Dalam gegas Erick melewati jalan sempit yang dipenuhi penumpang di kanan kiri hingga ia sampai ke tujuan. Namun, alangkah terkejutnya ia, seorang wanita berjilbab tengah duduk di kursi yang seharusnya jadi miliknya. Erick bertelak pinggang. "Hei, Mbak atau Ibu-Saya tidak tahu ya, tapi kenapa duduk di kursiku?!" tanyanya dengan suara tajam.
Wanita bertubuh sedikit gemuk itu menoleh. Walaupun pipinya sedikit tembam, wajahnya terlihat manis dengan kulit putih bersih. Ia merengut walau sempat kaget dengan siapa ia bicara.
Tentu saja. Siapa yang tak kenal Erick Adrian, seorang aktor indo yang tengah naik daun. Wajahnya yang bak patung Yunani dengan iris mata sedikit kebiruan, tengah berdiri di hadapan.
Melihat dibentak seperti itu, sang wanita sebal bukan main. Untung, seorang Pramugari buru-buru datang menengahi. Ia menarik wanita itu agar berdiri dan meminta maaf pada Erick. "Eh, maaf, Mas. Pesawat Mbak ini delayed karena rusak, sehingga ia terpaksa ditransfer ke sini. Karena kelas yang lainnya penuh, jadi ia dipindah ke sini."
'Mmh, pasti dari kelas ekonomi. Kurang ajar banget, ini maskapai. Memasukkan orang dari kelas ekonomi ke first class. Harusnya dia dimasukkan ke penerbangan berikutnya saja, bukan ke pesawat ini.' Namun Erick tak mau berkomentar karena dirinya seorang artis terkenal. Ia tak mau gara-gara ini, namanya viral sebagai artis yang sombong, padahal ia sangat kesal. Wanita ini sembarangan duduk di kursi yang sudah dipesannya.
"Maaf ya, Mas?" Pramugari itu kembali meminta maaf dengan menyatukan kedua tangan di depan wajah. Pria itu hanya melihat saja wanita ini dipindah ke tempat yang kebetulan tak jauh darinya.
Erick mencoba tak peduli. Ia menyibukkan diri dengan merapikan duduknya dan melihat ke arah jendela. Karena mereka duduk di satu deret yang sama, pria itu bisa melihat sang wanita sedang sibuk melihat ponsel dari bayangan kaca jendela. Wanita itu sama sekali tak peduli dengan keadaan sekitar.
sang pria memperhatikan dengan dahi berkerut. Biasanya wanita atau seorang gadis akan tergila-gila melihat ketampanannya. Mereka mencuri-curi pandang melihat keberadaan dirinya di dekat mereka, tapi wanita ini tidak. Sang wanita sibuk mengetik dengan ponsel, tanpa peduli keberadaan artis terkenal ini di dalam pesawat.
Erick jadi penasaran, apa yang sedang diketik wanita itu karena sedari tadi jemarinya tak berhenti bergerak. 'Apa dia seorang pebisnis? Ah, sikapku tadi tidak sopan padanya ya?'
Sebenarnya Erick adalah pria yang sopan bila bertemu siapa saja, tapi karena taksinya terjebak kemacetan, mood-nya jadi buruk karena harus mengejar pesawat agar tak ketinggalan. Kini ia menyesal dan ingin berbaikan, tapi rasanya tak mungkin. Ia takut ditolak, di mana penumpang first class itu hampir penuh dan semua orang bisa menyaksikan dirinya dipermalukan di depan mereka.
"Mbak, pesawat hendak berangkat. Sebaiknya, ponselnya dimatikan," sahut Pramugari yang tadi memindahkan wanita itu di sana.
"Oh, maaf." Sang wanita berjilbab mematikan ponselnya. Sekilas tanpa sengaja kedua netranya melihat Erick yang menahan tawa. Tentu saja ia jadi cemberut walaupun kemudian pria itu membuang pandangannya ke depan.
Ia kesal karena pesawatnya delayed dan sekarang bertemu dengan aktor yang menyebalkan. Harinya begitu buruk, karena ia sudah datang lebih pagi tapi pesawat bermasalah. Dipindahkan ke pesawat yang lebih bonafit, ia malah dipermalukan oleh seorang aktor terkenal. 'Mmh, dasar sombong. Memang kamu siapa?'
****
Pria itu terbangun dengan malasnya. Terbayang lagi kejadian tadi malam hingga ia menggerakkan tangannya ke samping, mencari-cari tubuh indah yang menghangatkannya tadi malam. Namun kosong. Ia memutar kepala dan tak menemukan siapa pun di sampingnya. Seketika ia terkejut. Apa ia bermimpi?
Pelan ia duduk dan memastikan penglihatan. Rasanya ia tidak bermimpi. Kemudian pria ini turun dari ranjang dan meraih kimono tidurnya. Ia menggunakannya sambil melangkah keluar kamar.
"Halo, Sayang." Ternyata wanita itu telah berpakaian rapi dan sedang mengaduk-aduk kopi di meja makan. Rambutnya yang panjang bergelombang tengah tergerai indah melewati bahu. Dengan dagu runcing dan wajah yang cantik, ia tersenyum pada Erick.
"Kau mau pergi?" Pria itu menggaruk-garuk rambut hitam bergelombangnya yang berantakan.
Wanita tinggi semampai itu kemudian duduk di kursi terdekat dengan menyilangkan kaki. Terlihat kakinya yang jenjang terbalut celana jeans ketat yang dipakainya. "Aku 'kan sudah bilang, hari ini aku akan berangkat ke Paris. Aku sudah tekan kontrak dengan sebuah agensi model di sana. Ada beberapa proyek yang sudah dijadwalkan untukku, jadi aku tak boleh datang terlambat. Mungkin, aku akan keliling dunia, jadi aku tak bisa pulang dalam jangka waktu dua tahun."
"Tapi, kenapa kau memaksaku untuk tidur denganmu tadi malam? Bagaimana kalau kau tiba-tiba hamil?"
Wanita itu hanya tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih. Ia tampak terlihat tenang. Sang wanita meniup pelan cangkir kopi di tangan, sebelum meneguknya sedikit. "Bukankah semalam kita pakai pengaman?"
"Eufh ...." Erick menghela napas.
Wanita itu beranjak berdiri dan meninggalkannya. "Bye, Erick ...." Ia mengangkat tangannya tanpa melihat.
"Tarra ...."
Terdengar bunyi sepatu hak tinggi wanita itu yang mulai menjauh. Tarra adalah pacar Erick selama 2 tahun. Wanita ini kini tengah mengejar cita-citanya sebagai foto model kelas dunia di Paris mulai hari ini. Kini tinggal pria indo itu sendirian di apartemen.
****
"Bagaimana?" Erick baru saja masuk ke ruangan manajernya. Ia menarik kursi yang berada di depan sehingga mereka duduk berhadapan dengan hanya dipisahkan oleh sebuah meja kerja.
"Sudah datang, Mas, tapi aku belum bilang siapa artisnya. Mas, bicara aja langsung dengannya ya?" Pria muda bertubuh kurus itu mulai berdiri. Ia merapikan berkas di meja dan memasukkannya pada rak buku di belakangnya.
"Maksudmu, kamu bilang keperluannya?" tanya pria bule itu sedikit bingung.
"'Kan Mas mau ubah image playboy-nya jadi artis yang lebih religi, nih. Penulis ini juga menulis cerita yang bagus-bagus, cuma novelnya belum terkenal. Dia author online yang masih baru."
"Jadi ceritanya sesuai dengan yang aku minta?"
"Iya. Aku sudah baca salah satu novelnya kok. Pas banget dengan yang Mas mau."
"Ya, udah. Biar aku yang bicara." Pria bule itu berdiri dengan bersemangat. Ia yakin bisa mendapatkan peran itu, apalagi penulisnya belum terkenal dan ditawari novelnya akan difilmkan. Author mana yang akan menolak?
Ditambah lagi, ia yang akan memainkannya. Tak ada yang akan menyangsikan ketampanan dan kepiawaiannya memainkan peran, karena film-film yang dimainkan selalu laris seperti kacang goreng. Karena itu kekayaannya terus bertambah.
Erick mengikuti sang manajer pindah ruangan. Ia memasuki sebuah ruangan lain di mana ada meja besar buat meeting, di tengah ruangan. Seorang wanita berjilbab sedikit panjang duduk menyamping sambil memainkan ponselnya. Walaupun begitu, Erick segera mengenali wanita ini. Wanita itu pun terkejut ketika menatap ke arah pintu.
Sang manajer segera memperkenalkan wanita itu pada Erick. "Ini nama penanya, Dara Jamilah." Ia menoleh pada Dara. "Mbak kenal aktor film romantis ini 'kan, Mbak? Erick Adrian."
"Kamu ...."
Beda dengan Erick yang terkejut, wanita ini menekan gigi gerahamnya karena kesal. Ia tak menyangka artis macam apa yang tengah ditawarkan padanya.
"Oh, Mas kenal?" tanya manajernya terkejut.
"Eh, kami sempat ketemu di pesawat tapi tidak kenal," terang Erick pelan.
"Oh, begitu. Kalau begitu, kalian silakan bicara." Manajer Erick mempersilakan.
Aktor itu belum sempat menarik kursinya ketika Dara langsung berdiri. Tingkah wanita itu membuat kedua pria itu bingung melihatnya. Dara membuka tas tali yang disilang di tubuhnya dan memasukkan ponsel itu ke dalamnya. "Maaf, aku tak tertarik." Ia melangkah pergi.
"Hei, kamu pikir kau siapa!" Erick yang kesal dan merasa dilecehkan, kini memaki Dara dengan bertelak pinggang.
Wanita berjilbab itu kini memutar tubuhnya menghadap sang pria bule dengan wajah dingin. "Sehebat-hebatnya kamu, orang hanya ingin melihat kamu di atas ranjang," ucapnya ketus.
"Hei, jaga mulutmu, ya! Itu hanya peran, bukan sungguhan!"
"Bukan sungguhan? Oya? Apa kamu tidak bersentuhan? Melihat tubuhnya? Tidak merasakan hal yang aneh ketika berada dalam satu ranjang?" Dara bertubi-tubi menjejalinya dengan pertanyaan yang menyindir dan pedas.
Sempat terdiam sambil menelan ludah karena kalimat wanita ini seperti menelan jangi dirinya, Erick geram. "Ini hanya pekerjaan. Aku berusaha profesional!" tangkisnya lugas.
"Mmh! Profesional?" Ejek sang wanita, melipat tangan di dada. "Jadi kalau kamu diminta untuk disorot tanpa pakaian, apa kamu akan melakukannya? Bagaimana bisa ada orang pintar membodohimu dengan kalimat 'profesional', dan dengan uang yang banyak sehingga kamu tunduk padanya?"
"Ini bukan masalah uang. Ini semata-mata pekerjaan," elak Erick lirih. Seketika, ia lelah menerangkan pada wanita ini.
"Dan kau nyaman dengan itu? Lalu kenapa kau mencariku?" Dara balik bertanya dengan nada tajam.
"Dia ingin mengubah image playboy-nya, Mbak. Lagipula Mas Erick ini selalu memilih film yang akan dibintanginya. Tidak semua film yang dimainkan ada unsur dewasanya, tapi dia memilih berdasarkan jalan cerita. Salah satu novel Mbak kebetulan ada yang masuk dalam kriteria bagus menurutnya, makanya, Mbak kami hubungi." Terang manajer Erick berusaha menengahi. Sedikit bingung juga artisnya tiba-tiba diomeli oleh seorang author dengan berani, padahal ia penulis yang belum punya nama.
"Terima kasih, tapi aku tak tertarik. Aku tidak mau mengotori novelku dengan aktor yang menurutku tidak cocok memainkannya." Wanita itu tetap menolak Erick dengan keras.
Pria indo itu mendengus kesal. "Lalu kau bilang novelmu tak punya adegan dewasanya, begitu? Itu rasanya tak mungkin! Bagaimana kau akan menulis cerita tentang hubungan suami istri tanpa menulis adegan dewasanya?"
"Bisa!"
"Hah! Novel seperti itu takkan laku di pasaran kalau kamu terlalu memegang prinsip kuno seperti itu!" Kembali Erick mengejeknya.
"Tidak apa-apa, karena pada dasarnya Tuhanlah yang memberi aku rejeki. Kamu pikir kamu bisa terkenal dan kaya, karena apa? Karena usaha dan kerja kerasmu? Kalau begitu kamu salah. Itu karena izin dari Allah hingga kamu bisa jadi seperti sekarang ini. Tanpa izin darinya, seberapa kerasnya pun kamu berusaha, kau takkan bisa jadi sekaya dan seterkenal sekarang!"
Sang pria bule itu seketika resah. Kata-kata itu mengingatkannya pada seseorang. "Kamu, sama saja dengan penulis lainnya. Munafik! Bagaimana kalau ada seorang produser yang akan membeli novelmu, tapi ia minta ada adegan dewasanya dan ia akan memberimu uang yang banyak. Bukankah itu rezeki juga?" sindirnya lagi.
Dara mengerut hidungnya dengan mata menyipit, demi mendengar sindiran yang terdengar acak itu. Ia menatap aneh pada pria ini. "Berarti kamu belum mengerti arti rezeki yang sesungguhnya. Percuma aku bicara dengan orang sepertimu," sahutnya dengan wajah sebal. Ia kemudian meninggalkan kedua pria itu.
"Hei, aku di sini membantumu ya, dasar author sombong!" teriak Erick yang makin naik darah.
Dara kembali memutar tubuhnya dengan cepat karena panas mendengar ucapan sang pria. Dengan wajah dingin dan sorot mata yang tajam, ia mengangkat telunjuknya ke atas. "Tanpa seorang penulis, seorang artis sepertimu bukanlah siapa-siapa. Camkan itu!" ucapnya penuh penekanan. Setelah itu sang wanita meninggalkan ruangan dengan langkah pasti.
Erick mengepalkan kedua tangan dengan erat, karena geram. Bisa-bisanya ada seorang penulis yang mengajarinya tentang kehidupan. Walaupun umurnya terlihat lebih tua, tapi wanita itu bukan siapa-siapa. Tidak terkenal dan kaya seperti dirinya. Lalu kenapa Dara menolak dirinya?
"Breng sek! Dia pikir dirinya siapa? Orang suci?" Erick masih saja mengomel.
Sebenarnya terjebak di tengah pertengkaran antara Erick dan Dara membuat manajer Erick bingung. Ia tak bisa membela salah satunya. "Mas 'kan yang minta untuk bermain dalam film religi, tapi sepertinya sulit, Mas. Mas sudah terlanjur punya image playboy dan pernah main film dewasa, jadi author novel religi manapun pasti menolaknya," keluh pria berambut cepak itu. "Atau, Mas mau aku carikan yang lain, yang bisa menerima kondisi Mas apa adanya?"