Bab 1

Rika langsung pura-pura memasang wajah kecewa agar gadis itu mau menuruti kemauannya.

"Atau kamu mau di suapin sama calon suami kamu aja ya!" Goda Rika saat melihat putranya itu sudah tiba di dapur bersama suaminya.

Lantas Ana pun langsung menolehkan wajahnya ke arah samping, di lihatnya majikannya itu sudah rapi dengan pakaian kantornya, bahkan semerbak wangi parfumnya sampai menyeruak ke indera penciumannya.

Ana sempat terpana saat melihat penampilan pria itu, berbeda sekali dengan penampilannya yang masih terlihat kusut saat ini karena belum mandi.

"Aris, Ana gak mau makan kalau mama yang nyuapin, jadi kamu aja ya!" Ujar Rika

seraya mengerlingkan matanya sebelah ke arah anaknya itu.

"Ah gak kok buk, Ana mau, Ana mau!" SahutAna cepat saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu.

Bagi Ana lebih berbahaya lagi kalau sampai harus menyusahkan majikannya itu.

"Hahaaaaa.."

Mereka sekeluarga pun langsung tertawa saat mendengar ucapan Ana.

"Apa Ana ada berbuat kesalahan?" Tanya

Ana malu-malu karena mereka tiba-tiba tertawa saat mendengar ucapannya.

"Gak kok sayang" Sahut Rika seraya mengacak-ngacak rambut gadis itu karena gemas.

Setelah itu semuanya pun hening kembali untuk memakan sarapan paginya

"Gimana lukanya udah enakan?" Tanya Aris prihatin saat sarapannya sudah habis.

"Udah mendingan pak."

"Syukurlah.!" "Udah sayang kamu mandi aja dulu! siap-siap ke sekolah, urusan di meja makan biar ibuk Tegur Rika saat melihat gadis itu mulai berberes-beres di meja makan.

"Tapi buk."'Wajah Ana tampak tak enak karena ibu majikannya itu lagi-lagi membiarkannya bersantai.

"Gak papa An, apa yang mama bilang benar, mendingan kamu siap-siap sekarang!" Sela Aris.

"Baiklah' Sahut Ana akhirnya, lalu beranjak ke kamarnya.

"'Aris kamu berangkat kerja aja gih sekarang, Ana berangkat sekolah sama mama aja!" Tegur Rika saat melihat putranya itu masih duduk di ruang tamu.

"Tapi ma.

"Udah gak ada tapi-tapian, ingat pesan mama tadi malam, Wisnu itu kinerja nya bagus, kamu harus mempertimbangkan lagi agar merekrutnya kembali ke perusahaan!

"Untuk sekarang Aris belum bisa ma, Wisnu sudah terlanjur membuat Aris marah karena berani ikut campur dalam urusan pribadi Aris!"

"Ya kalau kau masih belum siap tak apa, tapi kau harus memikirkan kembali keputusanmu mengusirnya dari perusahaan, Wisnu itu kerjanya sangat bagus, kalau kau bertindak sedikit lebih lambat saja, mama yakin Wisnu akan di rekrut oleh perusahaan lain." Ujar Rika memperingatkan.

"Ya nanti Aris akan memikirkannya kembali,"Sahut Aris lalu pamit kepada kedua orang tuanya untuk berangkat ke kantor.

****

Teng...teng

Bell istirahat berbunyi.

Lantas anak-anak yang mengikuti ujian pun langsung berebutan keluar kelas untuk mengisi perut mereka.

"Lho An itu bukannya ibu-ibu yang kemarin bayarin baju kamu di Mall ya?"

Tanya Sheri saat melihat perempuan paruh baya yang menenteng tas di tangannya tengah berjalan ke arah mereka itu.

"Ya benar' Sahut Ana.

Tak lama setelah itu orang yang mereka bicarakan pun sudah tiba di hadapan mereka.

"Sayang pasti sekarang sudah laparkan? ayo kita ke kantin sekolah!" Ajak Rika.

"lbu saya Sheri temannya Ana,"

Ujar Sheri memperkenalkan diri kembali, takutnya wanita paruh baya itu sudah melupakannya.

"Ouuh kamu temannya Ana yang pas waktu kita ketemu di Mall tempo hari ya?"

"lya buk," Sahut Sheri seraya tersenyum. " Ya udah sayang, ayo ke kantin!

sekalian kamu ibu traktirin juga!"

Ajak Rika lalu memapah Ana untuk ke kantin sekolah.

"Ah gak usah buk, Ana bisa berjalan sendiri!" Tolak Ana.

Ana benar-benar tak enak, padahal ini hanya luka di kaki, ibu majikannya itu sampai rela ikut ke sekolah demi menjaganya. Dan lagi-lagi sampai harus repot memapahnya.

"Udah gak papa sayang."

Sahut Rika. Seraya tetap memapah gadis itu.

Ana pun terpaksa hanya menurut, sementara Sheri hanya memasang wajah penuh tanda tanya saat melihat wanita paruh baya itu begitu perhatian pada Ana.

Di Kantin.

"Perhatian, perhatian!"

Ujar Rika memberi instruksi untuk menarik semua perhatian anak-anak yang berada di kantin itu.

Lantas semuanya pun langsung menoleh ke arah suara.

"Oke anak-anak, ibu di sini hanya ingin memberitahu kalian, perkenalkan nama ibu Rika, dan ini Ana, calon menantunya ibu, pasti udah pada kenalkan sama calon menantu ibu yang cantik ini?"

"lya, udah kenal buk' Sahut anak-anak itu.

Mereka juga kaget, rupanya gosip yang yang beredar tentang akan menikahnya teman satu sekolahnya itu bukanlah bualan belaka.

Sementara Ana hanya menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya karena malu saat mendengar ucapan ibu majikannya itu.

"Gila Na, jadi ibu itu mamanya majikan gue?"

Tanya Sheri seraya memasang expresi elho, yang elho ceritain kemarin sama terkejut saat mendengar penuturan wanita paruh baya itu.

Ana hanya mengangguk menanggapi ucapan sahabatnya itu.

"Wah kalau gini ceritanya Na, makin tambah parah ni masalah elho bahkan ibunya majikan elho aja sampe ngakuin ke anak-anak yang ada di sini segala kalau elho itu calon menantunya."

"Ya *tuhan, kalau buk Rika sampai tahu hubungan kami yang sebenarnya bagaimana ini*?"

Ana benar-benar frustasi, saat memikirkan itu.

Bahkan Rika terlalu baik untuk di sakiti kalau dia sampai tahu kebenarannya.

"Gue juga gak tahu, Sher, kayaknya pas pulang sekolah nanti gue harus bicara sama pak Aris."

"Iya Na, itu keputusan yang tepat, kalau sampai kalian gak nikah-nikahkan pasti keluarga majikan elho malu banget ya kan,

secara udah diumumin segala lagi?"

"He'eh."

"Horee! makan gratis!"

Teriak anak-anak kegirangan saat mendengar penuturan wanita paruh baya itu. Lantas seketika itu pula langsung menghentikan obrolan keduanya.

"Oke kalian makanlah sepuasnya, ambil saja apa yang kalian mau, anggap saja ini adalah hadiah dari

Ana selaku teman sekolah kalian untuk merayakan pesta pernikahannya setelah kelulusan nanti."

"Selamat ya Ana,'Ujar mereka seraya menyalami Ana secara bergantian. Ana terpaksa melayani mereka dan pura-pura tersenyum agar tak mengecewakan ibu majikannya itu.

"Gila Do tu ibuk-ibuk lebay banget, saking senangnya anak bujang lapuknya itu udah mau nikah pake traktir anak-anak satu sekolah lagi."

"Gak kok, gak lebay, andai aja dia yang jadi mamanya gue, malah gue senang banget"Sahut Aldo.

Aldo benar-benar kecewa memiliki seorang ibu yang kelakuannya bertolak belakang dengan ibu musuh bebuyutannya itu.

Andai mamanya sebaik Rika, pasti Aldo akan tetap berjuang untuk mendapatkan cinta gadis itu.

"Untuk apa kita kemari buk?"

Tanya Ana penasaran saat melihat wanita paruh baya itu membawanya ke sebuah butik ternama di kota itu.

"Tentu saja membeli baju untukmu sayang" Sahut Rika seraya tersenyum.

"Ta..tapi buk, Ana tak punya uang untuk membeli baju."

"Hahaha kamu ini bicara apa sih sayang? karena ibu yang mengajakmu kesini, tentu saja ibu yang traktir kamu."

"Tapi buk."

Ana tak nyaman harus menyusahkan wanita paruh baya itu, lagi pula hubungan dia dan majikannya hanyalah sekedar sandiwara.

Ana berharap dapat mengakhiri sandiwara ini secepatnya, sebelum

Rika semakin jauh memperlakukannya sebagai calon menantunya.

"Tak apa sayang, ayolah!"

Paksa Rika lagi lalu menggamit lengan gadis itu membawanya masuk ke dalam butik.

"'Selamat datang nyonya!"

Sapa pelayan yang ada di depan toko itu, karena mereka memang sudah kenal dan tahu akan status wanita paruh baya itu.

Sementara Rika dan Ana hanya menanggapi mereka dengan senyuman.

"Apa ada yang bisa kami bantu nyonya?"

Sapa pelayan lainnya saat sudah berada di hadapan kedua pengunjungnya itu.

"Ya, tolong kau ambilkan semua baju keluaran terbaru di toko ini, untuk calon menantuku ini,"

Sahut Rika seraya tersenyum bangga memamerkan wanita cantik di sampingnya itu.

Uh lagi-lagi Ana hanya tersenyum kikuk saat mendengar ucapan ibu majikannya itu.

"Baik Nya,"

Sahut pelayan itu lalu berjalan ke belakang.

"Ya tuhan kau dengar kata buk Erika tadi?" Tanya pelayan itu pada temannya.

"Ya tentu saja."

"Aku pernah mendengar kabar, kalau buk Erika mempunyai seorang putra yang sangat tampan dan juga jenius, tapi sayangnya sampai sekarang putranya belum pernah menampakan batang hidungnya di televisi.

"Ya aku juga sangat penasaran dengan putranya, dan gadis itu beruntung sekali bisa menjadi calon menantu dari keluarga Mahendra, bahkan aku sempat menyaksikan berita di sosial media, berkat kejeniusan putranya itu, beberapa hari ini nama perusahaannya tengah melambung di Indonesia, berkat produk yang perusahaan mereka ciptakan tahun ini."

"Wah benar-benar hebat."

Puji mereka. Setelah mendapatkan semua baju yang di pesan pengunjungnya itu, pelayan itu

Bab 2

Langsung keluar kembali.

"Nyonya, bajunya sudah saya bungkus semuanya, "lapor pelayan itu.

" Ya, antar semuanya ke mobil! "

"Baik nyonya," setelah selesai pelayan itu menaruhkan semua barang yang mereka pesan ke bagasi mobil, keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka kembali.

Drett..dret...

Ponsel Rika bergetar. Rika pun langsung buru-buru mengangkat teleponnya.

"Wah benarkah? "Ujar Rika saat mendengar penuturan si penelponnya itu.

"Ya, "sahut si penelepon itu.

"Aku akan segera ke sana sekarang juga," sahut Rika

"Sementara Ana hanya diam, mendengarkan percakapan Ibu majikannya itu.

" Sayang jalan-jalannya kita tunda dulu ya? Saat ini ada urusan yang lebih penting dari ini, "ujar Rika memberitahu.

"Ia tidak apa-apa Bu," sahur Ana saat ditanya oleh ibu majikannya itu.

Ana menjawabnya dengan tersenyum karena yang berinisiatif mengajaknya jalan-jalan adalah ibu majikannya itu.

****

Malam ini

Dreett..drett

Aris yang saat itu masih berada di kantornya karena lembur, langsung menghentikan pekerjaannya sejenak saat mendengar getar ponselnya itu.

"Halo Ma," ujar Aris saat teleponnya sudah terhubung.

"Sayang mama dan Ana saat ini sedang berada di rumah sakit a, cepat kemarilah," suara Rika terdengar begitu panik.

"Ma ada apa? Apa yang terjadi pada Ana? "

"Sayang mama tidak punya waktu untuk memberitahumu, sebaiknya kau seharus ke sana sekarang juga!"

Telepon pun langsung terputus.

Aris langsung buru-buru menunda pekerjaannya terlebih dahulu, lalu melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumah sakit yang telah dikatakan oleh mamanya tadi.

" Ya Tuhan Ada apa ini? Hambamu ini bahkan belum menyatakan perasaannya kepada Gadis itu, tolong lindungi dia ya Tuhan. "

Entah mengapa saat ini hatinya begitu berdebar tak karuan saat membayangkan Gadis itu kenapa-napa, apalagi saat mendengar penuturan mamanya yang terdengar begitu panik tadinya.

Di rumah sakit.

Setelah memarkirkan mobilnya, Aris pun langsung berlarian masuk ke dalam untuk mengetahui keadaan pembantunya itu.

"Ma, mana Ana? Dia Kenapa? "Tanya Aris seraya memasang wajah panik saat melihat kedua orang tuanya itu tengah berdiri di luar kamar ruang inap.

"Sayang kamu tenang dulu, ayo duduk! "

"Tidak mah, harus tidak bisa tenang kalau harus belum tahu kabar tentang gadis itu."

"Oke tapi kamu tenangkan dirimu kamu terlebih dahulu! Ini kan lagi di rumah sakit sayang."

"Tenang gimana Ma? Ini menyangkut nyawa seseorang, kalau terjadi apa-apa dengan gadis itu Aris tidak akan bisa memaafkan diri Ari sendiri Ma," Aris sudah di merasa frustasi dibuatnya.

Andi dan Rika hanya tersenyum saat melihat ulah anak bujangnya itu.

"Masuklah ke dalam, tapi ingat jangan berisik!" Pesan Rika.

"Tanpa banyak bertanya lagi Aris pun langsung masuk ke dalam. Sesampainya di dalam hari semakin dibuat terperanjat saat melihat seorang wanita yang tengah terbaring di atas ranjang.

"Pak Aris, anda kemari!" Sapa perempuan itu.Ana yang mendengar percakapan itu pun lantas menoleh.

"Ah bapak" Sapa Ana.

Di tangannya tengah menggendong seorang bayi mungil yang sangat tampan.

"Ya tuhan, pemandangan apa ini? indah sekali;" Gumam Aris.

Saat melihat gadis itu, lalu berjalan mendekat ke arah Ana, tanpa memperdulikan perempuan yang menyapanya tadi.

"Ana apa kau sangat menyukai bayi?" Tanya Aris seraya membelai lembut pipi halus bayi itu.

"Ya, Ana sangat menyukai mereka."

"Aku bisa memberikanmu bayi yang lebih mungil dan tampan dari ini," Ujar Aris seraya mengerlingkan matanya sebelah.

Anis langsung tersenyum mengembang mendengar percakapan mantan direkturnya itu, dia benar-benar tak menyangka pria es itu memang sudah mencair.

"Ya tuhan, pria ini berbicara apa? memberikan bayi, memangnya segampang itu mendapatkan bayi?"

Wajah Ana menunjukan expresi kebingungan mendengarkan ucapan majikannya itu.

"Ana bolehkah aku mengendong bayi mungil ini? mulai sekarang aku ingin belajar menggendong bayi, agar nantinya sudah tak canggung lagi, Pinta Aris.

"Ya tentu saja pak' Sahut Ana. Lalu ingin menyerahkan bayi mungil itu.

"Wah aku berdebar sekali, ini pertama kalinya aku menggendong seorang bayi, bagaimana cara menggendong yang benar?"

"Coba rentangkan tangan bapak seperti saya!" Ujar Ana memberi instruksi.

"Apakah begini sudah benar?" Tanya Aris untuk memastikan.

Sambil menunjukan posisi kedua tangannya yang sudah terbentang demi menggendong bayi mungil itu.

"Ya."

Setelah itu Ana pun langsung menyerahkan bayi mungil itu secara pelan-pelan ke tangan pria itu.

Jantung Aris menjadi berdebar tak karuan saat menggendong bayi itu. Ana dapat melihat kalau wajah pria itu tampak tersenyum sumringah saat menggendong bayi mungil itu.

"Wah pak Aris seperti seorang ayah yang menggendong anaknya" Gumam Ana.

Tanpa sadar bibirnya tersenyum lebar saat melihat pemandangan itu.

Sementara Anis dan yang lainnya, yang saat itu sudah berkumpul di dalam ruangan itu, hanya tersenyum simpul saat melihat pemandangan keduanya yang tampak seperti sebuah keluarga yang begitu harmonis itu.

"Ehmmm ehmmm, sayang mama rasa kau harus bayar sewa pada kedua orang tuanya, karena tanpa seijin mereka menyentuh bayinya!" Ujar Rika memperingatkan.

Aris pun langsung tersadar saat mendapat teguran dari mamanya itu, semenjak dia memasuki kamar itu, dia memang terlalu bersemangat sampai melupakan siapa pemilik bayi itu.

"Terima kasih banyak, karena bapak sudah mau berkunjung kemari" Ujar Wisnu dan Anis berbarengan.

"Ehmm..ehmm."

Aris merasa bersalah sekali kepada bawahannya itu, bagaimana bisa dia begitu bersemangatnya saat menggendong bayi mereka, sementara ayah dan ibunya, sudah diusir dari perusahaannya.

"Sudah berapa hari kau berdiam di sini?"

Tanya Aris pada wanita yang tengah terbaring lemah di atas ranjang itu.

"Tiga hari pak, dan besok kami sudah diijinkan untuk pulang."

"Baiklah, bagaimana kalau minggu depan cuti suamimu aku potong, kau punya orang lain bukan untuk membantu mengurus bayimu?"

"Ah ya pak' Sahut Anis.

"Wisnu minggu depan bekerjalah kembali, waktu cuti untuk bersenang-senang dengan bayimu sudah habis."

"Maksud bapak?" Wisnu masih tak mengerti dengan ucapan pria itu.

"Kau sudah boleh bekerja kembali di perusahaan' Ujar Rika menjelaskan.

"Benarkah? terimakasih banyak pak'

Sahut Wisnu lalu berlutut di kaki pria itu karena bahagia.

Dia tak menyangka pria itu akan membawanya bekerja ke perusahaannya lagi.

Sementara Anis juga tak kalah terkejutnya mendengar penuturan atasannya itu, dia juga sangat bahagia karena pria itu masih mempercayakan perusahaannya kepada suaminya.

"Bangunlah! aku hanya tak rela kalau bayi mungil ini akan kelaparan karena ayahnya tak punya pekerjaan," Ejek Aris.

"Sayang jangan diambil hati! pria ini memang memiliki penyakit sindrom gengsi, dia mengatakan itu karena dia sangat membutuhkanmu" Ujar Rika menjelaskan saat melihat raut wajah Wisnu saat ini.

"Mama!"

Aris malu sendiri mendengar ucapan mamanya itu.

Setelah itu yang terdengar hanyalah suara tawa renyah yang keluar dari dalam ruangan itu.

"Bagaimana sayang, kau suka bukan dengan kejutan yang mama berikan?" Bisik

Rika di telinga anaknya itu. Di saat mereka tengah berjalan keluar dari rumah sakit untuk pulang.

Sementara Ana dan Andi yang tengah berjalan di depan mereka hanya sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.

"Kejutan? mama tahu bercandanya mama itu udah kelewatan!" Aris kesal sekali karena sudah tertipu dengan permainan mamanya itu.

"Hahaaa kalau mama tidak begitu memangnya kau mau datang, tidak kan?"

"Hmmm."Kesal sekaligus sebel, punya mama yang punya berbagai cara untuk mengelabui putranya sendiri.

"Tapi kau puas bukan saat melihat pemandangan yang begitu indah malam ini?"

"Pemandangan indah, maksudnya? Aris pura-pura tak mengerti dengan ucapan wanita paruh baya itu.

"Sudahlah! kau tak pantas menjadi seorang aktor kalau berhadapan dengan mamamu ini, tunggu apa lagi, sebaiknya kau nyatakan perasaanmu padanya sekarang, mama sudah tak sabar ingin gendong cucu Ujar Rika seraya memperagakan tangannya seperti tengah menggendong seorang bayi

Ya Aris akui dia memang sangat berterimakasih pada mamanya itu, berkat mamanya dia bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pemandangan yang begitu menyejukan hatinya itu.

"Mama cepatlah sedikit!" Suara Andi terdengar kesal. Saat melihat cara istrinya yang berjalan begitu lambat, padahal saat ini dia sudah kelelahan.

"lya, iya pap," Sahut Rika pada suaminya itu.

"Ya udah sayang mama duluan ya, ingat! jangan lama-lama." Pesan Rika lalu berlarian kecil ke arah suaminya yang sudah berdiri di dekat mobil.

"Hemmmmm."

Aris hanya menjawab sekenanya.

"Ana ibuk balik dulu ya, ingat baju yang ibu belikan tadi siang harus di pakai, ibu gak mau lihat kamu pakai baju lamamu lagi!"

"Ah i..iya buk."

Ana terpaksa mengiyakannya, dari pada harus berurusan dengan ibu majikannya itu, gara-gara membantah ucapannya.

Setelah melepaskan pelukannya pada gadis itu, Rika pun langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya.

"'Aris mama tunggu kabarnya," Ujar Rika seraya melambaikan tangannya pada putranya itu.

Kini tinggal mereka berdua, sepanjang perjalanan pulang ke rumah keduanya hanya tenggelam dengan pikiran masing-masing.

"Sepertinya pak Aris terlalu lelah hari ini, sebaiknya lain kali saja aku membahasnya."

*****

"Woahh.... akhirnya ujian sekolah udah selesai, gimana kalau kita mampir ke kafe dulu Na, buat rayain kemerdekaan kita!"

Ajak Sheri.

"Merdeka apanya Sher? wong pengumuman kelulusan aja belum di pajang di mading, mana tahu kita lulus apa enggak."

"Jangan ngomong gitu lah Na! perkataan adalah doa, mudah-mudahan aja kita bisa lulus tahun ini."

"lya-iya, semoga kita lulus tahun ini, Sahut

Ana semangat.

Setelah ada taxi yang lewat di hadapan mereka, keduanya pun langsung melambaikan tangannya, untuk pergi ke

Cafe yang mereka maksud.

"Pak ke Cafe A ya!" Ujar Ana memberitahu.

"Baik neng" Sahut si supir lalu melajukan mobilnya.

"Gimana udah ngomong belum sama majikan lho soal kemarin?" Tanya Sheri.

Dret...dret..

Ponsel Ana bergetar.

Melihatnya di sana tertera no majikannya.

"Nanti dulu ya Sher, gue angkat telepon dulu."

Sementara Sheri hanya mengangguk menanggapinya.

"Hallo pak?" Tanya Ana setelah teleponnya sudah terhubung.

"Ehmmm, Ana apa kau sudah pulang ujian?" Sahut si penelepon.

"Ah ia pak Ana baru saja pulang."

Ana sempat merasa gugup saat berbicara dengan majikannya itu, karena ini adalah kali pertamanya majikannya sampai harus menghubunginya lewat telepon, setelah berbulan-bulan bekerja di sana.

"Baiklah kalau begitu, buatkan aku makan siang, setelah selesai langsung antarkan ke kantorku!"

Perintah Aris.

"Mengantarkan ke kantor?" Batin Ana.

Dia semakin khawatir, kalau sampai dia ke kantor majikannya itu, akan bagaimana lagi pandangan orang-orang terhadapnya nanti.

"Ana apa kau masih mendengarku?"

"Ah ya pak, Ana akan berusaha secepatnya untuk memasaknya, dan mengantarkannya ke sana."

"Ya, ku tunggu." Setelah itu panggilan pun sudah terputus.

"Kenapa Na?" Tanya Sheri.

Saat melihat raut wajah sahabatnya itu yang sudah berubah.

"Aduh maaf ya Sher, gue tiba-tiba ada urusan mendadak, gimana kalau lain kali aja kita ke cafe nya?"

"Ya udah gak papa kok' Jawab Sheri.

"Maaf banget ya?" Ana masih merasa tak enak akan sahabatnya itu.

"Iya gak papa."

Setelah itu Ana pun langsung meminta supir taxi tersebut, untuk mengantarkannya ke rumah majikannya.

Bab 3

Grukk...grukk.. "Pak sebaiknya anda makan dulu! bapak ingin makan apa biar saya carikan?"Ujar Rey memberanikan diri.

Sudah kesekian kalinya Rey mendengar suara perut direkturnya itu berbunyi, namun setiap kali Rey bertanya direkturnya itu selalu memilih untuk menunda makannya.

"Tak usah! sebaiknya kalau kau lapar kau makan saja sendiri!"Tolak Aris.

"Tapi pak, bagaimana saya bisa makan sementara anda selaku atasan saya menahan lapar"Ujar Rey iba, Rey benar-benar tak tega melihat kondisi atasannya yang tampak lemas karena belum makan sama sekali.

"'Sudahlah kau makan saja! jangan khawatirkan aku, aku sedang menunggu seseorang datang kemari membawakan makan siangku."

Aris terpaksa mengakuinya, saat melihat bawahannya yang tak juga beranjak makan karena setia untuk membantunya menahan lapar.

"Ah apakah itu Nona Ana?"

Batin Rey bertanya-tanya.

"Ah *mengapa aku bodoh sekali, memangnya siapa lagi yang bisa membuat seorang pria dingin seperti pak direktur sampai rela menahan lapar hanya karena menanti masakannya*"

Wajah Rey menampakan expresi terkejut karena ini pertama kalinya pria itu mengundang seorang wanita ke perusahaannya, sepertinya direkturnya itu memang sudah memantapkan hatinya pada gadis itu.

"Ah baiklah kalau begitu saya permisi dulu pak"Pamit Rey seraya membungkuk.

Sementara Aris hanya menanggapinya dengan anggukan, setelah Rey menghilang di balik pintu, dia kembali melirik ke arah Arloji yang ada di pergelangan tangannya.

"*Apakah gadis itu yang terlalu lama datang atau aku yang sudah tak sabaran"

Batin Aris.

Setelah itu Aris beranjak ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajahnya yang tampak kusut, dia ingin menata penampilannya se oke mungkin untuk bertemu gadis itu.

"Udah pak berhenti di sini aja!"

Ujar Ana menyela pada supir taxi itu.

Supir taxi itu pun langsung buru-buru menghentikan taxinya. "Ini pak ongkosnya!"

Ujar Ana seraya menyerahkan jumblah uang yang di pinta supir itu.

"Makasih neng."

"Sama-sama."

Setelah itu Ana pun langsung keluar taxi.

Dia sempat ternganga saat melihat pemandangan perusahaan yang berlogo kan CTIA grup itu.

Dari luar kelihatan sekali kalau perusahaan itu nampak megah sekali,

Ana merasa tak percaya kalau perusahaan itu milik majikannya sendiri.

Saat Ana memasuki lobby lagi-lagi dia di buat terperangah dengan kondisi gedung perusahan majikannya itu.

"Maaf mbak, saya kemari ingin bertemu pak Aris, untuk mengantarkan makan siangnya,"

Ujar Ana memberitahu pada resepsionis itu.

Resepsionis itu tak langsung menjawab melainkan pandangannya menelusuri seluruh tubuh gadis itu.

*Sejak kapan pak Aris menerima tamu seorang perempuan bahkan menyuruhnya mengantarkan makanan ke kantor*?"

Dia masih merasa janggal dengan gadis itu, di lihat dari penampilan sama sekali tak terlihat modis, bahkan wajahnya tak menggunakan make up sama sekali sungguh berbeda dengan mantan kekasih direkturnya Bellena.

Bahkan Bela selaku wanita yang pria dingin itu sangat cintai saja tak pernah direkturnya temui, pasti selalu ditolak dengan alasan sibuk mengurus pekerjaan.

"'Silahkan anda duduk dulu di ruang tunggu! saya akan memberitahu pak direktur dulu.

Masih setengah tak percaya resepsionis itu pada Ana,Akan tetapi lebih memilih untuk memberinya harapan.

"Baiklah, Sahut Ana lalu berjalan ke arah ruang tunggu.

"Siapa tu cewek?"

Tanya temannya yang lain, saat melihat gadis itu duduk di ruang tunggu.

"Gak tau, katanya mau nganter makanan buat pak direktur."

"Alah memang tu cewek siapa?

Bela aja setiap datang kemari gak di temuin malah di suruh pulang"

Sahut temannya. "Udahlah gak usah di gubris,

Kasih pelajaran aja, biar lain kali tu cewek gak punya muka lagi datang ke sini.!"

"la ya, ngapain juga gue pedulin tu cewek kampungan,"

Sahut resepsionis tadinya.

Setelah itu keduanya pun langsung sibuk sendiri tanpa memperdulikan

Ana yang sedari tadi harap-harap cemas menatap ke arah mereka demi menunggu pemberitahuannya.

"Apakah pak Aris masih sibuk?"

Gumam Ana dalam hati.

Bahkan sudah sekitar 20 menit an

Ana duduk menunggu di sana, namun resepsionis itu tak kunjung memanggilnya.

"*Sebaiknya aku bersabar saja terlebih dahulu, mungkin pak

Aris saat ini masih sibuk*" Batin Ana lagi.

Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menunggu pemberitahuan dari resepsionis itu, karena ponselnya tertinggal di rumah gara-gara terlalu terburu-buru ke sana tadinya.

Sementara itu.

Rey yang saat itu baru saja menyelesaikan makan siangnya di kantin kantor untuk mempersingkat waktu sudah terlihat di lobby hotel untuk segera kembali ke ruangannya.

"Nona Ana."

Gumam Rey saat melihat gadis itu.

Rey pun langsung berjalan menghampiri gadis itu.

"Kenapa anda masih duduk di sini nona? pak direktur sudah menunggu anda dari tadi, bahkan beliau belum makan siang sama sekali demi menunggu anda."

Rey begitu panik saat membayangkan kondisi atasannya itu saat ini, tadinya saja sudah terlihat begitu lemas karena menunggu gadis itu,

Rey takut pria itu kenapa-napa.

"Ya tuhan benarkah?

Ini semua salah saya, tolong antar saya ke sana segera."

Entah kenapa Ana lebih merasa panik di banding takut saat membayangkan pria itu belum makan siang sama sekali, dia begitu khawatir akan kesehatan pria itu.

Setelah itu keduanya pun langsung mempercepat langkahnya untuk menuju ke ruangan Aris.

Resepsionis yang tadinya pun langsung terbelalak saat melihat pemandangan itu.

"Ya tuhan, sepertinya gadis itu tidak berbohong, bahkan pak Rey sendiri yang turun tangan membawanya ke ruangan direktur,"Ujar Resepsionis itu.

Wajahnya sudah nampak pucat, seluruh tubuhnya juga gemetaran, mereka tahu apa konsekuensinya kalau sampai membuat direkturnya itu marah. "Ini semua salahmu, tadinya aku sudah akan memberitahu pak direktur, tapi gara-gara kau melarangku. jadi aku mengacuhkannya."

"Hei kalau memang niatmu ingin memberitahu direktur, kenapa kau harus mendengarkan apa kata orang lain, dia berurusan denganmu, aku tak ada sangkut pautnya dengan ini semua."

Keduanya pun langsung terlibat di dalam cek cok mulut saling melemparkan kesalahan.

Tok..tokk..

"Masuk!"

Suara Aris terdengar sangat lemas karena belum makan.

Ana pun langsung masuk ke dalam, di lihatnya majikannya itu tengah terbaring di atas Shofa.

"Pak maafkan Ana karena sudah datang terlambat, ini semua salah Ana."

Aris dapat melihat kalau wajah gadis itu nampak panik saat melihat kondisinya saat ini.

"Kenapa kau datang terlambat? aku nyaris saja mati kelaparan menunggumu! apa kau sengaja membuatku menunggu lama agar aku cepat mati?"

Tiba-tiba timbul keinginan di hatinya untuk mengerjai gadis itu saat melihat wajahnya yang tampak panik.

"Tidak! mana mungkin Ana sengaja melakukannya, Ana hanya menuruti kata-kata resepsionis itu saja, jadi

Ana kira bapak sedang sibuk, maka dari itu Ana terus menunggu di sana."

Entah kenapa timbul keinginan untuk memperjelas semuanya agar pria itu tak salah paham padanya.

"Berapa lama kau menunggu di sana?"

"'Sekitar dua puluh menit'an pak."

"*Kurang ajar! berani sekali resepsionis itu membuat wanitaku duduk menunggu di sana*"

Wajah Aris sudah memerah karena geram sembari mengeratkan kepalan tangannya.

Karena bawahannya berani tak

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED