Karena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka menjelma anggur segar.
~Jalaluddin Rumi~
***
Musim panas di kota New York. Tampak beberapa orang yang sedang berlari pagi bersama orang terdekatnya.
Ada juga yang tampak menenteng tali pengikat leher anjing kesayangan sambil berjalan-jalan santai. Ya, pagi yang sangat cerah. Pasti lebih seru jika berjoging sambil mengajak peliharaan tersayang. Ide yang bagus, bukan?
Di sebuah kamar hotel VIP. Tampak seorang pria dengan postur tubuh atletis yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan handuk putih yang melilit di pinggang, pria itu tampak menawan dengan dada bidangnya dan otot-otot perutnya yang kekar menyerupai kotak-kotak.
Rambut dark brownnya tampak masih basah, dia berjalan menuju standing miror yang berada di pojok ruangan.
Di tengah ranjang, terlihat seorang wanita yang masih meringkuk dengan tubuh polos yang hanya berbalut selimut putih nan tebal. Benar, keduanya baru saja menghabiskan malam bersama.
"Darren, apakah kau akan segera pulang?" Si wanita mulai terbangun sambil memegang selimut yang menutupi sampai ke bahunya.
Pria itu menoleh sambil tersenyum tipis.
"Ya, Aku akan segera pulang. Hari ini ada meeting penting di kantor. Aku tak ingin terlambat," jawabnya.
Dia, Darren Hawk. CEO dari Hawk Company Group, salah satu perusahaan teknologi yang sedang melebarkan sayapnya di Amerika.
"Baiklah, aku pun akan segera kembali ke Paris," balas wanita di atas ranjang itu. Namanya Angela Rawllis, desainer berbakat yang bekerja di sebuah perusahaan fashion terkenal di kota Paris.
Keduanya sudah hampir dua tahun menjalin hubungan asmara, dan ini bukan kali pertama bagi mereka menghabiskan malam bersama. Kebetulan, kemarin Angela datang ke kota New York untuk urusan pekerjaan. Jadi, mereka bisa bertemu untuk sekedar saling melepas rasa rindunya.
"Angela, apakah kau akan terus bekerja di sana? Alangkah baiknya jika kau pindah saja ke kantorku. Mungkin kau bisa menjadi Sekertaris pribadiku," tukas Darren sambil mengenakan kemeja putihnya di depan cermin.
Angela hanya mengulas senyum mendengar ucapan pacarnya itu.
"Kau ini, aku bisa mati jika berada di kantormu. Hh, Nyonya Hawk pasti akan menjambak rambutku lalu melemparku ke jalanan seperti seorang pengemis," rajuk Angela sambil mengenakan gaun tidurnya yang tampak kusut.
Darren tersenyum tipis. Nyonya Hawk yang dimaksud Angela tak lain adalah ibunya. Dan ibunya tak pernah memberikan tatapan yang bersahabat pada Angela.
Bahkan sering kali Nyonya Hawk menawarkan sejumlah uang pada Angela guna meninggalkan putranya. Sungguh calon ibu mertua yang angkuh! Angela sudah malas untuk membujuk wanita berdarah Jerman itu agar mau menerimanya.
"Maafkan ibuku, jangan dipikirkan," ucap Darren sambil berjalan menghampiri Angela yang masih berada di tengah ranjang.
Wanita itu hanya mengangguk ringan. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Sampai mati pun Nyonya Hawk tak mungkin bisa menerimanya. Entah kenapa. Mungkin karena kasta mereka yang jauh berbeda.
"Angela, aku sangat mencintaimu. Aku tak perduli apa pun yang dikatakan ibuku. Kau yang terbaik untukku, Darling." Darren duduk di sampingnya, lantas diraih jemari wanita itu kemudian dikecupnya lembut.
Angela hanya tersenyum tipis. Dia tahu itu. Namun, perasaan Darren saja tak cukup untuk membuat mereka bersatu. Restu Nyonya Hawk sangatlah diperlukan juga.
"Aku tahu kau sangat mencintaiku. Namun, aku ingin hubungan kita bisa lebih dari ini. Aku ingin menjadi istrimu," lirih Angela terdengar menekan.
Darren mengulas senyum sambil memandangi wajah cantik tanpa riasan itu. Diselipkannya anak-anak rambut yang tampak kusut ke telinga kiri Angela.
"Beri aku sedikit waktu lagi. Aku akan berusaha membujuk ibuku," bisik Darren sambil menatapnya lembut.
Angela hanya mengangguk pelan. Darren masih menatapnya dan mulai memajukan wajah perlahan. Bibir keduanya saling bertemu. Angela memindahkan kedua tangannya pada tengkuk leher Darren. Matanya kian terpejam seraya menikmati hangatnya ciuman itu. Keduanya memang sedang dimabuk cinta. Berpisah? Rasanya tak mungkin.
***
Waktu menunjukkan pukul dua sore saat Darren baru saja selesai meeting dengan para staf utamanya. Mereka membahas harga saham yang kian melonjak. Dan perusahaan besar ternama di Amerika menawarkan sebuah kerja sama.
Altano Group, nama perusahaan itu. Para staf sangat berharap Darren sebagai CEO utama mengambil keputusan yang tepat kali ini.
Ya, Darren sangatlah teliti dalam setiap keputusannya. Dia tak mudah percaya dan mau menjalin kerjasama begitu saja. Akibatnya banyak perusahaan yang sangat kecewa karena ditolak mentah-mentah olehnya.
"Sore, CEO. Di ruangan Anda ada Nyonya Hawk. Beliau sudah menunggu sekitar lima belas menit," ucap Jeremy, salah seorang staf utama dan juga orang kepercayaan Darren.
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Darren menunjukan wajah datarnya pada Jeremy sebelum melanjutkan langkah menuju ruangannya.
Jeremy hanya mengangguk dan segera menyusulnya.
"Sore, CEO." Dua orang pria berpakaian rapi masing-masing berdiri di pinggir pintu yang terbuat dari kaca tebal. Mereka adalah orang-orangnya Nyonya Hawk yang langsung menyambut Darren datang dan membukakan pintu kaca itu untuknya.
Tak ada senyuman di wajah tampan Darren, dia hanya mengedipkan kedua matanya saja sambil melangkah masuk.
Tibalah Darren di ruangan luas dengan cat dinding berwarna kayu pinus kering. Tak banyak furniture yang berada di sana, hanya ada meja kerja Darren lengkap dengan bangkunya.
Lemari-lemari besar nan tinggi yang terisi oleh banyak buku tebal dan beberapa figuran kecil, juga sebuah sofa panjang yang berseberangan dengan meja kerjanya. Sedangkan beberapa lukisan minimalis tapi bernilai tinggi bergantung di beberapa titik dinding.
Maskulin dan sangat berkelas! Inilah ruangan di mana Darren menghabiskan banyak waktunya sepanjang hari.
Manik mata Darren menangkap sesosok wanita berpostur tinggi dengan heels tinggi 10cm warna putih gading. Pakainnya tampak sangat licin dan bau asap rokoknya yang mulai mendominasi wewangian dalam ruangan itu.
Liliana Hawk, nama wanita itu. Namun semua orang menyebutnya Nyonya Hawk, atau Nyonya Besar.
Nyonya Hawk sedang berdiri di tepi jendela besar yang berada di bagian kiri ruangan. Matanya lurus ke depan dengan tangan kirinya yang tampak memegang selembar majalah fashion. Sebatang rokok terselip di antara jari tangan kanannya. Sesekali ia mengarahkan batang rokok itu ke mulutnya.
"Ma, ada apa menemuiku? Apakah ada hal penting?"
Suara bass Darren membuatnya menoleh. Nyonya Hawk hanya tersenyum tipis menyapa putranya itu. Kaki jenjangnya mulai terayun menuju pria dengan stelan jas hitam di depannya.
"Darren, kau akan segera menikah, Sayang." ucapan Nyonya Hawk sungguh membuat Darren kaget sekaligus heran.
Menikah?
"Hei, apa maksudmu? Aku tak mengerti." Darren memasang senyum garingnya.
Nyonya Hawk hanya tersenyum tipis, lantas mendekati Darren sambil menikmati batang rokoknya.
Sebuah majalah dilemparnya ke atas meja. Tampak wajah seorang model cantik yang sedang tersenyum manis sebagai cover majalah tersebut. Darren menatap heran pada ibunya, dia masih belum bisa mengerti. Apa maksud wanita itu sebenarnya.
"Kau kenal gadis ini?" Tunjuk Nyonya Hawk pada gadis dalam majalah tadi.
Darren menatapnya heran. Untuk apa ibunya menanyakan hal itu? Tentu saja dia mengenalnya. Gadis itu adalah model yang sedang bersinar sepanjang musim panas ini, Xavia Altano Price. Lantas apa maksudnya? Darren mulai curiga.
"Dia calon istrimu," lanjut Nyonya Hawk setengah berbisik, kemudian menyesap dan menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Darren membulatkan sepasang manik matanya dengan mulut yang mengangah. Apa? Calon istri? Dia hampir tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Namun Nyonya Hawk bukanlah tipe orang yang suka bergurau. Dia tak pernah main-main dalam setiap ucapannya.
___________________
Daren masih terdiam lesu. Dia ingin bertanya, namun entah kenapa tiba-tiba lidahnya terasa keluh. Dia memang tak berani membantah apa pun keinginan ibunya selama ini, kecuali meninggalkan Angela, dia masih membangkang untuk itu.
"Dengar, kau dan Xavia akan segera bertunangan minggu depan. Jeremy sudah mengatur pertemuan kalian sore ini. Temuilah dia, dan jangan pernah kecewakan Mama. Aku sangat senang saat Tuan Altano mau menerima lamaran ini. Bahkan dia menyempatkan untuk bertemu denganku di sela waktunya yang padat." Nyonya Hawk berkata dengan nada dan sorot matanya yang menekan.
Darren sampai menelan salivanya gugup.
"Xavia adalah gadis yang sangat pantas untukmu, Sayang. Kau adalah pria yang sangat beruntung karena puteri tunggal Tuan Altano itu mahu menerima lamaran ini," lanjut Nyonya Hawk tanpa mengurangi nadanya.
Darren sudah tak tahan lagi. Dia harus bicara pada ibunya sekarang juga.
"Ma, kenapa mengambil keputusan sebesar ini tanpa bertanya padaku lebih dulu? Aku suka atau tidak pada gadis itu," protes Darren. Bagaimanapun dia berhak atas hidupnya. Namun Nyonya Hawk malah tertawa kecil mendengar ocehannya itu.
Akibatnya Darren tampak heran dibuatnya.
"Darren, untuk apa aku harus bertanya padamu, Sayang? Bukankah kau adalah putera terbaikku? Kau selalu setuju pada semua pilihanku, bukan?" Nyonya Hawk mulai memutar tubuhnya untuk berjalan-jalan kecil di sekitar ruangan itu sambil menikmati batang rokoknya. Darren memejamkan matanya menahan emosi.
Benar, selama ini memang dia tak pernah membantah. Apa pun yang ibunya perintahkan, pasti dia ikuti dengan semestinya. Namun kali ini dia tak bisa menerima, ini menyangkut masa depannya.
"Sudahlah, Darren. Mama harus segera pergi. Aku pun sudah memesan stelan untukmu menemui Xavia sore ini. Ya, kau harus memberikan kesan yang baik untuknya. Kau mengerti?" Sudah mau pergi pun Nyonya Hawk masih sempat menekan Darren. Namun Darren masih berdiri tanpa suara. Dunianya terasa luluh lantak kini. Dia sangat frustasi. Apa yang harus dia katakan pada Angela.
"Oh iya, Darren. Untuk menghindari masalah dalam hidupmu, sebaiknya kau tinggalkan Jalang itu segera," ucap Nyonya Hawk yang menoleh pada Darren sambil memegang knop pintu ruangan itu.
Darren menjatuhkan wajahnya. Hebat sekali, Nyonya Hawk seolah bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Nyonya Hawk tersenyum miring dan segera meninggalkan ruangan Darren sambil menikmati batang rokoknya. Dia yakin, kali ini pasti Darren akan benar-benar meninggalkan Angela.
Fuuuhhh ...
Napas berat Darren terhembus berlahan. Dia segera berjalan dan duduk pada bangku kebesarannya. Kedua tangannya mengusap kasar pada wajahnya. Dia sangat pusing. Bagaimana mungkin dia harus bertunangan dengan gadis lain, sedangkan Angela sangat berharap padanya.
Akan tetapi dia tak bisa melawan Nyonya Hawk. Wanita berdarah Jerman itu memang sangat egois. Nyonya Hawk tak pernah meminta pendapat siapa pun untuk semua keputusannya. Baginya keputusannya itu adalah peraturan yang tak bisa dilanggar.
Tak ada seorang pun yang bisa menang jika berdebat dengannya. Bahkan Tuan Hawk sekali pun selalu mendukung keputusan istrinya itu, terlebih untuk menghindari sebuah perdebatan.
Darren sendiri hanya ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya. Karena hanya dirinya kini harapan satu-satunya keluarga Hawk. Meski dulu Darren memiliki seorang adik bernama Harry. Namun kini dia sendiri tak tahu di mana keberadaan adiknya itu. Apakah dia masih hidup, atau sudah tiada.
Nyonya Hawk telah mengusir Harry dari rumah, bahkan mencoret namanya dari daftar ahli waris keluarga Hawk. Kenapa demikian? Masalahnya sepele. Harry hanya menolak untuk kuliah bisnis, dan lebih memilih fotografi.
Apa yang salah? Setiap orang pasti mempunyai cita-citanya sendiri, bukan?
Tentu saja salah!
Keluarga Hawk terkenal sebagai pembisnis yang handal, itu yang tersiar di Amerika. Wajah-wajah mereka pun sering muncul di surat kabar dan stasiun televisi. Namun Harry justru tak ingin menjadi pekerja kantoran, dia lebih menyukai seni. Akibatnya Nyonya Hawk sangatlah murka sampai-sampai mengusirnya.
Namun tak seperti Harry, Darren justru sangat menyukai bisnis. Kemampuannya di dunia bisnis sangatlah mumpuni. Banyak proyek besar yang dia menangkan sepanjang tahun. Sejak menyelesaikan kuliahnya di London dan memimpin Hawk Company Group, Darren sangatlah bersinar. Baru tiga tahun dia bergabung dengan perusahaan, namun prestasinya sangatlah bagus. Dia mampu membawa Hawk Company Grup menjadi perusahaan teknologi terkuat dan terbesar di Amerika.
Darren tak ingin mengecewakan orang tuanya. Bukan, bukan takut di usir seperti Harry. Namun komitmennya yang membuatnya bertahan selama ini.
"Sore, CEO. Saya membawakan stelan yang Nyonya Hawk pesan untuk Anda." suara Jeremy membuatnya sedikit kaget.
"Oh iya, letakkan di sana." Darren menunjuk pada sofa yang ada di sudut ruangan itu.
Jeremy membungkuk hormat dan segera memutar tubuhnya menuju sofa dengan warna dark blue yang berseberangan dengan meja Darren.
"CEO, gantilah pakaian Anda. Anda harus segera menemui Nona Price sekarang," ucap Jeremy usai menaruh stelan yang dibawanya di atas sofa.
Darren mengangguk lalu berkata, "Baiklah, tunggu aku di luar." Dia segera bangkit dari bangkunya.
Jeremy membungkuk dan segera meninggalkan ruangan itu. Darren mengayunkan langkahnya menuju sofa di mana Jeremy menaruh stelan yang akan dikenakannya sore ini. Sebuah jas warna hitam lengkap dengan dasinya. Darren tersenyum pahit sembari memandangi benda mahal itu.
***
Mobil BMW keluaran terbaru pada musim panas tahun ini menepi di depan sebuah resto mewah. Jeremy keluar dari mobil itu, dengan sigap penuh hormat dia membukakan pintu. Darren keluar dari sana sambil mengangguk pada Jeremy. Mereka mulai berjalan menuju pintu resto. Ternyata Nyonya Hawk sudah memesan meja khusus untuknya. Jeremy segera mengantarkan bosnya itu pada meja pilihan Nyonya Hawk.
"Silahkan, CEO. Santai saja. Sepertinya Nona Price masih di jalan," ucap Jeremy sembari menarik bangku untuk Darren duduki.
"Baiklah, tinggalkan aku sendiri," pinta Darren datar setelah duduk pada bangkunya.
"Tentu, CEO." Jeremy membungkuk dan segera meninggalkan Darren yang tampak tak nyaman di sana.
Sepeninggal Jeremy, Darren tampak bosan. Sudah hampir lima menit dia duduk sendiri di sana. Namun gadis bernama Xavia Altano Price itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Benar-benar tidak disiplin! Darren mulai kesal. Menunggu adalah hal yang sangat dibencinya.
"Hai, maaf membuatmu lama menunggu." terdengar suara lembut nan manja seorang gadis.
Darren segera memutar lehernya dan menanggah pada gadis yang sedang berdiri di samping kanannya saat ini.
Seorang gadis muda sekitar umur 23 tahunan. Tubuhnya cukup tinggi, dengan rambutnya yang tergerai rapi. Cara berpakaiannya pun terkesan modis, dan wajahnya terbilang cantik. Ya, dia adalah Xavia Price. Puteri tunggal Edward Altano Price, pemilik Altano Company, perusahaan teknologi yang tak kalah besarnya dengan perusahaan miliknya.
Darren mengangkat bokongnya perlahan dari bangku. Matanya menatap bola mata kebiruan gadis itu. Bola mata yang bersinar seperti butiran diamond, dan enak dipandang. Darren tertegum dibuatnya.
Darren dan Xavia masih duduk di dalam resto. Tak ada obrolan yang seru. Keduanya tampak canggung. Hanya ada beberapa tanya jawab yang terdengar sangat formal.
Namun, Xavia tampak senang meski pria di depannya itu terkesan dingin. Dia memang tak menyukai pria yang banyak bicara. Baginya pria dingin terkesan lebih berkelas.
Sedangkan Darren merasa sudah ingin segera pergi dari resto itu. Namun dia agak kesusahan untuk mencari alasan yang tepat. Seperti pesan ibunya; jangan sampai dia membuat Xavia kecewa pada kencan pertama mereka ini.
Ah, Darren sungguh pusing. Terlebih tatapan bola mata kebiruan Xavia yang selalu mengincar matanya. Ingin rasanya dia segera pulang.
"Hm, Darren. Apakah kau merasa tak nyaman dengan kencan ini?" tanya Xavia usai menyesap pada gelas granitanya. Darren agak tersentak mendengar itu. Mungkinkah Xavia bisa membaca pikirannya?
"Tidak. Aku baik-baik saja." Darren segera memalingkan wajah pada lalu lalang orang-orang di luar sana. Dia tak ingin sampai bertemu pandang dengan gadis di depannya itu.
Xavia hanya mengulas senyum. "Apakah kau sangat sibuk pekan ini? Bila ada waktu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucapnya seray menatap lembut.
Darren semakin canggung dibuatnya.
"Sepertinya aku sangat sibuk pekan ini. Ya, aku tak bisa." Darren kembali memalingkan wajah setelah bicara pada Xavia.
Perasaannya sangat bergejolak dan ingin segera pergi. Xavia mengulas senyum tipis. Rupanya Darren tipe pria yang tak mudah menerima ajakan dari seseorang, meski seorang gadis. Xavia merasa semakin menyukainya.
"Baiklah, kalau begitu bisakah kita keluar malam ini? Ya, sekedar menikmati udara malam," ajak Xavia masih sedang menguji pria di depannya itu.
Darren menoleh padanya. Astaga, apa ini? Gadis itu terus menawarkan banyak hal. Dia semakin pusing saja.
"Xavia, aku sedang banyak pekerjaan di kantor. Maafkan aku," balas Darren dengan hati-hati. Dia takut gadis pilihan Nyonya Hawk itu akan marah padanya.
Xavia mengangguk sambil tersenyum tipis. Darren sangatlah bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Selain itu, dia juga bukan tipe pria yang suka keluyuran di malam hari.
Xavia yakin, pria pilihan orang tuanya ini adalah pria yang terbaik untuknya.
"Tak apa, Darren. Aku mengerti. Kau sangat sibuk, itu yang kulihat di majalah bisnis. Karirmu sangat bagus, bukan?" ucapan Xavia sungguh membuat Darren tersentak.
Dia tak menduga gadis moderen seperti Xavia bisa bersikap begitu pengertian. Darren merasa bersalah karena sudah berdusta.
"Terima kasih," ucap Darren datar.
Xavia tersenyum manis untuknya. Mereka pun mulai menikmati makanan penutup yaitu New York Cheesecake, berupa dessert dengan saus berries. Sangat cocok dinikmati oleh pasangan yang sedang jatuh cinta. Dan rasanya yang manis, seolah menggambarkan perasaan Xavia sore itu.
***
Usai makan dan mengakhiri obrolan yang canggung tadi, Darren mengantar Xavia menuju mobil Limousine putih yang sudah menunggunya.
Keduanya berjalan berdampingan. Sesekali Xavia menoleh pada Darren yang tampak masih acuh padanya. Tak apa, justru sikap dingin Darren yang membuat Xavia penasaran pada pria tampan berkulit putih itu.
"Istirahatlah, maaf bila kau sedikit kecewa atas kencan kita ini," ucap Darren yang berdiri di depan Xavia yang sudah tiba di depan mobilnya. Dua bodyguard menunggu sambil berdiri agak jauh dari mereka.
"Tak apa, aku senang kau bisa datang." Xavia tersenyum manis.
"Iya." Darren hanya menganguk.
Seorang bodyguard membukakan pintu mobil. Xavia mulai berbalik dari Darren untuk masuk ke mobilnya. Namun, tiba-tiba seorang pengendara motor dengan kecepatan tinggi melewati Xavia dan hampir saja menabraknya.
"AWASS!!"
"Aaaaaaa...!"
Jerit Xavia hampir terjatuh karena menghindar dari kecelakaan yang bisa saja melukainya. Darren segera maju dan menangkap Xavia hingga terjatuh ke dalam pelukannya. Keduanya saling berpandangan barang sejenak.
Angin cukup kencang sore itu. Anak-anak rambut Xavia mengganggu wajahnya. Darren menyingkirkan anak-anak rambut itu, dengan masih pada posisinya. Jantung keduanya terasa kacau. Seperti ada sengatan listrik ribuan volt yang menyengat tubuh mereka.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" Suara seorang pria dengan stelan jas hitamnya cukup mengagetkan keduanya. Darren segera melepaskan pelukannya dari Xavia.
"Tak apa, aku baik-baik saja." Xavia tersenyum ramah pada pria itu. Sedangkan Darren tampak salah tingkah dan memalingkan wajahnya ke semua penjuru arah. Ada perasaan yang tiba-tiba bergelora di hatinya.
"Baiklah, aku pulang dulu." Xavia tersenyum pada Darren sebelum memasuki mobilnya.
Darren hanya mengangguk dan tetap berdiri di sana sampai mobil Limousine putih itu melaju meninggalkan area Resto.
Darren menghela napas. Dengan perasaannya yang bergejolak tak jelas, dia segera berjalan menuju Jeremy yang tampak sedang tersenyum-senyum sendiri.
"Apa yang sedang kau lihat? Cepat antar aku pulang!" perintah Darren segera memasuki mobilnya. Jeremy menutup pintu mobil itu sambil tersenyum tipis, lantas ia segera berlari menuju bagian kemudi.
Mobil pun melaju menuju apartemen Darren. Ya, pria itu tinggal sendiri di apartemennya selama ini. Ada pun dua atau tiga kali dalam sebulan dia pulang ke rumah mewah ayahnya. Itu pun jika ibunya yang meminta.
Darren lebih suka tinggal di unit apartemen. Selain dekat dengan kantornya, dia pun bisa dengan leluasa mengajak Angela bermalam di sana.
Darren duduk manis sambil bersandar pada sandaran bangku mobilnya yang nyaman. Wajahnya tampak datar dan pikirannya sedang melantur entah kemana. Tiba-tiba saja senyuman manis Xavia muncul di pikirannya.
Pria itu segera menggelengkan kepala sambil memejamkan matanya erat. Namun kali ini bola mata indah Xavia yang muncul. Darren segera membuka matanya dan merubah posisi duduknya. Dia tampak gelisah.
Jeremy yang mengetahui hal itu segera membuka suara sambil menatapnya dari kaca spion di atasnya.
"Ada apa, CEO? Apa Anda baik-baik saja?"
"It's oke. Aku baik-baik saja," jawab Darren sambil mengendurkan simpul dasinya.
Jeremy mengangguk dan segera membanting roda kemudinya ke arah kanan, memasuki gerbang sebuah apartemen 30 lantai di mana Darren tinggal.
Setelah membukakan pintu mobil untuk Darren, Jaremy segera berjalan cepat menyusul bosnya itu. Darren meneruskan langkah panjangnya menuju unit apartemen miliknya.
Beberapa orang yang berpapasan tampak menyapanya dengan sopan.
Setelah keluar dari lift tibalah mereka di lantai 25. Darren segera berjalan ke arah timur menuju pintu unit apartemen miliknya.
Setibanya di sana dia mulai mengetik enam digit angka, tanggal jadiannya dengan Angela. Angka cantik itu dia jadikan pasword untuk membuka kunci pintu unit apartemen miliknya.
Waw! Pintu langsung terbuka saat pasword berhasil disingkronkan.
Pitu otomatis terdorong secara perlahan ke dalam. Mata Darren menangkap sosok gadis yang sedang berdiri menyambutnya sambil tersenyum manis.
Angela?