"Katakan saja siapa ayahku, dan aku akan menurut,” ucap Ana gadis remaja kelas tiga SMA. Dengan sangat santai dia melempar beberapa lembar hasil ujian ke atas meja di ruangan tengah. Masih tak peduli, Ana duduk di sofa mengamati Penelope ibunya yang sudah memperlihatkan wajah angker.
“Sudah Ibu bilang. Ayahmu memang meninggal!” Penelope yang biasa dipanggil Pen, membentak sembari mengambil semua lembar hasil ujian milik Ana. Kedua matanya melotot saat melihat semua nilai dengan tinta merah di setiap lembarnya.
Hidupnya selalu saja tidak tenang ketika pulang ke rumah. Ana masih sengaja membuat ulah. Pen yang berusaha menahan amarah, tetap saja gagal. Gadis itu terlihat tidak peduli dengan kemarahannya.
“Empat puluh, tiga puluh sembilan, dua puluh lima? Argh!” teriak Pen semakin keras. Dia meremas semua hasil ujian tengah semester itu. “Ana, ini bukan lelucon!” lanjutnya dengan tegas. "Apa ini ... karena pemuda itu? Pantas nilaimu jelek,” imbuhnya kemudian membayangkan pemuda berambut keriting, berkulit hitam, dan gendut yang selalu mengantar anaknya pulang sekolah. Dia lemas, sambil memegang kepalanya yang terasa pening.
“Hei, hentikan!” protes Ana sambil mengunyah keripik. Dia duduk sambil mengangkat salah satu kakinya di kursi sofa, persis seperti pria saat nongkrong di warung.
Selama ini mereka berdua tinggal di sebuah apartemen kecil di tengah kota Yogyakarta. Pen yang terus berusaha membuat sang anak menurut, tetap saja gagal. Semua sudah dia lakukan mulai dari memberikan apa pun yang Ana mau. Tapi, tetap saja hubungan mereka selalu buruk.
Pen mendekati Ana dan menarik kakinya. Spontan menepuk paha Ana yang terlihat karena memakai celana pendek yang sangat ketat. “Kalau nilai ujian itu tidak kamu perbaiki, kau akan menyesal,” kata Pen sangat pelan, dengan kedua mata melotot tajam.
“Apa urusanmu?” balas Ana santai sambil memperlihatkan gigi ratanya yang dipenuhi sisa keripik. Pen hanya menghela napas panjang.
“Apa maumu?” tanya Pen lemas dan akhirnya menyerah. Dia merebahkan tubuh di kursi sofa, sambil menatap Ana yang mendadak membuang keripiknya ke sembarang tempat.
Ana mendekati sang ibu, lalu duduk tepat di sebelahnya. Menatap Pen dengan tatapan sangat menusuk. Pen mengerutkan kedua alisnya sangat dalam, membalas tatapan itu. Kedua mata mereka saling bertumbukan tajam.
“Katakan maumu gadis muda?” ucap Pen pelan. Salah satu alisnya terangkat.
Ana tersenyum. Kali ini dia yakin berhasil membuat sang ibu akan mengatakan rahasia tentang ayahnya yang selama ini selalu ditutup rapat.
“Pen, kau tahu apa mauku,” balas Ana dengan penekanan lebih. Kedua matanya menyipit. Menyorot tajam ke arah Pen, seperti pedang yang ingin membelahnya.
“Panggil aku dengan sopan,” balas Pen sembari menepuk jidat Ana.
Pen berusaha mengatasi hatinya. Anak satu-satunya itu selalu memanggilnya dengan sebutan nama. Hal itu dilakukan Ana agar sang ibu mau mengatakan semua yang ingin dia ketahui tentang ayahnya.
“Aku akan memanggilmu Ibu ... kalau kau mengatakan siapa ayahku. Itu yang aku mau. Kau--”
“Ayahmu sudah mati. Ya, memang seperti itu. Apalagi yang harus Ibu katakan?” balas Pen singkat.
Seperti biasanya Pen masih saja menutup mulut. Pen hanya tidak ingin Ana mengingat sosok yang sudah membuatnya terpuruk. Dia selalu saja mengatakan kebohongan agar Ana bisa mempercayai semua perkataannya. Namun, Ana gadis yang sangat cerdas dan tidak bisa dikelabui begitu saja oleh Pen.
“Aku tidak percaya!” Ana kembali berteriak. Dia berdiri sambil berkacak pinggang. “Mana surat kematiannya?” imbuhnya sambil mengulurkan tangan tepat ke wajah Pen.
“Kami bercerai, lalu dia kecelakaan dan mati. Surat cerai sudah Ibu berikan kepadamu. Apa itu tidak cukup?” Pen menampis tangan Ana, kemudian beranjak dari duduknya. Dia berdiri tepat di hadapan Ana.
“Aku tidak percaya. Dasar pembohong.” Ana mendorong pundak kanan Pen dengan kasar.
“Kau!" Pen berusaha menahan amarah ketika Ana sangat kurang ajar.
Ana sebenarnya sangat pintar. Pen pun tahu itu. Saat melakukan tes IQ di sekolahnya, Ana mendapatkan hasil luar biasa. IQ Ana sangat tinggi dan tergolong jenius. Bahkan mengalahkan semua teman satu sekolahnya. Ana hanya ingin kebenaran. Hingga dia selalu melakukan hal buruk di sekolah. Sengaja membuat dirinya terlihat bodoh dan nakal. Untuk memancing Pen agar memberitahunya. Tapi, usahanya selalu gagal. Pen tetap memilih bungkam.
“Argh! Selalu saja berbohong. Ayolah, Pen.” Ana melemparkan tubuhnya kembali ke kursi sofa. “Paling tidak, inisialnya saja. Hei, aku sudah berumur 17 tahun, dan aku berhak mengetahuinya."
Pen mengurut pelipisnya. Dia kembali duduk, kemudian menundukkan kepala. “Apakah memiliki seorang ibu saja tidak cukup buatmu?"
Ana kembali berdiri dan menatap Pen yang seketika mendongakkan kepalanya. Kali ini dia menangis sambil menatap ibunya. “Tapi, kau tidak pernah merasakan menjadi diriku di sekolah. Kau tak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang merindukan sosok ayahnya. Kau tidak tahu!” bentak Ana sambil menangis.
Pen semakin kecewa dengan pernyataan Ana. Dia pun berdiri, kemudian mendekati anaknya. Jarak mereka sangat dekat. Mereka semakin saling membalas tatapan dengan tajam.
“Apa kau tahu rasanya menjadi seorang ibu? Bagaimana perasaan Ibu tahu anaknya selalu saja bikin ulah? Kau tidak akan pernah tahu. Karena kau hanya memikirkan dirimu sendiri!” balas Pen semakin membentak.
Ana semakin geram. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengentakkan pintu sangat keras. Pen semakin tak percaya Ana sangat menyebalkan. Dia pun masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, mereka sama-sama menangis. Rasa kesal membuat mereka tidak ingin keluar kamar. Hingga mereka menatap jendela kamar dan sangat terkejut ketika melihat bintang seakan jatuh dari langit. Keinginan masing-masing spontan terucap dalam batin terdalam.
“Andaikan Ibu bisa menjadi diriku dan tahu perasaanku,” ucap Ana dengan menangis.
“Andaikan anakku tahu bagaimana menderitanya diriku saat ini,” batin Pen sambil menghela napas panjang.
Tangisan keduanya pun reda saat tengah malam. Rasa kantuk semakin melanda mereka, membuat kedua mata yang ingin terbuka sudah terasa berat disangga. Mereka pun terlelap hingga pagi.
KRING!!
“Gawat!” teriak Pen ketika bunyi alarm di atas nakas memekakkan telinganya. “Aduh, aku bisa terlambat bekerja,” gerutunya sambil berjalan cepat dan masuk ke kamar mandi.
Sementara, Ana kebingungan saat tidak mendengar alarm yang biasanya dia nyalakan di kamar. Tanpa melihat sekitar, dia segera menuruni ranjang.
“Adew, aku terlambat bangun. Argh!” teriak Ana berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dia tak melihat sang ibu yang sudah berdiri di depan wastafel. Tentu saja membuat Pen marah. Apalagi odol yang dia gunakan muncrat akibat senggolan Ana.
“Kau--,” ucap Pen terhenti saat melihat Ana. “Apa ini? Kok aku melihat diriku?” lanjutnya sambil menunjuk dirinya sendiri di hadapannya.
“Loh, kok aku kembar?” Ana pun menunjuk dirinya sendiri tepat di hadapannya.
Spontan mereka menolehkan pandangan ke kaca di atas wastafel. Kedua mata mereka melotot tajam, tak percaya dengan penglihatan mereka. Hingga mereka, “argh!” sama-sama berteriak keras.
“Kenapa aku jadi Ibu?!” teriak Ana.
“Kenapa aku jadi Ana?!” teriak Pen.
ARGH!!
Ini tidak mungkin! Jiwa mereka tertukar? Mereka berdua masih bergeming kaku menatap cermin. Lalu, keduanya menoleh dan saling berpandangan. Masih saja diam, mengamati tubuh masing-masing.
“ARGH!”
Mereka kembali berteriak bersama-sama, sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi dan menuju kamar Pen. Dalam keadaan panik, mereka berjalan mondar-mandir sambil memegang kepala, dan menghentikan langkah bersamaan. Saling menatap dan menggelengkan kepala masih tak percaya.
“Ini tidak mungkin. Kenapa jiwa kita bertukar?” tanya Pen sembari menarik napas berusaha menenangkan dirinya.
“Ah, dadaku besar. Pen, kau ternyata seksi.” Ana tersenyum memegang kedua aset Pen yang menggunung sambil menatap cermin di atas kaca rias. Pen melotot, lalu berjalan mendekati anaknya.
“Hentikan itu,” ucapnya sembari menampis tangan Ana.
Pen memikirkan sebuah cara untuk mengatasi hal ini. Selang beberapa menit, dia menuju almari dan mengambil pakaiannya. Setelan kemeja putih dan rok kain selutut berwarna hitam yang sering dia gunakan saat bekerja. Pen bekerja sebagai kepala marketing di sebuah perusahaan yang menjual kue dengan merk terkenal. Tanpa berpikir lagi, setelan itu segera dia berikan kepada Ana. “Pakai! Waktu kita sedikit,” ucapnya tegas.
“Santai aja kali,” balas Ana yang tidak dihiraukan Pen. Dia membantu Ana untuk memakai setelan itu.
“Pen, kamu mau apa?!” teriak Ana saat sang ibu menariknya menuju kursi di depan kaca rias dan mendudukkannya.
“Kau akan bekerja. Ibu tidak mau gagal, gara-gara masalah konyol ini. Yang terpenting, sekarang apa pun identitas kita, akan kita jalani."
Dia mengambil alat make up dan mendandani Ana seperti yang dia lakukan setiap hari. Gadis itu tak percaya ibunya sangat cantik setelah memberikan sedikit polesan di wajahnya. Dia gengsi untuk mengakui. Hatinya masih sangat marah karena Pen tidak juga membuka mulut tentang ayah kandungnya.
“Sudah,” ucap Pen masih dengan gemetar. “Ana, sekarang kau akan menjadi Ibu di tempat kerja. Nanti Tante Mawar yang akan menuntunmu. Bilang saja kau jatuh dan terbentur, lalu sedikit amnesia." Tentu saja hal itu yang harus Pen lakukan. Dia segera mengambil ponselnya, dan memberi pesan kepada Mawar sahabatnya.
“Jadi ... Ibu akan bersekolah?” Ana berkata dengan mengernyit. “Ah ... gawat,” imbuhnya sambil menghela napas. Dia khawatir Pen akan tahu bagaimana pergaulannya di sekolah.
“Kenapa? Ah, kau sangat nakal di sekolah. Ibu pasti akan sangat malu.” Pen keluar kamar sambil menggerutu. Ana mengikuti sang ibu, sampai mereka masuk ke dalam kamarnya. Pen segera membuka almari dan memakai seragam sekolah milik Ana.
“Jangan merusak reputasi Ibu di kantor. Lakukan tugas Ibu dengan baik,” lanjut Pen masih gemetar sambil menyerahkan ponselnya kepada Ana. “Kita akan bertukar ponsel,” imbuhnya.
“Ah, ini menyebalkan.” Dengan berat hati Ana juga memberikan ponselnya kepada Pen. Namun, selang beberapa menit, Ana mengingat sesuatu yang sangat penting.
“Hmm, ini suatu keberuntunganku. Memang ini takdir. Aku akan menanyakan tentang Ayah kepada Tante Mawar,” batin Ana dengan tersenyum. Pen mengerutkan kedua alisnya saat memandang ekspresi sang anak.
“Jangan pernah berpikiran macam-macam,” ucap Pen pelan dengan telunjuk mengarah tepat di wajah Ana. “Ayo,” lanjutnya sambil menarik lengan Ana.
Pen berjalan dengan kebingungan saat keluar dari apartemen diikuti Ana yang sangat santai berjalan. Mereka tinggal di lantai tiga. Pen masih tak percaya dengan semua yang terjadi.
“Ah, ini sangat buruk,” gumamnya sembari menggeleng kemudian masuk ke dalam mobil dan segera memasang sabuk pengaman.
Pen segera melaju kencang, hingga sampai dalam sekejap di tujuan. Pen berhenti di sebuah cafe yang terletak di seberang kantornya. Dia bersama Mawar harus bertemu klien yang akan memesan kue tart seharga ratusan juta untuk pernikahan akbar. Pen sangat cemas. Kepala Manajer mempercayakan hal besar itu kepadanya. Jika gagal, semuanya akan mempengaruhi karier Pen untuk naik jabatan sebagai wakil kepala Manajer.
“Aku akan hancur jika gagal,” gumamnya lemas. Dia mengatur hati, sebelum akhirnya menatap Ana yang masih memandang sekitar. “Aku sangat mengandalkanmu, Ana. Kau diam saja, dan ikuti Tante Mawar. Apa kau mengerti?” lanjut Pen dengan pandangan tegas.
“Ya, aku mengerti. Bisakah aku turun?” Ana membuka pintu saat Pen menganggukkan kepala. Dia hanya ingin bertemu Mawar dan menanyakan tentang ayahnya.
“Ana!” teriak Pen menghentikan langkah anaknya. “Bantu ibumu.” Pen menatap sayu, lalu segera pergi dari sana saat tahu Mawar melotot melihatnya mengemudi.
“Pen, kok Ana mengemudi? Dia kan, belum punya sim,” ucap Mawar masih menunjuk mobil Pen sampai berlalu.
“Halo, Tante. Lama gak ketemu.”
Mawar semakin tidak mengerti. Sang sahabat memanggilnya Tante? Dia segera mendekati Ana yang masih berada di dalam tubuh Pen, kemudian menepuk jidatnya.
“Kamu gak panas. Tapi, apa memang amnesia?" ucapnya dengan kedua alis mengerut dalam.
Ana menelan ludah dengan susah payah. Dia lupa, jika dirinya adalah Pen!
“Maafkan aku. Ya, aku sangat lelah. Baiklah, kita masuk saja,” balas Ana dengan gugup. Dia segera masuk ke dalam cafe itu dengan terburu-buru. Namun, langkahnya terhenti. Ana kebingungan harus duduk di mana. Dengan meringis, dia menatap Mawar yang seketika mengernyitkan kedua alisnya. “Kita duduk di mana?”
“Jangan katakan, kau juga lupa di mana tempat duduk yang sudah kau pesan khusus.” Mawar menatap sambil bersedekap. Sementara, Ana meringis dan menganggukkan kepala.
Mawar menarik napas panjang, kemudian menggeleng, “sudah aku duga.” Mawar melangkah cepat menuju meja tepat di sebelah jendela. Dia duduk, masih mengawasi sahabatnya yang tiba-tiba berubah.
“Tante, eh ... maksud aku, Mawar. Aku langsung saja, ya. Karena, ini membuatku sangat penasaran. Siapa ayah anakku?”
Spontan Mawar semakin melotot. Mengangkat kedua tangannya sambil menganga saking terkejutnya. Dia sangat heran. Pen tidak akan pernah lupa dengan lelaki yang sudah dia tinggalkan itu. Tapi, kenapa sekarang seakan lupa?
“Kau ... sangat gila,” ucapnya kembali menggeleng. Mawar mencondongkan wajahnya tepat ke arah Ana yang masih menunggu dia mengatakan sebuah nama.
“Kenapa kau lupa dengan mantan suamimu yang berengsek itu? Padahal, setiap hari kau selalu memakinya,” lanjutnya kemudian berdiri sambil berkacak pinggang. “Raden Anggara Mangkunegara ... sangat ... berengsek. Aku akan menghabisinya. Ya, itu yang selalu kau katakan setiap hari. Dan ... sekarang kau lupa?” Mawar semakin menatap sang sahabat sambil mengangkat salah satu alisnya.
Bagai tersambar petir di siang bolong. Ana menatap kaku Mawar saat mendengar nama sosok yang ternyata ayahnya. Sebuah nama yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, walau dalam mimpi.
“Jadi ...,” balas Ana dengan napas yang tiba-tiba sesak. Dia tak percaya dengan kenyataan yang dia dengar barusan. Jantungnya berdetak lebih hebat dari sebelumnya.
“Aku, adalah ... anak kandung lelaki miliyuner yang memiliki kekayaan tanpa batas itu? Yang sering aku lihat di televisi, pewaris utama keturunan bangsawan keraton?” tanya Ana memastikan, seraya menatap Mawar yang bergeming kaku mendengar pertanyaannya.
“Jadi ... aku anak dari lelaki yang memiliki puluhan perusahaan terbesar di negara ini?” lanjut Ana spontan berdiri. Dia masih tidak bisa bergerak, hingga selang beberapa detik, “argh!” teriaknya keras menggelegar, mengejutkan semua pelanggan!
“Aku pewaris utama?!”
“Kau sudah gila, Pen!”
Mawar panik! Dia meringis ke semua pelanggan yang menatapnya kesal. Dia bergegas mendekati Ana dan mendudukkannya sebelum manajer cafe mendekat. Namun, wajahnya semakin gugup ketika ada yang datang dan mengamatinya dengan tajam. Lelaki memakai jas dengan rambut klimis dan berkaca mata.
“Pak Joko, silakan.” Mawar menjawab dengan menelan ludah. Pandangan tajam itu masih menyorot ke arahnya.
“Pagi-pagi sudah bikin ribut saja. Memalukan,” balas lelaki itu sambil membetulkan kaca matanya yang sedikit turun ke bawah. Dia adalah asisten Anggara yang selalu mengurusi semua keperluan Raden miliyuner itu.
“Pen, kamu gak marah kan? Hehe. Sebenarnya ... ini pernikahan Anggara. Aku sudah mau ngomong kemarin. Cuman ... lebih baik kamu lihat sendiri.” Mawar berbicara sangat pelan dengan perasaan cemas.
Sehari sebelumnya, Kepala Manajer menemui Mawar dan mengatakan semuanya. Awalnya Mawar sangat terkejut. Apalagi, dia tahu masa lalu Pen dengan Anggara. Tapi, dia memutuskan untuk tidak mengatakan kepada Pen. Pasti akan ada perang dunia jika Pen mengetahuinya. Namun, sekarang Mawar harus mengatakan semuanya. Dirinya sangat gugup. Dia masih meringis menatap Pen yang sebenarnya adalah Ana. Namun, Mawar sangat heran. Kenapa sang sahabat hanya diam sambil membalas tatapan Joko yang sangat tajam?
“Kok ... gak marah?” ucap Mawar pelan sembari melebarkan kedua matanya.
“Hmm, sejak kapan pelakor itu mendekati ayahku? Aku harus bersikap anggun, dan jual mahal. Tidak aku sangka, ayahku akan menikah lagi. Tidak akan aku biarkan!” batin Ana berteriak. Dia masih saja memasang wajah angker. Hingga selang beberapa menit, tawa keras keluar dari mulutnya.
“Hahaha. Sangat luar biasa. Bagaimana kalau Raden Anggara menemuiku dan memilih kue itu sendiri? Aku kan sudah lama bercerai. Dia pasti akan senang melakukannya. Lagipula, hanya sebatas pertemuan kerjaan.”
Mawar semakin terkejut mendengar perkataan itu. Biasanya, sosok Pen adalah wanita tegas dan tanpa basa-basi. Anggara adalah lelaki yang sangat dibenci Pen. Lelaki yang sudah menyakiti Pen. Lelaki yang tidak akan pernah mendapatkan maaf dari Pen. Namun, Mawar sedikit lega Pen bisa menerima pekerjaan penting ini. Mangkunegara adalah keluarga sangat berpengaruh. Jika berhasil melayani keluarga keturunan bangsawan keraton itu, akan meningkatkan penjualan toko dan itu adalah keberhasilan bagi kariernya dan Pen.
“Hmm, berpikiran jadi pelakor ya? Ti-dak ... akan bisa!” balas Joko tegas. “Bukankah dulu sudah jelas situ yang ninggalin Raden? Sampai Raden sedih, gak tidur tujuh hari tujuh malam. Aku yang ngurusi, nyuapi, sampai mataku kaya mas koki. Bulet besar. Enak saja minta ketemu.”
BRAK!
Joko menggebrak meja. Dia berdiri dan melotot tajam. Ana juga melakukan hal yang sama. Kedua mata mereka saling menusuk. Memasang genderang perang!
“Dasar kelimis tak tahu diri,” batin Ana masih saja menyorot tajam.
“Ah ... maafkan saya, Pak Joko tampan seluas samudera. Maksud aku ... jidatnya luas.” Ana meringis, berusaha membuat hati Joko mereda. Lelaki itu spontan memegang jidatnya yang nonong itu.
“Iya, aku salah.” Kini Ana melakukan hal yang sudah menjadi keahliannya. Akting menangis. Dia mendekati Joko, dan memeluknya.
“Pen?” ucap Mawar pelan sambil melebarkan kedua matanya karena semakin terkejut. Padahal, Pen selama ini selalu kesal dengan asisten Raden yang latah itu.
“Aku ... aku bersalah. Aku hanya mau meminta maaf, dan akan bersujud kepada Raden untuk mendapat maaf itu. Sumpah, hanya itu maksudku.” Ana memperlihatkan kedua matanya yang sudah dipenuhi air mata. Mengikuti wajah Joko yang terus mengalihkan pandangan. Lelaki itu paling tidak bisa melihat wanita menangis.
“Jawab buruan!” teriak Ana dengan mendadak.
“Burung perkutut burungnya tetangga, kalau kentut gak bilang-bilang!” balas Joko latah ketika mendengar teriakan itu. Joko spontan menutup mulut sambil mengawasi pelanggan yang sangat kesal dengan keributan yang mengganggu kenyamanan mereka. Sementara, Mawar hanya bisa memandang kaku dengan semua keadaan membingungkan di hadapannya.
“Di sana gunung, di sini gunung. Ciptaan Tuhan deh,” balas Ana meringis.
“Pen?” Mawar semakin frustasi melihat perubahan Pen. Dia semakin menganga ketika Joko malah menunduk saat melihat sahabatnya malah mendekat.
“Hmm, ternyata latah. Tapi, aku anggap setuju. Baiklah, kita akan bertemu Raden Anggara sekarang,” ucap Ana mendadak menarik lengan Joko.
“Loh! Aku mau dibawa ke mana?” teriak Joko sambil berjalan mengikuti langkah Ana. Kedua pengawal bertubuh garang yang selalu mendampingi Joko pun juga mengikuti Ana.
Selama ini Joko dan beberapa pengawalnya memegang janji yang sudah dikatakan Anggara. Mereka tidak boleh menyentuh atau pun melakukan hal buruk kepada Pen.
Mawar semakin melotot sambil menunjuk ke arah Ana yang sudah menarik Joko untuk keluar dari cafe itu. Dia sangat kebingungan dan memutuskan untuk mengikuti Ana setelah meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja. Melewati pelayan yang kebingungan saat membawa pesanan makanan yang sebelumnya sudah dipesan.
“Pen, kamu itu memang sudah gila. Padahal biasanya kau selalu anggun dan dingin. Kenapa sekarang kaya anak kecil sih? Aku akan mendapat masalah,” gumam Mawar terus berjalan cepat. Dia segera masuk ke dalam mobil. Pikirannya kacau balau. Dia tak percaya sang sahabat benar-benar menuju kantor Anggara bersama mobil Joko. "Kau gila, Pen!" lanjutnya berteriak.
Di dalam mobil, Ana tersenyum kagum. Dia mengamati mobil mewah yang kini ditumpanginya. Sementara, Joko semakin menatapnya dengan mengernyit. Biasanya Pen selalu saja memaki Joko, hingga membuat lelaki itu kabur dan takut. Dendam Pen kepada sang raden, membuat dia juga membenci Joko.
"Kok berubah jadi kalem?" batin Joko juga tidak mengerti.
Tidak sampai di sini saja. Ana semakin terkejut saat mobil berhenti di depan gedung sangat mewah yang biasanya hanya bisa dia lihat ketika melintas di jalan. Kini dia tak menyangka bisa menuju ke sana. Wajahnya semakin semringah ketika masuk ke dalam. Senyuman semakin terpampang jelas di wajahnya saat melihat kemegahan setiap sudut ruangan gedung itu. Hingga kedua matanya melotot, ketika melihat sosok sangat gagah berbalut jas hitam mahal, berdiri di hadapannya dan menatap tegang.
“Ayah ...,” ucapnya menangis. Tanpa sadar, Ana mendekati Anggara dan memeluknya.
“Pen?” ucap Anggara tak percaya. Selama ini Pen selalu emosi saat bertemu dengannya. Tamparan dari telapak tangan Pen tak pernah luput membekas di pipinya. Tapi, kenapa Pen sekarang malah memeluknya? Tubuh Anggara semakin kaku menerima pelukan itu.
Para awak media yang sebenarnya akan meliput pembukaan perusahaan baru milik Anggara, malah mengambil gambar mereka. Berita romantis yang terjadi sangat mendadak itu, seketika viral dan mengejutkan semua pihak.
“Kurang ajar! Kenapa dia kembali?” Tunangan Anggara tak percaya melihat drama di hadapannya.
**
Penelope yang sudah berada di sekolah Ana masih saja menata hati agar bisa membaur di sana. Hingga dia menatap teman Ana yang sangat dia benci. Pemuda gendut berambut keriting yang selalu bersama Ana. Pen terpaksa mendekatinya. Dia sadar Ana tidak memiliki teman lain selain pemuda itu.
“Lihat apa?” tanya Pen lalu menatap layar ponsel pemuda itu.
“Apa? Ana!” teriaknya keras saat dia melihat video dirinya berpelukan dengan Anggara.