Bab 2

"Maaf, Pak! Saya sedang dalam keadaan darurat. Anak saya sakit keras dan kejang-kejang. Mau dibawa ke rumah sakit tapi saya tidak pegang uang. Apa Pak Darma bisa meminjamkan uang pada saya?" Seorang pria seumuran Darma bicara terburu-buru dengan napas yang tidak teratur. Raut wajahnya tegang dan dipenuhi keringat.

"Sebentar, Pak!" Darma merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet. Mengambil beberapa lembar uang kertas merah lalu memberikannya pada pria itu.

"Terima kasih banyak, Pak. Anda memang selalu baik seperti biasanya. Saya pasti akan mengganti ini saat gajian." Membungkuk hormat beberapa kali.

Darma mengangguk sambil tersenyum. "Iya, saya percaya jika Bapak akan menggantinya. Sekarang lebih baik Bapak cepat pulang dan bawa Budi ke rumah sakit!"

"Baik, Pak. Terima kasih banyak!" Pria itu pun pergi dengan raut wajah haru.

Darma menutup pintu dan menguncinya. "Ckk, mengganggu saja!"

Dia kembali masuk ke kamar putri sambungnya. Mata elangnya beredar ke seluruh penjuru kamar sempit itu. Tidak mungkin jika Lian kabur dari sana mengingat pintu itu dikunci dan kedua kunci tersebut ada di saku celananya. Tidak ada akses untuk keluar dari kamar. Adapun jendela berukuran kecil memanjang, tidak mungkin bisa disisipi tubuh manusia dewasa.

"Anak itu sepertinya bersembunyi," pikir Darma sambil terus mencari.

Di dalam lemari pakaian tidak nampak, satu-satunya tempat yang mungkin dijadikan persembunyian adalah ….

"Lian, sudah cukup main petak umpetnya. Aku sudah tidak tahan!" ucap Darma sambil menghempas kain penutup dari badannya.

Gadis yang tengah bersembunyi itu gemetaran di kolong tempat tidur. Dadanya seolah didobrak kuat dari dalam. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Dia berharap akan diselamatkan dari setan berwujud ayah tirinya itu.

"Aku menemukanmu, Sayang …!" Darma terkekeh menyeramkan saat kepalanya melongok ke bawah kasur.

Lian makin ketakutan. "Pergi! Ja-jangan dekat-dekat!"

"Kalau tidak mau keluar maka aku yang akan keluar dari kamar ini. Hal yang sangat remeh jika aku harus melenyapkan istri cacadku! Aku juga tidak akan segan untuk menghilangkan nyawamu terlebih dahulu!"

Mendengar itu, Lian refleks beringsut keluar dari kolong ranjang. Tidak masalah jika dia mati saat itu juga daripada harus menjadi pemuas nafsu ayah tirinya. Namun, dia memikirkan tentang sang ibu. Tidak ada orang lain yang akan menjaga Ayu Sari mengingat sudah tidak punya lagi keluarga dan sanak saudara. Semuanya telah meninggal saat musibah banjir bandang setahun yang lalu. Darma! Pria itu sudah pasti akan mencampakkan atau bahkan melenyapkan ibunya jika dia benar-benar mati.

Darma langsung menyerangnya. Menindih dan mengunci tubuhnya.

"Kamu terlalu banyak berbelit-belit!"

Gadis itu menjerit dalam hati saat bibirnya kembali dilahap rakus. Tubuhnya yang berharga kini dinikmati begitu saja oleh Darma. Tatapannya kosong meski matanya mengalirkan air kepedihan. Malam ini dia kehilangan hal paling penting yang selalu dia jaga.

Gelap dan berantakan! Itulah pandangannya ke depan tentang kehidupannya nanti.

**

Lian terduduk lesu pada tembok. Matanya bengkak akibat menangis tak henti setelah kejadian buruk yang menimpanya. Kedua tangannya menggosok kuat-kuat seluruh tubuhnya yang menjijikan. Berharap kotoran dari sentuhan lancang Darma bisa hilang.

Lian sudah dipastikan tidak akan punya masa depan. Tidak akan ada pria yang mau menerimanya kelak. Dia sudah kotor, ternoda!

"Lian …! Kamu masih tidur, Nak?" panggil Ayu setelah mengetuk pintu.

Ingin rasanya Berlian menghambur ke pelukan ibunya dan menceritakan semua kejadian buruk itu. Namun, dia tidak mau membuat wanita itu terbebani dan ikut terluka.

"Bu, Lian mungkin sedang sakit karena sejak kemarin bilang gak enak badan," kilah Darma yang baru saja muncul.

Gadis di dalam kamar menutup telinganya rapat-rapat. Dia jijik mendengar suara pria itu yang mengingatkan akan kejadian semalam. Lian benci mendengar suara desahan Darma yang memuakkan.

"Ibu lebih baik sarapan biar nanti aku belikan obat ke apotek untuk Lian," bujuk si Monster pada istrinya.

"Terima kasih, Mas." Kekaguman dan ketenangan Ayu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.

**

Darma membeli obat ke apotek. Bukan sembarang obat untuk menyembuhkan orang sakit melainkan pil penunda kehamilan.

"Makanlah dan minum obatnya! Aku tidak mau kamu hamil," lirihnya dengan tatapan tajam.

Lian sama sekali tidak menggubris. Tatapannya kosong tertunduk pada lantai yang menjadi saksi bisu kenahasan hidupnya.

"Turuti semua perintahku jika mau ibumu selamat!" Perkataan penutup yang menyeramkan.

Darma menutup kembali pintu kamar itu. Dia menemui istrinya yang ada di kamar lain.

"Bagaimana, Mas? Lian mau minum obatnya?" tanya Ayu yang hendak memutar roda dari kursi yang dia duduki.

"Tentu saja, harus! Kalau tidak minum obat kan bahaya," ucapnya disisipi seringai.

"Mas, kita tidak perlu pergi ke rumah sakit. Aku mencemaskan keadaan Lian." Wajahnya terlihat tegang dan gelisah.

"Lian hanya demam biasa. Cuma perlu istirahat. Tidak usah cemas berlebihan. Dia tadi juga bilang supaya kamu mau menjalani terapi biar cepat pulih." Lagi-lagi mengeluarkan alibi.

Akhirnya Ayu mau pergi setelah dibujuk suaminya. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang menyayangi dan menginginkannya untuk sembuh.

**

Lian membuang obat pemberian ayah tirinya. Dia juga membanting semua barang yang ada di dalam kamar sambil berteriak-teriak.

"Aku benci hidupku! Aku benci …!"

Tangisnya berlomba dengan teriakan hingga menarik perhatian tetangga terdekat. Beberapa orang mendatangi rumahnya.

"Astaga, Lian keserupan! Cepat panggil pak ustadz!" seru salah seorang wanita.

Satu orang pria menuruti perkataan tersebut. Tak lama berselang, ustadz yang dimaksud itu tiba bersama beberapa warga lain yang penasaran.

Gadis itu masih berteriak dan menangis meski tidak menjelaskan apa yang terjadi padanya. Beberapa orang memeganginya agar tidak berulah. Pak ustadz membacakan doa pada segelas air yang diminumkan dan dipercikan pada wajah Lian.

Gadis itu bisa tenang bukan karena jin atau makhluk halus sudah berhasil diusir. Mungkin raganya telah lelah meski air mata masih belum kering.

Lian termenung saat dipapah menuju kamarnya. Seorang wanita paruh baya dan anak gadisnya yang merupakan teman Lian, menemani di sana sampai Ayu dan Darma pulang.

Sambil menunggu mereka, kedua tetangga baik ini membantu membereskan kamar Lian yang acak-acakan.

Selang satu jam lebih yang ditunggu pun tiba. Ibu dan anak itu menceritakan tentang Lian yang kesurupan tadi. Darma yang awalnya tegang kini bisa bernapas lega karena korbannya tidak membocorkan rahasia bejadnya.

Kedua tetangga pun pergi. Ayu memeluk putrinya sambil menangis. "Nak, katakan ada apa? Apa kamu punya masalah?"

Lian bungkam, malah ayah tirinya yang menyahut. "Makanya jangan banyak bengong, jadinya kesurupan! Kasihan ibumu sampai cemas begini, kalau sampai kenapa-napa, bagaimana?"

Lian mengepalkan tangan yang ada dipangkuannya. Tatapannya meruncing meski diarahkan pada seprei kasur yang ia duduki. Dadanya naik turun memendam amarah.

"Darma, kamulah yang kesurupan setan, bukan aku!" batinnya.

Ayu tetap berusaha menenangkan dan menghibur putrinya sedangkan si Brengsek menatap tajam sebagai kode agar Lian tutup mulut.

"Lian mungkin sedang patah hati, nanti juga akan kembali ceria," kilah Darma agar istrinya berhenti mencemaskan gadis tersebut. Selalu ada alasan agar Ayu tidak menaruh curiga.

**

Malam yang sama terulang kembali. Darma memberikan obat tidur untuk istrinya agar aksinya berjalan tanpa gangguan. Dia menyerang Lian seperti waktu itu dengan cara dan ancaman yang sama.

Si gadis hanya bisa menangis meratapi nasib buruknya tanpa bisa mengungkapkan pada siapapun.

Lian mengambil gunting dan mencukur rambutnya pendek hingga tak jelas bentuk dan modelnya. Dia membakar semua rok dan baju bergaya feminim, hanya menyisakan beberapa potong jeans dan kaos polos berlengan pendek. Untuk apa berpenampilan manis karena kini dirinya sudah kotor. Tidak akan ada yang mau menerimanya jika tahu bahwa dia sudah tidak suci lagi.

Ayu melongo melihat perubahan Lian yang seperti laki-laki. "Nak, kenapa penampilan kamu semrawut begitu?"

Gadis itu menjawab seenaknya. "Aku tidak mau jadi perempuan!" Melahap sarapan dengan rakus.

"Astaga, Nak. Itu adalah dosa besar, jangan bicara seperti itu!" Kamu sebenarnya kenapa sih?" Mata Ayu berkaca-kaca.

"Bu, malah menurutku itu bagus daripada Lian berpenampilan sexy dan mengundang laki-laki brengsek untuk mengganggunya. Kalau sekarang kan pasti tidak akan ada yang mau mendekatinya." Darma terkesan mendukung apa yang dilakukan gadis itu. Tentu saja, dia tidak mau Lian disentuh pria lain selain dirinya. Dia ingin memiliki si Daun Muda sendirian.

"Sudahlah, Bu …! Nanti aku akan membetulkan rambutnya agar terlihat lebih rapi."

Lian muak mendengar suara makhluk sadis itu. Dia segera minum lalu bangkit dari duduknya. "Bu, jangan cemas! Aku masih waras, tidak akan menyukai perempuan meskipun aku benci dilahirkan menjadi seorang wanita! Masalah rambut, aku akan meminta Sofia merapikannya."

Lian menyalami ibunya kemudian pamit. Sama sekali tidak mengindahkan uluran tangan ayah tirinya.

Ayu menghela napas berat. Bagaimana bisa putri semata wayangnya berubah drastis? Bukan hanya penampilan saja tapi juga cara bicaranya yang menjadi ketus, tak ada manis-manisnya meskipun masih bersikap sopan pada sang ibu.

**

Hampir seminggu Lian bolos kerja. Tidak ada surat izin atau pemberitahuan pada pihak perusahaan. Hanya terdengar kabar jika keadaan gadis itu sedang labil, entah sakit fisik atau mental. Bahkan adapula yang menyebar hoax jika Lian itu tidak waras.

Saat gadis yang tengah jadi buah bibir itu kembali masuk kerja, semua orang nyaris tidak mengenalinya jika saja tidak melihat ID card yang menggantung di lehernya.

"Ternyata gosip yang kita dengar memang benar, Lian yang tukang sensor manset itu sekarang otaknya rada-rada …. Lihat saja penampilannya jadi seperti 'Pria kw' gitu," bisik seseorang yang baru saja dilewati Lian.

"Itu si Berlian yang suka dikecengin cowok-cowok mekanik itu kan? Wah, heboh pasti! Tapi baguslah, sainganku berkurang satu kepala," timpal yang lain dibumbui dengan tawa.

Begitulah kebanyakan yang memandang Lian saat ini. Tebakan mereka sebenarnya tidak terlalu meleset. Dia memang tengah depresi atau stress atau apalah sejenisnya! Setiap orang memang punya cara berbeda saat mengalihkan segala beban pikiran.

Bab 3

"Berlian! I-ini kamu?" Gadis bernama Erni itu memindai temannya sampai tak sempat berkedip.

"Hey, apa kamu sakit? Eits, apa jangan-jangan ini kembarannya Lian!" timpal Nia yang keningnya berkerut.

"Apa ada masalah pribadi? Tidak mungkin kamu tiba-tiba berubah drastis seperti ini," imbuh Erni lagi.

Yang ditanya terlihat santai memakai rompi dan penutup kepala berwarna kuning yang merupakan baju kerja karyawan bagian sensor. Dia duduk menatap keduanya. 

"Seseorang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Entah ke arah positif atau sebaliknya. Memang kenapa kalau penampilanku begini? Kurasa bukan aku satu-satunya yang tomboi di dunia ini."

"Iya, sih … tapi perubahanmu ini sangat mendadak. Rasanya aneh dan apakah ada hubungannya dengan kabar kalau kamu itu sakit? Stress ya, gara-gara cowok?" duga Erni memicingkan mata.

"Perasaan, kamu itu jomblo. Apa mungkin kamu patah hati karena ditolak cowok yang kamu taksir? Siapa sih cowok itu? Oh … apa Ardi, mekanik line A yang baru saja pacaran sama Via Adm itu?" timpal Nia.

"Sok tahu kalian! Aku gak naksir siapa-siapa. Jangan ngada-ngada, nanti timbul hoax lagi! Yang jelas, aku sekarang lagi bosen jadi cewek. Jadi, jangan pernah bahas tentang cowok, pacar apalagi calon suami. Oke!"

Nia menempelkan telapak tangan pada kening Lian. "Kamu masih waras, kan! Gak belok selera sama yang sejenis!"

Lian mendengus sembari menghempas tangan temannya. "Aku emang stress tapi tidak segila itu! Sebentar lagi bel masuk, masih mau kepo atau siap-siap kerja? Ini lihat, manset yang belum diperiksa banyak banget!" Dia mengambil seikat manset lalu membukanya.

"Aku mau ke toilet dulu," ucap Nia yang langsung menghilang saat itu juga. 

Erni duduk di sebelah Lian, masih menatap lekat. "Kalau kamu ada masalah, ngomong saja! Aku siap menjadi tempat curhatmu."

Lian pura-pura fokus memeriksa manset. Senyum kelu muncul di bibirnya dan matanya sedikit berair. "Jangan lebay! Aku baik-baik saja!"

Entah kenapa Erni merasa jika temannya itu sedang berbohong. Dia tahu persis ekspresi itu. Wajah sendu yang bersembunyi di balik senyum tipis. Tapi jika Lian belum mau bercerita maka dia tidak ingin memaksa. Yang jelas, dia berharap agar temannya itu bisa mendapatkan solusi terbaik apapun masalahnya.

Bel masuk berbunyi. Semua karyawan yang masih ada di luar gedung berlarian. Ketiga gadis bagian sensor manset sudah bergelut dengan pekerjaan mereka. 

"Berlian Andini, kamu dipanggil pengawas besar di mejanya!" ucap seorang wanita yang merupakan pengawas kecil line A bagian manset.

Lian melepas napas berat. Dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Gadis itu bangkit dan melangkah dengan santainya, malah terkesan cuek. Kedua temannya saling tatap.

"Jangan-jangan Lian dipecat!" bisik Nia.

"Semoga saja cuma dikasih surat peringatan. Kasihan dia kalau sampai berhenti kerja," timpal Erni.

Mereka berbisik-bisik sambil bergerak dengan pekerjaan agar tidak terlalu mencolok.

Sementara itu, Lian sekarang tengah duduk menghadap Bu Dewi yang menatapnya tajam. Tangan si atasan bersilang di dada.

"Bagus, ya! Kamu bolos gak bilang-bilang dulu, gak minta izin dulu. Masuk kerja juga gak samperin saya dulu buat kasih penjelasan. Memang kamu pikir ini perusahaan milik orangtuamu? Di mana tanggung jawabmu sebagai karyawan? Sudah bosan kerja di sini atau kamu sudah jadi orang kaya, jadi malas kerja?"

Lian bungkam menatap pengawas besar yang sedang sibuk nyerocos.

Bu Dewi menggebrak meja tapi Lian sama sekali tidak terusik. "Kamu menantang saya? Kenapa malah diam saja? Kamu pikir saya ini radio butut? Aneh, saya merasa seperti bicara sama mayat hidup. Kamu itu sebenarnya sedang memikirkan apa? Otakmu sedang jalan-jalan di mana, hah?"

"Maaf, Bu!" Bilang maaf tapi wajahnya sama sekali tidak merasa bersalah. Jelas itu membuat Bu Dewi makin naik pitam. Akhirnya Lian diserahkan pada manager untuk disidang.

Wajah yang kini ada di hadapan Berlian adalah Pak Bram, manager line A. Pria dengan usia kepala empat itu menatap Bu Dewi tajam.

"Baik, Pak. Saya permisi," pamit pengawas besar yang sudah tahu kode tatapan atasannya. Dia pergi meninggalkan Lian bersama manager.

Setelah diinterogasi dan diomeli habis-habisan, Lian keluar dari ruangan manager dengan wajah lesu. Langkah kakinya tak secepat saat tadi menemui pengawas besar. 

Dipecat! Hal itulah yang membuat tubuhnya lemas serasa tak bertulang. Meski sebelumnya sudah bisa menduga tapi saat benar-benar terjadi, Lian hanya bisa pasrah.

Gadis itu melepas rompi dan topi kuning. Melipatnya lalu memasukkannya ke laci meja periksa. Kedua temannya menangis saat Lian berpamitan sedangkan beberapa yang lain berbisik-bisik meledek.

Lian sama sekali tidak menggubris orang-orang yang tidak menyukainya. Lebih baik fokus pada teman-teman yang selalu mendukungnya.

**

Untuk pertama kalinya, bibir pink alami itu menyesap sebatang rokok. Kepulan asap membumbung menutupi sebagian wajahnya. Meski sesekali terbatuk-batuk akibat belum terbiasa, gadis itu tidak menghentikan aktivitas barunya tersebut.

Tatapannya lurus menghadap kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya. Posisinya berjongkok dengan sebelah tangan mengapit rokok dan satu lagi memegang sebuah cup kopi instan.

Seorang tukang ojeg online pesanannya datang. Pria berjaket hijau itu memberikan helm.

Lian mematikan rokok dengan sepatunya lalu membuang cup minuman ke tempat sampah. Sambil naik motor, sambil pakai helm.

Perjalanan selama seperempat jam berakhir saat sampai di depan gang kecil. Lian turun dari ojeg lalu memberikan ongkos. Hal tidak terduga terjadi, Darma yang entah muncul dari mana kini menatap tajam pada putri sambungnya lalu beralih ke tukang ojeg yang langsung tancap gas.

"Lian, bukannya kamu sedang bekerja? Kenapa pulang dan tidak memberi tahu Ayah?" Darma berkacak pinggang. Gayanya sudah seperti seorang pria yang posesif. Sayangnya dia melakukan itu tidak pada tempatnya.

Lian tidak mau meladeninya. Dia bersikap seolah tidak ada siapa-siapa di sana. Melengos pergi begitu saja. Andai dia tahu jika pria gila itu tidak sedang bekerja maka dia akan memilih untuk tidak pulang ke rumah.

Darma menarik tangan Lian lalu menampar pipi kemerahan gadis itu. 

"Kenapa tiba-tiba menamparku, pria edan?" pekik Lian seraya memegang pipi. Dia tidak peduli jika suaranya mengundang penasaran warga.

"Kamu harus menuruti aku meskipun hanya ayah tirimu! Kamu tidak boleh berboncengan dengan laki-laki meskipun hanya tukang ojeg! Ayah yang akan mengantarkan kamu."

"Dasar sinting!" teriak Lian sambil melengos. Dia setengah berlari menuju rumah.

Beberapa orang menghampiri Darma dan menanyakan tentang pertengkaran tersebut.

"Saya cuma mengkhawatirkan Berlian. Dia itu anak sambung yang saya anggap sebagai anak kandung sendiri. Saya bertanggung jawab atas masa depannya," kilah Darma agar terlihat baik di mata masyarakat.

**

Malam ini Berlian meminta tidur bersama ibunya. Selain merindukan momen itu juga untuk berjaga-jaga agar ayah tirinya tidak bisa berulah lagi. Namun, dugaannya salah!

Ayu begitu terlelap akibat pengaruh obat tidur yang diberikan suaminya. Jadi, Darma bisa bisa leluasa bertindak gila seperti sebelumnya. 

"Bu …!" Lian mengguncang tubuh Ayu saat ayah tirinya mendadak muncul di kamar itu. Gemetaran karena ketakutan!

Darma tergelak sambil berkacak pinggang. "Kamu jangan mengganggu ibumu yang sedang pulas! Dia tidak akan bangun karena aku sudah memberinya obat tidur. Sekarang, mari kita bersenang-senang!"

"Sinting! Dasar tidak …." Kata-katanya menggantung karena kepalanya terasa berputar-putar. Pandangannya buram dan dalam waktu singkat, tubuhnya ambruk di sebelah ibunya.

Darma menyeringai merasa puas dan menang. Dia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menikmati gadis itu. 

"Kenapa tidak dari awal saja aku memberinya obat tidur, kan segalanya jadi lebih mudah. Lain kali aku akan mencekokinya dengan obat perangsang!"

Darma mengangkat tubuh Berlian dan membawanya ke kamar lain untuk menuntaskan hasrat gilanya. 

**

Pagi hari gadis itu tersentak mengetahui jika dirinya berada di kamar lain dalam keadaan polos tanpa kain, hanya ditutupi selimut. Darma berdiri menatapnya dengan seringai menjijikan.

"Sayang, terima kasih. Sekarang aku jadi lebih bersemangat untuk bekerja. Jaga ibumu baik-baik!"

Lian menepis tangan Darma yang ingin mencolek dagunya. Pria itu malah tergelak sambil melangkah meninggalkan kamar.

Si gadis memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia pergi ke kamar mandi yang terpisah dari kamar. Kamar mandi satu-satunya yang ada di rumah kecil itu.

Lian menangis sesenggukan di dalam sana. Dia merasa lebih jijik dengan tubuhnya yang sudah kotor. Dia sudah cape dan muak! 

"Ya, aku harus menghancurkan tubuh ini agar tidak bisa dinikmati oleh setan itu!"

Pisau tajam yang ada di dapur kini berada dalam genggaman Berlian. Dia kembali ke kamar mandi. Benda mengkilat runcing itu ditatapnya dalam-dalam. Perlahan diarahkan ke pergelangan tangannya. Satu goresan saja maka cairan pekat merah akan keluar dari lengannya. Namun, hal itu urung dilakukan setelah terdengar suara Ayu memanggil.

"A-aku … sedang mandi, Bu!" teriaknya.

Tubuhnya terduduk lesu dan tangisnya kembali deras. Tidak seharusnya dia melakukan ini! Jika dia mati maka bagaimana dengan ibunya? 

"Tidak, ini bukan cara yang tepat! Bukan aku yang harus mati, tapi Darma! Aku akan melenyapkan laki-laki brengsek itu!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED