"Mencintai tidak hanya menerima kelebihannya tetapi juga menerima segala kekurangannya."
Anggun Larasati dan Gio Fernandez akhirnya memutuskan bertunangan malam ini setelah hampir 8 tahun berpacaran. Malam ini, adalah malam yang sangat ditunggu oleh Laras, setelah sekian lama menanti sebuah kepastian.
Malam ini, Gio membawa serta keluarga besarnya untuk datang melamar Laras pada kakaknya, Alma Syafitri yang sudah lebih dulu menikah dengan Evan Albern 3 tahun lalu.
Tanggal pernikahan pun akhirnya disepakati. Dua bulan ke depan, mereka akan melangsungkan pernikahan di sebuah gedung mewah di Jakarta. Alma pun turut berbahagia, karena ia tahu, malam ini adalah malam yang sangat ditunggu oleh adik kesayangannya itu.
"Kamu bahagia, Dek?" tanya Alma saat keduanya duduk di sebuah meja, sesaat setelah Gio menyematkan cincin mewah bertabur berlian dijari Laras.
"Iya, Kak, akhirnya ia melamarku," jawab Laras tersenyum bahagia.
Alma pun mengenggam tangan sang adik dengan erat. Ia sangat bahagia. Sebentar lagi, tugasnya menjaga Laras akan segera berpindah ke Gio, calon suaminya.
Bukan hanya Alma, teman dan sahabat Laras yang menjadi saksi perjalanan cinta Laras dan Gio pun sangat berbahagia, akhirnya sebentar lagi mereka akan menikah.
Sebuah cincin bertabur berlian kini melingkar di jari manis kiri Laras. Semua bahagia, tak luput sang kakak ipar Evan. Evan yang sudah menganggap Laras seperti adik kandungnya sendiri terlihat sumringah malam itu.
"Selamat ya, Dek, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri," ucap Evan pada adik manjanya itu.
"Makasih, Mas," jawab Laras tertawa.
Laras dan Gio akhirnya bersenda gurau di taman belakang rumah. Terlihat mereka sangat mesra dan berbahagia. Alma tak ingin menganggu, ia hanya melihatnya dari kejauhan. Evan pun menemani keluarga Gio berbincang di ruang tamu. Alma pun akhirnya bergabung. Malam itu jadi malam yang bahagia buat keluarga besar mereka.
****
Pagi hari, Laras bangun dengan senyum merekah. Tidak seperti biasanya, kali ini ia menyiapkan semua sarapan tanpa bantuan Bi Asih, asisten rumah tangga yang sudah dianggap Ibu mereka sendiri.
"Wah, tumben nih!" celetuk Evan meledek Laras.
"Mas, jangan ngeledek ah!" ucap Laras tersipu malu.
Pagi itu kami sarapan bersama. Evan pun memuji masakan adik iparnya. Begitupun dengan sang kakak, Alma yang bahagia akhirnya sang adik mau belajar memasak.
"Wah, ternyata masakanmu enak juga ya. Enggak salah deh Gio memilihmu jadi istri," puji Evan, membuat Alma tertawa.
"Masakan Kak Alma juga enak kok, Mas," puji balik Laras.
Semua pun tertawa, sambil melanjutkan sarapannya. Karena dikejar waktu, Alma akhirnya berangkat lebih awal ke kantor. Sedangkan Evan, menunggu Laras untuk pergi bareng.
Alma memang tidak pernah mempermasalahkan kedekatan Evan dan Laras sejak dulu. Ia percaya, jika Laras maupun Evan tahu batasan kedekatan mereka.
Pagi itu, tak seperti biasanya Laras tampil berbeda. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang berbahagia. Setelan blazer dengan rok yang lebih mini, membuat Evan melirik kemolekan tubuh adik iparnya itu.
Tampil cantik dengan make-up yang nyaris sempurna membuat Evan jadi mempunyai pikiran-pikiran nakal. Saat ini, Laras tampak lebih cantik, sexy dan menggoda dibandingkan Alma, istrinya sendiri. Pagi itu, Evan dibuat terkesima dengan penampilan Laras yang tidak biasa.
"Mas, ayo kita berangkat! Kok bengong sih, nanti kalau terlambat gimana?" ujar Laras.
"Mas!" Laras pun memukul manja pipi kakak iparnya hingga membuyarkan lamunan Evan.
"E-eh, maaf, Dek, sampai pangling Mas lihat penampilan kamu pagi ini. Kamu cantik sekali," puji Evan membuat wajah Laras memerah karena menahan malu.
Laras yang takut terlambat, akhirnya segera menarik tangan Evan agar segera masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Evan yang masih tak bisa lepas dari pikiran kotornya, menjadi tak fokus.
Laras yang tumbuh menjadi gadis tomboy, yang terkesan cuek memang tak peduli dengan perubahan sikap kakak iparnya. Ia tetap bermanja seperti biasa.
Setelah sejam perjalanan, mobil Evan sampai di depan kantor Laras. Evan pun langsung memaju kendaraannya saat Laras turun dari mobilnya. Dalam perjalanan, Evan masih membayangkan bagaimana tiap lekuk tubuh mulus sang adik ipar hingga ia mulai berfantasi dengan pikiran-pikirannya sendiri.
"Astagfirullah! Ingat Evan, dia adik iparmu!" gumam Evan.
Akhirnya, Evan pun sampai di parkiran kantornya. Ia pun memutuskan segera menuju ruang kerjanya agar dapat melupakan fantasi anehnya itu dengan menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
*****
Menjelang pulang kantor, Alma menghubungi suaminya untuk menjemput sang adik, karena malam ini ia harus lembur untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan untuk presentasi esok pagi.
[Mas, kamu bisa kan jemput Laras? Aku lembur, mungkin agak malam pulangnya. Gimana?]
[Ok, nanti biar aku yang jemput ]
[Makasih ya, Sayang, take care]
Alma memang sangat mempercayai Evan. Selama ini tak ada yang patut dicurigai dari suaminya. Evan pun tak pernah bersikap aneh, apalagi mempunyai hubungan terlarang dengan wanita lain. Meski sebagai istri, terkadang ia juga tak bersikap adil dan kurang dapat melayani suaminya karena kesibukannya sebagai wanita karir.
Alma memang seorang wanita mandiri dan pekerja keras. Terlebih sejak meninggalnya orang tua mereka, ia harus banting tulang untuk bertahan hidup dan menyekolahkan Laras hingga menjadi sarjana. Hingga akhirnya, impiannya melihat Laras menyelesaikan kuliahnya terwujud dan sebentar lagi ia akan menikah.
Evan pun mengirimkan pesan agar adik iparnya itu menunggu di depan kantornya.
[Mas otw jemput ya]
****
Di depan parkiran, Laras sudah menunggu kedatangan Evan yang sedikit telat. Maklum, jalanan ibukota memang cukup padat. Laras pun segera masuk dengan wajah sedikit kesal.
"Mas, kok lama banget sih?" gerutu Laras.
"Sorry, Dek, macet he he he ...." ujar Evan tertawa.
Evan pun segera memacu kendaraannya menuju rumah, ia pun sudah lelah dengan kemacetan jalanan ibukota sore itu. Dalam perjalanan, Evan mulai mengajak Laras bicara. Entah apa yang ada dipikirannya, hingga mempertanyakan sebuah pertanyaan konyol.
"Dek, kamu sudah yakin mau menikah dengan Gio? Usia kamu juga baru 24 tahun. Enggak pengen merintis karir dulu?" tutur Evan hati-hati.
"Gio tak masalah kok kalau setelah menikah, aku tetap berkarir, Mas," jawab Laras tersenyum.
"Apa kamu yakin kalau Gio pilihan yang tepat?" tanya Evan lagi.
"Yakinlah, Mas! Kan Mas tahu, aku dan Gio sudah lama pacaran," kata Laras tertawa.
Evan hanya terdiam. Ia tak dapat lagi mencegah agar adik iparnya itu menunda atau membatalkan pernikahannya dengan Gio.
Ah, entah apa yang sedang dipikirkan Evan, tetapi sejak tadi pagi, ia merasa desiran yang berbeda saat bersama Laras. Apakah ini cinta? Ataukah hanya nafsu sesaat karena Evan memang tak cukup dipuaskan hasratnya oleh Alma yang semakin sibuk setelah naik jabatan? Ah,entahlah!
****
Laras pun melepaskan pakaiannya dan menuju kamar mandi. Evan yang semakin penasaran, mulai menyelinap masuk ke kamar adik iparnya itu dan menutup pintu kamar agar asisten rumah tangganya tak melihat.
Evan pun kini duduk di tepi kasur dan dari sana ia dapat melihat lekuk tubuh polos Laras karena pintu kamar mandinya yang bening dan transparan.
Laras yang asyik membersihkan badannya dan melakukan gerakan yang aduhai, membuat hasrat Evan semakin bergelora. Ia pun tak dapat lagi menahan hasratnya hingga akhirnya ....
Bersambung ....
Hasrat Evan tak dapat lagi bertahan. Ia pun memanggil Laras. Laras yang kaget dengan kedatangan Evan ke dalam kamarnya segera memakai baju handuknya. Laras tak sadar kalau sejak tadi Evan sudah asyik memperhatikannya mandi.
"Mas, kok di sini, ada apa?" Laras kaget dengan keberadaan kakak iparnya di dalam kamar dengan keadaan pintu yang tertutup.
Evan membisu, ia hanya menatap Laras dengan netra yang penuh hasrat. Jiwanya bergelora. Laras yang polos langsung menepuk manja pipi kakak iparnya.
"Mas, Mas, kenapa?" tanya Laras yang heran melihat gelagat kakak iparnya itu.
"E-eh, enggak, Dek, Mas lagi pengen ngobrol aja. Kakakmu lembur malam ini, Mas kesepian ...." Evan berdiri mengelilingi Laras sambil memandang tajam ke seluruh lekuk tubuh mulusnya.
"Oh, kirain ada apa. Laras ganti baju dulu ya, Mas tunggu di luar, nanti ditemani sampai kakak pulang," tutur Laras.
"Ok, Dek," jawab Evan tersenyum. Ia pun keluar kamar sang adik ipar.
Evan mengalah. Ia tak mungkin langsung melakukan serangan itu terang-terangan. Pikirnya, ia harus bermain cantik. Laras yang polos, mudah untuk ditaklukkan.
Sedangkan Alma sejak naik jabatan ia menjadi wanita karir yang jauh lebih sibuk. Ia pun istri yang sangat berhati-hati dan takut berpikiran buruk, terlebih pada suaminya sendiri. Dua kakak beradik itu sangat mudah mempercayai Evan.
Laras pun keluar dari kamarnya, ia memakai hot pants dan kaos tank top kesukaannya. Evan semakin berfantasi hingga ingin bercinta dengan adik iparnya sendiri.
"Mas, aku buatin minuman dulu ya," kata Laras yang beranjak menuju dapur.
"Ok, jangan terlalu manis, Dek," jawab Evan.
Beberapa menit kemudian Laras datang dengan dua gelas kopi hangat dan pisang goreng keju, cemilan yang sudah dibuat Bi Asih.
Evan yang takut dicurigai Bi Asih mengajak Aqilla bersantai di atas balkon. Di sini lebih nyaman dan aman, begitulah pikir Evan yang otaknya sudah dipenuhi pikiran kotornya.
"Dek, gimana Gio?" selidik Evan.
"Oh, Gio sedang sibuk, Mas. Maklum dia kejar setoran untuk biaya pernikahan kami," ujar Laraa tersenyum tipis.
"Oh, kamu sudah mantap?" ujar Evan yang mencoba mempengaruhi adik iparnya itu.
"Mas, kok nanya gitu sih? Kami kan sudah lama berpacaran, jadi aku sudah mantap dan mengenal betul bagaimana dia, begitupun sebaliknya." Laras mulai jengah dengan pertanyaan Evan itu.
Evan mencoba tersenyum meski hatinya kesal.
Evan pun bangkit. Ia mencoba merangkul Laras dari belakang yang sedang berdiri menatap langit bertabur bintang malam itu dari tepian balkon.
Evan mendekatkan wajahnya, hingga dapat melihat jelas mulusnya bagian dada Laras. Laras yang terbiasa manja, tak menganggap itu sesuatu yang aneh. Hanya rangkulan seorang kakak.
"Dek, lihat pemandangan di sana? Gimana kalau nanti kita pergi berdua ke sana?" ajak Evan menunjuk sebuah gedung pencakar langit.
Laras mulai heran, tak biasanya kakak iparnya itu mengajaknya pergi berdua.
"Itu hotel kan, Mas? Mas mau ngapain ngajak aku ke sana?" tanya Laras heran.
"E-eh, kita nyantai di atas sana, ada cafe dan makanannya enak-enak, Dek. Gimana?" ujar Evan beralasan.
"Kak Alma ikut?" tanya balik Laras.
"Ah, kakakmu itu sibuk. Mana punya waktu dia pergi sama kita, Dek," gerutu Evan.
"Kak Alma memangnya enggak akan marah, Mas?" tutur Laras.
"Enggaklah, Mas kan pergi sama adiknya sendiri, dia gak akan marah," jawab Evan tersenyum. Ia berharap, kali ini Laras mau memenuhi ajakannya.
Laras yang polos, percaya saja dengan kata Evan. Ia pun menyetujui ajakan Evan. Padahal, Evan sudah mempunyai rencana untuk menjerat Laras sebelum ia menikah dengan Gio. Paling tidak, ia akan menjadi lelaki pertama yang menjamah tubuhnya, bukan Gio, lelaki yang sudah memacarinya sangat lama itu.
Laras pun berjalan mengelilingi balkon dengan pemandangannya yang indah dengan gemerlap bintang. Tanpa sadar, ia terpleset dan nyaris jatuh. Evan sigap menangkap tubuh Laras dan memanfaatkan situasi. Ia semakin mendekatkan wajahnya dan mencoba mencium bibir manis Laras yang menggoda.
"Kamu cantik sekali malam ini, Dek!" puji Evan yang kini wajahnya sudah sangat dekat dengan Laras.
Saat Evan hendak mencium Laras, ia dikagetkan dengan kedatangan Alma yang tiba-tiba ke atas balkon.
"Hei, kalian di sini ternyata," teriak Alma membuat Laras dan Evan kaget.
"Kak, aku nyaris jatuh tadi, untung ada Mas Evan yang sigap narik aku," ujar Laras terbata. Ia tidak mau kakaknya salah paham melihat Evan memeluk erat.
"Hati-hati dong, Dek," kata Alma yang terlihat khawatir.
"Aku ke kamar dulu ya." pamit Laras dengan wajah tak enak hati.
Laras pun beranjak dari balkon. Wajah Evan pun memerah. Ia takut kalau Alma menaruh curiga saat melihatnya dan Laras sangat dekat seperti tadi.
Bersyukur, dugaannya salah. Alma justru berterima kasih sudah menolong Laras, adik kesayangannya itu. Jika tidak, adik kesayangannya itu bisa jatuh ke bawah.
****
Alma pun kembali ke kamarnya, untuk membersihkan badan. Evan masih termenung dengan wajah sedikit kesal karena gagal mencium bibir merah merona sang adik ipar.
"Sial! Gagal aku malam ini," gerutu Evan.
Setelah selesai mandi, Evan dan Alma makan malam bersama. Laras memutuskan makan malam di kamarnya, sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan. Itu alasannya pada sang kakak. Sayang, Evan tak percaya. Ia yakin, Laras mulai menghindarinya.
"Aku pasti bisa mencicipi tubuhmu, Laras. Tidak malam ini, akan ada malam-malam selanjutnya," gumam Evan.
Alma yang sudah lelah seharian dengan pekerjaannya, memutuskan langsung beristirahat, ia menolak melayani Evan. Evan yang kesal pun memutuskan keluar. Ia menonton TV, sambil mencari kesempatan jika Laras membuka pintu.
Bi Asih yang masih menyelesaikan pekerjaannya pun disuruhnya beristirahat. Ia tak ingin rencananya gagal hanya karena kepergok ART yang sudah dianggap keluarga itu.
Semakin larut, mata Evan tak juga terpejam, ia masih asyik menonton TV hingga sekitar pukul 01.30 Laraa keluar dan kaget melihat kakak iparnya itu masih menonton TV di ruang keluarga.
"Mas, belum tidur?" tanya Laras yang kaget melihat Evan masih menonton TV.
"Belum bisa, Dek. Kamu mau ngapain?" tanya Evan berbasa-basi.
"Mau ambil minum, Mas," jawab Laras datar.
Laras pun menuju kulkas dan mengambil sebuah botol dan saat hendak menuju kamarnya, Evan sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Mas, ada apa?" ujar Laras panik.
Evan yang sudah kepalang berhasrat dan ditolak Alma akhirnya gelap mata. Ia menarik tangan Laras dan mengunci pintu dari dalam.
"Mas, mau ngapain, kok Mas masuk ke kamar dan ...." kata Laras setengah berteriak.
"Ssstt, diam, Dek! Nanti kakakmu mendengar dan terbangun," ucap Evan yang menutup mulut adik iparnya itu.
"Mas, mau apa?" pekik Laras.
Evan pun mendekat. Ia mendorong tubuh Laras ketembok dan ia mulai berusaha mencumbu adik iparnya itu. Laras pun berusaha memberontak. Sayang, kekuatannya kalah melawan lelaki tubuh besar itu.
"Mas, jangan ...." lirih Laras.
Laras masih mencoba bertahan, mengelak keinginan Evan yang terus berusaha mencium bibirnya. Akhirnya, kekuatannya bobol. Evan berhasil memeluk tubuh gadis mungil itu dan mencium bibirnya yang kemerahan dengan sangat ganas. Laras pun kini tak lagi bisa melawan. Ia pun tak mampu lagi mengelak saat nafsunya pun mulai bergejolak karena cumbuan yang diberikan Evan.
"Nikmati saja, Dek, malam ini Mas akan berikan kenikmatan dan kepuasan yang belum pernah kamu dapatkan dari Gio," tutur Evan.
"Tapi, Mas ...." lirih Laras yang semakin tak bisa mengontrol dirinya.
Evan tak peduli, ia semakin ganas mencumbu Laras. Laras pun mulai tak perduli siapa lelaki yang ada dihadapannya itu. Setelah tak mampu menahan, Evan pun menarik tangan Laras dan membiarkan tubuh mungil dan mulusnya itu terjamah Evan di ranjangnya.
Hingga akhirnya, satu per satu, pakaian mereka pun terlepas dan Laras terbuai dalam gelora asmara terlarangnya bersama Evan.
"Mas ...." lirih Laras sambil terisak.
"Laras, Mas, sangat puas ...." ujar Evan mencium kening Laras.
Mereka pun menikmati malam itu berdua, bercinta di saat Alma tertidur pulas di kamarnya.
Bersambung ....
Akhirnya pergulatan pun berakhir. Laras hanya bisa menangis menyesali semua perbuatan bejatnya dengan Evan. Berbalut selimut berwarna pink, Laras menutupi tubuh polosnya yang kini tanpa sehelai benang pun. Menyesal pun tiada berguna, keperawanan yang selama ini telah dijaga terenggut oleh kakak iparnya sendiri. Sosok lelaki yang sudah dianggapnya saudara kandungnya, sama seperti Alma. Bukan Gio, lelaki yang sangat dicintai Laras.
"Bagaimana jika Kak Alma tahu? Bagaimana juga seandainya Gio mengetahui hal ini? Akankah ia membatalkan pernikahan kami? Tidak! Aku tidak ingin hubunganku dengan Gio berakhir dengan cara seperti ini. Impian menjadi istri Gio harus berakhir karena kegilaan Mas Evan, tidaaaakkk ...." rintih Laras.
Laras pun mengusir Evan dari kamar. Laras tak ingin ada siapapun yang mengetahui perbuatan bejat mereka.
Bagaimanapun, ia sangat menyayangi Kak Alma yang sudah banyak berkorban untuknya sejak orang tua kami meninggal.
"Ah! Kenapa aku terlalu bodoh, terjebak dalam dosa ini. Ampuni aku, Tuhan!" pekik Laras yang merasa sangat bersalah.
Sebelum Evan keluar kamar, ia berkata, akan bertanggung jawab dengan semua perbuatannya. Ia berjanji hal ini tidak akan terulang lagi.
"Kata maafmu tak dapat mengembalikan semuanya seperti dulu. Keperawananku sudah ternodai olehmu, Mas. Aku benci kamu, Mas Evan. Kamu sudah menghancurkan segalanya," lirih Laras terisak.
Laras pun mengunci pintu kamar, membasuh tubuhnya dengan sabun. Jijik jika mengingat tentang kejadian tadi. Bagaimana mungkin? Ah, shit! Laras pun mengumpat dirinya sendiri. Laras melakukan salat taubat, memohon ampun pada Allah, hanya bisa menangis dalam setiap sujudnya.
Tidak terasa, azan subuh pun berkumandang. Setelah menunaikan salat, Laras bergegas mandi dan bersiap berangkat ke kantor lebih awal, sebelum Mas Evan dan Kak Alma keluar dari kamarnya.
Saat menuju pintu keluar, tiba-tiba ... Ah, kupikir, Kak Alma, ternyata Bi Asih yang menanyakan kepergianku yang tak biasa itu.
"Neng, kok awal berangkatnya?" tanya Bi Asih yang bingung melihat Laras berjalan tergopoh-gopoh.
"E-eh, Iya, Bi, Laras ada meeting awal pagi ini, takut terlambat. Tolong kasih tahu Kak Alma nanti ya, takutnya dia cari." Laras bergegas keluar menuju taksi online yang sudah menunggu di pintu gerbang rumahnya.
****
Sebelum menuju kantor, Laras memutuskan mampir ke makam kedua orang tuanya. Selain karena rindu, ia ngin bersimpuh dan mengadukan semua beban hatinya. Hanya ini yang biasa dia lakukan saat sedang rindu atau ada masalah. Paling tidak, bisa sedikit membuat hatinya tenang. Tak lama Laras di sana, berkejar dengan waktu, ia pergi menuju kantor dengan taksi yang masih menunggunya sejak tadi.
Sesampainya di kantor, ia melihat beberapa teman kantornya seperti aneh melihat kedatangan Laras yang tak biasa. Laras mengira mereka aneh kenapa ia datang sangat awal. Sayangnya, kecurigaan Laras salah. Ada gosip yang sungguh membuatnya syok dan tak percaya.
"Laras, aku mau bicara sama kamu sekarang!" Anis sahabatku di kantor langsung menarik masuk ke ruangannya.
"Ada apa sih, Nis?" tanya Laras heran.
"Ada berita soal ...." Anis terlihat bingung mengatakannya, seperti ada yang ditutupi.
"Ada apa sih? Aku harus mengecek file untuk meeting nanti, keburu tunanganmu datang, bisa dimarahi aku," ujar Laras kesal karena Anis tak juga bicara.
"Ini lebih penting dari apapun, Laras!" pekik Anis.
Tiba-tiba Laras merasa ada sesuatu yang tidak enak. Ada apakah? Masih penuh tanda tanya, tiba-tiba Anis memperlihatkan sebuah video. Laras syok, nyaris pingsan. Tak percaya jika semua adalah nyata. Laras sempat berpikir semua ini adalah rekayasa. Bagaimana mungkin? Enggak!
"Ini rekayasa kan, Nis? Kamu dapat ini dari mana?" tanya Laras yang sudah berurai air mata.
Gio memang cukup dikenal, sedikit saja ada berita tak sedap, semua cepat menyebar. Tak terkecuali, soal video ini. Video pengakuan seorang gadis bernama Catherine yang mengaku telah hamil tiga bulan karena ulah Gio, calon suaminya.
"Nis, ini enggak mungkin. Wanita ini pasti hanya memfitnah Gio! Aku udah delapan tahun dan kami enggak pernah sekali pun melakukan hubungan ini," tutur Laras yang masih tak percaya.
"Tapi ... tidak mungkin wanita ini sekadar mengaku untuk memfitnah Gio? Ini juga membuka aibnya, Laras," ujar Anis yang mencoba menalar berita yang ada secara logika.
"Apa kamu masih ada kontak dengan Gio?" tanya Anis.
"Kami masih baik-baik aja, Nis dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari sikapnya," jawab Laras.
"Kapan terakhir kalian berkomunikasi?" selidik Anis yang menaruh curiga pada Gio.
"Beberapa hari lalu dan dia bilang lagi sibuk, untuk mengejar setoran untuk persiapan pernikahan kami," terang Laras.
"Siang ini, kita cari Gio ke kantornya!" ajak Anis yang ingin misteri ini segera terungkap.
"Tapi ...."
"Aku sudah ijinkan dengan Mas Imam, kamu diliburkan hari ini. Kita selesaikan semuanya. Aku akan bantu kamu," lanjut Anis.
Akhirnya, kekuatan Laras pun pecah. Dalam pelukan Anis, ia menangis. Tiba-tiba impian pernikahan indah bersama Gio runtuh sudah.
Walau belum percaya, tetapi Laras merasa janggal. Benar kata Anis, jika untuk mencari sensasi, tidak mungkin Catherine memfitnah Gio. Ini juga merusak nama baiknya.
****
Laras akhirnya memutuskan kembali ke ruangannya sambil menunggu Anis menyelesaikan beberapa pekerjaan. Benda pipih yang ada di dalam tasnya pun beberapa kali berbunyi, ada panggilan yang entah dari siapa. Laras masih enggan untuk berbicara dengan orang lain. Masalah ini mengacaukan mood Laras.
Namun, akhirnya Laras pun membuka tas dan benda pipih berukuran 5 inch itu karena sudah berulang kali berbunyi. Banyak sekali, dan itu dari Kak Alma. Alma juga mengirimkan sebuah pesan di aplikasi berwarna hijau.
[Dek, angkat teleponnya. Kakak harus bicara sama kamu, penting]
"Ada apakah ini? Mungkinkah soal ...." Laras yang masih kacau, memutuskan mematikan gawainya.
Pikiran Laras semakin kacau.
"Apakah Kak Alma udah tahu soal kejadian tengah malam di kamarku? Apa mungkin Mas Evan sudah jujur? Tidak! Semoga dugaanku salah," gumam Laras.
Jam pun menunjukkan pukul 11.00 siang, Anis pun datang ke ruangan Laras dan bergegas menuju kantor Gio. Jarak yang tak terlalu jauh, tak membuat keduanya butuh waktu yang lama, akhirnya sampai di kantor calon suami Laras itu.
Saat di resepsionis, Anis pun menanyakan keberadaan Gio. Dan sungguh membuatnya terkejut, resepsionis itu bilang Gio sudah mengambil cuti untuk mempersiapkan pernikahannya.
"Pernikahan?" gumam Laras sambil menatap ke arah Anis.
Seketika tubuh Laras pun tumbang, ia jatuh pingsan.
****
Entah sudah berapa lama Laras pingsan hingga akhirnya tersadar. Kini Laras berada di sebuah ruangan yang sangat dikenalinya. Inilah ruang kerja Gio. Laras pernah diajaknya beberapa kali masuk ke ruang kerja calon suaminya itu.
"Nis ...." Laras pun jatuh dalam pelukan sahabatnya.
Hati Laras hancur berkeping, saat mendengar keterangan dari resepsionis.
"Pernikahan? Dengan siapa Gio hendak menikah? Sedangkan ia baru melamarku. Mungkinkah ... jahat sekali jika benar Gio mengkhianatiku?!" batin Laras.
"Laras,sebaiknya kita ke rumah Gio, gimana?" ajak Anis untuk mencari kepastian.
Akhirnya Laras dan Anis segera pergi menuju kediaman orang tua Gio yang terletak disebuah perumahan mewah di Jakarta Selatan.
Setelah melewati jalanan ibukota yang padat, keduanya sampai di rumah Gio.Terlihat ada kedua adik Gio sedang bermain di taman samping rumah. Laras memutuskan mengetuk pintu rumah setelah menyapa kedua adik Gio yang manis itu.
Tak lama, pintu pun terbuka dan senyum Mami Gio menyambutnya dengan hangat.
"Laras, ada apa?" tanya calon Ibu mertuanya itu.
"Mi, Gio ada?" ujar Laras tanpa berbasa-basi lagi.
"Gio, dia .... " Mami Gio itu seperti sulit menjelaskan sesuatu.
Tiba-tiba keluarlah seorang gadis cantik bertubuh tinggi semampai. Dia pun memanggil mami Gio dengan sebutan mami.
"Siapa dia?" batin Laras.
Setelah diperhatikan ternyata dia adalah ….
Di hadapanku kini ada Catherine, wanita yang ada dalam video yang tersebar karena pengakuannya yang dihamili Gio.
"Sedang apa dia di sini? Apakah benar soal …."
"Laras, kita masuk ya," ajak Mami Gio menarik tangan calon menantunya itu.
"Kamu ada keperluan apa di sini?" tanya Laras ketus pada Catherine.
"E-eh ...." Catherine tak melanjutkan perkataannya.
"Laras, biar Gio saja yang menjelaskan ya. Kita tunggu dia datang," bujuk Mami Gio.
Setelah menunggu hampir dua jam, Gio akhirnya sampai di rumah. Terlihat keterkejutan di wajahnya saat melihat Laras dan Anis yang sedang menunggunya di ruang tamu bersama mami dan Catherine.
"Laras ...." lirih Gio.
"Aku tunggu penjelasanmu sekarang! Ngapain dia ada di rumahmu? Kenapa saat aku ke kantormu, mereka bilang kamu cuti menyiapkan pernikahan?" cecar Laras sambil menunjuk ke arah Catherine.
"Nak, tenang dulu, kita bicara baik-baik ya. Gio pasti akan menjelaskan semuanya padamu." Mami Gio pun mencoba menenangkan Laras.
"Sayang, kita harus bicara. Hanya berdua!" ajak Gio menarik tangan Laras.
"Bicara saja di sini, Beb, dia harus tahu semuanya," jawab ketus Catherine.
"Beb? Maksudmu apa manggil tunanganku, Beb?" ujar Laras dengan sinis.
"Tenang!" bentak Gio.
"Sayang, aku minta maaf, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku akan menikahi Catherine, karena dia sedang mengandung anakku," terang Gio, membuat dunia Laras seketika gelap. Langit seolah runtuh.
"M-maksudmu? Kamu dan ...." Laras tak sanggup lagi melanjutkan perkataannya.
Tiba-tiba badannya lemah, pandangannya mulai kabur. Dengan sigap Anis memapahnya untuk duduk. Anis pun tersulut emosi saat mendengar penjelasan Gio.
"Gila kamu, Gio!" bentak Anis.
"Laras, aku tahu aku salah! Aku minta maaf!" Gio pun berlutut mencium tangan Laras. Ia menyesali semua kekhilafannya.
Laras menepisnya. Rasa benci, kecewa, muak tiba-tiba datang, hilang sudah rasa cinta Laras pada calon suaminya itu.
"Tega kamu! Jadi selama ini kamu berhubungan sama perempuan ini dibelakangku?" pekik Laras.
"Laras, sudahlah! Ikhlaskan saja kami menikah. Selama ini, kami tidak pernah putus kok," kata Catherine membuat suasana menjadi panas.
"Maksudmu apa?" bentak Laras.
"Stop, Catherine! Biarkan aku selesaikan urusanku dengan Laras, kamu diam!" hardik Gio.
"Ok, Ok! Aku pulang!" Catherine pun pulang setelah berpamitan dengan Mami Gary.
"Aku dan Catherine bertemu lagi saat ditugaskan di Bandung dua tahun lalu. Sejak itu, kami dekat lagi hingga ... aku khilaf. Maafkan aku, Sayang!" tutur Gio.
"Laras, kita pulang sekarang. Kamu sudah tahu kan seperti apa asli calon suamimu ini?" ujar Anis ketus.
"Laras, aku janji setelah Catherine melahirkan, aku akan menceraikannya. Dan kita akan menikah. Kamu paham 'kan posisiku?" ujar Gio memohon pengertian Laras.
"Enggak!" bentak Laras.
"Ini ... aku kembalikan padamu. Aku tak pantas lagi memakainya." Aqilla pun mengembalikan cincin berlian yang disematkan Gio beberapa waktu lalu.
Laras pun langsung menarik tangan Anis keluar tanpa mengindahkan panggilan Gio maupun maminya.
Entah bagaimana menggambarkan perasaan hatinya. Hati Laras hancur-sehancurnya. Gio, lelaki yang sangat dicintai telah menghamili wanita lain dan Laras ... hancur sudah impiannya membangun rumah tangga bersama. Hubungan panjangnya bersama Gio kini sudah hancur berantakan.
Anis paham betul, bagaimana hancurnya perasaan Laras. Ia mencoba menghibur dengan berbagai cara, tetapi semua percuma. Hati Laras terlalu sakit dengan pengkhianatan ini.
Saat sampai di rumah, Laras pun langsung masuk. Kak Alma yang menunggu kepulangannya pun tak digubris. Kamar menjadi pilihan Laras saat ini. Laras pun berpikir, Kak Alma pasti akan mendapatkan penjelasan dari Anis sahabatnya. Kami sudah seperti keluarga, Anis pun cukup dekat dengan Kak Alma.
"Nis, apa Laras su—" tanya Alma.
"Kakak sudah tahu?" potong Anis.
"Tadi kami sudah ketempat Gio dan dia sudah menjelaskan semuanya," terang Anis.
"Jadi benar soal ...." tanya Alma yang tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Iya, Kak, mereka akan menikah," jawab Anis dengan nada bergetar.
"Ya Allah, kasihan Laras," lirih Alma.
"Kak, aku pamit dulu ya, udah sore, takut kemalaman sampai rumah," pamit Anis. Ia pun mencium tangan kakak sahabatnya itu.
"Makasih ya, Nis. Take care." ucap Alma.
****
Malam ini jadi malam terburuk Laras. Kak Alma yang beberapa kali mencoba membujuk adiknya itu makan, tak digubris. Pintu sengaja dikunci dari dalam agar tidak ada siapapun masuk. Karena kelelahan menangis, Laras pun tertidur. Saat terbangun, jam menunjukkan pukul 2 dini hari.
Laras mencoba keluar, mengambil segelas botol di kulkas. Makan?Ah, tak ada selera, bahkan rasa lapar pun pergi entah ke mana.
Saat masuk ke kamar, tiba-tiba ada Mas Evan tertidur di ranjang. Kaget, kesal, semua bercampur.
"Apalagi maunya? Belum puaskah dia menghancurkan masa depanku?"
"Mas, ngapain kamu? Nanti Kak Alma cari kamu, Mas," ujar Laras mengusir kakak iparnya secara halus.
"Ssstt, tenang! Dia akan pulas sampai pagi. Mas sudah memberikan obat tidur diminumannya tadi," jawab Evan.
"Kamu mau apa?" bentak Laras.
Tiba-tiba Laras mulai ketakutan, "Apa mungkin dia mencoba menjamah tubuhku lagi? Bukankah ia sudah berjanji tidak akan mengangguku lagi?"
"Jangan macam-macam, Mas! Keluar kamu atau ...." teriak Laras.
"Atau apa? Kamu semakin sexy kalau lagi marah, Laras," rayu Evan yang terus mendekatkan tubuhnya pada Laras.
"Mas ...."
bersambung....