Malam ini, sebuah pernikahan mewah digelar meriah. Mengusung tema pernikahan ala American clasic benar-benar menakjubkan. Ribuan kamera berancang-ancang diposisi masing-masing, tentu tidak ingin melewatkan momen berharga barang sedetikpun. Rekan-rekan aktor sampai para pelawak tanah air turut memeriahkan acara.
Ellard bahkan bermurah hati membiarkan para penggemar hadir, menjadi saksi hari bersejarah dirinya dengan kekasih.
Alhasil tamu yang datang meluap sampai halaman depan.
Alunan music romantic dimainkan menggetarkan hati. Kelopak bunga bertabur mengiringi langkah demi langkah menuju altar.
Ellard menggandeng calon isterinya dengan senyum mengembang dibibir, melambaikan tangan menyapa tamu dengan ramah. Semua orang ikut bahagia menyaksikan bagaimana pasangan serasi itu saling melempar senyum malu-malu, terlihat menggemaskan disetiap mata memandang. Ellard mengelus tangan Alura yang mengandeng lengannya, ketegangan jelas Ellard rasakan saat mata mereka bersitatap.
"Kau gugup?"
Perhatian kecil ia lemparkan pada Alura yang dibalas anggukan kecil ragu-ragu. Ellard pun tersenyum sibuk mengurusi detak jantungnya yang mulai ugal-ugalan.
Gugup yang Ellard rasakan tentu berbeda dengan Alura. Sesuatu yang orang tidak tahu sedang berkecamuk dalam dirinya. Dari awal Ellard memasuki ruangan ia sudah melihat wanita berambut pirang dengan kacamata hitam mengendap masuk diantara penggemarnya.
Takut bercampur senang mungkin itu yang ia rasakan. Ellard memang memaksa Bella untuk datang ke pernikahan nya hari ini, tapi demi Tuhan ia tidak pernah menyangka wanita itu benar-benar akan datang, setelah semua yang ia lakukan.
Ellard mengulum senyumnya tahu-tahu sudah tiba diatas altar. Menghadap semua tamu kemudian membungkuk 90 Drajat memberi penghormatan.
"Sebelum pernikahan ini dilanjutkan, saya terlebih dahulu ingin bertanya kepada para saksi yang terhormat, apakah ada diantara kalian yang kerberatan dengan pernikahan ini?"
Ellard muak dengan suasana ini, semua orang mulai berbisik, mengantisipasi karena sesuatu mungkin saja terjadi. Mengingat dirinya yang memang bukan orang biasa.
Bella tersenyum tipis, melihat dirinya yang begitu dibenci semua orang.
"Jalang sialan bernama Bella itu benar-benar tidak tahu diri kalau sampai berani mengacaukan acara ini." Tiba-tiba wanita didepan Bella berbisik dengan temannya, "dengan wajahnya yang huhhh jelek itu, aku yakin dia tidak cukup berani bersaing dengan Alura." Setelah itu mereka tertawa, mengejek orang yang jelas-jelas berdiri tepat dibelakang mereka sendiri.
Bella menjatuhkan padangan kelantai pun kepalanya tak mampu berdiri dengan tegak. Pembicaraan itu memaksa jatuh mental Bella yang mati-matian ia pertahanan. Kesalahan terbesar Bella laksanakan hari ini.
Demi Tuhan Bella tidak pernah berpikiran untuk membalaskan dendamnya dengan melakukan hal yang sama. Dituduh seperti itu membuat ia seketika memikirkan hal keji, bagaimana jika Bella benar-benar berdiri tegak diantara Ellard dan Alura. Berpura-pura gila pun bisa ia lakukan, mengancam semua orang dengan mengatakan dirinya membawa bom atom untuk kemudian ia ledakan diatas kepala Ellard. Dan lihat bagaimana ruang sesak ini akan menjadi kosong melompong.
Senyum jahat terbit dari bibirnya, namun Bella tentu tidak sebodoh itu. Setidaknya untuk sekarang, otaknya masih bisa bekerja dengan baik. Daripada melakukan hal yang membuat harga dirinya jatuh Bella lebih memilih untuk pergi.
"Dihadapan Tuhan-"
Yang mana Bella urungkan saat terdengar Ellard membacakan janji pernikahannya dengan lantang.
"Saya Ellard Wiliam dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu Alura Rinjani menjadi isteri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, diwaktu sehat dan sakit, dengan kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku."
Prosesi berjalan khidmat, Alura mengikrarkan janjinya tepat setelah Ellard, kemudian pendeta menyatakan pernikahan mereka sah dihadapan Tuhan. Lalu mempersilahkan pasangan suami-istri itu untuk berciuman.
Dari kejauhan Bella dapat melihat bagaimana manisnya senyum Ellard sebelum meraih tenguk Alura, mencium mesra bibirnya. Bersamaan dengan itu, air mata jatuh membasahi pipi Bella. Sorakan riang disertai tepukan tangan mencubit perasaan.
"Jangan menangis."
Seolah tersadar, Bella menghapus air mata yang mungkin jatuh ditanpa terasa. Dia membalik kan tubuh tanpa perhitungan sampai ketika mereka berhadapan, mata teduh milik Mark langsung ia dapatkan.
"Mark?"
"Kau benar-benar datang ternyata."
Bella tersenyum tipis hampir tak terlihat, "aku hanya penasaran dengan konsep acaranya."
Alih-alih mengiyakan mark malah tampak mencebikan bibirnya. Lelaki itu jelas sedang mengejek kebodohannya, tapi Bella abai.
"Harusnya kau datang bersama ku."
"Lalu mendapatkan kecemburuan dari kekasihmu?" Sindir Bella telak membuat Mark menjadi gagu seketika, lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "yahh setidaknya kalau kau memberitahuku, aku bisa mengusahakan agar tidak datang bersama Yeri dulu kali ini."
"Memang nya bisa?"
"Bisa lah. Apapun demi sahabat tercinta." Mark menyengir ceria
"Minggu lalu saja kau habis dimarahi ayahmu gara-gara tidak menjemput Yeri dari sekolah. Ish dia benar-benar berhasil menjadikanmu babu--"
"BELLA!!"
Mark kelepasan, Bella tersentak tapi tak mengurangi kesadarannya untuk menarik keluar Mark dari kerumunan. wanita pirang disebelah Bella sempat mengeryit, satu detik saja bisa-bisa Bella pulang dengan kaki tangan patah.
Darah terasa mengalir lebih cepat seiring dengan detak jantungnya asik berdisco ria. Bella ingin mengehabisi Mark saja rasanya.
Sementara Mark masih sempat terkekeh geli, seolah itu bukanlah masalah. Bella menggerutu, tidak tahu saja dia bagaimana kejamnya penggemar fanatik Ellard-alura. Bella bahkan sempat dikutuk habis-habisan karena dianggap menjadi penghalang hubungan Ellard dan Alura.
"Mark, kau hampir saja membunuhku dengan berteriak seperti itu tadi." Sunggutnya menghentikan langkah mereka tepat didepan toilet pria.
"Oke. Maaf, aku kelepasan." Mark menyengir menampilkan giginya yang rapi seolah tidak merasa bersalah. "Kalau sampai ada yang sadar aku disini. Bisa habis aku."
"Lagian kenapa pula kau datang ujuk-ujuk kesini? Mau mengantarkan nyawa?" Mark tertawa melihat keseluruhan penampilan Bella, "ini lagi nyamar ceritanya?"
"Terserah!"
Mark terkekeh, Bella menggunakan wig berwarna mencolok. Persis seperti badut Ancol dimata Mark, "Niatmu perlu diacungi jempol." katanya serentak dengan kedua ibu jarinya yang mengacung untuk Bella, "Kalau aku sedang tidak menggunakan sepatu sudah kuberikan juga dua jempol kaki ku untukmu."
Kelakar lawas, Bella sama sekali tidak menganggap itu lucu. Wanita itu lebih memilih menyandarkan punggungnya ke tembok. Menatap langit-langit, yang entah kenapa membuat hatinya kian sesak.
"Aku bodoh sekali ya, Mark?"
Matanya berlinang, tapi sebisa mungkin ia tahan agar tidak menangis.
"Dia yang menyuruh ku untuk datang kesini, kalau kau ingin tahu."
Mark tidak menjawab. Ikut bersandar bersama Bella. Kedua tangannya ia masukan kesaku celana, siap mendengarkan apa saja keluhan wanita itu.
"Bahkan aku juga bingung, setelah semua yang terjadi--aku tetap tidak bisa membencinya Mark-"
Tangis Bella pecah setelahnya, meluapkan semua yang ia tahan selama ini. Bella wanita yang kuat, tidak pernah sekalipun Mark melihat nya menangis sepilu ini. Namun sekarang ia paham jika wanita ini sedang mengalami kesakitan yang amat sangat. Mark menjadi tidak tahan untuk tidak merengkuh Bella kedalam pelukannya. Menepuk punggungnya lembut demi memberikan ketenangan.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya? Kau ingin menemuinya setelah ini?"
Bella menggelengkan kepala lemah, masih terisak walau terbungkam dada Mark. "Aku tidak tahu."
"Jangan menangis."
Suara Mark ikut-ikutan serak, sehingga Bella menjadi Malu sendiri. Seperti tersadar tindakannya kali ini menjadi beban bagi orang lain.
"Bawa aku pulang, Mark."
***
Ellard tetap menggandeng mesra Alura, menyalami tamu-tamu yang terus berdatangan. Senyuman lebar ia tampilkan tidak pernah luntur yang mana diejek habis-habisan oleh dasi kupu-kupu yang masih bertengger rapi mengikat kerah kemeja.
Seorang aktor memang harus pandai bersandiwara, bukan?
"Sayang?"
Langkah mereka terhenti otomatis, Ellard menaikan alisnya, bertanya melalui itu.
Pelukan erat Alura pada lengannya Ellard dapatkan sebagai jawaban, yang mana Ellard tatap mata istrinya yang terlihat sayu "Aku lelah, tidak bisakah acaranya diselesaikan dengan cepat?"
"Tidak sayang. Akan sangat tidak sopan jika kita menghentikan acara-nya tiba-tiba."
"Tapi aku mual. Kaki ku pegal. Kalau tidak mau, biarkan aku pergi duluan. Aku ingin istirahat." Alura mengeluh manja pada Ellard yang masih enggan meninggalkan acara. Wanita itu mendengus kesal, melepasakan Ellard lalu pergi begitu saja.
"Sayang?!"
"Alura."
Pangilannya diabaikan, tak membuat Ellard berniat mengejar Alura. lelaki itu hanya mengedikan bahu. Alura sedang hamil muda, jadi wajar jika moodnya sering dalam kondisi tidak baik.
Ellard memahami hal itu, berusaha melenturkan bibirnya kembali agar bisa tersenyum lebih natural.
"Ellard William."
"Rangga Pratama."
Ellard terkekeh menyambut sang sahabat yang langsung menjabat tangannya.
"Selamat atas pernikahanmu, Dude." Ucapnya bangga, "aku benar-benar tidak menyangka kau akan berjodoh dengan lawan mainmu sendiri."
Bukan hanya Rangga, Ellard pun tidak menyangka.
"Ya begitulah." Balas Ellard tidak mengurangi intensitas senyumnya.
"Terimakasih ya sudah turut hadir di pernikahanku."
"Eyss bicara apa kau ini? Aku sahabatmu sudah sewajarnya memberikan dukungan untukmu." Rangga menepuk pundak Ellard, "Tapi maaf, sebenarnya aku sangat menyayangkan hal ini, aku tidak bisa membersamaimu lebih lama, Ellard." Kelakar Rangga berpura-pura melihat jam tangannya "aku harus menemani istriku kerumah sakit." Lanjutnya setengah berbisik.
Ellard mengidikan bahu tanda tak punya hak menahan Rangga lebih lama, istri Rangga tengah hamil besar dan kalau tidak salah Rangga pernah mengatakan kalau Minggu-minggu ini istrinya akan segera melahirkan.
"Kau memang pandai mencari alasan." Rangga tertawa mendengarnya,
"Sana! Pergilah! Sampaikan salamku dengan Elena." Usir Ellard sedikit mendorong bahu Rangga.
"Tentu. Ah padahal dia ingin sekali melihat mu menikah, tapi sudahlah--" setelahnya hanya punggung lebar Rangga yang bisa Ellard lihat. Lelaki itu tampak berlari kecil. Tanpa sadar hati Ellard menghangat, tarikan dibibirnya menjelaskan kalau Ellard iri melihat kebahagiaan sang kawan.
Yang ia tendang jauh-jauh perasaan itu demi kelangsungan hidupnya.
Lelaki itu kembali mengedarkan pandangan, lagi-lagi hatinya seperti dihujani beribu bunga. Para penggemar masih setia berdiri dihalaman depan. Menunjukan cinta mereka, dengan ucapan-ucapan selamat yang mereka buat sendiri melalui tulisan.
"Ellard-Alura Forever!"
"Teruslah bahagia Ellard William! We love you!!"
Hampir saja Ellard menitikan air mata. Bagaimana bisa begitu banyak orang mencintai lelaki brengsek seperti dia. Ellard semakin melebarkan senyumnya melambaikan tangan, memberikan ucapan terimakasih melalui isyarat.
Tindakan itu tak ayal mendapat sautan luar biasa dari fans. Mereka meneriakkan nama Ellard berkali-kali.
Ellard membungkuk menghormati orang-orang yang tulus mendukungnya. Berpamitan untuk meninggalkan tempat itu, yang langsung diiyakan begitu saja oleh mereka.
Langkah Ellard lagi-lagi ia lanjutkan, menuju toilet untuk sekedar mencuci muka. Matanya sudah terasa berat karena lelah.
Namun di detik selanjutnya mata Ellard seolah dibuat benar-benar terbuka saat melihat sesuatu yang tidak ia suka terjadi didepan matanya. Lelaki itu menggertakan giginya, ia marah tapi ia tahan. Ellard menyandarkan punggungnya ke tembok dengan arogan, lalu berdeham keras.
"Disini kau rupanya."
***
"disini kau rupanya."
Suara berat Ellard menginterupsi Bella dan Mark hingga mau tak mau harus saling melepaskan diri.
Ellard berusaha menunjukkan reaksi santai dengan kedua tangan bersarang disaku. Rambutnya terbelah dua, meski tidak se-rapi tadi, tapi harus Bella akui warna platinum silver sangat cocok dengannya.
Ellard terlihat sangat tampan, dengan semua yang ada dalam dirinya. Bentuk dan tinggi badan yang sempurna, hingga wajah tampan bak titisan dewa Yunani menjadikan Ellard lebih pantas disebut malaikat ketimbang manusia.
"Selamat atas pernikahanmu."
Tidak buruk, Bella memuji kemampuannya dalam mencari sapaan pembuka. Harusnya Ellard juga mengapresiasi hal tersebut.
Namun entah apa yang ada di kepala lelaki itu sehingga Bella terpaksa harus menyimpan tangannya kembali. Ellard tidak menanggapi Bella, malah menghampiri Mark yang berdiri dibelakang Bella.
"Bisa-bisanya kau disini saat kekasih kecilmu sedang merengek minta pulang."
Mark meneguk ludahnya, telinganya memerah seketika ia menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga aku benar-benar menjadi pelupa akhir-akhir ini." Mark segera bergegas, " Bella maafkan aku sayang, ada sesuatu yang harus ku urus."
See? Ini yang katanya ingin lepas dari Yeri tadi? Mark malah terlihat panik persis seperti ayah kehilangan bayinya.
Lelaki berwajah imut itu benar-benar pergi meninggalkan Bella bersama Ellard. Kilatan dimata Ellard terlihat kejam dan tidak bersahabat.
"Kenapa kau membiarkan pria cebol itu memelukmu?!"
Bella mendelik, Ellard mulai ngawur dalam berbicara.
"Cih! bahkan kau sudah menghamili wanita lain." cibir Bella santai, cukup untuk membungkam Ellard.
"Dan kau menikahi-nya hari ini, catat itu!"
Perlu diketahui Minggu lalu Bella lah yang seharusnya menjadi isteri Ellard namun sesuatu diluar dugaan terjadi. Alura datang menghentikan disaat mereka hampir mengucapkan janji. Menentang mentah-mentah pernikahan itu karena ia sedang mengandung bayi Ellard, katanya.
Dengan sedikit rasa kesal Bella melepaskan wig dan melemparnya begitu saja,
"Tidak ada gunanya aku menggunakan ini, kalau kau tetap mengenaliku."
Ellard terkekeh, Bella dengan tempramen nya yang tinggi sangat menggemaskan dimatanya.
"Bahkan jika kau dimasukan kedalam peti sekalipun, aku masih akan mengenalimu."
Lelaki itu mendekat, dan Bella membiarkan saja "aku sudah mengenal semua yang ada dalam dirimu. Semuanya..." Ellard menyampirkan rambut Bella kebelakang telinganya "dari ujung rambut sampai ke ujung kuku-kukumu. Tidak ada yang terlewatkan."
Semakin dekat, wajah Ellard masuk ke perpotongan leher Bella. Matanya terpejam, bahkan Bella dapat merasakan Ellard menghirup dalam-dalam aroma parfum ditubuhnya, "aroma tubuhmu--"
"dan ini yang paling aku rindukan." Ellard berbisik tepat dibibir Bella, menghembuskan napasnya yang panas disana. Pandangannya yang menggoda naik turun antara mata dan bibir Bella yang merona.
"Aku ingin menciummu Bella."
Bella baru ingin membuka suara sedetik sebelum itu Ellard sudah membungkam bibir Bella dengan bibirnya yang panas.
Ellard tidak membiarkan Bella memprotesnya, selama ini juga tidak. Lelaki itu terlalu dominan, menolaknya sama dengan bunuh diri.
Bella menggeser tubuhnya membiarkan Ellard menekannya Kedinding.
"Kenapa kau tidak berusaha membatalkan pernikahanku hmmm?"
Mata Bella masih tertutup, pernapasannya pendek-pendek. Bibir Ellard terlalu dekat. Hingga dia harus mendorong dada Ellard, untuk sedikit celah,
"aku masih cukup waras untuk melakukan hal seperti itu."
Tarikan dibibir Ellard terlihat menyebalkan dimata Bella, membelai lembut rambutnya "Apa kau takut?"
"Sama sekali tidak!"
"Lalu?"
Bella tidak menjawab, dia lebih memilih mengalungkan tangannya keleher Ellard. Menarik tengkuknya dan mencium bibirnya lagi.
"Aku sudah tidak membutuhkan status. Selama cintamu tetap untukku, aku tidak masalah."
Ellard menyeringai. Bella memang wanitanya, satu-satunya wanita yang mampu menjungkirbalikkan dunia Ellard hanya dengan senyumnya yang manis.
"Kau benar. Cinta ku tidak untuk siapapun." Ellard mengecup tenguk Bella, menggigitnya hingga meninggalkan tanda "hanya kau Bella Nayaka. Hanya kau!" Bisiknya penuh penekanan. Lalu menyeret Bella ke dalam toilet.
"Tunggu!"
"Kenapa sayang?" Lelaki itu tidak menghentikan langkahnya. Sambil menciumi tengkuk Bella, Ellard terus mendorong Bella untuk masuk.
"Kau pikir apa yang akan kau lakukan, Ellard Wiliam?!"
"Sesuatu yang akan membuatmu menjadi milikku."
Bella menggeleng menghindari kecupan bibir Ellard dibibirnya "Tidak Ellard!" tolak Bella seraya mendorong dada Ellard karena ia butuh udara untuk bernapas. namun Ellard tetap lah ellard yang keras kepala, lelaki itu tetap mencondongkan tubuhnya memberi kecupan-kecupan ringan dileher sampai ketulang selangka Bella.
"Kenapa tidak?"
"Seseorang akan menemukan kita."
"Aku tidak takut!" balas Ellard tidak mau kalah. Demi Tuhan dia tidak peduli, bahkan jika Alura memergoki-nya sekalipun.
"Dan membiarkan ku mati ditangan penggemarmu? Oh ayo lah Ellard-jangan membuat banyak tanda dileherku!!"
Ellard terkekeh memberikan kecupan kuat untuk terakhir kalinya lalu menjauhkan tubuh dari Bella yang napasnya terngengah.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh kekasihku."
Bella berdecih, terdengar omong kosong ditelinganya. Ellard mengatakan tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya tapi dia sendiri meninggalkan Bella dihari pernikahan mereka. Dasar!
"Kau meragukan keseriusan ku Bella?"
"Kau sendiri yang membuatku meragukanmu."
Lelaki itu terdiam untuk sesaat. Menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu dengan lembut menarik Bella kedalam pelukan erat.
"Maafkan aku." Sesalnya mengusap sayang rambut Bella.
"Aku tidak tahu kejadiannya akan seperti ini."
Hingga punggung Bella perlahan mulai basah, disaat itulah dia tahu Ellard sedang menangis. Ellard juga merasakan kesulitan selama ini, Bella menghela napas lelah. Tangannya terangkat membalas pelukan Ellard, menepuk punggungnya untuk menenangkan.
"Tunggu sebentar saja, Bella. Aku akan menceraikan Alura tepat setelah anak itu lahir."
Bibir Bella terkunci rapat, pikiran nya pun kalut. Samasekali tidak menyangka kalau hubungan yang mereka jalin selama dua tahun ini harus melewati jalanan terjal.
"Ellard."
Lelaki itu menggenggam erat kedua bahu Bella, menatap sungguh-sungguh mata Bella yang sedang kebingungan "Kita harus terus berjuang demi hubungan ini, Bella."
Kemudian Ellard mencium lamat-lamat kening Bella. Menyampaikan kasih sayang yang ia simpan hanya untuk Bella melalui itu.
Bella menerimanya, matanya terpejam sesaat setelah setetes air mata jatuh dipipi.
Akankah semuanya berjalan seperti yang diinginkan Ellard? Bella sungguh tidak ingin memikirkan hal lain. Tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk hubungan mereka dimasa depan. Karena Bella juga sangat mencintai Ellard.
***
"Mau ku antar pulang?"
Jemari mereka saling bertaut, Bella hanya tersenyum sambil menundukkan kepala malu-malu.
"Aku akan naik taksi." Katanya yang Ellard angguki saja. "Oke. Telpon aku kalau sudah tiba."
Mereka berpisah setelahnya. Bella keluar meninggalkan rumah Ellard dengan tetap menggunakan penyamaran nya. Sementara Ellard masuk memeriksa kembali acara yang sempat ia tinggal.
***
"Aku marah padamu!"
Mark memijit pelipisnya pening. Mengencani wanita muda tidak pernah ada dalam kamus kehidupan Mark.
"Sayang-"
"Jangan pegang-pegang ih!!"
Kesal? Tentu saja. Mark malu diperhatikan banyak orang, yang entah mengatai-nya apa. Mark membasahi bibirnya, berpikir keras membujuk Yeri agar tidak mengadu dengan ayahnya.
"Yer, sudah ya marahnya. Cepat tua kamu marah-marah terus."
Oke Mark salah lagi kali ini, Yeri melototi Mark sampai-sampai bola matanya memerah nyaris keluar dari tempatnya.
"Maaf."
Yang mana pertengkaran itu disaksikan langsung oleh Bella yang sekarang terkikik geli. Wanita itu bersedekap dada mengejek Mark yang terlihat terus mengumpat dalam hati.
Keberuntungan tidak berpihak pada Mark. Dari kejauhan terlihat jelas Bella mengedikan bahu, sesaat setelah Mark memasang ekspresi tersiksa meminta pertolongan.
"Selamat tinggal babu." Mata Bella terdengar berbicara seperti itu, Mark meringis mengasihi dirinya sendiri kala Bella terlihat melangkah angkuh meninggalkannya yang terus diomeli Yeri.
"Dasar wanita kejam!" Mark menggerutu, yang mana disalah artikan oleh Yeri,
"Apa? Kau mengatai ku kejam?! Kau yang lebih kejam karena meninggalkan ku sendirian bak bocah tak bertuan."
"Sayang astaga, aku tidak berbicara padamu. Sudah ya--"
Mata Yeri terlihat berkaca. Mark meneguk ludahnya bingung. Tenggorokan nya juga tiba-tiba terasa kering, "jahat sekali kau bahkan berbicara dengan orang lain saat aku bersamamu."
Bunuh saja Mark dengan pedang Jaka Tingkir. Ia tidak kuat lagi untuk hidup. Persetan dengan harta warisan, kalau umpannya seperti ini. Bisa-bisa Mark mati duluan sebelum kaya.
"Terserah."
***
Bella mencicipi hot americano di cafe tak jauh dari rumahnya. Terduduk sendirian, sambil sesekali mengetikan sesuatu pada MacBook.
Produk kecantikan terbaru beberapa minggu lagi akan diluncurkan. Bella sedang menyiapkan bahan untuk ia presentasikan kepada ketua divisi besok lusa.
Sampai kira-kira sepuluh menit berkutat, Mark datang membawa beberapa coklat kesukaan Bella.
"ini. Biar tidak stress."
Mark memang pria yang manis, Bella hanya meliriknya sebentar kemudian lanjut dengan beberapa referensi,
"Thanks Mark."
"Hmm." Mark menggigit bibirnya sekilas tampak sedang memikirkan sesuatu, sebelum bertanya "jadi kau mengajakku bertemu hanya untuk menemanimu bekerja?"
Seperti angin lalu, pernyataan Mark menguap begitu saja, Bella tetap sibuk dengan MacBook-nya, jemarinya menari lincah tidak peduli Mark mencebik kesal karena diabaikan.
"Sebentar lagi Mark."
Kemudian Bella menambahkan titik diujung tulisannya lalu menutup MacBook-nya begitu saja,
"selesai."
"Wowww. Aku salah sudah bertanya."
Bella terkekeh, membuka bungkusan coklat batangan favoritnya. "Kau memang tidak pernah melupakan ini. Terimakasih ya." Lalu menggigit nya penuh minat, coklat memang ampuh menurunkan stress. Kunyahan demi kunyahan mampu membawa terbang setiap kegundahan yang sempat Bella pendam.
"Jadi bagaimana?" Wajahnya Mark majukan terlihat tengil dimata Bella,
"Bagaimana apanya?"
"Heyy tidak usah sok tidak mengerti. Pembicaraan kau bersama Ellard kemarin. Jadi apa keputusan nya?"
"Tidak ada." Jawab Bella pada akhirnya,
"Tidak mungkin."
Mark membenarkan letak duduknya, pandangannya lurus namun Bella menghindari nya.
"Dia meminta maaf padamu?" Tanya Mark lagi penasaran dan Bella mengangguk.
"Lalu?"
"Tidak ada lalu."
Bolehkah Mark kesal sekarang?
"oke jawab pertanyaan ku yang satu ini," bella mengangguk mendengarkan "sudah berapa lama kau mengenalku, Bella?"
Keryitan didahi Bella tampak bertambah, lalu dengan polosnya menjawab, "24 tahun--"
"24 tahun tapi sikapmu menunjukkan kita baru bertemu hari ini, yang benar saja?" Kesalnya melipat tangan diatas dada, Mark sudah menyandarkan punggung ke sandaran kursi
"Dia memutuskanmu?" Bella mengedikan bahu acuh sambil terus memasukan coklat kedalam mulutnya, mengunyah tenang sambil sesekali tersenyum menyebalkan.
"Kau benar-benar ingin mengerjai ku rupanya." Mark berdecak tiba-tiba menyeruput kopi Bella, menghabiskan isi nya dengan sekali tenggak, lalu menunjuk muka Bella menggunakan cangkir itu sebelum berteriak "Kalau begitu kau yang harus memutuskan dia!!"
Jelas saja kalau Mark marah atas sikap Bella, tapi Bella tidak mau peduli. Merangkum semua barang-barang nya ke dalam tas, lalu bergegas pergi.
"Thankyou coklatnya Mark," katanya mengecup pipi Mark sekilas, yang mana langsung dihapus terang-terangan oleh Mark, "dasar wanita gila!!"
***
"Alura sudah tidur?"
Waktu menunjukan pukul 23:00, Ellard baru saja menyelesaikan acara meeting bersama pihak Ceci magazine terkait kontrak dan pemotretan lanjutan mereka di Bali. Deril membersamai dengan setia, menyampaikan segala sesuatu yang Ellard inginkan. Untuk kemudian mendapat kesimpulan akhir dan tanda tangan kesepakatan.
Semua berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun.
"Sudah Tuan."
Ellard mendesah lega, malam ini adalah malam ketiga setelah pernikahannya bersama Alura.
Pulang saat Alura sudah tertidur lalu pergi lagi saat Alura belum bangun. Sekejam itu ia menghindari isterinya. Mau bagaimana lagi, ia hanya tidak ingin menyakiti Bella dengan menaruh perhatian pada wanita lain, meski itu istrinya sendiri.
Ellard mengendap masuk kekamar, pelan-pelan menarik engsel pintu dengan harapan Alura tidak terbangun.
"Baru pulang?"
"Astaga!"
Tubuhnya tersentak kebelakang, Alura belum tidur. Terlihat segar dengan matanya yang menggerling nakal.
"Kau semakin sibuk saja setelah menikah." rajuknya yang Ellard perhatikan ekspresi merengut itu dibuat agak berlebihan.
Tak mendapat reaksi apapun, Alura seakan gemas sendiri lalu menyingkap selimut putih yang menutupi tubuhnya dengan elegan, yang saat itulah Ellard mengetahui Alura sekarang sedang menggunakan lingerie dibalik cardigan tipis berwarna pink bunga-bunga.
Alura tampak seksi dengan lingerie hitam bertali spaghetti, serta jaring-jaring tipis yang bahkan tidak menutupi apapun kecuali putting payudara dan bagian bawahnya. Bibir alura yang merah terlihat sangat kontras dengan kulit wajahnya yang putih mulus.
Ellard bukanlah lelaki polos, tahu betul jika Alura sedang berniat menggoda dirinya dengan pakaian-pakaian itu.
"Jangan membuatku menunggu Ellard, kemarilah." Suara Alura dibuat mendesah membuka kedua tangannya dengan maksud Ellard segera memeluk tubuhnya.
"Aku belum mandi, Alura." Yang naasnya ditolak saat itu juga.
🐣🐣🐣
Air hangat mengguyur tubuh atletis Ellard. Membasahi rambut hingga kaki, otot-otot tubuhnya seolah kembali tersatukan saat ia renggangkan yang mana tulang-tulang itu serasa gemeretak namun melegakan.
Aroma Citrus menguar memenuhi kamar mandi terasa menyegarkan kala masuk ke indera penciuman.
Beberapa lilin aroma terapi tidak pernah Ellard lupakan, aromanya yang menenangkan mampu merelaksasi kan jiwa yang lelah.
Mata Ellard terpejam entah sejak kapan, menikmati saat-saat lelehan air membelai lembut keseluruhan tubuhnya. Terasa seperti sentuhan tangan-tangan manis sang bidadari, Ellard menikmati nya.
"Mmm."
Detik demi detik berjalan menyenangkan, sentuhan yang Ellard terima nyaris nyata terasa. Belaian lembut, turun dari dada ke perut, disambut girang Otot-otot sekitar sana tertarik begitu kencang ketika ia menghirup napas demi kelancaran siklus diparu-paru, desahan terang-terangan ia alunkan menjelaskan bagaimana ia menyukai ini.
"Kau suka?"
Ellard mengangguk tanpa dosa, detak jantungnya terdengar ugal-ugalan. Kepala Ellard semakin tak berisi, tubuhnya melayang tanpa kendali yang memadai.
Aliran darah ikut ambil bagian, kini bergerak lebih cepat dan panas, nyaris meledakkan jantung dan kepala Ellard secara bersamaan.
Kecupan-kecupan lembut membuai Ellard yang lupa diri. Hingga tangan lembut itu perlahan menyentuh pusat gairahnya.
Alura menyeringai senang, kepunyaan Ellard sudah berdiri dibawah sentuhannya. Mengusapnya lembut agar Ellard tidak terlalu terkejut.
Benar saja mata Ellard tetap terpejam dengan geraman seksi terdengar jantan.
Bahkan saat Alura memutar tubuh Ellard, lelaki itu menurut tanpa protes. Membiarkan pusat tubuhnya dieksploitasi lebih jauh. Sampai terasa kecupan lembut mendarat disana. Terasa hangat dan basah secara bersamaan. Ellard jadi penasaran bagaimana jadinya jika miliknya masuk kedalam mulut mungil itu, mengurut nikmat miliknya hingga orgasme.
"Ahh."
Yang ternyata dikabulkan cuma-cuma. Alura memasukan kejantanan Ellard kemulutnya, mengulumnya lembut hingga Ellard mendesah keras-keras.
Ellard menyerah, menarik tubuh ramping Alura berdiri melepaskan kejantanannya yang nyaris mengeluarkan cairan kenikmatan. Tatapan Ellard tahu-tahu menjadi sayu, berhadapan dengan Alura yang kini tersenyum menang karena telah berhasil membangunkan singa tidur dalam diri suaminya.
"Kau benar-benar ingin menggodaku rupanya."
Ellard sudah dibutakan oleh gairah, geraman tertahan terdengar sesaat sebelum ia tekan tubuh Alura Kedinding. Akal sehat yang selama ini Ellard pertahanan mati-matian ia kesampingkan demi kenikmatan dunia yang Alura tawarkan.
Lumatan-lumatan kuat ia lancarkan membuat Alura menggeliat, hingga saat nya Ellard membalikan tubuh Alura menghadap dinding tanpa perhitungan, kening Alura terpentok disana entah bagaimana rasanya yang jelas Ellard masih dapat melihat senyum Alura yang seperti lebih lebar dari sebelumnya.
"Lebarkan kakimu, Alura."
"Ellard ahh-"
Ellard menyeringai, menekan kuat-kuat dirinya didalam Alura,
"Ini yang kau mau kan?"
Satu, dua, tiga dorongan kuat meluluhlantakkan perasaan Alura. Tubuhnya terhentak tidak Karun sampai-sampai tangannya meraba mencari pegangan untuk bisa bertahan dibawah kuasa Ellard yang bahkan tak memberinya kesempatan untuk bernapas.
"Ellard pelan ku mohon--"
Waktu berjalan dengan cepat, semua terjadi begitu saja. Pergumulan panas mereka berakhir diatas ranjang.
Baik Ellard maupun Alura, napas masih terengah tubuh pun masih menyatu. Baru saja Ellard menyelesaikan orgasmenya yang luar biasa, mendekap erat tubuh Alura yang belum juga sanggup ia kurangi intensitasnya. Getaran didalam sana masih jelas terasa, sesekali masih Ellard gerakan kejantanannya yang terus saja mengeluarkan cairan kenikmatan.
"Jangan tinggalkan aku terus." Ujar Alura memulai pembicaraan.
Ellard menarik lepas kejantanannya yang sudah puas memasuki Alura, kemudian membaringkan diri disebelah Alura yang kini memeluk mesra tubuhnya.
"Aku harus bekerja Alura, menemanimu seharian tidak membuatku mendapat uang."
Setelahnya Ellard tidak tahu lagi Alura membicarakan apa. Lelaki itu menatap langit-langit, membiarkan pikirannya menjelajah entah kemana. Disaat seperti ini malah nama Bella terlintas dalam benaknya.
Bella wanita baik-baik, tega-teganya Ellard menghancurkan ekspektasi Bella terhadap dirinya dengan menikahi alura. Ellard tahu-tahu mendesah kasar. Ia terlalu bodoh untuk membuat wanitanya bahagia.
🐣🐣🐣
Sampai kini dalam perjalanan, Ellard masih saja merutuki kebodohannya yang dengan gampangnya tergoda rayuan Alura hingga melakukan percintaan panas dikamar mandi.
Ellard memijit pangkal hidungnya hingga memerah, ia menghianati Bella dalam keadaan sadar.
Walau sebenarnya dia sudah menghianati wanita itu sejak lama dan berakhir menikahi alura yang hamil. Tapi sungguh ceritanya berbeda, karena saat itu Ellard mabuk. Sementara tadi malam ia lakukan atas dasar suka sama suka.
"Kenapa?"
Sampai-sampai Ellard lupa kalau dimobil ini ada Deril yang pasti akan bertanya.
"Tidak apa-apa."
"Baru menikah sudah kusut saja." Lelaki itu memberi komentar sambil terus sibuk dengan ponsel pintarnya.
"Oh iya. Nanti malam ada produser yang mau bertemu dengan mu. Membicarakan yang kataku semalam."
"Kau tidak mungkin menyetujui kontrak reality show yang akan menayangkan kehidupan pernikahanku kan?" Tanya Ellard namun ketika melihat cengiran jahil Deril, Ellard jadi naik darah "Jangan gila Deril!"
Ellard tentu terkejut, karena Deril yang mengambil keputusan sepihak. Ellard tidak mau urusan pribadinya terpublikasikan, dia bukan artis-artis sensasional yang suka gimick.
"Honornya lumayan. Tidak usah munafik, uang adalah segalanya. Lagipula Alura juga sudah setuju. Jadi berhentilah bersikap berlebihan, kau tinggal tanda tangan kontrak, terus syuting paling gimmick-gimmick dikit, sudah itu kelar." Segampang itu Deril mengatakannya. Ellard kesal sampai tidak bisa berkata-kata.
"Terserah."
"Eyss pria bodoh ini." Cibir Deril masa bodo.
Kemudian tidak ada lagi yang berbicara setelahnya, Deril lanjut dengan ponselnya sementara Ellard sibuk dengan pikiran nya tidak tahu mengarah kemana.
"Bahri berhenti!" Perintah Ellard tiba-tiba padahal lampu jalanan baru saja berubah hijau, yang artinya mereka tidak boleh berhenti disana karena akan menganggu pengguna jalan lainnya.
"turun."
Ellard berbicara datar, yang Deril tahu lelaki itu sedang mengusir dirinya.
"Hah? Jangan bercanda Ellard. Ini lampu merah."
"Turun Deril."
Suara klakson mobil berbunyi keras sampai Deril sedikit berjengkit kaget.
"JALAN WOY, PANAS INI!!!"
Ellard mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum jahat.
"Fine!"
Yang Deril banting kuat-kuat pintu mobil itu, berjalan kepinggir sambil menutupi wajahnya karena malu.
"Artis jahanam!"
🐣🐣🐣
"Bagaimana?"
Bella baru saja keluar dari ruang si boss, wajahnya masih tegang bahkan telapak tangan pun masih dingin.
"Proposal ku diterima, tanpa revisi." Pekik Bella tidak sadar mencuri perhatian beberapa orang yang lewat, "peluncuran produk nya dipercepat. Kata pak Fahri aku tinggal mengurus surat izin edar sedangan untuk BPOM-nya dia yang urus."
"Wahhh selamat Bella."
Satu persatu rekan kerjanya menyalami Bella.
"Terimakasih."
Nana sang sahabat ikut senang mendengarnya, memeluk Bella untuk memberi selamat. "Akhirnya ya Bella, usaha kerasmu berbuah manis."
"Iya Na. Makasih ya Na sudah support aku selama ini. Ya sudah ya aku harus pergi. Banyak hal yang harus aku urus. Waktunya mulai mepet." Kata Bella kemudian setengah berlari padahal napas nya saja masih terengah, "awas jatuh bell."
Nana hanya geleng-geleng melihat kerja keras Bella. Wanita hebat yang cantik namun sayang kurang beruntung dalam urusan percintaan.
Salah besar Ellard meninggalkan Bella Hanya untuk seorang artis baru bernama Alura Rinjani, pikir Nana.
🐣🐣🐣
Bella baru saja tiba dirumah saat ponselnya berdering yang ternyata dari Ellard membuat kening Bella berkerut. Sambil terus lanjut melepaskan kaus kaki, ia menerima telpon Ellard,
"Hmm?"
"Cueknya kekasihku." Goda Ellard diujung sana,
"Ada apa?"
Ini kali pertama Ellard menghubungi Bella semenjak menikah.
"Lihat kebawah."
Kerutan di kening Bella bertambah, namun tetap menurut. Membuka tirai jendela.
"Astaga Ellard, apa yang kau lakukan disana?" Pekik Bella panik saat tahu Ellard sedang melambai padanya seraya bersandar pada badan mobil.
Tidak tahu kah dia seberapa bahayanya yang ia lakukan saat ini?
Kalau ayah Bella tahu bisa babak belur wajah Ellard yang tampan itu.
"Kok nanya nya begitu? Turun sayang, aku rindu."
"Ini sudah malam Ellard, lebih baik kau pulang." Elak Bella mencoba bernegosiasi,
"Kau turun atau aku yang naik?!"
Helaan napas Bella terdengar lelah. Ellard dengan segala ancaman nya mau tak mau membuat Bella menurut. Perempuan itu meraih ikat rambutnya, merangkum rambutnya asal lalu turun menemui Ellard.
"Ada apa?"
Ellard tersenyum menarik lengan Bella untuk memeluk tubuhnya yang ia rindukan.
"Berapa lama kita tidak bertemu sampai aku sudah semerindu ini padamu, Bella?" Tanya Ellard sambil mengelus lembut punggung Bella.
"Aku tidak tahu. Tidak sempat menghitung."
"Jawab yang benar. " Ellard menggerutu melepaskan pelukannya ganti memegang bahu Bella. Dengan begitu Ellard dapat dengan jelas melihat wajah bella yang cantik meski penerangan minim.
"baru tujuh hari."
"Tujuh hari tapi serasa tujuh tahun bagiku."
Bualan manis itu membuat Bella memutar bola matanya malas
"Jangan bilang kau tidak merindukanku, Bella?" Tanya Ellard berpura-pura merajuk "Jadi rinduku benar-benar hanya bertepuk sebelah tangan?"
Astaga. Ellard pikir berapa usianya sekarang, merengut seperti itu membuat Bella gemas lalu menangkup pipi Ellard kemudian menjinjitkan kaki untuk bisa mengecup bibir tebal Ellard yang langsung tersenyum menang.
"Kau puas?"
Namun bukan Ellard namanya jika puas hanya dengan kecupan. Ia menarik pinggang Bella merapat padanya. Menyatukan kembali bibir mereka dengan lumatan dalam.
Tangan Bella mengalung dileher Ellard, ikut andil dalam ciuman manis penuh perasaan.
Hingga udara terasa semakin menipis tautan itu terlepas dengan sendirinya menyisakan sisa saliva disudut bibir Bella yang langsung Ellard hapus dengan ibu jarinya.
"Ikut aku yuk Bell."
Napas Bella masih terengah ketika Ellard menariknya memasuki mobil.
"Kemana?"
"Rahasia."
Hingga mobil melaju dengan cepat, lagi-lagi Bella tidak bisa menolak keinginan Ellard.
🐣🐣🐣