Suasana pagi yang damai. Dua pasang suami istri berbeda generasi sedang menikmati sarapan pagi. Ritual pagi di keluarga Wicaksana memang seperti ini. Semua penghuni rumah wajib sarapan pagi bersama sebelum memulai aktifitas masing-masing.
Keira menuangkan kembali air minum Panji saat melihat isinya hampir habis. Tindakannya itu dihadiahi seulas senyum manis oleh Panji.
Tidak ada seorang pun yang akan percaya kalau rumah tangga mereka sebenarnya bermasalah, apabila mereka menyaksikan keintiman mereka pagi ini. Begitu juga dengan ke dua orang tua mereka masing-masing. Di mata mereka, pernikahan anak menantu mereka sempurna adanya. Hanya ada satu hal yang mereka rasa masih kurang. Tentu saja masalah momongan. Satu setengah tahun menikah, dalam diri Keira belum juga tampak adanya tanda-tanda kehadiran calon cucu yang sudah lama mereka idam-idamkan.
"Panji, Rara. Bukannya Ibu bermaksud untuk mencampuri rumah tangga kalian. Ibu hanya sekedar ingin mengingatkan. Kalian berdua 'kan sudah lama menikah. Apa kalian tidak punya keinginan untuk memiliki momongan?" tanya Bu Tita hati-hati.
"Lagi pula Ibu sudah tidak sabar ingin menimang-nimang cucu," Bu Tita akhirnya menyuarakan keinginannya. Menurutnya mungkin sudah waktunya untuk memperingatkan anak menantunya ini akan perlunya keturunan. Panji dan Keira sepertinya terlalu sibuk hingga tidak sempat memikirkan masalah kehadiran seorang anak. Jadi tugasnya sebagai orang tualah yang menasehati mereka berdua.
"Kalian 'kan juga tahu sendiri kalau Pandu itu tidak mau menikah. Makanya harapan Ibu untuk memiliki cucu itu hanya dari kalian berdua," bujuk Bu Tita lagi. Keira dan Panji saling berpandangan. Keira yang tidak tahu harus menjawab apa, hanya diam saja. Ia takut salah bicara. Ia sebenarnya juga sedang bingung. Pagi tadi setelah Panji sadar dari mabuknya, Panji sama sekali tidak mengatakan apa-apa padanya. Sepertinya Panji tidak mengingat hal apa saja yang telah ia lakukan pada dirinya semalam. Keira bingung. Ia ragu-ragu antara ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Panji, atau sebaiknya ia diam saja. Ia takut pada reaksi Panji. Bagaimana kalau nanti Panji tidak mengakuinya? Atau lebih buruknya, menuduhnya telah memanfaatkan keadaannya? Bikin sakit hati saja bukan? Makanya Keira diam saja dan bermaksud untuk menyimpan peristiwa itu hanya untuk dirinya sendiri.
"Tentu saja ingin, Bu. Tetapi mau bagaimana lagi? Mungkin yang di atas belum mempercayai kami untuk mengasuh seorang anak. Sabar ya, Bu? Kalau saatnya nanti sudah tepat, pasti kami akan punya anak juga," jawab Panji kalem. Bu Tita menarik napas panjang. Selalu begitu. Setiap ia menyinggung masalah anak pada anak menantunya ini, jawabannya selalu saja sama. Ia sampai sudah hapal kata-kata yang akan diucapkan oleh anak menantunya itu.
"Bukannya Ibu tidak mempercayai maksud baik Allah ya, Nji. Tapi selain doa dan ikhtiar, kita juga harus usaha dong, Nji?" Bu Tita kini meletakkan sendok dan garpunya. Ia ingin berbicara serius dengan anak menantunya. Mungkin sudah saatnya mereka berdua harus sedikit di kerasi.
"Usaha dengan cara memeriksakan kesehatan diri, misalnya. Hal itu 'kan tidak susah untuk dilakukan, Nji, Ra. Apalagi Rara juga kerjanya di rumah sakit. Ibu ingin kalian berdua memeriksakan diri. Siapa tahu setelah itu kamu bisa hamil, Ra." Bu Tita kini melayangkan pandangan pada menantunya. Ada pengharapan besar di balik sorot matanya. Ia memang sudah sangat ingin menimang cucu.
"Makanya dulu Panji mau nikahnya dengan Keisha, Bu. Bukannya dengan Kei--"
"Tapi sekarang istri kamu itu Keira, bukan Keisha. Keisha telah meninggalkan kamu. Itu artinya dia tidak ingin menjadi istrimu. Titik. Ayah tidak mau lagi mendengar kamu menyebut nama perempuan lain terutama di hadapan istrimu sendiri. Mengerti, Panji?" Suara bentakan ayahnya menyadarkan Panji akan kesalahannya. Dengan cepat ia mengangguk dan memperbaiki ucapannya.
"Maaf, Panji tidak sengaja, Yah."
"Minta maafnya jangan sama Ayah. Tapi sama Keira. Lagi pula belum tentu juga Keira yang bermasalah. Siapa tahu malah kamu yang kurang subur. Jangan suka menghakimi seseorang sebelum kamu tahu kebenarannya," Panji menarik napas panjang. Ayahnya memang jarang berbicara. Tetapi sekalinya berbicara selalu membuat panas telinga.
"Sebaiknya kamu turuti saran ibumu. Periksakan dirimu dan Keira ke dokter. Segera cari solusi, bukan cari kambing hitam. Umur kamu sudah berapa?" ketus ayahnya lagi. Panji hanya bisa mengangguk. Kalau kata-kata ayahnya dibantah, bisa tambah panjang lagi daftar kesalahannya di mata sang ayah. Keira yang sedari tadi mengamati pembicaraan Panji dan ayah mertuanya diam saja. Ia memang tidak pernah menginterupsi apabila Panji sedang berbicara dengan ayahnya.
"Maaf, Pak. Di depan ada anak muda yang ingin bertemu dengan Bapak. Katanya namanya Robyn. Dia juga bilang sudah ada janji dengan, Bapak." Mbak Surti, ART keluarga Wicaksana memberitahukan kalau ada tamu yang ingin bertemu dengan ayah mertuanya.
"Oh iya. Suruh tunggu di ruang kerja saya saja, Surti. Saya akan segera menemuinya," sahut ayah mertuanya seraya bangkit dari kursi.
"Ra, Ayah sudah mencarikan supir pribadi untuk kamu. Robyn namanya. Robyn adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang juga sangat mumpuni dalam ilmu bela diri. Jadi ia bisa merangkap sebagai body guard kamu juga. Selain itu, Robyn ini adalah anak Pak Ahmad. Security di kantor, Ayah. Jadi kredibilitasnya tidak perlu kamu ragukan lagi," Keira mengangguk. Apapun yang diputuskan oleh ayah mertuanya, ia setuju-setuju saja. Semua toh juga demi kebaikannya juga. Ayah mertuanya kini mengalihkan pandangan pada Panji.
"Dengan adanya Robyn, ini bukan berarti kamu bisa melepaskan tanggung jawab kamu pada Keira begitu saja. Tugas Robyn di sini hanya membantumu, kalau kamu sedang berhalangan menjemput Keira. Jadi supir utama Keira itu tetap kamu. Mengerti, Panji?"
"Mengerti, Yah."
"Bagus. Sekarang antar istrimu bekerja. Suami yang baik itu tidak egois. Jangan jadikan kesibukanmu sebagai alasan melupakan seseorang yang membutuhkan perhatianmu," tandas ayah mertuanya sebelum berlalu dari hadapan mereka semua.
========================
"Mas, saya berhenti di sini saja. Kayaknya macetnya masih panjang ini. Biar saya naik--"
"Cepat turun! Jangan sampai saya diklakson-klakson mobil yang ada di belakang," bentak Panji kesal. Keira membuka pintu mobil dan dengan cepat menyandang tas, berikut botol air minumnya. Saking terburu-buru ia nyaris terjerembab ke aspal karena sepatunya tersangkut ujung karpet. Untung saja ia masih sempat berpegangan pada pintu mobil.
"Cepat tutup kembali pintu mobilnya!" seru suaminya kesal. Mobil di belakang memang terus menerus membunyikan klakson. Keira tidak habis pikir. Untuk apa mereka terus menerus menekan klakson kalau memang sedang macet. Mau diklakson sampai tombol jebol pun, mobil-mobil itu tetap tidak akan bergerak. Buang-buang energi saja bukan?
Karena jarak yang sudah tidak begitu jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja, Keira memutuskan untuk berlari saja. Lima belas menit lagi jam kerjanya akan dimulai. Makanya ia harus buru-buru kalau tidak ingin terlambat.
Akhir-akhir ini rumah sakit tempatnya bekerja, sedikit masalah. Beberapa hari lalu, ada beberapa pasien yang complain kepada pihak manajemen rumah sakit. Mereka kecewa karena tidak mendapatkan pelayanan yang baik padahal mereka sudah membayar mahal. Mereka sering mendapati petugas kesehatan yang tertidur pada saat sedang bertugas. Setiap jam dua belas malam ke atas, para petugas kesehatan, termasuk dokter dan perawat sering kali tertidur dan tidak ada di tempat. Karena itu, apabila infus pasien habis atau kondisi pasien memburuk pada jam-jam tersebut, para petugas kesehatan sering tidak bisa dijumpai. Makanya mereka semua kecewa dan mengadukannya pada pihak manajemen rumah sakit.
Pemilik rumah sakit kabarnya marah besar. Nama baik dan kreadibilitas rumah sakit menjadi tercoreng karena tindakan indisipliner beberapa orang. Makanya Keira takut sekali kalau ia sampai terlambat. Ia tidak ingin dianggap sebagai perawat yang indisipliner juga.
Dengan napas yang tersengal-sengal, ia akhirnya tiba di rumah sakit. Ia melirik pergelangan tangannya. Pukul tujuh lewat dua menit. Syukurlah, setidaknya ia tidak terlambat-terlambat amat. Tinggal mengganti pakaian di loker, ia sudah bisa mulai bertugas. Rambutnya toh sudah ia sanggul dengan rapi sedari rumah. Tinggal merapikannya sedikit, bereslah sudah. Separuh berlari ia mendorong pintu khusus staff rumah sakit dengan bahu. Kedua tangannya di penuhi dengan tas dan botol air minumnya.
"Astaga, Ra. Lo dari mana aja? Ada sidak dari anak pemilik rumah sakit. Cepetan lo ganti baju dan ngumpul di nurse station. Gue mau ngumpulin anak-anak dulu!" Marini, salah satu rekannya, memberitahukan masalah sidak sambil terus berjalan cepat. Berusaha mengumpulkan rekan-rekannya yang lain.
"Anak pemilik rumah sakit? Pak Langit Sabda Alam ya?" tanya Keira penasaran. Marini yang sudah berjalan sedikit jauh, menghentikan langkahnya.
"Bukan yang pilot itu. Tapi pengacara galak yang sering kita lihat di teve!" seru Marini yang sudah ada di ujung koridor. Rumah sakit ini dulunya adalah milik almarhum Fajar Ramadhan sebelum diwariskan pada anaknya Halilintar Sabda Alam. Pak Sabda kemudian bekerja sama dengan dokter Arshaka Abiyaksa, Sp.OG, karena beliau tidak sanggup mengurus masalah rumah sakit. Pak Sabda adalah seorang walikota sekaligus pengusaha. Dengan demikian kepemilikan rumah sakit ini menjadi dua orang. Yaitu Pak Sabda dan juga dokter Saka. Kalau bukan Langit yang datang, itu berarti... Alrasya Abiyaksa. Pengacara galak putra sulung dokter Saka. Mati! Ada lelucon dari para petugas rumah sakit tentang galaknya Rasya. Mereka bilang, mayat saja bisa kabur mendengar omelan-omelan dahsyat Rasya kalau ia sudah bersabda. Apalagi mereka yang hanya manusia biasa!
Keira sekarang bukan lagi berjalan cepat. Tetapi ia sudah berlari. Ia takut kalau ia tidak akan sempat lagi mengikuti briefing pagi. Saat tiba di ujung koridor, seseorang muncul secara tiba-tiba. Keira yang tidak sempat mengerem langkahnya, menubruk orang tersebut dengan keras. Tas dan botol air minumnya terlepas. Ia terjatuh dalam posisi berlutut. Saat ia ingin bangkit dan meminta maaf. Ia malah tidak bisa bergerak. Sanggul rambutnya sepertinya tersangkut pada sesuatu.
"Aduh!" Keira mengaduh kesakitan saat ia mencoba menarik paksa rambutnya yang masih menyangkut. Perlahan ia mencoba berpaling sambil berusaha menarik-narik sanggul rambutnya. Wajahnya seketika dihadapkan dengan... dengan... bagian depan bawah perut seorang laki-laki. Ada sesuatu yang menonjol di sana. Sepertinya sanggulnya tersangkut pada kepala ikat pinggang seorang laki-laki.
"Saya--saya-- minta maaf. Saya sedang terburu-buru. Bisakah Anda menolong saya?" tanya Keira terbata-bata. Separuh takut separuh malu juga. Posisinya saat ini tentu sangat tidak enak dipandang mata. Bersimpuh di depan bawah perut seorang pria. Suasana juga seketika hening. Ia baru menyadari ternyata rekan-rekan sejawatnya sudah berbaris rapi di depannya. Sepertinya ia memang sudah terlambat.
Orang tersebut tidak berbicara sepatah katapun. Tetapi Keira mendengar suara seperti ikat pinggang yang dibuka dan tawa tertahan rekan-rekannya. Setelah rambutnya terbebas, ia segera meraih tas dan botol air minumnya yang menggelinding pada sudut ruangan.
"Terima kasih. Saya benar-benar minta maaf Pak--"
Wajah Keira memutih melihat siapa yang sudah ditabraknya. Alrasya Abiyaksa!
"P--P--Pak Ras--Rasya. Saya benar-benar tidak sengaja." Keira semakin gugup saat menyadari orang yang ditabraknya sesungguhnya adalah orang yang paling ingin dihindarinya.
"Lain kali, kalau berjalan jangan hanya memakai kaki dan mata. Tetapi otak dan mata difungsikan juga," suara dingin dan datar menimpali ucapannya. Begini ini seorang Rasya kalau sudah membuka mulutnya. Semua orang tidak ada yang benar di matanya. "Jangan karena kelalaian Anda, orang lain jadi ikut celaka," imbuh Rasya lagi. Sejurus kemudian terdengar suara ikat pinggang yang kembali dikencangkan.
"Baik," jawab Keira singkat. Semakin lama berinteraksi dengan pengacara ini, Keira semakin takut berucap. Ia takut terpeleset. Ujung-ujungnya nanti KUHP lah yang dibawa-bawa. Hidupnya sudah rumit tanpa harus dicekoki dengan pasal-pasal berlapis lagi.
"Sekarang ganti pakaian Anda dan segera kembali ke sini. Rumah sakit ini sudah penuh dengan perawat yang indisipliner. Jadi tidak usah Anda tambahi lagi."
"Baik." Tanpa ba bi bu lagi, Keira berlari menuju lokernya dan bersiap-siap menghadapi semburan api dari naga ganas ini. Semoga saja hatinya tidak gosong nantinya. Aamiin.
Lima menit kemudian, ia sudah berbaris rapi dengan rekan-rekan sejawatnya yang lain. Ia sudah bersiap menebalkan telinga untuk mendengarkan amarah dan sindiran Rasya. Namanya saja briefing pagi. Tapi ia yakin, itu hanya kedok saja. Aslinya pasti Rasya ingin menyemburkan sebagian api di mulutnya. Tetapi ia juga harus mengakui kalau kinerja rekan-rekannya akhir-akhir ini memang tidak begitu baik. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur atau bermain ponsel pada saat shift malam daripada benar-benar bertugas.
"Seperti yang rekan-rekan sekalian ketahui, di negara kita ada kode etik keperawatan yang telah disusun DPP PPNI melalui munas PPNI pada tanggal 29 November 1989. Di sana termaktub tentang masalah etika keperawatan. Menurut ICN, ada sepuluh kode etik keperawatan dan tujuh nilai-nilai perawat proffesional yang harus rekan-rekan junjung tinggi. Ke sepuluh kode etik ini, saya yakini rekan-rekan sekalian sudah menghapalnya di luar kepala. Hanya saja, cuma dihafal tok, bukan dipraktekkan. Apalagi diamalkan," sindir Rasya pedas. Keira melirik beberapa rekannya yang memang kerap kali mengabaikan tanggung jawab, mulai gelisah. Mereka tahu, pasti kesalahan mereka akan dikuliti selembar demi selembar di sini.
"Saya tidak akan membahas tentang masalah ke sepuluh kode etik lagi, karena saya yakin rekan-rekan sekalian telah hapal isinya. Tapi saya akan membahas tentang tujuh nilai-nilai professionalisme sebagai seorang perawat yaitu ; aesthetic, altruism, equality, kebebasan, human dignity, justice dan juga truth."
Suasana seketika hening. Wajah beberapa rekannya mulai berkeringat. Sebentar lagi, mereka pasti akan dibantai habis-habisan.
Termasuk lo juga, Ra. Lo itu udah terlambat, masih nyari story lagi sama si naga api. Bener-bener nyari mati!
"Dengan kalian tertidur di saat jam kerja, itu artinya kalian telah melanggar nilai aesthetic dan altruism. Mengapa? Karena di saat kalian tidur di waktu dinas, kalian telah gagal memberikan rasa aman bagi pasien. Ketika mereka membutuhkan kalian karena suatu hal, kalian malah tidak ada di tempat. Perilaku yang seperti ini menunjukan kalau kalian tidak berkomitmen pada tugas dan tidak peduli terhadap kesejahteraan pasien. Padahal seorang perawat seyogyanya bertanggung jawab penuh terhadap pasiennya di saat ia sedang bertugas."
Suasana yang sebelumnya hening, bertambah hening saat Rasya menguraikan kesalahan mereka satu persatu. Mereka kini menyadari bahwa mereka bersalah. Mereka telah mengabaikan hak orang lain padahal mereka telah dibayar untuk melakukan semua itu. Kini mereka hanya bisa pasrah. Semoga saja mereka semua tidak diberhentikan dari rumah sakit. Mereka sudah terlanjur nyaman di sini.
"Saya tidak akan memberikan sanksi apa-apa kali ini. Saya anggap ini adalah pembelajaran bagi kita semua akan perlunya kesadaran diri. Akan tetapi, setelah peringatan pertama ini, tidak akan ada lagi keringanan untuk kesalahan yang berulang." Desahan napas lega memenuhi ruangan.
"Kalian semua boleh kembali bertugas," Keira mengucap kata alhamdullilah berkali-kali di dalam hati. Persoalan hanya sampai di sini rupanya. Syukurlah. Padahal ia sudah cemas setengah mati tadi. Alhamdullilah.
"Kecuali Ibu Keira Wicaksana,"
Matiii....
"Ada beberapa hal yang harus kita bahas lagi."
Ya Allah, ya Robbi. Tolonglah hambaMu ini!
Sudah sepuluh menit Keira duduk di hadapan Rasya. Tetapi orang yang bersangkutan masih terus saja mendiaminya. Rasya hanya duduk santai di kursi kebesarannya sambil sesekali mengetik di keyboard laptop. Matanya hanya fokus memandangi layar laptopnya. Kehadirannya hanya dianggap seperti lemari arsip saja sepertinya. Semenit, dua menit, tiga menit pun berlalu. Keira mulai gerah dan merasa tidak betah.
Apa mungkin si Rasya ini sedang menunggunya mengakui kesalahannya terlebih dahulu ya? Biasanya dalam film-film detektif 'kan seperti itu. Pengacara menunggu clientnya menceritakan semua permasalahannya sampai tuntas terlebih dahulu. Setelah itu, baru 'lah si pengacara mencari solusi untuk menolong clientnya. Baiklah. Mungkin sebaiknya ia mengaku duluan saja. Mudah-mudahan kemarahan si Rasya ini bisa sedikit reda kalau ia menunjukkan itikad baiknya. Keira berdehem beberapa kali sebelum mulai berbicara.
"Saya minta maaf, Pak. Saya mengaku kalau saya memang terlambat masuk hari ini," ucap Keira pelan. Raut wajahnya ia usahakan menyesal. Rasya mengalihkan pandangan dari layar laptop. Rasya kini menatap wajahnya kala mendengarnya mulai berbicara. Ternyata dugaannya benar. Si Rasya ini baru bereaksi setelah ia dengan jujur mengakui kesalahannya.
"Tapi saya hanya terlambat dua menit, Pak. Saya bersumpah."
Krik... krik... krik...
"Soalnya ta--tadi jalanan macet sekali, Pak. Makanya saya ja--jadi sedikit terlambat."
Krik... krik... krik...
"Sekali lagi, sa--saya minta maaf ya, Pak?" Hening. Rasya sama sekali tidak bersuara. Keira mulai bingung. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk mendapatkam maaf dari Rasya.
"Saya harap Bapak bersedia memaafkan kesalahan saya. Sebelum ini saya tidak pernah terlambat bekerja," Keira menghentikan kalimatnya saat Rasya menatapnya dalam-dalam. Sepertinya Rasya tidak mempercayai segala ucapannya. Ya memang ia berbohong sedikit juga sih.
"Baiklah. Saya mengaku. Saya memang pernah terlambat beberapa kali dalam setahun ini. Tetapi semuanya tidak lebih dari sepuluh menit. Bapak tahu sendiri 'kan kalau pagi-pagi itu macetnya seperti apa?" terang Keira berusaha mencari pembenaran.
Keira semakin tidak betah berada dalam ruangan ini. Rasya kembali ke mode semula. Membisu. Keira memutar otak. Berusaha mencari cara agar ia bisa secepatnya keluar dari situasi yang tidak mengenakkan ini. Bukan apa-apa. Berdekatan dengan Rasya, auto membuat dosa-dosanya terancam bocor semua. Lihatlah, tatapan matanya saja seolah-olah mengatakan ; jangan berani-berani membohongi saya. Bagaimana orang bisa betah berdekatan dengannya?
"Kalau Bapak memang sedang sibuk, saya mohon diri dulu," pamit Keira sembari beringsut dari kursi.
"Apa tadi saya mengizinkan Anda untuk pergi? Lagi pula lebaran masih tiga bulan lagi. Ngapain Anda minta maafnya sekarang?"
"Saya... saya..."
"Duduk."
Mau tidak mau Keira duduk kembali. Rasya mengotak-atik laptopnya sebentar, baru kemudian menutupnya. Perhatiannya kini benar-benar hanya tercurah padanya.
"Kacamata kamu mana?"
Heh, kacamata? Keira cengo sejenak. Jadi ia secara khusus dipanggil ke sini hanya hanya untuk urusan kacamata doang? Ahelah rugi banget ia sudah mengakui semua kesalahan yang seharusnya tidak perlu ia umbar-umbar. Begini ini kalau berbicara dengan orang yang bicaranya lebih banyak menggunakan suara hati dari pada mulutnya. Kita jadi menebak-nebak terus dan akhirnya malah jadi salah terus.
Mengenai kacamata, sesungguhnya itu hanyalah kamuflase belaka. Matanya baik-baik saja. Tidak minus sama sekali. Awal ia memakai kacamata itu adalah karena ia dan Keisha bosan selalu dikenali sebagai orang yang salah. Bayangkan saja. Mereka itu kembar identik. Duduk sebangku lagi sejak TK. Orang-orang sering kali salah mengenali mereka berdua. Oleh karena itu mereka berdua pun mengambil inisiatif untuk membuat perbedaan saat mereka masuk SMP. Keisha mengusulkan kalau salah satu dari mereka memakai kacamata saja. Jadi ada yang berbeda. Karena ia kalah saat suit, maka ia lah yang harus memakai kacamata. Sejak saat itu, mereka terlihat sedikit berbeda dan tidak pernah salah dikenali lagi.
Lama kelamaan, ia jadi terbiasa dengan kacamata kamuflasenya. Nyaman sekali rasanya menjadi diri sendiri tanpa harus dibanding-bandingkan dengan Keisha yang memang sangat populer di sekolahnya. Keisha yang cantik, ramah, dan terkenal, menjadi rebutan para senior laki-laki di sekolahnya. Sementara ia yang nerd, tertutup dan pendiam, semakin tenggelam dari bayang-bayang Keisha. Mereka berdua akhirnya memang benar-benar berbeda.
Kacamata sekarang telah melekat erat pada dirinya. Hingga sekitar dua bulan lalu, penyamarannya terbongkar oleh ibu mertuanya sendiri. Sejak hari itu ibu mertuanya melarangnya untuk menggunakan kacamata lagi. Menurut ibu mertuanya, ia terlihat jauh lebih cantik tanpa menggunakan kacamata. Ibu mertuanya juga mengatakan, tidak baik kalau ia tidak mensyukuri anugerah dari Sang Pencipta. Diberi kesempurnaan dalam hal penglihatan, masa ingin disamarkan? Kalau dipikir-pikir, ibu mertuanya benar juga bukan?
"Apakah kamu mengalami masalah dengan pendengaran?" Suara datar-datar kesal Rasya seketika menghentikan lamunannya.
"Saya sedang tidak mengenakan kacamata saat ini, Pak?" jawab Keira cepat.
"Saya tidak buta, Keira. Saya jelas-jelas melihat kalau kamu tidak menggunakan kacamata saat ini. Makanya saya tanya, kacamata kamu mana?" Keira terdiam. Ia merasa heran. Rasya sudah dua kali menyapanya dengan sapaan kamu dan bukan anda lagi. Ia bahkan memanggil namanya saja tanpa embel-embel ibu lagi. Sepertinya Rasya ini lebih santai kalau mereka hanya berdua saja.
"Saya sudah tidak perlu memakai kacamata lagi sekarang, Pak."
"Kenapa?" Rasa penasaran membayangi mata gelap Rasya.
"Mata minus saya sudah sembuh. Jadi saya tidak perlu menggunakan kacamata lagi."
"Kamu melakukan operasi lasik?" Keira menggeleng. "Tidak, Pak. Mata minus saya sembuh dengan sendirinya," sahut Keira asal. Ia kebingungan karena terus saja dicecar oleh Rasya. 'Kan tidak mungkin kalau ia mengatakan bahwa ia menggunakan kacamata hanya karena kalah suit dari Keisha bukan?
"Kalau begitu mungkin kamu adalah salah satu bukti dari keajaiban dunia. Karena setahu saya, dalam dunia medis, mata minus itu tidak dapat disembuhkan kecuali dengan operasi lasik. Saya rasa mulai hari ini, kamu sudah bisa menerima endorsement suplemen khusus mata. Jika ekstrak kulit manggis saja bisa mendunia, mungkin kali ini kamu bisa mencoba ekstrak kulit buah durian," sindir Rasya lagi.
Keira menelan salivanya sendiri. Ia malu. Bayangkan saja. Ia yang nota bene adalah seorang perawat, bisa mengeluarkan pernyataan setidak masuk akal itu? Ia sudah mempermalukan profesinya sendiri.
"Saya--saya--" Keira tidak tahu harus menjawab apa terhadap sindiran Rasya. Rasya mengangkat tangan kanannya ke udara. "Baiklah. Kalau kamu memang tidak mau menceritakan tentang misteri kacamata ajaibmu itu, ya sudah. Kita akhiri saja masalah itu sampai di sini."
Rasya kini membuka tas kerja dan mengeluarkan beberapa buah map coklat. Ia membuka lembarannya sebentar sebelum menutupnya kembali.
"Saya memanggil kamu ke mari sebenarnya adalah untuk urusan dokumen-dokumen ini. Ketiga dokumen ini berisi draft-draft perjanjian kerjasama perusahaan ayah mertua kamu yang sudah saya legalkan. Tadinya saya ingin mengantarkan dokumen-dokumen ini ke kantor Om Abi. Hanya saja, karena ada kamu di sini, jadi sekalian saja saya titipkan. Tolong berikan dokumen-dokumen ini pada Om Abi ya, Ra?"
Keira lekas-lekas mengangguk. Dengan cepat ia menyatukan tiga dokumen itu dan memeluknya di dada. Ia sudah tidak betah lama-lama di ruangan ini.
"Kamu boleh kembali bekerja sekarang,"
Alhamdullilah hirobbil alamin.
"Oh iya. Sekedar ingin mengingatkan. Terhitung mulai hari ini, saya telah membuat peraturan baru. Barang siapa yang terlambat lebih dari lima menit pada saat pergantian shift, maka keterlambatannya akan diakumulasikan. Apabila sudah mencapai satu jam, maka akan dikenakan pemotongan gaji. Jelas, Keira Wicaksana?"
"Jelas, Pak."
Nasib... nasib...
***
Keira membolak-balik tubuhnya di atas pembaringan dengan gelisah. Sudah hampir satu jam ia membaringkan tubuh. Tetapi ia belum juga tertidur. Ia melirik ke sebelah kanan ranjang. Kosong. Tempat yang biasa ditiduri oleh Panji itu masih rapi. Sebuah guling sudah terpasang rapi di sana. Tetapi sang penghuni ranjang itu masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
Keira melirik jam dinding berbentuk hati di dinding. Pukul dua pagi kurang lima menit. Sebenarnya ia sangat cemas. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Panji. Biasanya ibu mertuanya lah yang akan menelepon Panji kalau ia belum pulang pada jam-jam yang tidak lazim seperti ini. Tetapi saat ini kedua mertuanya sedang berada di luar kota. Mereka berdua mengunjungi Pandu di perkebunan tehnya di Jambi sana. Ibu mertuanya merindukan putra sulungnya yang memang sangat jarang pulang. Ia sendiri hanya pernah bertemu satu kali dengan Pandu. Itu pun terjadi pada satu setengah tahun yang lalu. Saat Pandu menghadiri pernikahannya dengan Panji.
Keira meraih ponsel, ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja pada Panji. Ia tidak tenang sebelum mengetahui keadaan suaminya.
Mas Panji di mana?
Pesannya masuk. Namun belum dibaca. Keira menunggu lima menit, sepuluh menit, hingga tiga puluh menit pun berlalu begitu saja.
Ting!
Ada notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Keira buru-buru membuka aplikasi obrolannya.
Saya ada urusan di luar.
Keira menghela napas panjang. Hanya jawaban singkat seperti ini yang ia terima setelah semalaman cemas setengah mati.
Mas pulang jam berapa?
Kali ini pesannya langsung dibaca dan sepertinya langsung dibalas juga. Ada tulisan typing di sana.
Saya tidak pulang. Urusan saya masih lama. Jangan chat saya lagi.
Keira membaca balasan pesan singkat Panji tanpa berani untuk membalas lagi. Satu kata yang menggambarkan perasannya saat ini. Sakit hati sendiri. Tapi ya sudahlah. Setidaknya ia tahu kalau suaminya itu dalam keadaan baik-baik saja. Itu saja sudah cukup. Keira menatap langit-langit kamar. Ia benar-benar kehilangan kantuknya sekarang. Tatapannya mengembara hingga membentur photo pernikahannya dengan Panji di dinding kamar. Walaupun mereka berdua terlihat tersenyum di photo itu, tetapi tatapan kedua mata mereka itu hampa. Kosong. Tidak terlihat kebahagiaan sedikitpun di sana.
Keira beringsut dari pembaringan dan menghampiri photo pernikahannya. Entah mengapa malam ini ia rindu sekali pada Panji. Ia ingin melepaskan sedikit beban rindu sendirinya dengan memandangi photo suaminya.
Sampai kapan saya harus menunggu kamu membuka hati untuk saya, Mas? Kata orang waktu akan menyembuhkan segalanya. Tetapi kenapa kamu terus saja memandangi saya dengan penuh kepahitan, Mas? Satu setengah tahun telah berlalu. Apakah itu masih belum cukup, Mas?
Apakah Mas tahu kalau menunggu seseorang yang sebenarnya ada dalam sejangkauan tangan itu, sangat menyakitkan? Selama ini saya selalu menyediakan tangan saya untuk Mas genggam. Tetapi mengapa Mas masih saja mencari tangan lain yang tidak jelas keberadaannya?
Keira merasa matanya berembun. Jatuh cinta sendiri itu memang mengenaskan. Terlebih lagi pihak yang di jatuh cintai tidak pernah mengetahui perasaan kita. Rasa ngenesnya dua kali lipat rasanya. Karena kantuk yang sudah kadung hilang, Keira memutuskan untuk bermain ponsel saja. Ia tengkurap seperti bayi dan mulai berselancar di dunia maya. Posisi seperti ini memang paling nyaman untuk bermain ponsel. Berselancar di dunia maya memang mengasyikkan. Ia suka menghabiskan waktu dengan mengamati kehidupan teman-teman maupun suaminya dengan mengikuti medsos mereka. Biasanya Panji tidak mau menerima permintaan pertemanannya di semua medsosnya. Tetapi sejak ia membuat akun baru dengan mencomot wajah artis yang entah siapa namanya, permintaan pertemannya diterima oleh suaminya. Namanya juga laki-laki. Harus diberi trik-trik khusus baru bisa dikelabuhi.
Ia memulai aksi selancarnya dengan membuka IG. Berkali-kali ia tertawa-tawa sendiri saat melihat akun khusus gambar-gambar lucu. Akun suaminya sepi-sepi saja. Tidak ada postingan baru di sana. Ketika secara tidak sengaja ia menekan story Soraya, hatinya mencelos seketika. Story Soraya memperlihatkan suasana party meriah salah satu club papan atas negeri ini. Bukan clubnya yang menarik perhatiannya. Tetapi laki-laki berkemeja putih yang sedang memeluk mesra pinggang seorang wanita berambut panjanglah, yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Keira langsung duduk dari posisi tengkurapnya. Ia kembali memandangi story anak Tante Gina itu dengan seksama. Tidak salah lagi. Laki-laki berkemeja putih itu memang Panji. Ia sangat hapal postur maupun gesture tubuh suaminya. Hanya saja perempuan yang dipeluk erat oleh Panji itu, selalu menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya. Ia jadi tidak bisa melihat secara jelas wajahnya.
Keira menutup ponsel dan melemparnya ke sudut ranjang. Air matanya kembali tumpah mengingat bagaimana mesranya suaminya memperlakukan wanita tadi. Hang out di club bersama wanita lain, rupanya urusan suaminya. Hatinya menjerit-jerit tidak terima. Tetapi ia bisa apa? Paling hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya. Paling mentok-mentoknya, berdoa memohon kekuatan untuk bisa menjalani pernikahan tanpa bahtera dan tujuan seperti ini.
Keira menutup wajahnya dengan bantal agar suara tangisnya sedikit teredam. Sakit sekali hati ini, ya Allah. Seperti beribu-ribu sembilu yang mengiris kecil-kecil kepingan hatinya. Kejadian seperti inilah yang kerap kali membuatnya ingin bercerai. Hanya saja ibunya dan Panji selalu saja menghalanginya. Ibunya selalu menekankan nama baik keluarga, dan Panji selalu beralasan belum waktunya. Mungkin Panji sedang menunggu orang yang tepat sebelum menendangnya keluar, apabila wanita impiannya sudah didapat. Selama ini ia sabar karena ia mengira, suatu saat keadaan ini pasti akan berubah. Hanya saja ia tidak menyangka, kalau keadaan seperti ini malah bisa membunuhnya pelan-pelan.
Ia telah salah mencintai seseorang yang tidak mampu ia raih. Ia diiizinkan untuk bertemu setiap hari, bahkan tidur di ranjang yang sama. Namun hatinya terus menahan perih karena menyadari bahwa hati seseorang itu tidak akan pernah ia miliki. Air matanya kembali mengalir diam-diam. Jalan hidupnya memang selalu tidak pernah mudah. Apa pun yang pernah diinginkannya harus selalu ia raih dengan susah payah. Dulu masalah cita, dan kini masalah cinta.
Ia ingat sewaktu Keisha ingin mengikuti kelas modelling dulu. Ibunya langsung mendaftarkannya pada salah satu agensi terkenal pada saat itu juga. Kata ibunya bakat itu memang harus dikembangkan. Dan ia akan selalu mendukung keinginan anak-anaknya. Di saat yang sama, ia ingin mengikuti les piano di sekitar komplek rumahnya. Ibunya menolak dan mengatakan bahwa les-les seperti itu hanya buang-buang uang saja. Ia sampai harus mengumpulkan uang saku selama berbulan-bulan demi bisa mengikuti dua kali pertemuan. Darah boleh sama, wajah juga bisa serupa. Tapi nasib mereka berdua sangat jauh berbeda.
Dalam kesedihan dan keputus asaan, Keira hanya bisa berdoa. Jika di waktu lalu ia meminta kemudahan dalam menjalani hari-harinya, kali ini isi doanya sudah berubah. Ia tidak ingin meminta kemudahan hidup lagi. Tetapi ia memohon agar lebih dikuatkan. Dengan begitu semua kesulitan-kesulitan yang ia hadapi, akan lebih mudah untuk dijalani. Semoga saja kesedihan di malam ini, akan berbuah kebahagiaan di pagi hari. Semoga. Aamiin ya rabbal alamin.