Anita menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Dia berdiri di lobby Hartono Firm, firma hukum ternama yang menjadi impiannya sejak lama. Tangannya yang berkeringat menggenggam erat map berisi lamaran pekerjaan sebagai pengacara junior.
"Kau bisa melakukannya, Anita," bisiknya pada diri sendiri, berusaha mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya.
Memang, penampilannya tidak seperti pengacara pada umumnya. Tubuhnya yang gempal dibalut blazer kusut, rambut keritingnya mencuat ke segala arah, dan kacamata tebalnya hampir menutupi separuh wajahnya. Tapi Anita tahu, yang terpenting adalah otaknya yang brilian.
Dia melangkah mantap menuju meja resepsionis, namun tiba-tiba...
BRUK!
"Astaga!" seru sebuah suara maskulin.
Anita terhuyung ke belakang, map di tangannya jatuh berhamburan. Matanya yang membelalak menatap ngeri pada noda coklat besar yang kini menghiasi jas putih pria di hadapannya.
"Ya Tuhan, maafkan saya! Saya tidak sengaja, sungguh!" Anita buru-buru memunguti berkasnya yang berserakan.
Pria itu, dengan rambut hitam yang ditata rapi dan mata setajam elang, menatapnya dengan murka. "Kau... Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?!"
Anita menelan ludah. "Sa-saya minta maaf, Tuan. Saya akan mengganti jas Anda, saya janji!"
Pria itu mendengus. "Mengganti? Dengan apa? Uang hasil mengemis?"
Kata-kata itu menohok Anita. Dia mendongak, menatap pria itu dengan campuran rasa terkejut dan terluka.
"Dengar, Nona..." pria itu melanjutkan, suaranya penuh ejekan, "Jas ini harganya mungkin lebih mahal dari seluruh isi lemarimu. Jadi sebaiknya kau..."
"Cukup." Anita berdiri, suaranya bergetar namun tegas. "Saya memang bukan orang kaya, tuan tapi saya punya harga diri. Dan saya tidak akan membiarkan siapapun untuk menginjak-injaknya, semahal apapun jas yang dia kenakan."
Pria itu terkesiap, jelas tidak menyangka akan mendapat perlawanan. Karena selama ini tidak ada seorang pun di kantor ini berani membatah apalagi berani melawannya. Dia baru akan membalas ketika sebuah suara menginterupsi.
"Adrian! Kita harus segera berangkat. Klien kita sudah menunggu."
Adrian – rupanya itu nama si pria arogan – menoleh ke arah rekannya dengan kesal. Dia kembali menatap Anita, matanya menyipit berbahaya.
"Ini belum selesai," desisnya. "Kau akan menyesal telah berurusan denganku."
Setelah mengatakan itu, Adrian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Anita yang masih berdiri kaku di tempatnya. Anita baru ingat kalau yang dia hadapi ini adalah putra mahkota dari pemilik Hartono Firm setelah orang itu memanggil nama pria itu dengan sebutan Adrian karena kemarin dia sempat membuka website perusahaan ini muncull wajah pria itu yang sama persis dengan Adrian sang pewaris tahta Hartono Firm.
Anita menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Hari pertamanya di Hartono Firm belum dimulai, tapi dia sudah membuat musuh. Dan bukan sembarang musuh – melainkan Adrian, yang ternyata adalah putra pemilik firma ini.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" rutuknya dalam hati. "Bagaimana bisa aku tidak mengenali wajahnya? Padahal sudah berjam-jam menelusuri internet tentang firma ini."
Bayangan wajah Adrian yang tersenyum formal di website perusahaan berkelebat di benaknya. Anita menggelengkan kepala, berusaha mengusir perasaan bersalah yang mulai menggerogoti.
"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur," gumamnya, menegakkan bahu. "Aku harus fokus pada tujuan awalku."
Dengan tekad yang diperbaharui, Anita melangkah menuju meja resepsionis. Di balik meja itu, duduk seorang wanita dengan dandanan mencolok – lipstik merah menyala dan rambut pirang yang disanggul tinggi.
"Selamat pagi," sapa Anita, berusaha terdengar profesional.
Resepsionis itu mendongak, matanya menyipit saat melihat penampilan Anita dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Pak Yanto," ujar Anita, berusaha mengabaikan tatapan menilai si resepsionis. "Untuk melamar sebagai pengacara."
Si resepsionis menaikkan alis, jelas-jelas terkejut. "Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?"
Anita menggeleng. "Belum, tapi—"
"Maaf," potong si resepsionis dengan nada jengkel, "tapi Pak Yanto adalah manajer HRD yang sangat sibuk. Tanpa janji, Anda tidak bisa menemuinya."
"Bisakah Anda menghubunginya dulu? Katakan saja Anita ingin bertemu," Anita bersikeras.
Si resepsionis berdecak. "Memangnya Anda ini siapanya Pak Yanto?"
"Saya bukan siapa-siapanya," jawab Anita jujur.
"Kalau begitu, Anda harus membuat janji dulu," ujar si resepsionis dengan nada final. "Lagipula, firma kami sedang tidak membuka lowongan pengacara saat ini."
Anita mulai merasa frustasi. "Tapi saya—"
"Dan kalaupun ada," lanjut si resepsionis, matanya menyapu penampilan Anita sekali lagi, "kami tidak akan mempekerjakan pengacara dengan... penampilan seperti Anda."
Kata-kata itu menohok Anita tepat di ulu hati. Amarah yang tadinya sudah mereda kini kembali bergejolak.
"Dengar," kata Anita, suaranya rendah dan tegas. "Saya tahu penampilan saya mungkin tidak sesuai standar firma ini. Tapi saya di sini bukan karena kebetulan atau iseng."
Si resepsionis terlihat terkejut dengan perubahan sikap Anita.
"Saya datang ke sini," lanjut Anita, "atas permintaan langsung dari Bapak Hartono."
Mata si resepsionis melebar. "A-apa?"
"Ya, Anda tidak salah dengar," Anita menegaskan. "Bapak Hartono sendiri yang meminta saya untuk menemui Pak Yanto dan melamar sebagai pengacara junior di firma ini."
Suasana di lobby mendadak hening. Beberapa orang yang lewat bahkan berhenti untuk mendengarkan.
Si resepsionis tampak kebingungan. Dia menatap Anita dengan campuran ketidakpercayaan dan kecurigaan. "Tapi... bagaimana mungkin? Maksud saya, Anda..."
"Saya apa?" tantang Anita. "Terlalu gendut? Terlalu culun? Atau terlalu berani untuk datang ke sini dan mengklaim hal seperti itu?"
Si resepsionis tergagap, tidak mampu menjawab.
Anita menghela napas, berusaha menenangkan diri. "Saya mengerti ketidakpercayaan Anda. Tapi saya bersumpah, saya tidak berbohong. Silakan hubungi Pak Hartono jika Anda ragu."
Keraguan terlihat jelas di wajah si resepsionis. Dia melirik telepon di mejanya, lalu kembali menatap Anita.
"Baiklah," akhirnya si resepsionis berkata. "Saya akan menghubungi Pak Yanto. Tapi jika ternyata Anda berbohong..."
"Saya siap menerima konsekuensinya," potong Anita tegas.
Dengan tangan sedikit gemetar, si resepsionis meraih gagang telepon dan mulai menekan nomor. Anita menunggu dengan jantung berdebar, menyadari bahwa inilah momen yang akan menentukan masa depannya.
Sementara si resepsionis berbicara pelan di telepon, Anita merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya. Beberapa berbisik-bisik, yang lain menatap penuh rasa ingin tahu. Tapi Anita tetap berdiri tegak, menolak untuk terintimidasi.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, si resepsionis meletakkan gagang telepon. Wajahnya pucat pasi.
"Pak Yanto akan menemui Anda sekarang," ujarnya dengan suara bergetar. "Silakan tunggu di sana. Beliau akan turun sebentar lagi."
Anita mengangguk, berusaha menyembunyikan kelegaan yang membanjiri dirinya. Dia berbalik, bermaksud untuk duduk di area tunggu, ketika matanya menangkap sosok yang membuat darahnya membeku.
Di ujung lobby, berdiri Adrian dengan wajah terkejut... dan murka.
Anita merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Adrian masih berada di lobby. "Astaga, kenapa dia belum pergi? Bukankah tadi katanya ada meeting dengan klien?" batinnya panik.
Dengan gerakan cepat, Anita mengangkat map di tangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya. Matanya mengintip dari balik map, mengawasi pergerakan Adrian.
"Ya Tuhan, dia menuju ke sini!" Anita menahan napas, tubuhnya menegang. Namun, alih-alih menghampirinya, Adrian berhenti di depan seorang OB yang sedang mengepel lantai.
"Apa yang kau lakukan?!" suara Adrian menggelegar, membuat beberapa orang di sekitar terlonjak kaget. "Kau tidak lihat lantainya terlalu basah? Beberapa orang hampir terpeleset!"
Anita menelan ludah menyaksikan kemarahan Adrian. "Kalau dia semarah itu pada kesalahan kecil, apa yang akan dia lakukan padaku nanti?" pikirnya ngeri, mengingat insiden jas kotor dan perlawanannya tadi.
Masih mengintip dari balik map, Anita melihat Adrian kini berbicara dengan seorang pria paruh baya. "Pak Yanto," panggil Adrian, "berikan SP 3 pada OB ini. Dia sudah membahayakan keselamatan orang-orang di sini."
Setelah itu, Adrian akhirnya meninggalkan kantor. Anita menghela napas lega, tapi rasa takutnya belum sepenuhnya hilang.
Pak Yanto terlihat berbicara sejenak dengan OB yang kini tampak lemas ketakutan, sebelum menghampiri meja resepsionis. Anita melihat resepsionis menunjuk ke arahnya, dan Pak Yanto mulai berjalan mendekat.
Dengan cepat, Anita merapikan penampilannya dan meletakkan map di pangkuannya. Jantungnya berdegup kencang saat Pak Yanto tiba di hadapannya.
"Selamat pagi," sapa pria itu dengan senyum ramah. "Anda pasti Anita. Saya Yanto, manajer HRD Hartono Firm."
Anita berdiri, berusaha menenangkan diri. "Selamat pagi, Pak Yanto. Iya, saya Anita. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya."
Pak Yanto mengangguk. "Mari, kita bicara di ruangan saya. Ada banyak hal yang perlu kita diskusikan."
Saat mengikuti Pak Yanto menuju lift, Anita tidak bisa menahan diri untuk melirik ke arah pintu keluar, tempat Adrian menghilang beberapa saat lalu. Dia tahu, cepat atau lambat, dia harus menghadapi Adrian lagi. Tapi untuk saat ini, Anita memutuskan untuk fokus pada tujuan utamanya: mendapatkan pekerjaan di Hartono Firm.
Dengan tekad yang diperbaharui, Anita melangkah masuk ke dalam lift, siap menghadapi apapun yang menanti di depannya.
Anita menghela napas lega saat memasuki ruangan Pak Yanto. Berbeda dengan orang-orang lain yang ia temui hari ini, Pak Yanto memperlakukannya dengan baik dan penuh hormat.
"Silakan duduk, Anita," ujar Pak Yanto ramah. "Sebenarnya, Pak Hartono sudah memberitahu saya untuk langsung menerima Anda sebagai pengacara junior. Tapi, kita tetap perlu melakukan sedikit formalitas."
Anita mengangguk, merasa sedikit lebih rileks.
Setelah beberapa pertanyaan dasar, Pak Yanto terlihat penasaran. "Jika boleh tahu, ada hubungan apa Anda dengan Pak Hartono? Beliau tampaknya sangat mempercayai Anda."
"Sebenarnya, Pak," Anita tersenyum kecil, "saya baru mengenal Pak Hartono tiga hari yang lalu."
Alis Pak Yanto terangkat. "Oh? Ceritakan pada saya bagaimana Anda bisa bertemu dengannya."
Anita mulai bercerita tentang pertemuannya yang tidak terduga dengan Pak Hartono. Dia menggambarkan bagaimana dia duduk lelah di emperan toko setelah motornya mogok dan lamarannya ditolak di firma hukum lain.
"Tiba-tiba, saya melihat Pak Hartono turun dari mobilnya dengan tas berisi dokumen penting. Seorang penjambret datang dan merebut tasnya," Anita menjelaskan dengan antusias.
Dia melanjutkan ceritanya, menggambarkan bagaimana dia berhasil menghentikan penjambret dengan menghadangnya dan menduduki si pelaku dengan tubuh besarnya.
"Saya langsung memukul kepala penjambret itu dengan tas yang saya bawa," Anita tertawa kecil mengingat momen itu. "Orang-orang sekitar kemudian membantu membawa penjambret ke pos polisi terdekat."
Pak Yanto mendengarkan dengan seksama, terlihat terkesan.
"Pak Hartono sangat berterima kasih karena saya menyelamatkan dokumen pentingnya. Ketika dia tahu saya baru saja ditolak di firma hukum lain karena penampilan saya, dia langsung menyuruh saya datang ke sini dan menemui Anda," Anita mengakhiri ceritanya.
Pak Yanto mengangguk mengerti. "Cerita yang luar biasa, Anita. Saya bisa melihat mengapa Pak Hartono sangat terkesan dengan Anda."
"Jadi," lanjut Pak Yanto, "kapan Anda siap mulai bekerja di firma ini?"
Anita tersenyum lebar. "Saya bisa mulai besok, Pak."
"Bagus sekali," Pak Yanto mengangguk puas. "Datanglah besok jam 9 pagi. Temui saya di lobby, dan saya akan memperkenalkan Anda kepada tim pengacara yang lain."
Anita mengangguk antusias, merasa gembira dan bersyukur atas kesempatan ini. Namun, di sudut pikirannya, bayangan Adrian masih menghantuinya. Bagaimana dia akan menghadapi putra pemilik firma ini besok?
Sementara itu Adrian mendengus kesal, matanya masih terpaku pada noda kopi di jasnya. "Sial! Jas kesayanganku rusak gara-gara wanita gendut itu," gerutunya untuk kesekian kalinya.
Reza, sang asisten, hanya bisa menghela napas pelan. Dia sudah terbiasa dengan temperamen Adrian yang meledak-ledak. Karena Reza merupakan teman Adrian semenjak kuliah, Adrian sendiri yang meminta Reza untuk menjadi asisten pribadinya, bahkan dia melarang Reza untuk memanggil dia dengan sebutan Bapak.
"Aku akan ingat wajahnya," Adrian melanjutkan, giginya bergemeletuk menahan amarah. "Lihat saja nanti kalau ketemu lagi. Akan kubuat dia menyesal!"
Reza akhirnya memberanikan diri berbicara, "Sebenarnya, Adrian... aku sudah menyiapkan jas cadangan di bagasi."
Adrian menoleh cepat, matanya melebar. "Apa? Kenapa baru bilang sekarang?"
"Maaf," Reza tersenyum canggung. "Tapi kita akan sampai sebentar lagi. Masih ada waktu untuk ganti."
Adrian menggerutu, tapi jelas terlihat lega. Mereka berhenti di tempat parkir, dan Reza bergegas mengambil jas dari bagasi.
Saat Adrian selesai mengganti jasnya, ponselnya berdering. Nama ayahnya, Pak Hartono, muncul di layar.
"Ya, Ayah?" jawab Adrian.
Raut wajah Adrian berubah seketika saat mendengar kata-kata ayahnya. Matanya melebar, dan wajahnya memucat.
"Apa?!" serunya. "Ayah serius? Tapi bagaimana bisa—"
Adrian terdiam, mendengarkan penjelasan ayahnya. Reza memperhatikan dengan cemas, bertanya-tanya apa yang terjadi.
Setelah menutup telepon, Adrian berbalik ke arah Reza, wajahnya campuran antara shock dan amarah.
"Kau tak akan percaya ini," ujar Adrian, suaranya bergetar. "Ayah baru saja bilang... dia merekrut seorang pengacara baru. Dan kau tahu siapa?"
Reza menggeleng, mulai merasa cemas.
"Wanita gendut yang menumpahkan kopi di jasku tadi!" Adrian nyaris berteriak. "Dia akan mulai bekerja besok!"
Reza terkesiap, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sementara itu, Adrian tampak seperti akan meledak kapan saja.
"Bagaimana kamu bisa yakin kalau yang dimaksud oleh ayahmu itu adalah wanita yang menabrakmu tadi?" gumam Reza.
"Karena ayahku mengatakan ciri ciri orang itu tadi di telepon dan mengatakan kalau wanita itu akan datang pagi ini sekitar jam 10 pagi bertepatan dengan aku bertabrakan dengan wanita itu,jadi tidak mungkin orang lain. Aku yakin itu wanita yang sama , yang dimaksud oleh ayahku."Kata Adria panjang lebar.
"Tapi , bagaimana mungking ayahmu menerima orang dengan berpenampilan seperti itu, bahkan menjadi pengacara di Hartono Firm." Ucap Reza dengan bingung.
"Entahlah," Adrian menggeleng frustasi. "Tapi satu hal yang pasti, besok akan jadi hari yang sangat menarik di kantor."
Dengan itu, Adrian melangkah keluar mobil, meninggalkan Reza yang masih tercengang. Satu hal yang pasti, besok akan menjadi hari yang penuh drama di Hartono Firm.
Pagi itu, sebuah rumah sederhana dipenuhi suara nyanyian sumbang yang memekakkan telinga. Di dalam kamarnya, Dika, remaja berusia 18 tahun, menutup telinganya dengan bantal, berusaha menghalau suara kakaknya, Anita.
"Argh! Kenapa sih kak Anita harus nyanyi sepagi ini?" gerutu Dika, akhirnya menyerah dan bangun dari tempat tidurnya.
Dengan langkah gontai dan wajah masam, Dika menghampiri kamar mandi. Suara Anita masih terdengar jelas dari balik pintu, menyanyikan lagu pop yang sedang hits dengan nada yang jauh dari kata tepat.
"Kak Anita!" Dika menggedor pintu kamar mandi. "Bisa nggak sih nggak nyanyi? Berisik tau!"
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, hanya menampakkan wajah Anita yang basah dan berbusa. "Apaan sih, Dik? Ganggu orang mandi aja."
"Kakak tuh yang ganggu!, suara kakak ittu sudah kayak cicak kegencet pintu," protes Dika. "Aku kan mau tidur sampai siang. Mumpung hari ini masih libur tau!"
Anita nyengir jahil. "Enak aja kamu, suara bagus gini kamu bilang kayak cicak. Kakak lagi happy nih, hari ini mau nyanyi sepuasnya!"
"Ih, Kak! Please deh, stop nyanyi ya?" Dika memohon dengan wajah memelas.
"Nggak mau," Anita menjulurkan lidahnya. "Weekk!"
"Kak Anita!" Dika mulai kesal. "Ayolah, kasihan telingaku, nanti genderang telingaku bisa pecah gara gara dengar suara cempreng kakak!"
Anita tertawa. "Oke, oke. Gimana kalau kakak nyanyinya pelan-pelan aja? Deal?"
Dika menghela napas panjang. "Ya udah deh, yang penting nggak sekenceng tadi."
"Sip!" Anita mengangguk. "Tapi awas ya kalau protes lagi."
"Iya, iya," Dika mengiyakan dengan malas. "Pokoknya jangan kenceng-kenceng."
Saat Anita menutup pintu kamar mandi, Dika bisa mendengar kakaknya mulai bernyanyi lagi, kali ini dengan suara yang lebih pelan. Meski masih sumbang, setidaknya tidak separah tadi.
Dika kembali ke kamarnya, menggelengkan kepala. "Dasar Kak Anita. Seneng banget sih kayaknya. Ada apa ya?"
Tanpa Dika sadari, senyum Anita di balik pintu kamar mandi semakin lebar. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Hartono Firm, dan dia tidak sabar untuk memulai petualangan barunya.
Pagi itu, aroma nasi goreng memenuhi ruang makan keluarga sederhana itu. Dika, dengan rambut acak-acakan khas orang baru bangun, sudah duduk di meja, menyendok nasi goreng ke mulutnya dengan mata setengah terpejam.
Anita muncul dari kamarnya, senyum lebar menghiasi wajahnya. "Pagi, keluarga tersayang!" serunya riang, membuat Dika tersedak.
"Uhuk! Astaga, Kak," Dika terbatuk-batuk. "Bisa nggak sih nggak bikin kaget?"
Anita terkekeh, mengambil tempat di seberang adiknya. "Maaf, Dik. Soalnya kakak lagi happy nih!"
"Happy karena berhasil merusak mimpi indahku?" gerutu Dika. "Padahal tadi lagi enak-enaknya pelukan sama Fuji."
Anita memutar bola matanya. "Alah, mimpi aja bangga. Kakak malah mau ketemu cowok ganteng beneran hari ini."
Dika mengangkat alisnya, mendadak tertarik. "Hah? Maksudnya?"
Belum sempat Anita menjawab, ibu mereka datang membawa sepiring nasi goreng lagi. "Ini Nita, sarapan dulu."
Mata Anita berbinar melihat hidangan di hadapannya. Tanpa basa-basi, dia langsung menyantap makanan itu dengan lahap.
"Pelan-pelan, Nita," tegur ibunya. "Nanti tersedak."
Dika menyeringai. "Bu, mending suruh Kak Nita diet deh. Tuh, badannya udah kayak Baymax."
Anita mendelik. "Enak aja! Ini namanya sintal, tau!"
"Sintal dari Hongkong," balas Dika. "Kingkong kali!"
"Sudah, sudah," ibu mereka menengahi. "Tapi Nita, Dika ada benarnya. Jaga kesehatan ya, Nak."
Anita mengangguk, mulutnya masih penuh. Setelah menelan, dia berkata, "Iya, Bu. Nanti Nita coba deh. Oh iya, Nita harus berangkat sekarang nih. Nggak mau telat di hari pertama."
Dika mengerjap. "Lho? Hari pertama apa?"
Anita berdiri, membusungkan dadanya dengan bangga. "Hari pertama kerja, dong! Di Hartono Firm, firma hukum nomor satu di Indonesia!"
Mulut Dika menganga. "Hartono Firm? Yang itu? Yang sering muncul di TV?"
"Yup!" Anita mengedipkan mata. "Makanya tadi Kakak bilang mau ketemu cowok ganteng. Anaknya bos kan cakep banget!"
Dika bersiul kagum. "Gila! Hebat juga lo, Kak. Tapi... yakin diterima? Maksudnya..." dia melirik penampilan kakaknya dari atas ke bawah.
Anita cemberut. "Heh, jangan remehkan Kakakmu ini ya! Lihat aja nanti, Kakak bakal jadi pengacara paling top di sana!"
Dengan itu, Anita menyambar tasnya dan bergegas ke pintu. "Nita berangkat ya, Bu, Dik! Doain Nita!"
Setelah Anita pergi, Dika dan ibunya bertukar pandang.
"Bu," kata Dika pelan. "Kira-kira Kak Nita bakal bertahan berapa lama ya di sana?"
Ibunya tersenyum misterius. "Kita lihat saja nanti, Nak. Kakakmu itu... punya caranya sendiri."
Sementara itu, di jalan menuju Hartono Firm, Anita menarik napas dalam-dalam. "Oke, Anita," gumamnya pada diri sendiri. "Hari ini adalah awal dari segalanya. Tunjukkan pada mereka siapa bosnya!"
Tanpa dia sadari, di Hartono Firm, Adrian sudah menunggunya dengan rencana-rencana tersendiri. Hari itu akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi keduanya.
Anita melangkah penuh percaya diri dari tempat parkir, senyum lebar menghiasi wajahnya. Blazer yang sedikit ketat dan rok pensil yang memamerkan lekuk tubuhnya membuatnya merasa siap menaklukkan dunia.
"Hari ini, Hartono Firm akan tahu siapa bos sebenarnya," gumamnya penuh tekad.
Namun, keasyikannya membayangkan kesuksesan membuatnya tidak memperhatikan sekitar. Tiba-tiba...
BRAK!
Suara benturan keras menggema di lobby, diikuti getaran kaca yang membuat semua orang menoleh. Anita, dengan hidung menempel di pintu kaca otomatis yang baru saja tertutup, mematung sejenak.
Tawa tertahan dan bisik-bisik mulai terdengar di sekitarnya.
"Haha, lihat tuh si gendut!"
"Astaga, apa dia buta?"
"Mau sok keren kali ya?"
Anita merasakan wajahnya memanas. Tapi alih-alih merasa malu, dia malah menegakkan bahunya dan tersenyum lebar.
"Selamat pagi, semuanya!" serunya riang, seolah-olah benturan tadi adalah bagian dari rencananya. "Saya Anita, pengacara baru di sini. Senang bertemu kalian semua!"
Beberapa orang terlihat tercengang dengan reaksinya, sementara yang lain masih cekikikan.
Tak peduli, Anita melangkah mantap menuju meja resepsionis. "Permisi, saya sudah ada janji dengan Pak Yanto."
Resepsionis yang berjaga hari ini kebetulan beda dengan orang yang kemarin berjaga di meja resepsionis,kali ini yang berjaga adalah seorang wanita cantik yang terlihat ramah.Si resepsionis ini, yang masih berusaha menahan tawa, mengangguk. "Oh, Anda bu Anita yang di tunggu pak Yanto itu? Pak Yanto sudah menunggu anda di—"
Tiba-tiba, suara familiar menginterupsi.
"Well, well, well. Lihat siapa yang datang."
Anita membeku. Suara itu... Dia menoleh perlahan, dan matanya bertemu dengan sepasang mata yang memancarkan kebencian.
Adrian berdiri di sana, senyum sinis menghiasi wajahnya yang tampan.
"Selamat datang di Hartono Firm," ujarnya dengan nada mengancam. "Aku sudah menunggumu.Akan ku buat kau menyesal karena sudah berani membuat masalah denganku."
Anita menelan ludah. Hari pertamanya baru saja dimulai, dan sepertinya, ini akan menjadi hari yang sangat, sangat panjang.