindah tugaskan aku ke klab ini?"
"Aku butuh teman bicara," sahut Alceo ketus.
"Yakin? Setelah mendapat mangsa. Kau juga akan meninggalkanku. Lebih baik aku kembali ke klab yang dulu saja. Disana lebih banyak pelayan seksi."
Gary bersungut-sungut sambil mengelap meja barnya. Klab ini memang tidak sebesar klab yang kemarin menjadi saksi harga diri Alceo terinjak.
Namun persamaannya adalah kedua klab itu sama-sama milik keluarga besar Tyler.
Jadi Alceo bisa berbuat seenaknya atas pegawai-pegawai bar tersebut. Termasuk memindah tugaskan Gary tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Mulutmu cerewet sekali seperti ibu-ibu rumpi," sindir Alceo.
Alceo meneguk minumannya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling klab yang sebagian besar diisi oleh pejabat-pejabat berumur dan juga pekerja-pekerja kantor yang nampaknya menjadikan klab malam ini sebagai alternatif tempat meeting.
Berbeda dengan klabnya yang kemarin, yang kebanyakan diisi oleh anak-anak muda.
Maka itu, Alceo hampir tersedak ketika ekor matanya tidak sengaja atau memang hari sialnya belum berakhir melihat bayangan wanita berambut pirang yang sama baru saja masuk ke klab itu.
Alceo meletakkan sedikit kasar gelas di tangannya ke atas meja bar. "Kenapa dia ada disini?!"
Gary mengernyit dan mengikuti arah pandangan Alceo. "Dia siapa?"
"Wanita kemarin!" pekik Alceo tidak percaya.
"Aku tidak melihatnya. Mungkin kau berhalusinasi. Klab ini private dan hanya yang memiliki reservasi atau jabatan tinggi saja yang boleh masuk."
"Aku benar-benar melihatnya!" Alceo menatap Gary dengan mata melotot. Tidak terima diragukan.
"Aku akan menghampirinya dan menanyakan maksudnya mengikutiku kemari!" putus Alceo langsung bangkit dari tempatnya, meninggalkan Gary dan menghampiri lokasi wanita itu.
Gary tidak sempat mencegah atasannya itu karena Alceo bergerak dengan sangat cepat. Ditambah, suaranya teredam oleh musik beat yang memekakkan telinga.