"Mas, pulang jam berapa?" tanya Bella dengan suara lembutnya. Sore itu ia sangat menantikan kehadiran suaminya pulang.
"Nggak tahu nih, kayanya masih lama. Kamu sabar ya. Mas pasti pulang kok!" suara itu seperti terdengar terpaksa oleh Bella.
Wanita dengan rambut panjang sedada itu berwajah masam. Ia kesal mendengar jawaban dari suaminya itu.
"Memangnya ada kerjaan apa lagi sih, Mas. Sudah sore begini masa belum kelar," kata Bella dengan menggerutu.
"Aku tungguin habis maghrib ya. Kamu udah harus pulang. Aku kangen, Mas. Hehehe . . . " ucap Bella dengan tersenyum sendiri.
Ya jujur saja Bella memang ingin sekali memeluk suaminya.
Bayangan tentang betapa cantiknya Arum muncul. Bella berfikir kalau ia tidak boleh membiarkan Mas Bara di miliki oleh orang lain. Hanya dia seorang yang selamanya memiliki Mas Bara.
"Hem . . . iya, Aku usahain ya!" seru Bara dengan malas. Ia menutup panggilan dari sang istri dengan cepat.
"Loh kok, dimatiin sih! padahal aku mau bilang i love you," gerutu Bella dengan menubrukkan diri ke kasur.
"Apa aku coba telfon lagi ya?" tanya Bella sendiri.
Ia pun segera menelpon kembali sang suami.
"Hallo, Mas aku mau bilang sesuatu," kata Bella dengan cepat. Ia takut mengganggu suaminya yang sedang bekerja. Dasar perempuan memang labil.
"Iya, ada apa lagi Bella?" tanya Bara dengan wajah kesal di seberang sana.
"I love you, Mas," kalimat itu terdengar lirih namun di iringi dengan perasaan penuh kasih.
"Iya, I love you too Bella. Udah dulu ya. Mas lagi kerja nih," terdengar singkat namun Bella merasa sudah lega sekarang.
"Oke. Assalamualaikum."
"Walikumsalam."
Bella menghembuskan nafasnya dengan pelan. Perasaannya kini mulai tenang. Kalimat sederhana yang di ucapkan oleh mereka berdua memang biasa. Namun itu membuat perubahan yang lebih indah dari biasanya.
***
"Mbak, bangun Mbak," telapak tangan Mirna menggoyang goyangkan lengan wanita berwajah putih itu dengan pelan.
Bella langsung membuka matanya dengan perasaan kaget. Pemandangan jendela dengan tirai putih bercahaya orange.
"Mbak Bella, udah mau maghrib Mbak bangun," ucap Mirna sang asisten rumah tangga tanpa lelah.
Bella akhirnya duduk dengan pelan. Ia melihat jam dinding kotak yang menempel di tembok.
pukul setengah enam sore. Mulut Bella beristighfar karena ketiduran sampai hampir malam seperti ini.
"Kenapa kamu baru bangunin aku, Mir?"
"Ya Allah, Mbak Bella udah Mirna bangunin beberapa kali dari jam empat. Tapi nggak bangun- bangun," jawab Mirna dengan bibir mengerucut.
"Mas Bara udah pulang, Mir?" tanya Bella sambil mengucek matanya.
"Belum, Mbak. Mungkin habis maghrib sudah sampai sini," kata Mirna dengan asal.
Setelahnya Bella mandi air hangat dan bersiap untuk sholat maghrib. Seusai sholat ia berdoa dengan sangat khusyuk.
"Ya Allah yang maha penyayang. Sembuhkanlah luka hatiku, agar aku sanggup membalas sakit hati dengan senyuman. Ya Allah jujur saja aku benar benar merasa sakit sekali saat melihat Mas Bara dan wanita itu di mobil sedang berciuman. Semoga apa yang aku lihat bukanlah perselingkuhan suamiku. Semoga apa yang di jelaskan oleh suamiku itu benar. Kalau dia tidak benar benar melakukan adegan itu. Ya Allah kuatkanlah hambamyambamu yang lemah ini. Ampunilah dosaku ya Allah. Jika karena dosaku engkau mengujiku seperti ini. Tolong ampunilah dosaku Ya Allah. Amin ya rabbal alamin," kedua telapak tangan Bella mengusap wajah dengan hangat.
Kini perasaannya begitu lega karena semua yang ada di dalam hatinya kini sudah tercurahkan kepada sang Maha segalanya.
Pukul sebelas malam tiba. Mata Bella mulai terasa mengantuk. Berulang kali ia menguap dan berkedip kedip terus. Berusaha untuk terus membuka matanya lebar lebar.
"Ya Allah! Mas Bara lagi dimana sih? kenapa dia jam segini belum pulang juga?" tanya Bella dengan sendirinya. Ia kini berdiri sambil mengintip keluar dengan membuka sedikit gorden abu abu.
Terlihat suasana malam sepi sekali. seperti hatinya yang sunyi. Perasaan gundah mulai muncul saat menengok ternyata jam menunjukkan pukul dua belas malam. Bella menghembuskan nafas dengan geram.
"Astaghfirullah hal adzim!" ucap Bella dengan duduk bersender kembali sambil mengelus dadanya.
"Mas, mas kamu kenapa hapenya mati? kamu dimana, mas? Ya Allah ya rabbi . . . "
Seketika Bella kaget saat suara petir menyambar.
"Subhanallah!" ucap Bella dengan memegang dadanya.
Suara petir itu benar benar menakutkan namun lebih menakutkan kalau suaminya sampai berani berselingkuh.
"Ya Allah jangan hujan dulu ya, aku mohon. Soalnya Mas Bara belum pulang," ucap Bella dengan wajah khawatir.
Ia kembali melihat layar ponsel dan melihat nama kontak suaminya. Segera saja ia menelfon. Namun tak ada jawaban sama sekali.
Kini Bella mendengar suara mobil. Ia segera membuka gerbang yang tidak terlalu besar milik rumahnya itu.
Mobil masuk ke dalam parkiran rumah yang terlihat pas sekali untuk ukuran mobil.
Kini pria dengan kemeja putih dan jaket hitam itu keluar dari mobil. Wajah oval itu terlihat kelelahan. Matanya bahkan tidak melihat wajah sang istri yang ada di depannya. Kakinya berjalan begitu saja memasuki rumah.
"Ya Allah! Mas, kenapa baru pulang?"
"Aku capek Bella. Lebih baik kamu buatkan aku susu putih hangat," kata laki laki yang kini membuka jaketnya dan meletakkannya di kasur.
"Capek? aku juga capek, Mas. Aku nungguin kamu sampai ngantuk banget kaya gini. Aku bela-belain nungguin kamu sampai malem banget kaya gini. kenapa sih kamu nggak jawab telfon aku? udah gitu telfonnya mati lagi. kamu seharusnya ngabarin aku dong mas! Aku ini istri kamu, mas!" kekesalan Bella meluap di depan wajah suaminya.
"Suami baru pulang malah di omelin kaya gini! aku tuh kerja banting tulang sampai malem kaya gini tuh! buat kamu Bella!" seru sang suami sambil membuka kemeja putihnya. Lalu ia bergegas menganti baju dengan kaos dalem putih. Lalu duduk di kasur dengan wajah masih kesal.
Bella mengambil jaket dan kemeja serta tas suaminya. Ia menaruh barang barang itu pada tempatnya.
Setelahnya ia duduk di samping suaminya.
"Mas! kamu tahu nggak sih kalau ada hadist yang menjelaskan kalau sunahnya itu menyegerakan pulang ke keluarganya, setelah menunaikan tugas hendaknya jangan menunda-nunda dengan melakukan hal yang bukan menjadi tugas atau tujuan safar," kata Bella dengan tegas.
Sang suami melirik masa bodo.
"Kamu pasti habis kerja, terus main sama teman kamu ya, Mas? ngopi ngopi nggak jelas atau main futsal atau jangan jangan kamu sama arum," mata Bella mengintimidasi.
"Bella stop," kini mata teduh itu berubah ganas menatap wajah Bella dengan penuh amarah.
"Kamu jangan sembarangan nuduh Bella. Otak kamu itu nggak pernah berpikir positif sama aku. Kamu juga nggak usah ngomongin tentang Arum. Dia cuma teman aku Bella!"
"Ya sudah," seru Bella dengan suara keras.
"Sekarang kamu jelasin sama aku kenapa kamu bisa pulang malem banget kaya gini ha?" suara itu terdengar tinggi sekali hingga menggelegar ke seluruh ruangan membuat asisten rumah tangga mereka. Mirna, membuka matanya dengan pelan. Mirna kaget sekali mendengar sang majikan bertengkar.
"Aku malas menjelaskan semua sama kamu. Karena kamu pasti nggak akan percaya sama aku. kamu selalu berpikiran negatif tentang aku. Iya kan bener kan?" kata Bara seolah menembak perasaan istrinya dengan sakit.
Bella menghembuskan nafas kesal.
"Ya udah kalau kamu nggak mau jelasin sama aku. Aku udah tau betapa buruknya kamu sekarang Mas," kalimat itu membuat sepasang suami istri ini berhenti berkata-kata lagi.
Itu adalah kalimat terakhir untuk malam ini. Bella berdiri dengan cepat dan berjalan keluar lalu menutup pintu dengan kasar.
Bara sudah lelah dengan semua yang terjadi di dalam harinya. Ia tidur di kamar dengan lelap.
Sementara Bella duduk di sofa ruang tengah. Ia memandangi bingkai foto yang indah. Sepasang pengantin yang sangat serasi.
Hati Bella tidak bisa menahan rasa kesal yang bercampur rasa sedih. Kedua matanya kini di banjiri oleh air mata hangat. Pundaknya naik turun di iringi suara hidung yang tersumbat akibat tangisan.
"Mbak Bella . . ." panggil suara ragu-ragu itu dari belakang.
Bella tidak menengok karena ia tidak mau Marni tahu kalau dirinya sedang menangis. Bella mencoba menahan suara agar tidak serak.
"Aku lagi pengin tidur disini Mir. tolong jangan ganggu ya Mirna," ucap Bella dengan tegas.
Mirna hanya bisa melihat dengan kasihan punggung majikannya itu.
Subuh tiba namun Mirna tidak membangunkan majikannya. Ia merasa kasihan karena saat itu Bella benar benar tidur dengan lelap sekali.
Pukul tujuh Bella membuka matanya. Ia menghirup bau masakan di dapur. Kepalanya sedikit pening. Ia mencoba untuk duduk dan melihat dari cahaya yang masuk ke ruang tamu.
"Udah siang banget Ya Allah! aku belum solat shubuh," ucapnya lalu segera menuju ke toilet yang ada di belakang.
Ternyata hari ini dirinya datang bulan. Langsung saja ia gunakan pembalut malam. Karena hari pertama selalu deras untuk seorang perempuan.
"Mbak Mirna masakin nasi goreng. Pasti enak banget rasanya," kata Mirna dengan wajah berseri.
Bella tidak berkata apapun. Ia langsung saja menyendok nasi goreng yang sudah di sediakan di piring berwarna putih.
Bella mengunyah dengan penuh khidmat. Sejak malam perutnya memang lapar namun ia enggan beranjak ke dapur. Saat ini benar benar seperti surga. Bangun langsung ada makanan di depan mata. Makanan kesukannya lagi.
"Mbak, semalem kenapa? nangis ya?" tanya Mirna setelah melihat Bella selesai dengan sarapannya. Mata Bella yang begitu sembab membuat Mirna kasihan.
Bella tidak menjawab. Ia membersihkan sisa makanan di sekeliling bibir dengan tisu. Sungguh ia tidak ingin membahas apa yang terjadi saat malam itu.
"Semalem Mirna bangun gara gara sempat mendengar suara keras dari Mbak Bella. Keras banget sih! Mbak suaranya. Baru kali ini loh! Mirna mendengar suara Mbak sekeras itu," kata Mirna perempuan banyak omong itu.
"Nggak papa kok, Mir. Aku lagi datang bulan lagi nggak pengin cerita banyak. Aku bangunin Mas Bara dulu ya. kamu udah beresin dapur belum? sana beresin dapur dulu," ucap Bella lalu pergi menuju ke kamarnya.
Syukurlah pintu tidak di kunci oleh sang suami. Dilihatnya seprei polos berwarna abu abu yang berantakan. Lalu ada laki laki tidur dengan terlentang berwajah pulas.
Bella duduk di sisi ranjang. Ia memperhatikan wajah suaminya dengan penuh rasa sayang. Wajah yang menemaninya sejak lima tahun ini. Wajah yang penuh kesabaran. Meski mereka berdua belum di karuniai seorang bayi mungil. Wajah manis itu sangat membuat hati Bella berucap syukur.
Tangan Bella dengan lembut membelai pipi suaminya. Pipi dengan sedikit rambut tipis di sisi keduanya membuat Bella merasa gemas.
"Maafin aku ya, Mas. Semalam mungkin aku terlalu marah berlebihan sama kamu. Aku sayang banget sama kamu Mas," ucap Bella dalam hati terdalamnya.
Kini Bella melihat meja kecil yang di atasnya terdapat ponsel milik Bara. Ponsel itu menyala. Tangannya langsung meraih benda persegi panjang tipis itu.
Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat lihat apa yang ada di dalam ponsel suaminya.
Ia menemukan pesan WhatsApp yang masuk. Matanya membelalak melihat deretan chat yang banyak. Foto profilnya perempuan semua.
"Aku nggak trima perempuan perempuan ini ngechat suamiku. Kurang kerjaan banget sih mereka," seru Bella dengan perasaan membatu.
"Mas, bangun Mas!" beberapa kali Bella menepuk-nepuk lengan Bara.
"Masih ngantuk Bella, udah sana kamu keluar aja," jawab Bara dengan setengah sadar.
"Bangun Mas, udah siang. Udah jam delapan tuh," kata Bella dengan kesal.
Bara duduk dengan cepat. Wajahnya menampakkan geram kepada sang istri. Tubuhnya menggeliat sebentar lalu mengucek kedua matanya.
"Ini apa maksudnya?" tanya Bella dengan memperlihatkan layar ponsel tepat di depan muka pria berwajah kusut itu.
"Sini," tangan Bara merebut ponsel miliknya dengan keras.
"Kamu ngapain sih, pegang pegang hapeku?" tanya Bara dengan wajah geram tanpa melihat ke arah istrinya. Ia sedang fokus membuka pesan yang ada di layar ponselnya.
"Masa aku nggak boleh sih! lihat-lihat apa yang ada di hape kamu. Sejak kapan Mas?"
"Ya boleh, tapi izin dulu dong," jawab Bara masih menggerutu.
"Izin? memangnya aku ini siapa? orang lain? aku kan istrimu, Mas. Kamu aneh banget deh, masa pinjem hape aja harus izin," gerutu Bella.
"Kalau ada data yang tiba-tiba ke hapus gimana? kerjaan aku sebagian juga ada di hape ini," Bara membela diri dengan kedua matanya terbuka lebar menatap istrinya.
"Oke oke, aku minta maaf," kata Bella dengan pasrah. Ia menghembuskan nafasnya lalu mengeluarkan kalimat lagi.
"Aku nggak suka ada cewe yang chat kamu kaya gitu," kata Bella dengan membelakangi suaminya sambil melipat kedua tangannya.
"Apaan sih, chat apa?" tanya Bara yang kini sudah berdiri di depan Bella.
"Ya kamu baca aja tuh di hape kamu!"
"Udah, aku udah baca kok, terus apa?" tanya suaminya dengan bingung.
"Temen-temen kantor kamu itu nggak penting banget tahu nggak, mereka chat kamu kaya gitu. Gimana kabarnya? selamat beraktivitas ya, kamu lagi ngapain? sudah makan belum?" kata Bella sambil berbicara dengan kesal.
"Lah emang kenapa? mereka cuma temen aku," ucap Bara tanpa ada rasa bersalah.
"Tapi Mas, chat yang kaya gitu justru nanti akan semakin sering dan selanjutnya kamu bakal kepincut sama temen kamu. Chatingan setiap hari, ngirimin foto satu sama lain habis itu saling jatuh cinta. Iya kan?"
"Ya nggak mungkin lah, mereka udah tahu aku punya istri," kata Bara dengan tegas.
"Aku juga udah punya istri. Jadi untuk apa aku jatuh cinta sama cewe lain?"
Bella menunduk dengan kalimat suaminya itu. Apa dirinya yang salah selama ini? ia terlalu cemburuan dengan suaminya. Bara keluar dari kamar meninggalkan Bella yang berdiri mematung di depan jendela kamar yang bercahaya.