Nadia menarik kedua tanganku agar menyentuh kedua bukit kembarnya, pertama-tama rasanya sungkan karena ini pertama kali aku menyentuh benda kenyal itu, ukuran dada Nadia sangat besar dan montok aku rasa dia suntik agar dadanya terlihat penuh dan menggoda. Aku coba meremasnya pelan, teksturnya seperti squizy kenyal-kenyal empuk. Remasan pelanku berubah dari lebih keras karena gemas.
"Akh!!!" Nadia mendesah, aku tahu itu suara desahan karena dia menikmati remasan tanganku di kedua bukit kembarnya. Baru dari luar saja ku pegang dia mendesah seperti itu, gimana kalau langsung.
Sepertinya wanita itu tau isi hatiku, dia mulai membuka kemejanya sampai kancing terakhirnya.
Shit!!! Mataku terkontaminasi dengan kedua bukit kembar milik Nadia yang hampir keluar dari penutupnya.
Sepertinya dia sudah tidak sabar, Nadia langsung naik keatas pangkuanku posisi ku saat ini berhadapan langsung dengan kedua bukit kembar milik Nadia.
Sekali tarik pengait bra miliknya langsung terlepas dan wow ... dua buah itu nyata didepan mataku yang sudah berkabut.
Nadia meremas rambutku dan mendorong wajahku menempel kedadanya, aku tahu apa yang dia harapkan. Menghisapnya, akan kulakukan dengan senang hati.
Seperti bayi yang kehausan, ku hisap kuat ujung puncak salah satu bukit kembar milik Nadia yang berwarna cokelat muda, dan satu tanganku melintir ujung satunya seperti mencari frekuensi radio kuputar-putar gemas.
"Akh!!! Vano ... hisap lebih kuat, sayang. Akh ..." teriak Nadia sambil meremas rambutku dan tidak mengizinkanku melepaskan dari dadanya malah dia semakin mendorong kepalaku sampai terbenam didadanya.
Tanganku yang satu menahan punggungnya agar dia tidak jatuh kebelakang karena tubuhnya sampai melengkung, dadanya membusung sampai aku puas menghisapnya.
Setelah puas bermain dibagian atas tubuhnya Nadia minta lebih.
Plop!!! Hisapanku terlepas paksa karena Nadia menarik rambutku dan mengarahkannya kebagian bawah tubuhnya setelah dia berbaring ditas meja tamu.
"Jilat, sayang." Pintanya
Wow!!! Sumpah ini pertama kali aku melihat milik wanita secara langsung, biasanya hanya lewat video saja. Tapi sekarang tepat didepan mataku lubang surgawi ada didalam sana kata orang-orang.
Aku praktekkan semua yang pernah aku tonton. Wangi khas yang keluar disertai pelumas alami dari dalam membuatku tambah bersemangat. Rasanya aneh tapi lama-lama jadi enak. Wanita itu sudah basah sejak awal dia melebarkan kakinya.
"Sssttt!!! Ahhh!!! Benar, sayang. Disana, iya ujungnya itu yang enak ... terus ... ahhh ..." Nadia terus saja memekik keenakan baru bertemu lidahku dia sudah seperti cacing kepanasan tubuhnya tidak bisa diam dia terus meliuk-liuk.
Sama seperti waktu aku bermain di dadanya dia terus meremas rambutku dan menekannya disana membuatku tidak dapat bergerak.
Permainanku ku kombinasi dengan jemariku, gundukan kecil yang ada ditengah itu tombolnya. Aku kitik-kitik disana Nadia tambah menjerit.
"Enak yah?" tanyaku, pertanyaan bodoh harusnya gak usah ditanya. Jeritan, desahan dan pekikannya sudah mewakilkan.
Untung cafe sudah tutup dan semua karyawan sudah pulang, kalau tidak bisa digrebek kami berdua. Dia bu boss bisa tetap membuka cafenya sedangkan aku pasti langsung dipecat pak boss klo ada yang mengadu.
Rasa ingin tahuku bertambah, ku masukan satu jari tengahku dan ku lihat ekspresinya biasa saja mungkin karena sudah tidak perawan lagi jariku tidak ada rasanya didalam sana, ku masukan dua jari ekspresinya mulai berubah sampai ku tambah satu jari lagi jadi tiga, dia mulai tersenyum penuh arti. Aku mulai memaju mundurkan ketiga jariku disana Nadia mulai mendesah, dua bukit kembarnya tidak ku biarkan menganggur, bergantian ku hisap dan puncaknya sesekali ku mainkan dengan lidahku.
Erangan Nadia sudah tidak karuan tubuhnya sampai melengkung keatas dan tiba-tiba dia mengejang tangannya meremas lenganku sangat kuat.
"Vino ... ahhh ... Aku keluar sayang ..." rancunya.
Tanpa dia bilang aku juga tau dia sudah sampai puncaknya, puncak kenikmatan karena jemariku sudah sangat basah.
Kukira sudah sampai disitu saja keinginannya ternyata dia bangun dari meja ruang tamu lalu mendorongku sampai aku jatuh duduk bersandar disofa, dengan cepat dia membuka ikat pinggang dan celana jeans yang ku pakai.
Aku tidak tahu punya pak bos sebesar apa tapi melihat ekspresi Nadia ketika melihat benda pusakaku yang sangat berharga muncul kepermukaan wajahnya seperti mendapatkan harta karun. Sepertinya punya pak boss gak ada apa-apanya dibandingkan milikku.
Dengan jemarinya yang mungil dan lentik dia mulai menggenggam dan menjilatnya. Seperti makan ice cream Nadia mulai menjilati sekeliling adik kecilku yang saat ini sudah tumbuh besar dan kuat karena kuluman Nadia.
"Nadia ... awas, aku mau keluar nih ... OHHH!!!" teriakku puas.
Wanita itu benar-benar lihai, aku sampai memuntahkan cairan kental milikku di mulutnya, ku kira dia akan marah padaku tapi dia malah senang dan menelannya tanpa rasa geli sekalipun ... Gila!!!
Setelah itu Nadia langsung naik keatas panguanku dan dengan tangannya sendiri dia memasukan benda pusaka milikiku kedalam miliknya.
"Ooohhh," desahnya, kemudian dia mulai bergoyang maju mundur, naik turun, berputar-putar.
Benar kata orang, lubang surgawi wanita sungguh nikmat luar biasa. Ini yang membuat para pria terperangkap jika sudah merasakannya.
Kedua bukit kembar Nadia ikut bergoyang mengikuti gerakan pemiliknya, membuatku tambah gemas dan ingin memakannya.
Ku tarik punggungnya agar dadanya mendekati wajahku. Tak bisa ku ceritakan bagaimana rasanya digampar bolak balik oleh dua gundukan besar kenyal.
Seperti menunggang kuda liar, Nadia semakin liar memmbuatku kewalahan melayani nafsunya. Keringat kami berdua menyatu. Tubuhnya tambah terlihat sexy karena glowing. Ujung rambutnya sudah basah. Tapi dia masih kuat bergoyang sampai akhirnya kami berdua sama-sama mencapai puncak kenikmatan itu.
"Luar dalem?" Tanyaku, aku takut dia hamil.
"Akh!!! Dalam aja sayang ... ahh." jawabnya dengan nafas terengah.
"AHH!!! NADIA,"
"VANO,"
Teriak kami berdua bersamaan karena kami sama-sama puas saat itu. Tubuh Nadia langsung jatuh didalam pelukanku, aku tahu betapa letihnya dia habis bekerja keras. Siapa suruh dia memimpin permainan tidak memberiku kesempatan. Aku sih santai aja yang penting bu boss puas aku juga puas.
Kami istirahat sejenak sebelum kembali memakai pakaian kami.
"Kamu luar biasa, Vano. Aku sampai puas berkali-kali," puji Nadia
"Memangnya sama pak boss bagaimana, Bu?" pancingku
"Suamiku tidak sebesar kamu, eh! Maksudku tidak seperti dirimu. Aku tidak percaya kamu masih perjaka," godanya
"Ibu Nadia yang sudah merebut keperjakaanku," ucapku jujur tapi dia malah tertawa dan tidak percaya.
Tawanya terhenti ketika ponselnya berbunyi, pak boss yang telpon ternyata. Dia memberiku kode agar diam dengan jemari telunjuk yang menempel diantara bibir dan hidungnya yang mancung.
"Iya, sayang. Aku masih di cafe, lagi banyak kerjaan soalnya. Ada beberapa tagihan yang harus aku rekap," ucap Nadia. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti setelah menutup telponnya Nadia menjadi kalap.
"Cepat pakaian dan rapihkan semuanya, suamiku mau jemput." ucapnya
"Kata ibu pak boss lagi keluar kota,"
"Mana aku tau kalau hari ini dia pulang, barusan telpon dia lagi dijalan menuju cafe,"
Aku langsung loncat dari sofa dan langsung memakai pakaianku, setelah rapih aku keluar dari ruangan bu boss diam-diam kaya maling, lalu aku keluar lewat pintu belakang.
Aman!!! Hampir saja ketahuan.
_______________________________________________
Aku pulang dengan memesan ojek online yang sudah ku unggah diponselku. Karena sudah tengah malam lewat hampir pagi, agak susah dapat ojek itu. Padahal aku sudah letih banget ini.
Akhirnya aku dapat juga ojek online yang masih narik, ku kasih dia uang tip yang menurutku sedikit tapi berarti buatnya, dia sampai mengucapkan terimakasih berkali-kali sambil menunduk.
Tiba di kamarku aku langsung tidur karena hari ini sangat melelahkan, sepertinya aku akan minta ijin bu boss sehari tidak masuk.
***
Entah sudah berapa jam aku tertidur, saat ku bangun matahari sudah diatas, panas teriknya sudah berasa sampai kedalam kamarku, kipas angin sampai tidak berasa.
Gerah banget rasanya didalam kamar yang hanya berukuran 3x3 meter ini. Niatku membuka pintu kamar agar ada udara yang masuk, tapi aku malah dikagetkan dengan kehadiran Sari didepan pintu.
Dia langsung berbalik badan saat melihatku membuka pintu hanya memakai boxer dan bertelanjang dada.
"Iiihhh, cepetan pakai baju," ucapnya kala itu
"I-Iya sebentar," balasku dan aku langsung mengambil kaos dan celana pendek sedapatnya di lemari. Setelah rapih baru aku meminta Sari masuk.
"Kemana aja kamu seharian kemarin gak kelihatan, gak kasih kabar, gak balas pesan aku, gak telpon," dia mulai merajuk
"Aku sibuk, sayang. Bu boss cafe mengangkatku jadi manager cafe brarti kerjaanku dan tanggung jawabku bertambah, aku pulang subuh karena cafe ramai. Sampai sini aku langsung tidur." ucapku memberi dia pengertian dengan pekerjaanku.
"Aku kira kamu pergi sama wanita lain,"
"Gak gitu, sayang. Pacarku cuma kamu. Aku kerja buat nabung kita nikah nanti." rayuku agar dia tidak merajuk lagi.
"Seriusan kita nikah?"
"Iya lah ngapain pacaran kalau gak nikah, jagain jodoh orang doang itu namanya," candaku dan berhasil membuat Sari tertawa.
Ternyata Sari datang tidak begitu saja, dia membawa nasi padang kesukaanku. Lumayan makan siang gratis.
Sesekali aku menyuapi Sari makan dengan tanganku sendiri, jemariku mengenai bibirnya dan aku dapat merasakan lembut dan kenyalnya itu bibir, warna merah muda aku yakin belum ada siapapun yang menyentuhnya.
Lamunan ku buyar ketika dia tersedak cabai, dengan sigap aku beri dia air putih untuknya minum.
"Hari ini kamu libur?" tanya Sari
"Iya, aku sudah ijin bu boss hari ini aku minta libur," jawabku
Mengetahui aku libur, Sari memintaku menemaninya ke mall untuk membeli pakaian katanya.
Aku pergi ke mall dengan penampilan celana jeans belel, kaos putih, sepatu kets dan topi, begitu juga dengan Sari sepertinya kami berdua sehati sampai gaya pakaian kami sama, dia juga memakai celana panjang jeans dan kaos putih ketat, sepatu kets dan rambutnya dikuncir ekor kuda menunjukan leher jenjangnya, badan Sari terlihat sangat sintal padat dan berbentuk, kalau mau taruhan aku serahkan semua tabunganku dan bilang dia masih perawan, aku pasti menang.
Kami pergi memakai motor Sari, sesampainya di mall ternyata dia membeli pakaian dalam untuknya, entah apa niatnya mengapa dia mengajakku, apa dia mau mencoba menggodaku.
Beberapa kali kami berdebat soal warna, dia bertanya tapi tidak mau terima saran dariku, untuk apa kalau begitu bertanya. Pilih saja sendiri.
"Kamu mah pilihan warnanya yang jreng-jreng gitu, kata tante-tante girang tau!!!" Protesnya saat ku bilang warna merah dan hijau lumut sebagai pilihan warna pakaian dalam untuknya, dia malah memilih warna yang biasa saja yang kalem. Yah apapun warnanya yang penting isinya untukku.
Setelah puas belanja pakaian dalam untuknya, kami berdua pergi nonton film di bioskop.
Karena aku yang membeli tiket, aku bisa pilih dibangku mana kami duduk, Sari memilih film remaja yang romantis aku sendiri tidak begitu perduli dengan filmnya karena aku punya rencana lain didalam.
Dua tiket sudah ku beli, Sari sempat protes saat ku pesan kursi dipojok atas, aku bilang saja semu kursi penuh padahal tidak, itu bisa-bisanya aku saja.
Didalam film itu ada adegan Kedua tokoh berciuman, aku perhatikan ekspresi Sari yang membayangkan dirinya berciuman.
"Mau merasakan apa yang mereka rasakan?" pancingku sambil meremas lembut jemarinya. Wajahnya penuh dengan harapan tapi dia malu sampai pipinya tambah merona ku lihat.
Pelan ku tempelkan bibirku di bibirnya, dan mulai ku lumat lembut. Ku perlakukan dia dengan hati-hati takut salah langkah nanti dia minta putus repot urusannya.
Aku pemula dan dia lebih pemula lagi, benar-benar polos tidak pernah berciuman, ciuman yang ku berikan tidak lama biar memancing dia saja. Dan ternyata unpanku berhasil, dia minta aku menciumnya lagi sampai nafas kami terengah. Ku bersihkan dengan ibu jariku bekas saliva kami yang belepotan dipinggir bibirnya. Dia terkekeh pelan dan memukul lenganku dengan mata melotot.
Akhirnya film itu selesai kami tonton tanpa tau jalan ceritanya karena kami sibuk sendiri bertukar saliva.
Saat pulang, Sari memelukku erat dari belakang. Mungkin dia masih merasakan apa yang kami lakukan tadi didalam bioskop.
"Ini ciuman pertama kamu yah?" Tanyaku
"Kok kamu tau?"
"Tau aja."
"Kamu sudah sering yah cium cewe?" tanyanya
"Gak kok, baru kamu doang," jawabku bohong kalau jujur dia pasti marah, serba salah kan.
"Bohong banget kamu tuh!" Balasnya
Tuh kan, dia nge-gas duluan, dasar wanita.
***
Tiba dirumah aku langsung memarkirkan motornya digarasi rumah utama, karena magrib baru sampai rumah pk Haji sudah berdiri tegak sambil bertolakpinggang.
Sari langsung memberikan salim dengan mencium tangan ayahnya, ketika aku selesai memarkirkan motornya aku mendekati pak Haji ingin memberi salim juga tapi dia menunjukan rasa tidak sukanya padaku dengan langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumah dengan keras. Aku hanya bisa mengelus dadaku membuat hatiku bersabar menghadapi pria tua itu.
Dia memandangku sebelah mata mentang-mentang aku tidak bayar uang sewa kamar kos, semenjak pacaran dengan Sari ku akui aku tidak lagi bayar uang sewa karena Sari dan ibunya melarang, ibunya lebih menerimaku dari pada ayahnya. Pantas saja putrinya jadu perawan tua, semua laki-laki takut ngapel kerumah Sari karena ayahnya galak.
Sampai dikamar langsung ku jatuhkan diriku dikasur, rasanya badan ini lelah sekali. Setelah istirahat sebentar aku langsung mandi, semalam apapun aku sampai rumah pasti aku mandi untuk membersihkan badan dari virus dan bakteri dari luar, lagian tidur akan terasa nyaman kalau tubuh kita bersih.
Sebelum tidur kebiasaan memeriksa ponselku, membalas pesan dan email yang masuk. Kalau aku lagi rajin sebentar berselancar disosial media milikku. Memposting kalimat bijak dan foto terbaruku. Aku jarang aktif disana tapi sekalinya aku posting pasti banyak yang komen entah apa kerjaan mereka itu.
_______________________________________________