Kisah ini mengisahkan tentang pemuda tampan bernama Yudi Juliansyah, Yudi adalah kelahiran Kota Kembang Bandung. Ayahnya adalah seorang dokter ternama di kota kembang, sedangkan Ibunya awalnya adalah seorang model cantik berkebangsaan Prancis. Yang tinggal di Indonesia karena menikah dengan pemuda asal Bandung.
Hari ini Yudi sudah kelas tiga SMP, dia pulang sekolah membantu Mamanya memasak dan membuat kue.
"Yudi putraku sayang, tolong bantu Mama dulu nak!" pinta Mama Yudi dengan tersenyum.
"Iya Mama, aku bantu apa?" tanya Yudi dengan penuh keramahan.
"Nak kamu bantu Mama memasak dan membuat kue," jawab Mama Yudi dengan tersenyum.
"Iya Mama, aku bantu Memangnya Grandma dan Grandpa jadi datang dari Prancis?" tanya Yudi dengan sangat antusia sekali.
"Jadi sayang, mereka jadi datang. Yudi kamu kalau ada mereka berbahasa Prancis saja. Karena Grandma dan Grandpa kamu kurang pasih berbahasa Indonesia,"ucap Mama Yudi dengan tersenyum.
"Baik Mama, saya akan berbahasa Prancis. Tetapi kenapa Grandma dan Grandpa tidak belajar bahasa Indonesia? Sedangkan aku saja harus belajar bahasa Prancis dan Jerman," tanyaku dengan sangat kritis.
"Mereka sudah terlalu tua nak, tetapi sekalipun mereka tak bisa bahasa Indonesia. Mereka hanya paham sedikit kata," jawab Mama dengan tersenyum.
"Ok Mama," ucap Yudi dengan tersenyum.
Ketika Yudi, ke tempat kerja Papanya dia yang melihat Tentara sangat gagah sekali, niatnya yang menjadi Tentara akhirnya tumbuh dan semakin tumbuh ketika dia sudah masuk Sma.
Yudi akhirnya harus bertengkar oleh Ayah dan ibunya. karena dia di paksa untuk masuk ke universitas kedokteran setelah lolos ke universitas kedokteran.
"Kamu pokoknya harus masuk ke universitas kedokteran seperti papa, Papa nggak mau tau anak aku. Kamu harus menjadi dokter. Jadi akmu lebih memilih menjadi Tentara. Kamu segeralah angkat kaki dari rumah ini," ucap Papa dengaj penuh murka dan amarah.
"Kamu itu adalah calon dokter hebat nak, Mama nggak mau jika kamu menjadi Tentara. Mama sangat takut kamu mati dan tertembak. Apalagi kamu m,au jadi Air Force yang ada kamu mati dan tewas ketika terjun payung," ungkap Mama dengan menitikan air mata.
"Mama dan Papa, aku sangat ingin sekali menjadi Angkatan Udara. Tolong hargai dan dukung kemauan anak kamu, jika memang nyawa aku harus tewas dengan cara seperti itu. Aku sungguh bangga karena gugur menjadi pahlawan bangsa. Yang mengharumkan bangsanya, aku sungguh ingin dan tekad aku sangat kuat.
Tetapi mau nggak mau, Yudi harus mengabulkan permintaan orang tuanya untuk ikut tes di Malang. Mengikuti ujian masuk kedokteran di Malang, jika lolos dia akan kuliah di Jakarta. Tetapi Yudi menjawabnya dengan jawaban asal-asalan.
Sehingga membuat Papa dan Mamanya sangat marah dan murka kepadanya.
"Kamu ini kan pintar nak, masa jawab pertanyaan yang sangat mudah kamu nggak mampu, kamu ini sengaja kan menjawab asal-asalan Kamu sungguh nggak berguna," maki Papa dengan memelototi Yudi.
"Padahal Mama sudah membanggakan kamu sama kawan-kawan Mama. Tetapi kamu sungguh mengecewakan Mama nak," ucap Mama dengan ekpresi penuh kesedihan.
"Maafkan Yudi jika mengecewakan, Yudi sungguh meminta maaf dengan sepenuh hati. Mama dan Papa Yudi harap kalian mengerti aku," ucap Yudi dengan memohon kepada orang tuanya.
"Papa kasih kamu kesempatan sekali lagi nak, kamu pergi ke Kabupaten segera kamu daftarkan sekolah di universitas kedokteran. Jika kamu ingin mendapatkan maaf dari aku," ucap Papa dengan memolototi Yudi.
"Maaf Papa, aku nggak bisa. Aku maunya menjadi Tentara, aku mohon Papa paham dan menbgerti aku. Aku mohon Papa," ucap Yudi dengan memohon.
"Ok baiklah nak, kamu segeralah angkat kaki dari rumah ini. Jika kamu hanya membantah. Mama sungguh sangat menyesal memiliki anak seperti kamu. kamu nggak bisa Mama andalkan," ucap mama dengan nada sangat sinis danm kejam sekali.
"Iya kamu segeralah pergi nak, dari rumah ini. Papa sudah males melihat kamu lagi. Mulai sekarang kamu bukan tanggung jawsab kami lagi!" ucap Papa dengan nada sangat sinis sekali.
Ya ampun Yudi sampai menitikan air mata, ketika dia mendengarkan ucapan Mama dan Papanya seperti itu.
Yudi akhirnya mengerpak semua tasnya, membawa uang tabungannya. Tetapi Papanya melarang Yudi membvawa motor dan kartu kreditnya.
"Karena kamu anak yang pembakang dan susah di atur, kamu tak perlu membawa motor dan kartu kredit. Kamu jangan harap kami akan memberikan fasilitas ini," ucap Papa dengan nada meninggi.
"Baik Papa dan Mama, maafkan saya. Saya pergi dulu. Maaf jika saya mengecewakan mama dan papa," ucap Yudi dengan mengecup kaki kedua orang tuanya sebelum dia pergi dari rumahnya.
Yudi akhirnya menghubungi kawannya, dia segera menyamper kawannya. Mereka berdua akhirny pergi ke Jogjakarta.
"Halo brother!" sapa Yudi dengan menyapa sahabatnya Jeremy.
"Halo Yudi, kamu ke rumah aku saja!" sapa Jeremy dengan sangat ramahnya.
"Kita jadi kan brother, kita jadi akn segera ke Jogjakarta. Kita kan mau mendaftar Angkatan Udara," ucap Yudi dengan tersenyum.
"Jadi dong, kamu datang saja ke rumah aku. Kita berangkat naik kereta!" titah Jeremy denganh tersenyum.
SetIbanya di Jogjakarta, mereka akhirnya berjuang mengikuti seleksi. Mereka mendaftar untuk calon siswa Taruna di AAU. Dengan kekuatan doa dan kerja keras mereka akhirnya mereka berdoa lolos dan kini mereka sudah menjadi siswa.
Jeremy sangat heran sekali, kenapa sahabatnya Yudi murung. Dia akhirnya membuyarkan lamunanya.
"Kamu kenapa Yudi? Kenapa kamu melamun Yudi? Nanti kamu kesurupan tau!" ucap dan tanya Jeremy dengan memperingatkan.
Wajar jika Yudi melamun, karena dia memikirkan ungnya yang tinggal menipis, apalagi uang tabungannya tinggal dua juta rupiah.
"Aku hanya bingung brother, uang aku tinggal dua juta. Seenjak aku terusir dari rumah kedua orang tua aku kan sudah tak mau membiayai aku. Merek sangat marah dan murka brother. Uang saku aku tinggal dua juta," jawab Yudi dengan ekpresi wajah sedih.
"Ya ampun brother, keahlihan kamu apa? kamu segera jualan atau apa untuk menyambung hidup kamu. Kamu pasti hidup dan bertahan," ucap Jeremy dengan memberikan usul.
"Aku jualan gorengan saja iya, gorengan pasti laku. Apalagi tidak terlalu mahal. Semoga saja gorengan yang aku jula laku iya, aku mau lakukan apa pun demi aku bisa lulus denngan nilai terbaik," ucap Yudi dengan tersenyum termanis.
"Ok brother, kamu harus tetap semangat iya. Nanti sore kan kita tidak ada kelas penervbangan. Gimana jika kita belikan bahan-bahannya," ucap Yudi dengan mengusulkan.
"Boleh brother, aku juga akan menjual pakaian semoga saja ada hasilnya iya. Aku mau lulus dengan nilai terbaik. Setelah aku menjadi prajurit yang sukses, aku akan segera pulang dan membuktikan kepada orang tuaku jika aku bisa sukses tanpa slalu mengadalkan mereka!" ucap Yudi dengan semangat berapi-apai.
Bersambung.
"Ok Brother, kamu harus tetap semangat. Ingat kamu harus buktikan kepada orang tua kamu, jika kamu ini pekerja keras!" ucap sahabatku yang terus memberikan aku semangat.
Aku sangat mengantuk sekali, aku akhirnya masuk ke dalam kamar. Ingatlah aku ini pejuang dan petarung yang menggila, yang tak akan pernah letih dan menyerah. Walau terkadang tubuhku penuh luka dan koyo karena pegal-pegal karena kecapean. Aku harus sekolah militer, aku pula harus berjuang banting tulang walaupun terkadang letih aku harus kuat. Aku menjual gorengan dan pakaian. Tetapi aku selalu bersyukur, karena kawanku, seniorku bahkan dosenku di sekolah militer. Selalu membeli daganganku.
Aku percaya dengan ungkapan yang mengatakan, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Walaupun itu merupakan ungkapan sederhana, tetapi memiliki arti yang mendalam bagi hidup kita.
Supaya kita berjuang demi meraih mimpi dan asa kita, karena di dunia ini nggak ada yang instan. Kita harus meraihnya walau pun harus menempuh jalan terjal mendaki.
Kita harus memperolehnya walau pun kita sampai berdarah-darah, terima kasih Tuhan. Akhirnya mimpi aku menjadi kenyataan aku mampu lulus hanya sekolah dua tahun saja. Tetapi tidak dengan mudah.
Aku harus mengalami tahapan hidup dan pendewasaan diri, terima kasih Tuhan aku juga mendapatkan Adi Mahakasa.
Lulusan Akademi AAU yang di berikan secara langsung oleh Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden.
Setelah aku lulus, aku di tempatkan di Skadron7 Halim Perdana Kusuma.
Aku sangat takjub sekali, setibanya saya di Jakarta.
Kini saya sedang senam Maumere, bersama para anggota. Kami sangat bahagia berolahraga dan senam bersama, tiba-tiba komandan aku menghampiri aku dengan raut wajah penuh ketegasan.
"Yudi kamu ikut saya!" titah Komandan aku dengan penuh ketegasan.
"Siap Komandan," ucap aku dengan memberikan penghormatan kepadanya.
"Silahkan kamu duduk Yudi!" titah Komandanku dengan penuh ketegasan.
"Siap Komandan," jawabku dengan penuh ketegasan.
"Kamu sudah berapa lama dinas di Skadron7?" tanya Komandan aku dengan penuh ketegasan.
"Mohon izin menjawab Komamdan, saya baru dua minggu. Saya baru dua minggu di Skadron 7 Komandan," jawabku dengan penuh ketegasan.
"Ok kamu bisa berbahasa Asing?" tanya Komandanku dengan penuh ketegasan.
"Mohon izin menjawab Komandan, saya hanya bisa sedikit. Saya hanya bisa bahasa English, Prancis dan Chinese Komandan," jawabku dengan penuh ketegasan.
"Oia kamu bisa bahasa Prancis, wajah kamu seperti orang bule. Kamu bersedia menjadi mata-mata?" tanya Komandanku dengan penuh ketegasan.
"Siap Komandan, saya bersedia apa pun pekerjaannya. Demi membela tanah air dan tumpah darah," ungkap aku dengan penuh ketegasan.
"Ok jika kamu bersedia, ini kamu pelajari. Kamu ini postur dan wajah kamu bule, jadi saya akan mengirim kamu ke Eropa, Australia dan America Serikat. Tetapi tidak ke Cina. Sekali pun kamu bisa berbahasa Cina, kamu selidiki penyeludupan senjata. Kamu nanti bekerja sama dengan Angkatan Darat dan Laut," titah Komandan aku dengan penuh ketegasan.
"Siap Komandan," ucap aku dengan penuh ketegasan.
Komandan aku memberikan aku tugas ke Jerman, aku harus kursus dulu bahasa Jerman selama dua bulan sebelum berangkat.
Jantung aku rasanya mau copot, aku takut gagal. Tetapi aku hanya mampu berdoa dan menguatkan diri. Aku harus tetap semangat, demi misi aku menjadi mata-mata. Aku di Jerman selama setengah tahun.
Setelah misi sukses, aku akhirnya pulang ke Indonesia. Di Indonesia aku di sambut oleh Komandan dan Wakil Komandan Batalionku.
"Selamat Yudi, kamu memang hebat dan berbakat. Aku nggak salah menyerahkan tugas ini kepada kamu Yudi," ucap Komandan aku dengan tersenyum.
"Siap Komandan," jawabku dengan singkat.
Dari rumah Komandan aku, ada seorang gadis yang sangat cantik sekali. Wajahnya menggetarkan hatiku, langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Komandan aku yang seakan tau, jika aku menatap lekat gadis itu langsung berucap.
"Namanya adalah Jasmine, dia adalah putriku. Jika kamu mau memilikinya kamu harus memiliki segudang prestasi demi Skadron tujuh," ucap Komandan aku dengan menepuk pundakku dengan tersenyum.
Sahabatku Jeremy, Josep dan Iwan yang ada di sana langsung meledekku.
"Cie..., Yudi kamu sudah di berikan restu untuk menjadi calon menantu. Selamat iya tinggal tunggu undangannya saja aku," ucap Jeremy dengan meledek aku.
"Hebat sekali kau Yudi, bisa meluluhkan hati Komandan kita yang galak dan sanggar. Tetapi jika kamu menjadi menantunya cocok. Karena baik kamu dan Komandan kita sama-sama gila, sama-sama gila kerja dan uang," ucap Josep dengan meledek aku.
"Kau sangat beruntung sekali Yudi, Komandan kita langsung tersenyum dan memberikan lampu hijau. Jika yang lain atau senior terdahulu melihat putrinya seperti itu, kamu tau nggak apa yang terjadi sama prajurit tersebut? Prajurit tersebut langsung di pindahkan tugas dan bahkan langsung di marahi. Jika komandan kita tidak suka dan berkenan," ucap Iwan dengan menakuti-nakuti aku.
"Kalian bertiga ada-ada saja, jangan menjelekan komandan kita. Bagaimana jika itu hanya rumor? Jatuhnya adalah fitnah," ucap aku dengan memperingatkan bertiga.
"Terserah kau saja, kau ini tak percaya. Apa yang kami katakan, kami ini bicara sesuai fakta. Lagi pula kami lebih dulu berada di sini," ungkap mereka bertiga dengan sangat kompak sekali.
"Ok baiklah, yasudah aku mau ke kamar dulu iya. Soalnya aku sangat mengantuk, besok aku ada pengamanan. Permisi iya," ucapku dengan tersenyum.
Aku langsung masuk ke dalam kamarku, aku segera tertidur pulas. Aku terbangun pagi sekitar jam pagi, aku segera mengenakan seragam PDL(Pakaian Dinas Loreng) lengkap dengan univormku sebagai Angkatan Udara.
Setelah rapih, aku berlari membawa senapan sebanyak 100 putaran. Setelah itu senam Maumere. Kini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat melakukan pengamanan.
Aku harus semangat, aku harus mengumpulkan uang yang banyak. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Semoga saja Mama dan Papaku mau menerima aku.
Tuhan aku mohon kepadamu, tolong lunakan hati kedua orang tuaku yang sekeras batu. Begitulah doa aku setiap hari, aku mau bertemu dengan mereka.
"Yudi kamu kenapa? Kenapa kau melamun?" tanya Riki membuyarkan lamunan aku.
"Aku tidak apa-apa brother," jawabku dengan ekpresi sedih.
"Jika kamu capek dan lelah, kamu istirahat di mobil saja. Kamu tau kan kedatangan kita ke sini mau apa? Kita ini mau memata-matai pergerakan musuh," ucap Riki dengan menasehatiku.
"Iya aku tau, kita ke sini mau memantau pergerakan musuh. Kamu tenang saja nggak usah risau dan khawatir, mataku tajam setajam elang. Walaupun dengan satu mata tertutup aku masih bisa menembak sepuluh musuh sekaligus," ungkap aku dengan penuh percaya diri.
"Buktikan saja Yudi, kamu jangan banyak cakap. Siapa tau kamu hanya banyak omong tetapi kerjanya dikit," ejek Riki dengan tertawa menyindirku.
Bersambung.
Jiwa militerku seakan tertantang, mendengarkan makian dan hinaan Riki. Enak saja aku nggak mampu, aku kuat kuat kok. Aku buktikan dengan teknik menembakku. Aku langsung menarik pelatukku. Akhirnya dua puluh musuh mati dengan satu tarikan pelatukku. Kami mampu menang dengan menembakkasn pelatukku.
"Kau lihat kan kemampuanku, aku mampu kan. Melumpuhkan musuh. Tanpa perlu melukai sandera," ucap alu dengan tersenyum sinis.
"Ok aku akui jempol, keberanian kamu dan kerje keras kamu. Hebat kamu Yud ternyata omongan kamu nggak kaleng-kaleng," ucap Riki dengan tersenyum.
Setelah selesai, kini aku bersama pasukan sedang latihan terjun payung. Keadaan sedang hujan, aku yang sedang latihan terjatuh dan nyangsang di atas pohon. Untungnya nggak apa-apa.
"Kau tak apa-apa Yud?" tanya Woko dengan tersenyum menatap ke arahku.
"Aku nggak apa-apa Woko, aku hanya sangat kaget saja. Untungnya aku nggak apa-apa," jawabku dengan nafas tersengal-sengal.
"Untungnya kau tak meninggal iya, padahal satu tahun yang lalu. Rekan sejawat aku mati akibat terjun payung, Tuhan masih sayang engkau Yudi. Kau sangat beruntung," ucap Woko dengan tersenyum.
Tiba-tiba Nelson dan Nicky menghampiri kami, mereka mengajak aku untuk menonton di acara festifal yang di selenggarakan oleh AURI (Angkatan Udara Repubublik Indonesia)
"Kalian mau ikut nggak lusa?" tanya kembar berbeda jenis kelamin itu dengan tersenyum ke arah aku dan Woko.
Nelson itu laki-laki, sedangkan Niki adalah Perempuan.
"Sudah pasti ikut dong, aku mau membeli reflika pesawat. Berhubung aku adalah AURI. Aku harus berpatisiasi, jika ke acara Angkatan Darat dan Laut saja aku ikut. Masa berpatisipasi di matra aku saja aku tak ikut, memalukan Air Force dong!" ucap Woko dengan semangat berapi-api.
"Aku pasti ikut, siapa tau aku bertemu jodoh. Siapa tau ada yang nyantol kepadaku," ucap aku dengan tersenyum manis.
Ketika acara di mulai, aku bertemu dengan gadis yang lumayan cantik. Gadis itu meminta tolong kepada aku, dia memperkenalkan dirinya dengan tersenyum lebar.
"Permisi Pak, perkenalkan saya Santy. Saya mau minta tolong, dapatkah Bapak membantu saya?" tanya gadis ini.
"Boleh Nona, apa yang bisa saya bantu?" tanyaku dengan sangat ramahnya.
"Tolong bantu saya Pak, saya mau membeli reflika pesawat f16. Saya mau memberikan hadiah untuk Kakak saya," pinta gadis tersebut.
"Baik Nona, sekarang Nona ikut saya. Saya akan antarkan Nona,"ucap aku dengan sangat ramahnya.
"Terima kasih banyak Pak,"ucap gadis tersebut dengan tersenyum manis.
"Sama-sama Nona, ini Nona pesawat f16nya. Anda bisa menawarnya, jika anda ingin memilikinya. Saya mau pergi dulu," ucap aku dengan tersenyum.
"Baik Pak terima kasih banyak, semoga Tuhan membalaskan kebaikan Bapak. Saya sangat berterima kasih," ucap gadis tersebut dengan tersenyum manis.
Aku tak tau, setelah kejadian itu. Entah mengapa gadis yang bernama Santy selalu menghubungiku.
Santy terkadang mengajak aku jalan, jujur aku kurang terlalu suka dengan gadis yang agresif. Aku sudah menaruh hati dengan Jasmine anak Komandanku.
Puncuk di cinta ulam pun tiba, aku dan Jasmine akhirnya berpacaran. Sudah terasa aku berpacaran dengan Jasmine sudah enam bulan.
Aku harus merelakan diriku, di kirim ke Prancis selama satu tahun. Walau pun hubungan kami sedang hangat-hangatnya mau nggak mau aku harus tetap pergi ke Prancis.
"Sayang aku harus di tugaskan ke Prancis, kamu tunggu aku pulang iya. Setelah aku pulang, aku akan segera melamar kamu. Setelah pangkat aku Lettu, (Letnan Satu) aku akan segera menikahi kamu. Aku akan menjadikan kamu Ibu Pia Ardhya Garini,"ucap aku dengan tersenyum.
"Iya sayang, tetapi jangan lama-lama sayang. Masalahnya kan kita udah enam bulan pacaran, seharusnya kita tunangan dulu. Minimal supaya aku yakin jika kamu sangat menyayangi dan menyayangi aku sayang," ucap Jasmine dengan memanyunkan bibirnya.
"Kamu nggak usah ragu Jasmine, aku sungguh sayang dan cinta sama kamu. Aku berangkat dulu iya sayang, waktu satu tahun tidak lama. Intinya nanti kita akan menikah," ucap aku dengan mengecup kening kekasihku.
Aku berangkat bersama tiga rekan sejawatku, menuju Prancis. Setibanya di sana aku langsung melancarkan aksiku.
Entah mengapa setelah empat bulan aku di Prancis, sifat dan sikap Jasmine kekasihku berubah. Dia sangat cuek, rekan sejawat aku di skadton7 mengatakan jika aku harus melupakan Jasmine. Karena Jasmine rupanya telah di lamar oleh senior kami.
Bahkan Jasmine sendiri menerima lamarannya, aku tak lantas langsung percaya. Aku sangat yakin jika Jasmine mau menunggu aku kembali.
Tetapi sayangnya mimpi indah yang aku mau rajut bersama Jasmine, seakan runtuh dan sirna. Ketika aku pulang mereka sudah menikah. Bahkan sudah menjadi sepasang suami istri. Mungkin Jasmine memang bukan jodohku.
Setelah misi dinyatakan sukses, aku segera di lantik kenaikan pangkat. Aku kini sudah berpangkat Lettu.
Aku sekarang sedang berlari bersama rekan sejawatku, aku selalu mengabiskan waktuku untuk bekerja dan bekerja. Aku seakan tak mau dulu membuka hatiku mencintai seorang gadis, jujur aku takut di kecewakan.
Banyak kawanku, yang ingin mencomblangkan aku dengan saudara mereka. Tetapi aku tidak mau.
"Yud, kamu mau nggak aku jodohin sama sepupuku?" tanya Riki dengan tersenyum.
"Nggak usah repot-repot Riki, aku mau mengejar karierku di militer. Aku mau mengumpulkan uang yang banyak, aku mau memberi tiket ke Yerusalem. Aku mau mengajak ke dua orang tua aku ke sana, masalah jodoh dan menikah tunggu aku berpangkat Letkol (Letnan Kolonel). Aku yakin Tuhan akan memberikan jodoh yang cocok dan pas untuk aku," ucap aku dengan tersenyum.
Aku sekarang kerja mati-matian, sepulang dinas aku bekerja di pabrik roti. Aku bekerja sebagai ketua security.
Aku mengumpulkan banyak uang, aku mau memberikan kedua tiket ini untuk Mama dan Papa aku.
Ketika aku berjalan sendiri, aku bertemu dengan Santy. Santy menghampiri aku dan mengajak aku untuk bertemu, tetapi aku tidak menjawab dan mengiyakan mau bertemu. Santy mengajak aku bertemu jam tujuh malam.
Aku tak datang, ketika aku melihat jam sudah jam sembilan malam saja. Aku yakin Santy datang, apa aku datang saja iya? Aku nggak mau jadi orang jahat, aku akhirnya datang ke tempat yang sudah di siapkan oleh Santy untuk bertemu dengan aku.
Tetapi ketika aku datang, sudah tidak ada. Di sana banyak darah, ada tas putus. Seorang warga mengatakan jika gadis itu melawan ketika mau hampir di perkosa dan di todong. Sehingga gadis itu tertusuk pisau di bagian perutnya.
"Pak ada apa ini?"tanyaku kepada bapak yang ada di sana.
"Gadis ini melawan ketika dia mau di perkosa dan di ambil barangnya, tetapi dia menolaknya. Dia tertusuk di bagian perutnya sekarang sedang di bawa ke rumah sakit sama teman saya," jawab Bapak tersebut.
"Saya boleh minta alamat rumah sakitnya pak?" tanya aku dengan penuh rasa khawatir.
Bersambung.