"Ki, kamu sudah pembagian kelas?" Fanny, wanita paruh baya yang merupakan mama dari seorang gadis cantik berponi yang sedang menikmati nasi goreng di tempat duduknya bertanya mengenai perkembangan di sekolah. Kianna sendiri hanya mengangguk untuk menyawab pertanyaan mamanya karena mulutnya tengah mengunyah.
"Jadi, kamu masuk kelas apa? IPA atau IPS?" Kianna mengunyah nasi goreng dan menelan dengan hati-hati sebelum menjawab pertanyaan dari papanya.
"XI IPA 1, Pa. Di forum sekolah, nama Kianna masuk daftar kelas itu." Andi, papa Kianna mengacungkan jempol ke arah anak gadisnya dengan wajah semringah. Pria paruh baya itu merasa senang karena anaknya berhasil masuk dalam salah satu kelas unggulan di sekolah. Hal itu membuktikan jika usaha keras Kianna fokus belajar berhasil.
"Belajar yang bener. Kamu boleh pacaran—asal pacaran sehat. Pacar kamu bisa jadi motivasi kamu buat terus rajin belajar. Satu lagi—kalau punya pacar, kenali sama papa dan mama." Papa Andi memberikan nasihat pada anak gadis yang kini sudah remaja. Kianna sendiri hanya tersenyum mendengar nasihat dari orang tuanya.
Kianna merasa sangat beruntung kedua orang tuanya memiliki pemikiran terbuka dan tidak otoriter. Papa dan mama Kianna merupakan contoh orang tua yang sangat bersahabat dengan anak-anaknya. Kedua orang tua itu tidak hanya memberikan kebebasan pada Kianna, tetapi mereka juga memberikan kebebasan pada Kinno, abang Kianna yang kini sedang berkuliah di luar kota.
*****
Kianna Augustephi, bungsu dari dua bersaudara. Kianna memiliki seorang kakak tertua bernama Kinno Augusteven yang sedang mengenyam pendidikan kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di daerah Yogyakarta semester enam. Kianna sendiri kini bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas swasta favorit yaitu SMA Jaya Bangsa dan baru saja resmi menjadi murid kelas XI (Sebelas).
Kianna di sekolah bukanlah murid populer layaknya gadis remaja di sebuah FTV atau novel. Kianna hanya seorang siswi pada umumnya. Tidak terlalu pintar, tetapi ia selalu mendapatkan peringkat sepuluh besar selama di sekolah. Teman satu sekolahnya cukup mengenal Kianna karena gadis itu sangat pendiam alias irit bicara. Kianna lebih suka menghabiskan waktu sendirian bersama dengan novel dan juga earphone dibanding bergosip. Gadis itu hanya akan berbaur dengan teman-temannya ketika ada tugas berkelompok. Kianna berkulit putih bersih, bermata sipit, pipi cukup chubby, ciri khasnya adalah poni yang tidak pernah memperlihatkan dahinya. Kianna merupakan gadis cantik perpaduan Indonesia dan Thailand.
Kianna memiliki rahasia yang ia simpan begitu rapat sehingga tidak ada satu pun orang yang tahu, kecuali dirinya sendiri. Bahkan keluarganya pun tidak tahu tentang rahasia Kianna. Rahasia yang tidak tahu kapan akan Kianna bongkar atau dibongkar oleh orang lain. Kianna berharap bisa terus merahasiakan sampai dirinya benar-benar siap.
Gawai Kianna yang berada di atas meja bergetar. Di layar, muncul nama pemanggil dan juga foto seseorang yang cukup tampan.
-MyK❤-
Kianna tampak antusias menggeser tombol hijau pada gawainya.
"Hallo. Kangen yah, pagi-pagi udah telpon Kia?" sapa gadis cantik itu dengan suara riang dan nada menggoda. Mendengar sapaan Kianna yang tidak biasanya, baik papa Andi dan mama Fanny mengerutkan dahi penuh rasa penasaran pada si penelepon itu.
"Siapa, Ki?" Mama Fanny bertanya tanpa suara dan hanya menggunakan gerakan bibir yang sangat mudah dipahami oleh Kianna.
Dengan mencebikkan bibir dan sedikit menggerutu Kianna merespon balasan dari lawan bicaranya di telepon itu. "Huh, apaan deh. Ya udah, tunggu sebentar." Kianna menyodorkan gawainya pada papa Andi.
Papa Andi menerima gawai tersebut dan mulai mendengarkan suara di seberang sana.
"Kinno yah?" tanya mama Fanny pada Kianna.
Kianna hanya mengangguk. "Siapa lagi yang kalo bukan—abang. Abang tadi nyoba nelpon ke hp papa, tapi katanya gak aktif." Kianna memberikan penjelasan pada mamanya secara singkat dan ringkas.
"Oalah—abang. Kirain pacar kamu." Mama Fanny menjawil ujung dagu Kianna dan menggoda anak gadisnya itu dengan alis naik turun. Kianna sendiri hanya bisa mengembuskan napas melihat tingkah mamanya.
"Pa, mama mau ngomong juga sama abang yah. Nanti kasih telponnya ke mama."
Kianna menyangga dagunya dengan kedua lengan yang bertaut melihat kedua orang tuanya yang berebut untuk berbicara dengan abangnya yang jauh di sana. Beberapa orang banyak yang menyangka ketika melihat nama kontak Kinno yang dibuat oleh Kianna, apalagi saat Kinno meneleponnya di sekolah. Teman-temannya sering kali menggoda Kianna jika itu adalah inisial pacar Kianna. Gadis itu ingin mengubah nama kontaknya dengan nama standar lainnya, tetapi Kinno mengancam akan memecatnya sebagai adik jika berani mengubah nama dibuat sendiri oleh Kinno di dalam hp Kianna.
******
"Kiannaa ...." jerit Andara tepat di belakang kepala Kianna sambil memeluk gadis itu kuat. Kianna sendiri hanya bisa pasrah dan bergeming.
"Ki, aku kangen banget sama kamu. Ya ampun, pokoknya aku seneng banget bisa masuk sekolah lagi." Andara tampak begitu excited mengungkapkan rasa gembiranya, sedangkan Kianna hanya memutar bola mata.
"Dara, lepas deh pelukannya. Kita kayak pasangan lesbian kalo begini terus," keluh Kianna. Andara melepaskan pelukannya pada pinggang Kianna dan mencebikkan bibir.
"Mana mungkin orang ngatain aku lesbian. Aku 'kan sudah punya pacar. Nah—kalo kamu, Ki, bisa jadi karena selalu sendirian," ejek Andara, tapi yang diejek tetap tidak berekspresi apa pun.
"Ya udah, mangkanya jangan nempel-nempel terus sama aku." Kianna melangkahkan kaki menuju papan pengumuman untuk melihat ruangan mana yang akan menjadi kelas mereka.
"Aku kesel banget, masa liburan sekolah sampe dua minggu. Gabut banget di rumah gak ada kerjaan," gerutu Andara.
"Aku malah ngarepnya, kita libur satu bulan." Andara melototkan mata mendengar celetukan Kianna.
"Astaga. Bisa membusuk kelamaan di rumah. Mana gak bisa ketemu pacar lagi—kan sedih," keluh Andara dan Kianna hanya menggeleng menanggapi ucapan sahabat karibnya itu.
Senyum samar terukir di wajah cantik Kianna saat melihat papan pengumuman. Mereka berada di kelas yang sama yaitu XI IPA 1. Kelas yang akan ditempati Kianna dan Andara berada di lantai dua dan di gedung dua. Gedung dua ini berisikan semua kelas jurusan IPA. Untuk kelas XII berada di lantai satu dan XI ada di lantai dua, sedangkan untuk jurusan IPS, mereka berada di gedung tiga, dan gedung satu dipakai untuk kelas X.
Tidak bermaksud mendiskriminasikan jurusan, hanya saja sekolah mereka telah mendapatkan persetujuan dari wali murid untuk diberlakukan seperti itu guna mempermudah para orang tua untuk mencari anak mereka, sewaktu-waktu memiliki keperluan.
Untuk sampai di kelas XI IPA 1, Kianna dan Andara harus melewati kelas XII IPA 1 yang berada sebelum tangga menuju kelas mereka. Langkah kaki Andara melambat dan secara spontan Andara meremas tangan Kianna dengan kuat sehingga Kianna terkejut bukan main dibuatnya.
"Dara! Sakit tau," keluh Kianna dengan suara sedikit meringis.
Andara seolah tidak memedulikan keluhan Kianna. Sorot mata Andara tertuju pada satu objek dan Kianna mengikuti arah pandang sahabatnya itu. Ternyata, di tangga paling bawah menuju kelas mereka sedang berkumpul kakak kelas yang cukup populer di sekolah mereka, salah satunya bernama Nada Nadira. Nada merupakan model remaja nasional, wajah cantiknya sering menghiasi cover majalah, beberapa iklan dan Nada juga merupakan salah satu selebgram terkenal yang memiliki puluhan ribu pengikut di media sosialnya. Meskipun Nada cantik dan populer, gadis itu tetap ramah kepada siapa pun. Kianna sendiri mengidolakan Nada karena kakak kelasnya itu tidak hanya cantik, tapi juga berprestasi di bidang akademis dan non akademis. Sebuah paket sempurna.
"Lihat, Ki. Kak Nada sama kak Gior!" bisik Andara.
Kianna mengunci rapat mulutnya dan tidak menampilkan ekspresi apa pun. "Mereka bener-bener perfect couple banget yah," puji Andara penuh kekaguman.
Kianna hanya bergumam pelan untuk menanggapinya, "banget!" Senyum samar terukir di wajah cantik Kianna.
"Kianna Agusepti." Suara bu Rita terdengar lantang sedang mengabsen nama-nama murid yang ada di dalam kelas XI IPA 1.
Gadis cantik berambut panjang, berwajah oriental itu mengangkat tangan kanannya. "Maaf, Bu, nama saya Kianna Augustephi, bukan Agusepti." Kianna mencoba meralat pengucapan namanya yang dilakukan oleh ibu Rita, wali kelasnya. Sontak seisi kelas terkekeh mendengar protes Kianna pada orang yang salah menyebutkan namanya, terlebih yang diprotes saat ini adalah bu Rita.
Bu Rita berdeham, suara gaduh dan kekehan sekejap mungkin menghilang menjadi kembali hening dan tenang. "Nama belakang kamu itu susah sekali disebut, anggap aja sama itu Agusepti atau Agus apalah itu. Lain kali, ibu absen, panggil nama kamu pake Kianna aja, embel-embel belakangnya gak disebutin, 'kan nama kamu gak pasaran, kayak si Ayu atau Putri."
Kianna hanya bisa menghela napas pasrah mendengar keputusan yang diucapkan oleh wali kelasnya. Keputusan ibu Rita adalah sesuatu yang mutlak yang harus dipatuhi. Andara mengelus punggung Kianna sambil cekikikan menahan ledakan tawanya.
"Orang sabar, pantatnya lebar, Ki." Andara menggoda Kianna.
*******
Hari pertama Kianna resmi menjadi murid kelas XI, dihabiskan dengan aktivitas bebas. Semua murid sekolah mereka, tidak belajar normal. Mereka hanya datang untuk absensi dan mengobrol sampai nanti bel pulang sekolah berbunyi. Kianna sendiri, tidak akan melewatkan kesempatan emas yang jarang terjadi seperti itu. Gadis cantik berponi membawa alat tempurnya berupa earphone, smartphone dan juga novel untuk menyendiri di taman belakang perpustakaan. Taman itu sudah seeperti markas khusus Kianna, selain pemandangannya cukup bagus dipenuhi berbagai bunga, di sana juga jarang sekali didatangi oleh siswa lainnya. Kebanyakan dari mereka lebih suka menghabiskan waktu di kantin.
Kianna mulai membuka lembar putih di dalam salah satu aplikasi di samartphonenya. Jari lentiknya begitu lancar mengetik di atas keyboard ponselnya. Kianna adalah seorang penulis di aplikasi online yang namanya cukup terkenal. Sudah lebih dari enam judul cerita yang Kianna tulis dan semuanya mendapatkan feedback yang cukup baik dari para pembacanya. Gadis itu memilih untuk menulis tentang kisah cinta para remaja, persahabatan dan juga keluarga. Namun, kali ini ia merasa ingin menantang dirinya sendiri untuk menuliskan kisah pribadinya dalam sebuah kisah. Cerita tentang seorang gadis SMA biasa yang secara diam-diam menaruh hati pada kakak kelasnya. Secret Admirer. Kianna ingin membagikan pengalaman kisah cintanya pada semua orang yang dikemas dalam sebuah cerita fiksi.
Tidak ada seorang pun yang tahu tentang Kianna yang menjadi seorang penulis, apalagi mengetahui nama pena yang digunakan Kianna pada dunia tulis menulis. Pengikut Kianna di aplikasi tulis baca online itu sudah puluhan ribu, jika di media sosial instagraam dengan jumlah pengikut sebanyak itu, Kianna sudah bisa menjadi selebgram populer dengan banyak endorse.
Giorgio Fernandes adalah salah satu kakak kelas Kianna yang tampangnya masuk dalam jajaran cowok ganteng dan keren peringkat paling atas di sekolah. Tidak heran jika banyak murid yang mengidolakan Gior, termasuk Kianna salah satunya. Gior merupakan kapten basket yang sering kali mengikuti kejuaraan antar sekolah. Meskipun, Gior adalah siswa berprestasi dan populer, ia sama sekali tidak sombong. Gior adalah makhluk Tuhan super ramah dengan siapa pun.
Pertemuan Kianna dan Gior pertama kali adalah ketika Kianna menginjakkan kaki ke halaman sekolah. Saat itu, Kianna yang baru pertama kali menjadi murid SMA dan tidak cukup mengenal lingkungan sekitar, berdiri mematung di halaman salah satu gedung. Gadis berponi itu bingung dengan begitu besar gedung-gedung di sana dan banyak ruangan. Kianna berinisiatif untuk memberanikan diri bertanya pada satu cowok yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Kianna pikir, cowok itu akan mengabaikan pertanyaannya atau mungkin hanya menunjukkan arah saja gedung aula yang sedang dicarinya. Akan tetapi, cowok itu tidak banyak bicara, tetapi langsung mengajak Kianna untuk mengikutinya dan mengantarnya langsung ke depan pintu aula.
Kianna segera mengucapkan terima kasih pada cowok itu karena sudah berbaik hati mengantarnya dan dibalas dengan anggukan serta senyum manis sejuta watt yang membuat hati Kianna mendadak kesetrum cinta pandangan pertama. Impossible? But, it's true. Mulai dari hari itu, Kianna secara diam-diam mencari tahu sosok cowok yang baik hati bersedia membantunya serta pemilik senyum manis yang sulit ia lupakan.
******
Ketika Kianna sedang asyik dengan dunianya sendiri. Getar notifikasi pesan singkat di handphone membuatnya menoleh dan membacanya.
Kia, kamu di mana sih? Bete nih. Kantin yuk. Aku tunggu di kelas yah.
Kianna segera merapikan semua barang bawaannya untuk segera kembali ke kelasnya. Tidak biasanya Andara mencari dan mengajaknya ke kantin. Biasanya, sahabatnya itu menghabiskan waktu dengan Ridwan, kakak kelas sekaligus wakil ketua OSIS dan juga pacar Andara. Karena alasan itu, Kianna lebih suka menyendiri dibanding mengganggu kesenangan sahabatnya.
Aku tunggu di perpustakaan, Dar.
Kianna membalas pesan Andara dan berjalan menuju perpustakaan yang tidak jauh dari tempatnya saat ini bersembunyi. Gadis berponi itu menyandarkan tubuhnya di salah satu pilar gedung perpustakaan. Dari tempatnya berdiri, Kianna bisa dengan bebas menikmati indahnya makhluk ciptaan Tuhan.
Gior sedang berlari sambil mendrible bola basket untuk di lemparkan ke dalam keranjang. Cowok itu tampak berkeringat dan begitu antusias dalam menghalau lawan mainnya. Di pinggir lapangan, para siswi berkumpul meneriakkan nama Gior. Kianna sendiri hanya berdiri tanpa ekspresi, menutupi perasaan yang sebenarnya agar tidak ada satu orang pun yang curiga padanya.
Pundak kanan Kianna ditepuk pelan membuat gadis itu menoleh. "Kantin yuk!" Andara melingkarkan tangannya pada lengan Kianna dengan ekspresi wajah dibuat seimut mungkin. Mereka berjalan bersisian menuju kantin.
"Tumben gak sama kak Ridwan?" tanya Kianna sambil mengaduk es milo di depannya. Andara menghela napas sembari menyangga dagu dengan kedua telapak tangannya.
"Kak Ridwan lagi rapat OSIS, mangkanya aku dianggurin," keluh gadis berambut panjang itu dan Kianna hanya mengangguk menanggapi.
"Eh, Ki. Lo udah denger gosip belom? Katanya kak Gior sama kak Nada itu pacaran loh. Gila! Perfect couple banget yah," bisik Andara antusias.
"Selera kak Gior emang gak kaleng-kaleng. Aku tuh udah ngeshipperin mereka dari dulu. Kak Gior itu baik, ramah, ganteng banget. Kalo kak Nada sendiri, cantik, gak sombong, apa adanya banget. Astaga! Aku jadi baper sendiri ngebayangi mereka pacaran," gumam Andara.
Kianna hanya tersenyum kecil mendengar gumaman Andara. Mengangguk membenarkan semua ucapan sahabat baiknya itu. Kianna ikut bahagia mendengar berita itu meskipun belum dikonfirmasi langsung dengan yang bersangkutan, tapi melihat kedekatan mereka, tanpa dijelaskan semua orang tahu yang terjadi. Bagi Kianna mengagumi dan menyukai Gior dari kejauhan saja sudah cukup, tanpa perlu memilikinya.
Suasana kantin mendadak riuh ketika Gior, Nada dan juga teman lainnya masuk ke kantin. Mereka semua duduk tidak jauh dari tempat Kianna dan Andara. Andara tiba-tiba mencengkeram kuat lengan Kianna membuat gadis yang sedang membaca novel itu menoleh sambil meringis kesakitan.
"Dara, sakit," keluh Kianna sambil menepuk cekalan Andara. Seolah menulikan telinga, Andara malah mengirimkan Kianna kode agar gadis itu menoleh ke arah kanan tempat duduknya. Pandangan Kianna mengikuti isyarat Andara dan di sana ia menemukan kedekatan antara Gior dan Nada.
Terlihat Gior menyodorkan segelas jus jeruk dan batagor pada Nada. Pemandangan manis itu segera membuat riuh sorak-sorai sekeliling mereka. Tidak sampai adegan manis Gior pada Nada, kini malah sebaliknya, Nada memberikan handuk kecil pada Gior.
"Baju lo basah semua. Mandi keringet begini. Lo bawa baju ganti gak? Bau banget, sumpah!" kata Nada penuh perhatian. Gior tampak mengangguk sambil mengelap peluh yang membanjiri wajah dan lehernya.
"Biar bau begini, tapi lo tetep suka deket-deket kan?" goda Gior. Lagi-lagi siulan terdengar begitu ramai diberikan oleh teman-temannya untuk menggoda pasangan itu.
Kianna hanya menunduk, tersenyum kecil. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa iri dan sedih, tetapi ia meyakinkan diri agar ikut bahagia ketika orang yang disukainya merasa bahagia.
"Uh, so sweet banget sih mereka," puji Andara.
Saat keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, dan suara bising kantin yang menggoda keromantisan Gior dan Nada, tiba-tiba suara berat menyapa Andara dan juga Kianna membuat keduanya menatap sumber suara.
"Boleh gabung 'kan?" tanya kak Ridwan membuat Andara mengangguk antusias.
Ridwan tidak datang sendirian, di sampingnya ada seorang cowok bertubuh tinggi, memiliki kulit cokelat terang bernama Lutfi, sahabat Ridwan yang juga anggota OSIS. Andara dan Ridwan sibuk bercerita berdua, sedangkan Kianna kembali lagi fokus pada novel yang ia bawa.
"Kamu suka baca novel ya?" tanya Lutfi mencoba mencari topik pembicaraan pada Kianna.
Kianna mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Lutfi sambil mengangguk kecil.
"Hmm, iya, Kak," jawab Kianna begitu singkat.
"Novel apa yang kamu suka? Maksudnya genre apa?" Lutfi mulai mengorek informasi tentang Kianna.
"Banyak, salah satunya tema remaja, Kak." Kianna hanya menjawab seperlunya.
Andara pernah bercerita pada Kianna jika Lutfi memiliki perasaan padanya. Namun, Kianna mencoba terlihat biasa saja menanggapinya. Di mata Kianna, Lutfi adalah sosok kakak kelas yang baik, cukup berprestasi dan juga populer karena ia memiliki band di sekolah ini.
"Kamu nanti pulang sama siapa?" Belum sempat Kianna membuka mulut untuk menjawab, suara teriakan menggoda Lutfi menyela. Teriakan yang berasal dari anggota Gior's Squad.
"Usaha terus, Lutfi! Pepet terus sampe berhasil!"
Gior dan Nada tertawa bersama teman-temannya yang lain, sedangkan Kianna hanya diam menunduk malu.
"Anjrit! Berisik lo pada!" Lutfi membalas dengan lemparan pipet.
"Tiati, Dek! Kak Lutfi itu garang, dia sejenis sama kucing garong!" ledek Nada.
"Mentang lo, udah jadian sama Gior, songong lo ya, Nad! Berani lo ngatai gue!" Ejekan Lutfi dibalas dengan juluran lidah oleh Nada.
"Kak Lutfi, maaf yah, Kianna permisi ke kelas duluan." Kianna berdiri sambil membereskan barang bawaannya membuat Andara melongo kebingungan.
"Kia, mau ke mana?" tanya Andara.
"Kelas, Dar. Permisi semuanya!" Saat Kianna berdiri dan melangkah menuju pintu keluar kantin, matanya tidak sengaja bersirobok dengan Gior. Kianna hanya mengangguk tanpa tersenyum, seolah memberi isyarat permisi pada semua kakak kelas yang ia lewati.
Lutfi memandang punggung Kianna yang mulai menghilang dari pandangannya. "Gara-gara lo semua, doi jadi cabut!" keluh Lutfi pada teman-temannya.
"Lo sih, grasak grusuk. Gak bisa sabaran dikit, ngadepin cewek kalem, pendiem modelan itu," ejek Ridwan.
"Usaha lagi yang keras, Bro!" ucap Gior sambil menepuk punggung Lutfi dan ikut membubarkan diri dari kantin menuju kelas mereka.
'Huh! Semangat, Lutfi!' Lutfi menyemangati dirinya sendiri.
*****
Siapa bilang menulis kisah sendiri itu mudah? Semua itu tidak berlaku bagi Kianna. Bagi gadis cantik berponi itu, menulis kisah percintaannya sendiri jauh lebih sulit ketimbang mengarang kisah fiksi. Seperti saat ini, sepuluh menit sudah berlalu, Kianna hanya memandangi layar laptopnya. Ia bingung harus memulai dari mana ceritanya. Namun, kilasan tentang bagaimana awal pertemuannya dengan Gior dan ia merasakan Love at the first sight muncul begitu saja di dalam pikirannya. Kedua sudut bibir Kianna tertarik ke atas bersamaan, ia sendiri tersipu malu saat kembali mengingat betapa baik dan ramahnya seorang Giorgio Fernandes padanya.
Kini, sudah genap satu tahun berlalu dan Kianna masih berhasil menyembunyikan perasaannya pada Gior dengan sangat baik dan rapi. Tidak ada yang mencurigainya satu pun karena Kianna tidak pernah bersikap mencolok di depan Gior, bahkan gadis cantik itu lebih memilih untuk menghindari Gior ketika mereka akan berpapasan atau berdekatan.
Kianna hanya berani memandang wajah tampan Gior dari kejauhan. Jikalaupun, mereka harus bertegur sapa satu sama lain, Kianna hanya akan melakukan hal formal layaknya adik kelas yang menghormati kakak kelasnya. Kianna tidak pernah bersikap overacting, tidak juga sibuk mencari perhatian dari orang lain, terutama Gior. Kianna selalu bersikap normal.
Baru tiga chapter cerita yang dipublikasikan Kianna di akun menulis onlinenya dan cukup mengejutkan jika ceritanya mendapatkan komentar yang cukup banyak. Kianna membuka satu per satu komentar yang ada di bab tersebut dan ia terkejut ketika mendapati akun Nada turut hadir di sana. Namun, Kianna yakin, Nada tidak tahu identitas penulis yang ia baca ceritanya. Untuk fakta satu itu, Kianna bisa bernapas lega.
Pekerjaan Kianna selama hampir satu tahun belakang ini adalah menguntit akun media sosial milik kakak kelasnya, Giorgio dan juga Nada. Pasangan fenomenal yang cukup terkenal di sekolahannya. Seperti saat ini, jempol Kianna begitu piawai menggulir akun Nada. Di dalam postingan feed instagramm Nada, Kianna tidak menemukan satu pun wajah Gior terselip di sana. Kemungkinan yang paling beralasan adalah Nada tidak ingin memublikasikan hubungannya dengan Gior, mereka hanya ingin orang-orang satu sekolah saja yang tahu mengenai kedekatan mereka. Akan tetapi, di dalam instastory Nada, yang berisikan kegiatan kesehariannya dan beberapa endorse, beberapa kali terselip kebersamaannya dengan Gior. Begitu pula di instastory Gior, banyak momen yang dibagikan cowok itu di sana bersama Nada dan juga teman-teman kelasnya. Nada dan Gior tampak begitu serasi satu sama lain dan satu sekolah menyetujui fakta itu karena sulit terbantahkan termasuk, Kianna sendiri.
Gadis cantik berponi depan itu membuka kembali akun instagraam miliknya. Matanya membulat terkejut ketika melihat salah satu postingan Lutfi. Entah mengapa, Kianna begitu yakin jika foto yang diposting Lutfi adalah dirinya tampak belakang. Lutfi pasti telah memotret dirinya secara diam-diam dari belakang saat sedang di perpustakaan.
Kianna tidak marah, hanya saja ia merasa risih. Kianna sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun pada Lutfi. Gadis itu belum mau membuka hati untuk orang lain. Kianna masih ingin menikmati hari-harinya sebagai pengagum rahasia seorang Giorgio Fernandes.
Kianna kembali ke laptopnya dan menuliskan kalimat penutup part sebelum ia memublikasikan ceritanya.
- Mencintai tidak harus memiliki, karena yang memiliki pun belum tentu mencintai
*****
Kianna berjalan sendirian dengan memasang earphone dan novel di tangannya. Di tangga paling bawah terlihat Gior sedang duduk menatap fokus layar ponselnya. Wajah serius dan dahi mengkerut Gior membuat Kianna terpesona, tapi sekuat mungkin gadis itu menjaga ekspresi. Kianna melewati Gior sambil sedikit menunduk sopan.
"Eh, bentar!" Kianna menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Gior. Jantung Kianna berdebar begitu kuat, ia takut Gior bisa mendengar detakannya. Gadis itu mencengkeram erat novel untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Iya, Kak?" Gior memperhatikan Kianna dari atas sampai bawah, lantas Kianna ikut melakukan hal yang sama, tapi dengan ekspresi bingung.
"Lo ikut ekskul cheerleaders ya?" tanya Gior dan Kianna menjawab dengan gelengan.
"Jadi, lo ikut ekskul apa?" Gior menyandar di dinding sambil memperhatikan ekspresi Kianna.
"Untuk sekarang, saya gak ikut ekskul, Kak," jawab Kianna. Gior menggeleng tak percaya, "masa iya, lo gak ikut ekskul?" Kianna hanya mengangguk.
"Saya permisi dulu, Kak, mau ke kelas," pamit Kianna. Baru saja ingin melangkah, tetapi langkahnya harus urung kembali lantaran suara Gior menginterupsi Kianna lagi.
"Nama lo--Kianna?" tanya Gior dan Kianna mengangguk tanpa ragu.
"Oke!" Gior kembali fokus ke ponselnya. Kianna menatap Gior penuh kebingungan, tetapi hanya sebentar, gadis cantik itu kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
******
"Ki, kak Lutfi itu suka sama kamu." Andara memulai ceritanya.
"Dia bilang, kamu dingin banget. Gak pernah ngerespon chat dia, terus kalo ngomong juga seperlunya aja, padahal dia udah mati-matian cari bahan cerita,"
"Kamu gak mau apa, kasih kesempatan buat kak Lutfi? Dia itu baik loh, Ki, tajir, anak band pula. Kalo masalah tampang, kayaknya gak perlu dikhawatirin. Dia juga ganteng," ucap Andara panjang lebar.
"Kamu mau cowok yang gimana sih, Ki?" tanya Andara penasaran.
"Kayak Kak Gior!" batin Kianna.
"Kianna! Jawab kek, malah diem aja." Andara berpura-pura merajuk dan Kianna hanya tersenyum menanggapinya.
"Errrr, emang susah punya temen kayak tembok! Diajak ngomong malah diem aja. Bomat deh, biar kak Lutfi aja ntar yang nanyai kamu," keluh Andara dan Kianna tetap fokus pada bacaannya.
*****
Batagor dan es teh menjadi pilihan Kianna saat di kantin. Kianna dan Andara lebih memilih duduk di pojok yang jarang peminatnya. Hampir setengah batagor telah dihabiskan Kianna sambil mendengarkan cerita dari mulut Andara. Andara tiba-tiba menghentikan ceritanya saat kedua bola mata memandang pasangan yang cukup fenomenal di sekolahnya itu.
Gior dan Nada bergandengan tangan masuk ke kantin membuat semua pusat perhatian ke arah mereka berdua. Kianna melirik sekilas dan menundukkan pandangannya. Tiba-tiba dirinya merasakan sesak di dada. Nafsu makannya menghilang begitu saja. Ia benci harus mengakui kalo dirinya merasa cemburu. Akan tetapi, Kianna cepat-cepat mengatur ekspresinya agar tetap datar seperti biasanya.
"So sweet banget! Aku sama kak Ridwan aja kalah," ujar Andara.
Gior's Squad dan juga Nada memilih untuk duduk di sebelah Kianna dan Andara. Kianna seperti sedang uji nyali, melihat kebersamaan orang yang disukai bersama dengan pasangannya.
"Nad, lo baca novel online juga ya?" Terdengar suara kak Santi, salah satu sahabat Nada bertanya sambil melihat ponsel Nada.
"Iya. Ternyata nyenengi juga ya, baca cerita di sana. Gue baru tau. Lo baca juga, San?" Nada bertanya balik pada Santi.
"Iya," jawab Santi, "gue kemarin baru follow akun PanggilakuKey, tulisan dia bagus-bagus semua!" Ucapan Nada membuat Kianna sulit menelan batagor yang tengah dikunyahnya.
"Seru banget, ngerumpi apaan sih?" Gior datang dengan membawa semangkuk bakso dan es jeruk untuk Nada, yang tak luput dari pandangan Kianna
"Ngomongi masalah aplikasi novel online. By the way, lo gak makan, Gi?" tanya Nada terlihat heran.
"Pengen batagor, tapi udah abis. Gue jadi males makan," jawab Gior santai.
"Kayak orang ngidam aja lo, Gi. Gak ada batagor, jadi gak nafsu makan!" ledek temannya yang lain.
Kianna menatap batagor di piringnya, dan berpikir "Kalo aja, aku yang jadi pacarnya kak Gior, mungkin dia mau bagi dua batagor punya aku!" Kianna segera menepis pikiran konyol yang tak masuk akal itu.
"Ki, bisa minta waktunya bentar. Aku mau ngomong sama kamu?" Tiba-tiba Lutfi datang dan ingin berbicara pada Kianna. Andara memberi isyarat pada Kianna agar setuju, dan Gior's Squad beserta Nada ikut memperhatikan interaksi Kianna dan Lutfi.
Lagi-lagi mata Kianna bersirobok dengan sepasang mata Gior. Namun, tidak ada interaksi di antara keduanya. Kianna mengangguk dan mengikuti langkah kaki Lutfi. Keduanya berhenti di belakang laboratorium Kimia. Lutfi terlihat gugup sambil mengatur napas, sedangkan Kianna hanya diam berdiri memperhatikan gelagat Lutfi di depannya.
"Kia, beberapa waktu terakhir ini, sejak kamu masih kelas X, aku selalu perhatiin kamu, termasuk sampai sekarang. Aku pengen kenal kamu lebih dekat, pengen tau tentang kamu lebih banyak. Aku berharap punya kesempatan untuk itu," ucap Lutfi dengan tegas dan lugas.
"Kamu mau gak, kasih aku kesempatan buat kenal lebih dekat sama kamu?" tanya Lutfi to the point pada Kianna.
Kianna menarik napas panjang, berpikir sejenak mencari kalimat apa yang pantas dan sopan untuk ia katakan pada Lutfi. Kianna tidak ingin menyakiti Lutfi, tetapi tidak ingin juga memberikan harapan palsu pada Lutfi.
"Sebelumnya Kianna mau ngucapin terima kasih untuk perhatian Kak Lutfi ke Kia. Kia senang bisa kenal Kak Lutfi. Kalo Kak Lutfi pengen kenal Kia lebih jauh sebatas teman, Kia mengizinkan, tapi kalo yang kakak maksud berhubungan jadi pacar, maaf Kak Lutfi, Kianna gak bisa." Mungkin ini ucapan terpanjang Kianna selama bersekolah pada orang lain.
"Kianna minta maaf, Kia sudah nyakiti hati kakak. Tapi, inilah keputusan Kia. Kia harap kakak gak ngebenci Kia setelah ini," sambung Kianna.
Lutfi mengusap wajahnya dan tersenyum, meskipun senyum terpaksa menurut pengelihatan Kianna. "Tapi kamu mau 'kan, kalo kita jadi kakak adek?" Kianna mengangguk sambil tersenyum.
"Ki, jangan berubah ya, setelah aku ngungkapin perasaan ini. Meskipun hasilnya gak seperti harapan aku, tapi aku bahagia kamu mau jujur, gak ngasih harapan palsu. Gimana pun, aku sudah terlanjur sayang sama kamu," ucap Lutfi dan Kianna lagi-lagi hanya tersenyum seadanya.
"Bentar lagi bel, kamu masuk kelas gih. Pulang sekolah nanti bareng aku yah, sebagai awalan kita jadi teman," kata Lutfi.
Kianna mengacungkan jempol tanda setuju. "Kia permisi ke kelas dulu ya kak."
Kianna melangkah kembali menuju kelas. Hatinya cukup lega karena sudah memberikan jawaban yang menurutnya paling tepat. Ia kembali teringat dengan quote yang semalam ditulis di dalam ceritanya.
- Mencintai tidak harus memiliki, karena yang memiliki pun belum tentu mencintai -
*****
Jangan menjalani hubungan hanya karena terpaksa,
karena akhirnya hanya akan mendatangkan penyesalan
*****