Gaun pengantin putih gading itu terasa begitu berat, membalut tubuh Sarah dalam balutan kemewahan yang kini terasa hampa. Denting piano dari aula utama hotel yang megah seharusnya mengiringi langkahnya menuju altar, menuju masa depan yang telah ia impikan bersama Andi. Namun, yang terdengar di telinganya hanyalah bisikan-bisikan cemas, langkah kaki tergesa, dan gelombang kepanikan yang semakin menyesakkan dadanya.
Pukul sepuluh pagi. Seharusnya, saat ini Sarah sudah berada di depan cermin, sentuhan terakhir dari penata rias menyempurnakan penampilannya. Namun, sejak satu jam lalu, kabar burung itu mulai menyeruak, merayap seperti racun, dan kini telah menjadi kenyataan pahit yang meremukkan hatinya: Andi menghilang. Tidak ada pesan, tidak ada telepon, tidak ada jejak. Calon suaminya, pria yang semalam masih mengiriminya pesan berisi janji-janji manis tentang masa depan mereka, kini lenyap bak ditelan bumi.
"Sarah, sayang... tenanglah, nak." Suara lembut Ibu Laras, ibunda Sarah, terdengar bergetar. Wajahnya yang biasanya cerah kini pucat pasi, matanya sembab menahan tangis. Ia mengusap punggung Sarah yang duduk terpaku di depan meja rias, tatapan kosong menatap pantulan dirinya sendiri. Gaun indah itu kini terasa seperti kain kafan, bukan gaun kebahagiaan.
"Bagaimana bisa tenang, Bu?" Suara Sarah tercekat. Tenggorokannya terasa kering dan perih. "Ini hari pernikahan saya, Bu! Dan Andi... Andi tidak ada!"
Kepalanya berputar, mencoba memahami. Di luar, tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Karangan bunga menjulang tinggi, dekorasi indah terpajang di setiap sudut aula, dan aroma masakan mewah menyeruak dari dapur. Semuanya sempurna, kecuali satu hal: pengantin pria tidak ada.
Pintu kamar rias terbuka dan tertutup dengan cepat. Pak Budi, ayah Sarah, masuk dengan wajah tegang. Di belakangnya, ada Bu Rima dan Pak Hadi, kedua orang tua Andi, yang tak kalah panik. Wajah Bu Rima sudah semerah tomat, matanya berkaca-kaca, sedangkan Pak Hadi hanya bisa menggelengkan kepala, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Kita sudah coba hubungi Andi lagi, tapi ponselnya mati," ujar Pak Budi dengan nada tertahan. Ia tampak lelah dan frustrasi. "Keluarga sudah mencari ke apartemennya, ke rumah teman-temannya, tapi tidak ada yang tahu dia ke mana."
Hati Sarah mencelos. Ini bukan mimpi buruk yang bisa terbangun darinya. Ini kenyataan yang begitu brutal. Memori manis tentang bagaimana Andi melamarnya di puncak gunung, di bawah taburan bintang, terasa seperti kebohongan besar sekarang. Semua janji, semua tawa, semua rencana masa depan yang mereka rajut bersama, runtuh dalam sekejap mata.
"Bagaimana ini, Pak Budi? Bu Laras?" Bu Rima hampir menangis. "Malunya... tamu-tamu sudah banyak yang datang. Ini akan jadi aib keluarga kita!"
"Aib?" Sarah mendongak, menatap Bu Rima dengan mata berkilat. "Bagaimana dengan perasaan saya, Tante? Saya yang akan jadi bahan tertawaan, Tante!" Suaranya meninggi, dipenuhi rasa sakit dan pengkhianatan. "Pernikahan saya... pernikahan saya hancur!"
Semua terdiam. Keheningan yang menyesakkan menggantung di udara, hanya diselingi isak tangis Bu Rima yang semakin menjadi.
Tiba-tiba, pintu terbuka lagi. Kali ini, sosok tinggi tegap melangkah masuk. Bayu. Kakak kandung Andi. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, namun wajahnya tampak datar, tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Tatapannya dingin, menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Sarah. Sarah bisa merasakan getaran aneh saat tatapan itu bertemu, seolah ada dinding tak terlihat di antara mereka.
"Bagaimana, Bayu? Ada kabar dari Andi?" tanya Pak Hadi, ayahnya, penuh harap.
Bayu menggeleng pelan. "Tidak ada. Ponselnya masih mati. Dan tidak ada yang melihatnya sejak semalam."
Ruangan kembali diselimuti kekecewaan yang mendalam. Sarah menunduk, air mata mulai menetes membasahi pipinya, meninggalkan jejak pada riasan wajahnya. Ia merasa begitu rapuh, begitu hancur.
"Kita tidak bisa membatalkan ini," kata Pak Hadi, suaranya tegas namun jelas menyimpan keputusasaan. "Semua sudah siap. Tamu-tamu... ini akan jadi bencana."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Bu Laras, air matanya tak terbendung. "Andi tidak ada."
Semua mata tertuju pada Bayu. Ia tampak berpikir keras, rahangnya mengeras. Keheningan kembali merajai ruangan, terasa begitu berat, seolah setiap detik adalah perjuangan. Sarah bisa merasakan jantungnya berdebar kencang, firasat aneh menyergapnya.
"Aku akan menggantikannya."
Suara Bayu terdengar rendah, namun jelas, memecah keheningan dengan kejutan yang menghempas semua orang. Sarah mendongak, matanya membulat sempurna. Ia menatap Bayu, mencari tahu apakah ia salah dengar.
"Apa?" tanya Pak Hadi, tak percaya.
"Aku akan menggantikan Andi," ulang Bayu, suaranya kali ini lebih lantang, tanpa ragu sedikit pun. "Demi nama baik keluarga. Demi agar semua ini tidak menjadi lelucon. Aku akan menikahi Sarah."
Sarah terpaku. Otaknya terasa berhenti bekerja. Menikahi Bayu? Kakak Andi? Pria yang selalu bersikap formal dan kaku padanya? Pria yang sering ia sebut "gunung es" di belakang punggungnya karena ekspresinya yang selalu datar? Rasanya seperti lelucon paling kejam yang pernah ia dengar.
"Bayu, apa yang kau katakan?" Bu Rima tersentak. "Ini tidak mungkin! Kau... kau dan Sarah?"
"Tidak ada pilihan lain, Bu," jawab Bayu, tatapannya kini lurus menatap Bu Rima, dingin dan tak terbantahkan. "Apa yang ingin Ibu lakukan? Mengumumkan bahwa pengantin pria kabur di hari pernikahannya? Bayangkan berapa banyak kerugian yang harus kita tanggung, belum lagi reputasi keluarga kita. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan situasi ini."
Pak Hadi menatap putranya, terlihat jelas ada konflik batin yang berkecamuk di wajahnya. Namun, akhirnya ia menghela napas panjang, mengangguk pasrah. "Bayu benar. Tidak ada pilihan lain."
Giliran Sarah yang menatap Bayu, rasa terkejutnya bercampur dengan kemarahan. "Bagaimana dengan perasaanku? Kau pikir aku boneka yang bisa dimainkan begitu saja?" Suaranya bergetar, lebih karena luka daripada amarah. "Aku tidak mau!"
Bayu melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Sarah. Tatapannya menusuk, seolah menembus jiwanya. "Apa yang ingin kau lakukan, Sarah? Membiarkan semua orang tahu bahwa kau ditinggalkan calon suamimu di hari pernikahan? Membiarkan orang tuamu menanggung malu? Pikirkan harga diri keluargamu."
Kata-kata Bayu memang pahit, namun ia tahu ada kebenaran di dalamnya. Sarah melihat wajah ibunya yang memohon, ayahnya yang tampak begitu putus asa. Hatinya mencelos. Ia terjebak. Antara rasa sakit hati yang teramat dalam dan tuntutan untuk menjaga kehormatan keluarga.
"Tapi..." Sarah mencoba mencari penolakan lain, namun kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. Ia tak sanggup mengucapkan "tidak" saat melihat tatapan putus asa kedua orang tuanya.
"Ini hanya pernikahan di atas kertas," kata Bayu, seolah membaca pikirannya. Suaranya terdengar lebih rendah sekarang, hanya untuk didengar oleh mereka berdua. "Kita bisa mengaturnya setelah situasi ini tenang. Yang penting, acara ini berjalan."
Pernikahan di atas kertas? Kalimat itu bagai tamparan keras. Impian tentang pernikahan penuh cinta kini berubah menjadi formalitas demi menyelamatkan muka. Sarah menatap Bayu lagi, mencari jejak emosi di matanya, tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan. Dingin. Seperti biasanya.
"Baiklah," ucap Sarah akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar, seolah setiap suku kata menguras seluruh energinya. "Aku... aku akan melakukannya."
Seketika, ruangan dipenuhi napas lega dari semua orang. Bu Rima segera menghampiri Bayu, memeluknya erat dengan air mata berlinang. Pak Hadi menepuk bahu putranya, ekspresinya bercampur antara lega dan sedih.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih," bisik Bu Rima pada Bayu.
Sarah merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan, tanpa pilihan, tanpa suara. Ia harus menikahi pria yang sama sekali tidak ia cintai, pria yang hanya akan menjadi penyelamat kehormatan keluarganya.
Upacara pernikahan berjalan. Sarah melangkah diiringi ayahnya, melewati lorong yang dihiasi bunga-bunga indah. Senyumnya terasa kaku, mata-matanya berusaha menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia melihat tatapan iba dari beberapa tamu, bisikan-bisikan yang tak jelas, dan kamera-kamera yang terus memotret.
Di ujung altar, Bayu sudah menunggunya. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan sedikit pun emosi. Jas pengantin yang kebesaran untuk Andi kini pas melekat di tubuh Bayu, seolah memang ditakdirkan untuknya. Mereka mengucapkan janji pernikahan di hadapan penghulu, saksi, dan ratusan pasang mata. Setiap kata terasa hampa, kosong, dan tidak bermakna. Cincin tersemat di jari manis Sarah, terasa dingin dan berat.
Resepsi berlangsung seperti dalam kabut. Sarah tersenyum, menyalami tamu, berpose untuk foto, semua dilakukan secara otomatis. Di sampingnya, Bayu berdiri tegak, sesekali melempar senyum tipis yang tak mencapai matanya. Ia adalah patung yang sempurna, sebuah boneka yang diprogram untuk peran ini.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, dan dekorasi mulai dibongkar, Sarah dan Bayu tiba di apartemen yang tadinya disiapkan untuk Andi dan Sarah. Apartemen mewah dengan pemandangan kota Jakarta yang gemerlap. Namun, yang Sarah rasakan hanyalah kehampaan.
Bayu masuk lebih dulu, melepas jasnya dan melonggarkan dasinya. Ia berjalan ke arah jendela besar, membelakangi Sarah, dan menatap keluar. Sarah masih berdiri di ambang pintu, gaun pengantinnya terasa semakin membebani.
"Kau bisa melepas gaunmu," ucap Bayu tanpa menoleh. Suaranya dingin, datar, tanpa nada ramah sama sekali.
Sarah tak menjawab. Ia melangkah masuk, menuju kamar utama. Saat ia akan membuka pintu, suara Bayu kembali terdengar.
"Kamar tamu ada di sana," katanya, menunjuk ke arah pintu lain. "Kita akan tidur terpisah."
Jantung Sarah berdesir. Ada sedikit rasa lega, namun juga tertampar oleh kenyataan. Tentu saja. Ini bukan pernikahan sungguhan. Mereka hanyalah orang asing yang terikat dalam sebuah formalitas.
Tanpa berkata apa-apa, Sarah berbalik dan melangkah menuju kamar tamu. Ia menutup pintu perlahan, bersandar padanya, dan membiarkan air mata yang selama ini ia tahan tumpah ruah. Gaun pengantin yang seharusnya menjadi lambang kebahagiaan itu kini menjadi saksi bisu kehancuran hatinya.
Beberapa hari setelah pernikahan yang aneh itu, kehidupan Sarah terasa seperti drama yang aneh. Ia dan Bayu tinggal di apartemen yang sama, makan di meja yang sama, namun mereka hidup di dunia yang berbeda. Bayu pergi bekerja pagi-pagi sekali, kembali larut malam. Mereka jarang berbicara, dan ketika berbicara, itu hanya sebatas hal-hal formal dan penting.
Bayu tetap dingin, acuh tak acuh. Tidak ada perhatian, tidak ada kehangatan, bahkan tidak ada kemarahan. Hanya sebuah dinding tebal yang tak terlihat mengelilinginya. Sarah sering kali mencoba membaca ekspresinya, mencari tahu apa yang ada di balik tatapan datarnya, namun selalu gagal. Ia adalah misteri yang tak terpecahkan.
Suatu pagi, saat mereka sarapan-salah satu momen langka ketika mereka berdua di apartemen-Sarah memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa... apa kau tidak merasa marah pada Andi?" tanya Sarah, suaranya pelan, nyaris berbisik.
Bayu menghentikan sendoknya yang hendak menyuap roti panggang. Ia mendongak, menatap Sarah. Matanya yang tajam itu tidak menunjukkan amarah, justru seperti lautan yang tenang namun dalam.
"Marah tidak akan mengubah apapun," jawabnya datar. "Dia sudah pergi."
"Tapi... dia meninggalkan kita semua. Meninggalkan aku di hari pernikahan kita," suara Sarah bergetar, mencoba menahan emosinya. "Dia meninggalkanmu untuk menanggung semua ini."
Bayu meletakkan sendoknya. "Aku yang memilih untuk melakukannya."
"Kenapa?" Sarah akhirnya berani bertanya, tatapannya lekat pada Bayu. "Kenapa kau mau menikahiku? Hanya untuk nama baik keluarga? Tidak ada alasan lain?"
Bayu menatapnya lama, tatapan yang tak bisa Sarah artikan. Ada sesuatu yang berkelebat di matanya, sesuatu yang begitu cepat hingga Sarah tidak sempat menangkapnya. Lalu, ekspresinya kembali datar.
"Itu satu-satunya alasan yang perlu kau tahu," jawab Bayu, suaranya tegas, seolah menutup semua kemungkinan pertanyaan lebih lanjut. Ia bangkit dari kursi, menandakan sarapan telah usai. "Aku harus pergi."
Sarah hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. Hatinya kembali mencelos. Jawaban Bayu tidak memuaskannya. Justru, itu menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Ada apa sebenarnya dengan pria ini? Apa rahasia yang membuatnya begitu tertutup, begitu dingin?
Dan yang lebih penting, mengapa Andi kabur? Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan? Apakah ada alasan yang jauh lebih besar di balik kepergiannya yang tiba-tiba? Firasat buruk menyergap Sarah, sebuah perasaan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gelap dan rumit di balik semua ini.
Ia tidak tahu apa itu, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari tahu. Ia harus memahami mengapa hidupnya tiba-tiba berbelok arah seperti ini, dan mengapa ia kini terikat pada pria asing yang begitu misterius ini.
Hari-hari berlalu menjadi minggu. Rutinitas dingin dan hambar itu terus berlanjut. Sarah mencoba mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan: membaca, menonton film, bahkan mencoba memasak, meskipun Bayu jarang pulang untuk makan malam. Apartemen megah itu terasa seperti penjara emas, dan Bayu adalah penjaga yang tak terlihat.
Sarah mencoba menghubungi teman-teman Andi, berharap ada yang tahu keberadaannya. Namun, tidak ada yang bisa memberikan informasi berarti. Ponsel Andi tetap mati, dan media sosialnya tidak aktif. Ia benar-benar menghilang tanpa jejak. Keluarga Andi sendiri tampak enggan membicarakan hal itu. Setiap kali Sarah mencoba bertanya, mereka akan mengalihkan pembicaraan atau memberikan jawaban yang tidak jelas. Seolah ada konspirasi kesunyian yang melindungi rahasia ini.
Pada suatu malam, Sarah tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan mengapa Bayu begitu tertutup. Ia tahu itu salah, melanggar privasi, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia pergi ke kamar Bayu, yang selalu rapi dan bersih. Tidak ada yang aneh. Semua barang tertata sempurna.
Ia membuka laci meja samping tempat tidur. Hanya ada beberapa buku dan sebuah kotak kecil. Sarah ragu sejenak, tapi rasa ingin tahu mendorongnya untuk membukanya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah kalung perak dengan liontin hati kecil. Kalung itu tampak tua, berkarat di beberapa bagian, tapi masih terasa berharga.
Dan di bawah kalung itu, ada sebuah foto. Foto lama yang sudah agak pudar. Di sana, Bayu terlihat jauh lebih muda, dengan senyum tipis di wajahnya. Dan di sampingnya, seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan senyum cerah. Mereka terlihat begitu bahagia, begitu serasi.
Jantung Sarah berdesir. Siapa gadis ini? Kenapa foto ini disimpan di kotak tersembunyi seperti ini? Dan kenapa Bayu menyimpan kalung itu? Ada kilatan aneh di mata Bayu setiap kali ia menatap sesuatu, kilatan yang kini Sarah curigai sebagai kesedihan tersembunyi.
Saat Sarah membalik foto itu, ia melihat tulisan tangan yang samar di baliknya. Hanya satu kata: "Elena".
Siapa Elena?
Sarah merasakan gelombang dingin menyelimuti dirinya. Ada cerita di balik foto ini, cerita yang kemungkinan besar menjadi kunci dari sikap dingin Bayu. Apakah ini rahasia yang ia sembunyikan? Apakah Elena adalah seseorang yang penting baginya, seseorang yang kini telah tiada?
Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka membuat Sarah terlonjak. Ia buru-buru menutup kotak itu, mengembalikannya ke tempat semula, dan bergegas keluar dari kamar Bayu, jantungnya berdegup kencang. Ia nyaris bertabrakan dengan Bayu di lorong.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Bayu, suaranya dingin, matanya menajam.
Sarah menelan ludah. "Aku... aku haus. Mau ke dapur." Ia menunjuk ke arah dapur dengan jari gemetar.
Bayu menatapnya curiga, matanya menyapu Sarah dari kepala hingga kaki, seolah mencari tahu kebohongannya. Sarah menahan napas. Ia bisa merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Bayu akhirnya mengangguk. "Jangan masuk ke kamarku lagi tanpa izin." Suaranya terdengar seperti peringatan.
"Baik," jawab Sarah cepat, lalu ia buru-buru berjalan ke dapur, seolah ingin menghindari tatapan Bayu lebih lama.
Di dapur, ia mengambil segelas air, namun tangannya bergetar begitu hebat hingga air itu tumpah. Pikiran Sarah kalut. Foto Elena. Kalung itu. Sikap dingin Bayu. Semua potongan teka-teki itu mulai membentuk gambaran yang samar, namun terasa begitu gelap.
Ini bukan sekadar pernikahan tanpa cinta. Ada luka yang sangat dalam di balik topeng dingin Bayu. Dan rahasia itu, rahasia tentang Elena, mungkin adalah kunci untuk memahami segalanya.
Sarah sadar, ia tidak bisa lagi hanya menjadi korban dalam pernikahan ini. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tidak hanya demi dirinya, tapi juga demi memahami pria yang kini menjadi suaminya. Apakah kisah cinta yang tragis yang membuat Bayu menjadi seperti ini? Dan apa kaitannya dengan kepergian misterius Andi?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya, semakin dalam, semakin mendesak. Malam itu, Sarah tidak bisa tidur. Ia berbaring di kamar tamu yang dingin, menatap langit-langit, bayangan Elena melintas di benaknya. Ia tidak tahu apa yang menantinya di depan, tapi satu hal yang pasti: ia tidak akan menyerah sampai semua rahasia ini terungkap.
Pagi itu, apartemen yang seharusnya menjadi sarang cinta itu terasa semakin dingin. Sarah terbangun dengan kepala berat, sisa-sisa mimpi buruk masih menempel erat. Bayangan Elena, wanita di foto Bayu, terus menghantui pikirannya. Siapa dia? Mengapa Bayu menyimpannya begitu tersembunyi? Dan mengapa namanya terukir dengan begitu jelas di ingatan Sarah?
Bayu sudah berangkat kerja. Seperti biasa. Apartemen terasa hening, hanya ada suara dengung AC yang monoton. Sarah memutuskan untuk melakukan apa yang ia rasa perlu: mencari tahu lebih banyak tentang Elena. Ia tahu ini melanggar privasi Bayu, tapi rasa penasarannya sudah tak terbendung. Ini bukan lagi sekadar mencari tahu kenapa Andi kabur, tapi juga tentang memahami pria yang kini menjadi suaminya, dan mengapa ia begitu dingin.
Ia membuka laptopnya, mencari di internet. Nama "Elena" terlalu umum. Ia mencoba mencari dengan kombinasi "Elena" dan "keluarga Pratama"-nama belakang Andi dan Bayu. Hasil pencarian pertama menunjukkan sebuah berita lama dari beberapa tahun lalu. Sebuah kecelakaan mobil tragis.
Jantung Sarah berdegup kencang saat ia membaca judulnya: "Kecelakaan Maut Merenggut Nyawa Mahasiswi Berprestasi, Elena Pratama."
Pratama. Nama belakang yang sama. Sarah segera mengklik berita itu. Di sana, sebuah foto terpampang jelas: wajah Elena yang tersenyum cerah, sama persis dengan yang ada di foto Bayu. Dan di bawah foto itu, tertera nama lengkapnya: Elena Pratama, adik kandung Bayu Pratama.
Dunia Sarah seolah runtuh. Elena adalah adik Bayu. Bukan kekasihnya, tapi adiknya sendiri. Lalu, mengapa Bayu menyimpan fotonya dengan tatapan yang begitu pilu? Mengapa ia begitu dingin setelah kematian adiknya? Dan apa hubungannya semua ini dengan Andi?
Berita itu merinci kronologi kecelakaan. Elena tewas di tempat kejadian akibat benturan keras. Pengemudi mobil lain dinyatakan bersalah karena mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Namun, ada satu detail kecil yang menarik perhatian Sarah: Andi Pratama, kakak Elena, juga berada di dalam mobil saat kejadian, namun berhasil selamat dengan luka ringan.
Sarah merasakan darahnya berdesir dingin. Jadi, Andi ada di sana. Ia selamat, sementara adiknya meninggal. Sebuah kemungkinan menyeruak di benaknya, sebuah pemikiran yang begitu kelam dan mengerikan: mungkinkah Andi merasa bersalah? Apakah ini alasan di balik kepergiannya yang tiba-tiba? Sebuah trauma yang tak tertahankan?
Sarah terus membaca setiap detail berita. Disebutkan bahwa Elena adalah mahasiswi kedokteran yang cemerlang, dikenal ceria dan penuh semangat. Ia adalah kebanggaan keluarga Pratama. Kehilangan Elena pasti menjadi pukulan telak bagi mereka, terutama Bayu sebagai kakak sulung.
Ia ingat bagaimana Bu Rima sering menyebutkan tentang seorang anak perempuan yang hilang, dengan nada sedih. Sekarang Sarah mengerti siapa yang dimaksud.
Tiba-tiba, suara kunci pintu berputar. Sarah terlonjak, buru-buru menutup tab browser dan mematikan laptopnya. Ia tak menyangka Bayu akan pulang secepat ini.
"Kau di rumah?" Suara Bayu terdengar dari ruang tamu. Ia tampak mengenakan setelan kasual, bukan jas kantornya.
Sarah keluar dari kamar, jantungnya masih berdebar. "Ya. Ada apa?"
Bayu melangkah ke dapur, mengambil sebotol air dingin dari kulkas. "Aku lupa mengambil beberapa dokumen penting. Akan kembali ke kantor sebentar lagi."
Sarah mengangguk, berusaha terlihat tenang. Ia mencuri pandang ke arah Bayu. Wajahnya tetap datar, namun kini, setelah mengetahui tentang Elena, Sarah bisa merasakan aura kesedihan yang tak terlihat menguar dari dirinya. Seolah ada awan gelap yang selalu mengikutinya.
"Bayu..." Sarah memberanikan diri. "Aku... aku melihat foto di kamarmu."
Bayu menegang. Ia berbalik, menatap Sarah dengan tatapan tajam yang membuat Sarah sedikit gentar. "Kau menggeledah barang-barangku?" Suaranya rendah, penuh peringatan.
"Maaf," kata Sarah, "Aku tidak bermaksud lancang. Tapi... aku penasaran." Ia menarik napas dalam-dalam. "Dia adikmu, kan? Elena."
Seketika, mata Bayu yang tadinya dingin kini memancarkan sesuatu yang lain. Ada kilatan kesedihan yang mendalam, juga sedikit amarah. Ia tak menjawab, hanya membuang muka.
"Aku membaca berita tentang kecelakaannya," lanjut Sarah, suaranya pelan. "Aku turut berduka cita, Bayu. Aku tidak tahu."
Keheningan menggantung di antara mereka. Keheningan yang sarat dengan emosi yang tak terucap. Bayu akhirnya berbalik, menatap Sarah lagi. Matanya kini tampak lelah.
"Dia adalah segalanya bagi keluarga kami," kata Bayu, suaranya bergetar tipis, nyaris tak terdengar. Ini adalah kali pertama Sarah mendengar Bayu menunjukkan sedikit emosi, sedikit kelemahan. "Dia adalah anak paling pintar, paling ceria. Masa depannya cerah."
"Dan Andi ada di sana saat itu," sambung Sarah, pelan.
Bayu mengangguk, rahangnya mengeras. "Andi mengemudikan mobil saat itu."
Sarah terhenyak. Andi yang mengemudi? Berita yang ia baca hanya menyebutkan ada pengemudi lain yang bersalah karena alkohol. Tapi tidak menyebutkan bahwa Andi adalah pengemudi mobil yang sama dengan Elena. Kenapa detail penting ini tidak disebutkan?
"Jadi, Andi yang mengemudi?" Sarah bertanya lagi, ingin memastikan.
Bayu menghela napas panjang. "Saat itu, mereka baru pulang dari pesta. Elena memohon pada Andi untuk mengantarnya pulang, padahal Andi sudah minum sedikit. Dia menolak, tapi Elena terus memaksa. Akhirnya, Andi menyerah." Ia berhenti sejenak, memejamkan mata. "Dan di tengah jalan, kecelakaan itu terjadi. Sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan, menabrak sisi penumpang di mana Elena duduk."
Sarah merasakan nyeri di dadanya. Sebuah kecelakaan yang tragis. Dan Andi, adiknya, adalah pengemudi yang selamat.
"Dia menyalahkan dirinya sendiri," kata Bayu, matanya terbuka, menatap jauh ke depan. "Dia tidak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Sejak itu, dia berubah. Dia jadi pendiam, sering melamun, dan selalu menghindari keramaian. Dia hidup dalam bayangan rasa bersalah."
Sekarang Sarah mengerti. Mengapa Andi menghilang. Itu bukan pengkhianatan murni, tapi lebih kepada pelarian dari hantu masa lalu. Pelarian dari rasa bersalah yang tak terhingga.
"Lalu, kenapa kau tidak menyalahkannya?" tanya Sarah, suaranya lembut. "Kau kehilangan adikmu."
Bayu menatap Sarah, matanya kembali dingin, seperti dinding es yang tak tertembus. "Menyalahkan tidak akan mengembalikan Elena," katanya datar. "Dan Andi sudah cukup menderita."
Jawaban itu membuat Sarah terdiam. Ia mengerti sekarang. Dinginnya Bayu bukan karena ia tidak merasakan apa-apa, melainkan karena ia memilih untuk mengubur semua emosinya dalam-dalam. Ia membangun tembok untuk melindungi dirinya dari rasa sakit. Dan mungkin, untuk melindungi Andi juga.
"Apakah ini alasanmu setuju menikahiku?" tanya Sarah. "Untuk melindungi keluarga dari aib, tapi juga untuk menutupi rasa bersalah Andi? Untuk membuatnya tetap bisa bersembunyi?"
Bayu tak menjawab. Ia hanya menatap Sarah, ekspresinya tetap sulit dibaca. Lalu, ia berbalik. "Aku harus pergi."
Ia mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartemen, meninggalkan Sarah sendirian dengan segala penemuan barunya. Apartemen itu kembali hening, namun kini, keheningan itu terasa berbeda. Ada lapisan kesedihan yang begitu pekat, seolah-olah hantu Elena masih berkeliaran di setiap sudut.
Sarah duduk di sofa, otaknya berputar cepat. Jadi, ini rahasia yang menyelimuti keluarga Pratama. Rahasia yang membuat Andi kabur, dan rahasia yang membuat Bayu menjadi sedingin es. Sebuah tragedi yang merenggut nyawa seorang gadis muda, dan meninggalkan luka yang tak tersembuhkan bagi orang-orang yang dicintainya.
Kini ia mengerti mengapa Bayu begitu acuh padanya. Ia bukan hanya menikahinya demi nama baik, tapi juga sebagai tameng. Tameng dari pertanyaan-pertanyaan yang tak terhindarkan, tameng dari sorotan publik, dan tameng dari kehancuran yang lebih parah jika kepergian Andi terungkap.
Pernikahan mereka, yang dulunya terasa seperti lelucon kejam, kini terasa seperti bagian dari sebuah tragedi yang lebih besar. Sarah merasa terperangkap. Ia adalah korban, tapi juga bagian dari solusi yang menyakitkan.
Beberapa hari berikutnya, meskipun Sarah sudah mengetahui sebagian dari rahasia Bayu, tidak ada yang berubah dalam rutinitas mereka. Bayu tetap Bayu yang dingin dan jauh. Namun, kini Sarah menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Ada rasa iba, sedikit pengertian, dan sebuah pertanyaan besar yang terus mengganggunya: sampai kapan Bayu akan hidup dalam bayangan masa lalu? Sampai kapan ia akan membiarkan kesedihan itu membekukan hatinya?
Ia mencoba mendekati Bayu lagi, dengan cara yang berbeda. Ia mencoba menyiapkan sarapan yang lebih bervariasi, sesekali meninggalkan catatan kecil di meja kerjanya, mencoba menciptakan sedikit kehangatan di tengah badai es yang mengelilingi mereka. Tapi Bayu jarang merespons. Catatan itu tetap di sana, tidak tersentuh. Makanan yang ia siapkan hanya dimakan sedikit. Dinding itu masih kokoh berdiri.
Suatu malam, Bayu pulang lebih awal dari biasanya. Ia tampak lelah. Sarah sedang menonton televisi di ruang tamu.
"Sudah makan?" tanya Sarah, mencoba membuka percakapan.
Bayu hanya mengangguk, melemparkan tas kerjanya ke sofa. Ia berjalan ke arah kulkas, mengambil air.
"Aku bisa masak sesuatu kalau kau mau," tawar Sarah.
Bayu menggeleng. "Tidak perlu. Aku tidak lapar."
Keheningan kembali melanda. Sarah merasa frustrasi. Ia ingin membantu, ingin mencoba menembus dinding itu, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.
"Bayu..." Sarah menghela napas. "Sampai kapan kau akan seperti ini?"
Bayu berbalik, tatapannya tajam. "Seperti apa?"
"Dingin. Jauh. Mengunci dirimu dari semua orang," kata Sarah, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi. "Kau tidak bisa terus-menerus membiarkan masa lalu mengikatmu seperti ini."
Wajah Bayu mengeras. "Kau tidak mengerti apa-apa."
"Aku mengerti bahwa kau kehilangan adikmu!" seru Sarah. "Aku mengerti bahwa Andi merasa bersalah. Aku mengerti semua ini bukan salahmu, dan kau memikul beban yang sangat berat! Tapi kau tidak bisa terus-menerus menyiksa dirimu seperti ini!"
Bayu melangkah mendekat, matanya berkilat marah. Ini adalah kali pertama Sarah melihat emosi yang begitu jelas di wajahnya. "Kau tidak punya hak untuk menghakimiku, Sarah," desisnya. "Kau tidak tahu rasanya kehilangan seseorang yang kau cintai di depan matamu sendiri."
Kata-katanya menusuk hati Sarah. Ia memang tidak tahu rasanya kehilangan seorang adik. Tapi ia tahu rasanya dikhianati, ditinggalkan di altar, dan dipaksa menikah dengan orang asing.
"Aku tidak menghakimimu," jawab Sarah, suaranya sedikit bergetar. "Aku hanya... aku ingin kau tahu, kau tidak sendirian. Kita bisa melewatinya bersama."
Bayu tertawa hambar. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan sama sekali, hanya kepedihan. "Bersama? Kau dan aku? Kita bahkan tidak saling mengenal, Sarah. Pernikahan ini hanyalah sebuah... kesepakatan."
"Kesepakatan yang mengikat kita seumur hidup!" bantah Sarah. "Apakah kau akan menghabiskan sisa hidupmu di balik dinding es ini, Bayu? Apakah kau akan terus-menerus hidup dalam bayangan Elena dan rasa bersalah Andi?"
Bayu terdiam, tatapannya kosong. Lalu, ia berbalik, meninggalkan Sarah berdiri sendirian di ruang tamu. Ia masuk ke kamarnya, dan Sarah mendengar suara pintu ditutup dengan keras.
Sarah merasa lelah. Sangat lelah. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah kering. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia hanya ingin semua ini berakhir.
Beberapa minggu berikutnya, ketegangan di antara mereka semakin terasa. Sarah mencoba menjaga jarak, merasa sia-sia untuk mencoba menembus pertahanan Bayu. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan kota, mencari buku, atau mengunjungi kafe untuk sekadar melarikan diri dari kesunyian apartemen.
Suatu sore, saat Sarah sedang membaca di ruang tamu, ponsel Bayu yang tergeletak di meja berdering. Sebuah nama asing tertera di layar: "Bu Dian". Sarah tak sengaja melihatnya. Nomornya tidak tersimpan di daftar kontak Bayu, yang aneh. Bayu selalu menyimpan semua kontak penting.
Sarah ragu-ragu. Haruskah ia mengangkatnya? Ponsel itu terus berdering. Akhirnya, rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Ia mengangkat telepon itu.
"Halo?" kata Sarah.
"Halo? Ini Bu Dian," suara seorang wanita paruh baya terdengar dari seberang. "Apakah ini nomor Bapak Bayu Pratama?"
"Ya, ini nomornya. Maaf, Bayu sedang mandi. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Sarah, berusaha terdengar ramah.
"Oh, Anda siapa ya?" Suara Bu Dian terdengar sedikit terkejut. "Saya ibunya Andi."
Jantung Sarah berdegup kencang. Ibu Andi? Bukankah Bu Dian itu Ibu Rima? Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Saya Sarah," jawab Sarah, sedikit waspada. "Istrinya Bayu."
Ada keheningan sejenak di seberang telepon. Lalu, Bu Dian tertawa hambar. "Istrinya Bayu? Oh, saya lupa. Kalian baru menikah ya. Maaf, saya bukan ibunya Andi. Saya hanya kenalan lama keluarga Pratama. Saya menelepon untuk memberitahu Bayu bahwa saya melihat Andi di luar kota kemarin. Dia terlihat... baik-baik saja."
Ucapan "baik-baik saja" itu membuat Sarah tercengang. Andi baik-baik saja? Selama ini mereka panik, mengira Andi dalam masalah, dan sekarang ada yang melihatnya baik-baik saja? Dan lagi, kenapa wanita ini mengaku sebagai "ibu Andi" di awal?
"Di mana dia?" tanya Sarah cepat. "Di kota mana? Apa dia sendirian?"
"Maaf, saya tidak bisa memberikan detail lebih lanjut, Nyonya Sarah," jawab Bu Dian, suaranya sedikit gugup. "Saya hanya ingin menyampaikan pesan itu kepada Bayu. Tolong sampaikan ya. Saya permisi dulu."
Sambungan telepon terputus. Sarah menatap ponsel Bayu di tangannya. Firasat buruknya semakin kuat. Wanita itu berbohong. Mengaku sebagai ibu Andi, lalu meralatnya, dan enggan memberikan detail tentang keberadaan Andi. Ini semua terasa sangat mencurigakan.
Saat Bayu keluar dari kamar mandi, handuk melilit pinggangnya, Sarah segera menghampirinya.
"Bayu, ada telepon untukmu," kata Sarah, menyerahkan ponselnya. "Dari seorang wanita bernama Bu Dian. Dia bilang dia melihat Andi."
Wajah Bayu yang tadinya santai langsung menegang. Ia merebut ponselnya, matanya menatap Sarah tajam. "Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang dia melihat Andi di luar kota, dan dia terlihat baik-baik saja," jawab Sarah. "Tapi dia terdengar aneh. Pertama dia mengaku ibunya Andi, lalu meralatnya. Dan dia tidak mau memberi tahu di mana Andi berada. Aku rasa... aku rasa dia berbohong."
Bayu segera memeriksa ponselnya. Ia membuka daftar panggilan terakhir dan memutar ulang nomor Bu Dian. Namun, hanya ada nada sambung, lalu suara operator yang mengatakan nomor tidak aktif.
"Sial!" Bayu membanting ponselnya ke meja. Amarah yang jarang terlihat kini jelas terpancar di wajahnya.
"Ada apa, Bayu?" tanya Sarah, khawatir. "Siapa Bu Dian itu sebenarnya?"
Bayu mengusap wajahnya kasar. "Dia adalah perawat pribadi Elena setelah kecelakaan itu. Dia juga menjadi semacam penasihat bagi Andi setelah kejadian itu. Dia tahu banyak tentang rahasia keluarga kita."
"Jadi, dia bohong tentang ibunya Andi?"
Bayu mengangguk. "Tentu saja. Ibuku tidak akan menelepon seperti itu." Ia menatap Sarah, matanya berkilat tajam. "Mengapa kau mengangkat telepon pribadiku?"
"Aku tidak sengaja, Bayu! Ponselmu berdering terus dan aku pikir itu penting!" Sarah membela diri. "Tapi ada sesuatu yang aneh. Kenapa dia menghubungi Anda secara rahasia seperti ini?"
Bayu terdiam, menatap kosong ke depan. "Dia pasti melihat sesuatu. Sesuatu yang dia tidak ingin orang lain tahu."
"Apa yang tidak ingin dia tahu?" tanya Sarah, hatinya mencelos. "Ada apa lagi yang disembunyikan?"
Bayu menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi ini tidak baik." Ia mengambil ponselnya lagi, tampak berpikir keras. "Aku harus mencari tahu siapa Bu Dian ini dan mengapa dia menghubungiku."
Untuk pertama kalinya, Sarah melihat Bayu menunjukkan kepanikan. Ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik semua ini, sesuatu yang bahkan membuat Bayu yang sedingin es itu merasa terancam.
Malam itu, Bayu tidak kembali ke kantor. Ia sibuk menelepon seseorang, berbicara dengan nada rendah yang Sarah tak bisa dengar. Sarah hanya bisa menduga bahwa Bayu sedang mencoba mencari tahu keberadaan Bu Dian, atau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Andi.
Sarah sadar, ia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam drama ini. Ia sudah terlalu jauh terlibat. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, demi dirinya sendiri, dan demi menemukan kedamaian dalam kekacauan ini.
Bayangan Elena, rasa bersalah Andi, dan kini misteri Bu Dian. Semuanya terasa seperti benang kusut yang harus diurai. Dan Sarah, entah mengapa, merasa bahwa ia adalah satu-satunya yang bisa melakukannya.
Keesokan harinya, Bayu bangun pagi-pagi sekali. Sarah mendengar suara-suara dari ruang kerja Bayu. Ia mengintip. Bayu duduk di depan komputernya, mengetik dengan cepat, sesekali berbicara di telepon dengan suara berbisik.
Sarah memutuskan untuk mengambil inisiatif. Ia mencari nama "Bu Dian" dan "perawat pribadi Elena Pratama" di internet. Setelah beberapa pencarian, ia menemukan beberapa artikel lama dari majalah kesehatan yang menyebutkan tentang perawat yang membantu pasien trauma pasca-kecelakaan. Sebuah nama muncul beberapa kali: Dian Kencana. Dan sebuah foto kecil yang samar, namun Sarah yakin itu wanita yang sama.
Ia mencoba mencari informasi lebih lanjut tentang Dian Kencana. Ia menemukan bahwa Dian pernah bekerja di sebuah klinik rehabilitasi di pinggir kota. Sarah mencatat alamatnya.
Ketika Bayu akhirnya keluar dari ruang kerjanya, matanya terlihat merah, seolah ia tidak tidur semalaman.
"Kau akan ke kantor?" tanya Sarah.
Bayu mengangguk. "Ada beberapa hal penting yang harus kuselesaikan."
"Aku ikut."
Bayu menatapnya terkejut. "Ikut ke mana?"
"Ke mana pun kau pergi mencari tahu tentang Bu Dian itu," jawab Sarah, tekadnya bulat. "Aku tidak akan diam saja di sini. Aku punya hak untuk tahu, Bayu."
Bayu menghela napas panjang, tampak enggan. "Ini bukan urusanmu, Sarah."
"Ini urusan kita berdua, Bayu," tegas Sarah. "Aku sudah jadi istrimu. Kita terikat dalam pernikahan ini. Dan semua ini dimulai karena Andi. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian, terutama jika ada rahasia lain yang disembunyikan."
Bayu menatapnya dalam, tatapannya menyiratkan pertimbangan. Akhirnya, ia mengangguk. "Baiklah. Tapi kau harus patuh padaku. Jangan ikut campur jika aku menyuruhmu diam. Dan jangan membuat masalah."
"Aku janji," kata Sarah, merasa sedikit lega. Setidaknya, Bayu akhirnya membiarkannya terlibat.
Mereka berangkat. Bayu mengemudi dalam diam, sementara Sarah mencoba memahami setiap ekspresi di wajahnya. Ia tahu ini adalah langkah pertama menuju pengungkapan kebenaran. Kebenaran yang mungkin akan sangat menyakitkan, tapi harus mereka hadapi.
Destinasi pertama mereka adalah alamat klinik rehabilitasi tempat Dian Kencana pernah bekerja. Bangunan itu tampak tua dan tak terawat. Mereka masuk, dan seorang resepsionis paruh baya menyambut mereka.
"Kami mencari Dian Kencana," kata Bayu dengan nada resmi. "Apakah dia masih bekerja di sini?"
Resepsionis itu mengerutkan kening. "Dian Kencana? Dia sudah lama tidak bekerja di sini, Pak. Sudah hampir dua tahun."
Jantung Sarah mencelos. Dua tahun? Itu berarti Dian sudah tidak bekerja di sana sejak lama.
"Apakah Anda tahu di mana dia sekarang?" tanya Bayu.
Resepsionis itu menggeleng. "Maaf, Pak. Kami tidak memiliki informasi kontak staf yang sudah berhenti."
Mereka meninggalkan klinik dengan tangan kosong. Bayu tampak semakin frustrasi.
"Aku sudah menduga ini tidak akan mudah," gumam Bayu, saat mereka kembali ke mobil.
"Lalu, apa rencana selanjutnya?" tanya Sarah.
Bayu menyalakan mesin mobil. "Kita akan mencari tahu alamat rumah lamanya. Aku punya beberapa koneksi yang bisa membantu."
Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan mencari jejak Dian Kencana. Bayu menggunakan koneksinya di kepolisian dan beberapa perusahaan investigasi swasta. Sarah duduk di sampingnya, mengamati setiap gerak-geriknya, setiap panggilan teleponnya. Ia melihat sisi lain dari Bayu, sisi yang gigih dan fokus, sisi yang jarang ia tunjukkan.
Malam harinya, setelah berjam-jam pencarian, mereka akhirnya mendapatkan alamat yang mungkin merupakan alamat rumah Dian Kencana. Sebuah rumah kecil di daerah pinggiran kota.
Mereka tiba di sana saat hari sudah gelap. Rumah itu tampak sepi, lampunya mati. Bayu ragu sejenak, lalu ia turun dari mobil, diikuti Sarah.
Bayu mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras. Masih hening.
"Mungkin dia tidak ada di rumah," bisik Sarah.
Bayu mencoba memutar gagang pintu. Terkunci.
"Kita tidak bisa menyerah begitu saja," kata Bayu, tatapannya menyapu sekeliling. "Dia pasti ada di sini, atau setidaknya ada jejaknya."
Tiba-tiba, dari kegelapan di samping rumah, terdengar suara gemerisik. Bayu dan Sarah serentak menoleh. Seorang pria tua muncul dari balik semak-semak, membawa karung sampah.
"Mencari siapa, Nak?" tanya pria tua itu, suaranya serak.
"Kami mencari Dian Kencana," jawab Bayu. "Apakah dia tinggal di sini?"
Pria tua itu mengangguk pelan. "Oh, Dian. Dia memang tinggal di sini. Tapi dia sudah pergi."
"Pergi ke mana?" tanya Sarah cepat.
"Dia pergi beberapa hari yang lalu, Nak. Terburu-buru sekali," jawab pria tua itu. "Sepertinya ada masalah. Dia bilang dia harus pergi jauh, ke luar kota. Tidak tahu kapan akan kembali."
Jantung Sarah mencelos. Bu Dian sudah pergi. Ia sudah mengantisipasi mereka.
"Apakah dia meninggalkan sesuatu? Pesan? Alamat baru?" tanya Bayu, suaranya dipenuhi kekecewaan.
Pria tua itu menggeleng. "Tidak ada, Nak. Hanya beberapa barang yang ditinggalkan. Dia menyewa rumah ini."
Sarah dan Bayu saling pandang. Mereka terlambat. Bu Dian sudah menghilang, sama seperti Andi.
"Ada sesuatu yang aneh," kata Sarah, saat mereka kembali ke mobil. "Kenapa dia pergi terburu-buru setelah meneleponmu?"
"Dia pasti tahu kita akan mencarinya," jawab Bayu, rahangnya mengeras. "Atau, ada orang lain yang mencarinya."
"Siapa?" tanya Sarah.
Bayu terdiam, tatapannya kosong menatap jalanan. "Entahlah. Tapi ini semua terasa semakin rumit."
Sarah merasakan kelelahan yang luar biasa. Seharian ini mereka mencari tanpa hasil. Namun, di balik kelelahan itu, ada api kecil yang menyala. Semakin banyak rahasia yang terungkap, semakin ia merasa harus menemukan kebenarannya.
Ia mencuri pandang ke Bayu. Pria itu tampak frustrasi, tapi juga ada tekad yang kuat di matanya. Ia tidak akan menyerah. Dan Sarah, kini, tidak akan membiarkannya menyerah sendirian. Pernikahan ini mungkin berawal dari sebuah kesalahan, dari sebuah tragedi, tapi kini, ia mulai merasakan ikatan lain yang muncul. Ikatan dalam menghadapi badai bersama.
Namun, ia tahu, perjalanan ini baru saja dimulai. Dan rahasia yang tersembunyi jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Apa lagi yang disembunyikan Dian Kencana? Dan mengapa ia memilih untuk menghilang? Dan yang terpenting, apa peran Andi dalam semua misteri ini?
Malam kembali memeluk Jakarta, namun bukan kedamaian yang dibawanya bagi Sarah. Ia duduk di sofa, menatap Bayu yang masih sibuk dengan laptopnya di ruang kerja. Keheningan apartemen yang mewah itu terasa menusuk, seolah setiap sudut menyimpan rahasia yang tak terucapkan. Penemuan tentang Elena, tragedi kecelakaan itu, dan kini menghilangnya Dian Kencana, semuanya berputar di benaknya seperti pusaran air yang menyeretnya semakin dalam.
Bayu keluar dari ruang kerjanya, raut wajahnya tampak lelah dan frustrasi. Ia melemparkan dirinya ke sofa di seberang Sarah, menghela napas panjang.
"Tidak ada apa-apa lagi dari Dian," katanya, suaranya serak. "Ponselnya mati, dan alamatnya yang lain juga sudah tidak bisa dihubungi."
Sarah menatapnya. "Kau yakin dia memang sudah pergi?"
"Pria tua itu bilang begitu. Dan tidak ada jejak lain di sana," jawab Bayu, memejamkan mata. "Rasanya seperti dia sengaja menghilang."
"Tapi kenapa?" Sarah bertanya. "Kenapa dia harus sembunyi jika yang dia ingin sampaikan hanya bahwa Andi baik-baik saja?"
Bayu membuka matanya, menatap Sarah tajam. "Itu yang membuatku curiga. Dian itu bukan sembarang orang. Dia perawat pribadi Elena setelah kecelakaan, dan dia sangat dekat dengan Andi. Dia tahu banyak rahasia keluarga kami yang tidak boleh bocor ke publik."
"Rahasia apa?" Sarah tak bisa menahan diri untuk bertanya.
Bayu terdiam sejenak, tampak ragu. Ia menghela napas lagi. "Ada beberapa hal yang keluarga kami jaga mati-matian. Terutama setelah kecelakaan Elena. Kepergian Andi sudah menjadi pukulan, kita tidak butuh lagi skandal lain."
"Tapi bukankah itu penting? Mungkin itu berhubungan dengan mengapa Andi pergi," desak Sarah.
Bayu menatapnya lama, seolah menimbang-nimbang. "Baiklah," katanya akhirnya, suaranya rendah. "Ada beberapa fakta yang tidak pernah disebutkan dalam berita kecelakaan Elena." Ia berhenti, seolah mencari kata yang tepat. "Andi saat itu... dia bukan hanya mengemudi di bawah pengaruh alkohol."
Jantung Sarah mencelos. Ia menunggu kelanjutan kalimat Bayu dengan napas tertahan.
"Dia juga terlibat balapan liar," lanjut Bayu, matanya kosong menatap ke depan. "Dia dan temannya, Rio. Mereka sedang balapan di jalanan sepi saat itu. Lalu, truk itu muncul entah dari mana, dan kecelakaan terjadi. Polisi menutupinya, atau setidaknya, keluarga kami yang berupaya agar fakta itu tidak tersebar luas. Untuk melindungi nama baik Andi, dan juga reputasi kami."
Sarah terhenyak. Balapan liar? Alkohol? Itu jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Tidak heran keluarga Pratama mati-matian menutupi fakta ini. Ini bukan sekadar kecelakaan, ini adalah konsekuensi dari tindakan sembrono.
"Jadi... Dian tahu tentang ini?" tanya Sarah, suaranya tercekat.
Bayu mengangguk. "Dian adalah saksi kunci. Dia tahu detailnya. Dia ada di rumah sakit saat Andi sadar dan menceritakan semua. Dia juga yang membantu kami menekan kasusnya agar tidak terlalu heboh."
"Dan Andi... bagaimana perasaannya setelah itu?"
"Dia hancur," jawab Bayu, suaranya penuh kepedihan yang tersembunyi. "Dia merasa sangat bersalah. Dia mengurung diri, tidak mau bertemu siapa pun. Dia pikir dia adalah pembunuh Elena."
"Jadi, kepergiannya... itu adalah pelarian dari rasa bersalahnya yang memuncak?"
"Mungkin," kata Bayu. "Atau mungkin ada hal lain yang memicunya. Sejak kejadian itu, Andi memang tidak pernah sama. Dia sering mengalami mimpi buruk, berhalusinasi, dan bahkan sempat mencoba bunuh diri beberapa kali. Kami terpaksa mengirimnya ke psikiater dan menempatkannya di bawah pengawasan ketat."
Sarah merasakan empati yang mendalam terhadap Andi. Pria yang ia kira pengecut itu ternyata memikul beban yang sangat berat. Trauma yang luar biasa.
"Tapi kenapa Dian menghilang sekarang?" tanya Sarah. "Jika dia loyal pada keluarga, kenapa dia kabur setelah meneleponmu?"
"Itu yang membuatku bingung," kata Bayu. "Kecuali... ada seseorang yang memburunya. Seseorang yang tahu bahwa Dian menyimpan rahasia ini."
"Siapa?"
Bayu menggeleng. "Itu yang harus kita cari tahu. Bisa jadi teman-teman balapan Andi dulu, atau mungkin ada orang lain yang ingin menjatuhkan keluarga kami. Ini sangat berbahaya, Sarah."
Sarah menatap Bayu. Untuk pertama kalinya, ia melihat Bayu benar-benar khawatir, bukan hanya datar dan dingin. Ini adalah masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar pernikahan paksa. Ini adalah masalah hidup dan mati.
Keesokan harinya, Bayu memulai investigasi yang lebih serius. Ia menyewa detektif swasta profesional, bukan hanya mengandalkan koneksinya. Ia ingin Dian Kencana ditemukan, dan juga ingin tahu siapa di balik ancaman ini.
Sarah tidak tinggal diam. Ia mencoba mencari tahu lebih banyak tentang Rio, teman Andi yang terlibat dalam balapan liar itu. Ia mencari nama "Rio" di media sosial dengan koneksi ke Andi, dan akhirnya menemukan beberapa profil. Salah satunya adalah Rio Wicaksana, yang profilnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang pengusaha muda yang cukup sukses. Foto-fotonya menunjukkan gaya hidup mewah, pesta, dan mobil-mobil sport.
Sarah memberanikan diri mengirim pesan kepada Rio. Ia memperkenalkan dirinya sebagai istri Bayu, dan mengatakan bahwa ia ingin bertanya tentang Andi.
Beberapa jam kemudian, Rio membalas pesannya. Ia tampak terkejut mengetahui bahwa Andi menghilang di hari pernikahannya. Rio mengaku sudah lama tidak bertemu Andi secara langsung, namun ia pernah mendengar kabar bahwa Andi memang sering menyendiri dan menghindari teman-teman lamanya. Ia bersedia bertemu dengan Sarah untuk membicarakan hal ini.
Sarah memberitahu Bayu tentang ini. Bayu awalnya ragu. "Jangan terlalu percaya pada Rio, Sarah. Dia juga bagian dari masalah ini."
"Tapi dia satu-satunya orang yang mungkin tahu sesuatu tentang Andi di luar keluarga kita," bantah Sarah. "Kita harus mencobanya, Bayu. Kita butuh informasi."
Akhirnya, Bayu setuju, dengan syarat ia harus ikut.
Mereka bertemu Rio di sebuah kafe. Rio adalah pria muda yang terlihat karismatik, dengan senyum ramah yang tidak bisa menyembunyikan mata yang sedikit gelisah.
"Jadi, Andi benar-benar kabur?" Rio bertanya, tampak terkejut sekaligus penasaran. "Aku tidak menyangka dia akan sejauh itu."
"Kau tahu sesuatu, kan?" tanya Sarah, langsung ke intinya. "Tentang kejadian kecelakaan Elena?"
Rio menghela napas, mengusap wajahnya. "Itu masa lalu yang pahit. Kami semua terlibat, tapi Andi yang paling terpukul. Dia merasa sangat bersalah."
"Dan balapan liar itu?" Bayu bertanya dengan nada datar. "Kau dan Andi."
Rio menunduk. "Itu... kecerobohan masa muda. Kami bodoh. Tapi kami tidak menyangka akan berakhir seperti itu." Ia mengangkat kepalanya, menatap Bayu. "Aku tahu keluarga kalian berusaha menutupi semuanya. Aku juga diam, demi Andi. Dia sudah sangat menderita."
"Apakah ada orang lain yang tahu tentang detail balapan liar ini, selain Dian?" tanya Sarah.
Rio tampak berpikir keras. "Sepertinya hanya kami bertiga. Aku, Andi, dan Dian yang ada di rumah sakit saat Andi sadar dan menceritakan semuanya. Tapi... ada satu lagi."
Jantung Sarah berdegup. "Siapa?"
"Dulu, ada seorang jurnalis tabloid investigasi, namanya Arya. Dia sangat gigih saat itu. Dia hampir saja membongkar semuanya," kata Rio. "Tapi entah bagaimana, dia tiba-tiba menghilang. Tabloidnya juga tutup."
"Menghilang?" Bayu mengernyit. "Maksudmu?"
"Tidak ada yang tahu dia ke mana. Kantornya tutup, dan rumahnya juga kosong," jawab Rio. "Beberapa orang bilang dia diancam, tapi tidak ada bukti. Setelah itu, kasus kecelakaan Elena benar-benar dingin."
Sarah dan Bayu saling pandang. Jurnalis yang menghilang setelah mencoba membongkar rahasia keluarga Pratama. Ini terlalu kebetulan. Mungkinkah ada pihak lain yang terlibat dalam penghilangan jurnalis itu? Dan apakah pihak yang sama juga yang kini memburu Dian?
"Apakah ada kemungkinan jurnalis itu masih hidup dan kembali mengincar kasus ini?" tanya Sarah.
Rio mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Tapi itu bisa saja. Arya itu orangnya nekat dan gigih."
Setelah pertemuan dengan Rio, Bayu dan Sarah merasa mereka mendapatkan petunjuk baru yang penting. Jurnalis bernama Arya.
Bayu memerintahkan detektifnya untuk mencari jejak Arya, sang jurnalis investigasi. Sementara itu, Sarah mencoba mencari tahu sendiri. Ia mencari nama "Arya" dan "tabloid investigasi" di arsip berita lama. Setelah beberapa jam, ia menemukan beberapa artikel yang ditulis oleh Arya, yang memang terkenal berani membongkar kasus-kasus besar. Tabloidnya, "Suara Rakyat", memang tiba-tiba tutup.
Ada satu artikel yang menarik perhatian Sarah. Artikel itu ditulis beberapa minggu sebelum kecelakaan Elena, tentang kasus korupsi besar yang melibatkan seorang politikus berpengaruh bernama Bapak Ardi Sukma. Arya mengklaim memiliki bukti kuat yang bisa menjatuhkan Ardi Sukma. Namun, kasus itu tiba-tiba meredup dan hilang tanpa jejak setelah kecelakaan Elena.
Sarah merasakan firasat buruk yang kuat. Ardi Sukma. Politikus berpengaruh. Mungkinkah ada hubungannya dengan keluarga Pratama? Mungkinkah mereka punya koneksi dengan Ardi Sukma, dan kasus korupsi itu sengaja diredam untuk melindungi mereka, atau sebaliknya?
Ia memberitahu Bayu tentang penemuan ini. Bayu terlihat terkejut.
"Ardi Sukma?" Bayu mengernyit. "Apa hubungannya dengan kita?"
"Aku tidak tahu, tapi ini terlalu kebetulan, Bayu," kata Sarah. "Jurnalis yang menyelidiki kasus korupsi besar menghilang, dan dia juga hampir membongkar kasus kecelakaan Elena. Bukankah itu aneh?"
Bayu tampak berpikir keras. "Ardi Sukma memang punya koneksi yang kuat. Dia bisa melakukan apa saja untuk melindungi dirinya."
"Tapi apakah keluarga Pratama berhubungan dengannya?"
Bayu terdiam. "Ayahku memang pernah bekerja sama dalam beberapa proyek dengan Ardi Sukma, tapi itu sudah lama sekali. Hanya sebatas hubungan bisnis."
"Bagaimana jika tidak hanya sebatas bisnis?" desak Sarah. "Bagaimana jika ada rahasia lain yang lebih besar, yang melibatkan keluarga Pratama dan Ardi Sukma? Mungkin rahasia itu yang membuat Arya menghilang. Dan Dian tahu tentang rahasia itu, makanya dia dikejar."
Bayu menatap Sarah, matanya menyiratkan kekaguman yang samar. Sarah memang punya intuisi yang tajam.
"Kita tidak bisa berasumsi begitu saja," kata Bayu. "Tapi ini memang petunjuk yang harus kita selidiki."
Mereka memutuskan untuk bertemu dengan Pak Hadi, ayah Bayu, untuk menanyakan tentang Ardi Sukma. Pertemuan itu berlangsung di rumah keluarga Pratama. Pak Hadi tampak gelisah saat mendengar nama Ardi Sukma disebut.
"Ada apa dengan Ardi Sukma?" tanya Pak Hadi, suaranya sedikit bergetar.
"Kami menemukan bahwa jurnalis bernama Arya yang menyelidiki kasus Elena juga pernah menyelidiki kasus korupsi yang melibatkan Ardi Sukma," jelas Bayu. "Ada kemungkinan dia masih hidup dan kembali mengincar keluarga kita."
Wajah Pak Hadi berubah pucat. Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Baiklah. Ada sesuatu yang harus kalian tahu. Tapi ini sangat sensitif."
Sarah dan Bayu saling pandang, menanti dengan cemas.
"Setelah kecelakaan Elena, kasus itu memang berusaha kami tutupi. Reputasi keluarga menjadi taruhan," Pak Hadi memulai. "Saat itu, Arya, jurnalis itu, memang sangat gigih. Dia memiliki bukti-bukti yang sangat memberatkan Andi, bukan hanya tentang balapan liar, tapi juga tentang... tentang narkoba."
Jantung Sarah mencelos. Narkoba? Ini semakin rumit.
"Andi... dia memang sempat terjerumus ke dalam lingkaran itu setelah depresi berat pasca-kecelakaan Elena," lanjut Pak Hadi, suaranya dipenuhi penyesalan. "Dia terlibat dengan beberapa teman-temannya yang merupakan anak-anak bandar besar. Arya tahu tentang ini."
"Jadi, Arya menghilang karena itu?" tanya Sarah.
"Kami tidak tahu pasti," jawab Pak Hadi. "Tapi beberapa minggu setelah Arya menghilang, Andi tiba-tiba bersih dari narkoba. Kami tidak tahu bagaimana, tapi dia tiba-tiba ingin berubah. Kami kira itu karena keajaiban."
"Bagaimana dengan Ardi Sukma?" tanya Bayu.
Pak Hadi menghela napas. "Ardi Sukma adalah paman dari salah satu teman Andi yang juga terlibat narkoba. Teman Andi itu bernama Doni. Doni adalah anak yang sangat nakal, sering berurusan dengan polisi. Kami curiga, Ardi Sukma yang membuat Arya menghilang. Mungkin untuk melindungi keponakannya, Doni, dan juga untuk menutupi kasus narkoba yang bisa menyeretnya."
Sarah merasakan kepalanya pusing. Ini bukan hanya tentang kecelakaan dan rasa bersalah, tapi juga tentang jaringan narkoba, jurnalis yang menghilang, dan politikus korup. Semuanya saling berkaitan.
"Jadi, ada kemungkinan Dian Kencana tahu tentang keterlibatan Ardi Sukma dalam penghilangan Arya, dan dia juga tahu tentang keterlibatan Andi dalam narkoba?" tanya Sarah, mencoba merangkai semua informasi.
Pak Hadi mengangguk. "Dian adalah orang kepercayaan kami. Dia tahu segalanya. Mungkin dia melihat sesuatu yang membuatnya takut, dan dia melarikan diri."
"Dan Andi... apakah dia sudah bebas dari semua itu?" tanya Sarah, memikirkan Andi yang kini menghilang.
Pak Hadi menunduk. "Kami pikir begitu. Tapi dengan menghilangnya Dian, dan Andi yang kabur lagi... aku tidak tahu lagi."
Ada keraguan di mata Pak Hadi. Sarah yakin ada sesuatu yang lebih dari yang dikatakan Pak Hadi. Sesuatu yang masih disembunyikannya.
Setelah pertemuan itu, Bayu semakin yakin bahwa mereka harus menemukan Dian Kencana. Dia adalah kunci untuk mengungkap semua rahasia ini. Mereka juga harus menemukan Arya, jika dia masih hidup, atau setidaknya mencari tahu apa yang terjadi padanya.
Sarah dan Bayu bekerja sama. Bayu menggunakan koneksinya, sementara Sarah menggunakan keahliannya dalam mencari informasi online. Mereka mencari jejak Arya, mencari kasus-kasus lama yang melibatkan Ardi Sukma dan Doni.
Mereka menemukan beberapa jejak samar. Beberapa artikel lama yang menyebutkan nama Doni dalam kasus narkoba kecil, namun selalu berhasil lolos. Dan ada satu kasus yang menarik perhatian Sarah: kasus penggelapan uang yang melibatkan sebuah perusahaan investasi yang dikelola oleh Ardi Sukma, dan salah satu investornya adalah perusahaan milik keluarga Pratama. Kasus itu juga tiba-tiba lenyap tanpa jejak.
"Ini aneh," kata Sarah. "Keluarga Pratama jadi korban penggelapan uang, tapi kasusnya ditutup?"
Bayu mengangguk. "Ayahku memang pernah bercerita bahwa dia merasa ada yang tidak beres dengan investasi itu, tapi dia tidak mau memperpanjang masalah. Dia bilang dia hanya ingin fokus pada perusahaan utama kami."
"Atau mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan?" desak Sarah. "Mungkin ada kesepakatan di balik layar untuk menutupi semua ini."
Bayu menatapnya. "Apa maksudmu?"
"Mungkin keluarga Pratama sepakat untuk tidak mempermasalahkan penggelapan uang itu, asalkan Ardi Sukma membantu menutup kasus kecelakaan Elena dan juga kasus narkoba Andi," jelas Sarah. "Itu akan menjelaskan mengapa Arya menghilang, dan mengapa Dian sekarang diburu."
Wajah Bayu mengeras. Pemikiran itu memang masuk akal. Sebuah kesepakatan gelap untuk melindungi keluarga.
"Kalau begitu, ini bukan lagi tentang melindungi nama baik keluarga," kata Bayu. "Ini tentang kejahatan. Dan Andi mungkin terlibat lebih jauh dari yang kita tahu."
Sarah menghela napas. "Kita tidak bisa menyerah sekarang, Bayu. Kita harus mencari tahu sampai tuntas."
Beberapa hari kemudian, Bayu menerima laporan dari detektif swasta. Mereka berhasil menemukan jejak Arya. Dia tidak menghilang. Dia hanya pindah ke daerah terpencil di luar kota, hidup dalam persembunyian, dan bekerja sebagai penulis lepas dengan nama samaran.
Sarah dan Bayu memutuskan untuk langsung menemuinya. Mereka pergi ke daerah terpencil itu, melewati jalan-jalan sempit dan berliku. Akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah kecil yang tersembunyi di balik pepohonan rindang.
Bayu mengetuk pintu. Seorang pria dengan rambut acak-acakan dan kacamata tebal membuka pintu. Ia tampak kurus dan lelah, namun matanya masih memancarkan kecerdasan.
"Arya?" tanya Bayu.
Pria itu terkejut. "Siapa kalian?"
"Saya Bayu Pratama. Dan ini Sarah, istri saya," kata Bayu. "Kami datang untuk berbicara tentang Elena, Andi, dan rahasia yang Anda selidiki."
Wajah Arya berubah tegang. Ia mencoba menutup pintu, namun Bayu menahannya.
"Kami tidak bermaksud buruk, Arya," kata Sarah. "Kami hanya ingin tahu kebenaran. Dian Kencana sekarang menghilang. Kami curiga dia dalam bahaya karena rahasia yang sama yang Anda tahu."
Arya menatap mereka bergantian, tampak ragu. Akhirnya, ia menghela napas dan membuka pintu lebar-lebar. "Masuklah."
Mereka masuk ke dalam rumah yang sederhana. Ruangan itu penuh dengan buku, tumpukan kertas, dan peralatan fotografi. Jelas sekali bahwa Arya masih seorang jurnalis, meskipun ia hidup dalam persembunyian.
"Jadi, Anda sudah tahu banyak," kata Arya, menatap mereka. "Tentang kecelakaan Elena, balapan liar, dan narkoba Andi."
Bayu mengangguk. "Dan juga tentang keterlibatan Ardi Sukma. Kami curiga dialah yang membuat Anda menghilang."
Arya mengangguk pelan. "Benar. Ardi Sukma memang yang bertanggung jawab atas penghilanganku. Dia mengancam akan membunuhku dan keluargaku jika aku tidak berhenti menyelidiki. Dia punya banyak koneksi kotor, termasuk di kepolisian."
"Dan tentang Dian Kencana?" tanya Sarah. "Apakah dia juga dalam bahaya karena rahasia yang sama?"
"Kemungkinan besar," jawab Arya. "Dian adalah saksi kunci. Dia tahu semua detailnya, termasuk bagaimana Ardi Sukma memanipulasi kasus kecelakaan itu agar tidak melibatkan keponakannya, Doni, dan bagaimana ia juga menutupi kasus narkoba Andi."
"Jadi, keluarga Pratama bersekongkol dengan Ardi Sukma?" tanya Bayu, suaranya sedikit bergetar. Ia tampaknya sulit menerima kenyataan pahit ini.
Arya menghela napas. "Tidak sepenuhnya bersekongkol, tapi mereka memang terlibat dalam kesepakatan gelap itu. Ayahmu, Pak Hadi, setuju untuk tidak mempermasalahkan kasus penggelapan uang yang dilakukan perusahaan Ardi Sukma, asalkan Ardi membantu menutupi kasus kecelakaan Elena dan narkoba Andi. Mereka ingin melindungi nama baik keluarga, dan juga masa depan Andi."
Dunia Sarah terasa berputar. Semua yang ia kira tentang pernikahan ini, tentang kehormatan keluarga, kini runtuh. Ini bukan sekadar pernikahan yang dipaksakan. Ini adalah bagian dari konspirasi yang lebih besar, lebih gelap.
"Dan Andi... apakah dia tahu tentang kesepakatan ini?" tanya Sarah.
"Tidak sepenuhnya," jawab Arya. "Dia tahu ayahnya berusaha menutupi kasus kecelakaan itu, tapi dia tidak tahu seberapa jauh keterlibatan Ardi Sukma, atau bahwa ini melibatkan kesepakatan finansial. Dia hanya ingin menghilang dari semua masalah ini, dari rasa bersalahnya."
"Lalu, kenapa Dian menelepon Bayu sekarang?" tanya Sarah. "Dan kenapa dia menghilang setelah itu?"
Arya tampak berpikir keras. "Mungkin ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuatnya merasa terancam lagi. Mungkin dia menemukan bukti baru, atau mungkin ada orang lain yang mendekatinya untuk mencoba memeras informasi."
"Atau mungkin... dia ingin Andi kembali," kata Sarah, sebuah ide muncul di benaknya. "Mungkin dia tahu Andi akan menikah, dan dia tidak ingin Andi hidup dalam kebohongan. Dia ingin kebenaran terungkap."
Arya menatap Sarah, matanya menyiratkan kemungkinan. "Itu bisa jadi. Dian sangat menyayangi Elena, dan juga Andi. Dia mungkin merasa bersalah karena ikut menutupi semua ini selama bertahun-tahun."
"Kita harus menemukan Dian," kata Bayu. "Dia dalam bahaya. Dan dia satu-satunya yang bisa menjelaskan semuanya."
Arya mengangguk. "Aku akan membantu kalian. Aku sudah lelah hidup dalam bayangan seperti ini. Sudah saatnya kebenaran terungkap."
Mereka memutuskan untuk bekerja sama dengan Arya. Dengan bantuan Bayu dan koneksi Arya yang masih ada, mereka mulai melacak Dian Kencana lagi. Kali ini, dengan informasi yang lebih lengkap, mereka yakin bisa menemukannya.
Sarah merasa lega sekaligus takut. Lega karena ia akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Takut karena kebenaran itu jauh lebih mengerikan daripada yang ia duga.
Malam itu, Sarah dan Bayu kembali ke apartemen. Suasana di antara mereka terasa berbeda. Dinginnya Bayu sedikit melunak, digantikan oleh rasa putus asa dan tekad yang kuat. Sarah menatapnya. Ia tidak lagi melihat boneka es, melainkan seorang pria yang memikul beban berat, dan kini harus menghadapi konsekuensi dari rahasia keluarganya.
"Aku minta maaf, Sarah," kata Bayu tiba-tiba, suaranya rendah. "Karena telah menyeretmu ke dalam semua kekacauan ini. Aku tahu ini tidak adil bagimu."
Sarah menatapnya, ada kehangatan yang tak terduga muncul di hatinya. Ini adalah kali pertama Bayu menunjukkan penyesalan, atau bahkan sedikit rasa bersalah kepadanya.
"Kita sudah terikat, Bayu," jawab Sarah, mencoba tersenyum tipis. "Kita harus menghadapinya bersama."
Bayu menatapnya lama, tatapannya menyiratkan sesuatu yang baru. Bukan lagi dingin, melainkan sebuah pengertian yang mendalam. Ia mengangguk. "Terima kasih, Sarah."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Sarah merasa ada sedikit harapan. Harapan bahwa mereka bisa melewati badai ini bersama. Namun, ia juga tahu, perjalanan ini baru saja dimulai. Dan rahasia yang belum terungkap mungkin akan jauh lebih gelap dari yang bisa mereka bayangkan.
Apa yang akan mereka temukan dari Dian Kencana? Apakah Andi akan kembali? Dan bagaimana mereka akan mengungkap semua konspirasi ini, menghadapi Ardi Sukma, dan melindungi diri mereka sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu masih mengawang, menanti jawaban di babak selanjutnya.