Bab 1

"Mommy! Apakah aku dilahirkan ke dunia ini hanya untuk menyakiti orang orang yang aku sayang?"

Matahari memancarkan warna merah kegelapan saat senja kala itu. Gadis bergaun putih, masih duduk di tepian kuburan di sampingnya.

"Sejak kecil sampai aku sudah mengerti dengan apapun. Aku selalu menghibur diriku sendiri. Kala semua orang mengatakan akulah yang merenggut nyawamu. Akulah alasan terbesar dari kematianmu. Akulah penyebab redupnya mata kebahagian dari daddy."

Tidak beberapa meter dari tempat gadis tersebut berada. Seorang pria dengan sabar dan tenang menunggunya.

"Di saat dewasa pun, wanita pembawa sial masih melekat pada diriku. Karena, aku jugalah penyebab kesedihan dari pria yang aku cintai. Bersamanya, aku telah menyusun rencana masa depan dengan penuh kebahagian. Sampai aku baru menyadari. Ternyata cintanya kepadaku hanyalah untuk menyakitiku pada akhirnya."

Gadis itu menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.

"Mommy, tahukah kamu betapa aku merindukanmu. Bolehkah aku setiap hari datang ke rumah mu ini? Aku kesepian, mommy. Orang yang aku cintai membenci dan meninggalkanku. Sahabat yang aku sayangi juga marah kepadaku. Aku tidak tahu harus melakukan apa di rumah seorang diri. Tanganku tidak bisa berfungsi lagi untuk melukis. Mataku juga tidak bisa melihat betapa indahnya dunia ini,"

Gadis itu kembali menangis sesegukkan. Semua bayangan kejadiannya menimpanya hadir kembali.

"Mommy, sampaikan kepada Tuhan. Jangan penglihatanku saja yang Dia ambil. Minta kepadaNya agar aku bisa bertemu denganmu. Aku kesepian, mommy."

Pria yang tadinya hanya menatap tenang ke arah Adhiti. Melangkah pelan mendekati Adhiti.

"Non Adhiti, hari sudah mulai gelap. Kita harus pulang," kata Pak Kardi sang sopir. Yang selalu mengantarkan Adhiti ke makam ibunya.

Dengan sabar, pak Kardi memegangi tangan Adhiti. Menjadi sandaran untuk gadis tersebut agar tidak salah langkah.

"Adhiti minta maaf ya, pak. Adhiti delalu merepotkan pak kardi."

Pak Kardi tersenyum sedih. Hatinya pilu, tidak menyangka. Dia yang selalu bersama Adhiti sejak gadis itu lahir. Menjadi saksi hidup suka duka perjalanan anak dari majikannya.

***

Bab 2

"Mbak, permisi!" Suara seorang pria di dekat Adhiti membuyarkan lamunannya.

"Hm..." rintih Adhiti terkejut.

Adhiti menatap ke sekelilingnya yang sudah sepi sekali. Tidak ada tanda tanda orang lain. Selain dia dan pria yang baru saja membuatnya sedikit terkejut.

Saat Adhiti melihat kepada pria itu. Dia sedikit kesulitan. Adhiti mencoba menyipitkan kedua matanya. Agar dapat fokus melihat siapa yang mencoba menyapanya.

"Iya pak," kata Adhiti akhirnya sadar dan bisa melihat jelas.

"Sudah tutup! Hampir saja saya mengunci anda di sini. Untung sebelumnya saya mencoba cek kembali pengunjung," ucap sang satpam terdengar legah.

Sekali lagi Adhiti menatap ke sekeliling perpustakaan. Dan benar, tidak ada orang lain lagi. Dia yang sering duduk memojok di antara rak rak buku. Membuat orang orang sekitar tidak menyadari keberadaannya.

Adhiti mengambil ponsel di dalam kotak pensil dan melihat ke layar ponsel. Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam. Berarti perpustakaan sudah tutup dari satu setengah jam yang lalu.

"Maaf pak, maaf. Saya tidak menyadari kalau perpustakaannya telah tutup. Maafkan saya," kata Adhiti cepat.

Dia langsung berdiri dari duduknya di lantai.

Sang satpam mengangguk dan tersenyum ramah.

"Sudah mulai gelap,mbak. Maaf tadi saya mengagetkan anda."

"Tidak apa apa, bapak. Saya yang seharusnya meminta maaf. Karena saya bapak jadi kesusahan. Seharusnya pintu perpustakaan telah ditutp jadi terganggu. Sekali lagi maaf. Dan terima kasih banyak."

Adhiti membungkuk ke arah satpam tersebut. Dia bergegas menuju lantai bawah dan mengambil tasnya di loker.

Saat di luar halaman perpustakaan dan mulai gelap.

Gadis itu berjalan sedikit tergopoh gopoh keluar dari perpustakaan. Sekali lagi, dia melihat layar ponselnya. Ada beberapa panggilan tidak terjawab. Saat di dalam perpustakaan. Nada dering ponsel di matikan oleh Adhiti. Dia juga tidak mengganti nada dering menjadi bergetar. Maka dari itu, dia tidak menyadari adanya panggilan masuk.

Dengan senyuma mengambang. Adhiti mengecek darimana panggilan tidak terjawab itu berasal. Dia begitu mengharapkan salah satu nama yang sudah dinantikannya.

"Daddy," lirih Adhiti sedikit kecewa.

Ternyata nama yang dinantikannya tidak kunjung tertera. Hanya ada nama, daddy, abangnya Revano dan sahabat tercintanya Shania.

Saat Adhiti melamun kembali, dia dibuat terkejut karena deringan ponsel. Nama Shania tertera di layar.

"Iya Shania," jawab Adhiti pada dering ke empat.

"Lu kemana aja, Adhiti!" Seru Shania dengan suara kencang dan terdengar panik.

"Gua ketiduran di perpustakaan,"

"Apa!!" Sorak Shania membahana.

"Lu ketiduran di perpustakaan kampus! Jangan ngaco deh. Tadi siang kita sama sama keluar dari gerbang kampus. Jangan bohong! Lu kencan sama Albian sampai lupa waktu. Dan lupa menghubungi daddy lu!" Tuduh Shania.

Terdengar helaan nafas Shania." Daddy lu beberapa kali menanyakan keberadaan elu. Yang gua sendiri tidak tahu lu dimana? Kalau mr Theo tidak apa apa, gua masih bisa menjawab dengan baik dan tenang. Abang lu nohhh!! Dia neror gua setiap lima menit. Gua sampai nggak bisa bernafas. Bahkan , waktu ke kamar mandi buat panggilan alam. Gua kudu bawa ni ponsel," cerocos Shania tanpa titik dan koma.

Adhiti tersenyum mendengar kelucuan sahabatnya itu.

"Bukan di perpustakaan kampus. Tapi, di perpustakaan kota. Barusan di bangunkan oleh satpamnya."

"Bisa bisa nya elu tertidur di sana! Lu nggak bohongkan?" Tuduh Shania tidak percaya.

Adhiti mengambil foto gedung perpustakaan. Lalu mengirimkannya kepada Shania.

"Buat apa gua bohong, Shania. Gua setengah harian di sana. Ini baru jalan keluar buat cari taxi untuk pulang."

Shania terdiam." Lu sendiri aja? Tidak ada Albian di sana?"

"Sendiri, Shan. Albian kerja, mana bisa dia selalu di dekat gua selama dua puluh empat jam. Ngaco lu!"

Shania mencoba mempercayai hal itu.

"Ya sudah! Hati hati di jalan. Kalau nggak lu telpon Albian deh. Jam segini dia sudah pulang. Minta tolong jemput lu kesana. Kalau lu pulang naik kendaraan umum. Bisa bisa gua di gorok abang lu."

Sekali lagi, Adhiti tertawa. Ucapan Shania yang jujur mampu membuat Adhiti tertawa.

"Baiklah," hanya itu yang diucapkan Adhiti.

***

Adhiti sama sekali tidak menghubungi Albian. Karena sejak dua hari yang lalu. Dia mencoba menghubungi pria yang dia cintai tersebut. Awalnya pria itu hanya mereject panggilan Adhiti. Setelahnya, dia sama sekali tidak bisa dihubungi. Adhiti juga tidak tahu mengapa.

Akhirnya, gadis tersebut kembali ke rumah menggunakan transportasi online.

"Darimana, nak?" Tanya daddy Adhiti yang bernama Mr Theo.

Theo begitu khawatir dengan putri semata wayangnya. Adhiti jarang sekali tidak menjawab panggilan. Tadi hampir beberapa kali mecoba dan tidak kunjung mendapat jawaban dari putri tersayangnya. Membuat pikiran Theo semakin kalut.

"Adhiti ketiduran di perpustakaan kota, dad. Aku minta maaf karena membuat daddy dan abang khawatir."

Selain Theo, Revano juga ada di dekat mereka. Wajahnya juga sama khawatir dengan wajah daddy mereka.

"Ya sudah! Yang penting kamu sudah pulang, nak. Kamu sudah makan?"

Adhiti mengangguk, dia hanya ingin langsung ke kamarnya. Dia butuh istirahat. Selain tubuhnya yang lelah, pikiran Adhiti juga sama lelahnya.

"Adhiti ingin mandi dan tidur," ucap Adhiti pelan.

Mr Theo dan Raveno hanya menatap tenang ke arah Adhiti. Gadis itu berjalan menunduk ke arah kamarnya.

"Ada apa, dek?" Tanya Revano khawatir.

"Hmm..." geleng Adhiti cepat.

"Hanya capek saja, bang." lanjutnya.

Revano mengangguk paham." Baiklah, istirahlah, dek."

***

Waktu sudah menunjukan pukul setengah dua malam. Mata Adhiti masih belum mau terpejam.

Dia turun ke bawah menuju dapur. Sejak tadi siang, dia belum satupun memasukan makanan ke dalam perutnya. Hanya sarapan dengan dua lembar roti dan segelas susu. Setelah itu, Adhiti tidak makan apapun.

"Aku tidak bisa memasak," lirih Adhiti sambil menatap bahan makanan di dalam kulkas.

Adhiti berpindah ke kulkas lain. Di kulkas kedua, banyak makanan yang siap dihangatkan atau di goreng. Adhiti hanya mengambil nugget, lalu menggorengnya beberapa. Hanya itu yang bisa dia kerjakan.

Semua pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakannya yaitu bi Titin. Dia tidak mungkin membangunkan asisten rumah tangganya. Ini bukan waktu mereka bekerja.

"Nak," panggil Theo mengejutkan Adhiti.

Sejak turun ke dapur. Dia memperhatikan Adhiti menatap kosong ke arah kompor. Tidak ada pergerakan apapun yang di lakukannya. Karena sudah tercium aroma makanan gosong. Barulah Theo sedikit mengejutkan putrinya.

"Daddy!" Pekik Adhiti mengelus dadanya.

"Apa yang kamu pikirkan? Makananmu sudah gosong," lanjut Mr Theo.

Segera Adhiti mematikan kompor dan memindahkan nugget yang sudah menghitam. Gadis itu merenggut pelan. Betapa bodohnya ia seharian ini. Dia sudah beberapa kali membuat kesalahan.

"Maafkan Adhiti, dad."

"Kamu lapar?"

"Hmm..." Adhiti mengangguk.

"Biar daddy yang masak. Kamu tunggu saja di meja makan."

Adhiti tidak membantah. Perutnya benar benar keroncongan. Serta tidak ada waktu untuk membantah. Dia menunggu dengan tenang tanpa bersuara. Sampai Theo sudah menghidangkan makanan dan minuman di hadapan Adhiti.

"Thank you, daddy."

Theo menatap putrinya yang sangat dia yakini. Tidak dalam keadaan baik baik saja. Wajahnya sudah tersirat dengan jelas.

"Ada apa, nak?" Tanya Theo sambil mengambil duduk di sebelah Adhiti.

Adhiti menggeleng pelan. Dia melanjutkan makanannya, walau dia tidak menikmatinya.

Theo membiarkan Adhiti makan. Dia tidak ingin bertanya apapun dulu. Sampai akhirnya, gadis itu bersuara.

"Daddy," panggil Adhiti menatap Theo.

"Ya," jawab Theo dengan lembut.

"Aku merindukan mommy,"

Suara Theo tercekat. Seketika matanya menusuk ke dalam mata Adhiti. Jarang sekali Adhitu membahas tentang mommy nya. Kalau sudah seperti ini. Dia sangat yakin, Adhiti benar ada masalah yang mengganjal di hati.

"Besok kita ke makam mommy mu," jawab Theo tidak kalah pelannya.

Air mata menumpuk di pelupuk Adhiti. Bahkan saat makan, terdengar rintihan tertahan suara putrinya. Bahkan, suapan makanan tidak mampu menghentikan sesegukan tangis gadis itu.

"Apakah daddy begitu mencintai mommy? Apakah daddy yang mengejar mommy dahulu? Apakah daddy yang mengatakan cinta kepada mommy terlebih dahulu?" Tanya Adhiti begitu banyak.

Theo tersenyum lembut." Daddy begitu mencintai mommy mu. Dan...ya... daddy lah yang mengejar mommy mu."

Air mata Adhiti jatuh ke pipi. Mungkin sekarang, ia mencoba memaksakan senyuman di pipi.

"Adhiti," sahut Theo mengusap pipi putrinya.

"Apakah kamu mencintai seseorang?" Tanya Theo.

Adhiti diam membisu. Sesegukannya semakin keras. Segera, Theo menarik Adhiti ke dalam pelukannya. Saat itu juga, kesabaran yang telah di pupuk Adhiti. Runtuh, di dalam pelukannya daddy nya. Dia menangis menumpahkan apa yang sedang digundahkan oleh hatinya.

"Pria yang aku cintai. Tidak pernah sekalipun mengatakan dia mencintaiku. Padahal kami sudah lebih enam bulan bersama,"sahut Adhiti di dalam hati.

Bab 3

Besoknya, Adhiti tidak ingin berdiam diri saja. Menunggu Albian menghubunginya itu tidak akan ada artinya. Dia hanya ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan kenapa Albian seolah olah menjauhinya.

"Luke, apakah Bian bekerja hari ini?" Tanya Adhiti kepada salah satu teman Albian di bengkel tempat mereka bekerja.

"Eh, Adhiti. Tidak... Albian tidak masuk hari ini. Dia sepertinya meminta izin untuk mengurus sidang skripsi dan tugas akhirnya. Apalah itu, saya juga tidak tahu," jawab Luke mengedikan bahu.

"Oh,"

"Dia tidak memberitahumu? Coba menelponnya. Mungkin saja dia sedang sibuk sibuknya. Albian kalau sudah seperti ini. Dia akan fokus kepada pendidikannya. Itu prioritas utamanya."

Adhiti sudah tahu akan hal itu. Sejak dia mendekati Albian. Alasan pertama pria tersebut tidak memikirkan apa itu cinta. Disebabkan oleh pendidikan. Dia ingin cepat tamat dan bekerja di tempat yang lebih baik.

Adhiti mengerti akan hal tersebut.

"Apakah kamu punya nomor ponsel yang baru? Atau hmmmm...nomor ponsel yang lain milik Bian?"

Luke mengernyitkan keningnya. Dia menyipitkan mata menatap Adhiti.

"Tidak Adhiti! Albian hanya mempunyai satu nomor ponsel. Dan itu masih aktif. Tadi pagi dia sempat menghubungiku."

"Oh!" Kata Adhiti pelan.

Adhiti menyadari jika Bian memblokir nomor miliknya. Tapi, pria itu tidak pernah mengatakan kesalahan apa yang telah Adhiti kerjakan. Sampai membuat Albian marah dan ingin menghilang dari dirinya.

"Baiklah, luke. Maaf mengganggu waktumu. Kalau begitu aku pulang," kata Adhiti pelan.

Luke hanya mengangguk kecil. Serta melambaikan tangannya ke arah Adhiti. Sebelum gadis itu menghilang masuk ke mobilnya.

***

Tentu saja alasan dari teman kerja Albian tidak memuaskannya. Gadis itu mencoba duduk menunggu Albian di salah satu minimarket. Yang berada tepat di seberang bengkel tempat Albian bekerja.

Pandangan gadis itu tidak lepas melihat bengkel tempat Albian bekerja. Bahkan hampir tiga jam menunggu. Hari juga sudah sore. Sudah saatnya bengkel itu tutup.

"Dia dimana?" Tanya Adhiti kepada dirinya sendiri.

Nampak Luke dan beberapa pekerja lainnya menutup bengkel. Adhiti masih sabar menanti. Keyakinan hatinya mengatakan, jika Albian ada di sana.

Nampak beberapa pegawai sudah keluar dari bengkel. Kecuali Luke, tidak beberapa menit kemudian. Seperti yang dia duga. Benar, Albian berada di dalam.

"Bian,"

Segera Adhiti beranjak menuju ke sana. Biasanya, Albian akan memakirkan motornya di depan. Kali ini, dia sengaja memakirkan motor di halaman belakang bengkel.

"Bian," panggil Adhiti.

Matanya terpaku menatap luke. Luke juga memandang Adhiti dengan wajah bersalah. Bersalah karena telah berbohong tentang keberadaan Albian.

"Bian tunggu!" Pekik Adhiti.

Albian tetap melangkah dan pura pura tidak mendengar. Adhiti juga kekeuh mengejar pria tersebut sampai di dekat motor Albian.

"Bian ada apa?" Tanya Adhiti.

Entah kenapa Albian tidak ingin melihat wajahnya. Sebisa mungkin pria tersebut mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Bian, tolong bicaralah! Jika kamu diam dan menjauhiku seperti ini. Maka, aku tidak tahu kesalahan apa yang telah aku lakukan sampai kamu menjauhiku," lanjut Adhiti.

Albian nampak gelisah, seolah ada yang dia tahan.

"Pulanglah Adhiti, bukankah apa yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan,"

Kening Adhiti mengernyit tidak mengerti.

"Apa yang kamu katakan, Bian? Aku sama sekali tidak mengerti."

"Pulanglah!!!" Bentak Albian keras.

Adhiti terdiam mendengar suara keras Albian. Dia semakin tidak paham apa yang telah dia perbuat. Sehingga menimbulkan kemarahan Albian.

"Bukankah kita baik baik saja ketika kita....."

Adhiti tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

"Bian jangan seperti ini. Tolong katakan kepadaku apa yang telah aku perbuat. Aku bingung.."

Albian menghidupkan mesin motornya. Pria itu memang tidak peduli kalau ada Adhiti di dekatnya.

Adhiti mencoba menyentuh lengan Albian. Agar pria itu mematikan mesin motornya.

"Brengsek!! Pulanglah!!" Teriak Albian semakin keras.

Bahkan dalam keadaan emosi, Pria itu menarik keras kerah baju Adhiti. Sampai Adhiti hampir kehilangan keseimbangannya.

Adhiti sangat ketakutan, benar benar takut melihat Albian sekarang.

"Jangan menemuiku sampai aku bisa mengumpulkan semua buktinya!!" Ucap Albian keras di depan wajah Adhiti.

Dengan keras pula dia mendorong Adhiti menjauh darinya. Adhiti memejamkan mata menahan betapa sakit tubuhnya yang terbentur dengan tanah.

"Ada apa ini?" Bisik Adhiti dengan suara bergetar.

Suara motor Albian semakin menjauh. Meninggalkan Adhiti yang masih terduduk diam.

"Adhiti," panggil Luke mendekati gadis tersebut.

Luke merasakan tubuh Adhiti terguncang hebat. Wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata. Bibir Adhiti pucat karena takut.

"Aku akan menghubungi pak Kardi," ucap Luke khawatir.

Pak Kardi supir pribadi Adhiti. Luke mengenal pria tua itu. Karena pak Kardi langganan tetap dari bengkel tempat luke bekerja.

***

"Arrggghh," teriak Adhiti keras.

Dia terbangun dari tidurnya. Wajah Adhiti sudah dipenuhi oleh keringat. Dia mencoba mengatur nafasnya yang sudah sesak.

Mimpi buruk itu datang lagi. Cukup lama Adhiti tidak pernah bermimpi tentah hal tersebut.

"Adhiti," panggil Theo di ambang pintu.

Theo langsung berlari mendekati Adhiti yang nafasnya memburu. Terdengar suara batuknya yang cukup keras. Segera Mr Theo mengambil air putih yang ada di meja kamar. Menyodorkan kepada Putrinya.

Tidak lupa Theo juga menepuk pelan punggung putrinya. Adhiti menghabiskan segelas air putih dalam satu kali tegukan.

"Kamu bermimpi buruk lagi?"

Adhiti mengangguk pelan sambil mengambil posisi duduk. Disandarkannya punggungnya ke kepala tempat tidur.

"Ada apa, Nak?" Tanya Theo pelan.

Dia menatap putrinya yang masih berusaha menenangkan nafasnya yang memburu.

Adhiti menggeleng lemah." Tidak ada apa apa, daddy," bohong Adhiti.

"Apa perlu kita ke rumah sakit?" Tanya Theo khawatir.

"Tidak!... tidak perlu. Aku benar benar tidak apa apa. Sebentar lagi, Adhiti akan mencoba untuk tidur. Maafkan Adhiti, daddy. Membangunkan dan membuat daddy khawatir."

"Tidak Adhiti, jangan berkata seperti itu."

Theo diam sebentar tampak berpikir." Bukankah kulaihmu sudah selesai. Apakah kamu ingin liburan? Selagi menunggu hari wisudamu."

Adhiti menggeleng lemah." Banyak yang perlu Adhiti kerjakan di kampus."

Theo akhirnya menyerah. Bagaimanapun juga dia tahu puttinya tidak bisa dipaksa.

"Daddy tidurlah! Aku juga akan kembali tidur."

"Baiklah sayang,"

Saat Theo berjalan keluar kamarnya. Sebelum menutup pintu kamar Adhiti. Disempatkan melihat sekali lagi kepada Adhiti. Karena sudah kembali tidur. Theo sedikit lega dengan hal itu.

"Dia bermimpi lagi setelah sekian lama," kata Mr Theo kepada Revano yang ternyata berdiri di luar kamar Adhiti.

"Apakah daddy kurang memperhatikan dia belakangan ini? Rasanya, adikmu sedang mempunyai masalah. Tetapi daddy tidak bisa memaksanya untuk bercerita," lanjut Theo.

"Dad, ada yang ingin Vano katakan."

Theo menatap kepada Revano. " adakah hubungannya dengan Adhiti?"

Revano mengangguk." Iya dad, kalau kita tidak menghentikannya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."

Wajah Revano tampam serius. Theo bisa merasakan hal itu.

"Ada apa Revano? Jangan membuat daddy berpikir terlalu jauh."

"Hmm...ini ada hubungannya dengan kecelakaan Adhiti enam tahun lalu."

"Apakah ada tuntutan?" Tanya Theo panik.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Adhiti

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED