"Tuan tolong, jangan lakukan itu padaku!" rengek Mauren.
"Sutt, jangan panggil aku Tuan! Kau harus panggil aku Aron, mengerti?"
Kedua tangan Aron mulai meraih pinggul Mauren hingga Mauren merasakan merinding disekujur tubuhnya.
"Katakan iya Aron suamiku!" perintah Aron.
"I-iya," ucap Mauren.
"Iya apa?" tanya Aron sambil menghirup aroma tubuh Mauren.
"Iya Aron suamiku!" ucap Mauren.
"Good girl,"
Aron langsung mencium leher jenjang Mauren yang membuat Mauren langsung replex mendorong dada bidang Aron.
"Jangan! Aku mohon!" rengek Mauren.
"Jangan? Aku bahkan sudah tidak sanggup lagi menahan hasrat ku untuk segera menikmati tubuh seksimu itu, ngomong-ngomong payudaramu besar sekali Mauren," ucap Aron.
Perkataan demi perkataan Aron semakin membuat Mauren melangkah mundur dan rasanya ingin kabur dari mansion mewah ini! Akan tetapi Aron langsung menangkap tubuh Mauren dan menggendong tubuh Mauren untuk dibawa ke kamarnya yang berada di lantai tujuh mansion mewah tersebut.
"Tolong! Lepaskan aku Tuan Aron! Jangan lakukan ini!" teriak Mauren.
Akan tetapi percuma saja mau Mauren berteriak sekencang apapun di mansion mewah ini tidak akan ada yang bisa menolongnya, karena semua asisten rumah tangga yang ada di mansion ini tunduk pada Aron seorang.
Tubuh Mauren dengan entengnya digendong sampai tiba di kamar pribadi milik Aron, kamar yang begitu luas dan didominasi dengan warna putih dan abu-abu tua itu menjadi saksi bagaiman Aron dengan ganasnya melempar tubuh Mauren keatas ranjang empuk miliknya.
Tubuh Mauren pun terlentang pasrah diatas ranjang mewah tersebut.
"Ampun Tuan Aron jangan!" Mauren terus menangis dan memohon agar Aron tidak melakukan sex padanya.
"Aku tidak tahan lagi ingin menembus vaginamu sayang, ayo lepaskan pakaianmu!"
"Tidak! Tolong! Tolong!" teriak Mauren.
Namun Aron justru tertawa mendengar teriakan dan jeritan Mauren ketika kedua tangan besar Aron merobek pakaian Mauren, melepaskan semua pakaian yang dipakai oleh Mauren bahkan celana dalam dan bra yang dikenakan oleh Mauren sudah berhasil dilepaskan oleh Aron.
Tubuh seksi Mauren semakin membuat penis Aron mengeras dengan sempurna, ditariknya kedua kaki Mauren sehingga kedua kaki Mauren itu dibuka selebar-lebarnya oleh Aron.
Terlihat vagina Mauren yang berwarna merah jambu dan tidak terlalu banyak memiliki bulu!
"Jangan! Aku mohon, jangan!"
"Ini akan enak sayang, kau akan ketagihan percayalah padaku!" ucap Aron dengan tatapan seperti tidak sabar ingin segera menikmati Mauren.
Aron kemudian membentangkan kedua pangkal paha Mauren menggunakan kedua tangannya, lalu wajah Aron pun didekatkan pada vagina berwarna merah muda milik Mauren tersebut, diendusnya vagina indah itu oleh Aron dan tanpa bisa menahannya lagi Aron segera menjulurkan lidahnya untuk menjilati vagina Mauren.
"Tidak Tuan jangan, ahhh jangan!" teriak Mauren.
Meskipun kedua tangan Mauren berusaha untuk menahan kepala Aron agar tidak menjilati vaginanya, akan tetapi tetap saja Aron menikmati menjilati vagina Mauren yang rasanya sangat nikmat! Mauren pun baru merasakan sentuhan diarea vaginanya apalagi ini langsung dijilati dan diciumi oleh Aron, meskipun Mauren berusaha menolaknya akan tetapi dari dalam diri Mauren sendiri tidak dapat memungkiri ternyata dijilati dan dihisap vaginanya oleh Aron rasanya luar biasa nikmat, sampai-sampai Mauren merasakan seluruh tubuhnya semakin terangsang dan bergetar hebat.
"Vaginamu sudah mulai becek Mauren, sssthhh aku akan hisap vaginamu dengan kencang!l ucap Aron.
"Ahhhh Tuan! Eunghhtttt,"
Terasa sekali vaginanya dihisap begitu kencang oleh Aron sampai Mauren menjerit-jerit keenakan, setelah puas menjilati vagina Mauren! Aron kemudin langsung beralih pada kedua payudara Mauren yang berukuran super besar dan terlihat sangat sintal.
"Tuan ampun," dengan suara serak dan lemah Mauren masih berusaha menghentikan Aron.
"Aku mau menyusu padamu Mauren, susumu besar sekali ini pasti enak,"
"Ja-jangan Tuan!"
Aron langsung melahap satu persatu payudara besar Mauren sambil kedua tangannya meremas-remas kedua payudara Mauren, lagi dan lagi Mauren pun hanya bisa memohon agar Aron bisa menghentikan menghisap payudaranya karena rasanya cukup sakit bagi Mauren yang baru pertama kali merasakannya.
"Sakit Tuan! Ahhh tolong jangan dihisap lagi!" rengeknya.
Namun Aron yang sudah seperti kecanduan oleh susu milik Mauren, tidak mau berhenti menyusu dan terlihat seperti bayi yang sedang lapar sampai terus menyusu sesuk hatinya pada payudara kiri dan kanan Mauren.
Lama kelamaan tenaga Mauren untuk menolak dan melawan pun semakin melemah, Mauren kini hanya bisa parah melihat kedua payudaranya dihisap tanpa henti oleh Aron.
"Aku sudah puas menyusu padamu Mauren, payudaramu benar-benar menyegarkan!" ucap Aron.
Terlihat kedua puting Mauren yang masih basah bekas dihisap oleh Aron, Mauren pun merasakan kedua putingnya itu perih karena selain dihisap kencang putingnya itu pun digigit oleh Aron tanpa ampun.
"Sekarang puaskan aku dengan vaginamu yang masih sangat sempit itu Mauren!" ucap Aron.
"Tidak Tuan aku mohon jangan!"
Aron segera melepaskan seluruh pakaiannya, sedangkan Mauren berusaha untuk turun dari ranjang dan menuju pintu untuk kabur dari Aron! Akan tetapi begitu Aron selesai melepepaskan seluruh pakaiannya dan kini tubuh telanjang Aron yang terlihat sangat kekar itu pun langsung menghampiri Mauren yang sedang berusaha membuka pintu kamar yang sudah dikunci oleh Aron.
"Kemari sayang, layani aku sampai puas!" ujar Aron yang langsung menarik tangan Mauren.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau!" ucap Mauren yang semakin ketakutan.
Diseretnya Mauren oleh Aron hingga tubuh telanjang Mauren kembali harus dilempar keatas ranjang oleh Aron.
"Aku sungguh tidak tahan ingin segera berhubungan sex denganmu Mauren, kau sungguh membuatku menggila!" ujar Aron.
Kedua tangan Mauren memukul-mukul dada bidang Aron, sedangkan kedua tangan Aron sudah melebarkan kedua pangkal paha Mauren dan segera memperlihatkan penisnya yang berukuran cukup besar pada Mauren.
"Lihatlah dia sudah sangat menginginkan vagina sempit mu ini!"
"Tuan jangan, aku tidak mau!"
Aron yang sudah benar-benar horny langsung berusaha memasukkan penisnya pada vagina sempit milik Mauren, lubang itupun sangat sulit sekali ditembus oleh penis Aron sampai-sampai Aron harus bekerja keras menekan penisnya agar bisa segera masuk.
"Aw, sa-sakit Tuan ahhhh sakit!"
"Tenang sayang, ini hanya sakit diawal saja setelah ini kau akan keenakan dan merengek ingin terus aku masuki vaginamu!" ucap Aron.
Wajah Aron pun terlihat menengadah keatas sementara penisnya semakin menekan kuat lubang vagina Mauren hingga membuat Mauren sampai menangis meraung-raung akibat kesakitan, penis Aron perlahan-lahan akhirnya berhasil masuk kedalam vagina sempit Mauren membuat vagina Mauren mengeluarkan darah kesuciannya hingga menimbulkan noda pada sprei tersebut.
Kedua tangan Mauren pun mencengkram keras sprei dikanan dan kiriny, sementara jeritan Mauren terdengar sangat nyaring didalam kamar ini saking kesakitannya ketika penis Aron memaksa masuk kedalam vaginanya.
Mauren terus menjerit-jerit akibat vaginanya yang dimasuki penis Aron, sedangkan Aron bisa merasakan kenikmatan yang amat sangat luar biasa bisa berhasil merenggut kesucian Mauren, rasa vagina Mauren sungguh membuat Aron menggila.
"Oh Shit vaginamu enak sekali Mauren, sempit legit dan menjepit! Ouwww fuck enak sekali!"
Pinggul Aron mulai maju mundur seirama dengan gerakan penisnya yang keluar masuk pada vagina Mauren, saking enaknya Aron bahkan merasa jika penisnya ingin buru-buru mengeluarkan spermanya karena ini terlalu enak.
"Ahhhh, aku tidak tahan! Ahhh aku akan cum, ahhh aku keluar Mauren!"
Penis Aron baru saja mengeluarkan spermanya didalam vagina Mauren, sedangkan Mauren hanya bisa pasrah dan tergolek lemas menahan sakit diarea vaginanya saat ini! Terlihat Aron tersenyum puas lalu mengeluarkan batang penisnya keluar dari vagina Mauren, terlihat sperma Aron banyak juga yang keluar lagi dari vagina Mauren.
"Kau luar biasa Mauren, aku benar-benar puas olehmu!" ucap Aron.
Mauren pun langsung tidur menyamping sambil menahan perih divaginanya, karena boro-boro merasa enak, yang ada justru hanya sakit dan perih saja yang dirasakan oleh Mauren saat ini. Aron yang tidak bisa bermain tahan lama alias lemah dalam urusan ranjang, baru masuk beberapa detik saja spermanya langsung keluar, membuat Aron cepat puas dan langsung tertidur pulas sedangkan Mauren sama sekali tidak merasakan kepuasan dan kenikmatan sama sekali.
Keesokan harinya, tubuh Mauren terasa pegal-pegal dan sakit seperti habis terlindas ban mobil! Mauren membuka kedua matanya dan sudah ada dua pelayan yang sedang membersihkan kamarnya, sedangkan Aron baru saja keluar dari dalam kamar mandi karena baru saja selesai mandi.
Terlihat wajah Aron yang begitu segar pagi ini sedangkan Mauren boro-boro berwajah segar, yang ada sampai sudah pagi begini pun bagian vaginanya masih teras sakit dan itu membuat Mauren sama sekali tidak bisa tersenyum.
"Mauren, ini uang cash untukmu dan ini kartu kredit dan kartu atm untukmu! Dengan ini kau bisa membeli apapun yang kau mau, terimalah!" ucap Aron sambil menyodorkan semua itu pada Mauren.
Namun Mauren pun masih merasa benci karena perbuatan Aron semalam yang sudah merenggut kesuciannya, Mauren pun hanya dia sama dan memalingkan pandangannya kesembarang arah.
"Oke jika kau tidak mau menerimanya sekarang! Ini aku taruh dilaci, kau boleh mengambilnya kapan pun itu," ucap Aron yang langsung memasukkan semua itu kedalam laci kecil disamping ranjang.
Mauren segera turun dari ranjang karena ingin segera membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa keringatnya bersama dengan Aron semalam!
"Setelah selesai mandi, segera lah turun kebawah kita akan sarapan bersama dengan putraku dan menantuku!" ucap Aron.
Tanpa menjawab sama sekali perkataan Aron, Mauren pun melengos begitu saja masuk kedalam kamar mandi! Sementara itu Aron pun segera menuju kelantai bawah, disana terlihat Liam dan Lenka sudah menunggu Aron dimeja makan.
Lenka masih sibuk dengan handphonenya karena sedang melihat barang-barang mewah yang hendak ia beli setelah pulang dari sini! Sedangkan Liam hanya duduk sambil memandangi makanan dimeja makan.
Aron pun melihat kedua koper milik Liam dan juga Lenka disamping mereka. Terlihat Aron tersenyum sinis yang melihat kedua koper itu akhirnya kembali ke rumah ini.
"Menyerah juga kau Am," ucap Aron lalu duduk disamping Liam.
"Aku tidak menyerah Dad, aku hanya perlu waktu dan modal lagi!"
"Dengar anak bodoh! Kau dan isterimu yang matre itu hanya bisa menghabiskan uangku tanpa hasil sedikitpun!" ucap Aron.
"Oh My God Daddy, anak Daddy Liam yang gagal mengembangkan usahanya dibidang gamer kok malah aku yang ikut disalahkan?" tanya Lenka.
"Hei Lenka, jangan kau pikir aku bodoh! Aku tau semua uang yang aku berikan pada putraku kau juga yang habiskan debgan hobi belanja mu yang tidak masuk akal itu!"
"Dad, aku wanita wajar jika aku belanja dengan uang suamiku kan aku isterinya!" ucap Lenka.
"Berani-beraninya kau melakukan pembelaan diri didalam mansion milikku!" kata Aron dengan menatap tajam Lenka.
"Sudah cukup! Dad, izinkan aku tinggal disini bersama Lenka," ucap Liam.
"Lalu dua apartemen yang aku berikan untukmu itu kau kemanakan Liam?" tanya Aron.
"Maaf Dad, terpaksa aku jual untuk mengembangkan perusahaan game ku!"
"Kau gila Liam! Aku sudah pernah katakan padamu perusahaan gamemu itu tidak ada gunanya jadi sebaiknya kau berhenti dan mulai belajar bisnis-bisnisku!" ucap Aron.
"Maaf dad, aku tidak bisa! Aku ingin memiliki bisnis lain yang sesuai dengan keinginanku!" ucap Liam.
"Kepala batu!" ucap Aron.
Setelah banyak berbincang dan berdebat, akhirnya Aron pun mengizinkan Liam dan Lenka untuk tinggal di mansion mewahnya ini! Tidak lama berselang Mauren pun tiba dimeja makan dan sudah berpakaian rapih.
"Hai isteriku, duduklah!"
Aron segera membantu Mauren untuk duduk, terlihat Liam pun langsung terpesona dengan kecantikan ibu tirinya itu! Seperti dunia teralihkan oleh pancaran wajah Mauren, apalagi kedua payudaranya yang sungguh menonjol dan terlihat menyembul dari balik kaos tipisnya.
"Hai, aku Lenka isterinya Liam!" ucap Lenka sambil menyodorkan tangannya.
"Mauren," ucap Mauren yang menerima jabatan tangan Lenka.
Mauren pun melirik sekilas kearah Liam yang saat ini masih betah memandanginya, wajah Liam yang tampan membuat Mauren hampir terhipnotis olehnya, apalagi terlihat otot-otot kekar di lengan Liam yang membuat Mauren semakin melongo dibuatnya.
"Mauren, mulai hari ini putraku Liam dan isterinya Lenka akan tinggal disini! Kau tidak keberatan kan?"
"Tidak," ucap Mauren sambil menundukkan pandangannya.
Mereka pun sarapan bersama meskipun dengan kondisi yang sama-sama masing canggung karena Liam harus memiliki ibu tiri yang usianya masih sangat muda bahkan dibandingkan dengan dirinya, begitupun dengan Mauren yang merasa sangat gugup ketika melihat Liam.
Setelah selesai sarapan, Aron harus pergi mengurus bisnis-bisnis casino dan bar miliknya sedangkan Lenka langsung berpamitan pada Liam karena ingin pergi bersama teman-temannya!
Mauren yang masih belum terbiasa dengan kehidupan barunya yang berbanding terbalik seratus derajat dengan kehidupannya dimasa kemarin, kini hanya bisa melamun disamping kolam renang sambil memandangi birunya air.
Tiba-tiba Liam pun menghampiri Mauren, sambil memegang satu gelas berisi wine Liam berdiri disamping Mauren.
"Wanita muda yang tergila-gila pada harta hingga rela ditiduri oleh ayahku yang sudah tua!" ucap Liam.
Kata-kata Liam sangat menyinggung Mauren karena bukan seperti yang Liam ucapkan kejadian yang sesungguhnya!
"Aku tidak seperti itu, aku terpaksa!"
"Terpaksa? Aku tau wanita sepertimu itu mencari uang dengan cara jual diri bukan? Tapi beruntungnya kau dinikahi oleh ayahku," ucap Liam.
Pakkk....
Satu tamparan mendarat dipipi Liam karena Mauren baru saja menamparnya.
Liam yang tidak terima ditampar oleh Mauren kemudian langsung menarik paksa tubuh Mauren hingga tubuh Mauren pun berada didalam dekapan tubuh kekar Liam, keduanya pun saling menatap satu sama lain.
"Beraninya kau menamparku?"
"Karena bicaramu keterlaluan, aku sudah katakan aku terpaksa menjadi isteri ayahmu karena aku dijual oleh ayahku sendiri!"
"Kau dijual oleh ayahmu sendiri?"
"Ya, jadi jangan pernah mengatakan aku jual diri!" ucap Mauren.
"Itu artinya kau masih perawan saat dibeli oleh ayahku?"
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Jawab saja jika memang kau bukan wanita yang suka jual diri," ucap Liam sambil tersenyum.
"Ya, dan semalam ayahmu memaksaku melakukannya!" ucap Mauren dengan raut wajah tertekan.
"Itu pasti sangat menyakitkan bukan? Vaginamu pasti berdarah," ucap Liam.
Liam pun melepaskan tubuh Mauren sedangkan Mauren hanya bisa terdiam menatap Liam.
"Tenang saja itu akan terasa enak setelahnya, terkecuali jika penis ayahku sebesar penisku mungkin kau akan merasa kesakitan meskipun kita melakukannya berkali-kali!" ucap Liam.