Bab 1

“Aku mau pulang,” bisik Rebecca kepada April–sekretarisnya yang duduk di sebelahnya.

Rebecca Clovin–manager cantik itu merasa aneh pada kondisi tubuhnya. Dia merasakan jantungnya berdebar kencang, sekujur tubuhnya terasa gerah seperti adanya percikan api di dalam tubuh yang menyulut.

Padahal di acara makan malam bersama anggota timnya Rebecca tak menyentuh setetes minuman alkohol. Sejak awal dia hanya berniat mentraktir dinner anggota timnya demi perayaan keberhasilan new product yang mereka kembangkan. Dinner yang berlangsung di hotel bintang lima itu Rebecca hanya menelan steak, salad dan segelas orange juice.

Rebeccaa mengabaikan rasa penasarannya. Senyar gerah sudah meronta-ronta minta didinginkan, sehingga dengan terpaksa Rebecca berpamitan undur diri dari dinner itu kepada anggota tim.

Instingnya mengatakan kuat jika keadaan tubuhnya itu berhubungan erat dengan rutinitas padat yang dijalani belakangan waktu. Selain disibukkan sebagai manager product developer, Rebecca juga disibukkan dengan rencana pernikahan yang berlangsung tiga hari lagi.

“Anda mau saya antar ke rumah sakit Tuan Elvis?” tanya April yang menyinggung calon suami Rebecca.

“Tidak ada yang tahu aku pergi ke acara dinner tim ini. Mereka akan marah jika tahu aku masih berkeliaran di luar rumah menjelang hari pernikahanku,” jelas Rebecca yang menghentikan langkah lemahnya di depan lift.

“Anda mau menginap di sini? Saya bisa pesankan kamar untuk Anda beristirahat. Besok pagi saya akan menjemput Anda dan mengantar Anda pulang dengan selamat ke rumah.”

Wanita berusia 24 tahun itu menoleh kepada April yang menanti jawabannya. Pikiran Rebecca mulai terhasut oleh saran dari orang kepercayaannya itu. Rebecca bisa terhindar dari hal yang dikhawatirkan.

Bukan sahutan, melainkan anggukkan kepala yang Rebecca tujukan kepada April. Dia memasrahkan nasibnya malam itu kepada April. Sehingga Rebecca tidak berkomentar saat April mengantarnya ke kamar hotel di mana pegawai pria telah menanti kedatangan mereka. Karena yang terpenting bagi Rebecca adalah beristirahat dengan nyaman dan menghilangkan rasa yang menyiksa tubuhnya.

Pintu ditutup. Rebecca ditinggalkan sendirian berbaring di ranjang yang harum. Suhu ruangan pun telah diatur sedingin mungkin, tapi anehnya Rebecca masih saja merasa gerah dan tidak nyaman. Ada rangsangan aneh yang mendorong Rebecca pada samarnya kabut nafsu.

Ceklek!

Suara pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Rebecca. Dia yang duduk di tepian ranjang sambil melepaskan kemeja–sedang menatap kehadiran seseorang yang membuatnya tak berkedip.

Bukan karena terkejut dia dilihat dalam keadaan hampir setengah bertelanjang, melainkan matanya melihat kehadiran calon suaminya.

Sudah pasti April dalang utamanya. Rebecca meyakini April mengadukan kondisi tak sehatnya. Keyakinan itu didasari kuat oleh April yang selalu peduli mengenai kesehatan Rebecca.

Ck! Wanita cantik itu diserang rasa kesal saat pikirannya terisi oleh praduga itu. Apalagi ekspresi dingin dari pria yang berdiri di depannya sangat menyatakan rasa tidak suka begitu mendalam.

“Honey ...” Rebecca menyapa mesra dengan nada setengah melirih.

Bibirnya mengukir senyuman cantik, dia berusaha merayu pria yang dingin menatapnya itu. Tangannya menyentuh pergelangan tangan pria di depannya, lalu perlahan jemarinya merosot ke jemari-jemari besar yang mengagumkan.

Oh my gosh! Jiwa Rebecca tersengat kehangatan yang spontan menenangkan rasa gerah di tubuhnya. Dia beranjak dari duduknya dan memposisikan berdiri sejajar tanpa jarak.

Jemari kurusnya sudah merayap sensual ke lengan yang terselimuti jas hitam. Lantas dengan lancangnya Rebecca berniat ingin melepaskan jas hitam itu dari tubuh mengagumkan itu.

Sayangnya, pergelangan tangannya yang kurus dicengkram oleh kelima jemari yang mengagumkan tadi.

“Jangan menggodaku,” desisnya sinis.

“Sakit ...” Rebecca merintih rendah saat merasakan pergelangan tangannya dicengkram kasar seperti ingin dilukai.

“Jangan sentuh aku. Aku tidak suka,” pria itu menghardik kesal.

“Kau marah?” sahut Rebecca dengan tersenyum.

Pria itu tak merespon, hanya tatapan tajam yang dia layangkan pada Rebecca.

Rebecca tidak takut pada pria di depannya yang memancarkan aura arogansi tak bersahabat. Dia malah melakukan hal sebaliknya, masih tetap tersenyum cantik meski kasar dan tidak sopannya pria di depan itu terhadap dia.

Tubuh yang terangsang berkontraksi spontan mengajak jemari dari tangan yang terbebas menjelajahi wajah pria di depannya. Alis, mata, hidung mancung serta bibir yang agak tebal dibelai menggoda lewat jemarinya.

Instingnya sempat meragukan bibir yang agak berbeda dari yang biasa disentuh olehnya. Namun gairah yang bangkit menghasut Rebecca untuk mengabaikan dan menyentuh lebih serakah.

“Kau boleh menghukumku karena aku sudah nakal,” bisik Rebecca di depan bibir menggoda itu.

Benaknya sudah benar-benar kehilangan kontrol atas kondisi tubuhnya saat itu. Namun di sisi lain ada bisikan yang mempengaruhi jika tak masalah Rebecca lepas kendali malam itu.

Pria itu adalah prianya, bukan?! Tiga hari lagi mereka akan menikah, jadi tidak masalah jika mereka ‘curi’ start?

Pria di depannya tampak mengerutkan dahi. Dia seperti meragukan bisikan Rebecca yang kehilangan akal. Tetapi ada kebencian yang tak bisa dihilangkan. Bahwa di bawah sana sudah menegang saat melihat keindahan tubuh Rebecca.

Wanita cantik itu tidak terlalu kurus. Bibirnya sangat seksi, hidungnya mancung dan berkulit putih.

Itu semua belum selesai!

Kelembutan dari rambut panjang Rebecca tak sengaja menyentuh jemari pria itu. Dan yang menarik perhatian sampai jakun di tenggorokan bergerak gelisah yaitu payudara yang menyembul di balik bra hitam.

“Kau yang meminta, jadi jangan menyesali ucapanmu.”

Bersamaan dengan bibir Rebecca yang telah dilumat nikmat, pria itu melepaskan jas hitam, dasi serta kemeja di tubuhnya. Dia menelanjangi sendiri bagian atas tubuhnya tanpa melepaskan ciuman erotis di bibir Rebecca.

Rebecca yang dicecar kenikmatan pun tak memberontak. Dia malah membalas dengan mengisap kencang bibir bawah yang mengagumkan itu. Dipeluknya erat-erat sosok tubuh sehat dan menawan yang kehangatannya menghipnotis kewarasan Rebecca.

Mungkin karena merasakan nafsu yang bergejolak Rebecca begitu mendambakannya. Tanpa sadar, dirinya sudah telanjang akibat ulah tangan pria itu.

“Ah!” Erangan manis Rebecca memercikkan api hasrat untuk semakin membara. Wanita cantik itu semakin tidak berdaya di bawah perangkap pria itu, sampai-sampai dia tidak sadar entah di detik ke berapa mereka sudah saling tumpang-tindih di ranjang tidur.

Penyebabnya satu, yaitu lidah panas yang menjilati sepanjang tulang selangka hingga ke ujung bahu, payudara yang kencang di bawahnya juga tak luput dari isapan dan gigitan mulut nikmat itu.

“Aku akan memasukkannya sekarang,” ucapnya setelah berhasil menekuk kaki Rebecca.

Dalam bayangan kabut nafsu Rebecca hanya bisa mengangguk. Kejantanan yang bergesek-gesek di pintu mahkota kehormatannya sudah membutakan Rebecca.

“Honey, take it slow,” pinta Rebecca bernada erotis.

Dia mencengkram seprai erat-erat ketika kejantanan itu mengoyak pintu mahkota kehormatannya. Wajahnya mendongak, begitu dalam-dalam meresapi kenikmatan dan perih yang saling bertabrakan. Hingga di beberapa kali goyangan pinggul yang menyodok-nyodok panas, barulah Rebecca terbiasa oleh kenikmatan yang seharusnya tiga hari lagi dia nikmati.

Tubuh yang bergetar menandakan klimaks telah dicapai. Tapi Rebecca masih belum dibebaskan oleh kenikmatan yang membuatnya merintih dan mengerang.

Tubuhnya yang berpeluh keringat diputar, pinggangnya diraih untuk kemudian menuntun bokongnya terangkat dengan kedua paha gemetarnya dijadikan penyanggah.

“S-stop, please. Itu terlalu kasar. Tolong pelan-pelan,” pinta Rebecca mengiba.

Pria itu malah terkekeh, seolah-olah permintaan Rebecca dijadikan lelucon yang menggelikan.

“Bertanggung jawablah. Sejak awal kau yang menggodaku!” desah pria itu sambil mendorong-dorong miliknya ke dalam lubang yang membuatnya candu tak mau berhenti. “Lebarkan lagi pahamu,” lanjutnya meremas gemas paha Rebecca.

Bab 2

Pagi cerah itu menjadi kelam saat Rebecca membuka mata. Matanya membulat sempurna, pun sempat mengerjap-ngerjap ketika berusaha menampik ilusi mimpi yang membuat jantungnya ingin copot.

Tetapi percuma! Kehangatan yang berbaur dari kulit yang saling menempel menegaskan semuanya bukanlah sebuah ilusi mimpi, melainkan sebuah kenyataan. Tidak sama sekali bermimpi.

Rebecca terlonjak kaget! Tangannya segera menyingkirkan lengan kokoh yang memeluknya. Tidak peduli seberapa besar rasa penasarannya, dia harus menyingkir dari sosok yang bertelanjang di dalam satu selimut yang sama dengannya.

Cepat-cepat Rebecca memungut pakaian miliknya di atas lantai untuk kemudian menutupi tubuhnya yang lengket dan terasa pegal. Benaknya yang terguncang oleh keterkejutan itu mulai terisi oleh rangkaian-rangkaian erotis kemarin malam.

Raut wajah Rebecca menegang terkejut di kala menyadari pria di sampingnya bukan calon suaminya, melainkan pria asing yang menawan–yang masih tertidur lelap. Debar jantung Rebecca nyaris berhenti berdetak. Rasa takut dan panik menyelimuti dirinya.

Napas Rebecca memberat dan sesak. Seperti bumi berhenti pada porosnya, tubuh Rebecca hampir ambruk. Apa yang terjadi? Jelas-jelas kemarin malam Rebecca melihat calon suaminya. Mereka saling menyentuh, saling bercumbu, tapi ... siapa pria yang tertidur itu?

Rebecca menarik napas dalam-dalam. Dia berusaha menenangkan diri yang gemetar ketakutan. Rebecca ingat bagaimana dia berakhir di kamar itu. Bahwa orang kepercayaannya yang membawanya.

Perlahan-lahan Rebecca menyadari akan spontanitas perubahan kondisi yang menyiksa kemarin malam. Sehingga tertarik satu kesimpulan jika perubahan tubuhnya bersinggungan dengan makanan atau minuman yang ditelan kemarin malam.

Menjelang hari pernikahan yang sudah di depan mata, tidak mungkin Rebecca rusak hari bahagia itu dengan tindakan konyol. Bercinta dengan pria tak dia kenal, benar-benar sudah gila!

Rebecca tidak akan mencoreng harga diri maupun nama baiknya sendiri. Wanita cantik itu terlahir dari keluarga cukup terpandang di Manchester. Ayahnya memiliki perusahaan manufaktur di bidang industri makanan, sementara Elvis–calon suaminya seorang dokter bedah yang terlahir dari keluarga pemilik rumah sakit di Manchester.

Mungkinkah ada seseorang yang busuk hati terhadap kesempurnaan hidup Rebecca?

‘April? April yang melakukan ini?’ batin Rebecca menjerit.

Untuk apa? Kenapa April mencelakai Rebecca yang merupakan sosok berbaik hati terhadap dirinya? Dan untuk apa April melakukan kejahatan padahal Rebecca tidak pernah berbuat kasar pada dirinya? Napas Rebecca tersengal-sengal, dadanya terasa semakin sesak dan kedua kakinya gemetaran akibat nyeri dan shock yang campur aduk.

Namun Rebecca tidak mau berlarut dalam guncangan shock itu. Dia memutuskan kabur sebelum pria itu terbangun. Lebih baik menganggap kesialan itu sebagai one night stand dan melupakannya.

Sayangnya, keputusan itu diambil pada detik yang salah. Ketika Rebecca membuka pintu langkahnya membeku oleh kehadiran dua sosok pria yang melayangkan tatapan tajam layaknya ingin membunuh.

Mereka adalah Nelson Colvin–ayah kandungnya yang berdiri dengan wajah memerah marah. Bukan hanya beliau, Elvis–calon suami Rebecca juga turut ikut menangkap basah dirinya di kamar itu.

Tidak usah ditanya lagi dari mana mereka mengetahui keberadaan dua pria itu. Adanya April yang berekspresi datar di belakang Elvis sudah menjawab semuanya.

Kesialan pagi yang ironi! Rebecca tidak diizinkan bernapas tenang sedetik saja sampai-sampai tubuhnya yang pegal menjadi kesemutan. Dia tidak diberi jeda untuk menemukan solusi dari kesalahan fatal itu.

Meski diserang rasa takut yang luar biasa, dia masih bisa berpikir sedikit jernih untuk segera keluar dan menutup rapat-rapat pintu itu. Tetapi Rebecca tidak bisa menyembunyikan kissmark di lehernya hasil gigitan pria asing yang ada di dalam kamar itu.

Plak!

Tangan besar Nelson yang menampar perih di pipi kiri Rebecca lebih dulu menyapa dibandingkan kata-kata. Kemarahan pria paruh baya itu tidak lagi bisa terkendali melihat apa yang ada di depan matanya.

“Di mana otakmu, Rebecca?! Kau diam-diam keluar untuk melakukan hal menjijikkan seperti ini?” Nelson memekik arogan tanpa peduli pada Rebecca yang berkaca-kaca menatapnya.

“Dad ...”

“Don’t call me daddy! Aku malu memiliki putri sepertimu!”

Omong kosong apa itu?

Rebecca tak berkedip menatap ayah kandungnya yang begitu tega bersikap kasar kepada dirinya. Meskipun belakangan waktu hubungan mereka merenggang akibat hadirnya ibu dan saudara tiri, Rebecca menilai Nelson tak pantas menghakimi dia tanpa mendengar penjelasan lewat mulutnya.

Sosok ayahnya benar-benar tak memberikan kesempatan. Dia bertitah tegas menyuruh Rebecca segera pulang sambil membuang muka, seolah-olah menatap Rebecca secara intens begitu sangat menjijikkan.

Kehadiran Elvis yang masih menatap dingin ke arahnya membujuk Rebecca untuk mendekati. Rebecca percaya jika calon suaminya itu akan mendengar bagaimana dia berakhir di kamar itu.

Sama seperti sebelumnya, harapan itu pupus! Tangan Rebecca ditepis kasar saat ingin menggapai pergelangan tangan Elvis.

Plak!

“Jika ingin menutupi kebohongan, tutupi dengan benar!” seru Elvis dengan geraman penuh kemarahan.

Wanita putus asa itu menitihkan air mata oleh perkataan calon suaminya. “Don’t get me wrong, Honey. Aku bisa menjelaskan semuanya,” jelasnya melirih pilu.

Elvis mengangguk, namun bibirnya menyeringai sinis seperti meremehkan ucapan Rebecca. Manik mata pria itu memancarkan jelas rasa kecewa dan amarah yang sudah tak lagi terkendali. “Kalau begitu jelaskan bekas merah-merah di lehermu itu apa?” tuntutnya.

Secara spontan Rebecca menyentuh lehernya. Dia panik dan terkejut ketika tidak menyadari jejak-jejak erotis gigitan pria asing yang tak dikenalnya di sana. Ini memang sudah benar-benar gila! Rebecca tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi pada hidupnya.

“Siapa yang ada di dalam?” Elvis kembali menuntut penjelasan.

“Tidak ada siapapun.” Rebecca membantah cepat.

“Kau berselingkuh?” Elvis menuduh keji.

“No!” Rebecca menggeleng cepat, dengan wajah panik.

“Kau bosan denganku selama tiga tahun kita menjalin hubungan?” Elvis mencecar Rebecca.

“No! Never! I always love you, Elvis,” bantah Rebecca mengiba-iba.

“Shut the fuck up! Kau tidak akan merusak kepercayaanku jika kau mencintaiku!” begitu emosionalnya Elvis melontarkan rasa kecewa. Nadanya menekan dan mengintimidasi sampai-sampai dia kembali berucap, “Aku tidak mau menikahi pengkhianat kotor sepertimu!”

Rebecca tertegun terkejut. Dia meragukan telinganya atas pernyataan kejam itu. Akal sehatnya meneriaki batin yang tak percaya pada Elvis. Mulut yang selalu berkata-kata manis itu mencetuskan penghinaan dengan sadarnya?

“M-maksudmu ... kau tidak mau menikahiku?” terbata-bata Rebecca memastikan pernyataan Elvis.

“Kau masih bertanya? Jelas saja aku tidak sudi menikah denganmu!” seru Elvis dengan nada keras.

“Elvis, kau benar-benar salah paham.” Rebecca mencecar panik, sementara tangannya yang gemetaran sudah mencengkram pergelangan tangan Elvis. “Kau mencintaiku, Elvis! Dan aku mencintaimu. Pernikahan ini ... pernikahan ini mimpi kita!” Rebecca begitu mengiba pada Elvis.

Ironisnya, pernyataan Rebecca dibalas oleh perlakuan kasar dari Elvis. Pria itu penuh emosional menepis tangan Rebecca. Belum cukup sampai di situ, Elvis dengan sadarnya menodorong Rebecca hingga punggungnya terbentur sakit ke dinding lorong kamar.

Mata Rebecca terpejam. Tulung punggungnya seperti mau patah akibat benturan keras itu. Ditambah nyeri dan perih di dekat selangkangan membuat Rebecca ambruk terduduk ke lantai.

“Kau adalah wanita paling munafik dan paling egois yang pernah aku temui, Rebecca! Kau selalu melarangku untuk menyentuhmu seutuhnya! Mulutmu selalu bilang padaku ‘akan lebih kita melakukan setelah menikah nanti’! Kau memberikan bibirmu padaku, tapi dengan selingkuhanmu itu kau berikan seluruh tubuhmu!”

Fitnah kejam dari Elvis itu bukan hanya menembus jantung Rebecca, melainkan nyawa Rebecca tercabut kasar sampai seluruh tubuhnya bergetar kesakitan. Namun di balik rasa sakit itu Rebecca tidak mau menyerah. Dia berusaha menepis rasa untuk bisa lembut menggenggam tangan Elvis.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau mau mendengarkan dan percaya padaku?” suara serak Rebecca begitu ironis mengiba-iba.

“Aku jijik dan benci padamu, Rebecca. Jangan muncul di hadapanku. Kita selesai! Tidak akan ada pernikahan apalagi cinta diantara kita!”

Kekejaman Elvis dalam menginjak-injak harga diri Rebecca tidak hanya lewat mulutnya saja. Lagi! Dia menepis kasar tangan Rebecca sampai tubuh rapuh itu terdorong sakit ke belakang.

Air mata Rebecca berlinang deras membasahi pipinya di kala Elvis pergi meninggalkannya, tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Pun begitu juga dengan Nelson yang pergi meninggalkan Rebecca. Nelson yang begitu marah memutuskan untuk pergi menjauh.

***

Ketika matanya terbuka, Glenn Romanov mendapati diri yang bangun kesiangan. Anehnya konglomerat menawan itu tidak terkejut. Dia masih betah berbaring di ranjang kusut yang menjadi saksi biksu di mana hampir semalaman dia menguras energi.

Ya, Dia adalah pria menawan yang menghabiskan malam nikmat dengan wanita asing yang tak ia kenali. Padahal kemarin malam Glenn hanya ingin beristirahat dengan tenang. Dia sudah lelah melalui serangkaian jadwal bisnis yang padat pada hari pertama di Manchester.

Ekspektasinya teralihkan oleh realita. Pria lajang berusia 32 tahun itu dengan sederhananya terhasut oleh nafsu. Suara manis yang merendah, bibir basah yang begitu nikmat, kulit putih bersih yang menawan, serta asset vital yang meresahkan.

Glenn tersenyum kecil memikirkan malam penuh perangkap manis yang membuatnya kecanduan. Padahal dia adalah pria dingin yang anti terlibat dalam sebuah kontroversi terhadap wanita.

“Dia sudah pergi,” Glenn bergumam saat terduduk dan menyadari wanita yang ‘digagahi’ olehnya sudah angkat kaki.

Wajah menawan itu menunjukkan kesuraman yang menegakkan bulu-bulu halus di tubuh. Sementara bayangan erotis–manis itu telah terhapus oleh penilaian Glenn terhadap wanita itu yang dinilainya adalah wanita penghibur.

Glenn merasa tak bisa menyalahkan wanita yang hampir sepanjang malam digagahi olehnya itu. Baginya sudah sangat pantas wanita itu pergi sebelum dia terbangun. Karena sepuas-puasnya Glenn pada tubuh itu, dia tetap wanita penghibur.

Glenn memutuskan untuk beranjak dari ranjang dan membersihkan tubuhnya. Jiwanya diserang oleh perasaan aneh ketika melihat bekas cakaran kuku-kuku di lengan kanan.

Sialan! Tidak seharusnya ada jejak yang membuat Glenn teringat.

Segera mungkin Glenn menyudahi pembersihan tubuhnya. Pun cepat-cepat dia menutupi tubuh gagahnya itu dengan setelan formal berjas.

“Selamat pagi, Tuan Glenn.”

Glenn menoleh pada sekretaris yang datang menghampiri ke kamarnya. “Kau sudah lama bekerja untukku. Tapi kenapa kau lupa tentang peraturan yang aku buat?” dia memprotes.

Eric–sekretarisnya tampak kebingungan mencerna ucapan Glenn. “Maksud Anda?”

“Wanita kemarin malam kau yang menyiapkannya, kan? Kau sangat tahu jika aku ini tidak suka hal-hal seperti itu.”

Dahi Eric berkerut dalam diserang oleh pernyataan yang membingungkan. “Wanita? Maksud Anda apa, Tuan Glenn? Saya tidak akan berani melakukan kesalahan seperti itu.”

Keadaan hening sejenak oleh Glenn yang berpikir keras. Jika sekretarisnya tidak menyiapkan wanita kemarin untuknya, bagaimana bisa wanita itu masuk ke kamarnya?

Di tengah dia sedang berpikir keras, matanya teralihkan oleh benda berkilau di lantai. Glenn berjalan mendekati lalu meraihnya. Jemarinya sudah memegang satu anting milik wanita kemarin malam yang terjatuh.

Bab 3

Berita pernikahan yang tetap dilanjutkan tersampaikan ke telinga Rebecca. Semua berjalan sesuai rencana tidak ada perubahan. Terkecuali calon pengantin wanita.

Bukan Rebecca Clovin, melainkan Rowena Clovin–adik tirinya. Keputusan itu dilakukan demi menjaga nama baik keluarga. Lebih tepatnya orang tua Elvis tak ingin nama baiknya tercoreng.

Hati Rebecca bertubi-tubi disakiti. Dia masih menangis di kamarnya ketika mengetahui gaun pengantin idamannya sedang dicoba oleh adiknya di kamar yang berbeda. Dia memeluk tubuhnya yang gemetaran, meratapi kesedihan saat kediaman itu sedang sibuk melakukan persiapan pernikahan besok.

Tidak ada seorang pun yang mendengar pembelaan dari dirinya. Ayahnya menutup telinga, sementara Elvis memblokir semua akses yang berhubungan langsung dengan Rebecca. Bahkan Rebecca sempat diusir ketika datang ke rumah Elvis.

Berbagai cara Rebecca lakukan demi memberikan penjelasan pada semua orang tentang kejadian malam itu, tapi tidak ada satupun yang memercayainya. Rebecca sekarang layaknya sampah yang sama sekali tidak dipandang. Mereka lebih percaya atas yang dilihat dan yang mereka dengar dari April.

Tidak lama dari suara ketukan itu terdengar, pintunya terbuka lebar dan menghadirkan pelayan rumah.

“Tuan Besar memanggil Anda ke ruangan beliau, Nona Rebecca.” Seorang pelayan berucap sopan pada Rebecca.

Rebecca tak menunda-nunda bangkit dari ranjang. Dia meninggalkan bantalnya yang basah oleh airmata. Tidak ada sedikit niatan untuk membasuh wajahnya yang memerah. Semua orang di rumah itu sudah tahu kesedihan hatinya.

“Daddy memanggilku?” tanya Rebecca to the point di depan meja kerja ayahnya.

“Segera kemasi barang-barangmu. Aku sudah siapkan perjalananmu besok ke Skotlandia.” Nelson berucap tegas, tanpa melihat ke arah Rebecca.

Rebecca tertegun. Wajahnya tambah basah oleh airmata yang spontanitas mengalir dari mata. “Untuk apa aku ke sana?”

“Kau akan mengawasi perkembangan cabang perusahaan kita di sana.”

Nelson berbohong! Rebecca sangat tahu projek perkembangan itu masih abu-abu dikarenakan protes keras dari beberapa direksi. Sehingga dia menyadari satu hal yang pasti bahwa Nelson mengusirnya dari Manchester secara halus.

“Aku tidak akan ke mana-mana! Aku tidak akan meninggalkan departemen dan tim yang susah payah aku–”

“Rowena akan menggantikanmu.” Nelson tak memberi kesempatan putrinya berkata-kata.

“Dia tidak bisa! Rowena masih butuh bimbingan walau bergabung satu tahun di perusahaan–”

“New product yang dikembangkan olehnya mendapatkan penjualan tertinggi tahun ini. Rebecca ... beri kesempatan pada adikmu untuk berkembang. Sebagai seorang kakak, kau tidak boleh serakah dengan adikmu.”

Kapan Rebecca pernah serakah pada saudara tirinya itu? Tidak pernah sekalipun Rebecca memprotes kasih sayang Nelson yang berat sebelah ke Rowena. Padahal saat itu Rebecca yang berusia 16 tahun baru saja ditinggal pergi oleh ibu kandungnya untuk selamanya. Lalu beberapa bulan kemudian Nelson menikahi ibunya Rowena dan memboyong keduanya ke rumah mereka.

Lantas Rebecca harus mengalah? Melakukan hal sama selama delapan tahun itu.

“Daddy mengusirku?” suara serak Rebecca menyerang ironi. Matanya sudah memerah dan bengkak. Dia berjuang sekeras mungkin untuk menahan air mata yang nyaris kembali tumpah.

Nelson membuang muka dengan sikap dinginnya. “Kau akan berangkat pagi-pagi, jadi kau tidak harus datang ke pernikahan Elvis dan Rowena. Ada banyak tamu penting yang datang ke pernikahan itu.”

“Daddy mengusirku?” ucap Rebecca mengulangi dengan nada gemetar yang menyayat hati.

“Rebecca, aku sangat kesusahan untuk sukses di titik ini. Keluarga Elvis adalah partner terbaik, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pergilah dan jangan buat kekacauan. Cukup hal menjijikkan kemarin saja yang kau lakukan dan mencoreng harga diriku. Harusnya kau bersyukur aku hanya mengungsikanmu, bukan mencampakkanmu.” Nelson berkata penuh ketegasan dan segala amarah tertahan.

Sakit! Dada Rebecca terasa nyeri akibat teriris-iris pernyataan ayahnya. Demi kekuasaan Rebecca dijadikan korban. Dia ingin sekali berteriak menjelaskan pada semua orang, bahwa dirinya tak bersalah, namun dia tahu bahwa itu semua percuma.

Rebecca menyeka sisa air mata dan berkata pilu, “Aku sangat kecewa padamu, Dad. Kau sama sekali tidak mengenal putrimu sendiri. Aku berharap Daddy menyesal suatu hari nanti. Aku pergi. Jaga Kesehatanmu.”

Rebecca keluar dari ruangan itu setelah menyatakan salam pamit. Tidak ada gunanya dia berlama-lama karena hasilnya juga akan sama. Mau menjerit sekuat apapun, ayahnya tetap tidak akan percaya. Seolah-olah Rebecca harus menerima kenyataan pahit yang menghancurkan kebahagiaan.

Tak ada yang bisa Nelson katakan. Pria paruh baya itu menatap punggung Rebecca yang mulai lenyap dari pandangannya. Pancaran matanya memang menunjukkan kemarahan dan rasa kecewa, tapi tidak memungkiri rasa sedih pun mendominasi.

Di depan, langkah Rebecca terhenti ketika tidak sengaja melihat keberadaan April. Wanita pengkhianat itu merubah langkah haluan kaki Rebecca. Sejak kemarin Rebecca kesusahan mencari-carinya namun kini muncul sendiri tanpa di minta.

Langkah kaki yang menggebu terhenti kaku saat melihat April masuk ke dalam kamar Rowena. Dia terheran-heran, sejak kapan April dekat dengan Rowena? Yang Rebecca tahu April dan Rowena berhubungan sekadar bertegur sapa sebagai bawahan dan atasan. Apalagi ini?

Rasa penasaran itu terjawab ketika pelayan-pelayan di dalam kamar Rowena keluar meninggalkan April dan si pemilik kamar. Dari celah pintu yang terbuka kecil Rebecca mendengar percakapan berbisik-bisik di dalam sana.

“Ini sisa uang yang aku janjikan kemarin. Oh iya, jangan lupa untuk mengganti semua furniture di ruangan baruku. Aku tidak suka memakai bekas-bekas kakakku.”

Mata Rebecca melotot melihat April menerima selembar cek tunai dari tangan saudara tirinya. Meski hatinya kesal atas pengkhianatan itu, Rebecca tidak mau terburu-buru menyerang. Dia memutuskan untuk lebih lanjut menguping percakapan kedua orang itu.

“Saya sudah memesan furniture baru sesuai permintaan Anda, Nona Rowena.” April berucap sopan.

“Bagus!” Rowena memuji. “Bayaran untuk pegawai hotel dan pegawai restoran kemarin juga sudah kau berikan, kan? Pastikan mereka menutup mulutnya rapat-rapat. Jangan sampai ada yang tahu jika minuman kakakku dicampur obat perangsang. ”

“Sudah saya lakukan. Saya juga sudah memastikan operator CCTV untuk merusak rekaman di malam itu, Nyonya Dalton.”

Rowena terlihat bersemu pada April yang menyebut dirinya menggunakan nama keluarga dari Elvis. Yaitu Dalton.

Menjijikkan! Pantas saja Rebecca merasakan perubahan tubuh yang tidak mengenakkan setelah menengguk minumannya. Kenyataan mengenai minuman itu telah dicampur oleh perangsang membuat Rebecca tak berdaya.

Pengkhianat bermuka dua itu sangat cerdik memainkan perannya. Sampai-sampai Rebecca tertipu oleh ketulusan orang kepercayaannya itu. Dari sudut itu pula Rebecca akhirnya mengetahui rencana busuk Rowena yang bekerja sama dengan April.

Saudara tirinya itu sangat membenci Rebecca. Padahal Rebecca tidak pernah mengusik kehidupannya. Ya, diam-diam Rowena juga telah lama mencintai Elvis, tetapi sayang dokter itu mencintai kakaknya.

“Ternyata semua idemu.” Rebecca masuk ke dalam kamar dan mengejutkan kedua wanita itu.

“K-Kakak–”

“Shit! Jangan panggil aku seperti itu. Aku tidak sudi memiliki adik sepertimu,” Rebecca mencecar sinis, termasuk telunjuknya yang mendorong-dorong bahu Rowena.

Dorongan telunjuknya tidak kuat, tapi anehnya Rowena terjatuh sendiri lalu menangis terisak-isak.

“Apa yang kau lakukan, Rebecca? Kenapa kau mendorong Rowena?” bentak Elvis yang tiba-tiba menyerang Rebecca.

Rebecca tertawa melihat betapa pedulinya Elvis memapah Rowena untuk berdiri. Batinnya segera tersadar atas airmata yang sia-sia terbuang. Katanya Elvis mencintai Rebecca! Katanya dia tidak bisa hidup tanpa Rebecca! Tapi hanya satu kesalahpahaman membuat Rebecca bisa melihat jelas watak dan kebodohan seorang Elvis.

Wake up! Mereka bukan orang yang bisa menghancurkan Rebecca! Mereka tidak layak menerima tangisan Rebecca yang merupakan korban sesungguhnya.

Plak!

Sebuah tamparan keras Rebecca layangkan di pipi kanan Rowena.

“Rebecca!” bentak Elvis memekik pada Rebecca menampar Rowena.

Hal itu sengaja Rebecca lakukan agar drama kesakitan Rowena menjadi sungguhan.

“Ini belum selesai.” Rebecca mengambil gelas yang berisikan air putih, dan langsung menyiram ke wajah April.

April terkejut akan Tindakan yang dilakukan oleh Rebecca. Wajahnya sudah basah kuyup akibat terkena siraman air putih. Untungnya hanya air yang disiram, jika beserta dengan gelasnya sudah pasti wajah April akan terluka cukup parah.

“Rebecca Clovin!” bentak Elvis keras seraya melayangkan tatapan tajam pada Rebecca.

Rebecca menatap Elvis dengan mata memerah, menahan sesak di dadanya. “Sudah bertahun-tahun kita bersama, tapi kau sama sekali tidak mengenalku, Elvis.”

Elvis kian melayangkan tatapan tajam pada Rebecca. “Dulu, aku pikir aku sangat mengenalmu, Rebecca. Tapi kejadian malam itu membuatku tahu bahwa selama ini aku tertipu wajah polosmu. Hentikan sandiwaramu, Rebecca Clovin. Kebusukanmu sudah aku ketahui!”

Rebecca tersenyum getir. “Kebusukanku? Ah, ya … yang kau tahu aku hanyalah wanita busuk. Jika menurutmu seperti itu, maka aku tidak sama sekali marah. Teruslah menganggapku seperti itu.”

Lalu, tatapan Rebecca teralih pada Rowena dan April. “Aku pastikan kalian semua merasakan sepuluh kali lipat dari rasa sakit hatiku,” ucapnya penuh dendam yang kemudian beranjak dari kamar Rowena.

“Elvis.” Rowena segera memeluk erat Elvis, merengek meminta perlindungan dari sang calon suami.

Elvis menatap Rebecca yang mulai lenyap dari pandangannya. Tatapannya memang menaatp Rebecca, namun pria itu tetaplah membalas pelukan Rowena. “Lupakan apa yang dikatakan Rebecca. Dia hanya marah karena kau menggantikan posisinya. Tidak usah dengarkan dia. Semua masalah bersumber darinya.”

Rowena tersenyum licik dari dalam pelukan Elvis di kala Elvis memercayainya. Semua rencananya berjalan dengan mulus sempurna. Bahkan seluruh keluarga besarnya pun sudah berpikir bahwa Rebecca yang memiliki hati busuk.

***

Glenn melepaskan jas abu-abu yang dipakai, mengendurkan dasi yang seharian penuh melingkari leher. Lantas tak berlama-lama Glenn membanting tubuhnya ke sofa empuk.

Sama seperti kemarin, harinya sangat lelah oleh jadwal bisnis. Dia menenangkan tubuh tanpa peduli keberadaan Eric.

“Saya hanya membacakan jadwal Anda besok–”

Ucapan Eric terputus oleh notifikasi telepon masuk di handphone Glenn. Tetapi si pemiliknya malah mengabaikan dengan menekan tombol merah untuk me-reject telepon masuk itu.

“Teruskan,” Glenn bertitah.

“Anda akan free di waktu sarapan, pukul sepuluh pagi Anda akan menghadiri pernikahan–”

Lagi! Notifikasi telepon masuk di handphone Glenn menginterupsi Eric untuk diam.

Glenn menghela napas kasar. Hanya dengan melihat nama si penelepon yang tertera di layar handphone, Glenn bisa menerka tujuan dari si penelepon. Sebab, orang itu sudah menyerang Glenn sejak pagi.

“Lanjutkan.”

“Sebaiknya Anda menjawab telepon itu terlebih dahulu, Tuan Glenn.”

Eric membungkukkan kepala, dia pamit undur diri untuk memberikan ruang privasi kepada atasannya. Keputusannya itu dihalangi Glenn dikarenakan ia tidak ingin berlama-lama menjawab telepon masuk yang kembali menyerangnya.

“Hallo, Granny–”

“Cucu kurang ajar! Kenapa telepon dariku terus kau reject?!” serang wanita–yang merupakan neneknya Glenn dari sebrang sambungan telepon.

“Aku sibuk. Granny kan tahu aku sedang perjalanan bisnis ke Manchester.”

“Yang aku tahu kau sibuk menghindari aku!” bantah neneknya membuat Glenn tersenyum getir.

“Tidak, Granny.”

“Glenn!” neneknya berteriak marah.

“Granny jangan berteriak. Nanti tenggorokannya sakit. Granny sudah makan? Bagaimana dengan dokter gizi baru yang aku pekerjakan?” tanya Glenn mengalihkan pembicaraan.

“Sudah aku usir! Jangan kirim dokter gizi manapun sebelum kau mau datang ke setiap kencan buta yang aku atur!”

Glenn memijat pelipisnya akibat kepala yang berdenyut sakit. “Granny makan, ya? Kalau Granny tidak makan, nanti Granny mati.”

“Biarkan aku mati! Biar arwahku bisa bergentayangan dan mencekik cucu yang tidak bisa menuruti permintaan neneknya! Jadi kau ingat, Glenn, datanglah ke setiap kencan buta itu!”

Sambungan telepon diputuskan sepihak oleh neneknya. Glenn langsung bereaksi kesal pada ancaman yang tidak bisa dihindari olehnya. Berkenalan dengan wanita? Itu merupakan hal yang dibenci oleh Glenn. Glenn sengaja tidak mengakrabkan diri dengan wanita mana pun sejak lima tahun belakangan.

Dia selalu tenggelam dengan pekerjaan. Menyibukkan diri tanpa batas waktu tanpa peduli seberapa lelah dan sakitnya diri.

“Anda mau jalan-jalan, Tuan Glenn? Malam ini Anda free.” Eric menghampiri Glenn, di kala Glenn sudah menutup panggilan telepon.

“Sepertinya idemu itu bagus. Aku bosan. Aku butuh suasana menyegarkan otakku.” Glenn menyetujui saran itu. Dia benar-benar butuh hiburan malam. Selain ancaman dari neneknya, pikiran Glenn juga tertumpuk oleh beberapa hal.

Tujuan mereka malam itu ke sebuah private club malam. Glenn memerintahkan Eric untuk tidak menemani dirinya. Dia merasa ingin sendiri dan nantinya dia bisa pulang sendiri.

Suasana klub malam itu sangat ramah menyambut Glenn. Tidak terlalu ramai, pelayanannya juga bersikap sopan dalam melayani Glenn.

Tujuan Glenn saat itu adalah meja bartender. Dia ingin tenang menikmati alkohol di sudut itu. Tetapi kehadiran seseorang di sana membuat Glenn terkesiap.

“Sialan! Pria berengsek!” racau seorang wanita yang tertidur di meja bartender akibat mabuk.

Mata Glenn tertuju tajam pada wanita itu. Raut wajahnya berubah. Sepasang irisnya menatap begitu dalam sosok wanita cantik yang tengah mabuk. Kepingan memori Glenn muncul di kala melihat wanita cantik itu.

Wanita itu … dia adalah wanita asing yang digagahi nikmat olehnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED