Anak berusia enam tahun itu terus menatap anak laki-laki berkaca mata yang terlibat fokus dengan buku di tangannya tanpa melihat sekitar.
Sudah satu minggu Anindya ada di sini bermain dengan banyak anak, tapi hanya anak laki-laki itu yang tidak tertarik bermain bersamanya. Hal itu membuat anak itu bertanya-tanya, sebenarnya apa ada yang salah dengan dirinya?
“Jangan melihatnya seperti itu, nanti dia bisa marah,” kata seseorang membuat Anindya tersentak, lalu melihat si pelaku.
Gadis kecil itu menaikkan satu alisnya heran. “Kenapa dia harus marah?” sahutnya heran, lalu kembali menatap anak laki-laki yang masih fokus pada bukunya. “Aku cuma lihat kok.”
Erin, teman baru Anindya di panti berdecak tidak suka. “Aku juga tidak tahu, tapi intinya dia orang yang pemarah.”
“Tapi aku ngga punya salah,” Anindya masih merasa dirinya tidak salah, lalu ia mengalihkan pandangan pada anak berusia sepuluh tahun dengan polos. “Dan–“
“Bagaimana kalau kita main boneka lagi?” Ajak Erin mengalihkan pembicaraan dari anak laki-laki bernama Yezra.
Anak perempuan dengan rambut yang di ikat dua itu mengangguk dengan cepat. “Ayok, tapi tadi kata kakak bosan katanya main boneka terus.”
“Itu kan tadi.” Erin sedikit menyeret Anindya menjauh dari teras dan meninggalkan anak laki-laki yang duduk di bawah pohon sedang menatap mereka.
Seperti yang di janjikan, kedua anak itu bermain boneka di ruang yang berfungsi sebagai tempat meletakkan semua mainan yang di berikan orang baik.
Semua mainan di dalam ruangan ini tidak boleh di mainkan di luar rumah karna akan di curi sebab mereka lupa membawa masuk ke dalam rumah.
“Ngga tahu Dok, tapi anak Yaya tadi pagi bicara sakit panas.”
“Oh, jadi anaknya demam Bu?” Erin pura-pura menulis di atas kertas kosong, lalu mendekat pada boneka yang ada di dekat Anindya.
Anak itu menyentuh kening boneka, lalu tersentak kaget. “Ini panas sekali, Bu.”
“Apakah parah Dok? Apa dia harus di operasi?” Celetuk Anindya dengan polos, membuat Erin tertawa begitu juga dengan si pelaku.
“Sangat parah, tapi ngga sampai di operasi kok,” ucap Erin setelah lelah tertawa. “Aku akan menulis obatnya dan Ibu hanya perlu menebusnya di apotek.”
“Apotek itu apa?” tanya Anindya polos.
“Oh, apotek itu ...” Erin terdiam, anak berusia sepuluh tahun itu bingung mencari cara menjelaskan pada anak enam tahun di depannya. “Ah, apotek itu tempat orang mengambil obat.”
Anindya mengangguk mengerti, namun masih ada yang menjadi tanda tanya untuknya. “Memang apo ... tek, itu ada di rumah sakit? Kalau ngga salah ... Ayah pernah cerita ke Bunda katanya mencari obat untuk Mas Andra jauh.”
“Ada, aku pernah pergi ke apotek!”
“Benar?” Tanya Anindya tidak yakin mendapatkan jawaban berupa anggukan kepala dari Erin. “Berarti selama ini Ayah bohong sama Bunda dong!”
“Belum ...” Erin tidak melanjutkan kata-katanya melihat Anindya sudah berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan bermain.
Sementara itu Anindya sudah keluar dari gerbang panti berjalan menuju rumahnya yang berada di seberang jalan.
Anindya merasa sangat marah karna ayahnya lagi-lagi berbohong pada Bundanya. Pikiran kecilnya terus saja bekerja dengan melangkah mendekati pintu rumah yang terbuka.
“Ayah!” Anindya berteriak ketika baru saja masuk ke dalam rumah. Kaki kecilnya terus berjalan ke kamar pria yang di panggilnya ayah dan mengetuk pintunya dengan brutal.
“Ada apa–“
“Ayah bohongi Bunda lagi ya?” Tanya Anindya tidak membiarkan Adam untuk menyelesaikan perkataannya.
“Bohong?”
“Hm, kata Kak Erin di rumah sakit ada apo ... tek, tapi kata Ayah dulu kalau mencari obatnya jauh,” Anindya menatap ayahnya curiga. “Jujur aja, Yah. Bunda tidak marah, tapi akan memaafkan Ayah.”
Adam terdiam cukup lama mendengar perkataan agak aneh dari putri bungsunya. Ia tidak pernah bercerita tentang masalah rumah tangganya pada siapa pun hingga terdengar oleh anaknya.
Masalahnya yang terusir dari rumah juga hanya di ketahui oleh dirinya dan sang istri. Sebenarnya masalah di rumah tangganya terjadi hanya karna salah paham, sebab Adam tak pernah selingkuh.
Tapi yang namanya wanita, tak akan mengalah. Bahkan istrinya mengancam akan meninggalkan rumah.
Sebagai seorang pria dan ayah, Adam tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Lebih baik ia yang pergi dari pada istri dan anak-anaknya.
“Ih, kok ayah diam aja sih!” Anindya menatap ayahnya kesal. “Aku udah dengar semuanya. Saat Ayah sama Bunda bertengkar, aku juga ada di dapur.”
“Jadi kamu dengar semuanya?” Adam mengulang perkataan putrinya, lalu ayah dari tiga orang anak itu berjongkok menyamakan tinggi dengan sang putri. “Tapi kenapa kamu–“
“Iya, semuanya! Bahkan aku juga dengar Bunda mendapatkan telepon dari seseorang sebelum memanggil Ayah,” kata anak itu polos.
“Apa kata orangnya?” Adam menahan senyum, pria itu mendapatkan titik terang akan masalah rumah tangganya.
“Rahasia,” Anindya melipat kedua tangan di dada dengan terus menatap sang ayah. “Tapi ayah juga harus janji kalau tidak menyakiti Bunda lagi. Ayah sih ngga tahu kalau setelah bertengkar, Bunda nangis. Aku jadi kasihan kan.”
Adam sangat menyadari kalau menghadapi anak perempuannya yang ini sangat sulit dari pada saudaranya. Jika anaknya yang lain dengan mudah di bujuk dengan makanan atau uang maka anak yang ini tidak.
Anindya juga keras kepala atau mungkin keras hati jika sudah menginginkan sesuatu. Sangat mirip istrinya.
“Kalau kasihan dengan Bunda, kenapa malah ikut Ayah?” tanya Adam setelah bosan mendengar omelan dari putrinya cukup lama.
“Karna Ayah jauh lebih kasihan lagi.”
Adam mengerutkan kening, ia semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran anaknya. Pria itu juga tidak buka suara dan menunggu Anindya melanjutkan perkataannya.
“Bunda di temani oleh Mbak Dira dan Mas Andra, sementara Ayah? Tidak ada. Jadi, dari pada Ayah nantinya sedih, lebih baik aku pura-pura menangis ingin ikut.”
Pria itu berdiri dari jongkoknya dan menatap putrinya lelah. “Ya sudah, terserah kamu saja, Ya.”
***
“Baca buku aja terus, apa ngga bosan?” Tanya Anindya begitu lewat di depan seorang anak lelaki yang wajahnya tertutup buku.
Anindya sengaja berjalan pelan dengan tatapan tidak putus dari anak lelaki itu hingga akhirnya berhenti melangkah sebab semakin menjauh.
Anindya mendekati anak lelaki itu dan berhenti tidak jauh darinya. “Yaya lagi ngomong sama manusia lho, bukan–“
“Pergi dan jangan mengganggu!”
“Eh, bisa ngomong ternyata,” Anindya tidak menyerah dengan memberanikan diri untuk semakin dekat anak lelaki itu. “Siapa sih namanya? Namaku Yaya.”
Tidak ada jawab dan hal itu tidak membuat Anindya menyerah. Ia bahkan dengan berani duduk di samping anak lelaki itu, lalu kembali menatapnya.
“Diam lagi,” kemudian ia menghela nafas kasar. “Oke, Yaya juga bisa diam.”
Namun yang namanya Anindya Kalya Putri tidak akan bisa diam, mungkin bisa untuk tidak bicara, tapi tangan anak itu sudah bergerak-gerak menyentuh buku anak lelaki itu.
“Aku bilang pergi dari sini!” Bentak anak itu sambil menepis tangan Anindya dari bukunya. “Dan jangan pernah dekati aku lagi.”
“Puss ... puss ...” Anindya memanggil kucing dengan berjalan dengan pelan. “Jangan lari, Yaya ngga jahat kok.”
Anindya melangkah pelan dengan terus memanggil kucing kampung berwarna abu-abu itu. Ketika jarak semakin dekat, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya hingga membuat hewan cantik dan menggemaskan itu pergi.
“Yah, kucingnya ...” Lalu Anindya menghela nafas kasar dan berbalik untuk menatap anak-anak nakal yang membuat si abu pergi. “Ini semua karna kalian!”
“Main yuk!” Seperti tidak mengerti situasi salah satu dari ke empat anak itu melanjutkan perkataannya yang semakin membuat Anindya kesal.
“Ngga mau!”
“Lho kok gitu? Biasanya–“
“Kalian semua buat aku kesal!” Gadis kecil itu kembali menatap kepergian si abu dengan sedih, padahal sudah dari beberapa hari yang lalu Anindya ingin menangkapnya, tapi selalu gagal karna kucing itu lari ketika di dekati.
Baru tadi si abu tidak lari saat ia mencoba mendekat, tapi sialnya malah pergi lagi karna kaget mendengar suara dari mantan temannya.
“Kok gitu? Memang salah kami apa?”
Anindya kembali menatap salah satu dari anak lelaki itu dengan tak percaya. “Masih bertanya lagi! Apa kalian tidak lihat kalau tadi aku lagi berusaha mengambil kucing?”
“Oh, jadi cuma karna kucing?” Salah satu anak lelaki yang berusia jauh lebih tua dari Anindya menatap teman-temannya sambil menahan tawa. “Astaga, asal kamu tahu kalau–“
“Pergi dari sini, Yaya ngga mau bermain dengan kalian lagi!” Setelah mengatakan Itu Anindya kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal.
Gadis kecil itu mengintip beberapa anak lelaki dari kaca, kemudian ia mengembangkan senyum ketika melihat mereka meninggalkan rumahnya.
“Huss! Pergi saja dari rumah Yaya,” Anindya lalu berbalik dan berteriak kaget mendapati ayahnya berdiri di belakangnya.
“Kamu kenapa sih Yaya?”
“Ih, Ayah buat aku kaget aja!” Gadis kecil itu memberikan senyum polosnya pada sang ayah yang menaikkan satu alis.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum?” Adam sangat tahu keinginan sang anak, tapi ia pura-pura tidak tahu karna tidak ingin putrinya membuat masalah lagi.
“Ayah ... Yaya boleh main bersama anak-anak itu lagi ya?” Anindya menangkup kedua tangan sembari membuat gaya memohon. “Yaya janji ngga buat masalah lagi.”
“Kamu main di rumah saja!” Putus Adam, lalu berbalik dan berjalan menuju ruang tengah lagi.
Anindya tentu saja tidak berhenti sampai di situ, ia mengikuti ke mana pun Adam pergi. Bahkan Gadis itu juga sengaja berdiri sambil bersandar di dinding.
Ayah dari Anindya melihat putrinya sudah cukup lama berdiri di sana sebenarnya tidak tega, tapi ia harus melakukan hal itu mengingat apa yang di lakukan putrinya pada anak panti kemarin.
Adam berusaha keras untuk tidak menoleh dan terus menatap layar televisi. Ia juga tahu kalau putrinya sedang menangis dalam diam, tapi pria itu tidak akan tertipu lagi.
“Ayah jahat, padahal aku cuma mau main tapi tetap saja tidak boleh,” ucap Anindya di sela tangis sandiwaranya. “Di rumah, ngga ada taman. Eh, tadi ada tapi mereka jahat.”
Anindya terus bicara dengan menundukkan kepala, ia juga pura-pura terisak agar semakin memperkuat sandiwaranya.
Di dalam hati, gadis kecil itu yakin kalau sang ayah tidak akan tega melihatnya menangis dan sebentar lagi akan luluh.
“Oke-oke!”
Anindya masih menunduk menahan senyumnya, ia belum mendongak untuk menatap sang ayah.
“Kamu boleh pergi.”
Tanpa menoleh, gadis kecil itu langsung berlari keluar dari rumah. Anindya terseyum bahagia ketika sampai di seberang jalan di mana tempat panti berada.
Rumahnya ada di dalam gang yang jarang di lalui oleh kendaraan besar, sesekali ada motor yang lewat tapi dengan kecepatan rendah mengingat banyaknya anak kecil di sini.
“Ayah mudah sekali di tipunya,” ucap Anindya sambil cekikilan, lalu mengalihkan pandangan ke rumahnya.
Kemudian, anak kecil itu kembali melangkah memasuki gerbang, lalu mengedarkan pandangan dan melihat anak lelaki yang membuatnya terkenal masalah.
“Aku harus balas dendam!” Yaya lalu mendekati anak lelaki itu dan berdiri tak jauh darinya. “Gara-gara kamu, aku di marahi semua orang!”
Anak lelaki itu menurunkan buku dari wajahnya yang membuat Anindya kaget, tapi berusaha agar terlihat kesal dengannya.
“Kamu puas kan, melihat Yaya tidak di sukai semua orang?”
“Maaf,” ucapnya yang membuat Anindya sedikit kaget, namun gadis kecil itu diam hingga anak lelaki itu buka suara lagi. “Aku tidak bermaksud melakukannya.”
“Tapi karna itu Yaya jadi ngga punya teman dan ... di jauhi semua orang,” dengan santainya Anindya duduk di samping anak lelaki itu, lalu menghela nafas kasar. “Yaya sebenarnya juga baru saja di marahi oleh Ayah.”
“Kenapa?”
Anindya mengalihkan pandangan dan tatapannya bertemu dengan lelaki yang beberapa tahun lebih tua darinya. “Ya karna kejadian kemarin!”
Lalu tak ada yang bicara lagi, baik gadis kecil atau anak lelaki itu hanya menatap anak-anak lain yang sedang bermain di halaman rumah tak jauh dari mereka.
Sebenarnya Anindya ingin bicara, tapi urung di lakukannya karna masih kesal dengan anak lelaki di sampingnya.
“Nama kamu siapa?” tanya anak lelaki itu lebih dulu sambil mengalihkan pandangan pada Anindya.
“Yaya, kamu sendiri siapa namanya?”
“Hanya Yaya?”
Anindya mengangguk. “Iya, kamu sendiri?”
“Yezra.”
“Yera?”
“Bukan tapi Yezra.”
“Eja?”
“Bukan-bukan!” Yezra menahan kesabarannya. “Tapi Y-E-Z-R-A.”
“Oh, Yeja.”
Yezra mendengus. “Terserah kamu saja “
“Memang yang aku katakan tadi salah?” tanya anak itu polos, membuat Yezra menghela nafas lelah.
“Ngga salah,” ucapnya malas. “Oh ya, umur kamu berapa?”
“Umur? Hm... berapa ya?” Anindya berpikir dengan gaya lucu, membuat siapa pun bahkan Yezra sendiri gemas. “Enam tahun.”
Yezra menahan tawa karna ucapan serta tangan gadis kecil itu berbeda. “Kalau ini namanya sepuluh.”
“Eh?” Anindya melihat tangannya sendiri, lalu meringis. “Ah, kamu benar.”
Yezra menaikkan satu alisnya. “Benar? Memang kamu tahu ang–“
“Sudah dong, aku bahkan bisa berhitung sampai sepuluh.” Gadis itu mengatakannya dengan sombong membuat Yezra yang tadinya ingin marah mengurungnya.
“Tapi tadi kenapa bisa salah?”
“Oh itu karna ... aku tidak mmelihatnya” Anindya memberikan senyuman polosnya, hingga membuat gingsulnya terlihat. “Kamu sendiri umurnya berapa?”
“Lebih tua darimu, dua belas tahun,” Yezra tersenyum tipis pada gadis kecil ternyata tidak seburuk seperti yang di bayangkan olehnya.
“Oh, berarti Yaya harus panggil Mas sama Yeja ya? Seperti yang di katakan Bunda.”
Yezra mengangguk sambil menahan senyum, kemudian mengalihkan pandangannya. Anak lelaki itu sama sekali tidak ingin bermain dengan anak kecil, tapi sepertinya untuk gadis kecil di samping adalah pengecualiannya.
“Oke, mulai sekarang aku akan panggil Mas Yeja.” Anindya tertawa setelahnya yang membuat Yezra gemas, lalu mengacak rambut gadis kecil itu.
“Kamu lucu.”
“Mas Yeja orang ke empat yang bilang Yaya itu lucu," ungkapnya percaya diri dengan lagi-lagi memberikan senyum lebar pada Yezra.
“Ck, ikat rambutnya kok tingginya ngga sama?” Anindya menyentuh kedua rambutnya dengan pandangan lurus pada kaca lemari di dalam kamar. “Ayah, bagaimana sih? Bunda aja bisa sama tinggi ikatannya, kok Ayah tidak?”
“Kalau gitu sana kamu minta tolong ke Bunda!”
“Ih, bagaimana bisa ayah? Bunda kan ngga tinggal di rumah ini.”
Adam hanya bisa menghela nafas kasar mendengar balasan dari putri kecilnya. Sampai saat ini, baik ia atau mungkin istrinya tidak habis pikir kenapa memiliki anak yang cerewet, nakal, banyak pilih tapi pintar seperti Anindya.
Baik ia atau sang istri, rasanya tidak memiliki sifat seperti anak yang masih menatap dirinya di depan kaca dengan terus mengomeli ikatan rambutnya.
“Ayah, kok diam aja sih!”
“Lalu Ayah harus bagaimana Anindya Kalya Putri Ayah yang paling bawel?” Tanya Adam sedikit kesal. Sampai saat ini, ia berpikir sulitnya sang istri merawat ke tiga anak mereka apa lagi anak di depannya ini.
“Yaya cantik bukan bawel, Ayah,” balasnya tak terima. “Yaya juga man–“
“Iya, lalu Ayah harus bagaimana?” Adam mengalihkan pandangan pada jam dinding dan menghela nafas kasar. “Ayah lagi banyak pekerjaan, tapi malah Yaya minta untuk–“
“Eh, ngga! Kayak gini saja.” Lalu Anindya berputar membelakangi kaca, ia menatap ayahnya dengan penuh semangat. “Ayah, Yaya boleh main sama Mas Yeja lagi kam? Dia baik lho, Yah. Mau ajari aku belajar.”
“Iya, boleh.” Adam merapikan sedikit pakaian putri kesayangannya, lalu berjongkok mensejajarkan tinggi dengan sang anak. “Tapi Yaya harus hati-hati ya, dia hanya boleh menyentuh rambut Yaya saja. Apa Yaya mengerti?”
Anindya mengangguk. “Oke, Yaya akan selalu ingat kata-kata Ayah. Eh, Ibu juga pernah bicara kayak gitu, tapi–“
“Katanya mau main sama Mas Yeja.” Adam sengaja memotong perkataan putrinya yang akan terus bicara kalau saja tidak di hentikan.
“Ayah, benar,” ucap Anindya lalu mencium pipi sang ayah. “Aku pergi main dulu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Adam, Anindya langsung keluar dari kamar. Sedikit berlari agar lebih cepat bertemu dengan Yezra yang sudah menunggu di bawa pohon sepeti biasanya.
“Mas Yeja! Aku mau belajar lagi!” Teriak Anindya tanpa memedulikan tatapan yang di berikan anak yang ada di halaman.
Karna melihat Yezra gadis kecil itu tidak melihat jalan hingga membuatnya terjatuh dengan posisi yang menyedihkan yaitu tersungkur di tanah.
Anak-anak bermain di halaman menertawakannya berbeda dengan Yezra yang berjalan mendekat dan membantu Anindya berdiri.
“Makanya kalau jalan itu lihat ke depan bukan aku, jadinya jatuh kan,” omel Yezra setelah membantu Anindya berdiri dan membersihkan punggung gadis itu dari tanah.
“Yaya lihat depan kok, buktinya bisa lihat Mas Yeja.”
“Maksudnya ... ya kamu benar.” Yezra mengurungkan niat untuk memberikan penjelasan, lalu ia menghentikan membersihkan pakaian gadis kecil itu. “Apa ada yang sakit?”
“Ngga ada, kalau ada Yaya pasti menangis,” ungkap Anindya kembali ceria seperti biasanya sambil mengedarkan pandangan pada anak-anak yang menontonnya. “Apa yang kalian lihat? Bukannya bantu Yaya, malah di ketawa! Apa ka–“
“Ayo, kita ke bawah pohon lagi.” Tanpa menunggu jawaban gadis kecil itu, Yezra langsung menarik tangannya.
“Kenapa tarik-tarik sih Mas Yeja? Yaya bisa jalan sendiri kok,” protesnya sambil berjalan mengikuti Yezra yang terus menarik tangannya. “Yaya juga mau memberikan mereka hukuman karna sudah–“
“Katanya mau belajar, jadi harus menurut!” Kata Yezra begitu tiba di bawah pohon. “Aku Guru kamu di sini mengeti?”
“Kok gitu? Mas Yeja itu teman Yaya bukan Guru!”
Yezra menghela nafas kasar, lalu mendaratkan bokongnya di tanah. Ia terbiasa duduk di bawah pohon ini sambil belajar karna tempatnya tenang.
Sekarang untuk pertama kali, ia memperbolehkan orang lain menemaninya serta mengajarinya belajar.
“Kenapa ngga di jawab?”
“Iya, terserah kamu saja,” sahut Yezra akhirnya. “Sekarang ayo duduk di sini atau aku berubah pikiran?”
“Jangan, aku mau belajar biar pintar kayak Mas Yeja!”
***
Sudah beberapa hari Anindya berteman dengan Yezra dan selama itu juga anak lelaki berusia dua belas tahun itu mengajarkan Anindya membaca serta menulis.
Meski hanya bisa beberapa di kata yang di ingat dan dikuasai oleh Anindya, tapi Yezra sangat senang. Setidaknya ada hasil dari kerja kerasnya.
Saat ini seperti biasanya, Yezra akan mengerjakan tugas di bawah pohon tak jauh dari panti. Anak lelaki itu sangat suka belajar apa lagi mengerjakan tugas yang sulit.
“Kok Yaya belum datang ya?” tanya Yezra sambil menatap gerbang panti. “Apa dia ngga datang? Ah, tapi itu ngga mungkin.”
Yezra kembali membaca soal yang di berikan guru, lalu mencari jawabannya di buku cetak. Anak lelaki itu membaca satu-persatu kata yang tertulis di buku cetak hingga tidak sadar seseorang melangkah pelan mendekatinya.
“Dorr!” Setelah berhasil membuat anak itu kaget, si pelaku tertawa kacang melihat wajah Yezra.
Anindya sangat sulit menghentikan tawa sampai-sampai harus menutup mulutnya. Yezra terus menatap gadis kecil itu dengan malas, lalu membuang wajah.
“Tidak ada yang lucu.”
“Ada, wajah–“
“Kenapa lama sekali datangnya?” Yezra mengalihkan pembicaraan membuat tawa Anindya berhenti.
Anak berusia enam tahun itu mengalihkan pandangan, lalu melipat kedua tangan di dada layaknya orang dewasa. “Mas Andra tadi datang sama Bunda.”
“Mas Andra?” Yezra terdiam karna merasa pernah mendengar nama itu. “Oh, bukannya itu saudara kembarmu?”
“Iya, mereka ingin aku pulang tapi ... ayah tidak boleh ikut.”
”Kok gitu?”
Anindya kembali menatap Yezra, lalu menggelengkan kepala. “Ngga tahu.”
Yezra tidak bertanya lagi, ia sadar kalau Anindya masih kecil jadi belum bisa memahami semua masalah.
Anak laki-laki itu membuka buku yang sengaja di persiapkan olehnya untuk Anindya. “Ayo, kita mulai belajar.”
“Ngga mau, Yaya masih mau cerita Mas Yeja.” Anindya mengulurkan tangan dan menutup buku yang di buka Yezra.
Si pemilik buku hanya bisa menghela nafas kasar dengan terus menatap Anindya. “Oke, akan aku dengar.”
Anindya melebarkan senyum karna Yezra setuju tidak belajar yang sebenarnya membuatnya bosan.
“Jadi mau cerita apa Yaya?”
“Gini lho Mas Yezra, Yaya kesal sama Bunda yang banyak-banyak tanya tentang Ayah. Padahal sebelum masuk ke kamar, Bunda udah ketemu Ayah, tapi tanyanya ke Yaya.”
“Katanya Ayah dan Bundanya Yaya lagi berantem, jadi wajar Bundanya tanya ke Yaya.”
Anindya menatap Yezra kesal karna sudah membela Bundanya yang menurutnya salah. “Kalau gitu terus kapan mereka baikkannya dong? Ah, Yaya jadi pusing dengan masalah orang dewasa.”
Yezra terseyum kecil, lalu mengacak rambut gadis itu pelan. “Makanya jangan di pikirkan.”
“Ih, jangan di rusak rambut Yaya! Ini di ikat oleh Bunda!” Ucap Anindya setelah menyingkirkan tangan Yezra dari kepalanya.
“Iya-iya maaf, tapi apa yang aku katakan tadi itu benar. Yaya jangan terlalu ikut campur dengan masalah orang dewasa, biar mereka saja yang menyelesaikan masalahnya sendiri.” Kata Yezra hanya di jawab berupa anggukan kepala dari Anindya yang belum tentu di turutinya.