Bab 1

Pagi ini aku terbangun disebuah kamar hotel bersama seorang wanita didalam pelukanku, yang usianya jauh diatasku.

Walaupun setengah tua tapi penampilannya tidak kalah dengan wanita muda usia 20 Tahunan. Dia sangat pintar merawat dirinya sampai aku terbuai dengan kemolekan tubuhnya.

Dia istri seorang CEO dan aku hanya supir pribadi istri CEO, tidak usah melotot membacanya, kalian benar saat ini yang sedang tidur didalam pelukanku kini adalah majikanku sendiri. Aku sendiri tidak menyangka bisa bersamanya sekarang.

Semalam adalah malam kesekian kami, awal bekerja menjadi supir Nyonya jangankan menyentuhnya menatapnya saja aku tidak berani karena dia termasuk istri yang galak. Aku yang kala itu baru bekerja menjadi takut padanya.

Oia, perkenalkan namaku Devano Sebastian. Ibuku sudah meninggal sejakku kecil dan ayahku pria brengsek yang tidak bertanggung jawab ketika mengetahui ibuku hamil.

Ku ceritakan kisahku yah jauh sebelum aku berada dikamar ini bersama Nyonya besar.

Aku dari Desa terpencil bermodal nekat pergi ke Kota besar dengan maksud mengais rejeki agar perekonomian keluarga kami membaik, aku hanya hidup dengan nenekku saja di Desa terpencil itu. Kata nenekku aku mirip ayahku yang ada campuran bule dan arab. Tubuh tinggi besar gagah sudah menjadi gen yang mengalir ditubuhku saat ini. Walaupun aku tidak pernah bertemu dengannya tapi yang pasti ku tahu ibuku pasti terpesona dengan ayahku dulu sampai dia hamil diluar nikah tapi sialnya pria itu tidak sebagus penampilannya. Akhlaknya buruk dengan pergi meninggalkan ibuku saat tahu dia hamil.

Aku lulus STM dengan beasiswa, nenekku hanya pembuat dan penjual emping aku tidak bisa melanjutkan kuliah seperti teman - teman yang lain.

Berat sebenarnya meninggalkan nenekku seorang diri dirumah, tapi pikirku sampai kapan kehidupan kami seperti ini. Beliau juga berat hati melepaskan pergi ke Kota tanpa keluarga disana.

Bermodal restu nenek aku pergi ke Kota Besar. Dan disinilah aku sekarang, Kota yang tidak pernah tidur kata orang-orang. Seorang diri dengan uang seadanya aku mulai mencari kontrakan kecil dan murah didalam gang sempit dan ramai, bermacam model orang ada disini. Yang punya kontrakan pak Haji galaknya minta ampun, dan dia memiliki anak gadis eh! Gadis atau tidak aku tidak tau pokoknya masih sendiri belum menikah, kalau di Desaku gadis seumuran dia sudah tiga kali menjanda. Tapi dia belum menikah, orang bilang dia perawan tua.

Aku sendiri tidak langsung menjudgenya seperti itu, mungkin dia terlalu pemilih sampai saat ini belum menikah atau pernah ada pria yang menyakitinya sampai dia trauma dan memilih tidak menikah, banyak faktor X.

Kontrakanku hanya sekamar lebih tepatnya kos-an dan itu diujung posissinya, jadi kalau mau kekamarku kalian akan melewati beberapa kamar dulu.

Sebulan aku mencari pekerjaan kesana kemari tapi tidak dapat juga, ternyata di Kota Besar tidak bisa kerja kantoran dengan modal ijasah STM saja. Dibengkel saja minta minimal pendidikan D3, gila!.

Tetanggaku mengajakku berjualan cangcimen, kalian tahu apa itu cangcimen? Cangcimen itu singkatan kacang, ciki, permen. Dengan modal kotak berisi cangcimen dengan tali yang kaitkan melintang ditubuh aku berjualan keliling terminal bus sampai masuk kedalam bus, malamnya aku kembalikan sama tetanggaku itu beserta uangnya disetorkan padanya, dia memberikan imbalan harian padaku jadi kalau aku gak jualan yah gak dapet duit.

Sampai tiba waktunya bayar kontrakan, walaupun murah tapi kalau lagi gak ada duit bagaimana bayarnya, minta nenek dikampung gak mungkin lah.

Saat itu entah dari mana datangnya akal licik itu, aku dekati putrinya pak Haji pelan - pelan, dengan pesona yang ku punya akhirnya Sari masuk perankapku. Aku dan Sari pacaran, setiap malam minggu kami pergi jalan-jalan seperti pasangan muda mudi pada umumnya tapi semua pengeluaran dari Sari, duit dia lebih banyak dari duitku, bapaknya juragan kontrakan.

"Sayang, kalau nanti aku sudah kerja aku akan ganti semua uang yang kita pakai," ucapku basa basi janji palsu

"Santai aja sih, Yang. Duit aku kan duit kamu juga." Ucapnya. Ini yang ku suka dari cewe yang bucin dia tidak akan perhitungan yang penting bisa bersamaku dia rela mengeluarkan berapapun uangnya.

Dua bulan kemudiannya aku dapat lowongan kerja dari Sari katanya ada cafe yang butuh pelayan, dengan senang hati aku lamar pekerjaan itu karena koneksi dari teman ke teman aku diterima tanpa seleksi resmi.

Satu bulan aku bekerja disana langsung diangkat jadi manager cafe, semua karyawan disana iri sama aku. Padahal aku gak berbuat apa-apa hanya bekerja rajin dan bu boss melihat kinerjaku makanya aku diangkat jadi manager cafe.

Suatu hari saat cafe rame dan tutup lebih dari tengah malam. Sebagai manager cafe aku pulang terakhir karena harus pastikan cafe bersih biar besok bisa langsung buka lagi. Saatku mau pulang ternyata ruangan bu boss masih menyala.

Aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu dengan maksud mau mematikan lampu dan pendingin ruangan yang masih menyala. Betapa kagetnya diriku saat berpapasan dengan bu boss, aku mau masuk keruangannya sedangkan dia mau keluar. Tubuh kami bertabrakan dan dia hampir jatuh kalau aku tidak tahan pinggangnya dengan tanganku, seperti diadegan sinetron begitu juga posisi kami saat itu.

Aku melepaskan dirinya ketika kurasa dia sudah bisa berdiri tegak karena hak tinggi yang dia pakai kakinya jadi terkilir dan nyeri saat berdiri.

"Akh!!!" teriak Nadia saat itu.

"Ibu Nadia kenapa?" tanyaku

"Kakiku sepertinya terkilir,"

"Ibu duduk dulu disofa nanti saya pijat."

Malam itu awalnya aku tulus memijat pergelangan kaki bu boss tapi ternyata benda pusakaku merespon lain karena kaki jenjang mulus milik Nadia berada dipahaku sekarang. Dengan rok pendek dan kemeja ketat bagian dadanya seakan mau berontak membuat naluri laki-lakiku muncul seketika.

Bukan aku yang mulai tapi dia, awalnya dia membuka percakapan menanyakan hubunganku dengan pacarku dia ingin tahu apa aku pernah berhubungan lebih jauh sama Sari, aku katakan jujur kalau aku belum pernah melakukan hubungan dengan wanita manapun. Aku masih perjaka ting ting dari Desa.

Nadia menawarkan dirinya, katanya dia mau mengajariku.

"Tapi, Bu. Kalau pak boss datang menjemput bagaimana?" Tanyaku takut-takut kepergok suaminya.

"Ck! panggil aku Nadia, Vano. Suamiku juga sedang keluar kota jadi dia tidak akan datang menjemputku sekarang," jawab Nadia.

Dengan senang hati aku mengikuti keinginannya.

Awalnya dia mulai mencium bibirku dengan lembut dan aku membalasnya, lembut ... pelan ... Tapi lama kelamaan menjadi menuntut, lidahnya bermain didalam mencari lidahku yang masih kaku. Aku berusaha mengimbangi permainan ciumannya sampai kami berdua terengah, nafas kami memburu.

Karena sudah on dengan sendirinya naluriku sebagai laki-laki ingin memuaskan wanita, dan terpuaskan juga tentunya. Bermodalkan film biru yang ku lihat di video ku coba praktekan.

_______________________________________________

Bab 2

Nadia menarik kedua tanganku agar menyentuh kedua bukit kembarnya, pertama-tama rasanya sungkan karena ini pertama kali aku menyentuh benda kenyal itu, ukuran dada Nadia sangat besar dan montok aku rasa dia suntik agar dadanya terlihat penuh dan menggoda. Aku coba meremasnya pelan, teksturnya seperti squizy kenyal-kenyal empuk. Remasan pelanku berubah dari lebih keras karena gemas.

"Akh!!!" Nadia mendesah, aku tahu itu suara desahan karena dia menikmati remasan tanganku di kedua bukit kembarnya. Baru dari luar saja ku pegang dia mendesah seperti itu, gimana kalau langsung.

Sepertinya wanita itu tau isi hatiku, dia mulai membuka kemejanya sampai kancing terakhirnya.

Shit!!! Mataku terkontaminasi dengan kedua bukit kembar milik Nadia yang hampir keluar dari penutupnya.

Sepertinya dia sudah tidak sabar, Nadia langsung naik keatas pangkuanku posisi ku saat ini berhadapan langsung dengan kedua bukit kembar milik Nadia.

Sekali tarik pengait bra miliknya langsung terlepas dan wow ... dua buah itu nyata didepan mataku yang sudah berkabut.

Nadia meremas rambutku dan mendorong wajahku menempel kedadanya, aku tahu apa yang dia harapkan. Menghisapnya, akan kulakukan dengan senang hati.

Seperti bayi yang kehausan, ku hisap kuat ujung puncak salah satu bukit kembar milik Nadia yang berwarna cokelat muda, dan satu tanganku melintir ujung satunya seperti mencari frekuensi radio kuputar-putar gemas.

"Akh!!! Vano ... hisap lebih kuat, sayang. Akh ..." teriak Nadia sambil meremas rambutku dan tidak mengizinkanku melepaskan dari dadanya malah dia semakin mendorong kepalaku sampai terbenam didadanya.

Tanganku yang satu menahan punggungnya agar dia tidak jatuh kebelakang karena tubuhnya sampai melengkung, dadanya membusung sampai aku puas menghisapnya.

Setelah puas bermain dibagian atas tubuhnya Nadia minta lebih.

Plop!!! Hisapanku terlepas paksa karena Nadia menarik rambutku dan mengarahkannya kebagian bawah tubuhnya setelah dia berbaring ditas meja tamu.

"Jilat, sayang." Pintanya

Wow!!! Sumpah ini pertama kali aku melihat milik wanita secara langsung, biasanya hanya lewat video saja. Tapi sekarang tepat didepan mataku lubang surgawi ada didalam sana kata orang-orang.

Aku praktekkan semua yang pernah aku tonton. Wangi khas yang keluar disertai pelumas alami dari dalam membuatku tambah bersemangat. Rasanya aneh tapi lama-lama jadi enak. Wanita itu sudah basah sejak awal dia melebarkan kakinya.

"Sssttt!!! Ahhh!!! Benar, sayang. Disana, iya ujungnya itu yang enak ... terus ... ahhh ..." Nadia terus saja memekik keenakan baru bertemu lidahku dia sudah seperti cacing kepanasan tubuhnya tidak bisa diam dia terus meliuk-liuk.

Sama seperti waktu aku bermain di dadanya dia terus meremas rambutku dan menekannya disana membuatku tidak dapat bergerak.

Permainanku ku kombinasi dengan jemariku, gundukan kecil yang ada ditengah itu tombolnya. Aku kitik-kitik disana Nadia tambah menjerit.

"Enak yah?" tanyaku, pertanyaan bodoh harusnya gak usah ditanya. Jeritan, desahan dan pekikannya sudah mewakilkan.

Untung cafe sudah tutup dan semua karyawan sudah pulang, kalau tidak bisa digrebek kami berdua. Dia bu boss bisa tetap membuka cafenya sedangkan aku pasti langsung dipecat pak boss klo ada yang mengadu.

Rasa ingin tahuku bertambah, ku masukan satu jari tengahku dan ku lihat ekspresinya biasa saja mungkin karena sudah tidak perawan lagi jariku tidak ada rasanya didalam sana, ku masukan dua jari ekspresinya mulai berubah sampai ku tambah satu jari lagi jadi tiga, dia mulai tersenyum penuh arti. Aku mulai memaju mundurkan ketiga jariku disana Nadia mulai mendesah, dua bukit kembarnya tidak ku biarkan menganggur, bergantian ku hisap dan puncaknya sesekali ku mainkan dengan lidahku.

Erangan Nadia sudah tidak karuan tubuhnya sampai melengkung keatas dan tiba-tiba dia mengejang tangannya meremas lenganku sangat kuat.

"Vino ... ahhh ... Aku keluar sayang ..." rancunya.

Tanpa dia bilang aku juga tau dia sudah sampai puncaknya, puncak kenikmatan karena jemariku sudah sangat basah.

Kukira sudah sampai disitu saja keinginannya ternyata dia bangun dari meja ruang tamu lalu mendorongku sampai aku jatuh duduk bersandar disofa, dengan cepat dia membuka ikat pinggang dan celana jeans yang ku pakai.

Aku tidak tahu punya pak bos sebesar apa tapi melihat ekspresi Nadia ketika melihat benda pusakaku yang sangat berharga muncul kepermukaan wajahnya seperti mendapatkan harta karun. Sepertinya punya pak boss gak ada apa-apanya dibandingkan milikku.

Dengan jemarinya yang mungil dan lentik dia mulai menggenggam dan menjilatnya. Seperti makan ice cream Nadia mulai menjilati sekeliling adik kecilku yang saat ini sudah tumbuh besar dan kuat karena kuluman Nadia.

"Nadia ... awas, aku mau keluar nih ... OHHH!!!" teriakku puas.

Wanita itu benar-benar lihai, aku sampai memuntahkan cairan kental milikku di mulutnya, ku kira dia akan marah padaku tapi dia malah senang dan menelannya tanpa rasa geli sekalipun ... Gila!!!

Setelah itu Nadia langsung naik keatas panguanku dan dengan tangannya sendiri dia memasukan benda pusaka milikiku kedalam miliknya.

"Ooohhh," desahnya, kemudian dia mulai bergoyang maju mundur, naik turun, berputar-putar.

Benar kata orang, lubang surgawi wanita sungguh nikmat luar biasa. Ini yang membuat para pria terperangkap jika sudah merasakannya.

Kedua bukit kembar Nadia ikut bergoyang mengikuti gerakan pemiliknya, membuatku tambah gemas dan ingin memakannya.

Ku tarik punggungnya agar dadanya mendekati wajahku. Tak bisa ku ceritakan bagaimana rasanya digampar bolak balik oleh dua gundukan besar kenyal.

Seperti menunggang kuda liar, Nadia semakin liar memmbuatku kewalahan melayani nafsunya. Keringat kami berdua menyatu. Tubuhnya tambah terlihat sexy karena glowing. Ujung rambutnya sudah basah. Tapi dia masih kuat bergoyang sampai akhirnya kami berdua sama-sama mencapai puncak kenikmatan itu.

"Luar dalem?" Tanyaku, aku takut dia hamil.

"Akh!!! Dalam aja sayang ... ahh." jawabnya dengan nafas terengah.

"AHH!!! NADIA,"

"VANO,"

Teriak kami berdua bersamaan karena kami sama-sama puas saat itu. Tubuh Nadia langsung jatuh didalam pelukanku, aku tahu betapa letihnya dia habis bekerja keras. Siapa suruh dia memimpin permainan tidak memberiku kesempatan. Aku sih santai aja yang penting bu boss puas aku juga puas.

Kami istirahat sejenak sebelum kembali memakai pakaian kami.

"Kamu luar biasa, Vano. Aku sampai puas berkali-kali," puji Nadia

"Memangnya sama pak boss bagaimana, Bu?" pancingku

"Suamiku tidak sebesar kamu, eh! Maksudku tidak seperti dirimu. Aku tidak percaya kamu masih perjaka," godanya

"Ibu Nadia yang sudah merebut keperjakaanku," ucapku jujur tapi dia malah tertawa dan tidak percaya.

Tawanya terhenti ketika ponselnya berbunyi, pak boss yang telpon ternyata. Dia memberiku kode agar diam dengan jemari telunjuk yang menempel diantara bibir dan hidungnya yang mancung.

"Iya, sayang. Aku masih di cafe, lagi banyak kerjaan soalnya. Ada beberapa tagihan yang harus aku rekap," ucap Nadia. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti setelah menutup telponnya Nadia menjadi kalap.

"Cepat pakaian dan rapihkan semuanya, suamiku mau jemput." ucapnya

"Kata ibu pak boss lagi keluar kota,"

"Mana aku tau kalau hari ini dia pulang, barusan telpon dia lagi dijalan menuju cafe,"

Aku langsung loncat dari sofa dan langsung memakai pakaianku, setelah rapih aku keluar dari ruangan bu boss diam-diam kaya maling, lalu aku keluar lewat pintu belakang.

Aman!!! Hampir saja ketahuan.

_______________________________________________

Bab 3

Aku pulang dengan memesan ojek online yang sudah ku unggah diponselku. Karena sudah tengah malam lewat hampir pagi, agak susah dapat ojek itu. Padahal aku sudah letih banget ini.

Akhirnya aku dapat juga ojek online yang masih narik, ku kasih dia uang tip yang menurutku sedikit tapi berarti buatnya, dia sampai mengucapkan terimakasih berkali-kali sambil menunduk.

Tiba di kamarku aku langsung tidur karena hari ini sangat melelahkan, sepertinya aku akan minta ijin bu boss sehari tidak masuk.

***

Entah sudah berapa jam aku tertidur, saat ku bangun matahari sudah diatas, panas teriknya sudah berasa sampai kedalam kamarku, kipas angin sampai tidak berasa.

Gerah banget rasanya didalam kamar yang hanya berukuran 3x3 meter ini. Niatku membuka pintu kamar agar ada udara yang masuk, tapi aku malah dikagetkan dengan kehadiran Sari didepan pintu.

Dia langsung berbalik badan saat melihatku membuka pintu hanya memakai boxer dan bertelanjang dada.

"Iiihhh, cepetan pakai baju," ucapnya kala itu

"I-Iya sebentar," balasku dan aku langsung mengambil kaos dan celana pendek sedapatnya di lemari. Setelah rapih baru aku meminta Sari masuk.

"Kemana aja kamu seharian kemarin gak kelihatan, gak kasih kabar, gak balas pesan aku, gak telpon," dia mulai merajuk

"Aku sibuk, sayang. Bu boss cafe mengangkatku jadi manager cafe brarti kerjaanku dan tanggung jawabku bertambah, aku pulang subuh karena cafe ramai. Sampai sini aku langsung tidur." ucapku memberi dia pengertian dengan pekerjaanku.

"Aku kira kamu pergi sama wanita lain,"

"Gak gitu, sayang. Pacarku cuma kamu. Aku kerja buat nabung kita nikah nanti." rayuku agar dia tidak merajuk lagi.

"Seriusan kita nikah?"

"Iya lah ngapain pacaran kalau gak nikah, jagain jodoh orang doang itu namanya," candaku dan berhasil membuat Sari tertawa.

Ternyata Sari datang tidak begitu saja, dia membawa nasi padang kesukaanku. Lumayan makan siang gratis.

Sesekali aku menyuapi Sari makan dengan tanganku sendiri, jemariku mengenai bibirnya dan aku dapat merasakan lembut dan kenyalnya itu bibir, warna merah muda aku yakin belum ada siapapun yang menyentuhnya.

Lamunan ku buyar ketika dia tersedak cabai, dengan sigap aku beri dia air putih untuknya minum.

"Hari ini kamu libur?" tanya Sari

"Iya, aku sudah ijin bu boss hari ini aku minta libur," jawabku

Mengetahui aku libur, Sari memintaku menemaninya ke mall untuk membeli pakaian katanya.

Aku pergi ke mall dengan penampilan celana jeans belel, kaos putih, sepatu kets dan topi, begitu juga dengan Sari sepertinya kami berdua sehati sampai gaya pakaian kami sama, dia juga memakai celana panjang jeans dan kaos putih ketat, sepatu kets dan rambutnya dikuncir ekor kuda menunjukan leher jenjangnya, badan Sari terlihat sangat sintal padat dan berbentuk, kalau mau taruhan aku serahkan semua tabunganku dan bilang dia masih perawan, aku pasti menang.

Kami pergi memakai motor Sari, sesampainya di mall ternyata dia membeli pakaian dalam untuknya, entah apa niatnya mengapa dia mengajakku, apa dia mau mencoba menggodaku.

Beberapa kali kami berdebat soal warna, dia bertanya tapi tidak mau terima saran dariku, untuk apa kalau begitu bertanya. Pilih saja sendiri.

"Kamu mah pilihan warnanya yang jreng-jreng gitu, kata tante-tante girang tau!!!" Protesnya saat ku bilang warna merah dan hijau lumut sebagai pilihan warna pakaian dalam untuknya, dia malah memilih warna yang biasa saja yang kalem. Yah apapun warnanya yang penting isinya untukku.

Setelah puas belanja pakaian dalam untuknya, kami berdua pergi nonton film di bioskop.

Karena aku yang membeli tiket, aku bisa pilih dibangku mana kami duduk, Sari memilih film remaja yang romantis aku sendiri tidak begitu perduli dengan filmnya karena aku punya rencana lain didalam.

Dua tiket sudah ku beli, Sari sempat protes saat ku pesan kursi dipojok atas, aku bilang saja semu kursi penuh padahal tidak, itu bisa-bisanya aku saja.

Didalam film itu ada adegan Kedua tokoh berciuman, aku perhatikan ekspresi Sari yang membayangkan dirinya berciuman.

"Mau merasakan apa yang mereka rasakan?" pancingku sambil meremas lembut jemarinya. Wajahnya penuh dengan harapan tapi dia malu sampai pipinya tambah merona ku lihat.

Pelan ku tempelkan bibirku di bibirnya, dan mulai ku lumat lembut. Ku perlakukan dia dengan hati-hati takut salah langkah nanti dia minta putus repot urusannya.

Aku pemula dan dia lebih pemula lagi, benar-benar polos tidak pernah berciuman, ciuman yang ku berikan tidak lama biar memancing dia saja. Dan ternyata unpanku berhasil, dia minta aku menciumnya lagi sampai nafas kami terengah. Ku bersihkan dengan ibu jariku bekas saliva kami yang belepotan dipinggir bibirnya. Dia terkekeh pelan dan memukul lenganku dengan mata melotot.

Akhirnya film itu selesai kami tonton tanpa tau jalan ceritanya karena kami sibuk sendiri bertukar saliva.

Saat pulang, Sari memelukku erat dari belakang. Mungkin dia masih merasakan apa yang kami lakukan tadi didalam bioskop.

"Ini ciuman pertama kamu yah?" Tanyaku

"Kok kamu tau?"

"Tau aja."

"Kamu sudah sering yah cium cewe?" tanyanya

"Gak kok, baru kamu doang," jawabku bohong kalau jujur dia pasti marah, serba salah kan.

"Bohong banget kamu tuh!" Balasnya

Tuh kan, dia nge-gas duluan, dasar wanita.

***

Tiba dirumah aku langsung memarkirkan motornya digarasi rumah utama, karena magrib baru sampai rumah pk Haji sudah berdiri tegak sambil bertolakpinggang.

Sari langsung memberikan salim dengan mencium tangan ayahnya, ketika aku selesai memarkirkan motornya aku mendekati pak Haji ingin memberi salim juga tapi dia menunjukan rasa tidak sukanya padaku dengan langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumah dengan keras. Aku hanya bisa mengelus dadaku membuat hatiku bersabar menghadapi pria tua itu.

Dia memandangku sebelah mata mentang-mentang aku tidak bayar uang sewa kamar kos, semenjak pacaran dengan Sari ku akui aku tidak lagi bayar uang sewa karena Sari dan ibunya melarang, ibunya lebih menerimaku dari pada ayahnya. Pantas saja putrinya jadu perawan tua, semua laki-laki takut ngapel kerumah Sari karena ayahnya galak.

Sampai dikamar langsung ku jatuhkan diriku dikasur, rasanya badan ini lelah sekali. Setelah istirahat sebentar aku langsung mandi, semalam apapun aku sampai rumah pasti aku mandi untuk membersihkan badan dari virus dan bakteri dari luar, lagian tidur akan terasa nyaman kalau tubuh kita bersih.

Sebelum tidur kebiasaan memeriksa ponselku, membalas pesan dan email yang masuk. Kalau aku lagi rajin sebentar berselancar disosial media milikku. Memposting kalimat bijak dan foto terbaruku. Aku jarang aktif disana tapi sekalinya aku posting pasti banyak yang komen entah apa kerjaan mereka itu.

_______________________________________________

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED