Kriiing…!!
Suara nyaring dari bunyi alarm, membangunkan tidur nyenyak nya. Laura terbangun dari dunia mimpinya. Ia duduk sejenak, merenggangkan ototnya kemudian berlalu ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor.
Seperti biasa Laura menyempatkan waktu hanya untuk sekedar berpamitan kepada kekasihnya Alvin jika berangkat kerja. Alvin pun langsung membalas pesan singkat kekasihnya dan memberi semangat untuk Laura. Laura sendiri adalah seorang karyawan yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang media cetak. Hari-hari Laura selalu cerah dan penuh semangat saat dia bisa bertukar pesan dengan sang kekasih terlebih lagi kekasihnya selalu mensuport pekerjaannya, sesibuk apapun pekerjaanya, Laura selalu menyempatkan waktunya untuk menghubungi sang kekasih.
Alvin sendiri adalah sorang karyawan di perusahaan yang bergerak di bidang furniture besar di ibu kota. alvin sekarang menjabat sebagai supervisor di bagian marketing, atasan Alvin sangat puas dengan kinerjanya, karena dengan kepemimpinannya produk yang di pasarkan banyak terjual bahkan banyak orderan masuk hingga bagian produksi kuwalahan. Alvin adalah sosok laki-laki yang penyabar, tidak pernah sekalipun ia membentak Laura kekasihnya meskipun sedang bertengkar hebat sekalipun, itulah yang membuat Laura begitu menyayangi sosok seperti Alvin. Mereka menjalin hubungan sudah hampir tiga tahun lamanya, sejak mereka duduk di bangku kuliah sampai saat ini mereka di sibukkan dengan aktivitas pekerjaan masing-masing.
Alvin❤ :
Sayang nanti pulang aku jemput kamu di kantor ya, semangat kerjanya, i love u…
Laura❤ :
Ok, Love u too…
Begitulah percakapan singkat kedua sejoli ini, yang selalu memberikan kabar di tengah kesibukan masing-masing.
***
Setelah jam pulang kerja, Alvin sudah menunggu Laura di depan kantornya. Laura tersenyum saat melihat kekasihnya sudah menunggu di depan kantor kerjanya. Dengan langkah ceria ia berjalan menuju mobil Alvin.
"Sudah lama menunggu?" tanya Laura saat sudah masuk ke mobil.
"Belum lama, kita makan dulu!?" Tawar Alvin yang di angguki Laura dengan menampilkan senyum manisnya. Lalu menjalankan mobilnya.
"Gimana kerjanya, Sayang?" Alvin membuka percakapan.
"Capek banget," Keluh Laura dengan nada merengek.
Alvin terkekeh mendengar nada Laura saat merengek seperti bayi, membuatnya gemas. "Sabar ya, Sayang! tidak ada pekerjaan yang tidak capek, jadi kamu harus tetap semangat di tengah gempuran berkas yang menumpuk!" ujar Alvin sembari mengusap kepala Laura lembut.
"Ya, ya, ya, oleh sebab itu aku ingin menjadi nyonya Alvin secepatnya," protes Laura.
"Doakan saja semoga karirku selalu baik ya, Sayang, karena tidak lama lagi aku akan naik jabatan," ucap Alvin dengan senyum bahagianya.
"Serius," ucap Laura tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya mendengar kabar baik dari sang kekasih, yang di balas Alvin dengan anggukan sambil terkekeh geli melihat ekspresi kekasihnya tersebut.
Laura pun memeluk lengan Alvin sambil mengucapkan selamat kepada kekasihnya. Tidak di pungkiri Alvin memang sosok pekerja keras, tidak jarang ia menghabiskan waktunya untuk lembur hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya. Hal-hal seperti itulah terkadang yang membuat Laura merajuk dan menyebabkan pertengkaran dalam hubungan mereka. Namun dengan kesabaran Alvin yang selalu bisa membujuk dan memberi pengertian sang kekasih, sehingga hati Laura pun melunak.
***
Alvin dan Laura kini sudah berada di sebuah restauran, restauran yang menjadi langganan mereka karena rasanya sangat cocok di lidah mereka. Letaknya tidak begitu jauh dari kantor Laura, karena Alvin sering antar jemput kekasihnya, jadi tidak jarang mereka mampir di restauan tersebut. Bahkan pelayan restauran sampai hafal dengan pasangan yang selalu terlihat romantis tersebut.
Setelah selesai makan Alvin mengantarkan pulang Laura. Sama-sama menjadi perantau di ibu kota, Laura memutuskan tinggal dan membeli sebuah Apartemen yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Begitupun Alvin yang juga membeli Apartemen yang jaraknya tidak jauh dari tempat kerjanya. Hubungan mereka yang sudah terjalin cukup lama membuat mereka mengenal satu sama lain begitupun keluarga masing-masing. Namun begitu hanya beberapa kali saja keduanya saling berkunjung ke rumah orang tua masing-masing.
Setelah sampai di depan Apartemen Laura, Alvin pun berpamitan pulang. Sebelum pulang Alvin selalu mencium kening Laura dengan penuh kasih sayang, tidak jarang ia mencuri ciuman bibir mungil Laura singkat.
***
Keesokan harinya, seperti biasa waktu pagi merupakan waktu yang menunjukkan kepadatan lalu lintas dengan berbagai aktivitas manusia. Begitupun Laura yang sudah sangat terbiasa menghadapi kemacetan jalan saat berangkat bekerja. Ia yang memilih mengendarai mobilnya sendiri memilih berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan. Ia tidak mengijinkan Alvin menjemputnya karena ia sendiri merasa kasihan jika Alvin harus mondar-mandir mengantarkan dirinya di tengah kemacetan jalan yang tidak pernah ada habisnya.
Di tempat lain Alvin yang tengah merasakan kebahagiaan sekaligus kebanggaanya atas pengumuman kenaikan jabatan di perusahaannya, tidak lepas dari senyum tampannya. Aura yang semakin bersinar tidak luput dari pandangan kaum wanita yang terpesona dengan ketampanan dan wibawanya. Banyak karyawan yang memberi ucapan selamat kepadanya, juga atasannya yang memberinya hadiah sebuah jam tangan branded yang harganya sangat fantastis. Semua itu berkat kerja kerasnya yang sudah memberikan yang terbaik untuk perusahaan tersebut.
Alvin kini sudah menempati ruang kerja baru, ruang kerja yang lebih besar dari ruang kerja sebelumnya. Ruangan yang jauh lebih nyaman, di tambah dinding kaca yang langsung membentang pemandangan ibu kota yang memanjakan matanya. Sembari menikmati pemandangan, Alvin duduk di kursi kebesarannya dan langsung mengambil handphone untuk menghubungi kekasihnya.
"Apa aku mengganggu pekerjaan kamu, Sayang?" tanya Alvin kepada Laura di sebrang telepon.
"....."
"Ok, nanti malam aku jemput kamu, aku mau ajak kamu ke suatu tempat untuk merayakan kenaikan jabatanku,"
"....."
"Love you too, Sayang," Alvin menutup teleponnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
***
Pada malam harinya sesuai janji Alvin, dia datang menjemput kekasihnya untuk mengajak ke suatu tempat. Sebenarnya ia mengajak Laura dinner dan juga ingin memberikan kejutan. Alvin yang mengenakan stelan kemeja dengan celana jeansnya terlihat berkali lipat lebih tampan.
Alvin❤ :
Sayang aku sudah di depan.
Selang beberapa saat setelah ia mengirimkan pesan, Laura datang menghampirinya. Alvin selalu di buat terpesona dengan kecantikan Laura yang mengenakan blouse yang selalu pas dan cantik di badannya, begitupun Alvin yang selalu membuat Laura semakin terpesona dengan ketampanannya terlebih saat mengenakan pakaian casual.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari Apartement Laura, keduanya kini sudah sampai di sebuah restauran mewah. Laura di buat bingung lantaran restauran tersebut terlihat sangat sepi bahkan tidak ada pengunjung yang datang. Sebelum turun dari mobil Alvin mengeluarkan sebuah kain hitam yang akan ia gunakan untuk menutup mata Laura, karena ia akan memberi kejutan kepada kekasihnya.
"Buat apa?" Laura mengerutkan keningnya bingung saat Alvin mengeluarkan sebuah kain hitam.
"Buat tutup mata kamu, karena aku mau kasih kamu suatu kejutan," jawan Alvin tersenyum. Ia lalu memasangkan penutup mata dengan melingkarkan kain hitam di matanya.
"Sakit gak?" tanya Alvin memastikan ikatannya tidak terlalu kencang, yang di balas gelengan kepala oleh Laura.
"Tunggu sebentar aku bukain pintunya, kita jalan bersama," Alvin keluar dan memutari mobilnya untuk membukakan pintu Laura.
Dengan sangat hati-hati Alvin menuntun tangan Laura, untuk menuju tempat yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Alvin memberhentikan langkahnya saat sudah sampai yang juga diikuti oleh Laura.
"Apa sudah sampai, Sayang?" tanya Laura saat Alvin sudah memberhentikan langkah kakinya.
"Hmm, sudah siap, Sayang!?" Alvin dengan perlahan membuka penutup mata Laura dari belakang.
"Sekarang buka mata kamu," bisik Alvin tepat di telinga Laura.
Perlahan Laura membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah tempat yang sangat indah. Ia begitu takjub dengan kejutan yang di berikan Alvin.
"Ini semua kamu yang siapin?" ucap Laura sembari memandang Alvin.
"Iya, ini bentuk rasa terimakasih ku karena kamu selalu setia menemaniku sampai detik ini, dan juga berkat dukungan kamu, Sayang," ungkap Alvin tulus.
Belum sampai di situ Alvin lagi-lagi memberikan kejutan untuk Laura, dengan mengeluarkan kotak kecil merah yang setelah di buka berisi sebuah cincin yang sangat cantik. Laura di buat menangis karena terharu atas perlakuan Alvin kepadanya, sungguh ia sangat-sangat bahagia.
Alvin mengambil cincin tersebut dan langsung menyematkan ke jari manis Laura yang sangat pas dan cantik bertengger di jari manisnya.
Sambil berjongkok dan masih memegang tangan Laura, Alvin berkata, "Will you merry me," ucapnya yang membuat Laura begitu syok mendengarnya.
Laura yang merasa canggung dan malu-malu menjawab pernyataan Alvin dengan anggukan kepala, dan seketika tangisnya pecah karena terharu. Sungguh Laura sangat-sangat bahagia, menjalin hubungan bertahun-tahun dengan suka duka yang mereka jalani, akhirnya penantian Laura membawanya ke dalam kebahagiaan dalam hidupnya.
***
Hari-hari Laura kini jauh lebih bahagia pasca pernyataan sang kekasih yang melamar dirinya tempo lalu. Hubungannya pun juga semakin harmonis dan semakin romantis, terlihat Alvin yang selalu memberi kabar tentang apapun kesibukan dengan jabatan barunya sekarang. Begitupun Laura sesibuk apapun pekerjaannya ia selalu menyempatkan untuk mengirim pesan singkat kepada kekasihnya.
"Bahagia banget nih besti, kapan rencana mau sebar undangan?" tanya sahabat Laura yang juga satu devisi ikut senang melihat raut bahagia sejak cincin cantik bertengger di jari manisnya.
"Hehe, doain ya, Alvin masih sibuk dengan pekerjaannya! Dia kan juga baru naik jabatan," jawab Laura dengan senyum yang mengembang.
"Gue doain semoga hubungan lo langgeng terus, Ra, jadi iri gue, hiks!" ungkap Reysa dengan pura-pura memasang ekspresi sedih.
"Mangkanya, jangan kelamaan ngejomblo dong, biar ada penyemangat," ceplos Laura sambil nyengir kuda.
"Hmmh, maunya sih gitu, belum nemu yang cocok," ujar Reysa sambari menghembuskan nafas.
"Itu, Bastian mepet lo mulu tapi gak lo gubris," ledek Laura.
"Apaan sih, laki gak jelas gitu, ogah gue mah," sewot Reysa.
"Gak jelas gimana? jabatan juga udah oke, cakep juga iya, kurang apalagi cobak?" puji Laura berkata jujur.
"Iya, playboy juga iya," imbuh Reysa dengan nada kesal.
"Tapi kayaknya sama lo serius deh, Sa! soalnya dia pernah nanya-nanya tentang lo sama gue," kata Laura.
Sambil mengerutkan kening dan penasaran Reysa bertanya. "Tanya apa emangnya?"
"Tuh, penasaran juga kan lo!" Ejek Laura sambil menertawakan sahabatnya tersebut.
"Ya, elonya mancing-mancing, sialan lo," Ketus Reysa.
Sambil tertawa, Laurapun memberi tahukan apa yang pernah Bastian tanyakan tentang Reysa. "Ya dia cuma tanya lo udah punya pacar apa belum, soalnya dia tertarik sama lo, tapi lonya cuek banget sama dia," ucap Laura memberi tahu ungkapan Bastian.
"Lah dia ceweknya aja segudang, lo percaya aja sama mulut tuh buaya, yang ada ntar gue cuma di jadiin koleksi lagi sama dia," Reysa berkata dengan nada kesalnya.
"Sabar buk, mana tau sama lo, dia bisa berubah."
"Berubah jadi bunglon," sahut Reysa yang hanya di jawab gelengan kepala dan tertawa Laura.
Reysa adalah rekan kerja satu devisi dengan Laura, perkenalan mereka yang cukup lama membuat pertemanan mereka semakin dekat. Laura juga sering curhat dengan Reysa begitupun sebaliknya. Tidak jarang juga Reysa terkadang menginap di Apartement Laura, begitu juga Laura yang terkadang menginap di rumah Reysa. Dan orang tua Reysa pun mengenal Laura sangat baik.
***
Di perusahaan lain Alvin semakin disibukkan dengan segudang pekerjaan dan tanggung jawab lebih karena jabatannya kini sudah naik pangkat menjadi seorang Manager. Berkat kerja kerasnya lah Alvin bisa naik jabatan, tidak jarang juga ia selalu dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan dengan klien di luar.
Tok… Tok… Tok…
Pintu terbuka membuat Alvin mendongak menatap ke arah pintu ruangannya yang terbuka. Terlihat sekretarisnya masuk dengan membawa beberapa berkas yang di sodorkan di atas meja kerjanya. Tidak bisa di pungkiri sekretaris Alvin memang cantik dengan body yang sangat sexy, terkadang Alvin sampai salah tingkah saat melihat sekretarisnya yang berusaha mendekatinya.
"Maaf, Pak, saya mau menyerahkan berkas yang harus di tanda tangani," sang sekretaris menyodorkan map di depan meja kerja Alvin.
Setelah menandatangani berkas tersebut, Alvin menyodorkan kembali kepada sekretarisnya.
"Apa ada yang, Bapak, butuhkan?" tanya sekretarisnya lagi sembari mendekat.
"Tidak, terimakasih, silahkan lanjutkan pekerjaan kamu kembali," jawab Alvin, kemudian sekretaris tersebut keluar dari ruangannya.
***
Jam dua belas Alvin keluar dengan sekretarisnya untuk bertemu dengan klien. Alvin dan sekretarisnya masuk satu mobil, dengan Alvin mengemudikan mobilnya sendiri. pertemuan diadakan di kafe tidak jauh dari kantor perusahaannya. Hening, tak banyak obrolan di antara keduanya saat dalam perjalanan.
"Maaf," ucap Alvin saat tak sengaja memegang tangan Siska yang sedang mengambil tisu di sampingnya.
"Gak pa-pa, Pak," Siska tersenyum sembari melihat Bosnya yang salah tingkah.
"Emm… Nanti malam kamu ada acara?" tanya Alvin dengan sedikit ragu.
"Gak ada, Pak, memangnya ada apa ya, Pak?" Siska balik bertanya.
"Nanti malam aku ajak keluar, mau?"
"Ke-keluar? Boleh, Pak," jawab Siska sedikit gugup.
"Ok, nanti malam aku jemput,"
Alvin memang sudah tau rumah Siska karena pernah mengantarnya pulang saat lembur hingga malam hari. Mobil mereka kini sampai, kemudian mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kafe untuk bertemu kliennya.
Hari berganti sore, Kantor sudah sunyi karena jam pulang kantor sudah tiba, ada beberapa karyawan yang masih menyelesaikan pekerjaannya. Alvin pun mengemasi berkasnya untuk segera pulang, ia sudah ingin mengistirahatkann badannya yang sedikit lelah setelah beraktivitas.
"Mau, pulang?" tanya Alvin pada sekretarisnya saat melihat Siska menenteng tas kerjanya.
"Iya, Pak, pekerjaan saya sudah selesai."
"Mau barengan sama saya sekalian? kita kan searah," tawar Alvin pada Siska.
"Gak ngerepotin, Bapak?"
"Gak, ayo," ajak Alvin yang di angguki oleh Siska, lalu keduanya berjalan beriringan.
Perjalanan ke rumah Siska hanya menempuh beberapa menit karena jarak dari kantornya memang tak begitu jauh. Setelah sampai di depan rumah Siska, Alvin menepikan mobilnya.
"Terimakasih ya, Pak, buat tumpangannya," ucap Siska mengucapkan terimakasihnya sembari tersenyum manis pada Alvin.
"Sama-sama, nanti malam jangan lupa ya?" Siska tersenyum kemudian mengangguk sebagai jawaban.
***
Pada malamnya Alvin sudah siap dengan setelan kemeja dan celana levis. Alvin terlihat lebih tampan saat menggunakan pakaian casual. Saat sudah berada di depan rumah Siska Alvin mengeluarkan Handphonenya untuk menelpon.
"Sudah siap, aku sudah di depan rumah kamu," ucap Alvin saat sambungan telpon terhubung.
"....."
"Ok, aku tunggu!" Setelahnya panggilan berakhir.
Selang beberapa menit setelah telpon berakhir, seorang wanita cantik menggunakan dress selutut keluar dari rumahnya. Alvin sedikit terpesona dengan Siska karena terlihat cantik saat mengenakan pakaian biasa yang biasanya selalu melihat memakai pakaian formal. Begitupun Siska yang terpesona melihat ketampanan Bosnya yang terlihat lebih tampan saat menggunakan pakaian casual. Sejujurnya memang Siska menaruh ketertarikan kepada Bosnya saat menjadi sekretaris barunya. Ketampanan dan kewibawaan seorang Alvin memang tidak di ragukan lagi, banyak yang menaksir Alvin tetapi Alvin terlihat biasa saja dan cuek membuat Siska penasaran dengan sosok Alvin.
Namun dengan ajakan Alvin pada dirinya, Siska yakin jika Alvin pun juga tertarik dengan dirinya. Siska juga senang seandainya perasaanya terbalas.
"Sudah sampai," bisik Alvin di dekat telinga Siska, saat mobil sudah terparkir di depan restoran mewah.
Siska yang sedikit terkejut karena melamun, seketika menoleh. "Eh, Iya, Pak, maaf!" jawab Siska sedikit kikuk.
"Lagi ngelamunin apa?" tanya Alvin sembari tersenyum melihat tingkah lucu Siska yang terkejut.
"Hehe, gak ada, Pak,"
"Ayo, turun," ajak Alvin, kemudian keduanya turun dan berjalan beriringan.
Alvin kemudian masuk dan duduk berdekatan dengan Siska. Sambil menunggu pesanan datang Alvin mengobrol, keduanya terlihat sangat romantis, jika orang tidak tahu mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Siska memang sering menemani Alvin di berbagai pertemuan, terkadang juga saat jam istirahat, namun entah kenapa malam ini terasa berbeda. Di tengah-tengah obrolannya, Alvin tiba-tiba saja memegang tangan Siska, membuat Siska terdiam dan memperhatikan Bosnya tersebut.
"Sis, apa kamu sudah mempunyai kekasih?" tanya Alvin gugup, sembari memegang tangan Siska.
"Be-belum, Pak, memangnya kenapa?" jawab Siska yang juga gugup, detak jantungnya pun berdegup sedikit kencang.
"Jujur, saya tertarik sama kamu! Kamu mau jadi pacar saya?" Alvin menyatakan perasaannya tanpa memikir sedikitpun Laura yang jauh darinya.
"Bapak, serius," Siska memastikan kembali pernyataan Alvin.
"Sangat serius," ucap Alvin sembari mengelus tangan yang di pegang Alvin.
Dengan malu-malu Siska mengangguk sebagai jawaban dari pernyataan alvin. "Ii-iiya, saya terima, karena jujur dari awal saya juga tertarik sama, Bapak," Siska tersenyum saat mengatakan perasaannya.
Alvin mencium tangan Jeslyn mesra, "terimakasih, mulai sekarang jangan panggil, Bapak, saat kita sedang di luar."
Tidak jauh dari tempat Alvin, seseorang memotret kedua pasang laki-laki dan wanita yang sedang duduk bermesraan tersebut. Dia adalah Reysa yang merupakan sahabat sekaligus rekan kerja Laura. Sedikit banyak Reysa tau tentang hubungan temannya dengan Alvin yang sudah terjalin cukup lama, entah apa yang ada dalam pikiran Alvin sampai tega mengkhianati kekasih yang sudah menemaninya dari nol. Laura memang beberapa hari ini sedang keluar kota karena ditugaskan atasan untuk pekerjaannya.
"Dasar cowok brengsek," gumam Reysa setelah mengambil gambar yang ia lihat.
Jujur ia juga tak sampai hati jika harus menunjukkan gambar yang ia lihat, terlebih ia juga mendengar pernyataan Alvin yang menembak perempuan tersebut. Namun ia juga tidak bisa diam saja melihat sahabatnya di khianati. Reysa akan memberitahu Laura setelah Laura kembali ke perusahaan, entah Laura akan percaya atau tidak dengan apa yang ia lihat. akan tetapi lebih baik jika Laura mengetahui daripada dia akan di bodohi oleh lelaki tersebut.
***
Keesokan paginya seperti biasa, Laura selalu semangat menjalani aktivitasnya. Reysa menjadi tak tega jika harus memberitahu bukti perselingkuhan kekasih temannya tersebut. Tapi Reysa lebih tidak tega membiarkan temannya di khianati dan di bodohi oleh kekasihnya. Laura yang selalu semangat menceritakan tentang kekasihnya pada Reysa, namun ia juga tidak tahu jika yang di ceritakan dan di bangga-banggakan sudah tega berkhianat.
"Pagi, Reysa! Kangen banget gue sama lo" sapa Laura ceria pada Reysa yang sudah duduk di tempat kerjanya.
"Pagi juga besti! Gimana kerjaanya udah kelar," jawab Reysa yang juga menanyakan pekerjaan Laura pasca pulang dari luar kota.
"Sudah donk, udah kelamaan pisah sama ayang," sahut Laura sambil terkekeh.
"Dih, gaya lo, pisah tiga hari aja udah kayak pisah tiga abad," ledek Reysa, namun hatinya juga mencelos melihat kegirangan sahabatnya tersebut.
"Lo gak punya ayang sih, coba kalau punya ayang pasti tiap hari cengar-cengir mulu lo," sahut Laura dengan nada sedikit ketus.
"Gue gak mau coba-coba, takut sakit hati gue."
"Sakit hati? kenapa harus sakit hati?"
"Cowok banyak brengseknya," ceplos Reysa.
"Cowok gue pengecualian," sahut Laura.
"Belum tau aja lo," ucap Reysa kemudian berdiri berlalu hendak ke pantry, Laura tidak menyahut lagi.
Laura mengeluarkan handphonenya, hendak menelpon kekasihnya, yang akhir-akhir ini sangat sulit di hubungi namun Laura bersikap mengerti dengan kesibukan kekasihnya, karena jabatan baru kekasihnya. Laura Pun mendial nomor telpon kekasihnya, namun hasilnya sama telponnya tidak diangkat oleh Alvin. Wajah Laura pun berubah menjadi sendu, padahal ia sudah mencoba bersikap baik-baik saja karena tidak mau berfikir negatif pada Alvin.
Hingga Reysa datang masuk ruang kubikel nya, melihat ekspresi sedih sahabatnya Reysa pun langsung menghampiri Laura dan duduk di sampingnya.
"Kenapa lo, habis girang-girang mendadak sendu aja, gag ada duit lo?" Canda Reysa menghibur temannya.
"Alvin!" Jawab Laura lesu.
"Alvin? Kenapa sama tu anak?" Reysa mengerutkan kening pura-pura tak tahu.
"Entah, perasaan gue aja atau gimana!? Alvin, makin susah dihubungi, kemarin waktu gue pulang, gue hubungi juga susah banget. Pas bisa gue hubungi mau gue ajak ketemu dia bilang masih sibuk sama pekerjaannya," ujar Laura masih memasang wajah lesu.
Reysa menghembuskan nafas, ia yang mengetahui kelakuan Alvin di belakang Laura, ia menjadi tak tega melihat temannya bersedih. wajah yang biasanya selalu bersemangat menjadi lesu tak ada semangat sama sekali. "Ya, sabar aja mungkin memang lagi sibuk, ntar siang kita makan di luar ya, ada yang pengen gue omongin," ajak Reysa.
"Ngomong apa'an?" tanya Laura kepo.
"Dah, ntar aja kepo nya, lo kerja yang bener sekarang," ucap Reysa sambil melipir kemejanya.
Laura pun kembali melanjutkan pekerjaannya, ia mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya karena tidak mau membawa masalah pribadinya dalam pekerjaannya.
***
Reysa dan Laura berjalan ke basement saat jam istirahat tiba. Keduanya masuk mobil dengan Reysa yang mengemudikan mobilnya, ya mereka pergi menggunakan mobil Reysa. Reysa melajukan mobilnya membawa keluar dari halaman kantornya menuju kafe tempat biasa yang mereka kunjungi.
Hanya menempuh beberapa menit mereka sampai di kafe langganan mereka. Keduanya masuk dan memilih tempat di pojok dekat dengan jendela. Waiters langsung menghampiri kedua gadis cantik ini untuk mencatat pesanannya. Sambil menunggu keduanya mengobrol asik dengan sesekali bercanda, banyak pengunjung lelaki memandangi kedua gadis cantik ini dengan tatapan memuja, namun Reysa dan Laura hanya memasang wajah cuek karena sudah menjadi hal biasa dengan tatapan para lelaki tersebut.
"Ra, gue mau tanya nih, tapi lo jangan tersinggung ya!?" Reysa melontarkan ucapannya pada Laura.
"Nanya aja, kayaknya serius banget gitu!" ujar Laura.
"Lo pernah gak menaruh rasa curiga gitu sama cowok lo? Saat cowok lo lagi susah di hubungi gitu!?" tanya Reysa sedikit takut.
Mendapat pertanyaan tersebut seketika membuat Laura terdiam dengan wajah sendu. "Jujur, ada rasa khawatir sih, karena gak tau keadaan dia gimana, lagi ngapain gitu! Tapi gue mencoba berfikir positif, mungkin memang dia lagi sibuk aja," ungkap Laura sedikit sedih.
"Kalau misal dia berkhianat di belakang lo, gimana?" Ceplos Reysa begitu saja.
"Lo apaan sih, gak mungkin, Alvin, sampe selingkuh, bahkan dia sudah membuktikan cintanya dengan melamar gue," ucap Laura mencoba tersenyum dengan menunjukkan jari manis yang tersemat cincin cantik pemberian dari kekasihnya.
"Tapi, Ra…" ucapan Reysa terjeda karena masih berpikir-pikir lagi.
"Tapi apa? Lo kenapa sih gak jelas gitu," sewot Laura karena kesal dengan tingkah Reysa yang menurutnya sedikit aneh.
"Gue mau ngasih tau lo sesuatu," Reysa merogoh saku blezernya dang mengeluarkan handphone, kemudian ia membuka galeri untuk menunjukkan foto kekasih temannya tersebut saat bersama wanita tempo lalu.
Laura mengerutkan kening saat Reysa meletakkan handphone di depannya. "Apa?" tanya Laura penasaran.
"Lo buka aja sendiri."
Penasaran, Laura pun membuka handphone temannya. Ia mengerutkan kening karena masih belum ngeh jika yang di dalam foto tersebut adalah kekasihnya Alvin. Tapi setelah di zoom Laura sangat syok saat melihat jelas jika foto tersebut adalah Alvin tengah bersama seorang wanita sambil memegang tangan perempuan tersebut. Bahkan di foto itu Alvin tersenyum bahagia begitupun wanita yang entah siapa. Bukti foto ini tidak bisa mengelakkan atas apa yang sudah di lakukan Alvin dibelakangnya.
"Ini, Alvin?" ucap Laura lirih, sambil menahan sesak di dadanya.
"Ii-iiya, Ra, itu memang benar, Alvin, cowok lo," kata Reysa mengucapkan sedikit gugup, takut temannya kenapa-kenapa setelah melihat foto tersebut.
Sambil memegang dadanya yang terasa amat sesak, Laura mencoba untuk tidak menangis. "Tt-tidak mungkin, Sa, Alvin, orang yang sangat baik dan setia banget sama gue," Laura berucap dengan suara serak karena menahan berusaha menahan tangisnya.
"Gue cuma pengen lo tau aja, Ra, gimana cowok lo di luar sana, aku juga gak nyangka, Alvin, bisa setega itu sama lo yang udah nemenin dari Nol," Reysa mencoba menguatkan temannya yang pasti sangat terluka melihat fakta tentang cowoknya tersebut.
"Lo yang tenang ya, Ra, jangan sedih, lo selidiki lebih lanjut aja dulu," ucap Reysa sambil mengusap pundak temannya.
"Sakit, Sa!" Ucapnya sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Laura tidak bisa membendung air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya, hingga akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Entah benar atau tidak Alvin telah berkhianat padanya, namun tetap saja Laura sangat kecewa melihat foto kemesraan kekasihnya dengan wanita lain. Laura berfikir apakah mungkin Alvin memang selingkuh di belakangnya mengingat beberapa hari terakhir ini Alvin sangat susah di hubungi. Pesan chatnya pun jarang di balas.
Ucapan Reysa ada benarnya juga, ia akan mencari tahu lebih jauh tentang Alvin. Meski begitu Laura berharap jika Alvin masih setia dengannya karena Laura sangat mencintai Alvin. Rasa cintanya pada seorang Alvin membuat Laura belum siap jika harus kehilangan kekasihnya yang sudah bertahun-tahun menemaninya baik suka maupun duka. Sosok Alvin yang sangat penyabar menghadapi dirinya yang terkadang suka marah, ngambek karena hal sepele, membuat Laura sangat beruntung memiliki kekasih yang bahkan tidak pernah membentak dirinya sekalipun walaupun sedang bertengkar sekalipun.
"Ra, lo gak pa-pa kan?" tanya Reysa sembari mengusap lengan Laura, yang tiba-tiba melamun dengan memasang wajah sedih.
"Eh, gak pa-pa kok, Sa!" ucap Laura mencoba untuk tersenyum agar kelihatan baik-baik saja. Namun Reysa bisa melihat sorot mata yang tidak bisa membohongi rasa sedih dan kecewanya Laura.
Reysa menjadi tidak enak setelah memberitahu kenyataan tentang cowok temannya tersebut. Akan tetapi dia justru lebih kasihan jika tidak memberitahu Laura tentang cowoknya. Dia tidak akan setega itu membiarkan temannya di bohongi oleh kekasihnya tersebut. Sepandai-pandai nya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Jadi cepat atau lambat semuanya akan terbongkar dengan sendirinya. Tapi Reysa akan selalu ada untuk sahabatnya, karena bagaimanapun juga ia tahu kisah dan perjalanan keduanya. Tidak dipungkiri Luara akan terjatuh dalam kesedihan yang teramat, mengingat dia yang sangat mencintai Alvin terlalu dalam. Reysa takut jika Laura sampai depresi, karena tidak sedikit pasangan kekasih yang patah hati memilih jalan buruk sebagai pelarian rasa sakitnya.
***