Tiba-tiba, hujan turun begitu saja. Jendela kamar Alana terbuka lebar, karena ditiup angin kencang. Sisa-sisa air hujan masuk lewat ventilasi kamarnya. Alana yang tertidur pulas di belakang pintu terbangun akibat tetesan yang terkena wajahnya. Perlahan ia membuka matanya, ia dapat melihat jendelanya yang lupa ia tutup itu masih terbuka.
Kemudian, ia bangun dari lantai dan melangkah menuju jendela. Lalu, ia tutup jendela kamar dan berbalik menuju pintu balkon yang tertutup. Dapat ia lihat, bahwa di teras balkon sana sudah dipenuhi dengan derasnya air hujan.
Alana kembali melangkahkan kakinya, membuka pelan pintu balkon dan mencoba untuk keluar. Setelah di luar, ia kembali menutup pintu balkon itu dari luar dan berbalik. Berjalan menuju pembatas balkon dan menengadahkan tangannya agar ia dapat merasakan tetesan air hujan tersebut.
Kepalanya ia dongakkan keatas, melihat langit yang sudah mulai gelap, awan yang hitam, dan hujan deras yang turun.
Alana mengukir senyum di bibirnya. “Indah bukan, Allah begitu baik sama Alana. Ia menurunkan hujan, sama halnya ia mengetahui bahwa perasaan Alana sedang tidak baik-baik saja,” tuturnya.
'Pip, pip,'
Bunyi klakson membuat Alana kaget. Ia menoleh cepat, melihat ke sumber suara. Dan yah, di bawah sana mobil papanya baru saja memasuki pekarangan rumah.
“Papa, pulang?” tanyanya pada diri sendiri.
Hari ini, papanya pulang dari luar kota tempatnya bekerja. Alana merasa akan ada hal yang tidak diinginkan. Lain sisi, ia merasa ikut senang papanya kembali ke rumahnya. Tetapi, di sisi lain ia merasa sesuatu akan terjadi padanya.
“Ah, tidak!” Alana membuang jauh-jauh pikirannya itu. Ia berharap tidak akan ada hal yang lebih buruk setelah ini.
‘Brak’
Suara pintu kamarnya terdengar jelas di telinganya. Dengan cepat, Alana membalikkan badannya dan melihat. Ternyata, papanya sudah berada di ambang pintu kamar Alana. Alana yang masih di balkon itu pun membuka pintu, kemudian menghampiri sang papa.
“Kenapa, Pa?” tanyanya di depan papanya.
'Plak'
Satu tamparan lolos begitu saja mengenai pipi Alana. Panas? Udah pasti. Alana memegang pipinya kaget, kemudian menoleh menatap sang papa.
“KAMU INI, TIDAK TAHU DIRI. BUKANNYA BERTERIMA KASIH SAMA KAKAK KAMU, MALAH SEMAKIN NGELUNJAK. APA PERINTAH SAYA KETIKA MAU KE LUAR KOTA? APA KAMU PIKUN HAH?” marah sang papa padanya.
Iya, Alana diberi amanah untuk belajar bersama sang kakak. Tetapi, kalian pasti tau bukan? bukannya ia yang mengerjakan tugas sang kakak? Terus, maksud dari belajarnya itu bagaimana?
“Pa, tapi ... ”
“Gausah banyak alasan kamu! Lusa kamu sudah masuk kuliah, awas aja kamu bikin saya malu!” peringat sang papa.
Alana yang hendak berbicara kembali, menjadi bungkam. Karena, papanya sudah berlalu dari hadapannya begitu saja.
Alana memegang pipinya yang masih perih akibat bekas tamparan dari papanya. Rasanya sangat sakit. Berarti, apa yang Alana pikirkan benar terjadi. Buktinya, sekarang ia mengalaminya lagi.
Alana melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, kemudian menutupnya. Ia berbalik, dan berjalan ke tempat tidur. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, lalu menatap langit-langit kamarnya. Tak terasa, air matanya perlahan menetes.
“Serumit inikah?” tanyanya.
Alana memejamkan matanya perlahan, menikmati semua yang ia rasakan. Membayangkan, bagaimana rasanya ia ketika bahagia. Oh, ini sangat tidak memungkinkan.
“ALAANAAAAA!!” tiba-tiba suara teriakan dari luar membuat Alana kaget.
Alana membuka matanya, kemudian duduk. Menghela nafas pelan, dan menghapus air matanya. “Apalagi ini?” tuturnya pelan.
Alana langsung turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya, mencari dimana sumber suara tersebut. Dan yah, di bawah sana. Tepatnya, di ruang tamu sudah ada keluarganya. Ada sang mama, papa, dan juga Alena. Alana pun menghampiri mereka.
Tepat di samping sofa yang diduduki Alena. “Kenapa, Kak?” tanyanya.
Alena langsung menarik kasar tangan Alana, hingga jatuh dan duduk di sofa sebelahnya.
“Alana, Alena, malam ini Papa ada pertemuan dengan rekan kerja Papa. Dan Papa harap, kalian berdua tidak membuat Papa malu di hadapan mereka. Terutama kamu, Alana!” jelas sang papa.
Alana yang mendengar namanya diucap mengangkat kepalanya, menatap sang papa. “Iya, Pa.” jawabnya.
“Jam berapa, Pa?” tanya Alena pada papanya.
“Jam 8 malam.” jawab sang papa.
'Drtt, drtt,’
Bunyi HP papanya membuyarkan lamunan mereka. Papanya yang menyadarinya langsung mengambil hp tersebut dari saku celananya, kemudian menatap layar hp itu.
Papanya mengangkat kepala kemudian berujar, “Papa angkat telpon dulu dari rekan kerja, penting!” katanya.
Alena, Alana, dan sang mama hanya mengangguk mengiyakan sang papa. Lalu, sang mama menatap Alena.
“Yaudah, Alena ayo bantu Mama nyiapin baju buat nanti malam yuk!” ajak mama pada Alena.
Alana yang mendengarnya ikut menjawab, “Alana ngga ikut, Ma?” tanyanya.
Alena dan mamanya menatap Alena sinis. “Udah gede kan? Yaudah mandiri!” ujar sang mama. Alena hanya ikut tersenyum puas.
Alana menatap punggung keduanya yang berlalu dari hadapannya. Kenapa rasanya perih? Tak terbayang begini rasanya diperlakukan seperti ini oleh Ibu kandungnya sendiri. Alana memegang dadanya, sakit sekali!
“Alana, your strong! Don't down. Its oke?” ujarnya.
Perlahan ia berdiri dan berlalu dari ruang tamu itu, menuju kamarnya.
Alana menutup pintu kamar, berjalan menuju cermin rias dan duduk di depannya. Menatap dirinya sendiri. “Apa salah Alana? Ada apa dengan diri Alana? Kenapa Alana terus diginiin?” tanyanya pada diri sendiri.
“Nanti malam, Alana pake apa ya?” pikirnya. Kemudian, berdiri dan menuju lemari pakaian yang ada di kamarnya itu. Membukanya, kemudian melihat pakaian mana yang cocok untuk ia pakai malam ini. Matanya tertuju pada sebuah gaun cokelat cream itu. Gaun dibawah lutut dengan sedikit ditambahin kesan gold nya, lengan panjang, dan juga dapat menutupi lehernya itu menarik perhatian Alana untuk menggunakannya.
“Tunggu, ini gaun dari siapa ya?” tanyanya seraya berpikir.
Gaun ini sepertinya pernah ia gunakan untuk acara pernikahan sepupunya, dan waktu itu ada seseorang yang memberikannya gaun ini.
Alana mencoba mengingat. Dan, “Ah, ini dari Ryan,” ujarnya.
Ya, Rifaldo Aldryan. Mamanya Ryan, dan papa nya Alana adalah adik kakak. Yang berarti, Alana dan Ryan adalah sepupu.
Alana tersenyum melihat gaun tersebut, mengingat malam itu kembali.
Flashback on
Malam pernikahan Dea, kakaknya Ryan.
Alana masih berumur 16 tahun, dan Ryan masih berumur 18 tahun. Usia keduanya tidak terlalu jauh. Pada malam itu, Alana bingung harus memakai baju apa di acara resepsi pernikahan kakaknya Ryan. Sedangkan, Alena dan mamanya saja tidak peduli akan dirinya. Akhirnya, Alana memutuskan untuk tidak mengikuti saja.
Hingga, pada malam itu Alana hanya duduk di kamarnya.
'Tok, tok,’
Bunyi suara pintu membuatnya tersadar. Alana mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya, malam ini semua keluarganya bukannya sudah pergi ke acara. Lalu, siapa yang datang ke kamarnya sekarang. Alana berpikir, apakah itu bi Lia? Tetapi, bi Lia sudah pulang sejak sore tadi karena disuruh sang mama.
“Siapa?” tanya Alana tanpa ingin membuka pintu tersebut.
“Ini aku.” jawab orang itu.
Alana melorotkan matanya tak percaya, ia langsung melompat dari atas tempat tidur dan berlari membuka pintu.
“Kamu ngapain kesini?” tanyanya pada orang di depannya itu.
Ryan hanya menyengir, tanpa dosa ia menjulurkan starbuck berisi pakaian. Justru hal tersebut membuat Alana heran. “Apaan ini?” tanyanya.
“Buka lah! Yaudah, aku tunggu di bawah,” ucapnya kemudian pergi dari hadapan Alana. Alana menatap punggung Ryan yang berlalu, kemudian menatap bag yang diberikan.
Tak butuh waktu lama, Alana sudah siap. Alana mendekat pada cermin dan menatap dirinya. Memutar badannya dan tersenyum. “Udah, kan?” tanyanya pada diri sendiri.
Karena teringat Ryan menunggunya di bawah, Alana langsung mengambil tas kecilnya dan berjalan keluar kamar.
Ryan yang masih duduk menoleh menatap Alana yang menuruni anak tangga. “Alana?” lirihnya pelan. Alana malam ini sangat cantik. Gaun yang ia gunakan dari Ryan, rambut panjangnya yang ia buka dan memberikan sedikit gelombang pada ujungnya, sepatu hak yang tidak terlalu tinggi, dan juga make up wajahnya yang tidak terlalu menonjol. Sempurna!
“Ini Alana?” tanya Ryan, saat Alana sudah berada di hadapannya.
Alana tersenyum malu, “Apaan, sih!” ucapnya malu.
“Cantik banget, Al. Sumpah, aku ga boong!” tuturnya, kemudian menunjukkan dua jari pada Alana.
Alana langsung memukul pelan bahu Ryan. “Ishh, udah jangan becanda,” ucapnya.
“Lah, siapa yang becanda. Orang beneran!” ucap Ryan lagi.
“Yaudah, ayo berangkat!” lanjutnya.
“Ayo!” jawab Alana.
Keduanya pun meninggalkan rumah, kemudian menuju tempat dimana resepsi pernikahan kakaknya berlangsung.
Flashback on
“Hmm, Ryan kemana ya sekarang?” tanya Alana bingung.
Alana meletakkan kembali gaun itu, lalu berjalan menuju tempat tidurnya. Mencari HPnya, dan mencari sesuatu di HP itu. Kemudian, ia meletakkan HP itu di telinganya.
Tak butuh waktu lama ia menunggu, “Hallo?” ucapnya.
[“Iya, hallo?”] ucap orang di seberang sana.
“Ini Ryan, kan?” tanyanya.
[“Ah, iya. Ini siapa, ya?”] tanya Ryan.
“Kamu ga kenal sama aku?” tanya Alana tanpa menjawab pertanyaan Ryan.
[“Ngga tau, kamu siapa?”] tanyanya balik.
“Aku Alana,” ucap Alana.
Terdengar suara tawa dari seberang telepon.
Hal tersebut membuat Alana mengerutkan keningnya bingung, kemudian menatap layar teleponnya, memastikan tidak salah nomor atau ini orang yang salah?
[“Al, apa kabar? Udah lama ngga ada kabar!”] tutur Ryan.
Alana memutar matanya malas. “Aku kira kamu kesurupan,” jedanya, “Aku Alhamdulillah. Kamu, gimana?” lanjutnya.
[“Yakali Al, masa aku kesurupan. Haha ... Oh iya, aku juga Alhamdulillah,”] jawab Ryan.
“Kamu disana baik-baik aja ya, kan?” tanya Alana. Ia memastikan bahwa Ryan yang berada di negara orang baik-baik saja.
[“Iya, Al. Disini lumayanlah, bisa mandiri. Kamu ayo kuliah disini aja!”] ajak Ryan.
Alana menarik senyum tipisnya. “Ngga mungkin, Yan. Aku ngga sepinter kamu,” ucapnya.
[“Jangan gitu, Alana yang aku kenal ngga pernah ngerasa rendah. Alana yang aku kenal itu pasti berjuang, apapun keadaannya. Iya, kan?”] jelasnya.
Alana tersenyum lebar, mendengar penuturan Ryan. “Makasih, Yan. Kamu doang orang yang masih peduli sama aku.” ucap Alana pelan, tapi masih terdengar oleh Ryan.
[“Ets, sepupu aku ga boleh sedih. Tetap senyum, okee!”] ucapnya lagi.
Alana merasakan, bagaimana rasanya bahagia oleh orang yang masih peduli dan sayang sama dia. Inilah rasanya, ia beruntung memiliki Ryan. Ya, walaupun Ryan bukan darah dagingnya. Tetapi, Ryanlah orang kedua setelah bi Lia yang Alana jadikan rumah kedua untuk pulang.
[“Woe, Alana kamu ngga ngilang kan?”] teriak Ryan membuyarkan lamunan Alana.
Alana tertawa pelan. “Hihi, ngga Ryan. Aku disini.” jawabnya.
Terdengar suara hembusan nafas dari seberang. [“Aku kira, kamu ilang loh!”] ucap Ryan.
[“Eh iya, Al aku punya cerita nih. Kemarin kan, aku libur kan. Nah, aku lagi jalan-jalan di taman. Terus kamu tau ga?”] tanya Ryan.
Alana yang penasaran langsung menjawab, “Apa? Ngga tau!” jawabnya.
[“Ada cewe, cantik banget. Dia nyamperin aku terus bilang gini, hai Kakak ganteng boleh minta nomor teleponnya? Terus aku tanya balik, buat apa ya? Dia bilang, cuma mau kenal. Kata aku gimana coba, Al?”] tanyanya lagi.
“Apa coba?” tanya Alana penasaran.
[“Gini, maaf ya tapi aku udah ada pacar. Terus, aku tunjukkin foto kamu Al. Dia langsung kaya sedih gitu coba, kaya abis di tolak. Hahah ... ”] jelasnya.
Alana memanyunkan bibirnya. “Iiihh, kenapa foto akuu?” tanyanya tak terima.
[“Soalnya kamu lebih cantik dari dia, jadi yaudahlah aku tunjukkin aja. Lagian aku ngga mau deket sama cewe manapun, kecuali kamu!”] tuturnya.
Alana melototkan matanya. “Ryan, kamu gila? Cuma aku, ya kamu tuh harus punya cewe juga ya Allah,” ucap Alana heran dengan saudaranya ini.
[“Ngga ada yang menarik!”] jawabnya.
Alana menghembuskan nafas pasrah. “Terserah, terserah kamu. Kapan kamu balik kesini?” tanya Alana.
[“Eumm, bulan Mei aku balik Al. Tunggu aku, ya?”] katanya.
“Okee, aku tunggu. Lusa, aku udah masuk kuliah Yan,” ucap Alana.
Tidak terdengar suara lagi dari seberang sana, justru membuat Alana bingung. Ia mengecek layar HP, tapi layar HPnya masih terhubung.
“Halo? Ryan?” panggil Alana.
[“Ah, iya Al. Yaudah kalo gitu, nanti belajar yang bener ya. Tunggu aku pulang, jangan bandel di kampus baru kamu. Ingat! Kalo ada masalah telpon aja. Yaudah, kalo gitu aku tutup dulu ya mau nugas, hehe ... ”] jelas Ryan.
Alana merasa ada sesuatu yang Ryan sembunyikan. Tetapi, apa? Ah sudahlah, hanya pikiran Alana saja kali.
“Yaudah, Yan jaga kesehatan ya. Assalamualaikum,” ucap Alana.
[“Waalaikumsalam.”] jawabnya.
‘Tiitt, titt,’
Penggilan diputuskan secara sepihak.
Alana meletakkan kembali HPnya di atas kasur. Menatap jam beker di atas nakasnya, menunjukkan pukul 5 sore. Alana kemudian memilih untuk keluar ke balkonnya. Ia menutup pintu balkon dan berdiri di samping pembatas balkon.
Menatap langit sore yang mulai memerah, dan matahari yang akan tenggelam di sana. Baru saja tadi siang hujan, sekarang cuacanya kembali berubah menjadi panas, tanpa membawa bekas air hujan yang turun tadi kini semuanya telah kering dan tidak tersisa.
“Sama halnya seperti seseorang. Kadang, ia berada di posisi teratas dan benar-benar membuatnya merasa paling bahagia. Dan kadang juga, ia berada jauh di bawah karena benar-benar tak sanggup untuk bangkit. Maka dari itu, jadilah di tengah-tengahnya. Merasa bahagia, dan juga merasa sedih. Tapi, tak pernah ada pikiran untuk mau menyerah.” jelas Alana.
Ia menarik bibirnya perlahan, menerbitkan senyuman manisnya dan berujar, “Alana kuat, Alana ngga boleh lemah. Alana harus siap dalam hal apapun. Mau itu hal yang benar-benar bikin Alana jatuh, atau hal yang akan membuat Alana bahagia. Keep strong, and keep smile. Wherever and whenever!” ujarnya.
'Allahu Akbar, Allahu Akbar ... ‘
“Alhamdulillah,” ucap Alana, ketika mendengar suara adzan telah dikumandangkan. Alana langsung menutup pintu balkon, hordennya tidak lupa, dan juga menutup jendela kamarnya. Ia melangkah ke kamar mandi, kemudian mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat maghrib.
Tak butuh waktu lama, Alana keluar dari kamar mandi dengan wajah yang dipenuhi tetesan air. Ia berjalan ke arah nakas dan membukanya. Mengeluarkan mukena, sajadah, tasbih, dan alat sholat lainnya kemudian mencari arah Kiblat dan melaksanakan sholat.
5 menit berlangsung, Alana melaksanakan sholat.
Setelah itu, ia berdzikir kemudian mengangkat tangannya.
Air matanya mulai menetes. “Ya Allah, Alana mohon. Tunjukkan jalan lurus untuk Alana. Alana tau, Allah tak akan memberikan cobaan diatas kemampuan Alana. Tapi, Alana mohon. Bantulah Alana! Kuatkan Alana! Dan jadikan Alana wanita yang tak mudah lemah. Alana tau, ini cobaan yang Engkau berikan kepada Alana. Tapi, Ya, Allah. Hanya engkaulah Alana meminta pertolongan, dan kepada engkaulah Alana akan kembali. Aamiin ... ” ucap Alana di dalam doanya.
Setelah mengusap wajahnya, Alana semakin mengeluarkan tangisnya. Rasanya benar-benar sakit, ketika mengeluh seperti ini kepada Tuhan. Tetapi, Alana hanya ingin semuanya menjadi ringan. Karena, setiap ia menceritakan keluh kesahnya, Tuhan selalu menjadi pendengar yang baik dan selalu membuat Alana menjadi tak terbebani setelah itu.
Alana memejamkan matanya, dan merasakan perlahan. Sedikit, demi sedikit semuanya hilang. Semuanya menjadi ringan.
Setelah itu, ia membuka mukenanya dan melipatnya. Lalu meletakkan kembali dengan rapih di nakas.
“Assalamualaikum, Non Alana?” panggil seseorang dari balik pintu kamarnya.
Alana yang mendengar, bergegas menuju pintu. Dibukanya pintu tersebut, ternyata bi Lia sudah berdiri di hadapannya.
“Ada yang bisa Alana bantu, Bi?” tanyanya.
Bi Lia menggeleng. “Tidak Non. Bibi mau ngasih tau Non Alana, kalo Tuan, Nyonya, dan Non Alena sudah berangkat lebih awal.” jelas sang bibi.
“Udah duluan?” tanya Alana menyakinkan.
Bi Lia mengangguk cepat. “Iya Non.” jawabnya.
“Oh, yaudah gapapa kok Bi. Bibi kan tau, Alana sudah terbiasa.” ucapnya.
“Bibi tau, Non. Tapi, tadi kata tuan Non Alana harus sudah sampai jam 8 tepat disana. Lalu, Non Alana juga harus pesan taxi secepatnya, Non. Bibi juga kaget, sekarang udah jam setengah 8 lewat. Tapi, Non saja masih disini. Gimana, Non?” jelas bibi
Alana tersenyum menanggapi sang bibi. “Udah, Bibi ngga usah khawatir. Abis ini, Alana langsung siap-siap kok. Terus berangkat, semoga Alana sampe tepat waktu ya, Bi.” ucapnya yakin, lalu memegang kedua bahu sang bibi dan mengusapnya.
Bi Lia membalas senyuman Alana. “Yaudah, ayo Non siap-siap!” perintahnya.
Alana mengangguk kemudian melepaskan tangannya. “Yaudah, Alana siap-siap ya Bi.” Ucap Alana.
Bi Lia mengangguk, kemudian berujar, “Yaudah, kalo gitu Bibi pulang duluan ya Non. Non, hati-hati di jalan. Semoga sampe tujuan dengan selamat, yah.” jelasnya.
Alana mengangguk. “Iya, Bi.” jawabnya.
Bi Lia pamit dan meninggalkan Alana di tempatnya. Setelah melihat bi Lia hilang dari pandangannya, Alana langsung masuk kembali ke kamarnya dan bersiap-siap.
Alana mengganti bajunya dengan gaun yang sudah ia pilih. Tidak lupa, polesan make up natural di wajahnya. Dan juga, rambutnya yang ia cepol satu, dengan meninggalkan beberapa helai anak rambut di sampingnya membuat ia terlihat lebih cantik.
Hanya 10 menit, Alana menghabiskan waktunya untuk bersiap-siap. Setelah merasa dirinya sudah siap, Alana mengambil tas kecilnya, diisinya dengan dompet dan juga hpnya. Kemudian, mengambil sepatu jelasnya yang tak terlalu tinggi di rak, ia pakai untuk malam ini.
Saat melihat jam yang terpampang jelas di kamarnya, kini sudah menunjukkan pukul 19:48. Alana langsung bergegas, dan meninggalkan kamarnya yang lupa untuk ia tutup.
Setelah sampai di pekarangan, ia dapat melihat taxi yang tadi ia pesan sewaktu bersiap-siap telah tiba di depan rumahnya.
Langsung saja, Alana memasuki taxi tersebut dan menyuruh Supirnya untuk cepat. Jangan tanyakan alamatnya. Karena, tadi saat siap-siap ada pesan masuk dari Alena yang menunjukkan di mana tempat pertemuan papanya tersebut.
Tepat pukul, 19:56. Alana tiba di depan sebuah hotel bintang lima. Tak lupa ia membayar taxi, kemudian turun.
Alana memandangi hotel tersebut. “Kok, hotel?” gumamnya.
Tak ingin berlama-lama dan membuang waktunya, Alana langsung saja memasuki hotel tersebut. Menyalakan gps dan mencocokkan dengan kepunyaan papanya. Dan benar saja, Alana mengikuti titik di mana sang papa berada.
Lift demi lift, ruangan demi ruangan, semuanya telah Alana lewati. Dan kini, titik yang ia temui adalah di sebuah ruangan yang tertutup. Pintunya terbuka lebar, sepertinya ini adalah sebuah aula. Akhirnya, Alana memasuki ruangan tersebut. Saat sampai di dalamnya, ia melihat banyak tamu undangan dimana-mana.
Alana mencari di mana keluarganya berada. Dan, ketemu.
Keluarganya sedang duduk di kursi yang tersedia di sana, dan di depan mereka ada beberapa orang yang tidak ia kenali. Mungkin saja, itu rekan papanya.
Mau tak mau, Alana melangkahkan kakinya menuju tempat tersebut. “Permisi.” ucapnya sopan.
“Eh iyaa.” jawab seorang wanita paruh baya, yang tak terlalu jauh dari usia mamanya.
“Ini, Alana?” tanyanya kembali.
Alana bingung di tempat. “Ah iya, itu Alana Bu. Dia memang suka terlambat, jadi maaf.” ujar sang papa.
Alana merasa sedikit bersalah, apa memang dia terlambat? Tetapi, ia juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Kenapa, masih saja disalahkan?
“Ngga apa-apa. Mungkin, dia dandan yang cantik dulu baru kesini. Ya, kan Alana?” tanya wanita itu padanya.
Alana menjawabnya dengan senyumannya saja, ia tak tahu harus menjawab apa lagi. Takutnya, ketika berbicara ia akan disalahkan lagi.
“Yaudah, sini sayang duduk samping Tante.” ajak wanita itu.
Alana langsung menatap sang papa dan mamanya. Karena, tak ada jawaban dan juga ekspresi wajahnya juga tidak ingin menjawab, akhirnya Alana memutuskan untuk duduk di samping wanita itu.
“Alana udah gede aja, ya?” tanya wanita itu.
“Iya, Tante.” jawab Alana pelan.
“Kamu tau Tante, ngga?” tanya wanita itu lagi.
Alana berpikir. Tetapi, ia tidak ingat siapa wanita ini. “Alana...”
“Mama? Rifal kan udah bilang, Rifal ngga mau dateng.” potong seorang tiba-tiba dari belakang Alana.
Alana berbalik. Dan, “Rifal?” ucap Alana kaget.
Tidak kalah kagetnya, Rifal juga melototkan matanya melihat Alana. “Loh, Alana? Lo kok bisa ada disini?” bingungnya.
“Aduh, tadi dateng ngomel-ngomel kaya apa tau, pas liat Alana malah kaya orang linglung. Sini duduk!” titah Mamanya Rifal, menyuruhnya duduk tepat di sebelah Alana.
Alana yang melihat itu pun, langsung saja beralih menatap Alena yang duduk di hadapannya. Wajahnya menunjukkan kemurkaan terhadap Alana. Sepertinya, Alana akan dimarahi oleh Alena karena hal ini.
“Lo, apa kabar?” tanya Rifal.
Alana merasa tidak enak terhadap Alena, yang masih melihatnya tak suka.
“Alhamdulillah, aku baik.” jawabnya.
Rifal mengangguk-anggukan kepalanya, “Oh iya, lo kuliah dimana?” tanyanya lagi.
“Insya Allah, di Universitas Pancasila.” jawab Alana.
“Udah ih, Rifal kamu dari tadi nanya-nanya mulu. Udah ayo, kita mulai makan malamnya saja, ya?” tanya sang Mama kepada semuanya.
“Oh, iya Bu boleh.” Jawab papanya Alana.
Nino Adriansyah. Papanya Alana, dan juga Alena. Memiliki kerja sama dengan banyak perusahaan di Jakarta. Salah satunya, dengan keluarganya Rifal. Nino adalah Ayah yang tegas, dan juga menyikapi anaknya untuk mandiri. Kadang, ia baik dan juga jahat untuk keduanya. Tetapi, sekarang semuanya sudah tergantung kemampuan anaknya.
Ia lebih menomor satukan Alena, daripada Alana. Karena, prestasi Alana yang meningkat dan selalu berada di urutan teratas membuatnya bisa menjadi terkenal dan selalu dikenal dimana pun.
Sedangkan, Alena selalu ia salahkan dalam hal sepele apapun itu. Karena, baginya Alana adalah anak yang tidak bisa seperti Alena. Padahal, nilai dan semua yang Alena dapatkan itu berasal dari Alana. Tetapi, tak akan ada satu pun yang percaya akan hal itu.
Alena Faeyza Kirei, saudari pertama sekaligus kakaknya Alana. Gadis yang tidak mau kalah dari adiknya. Gadis yang angkuh dan sombong. Selalu merasa paling tinggi dari adiknya. Apa pun yang Alana dapat, ia yang seharusnya mendapatkan itu. Apa yang Alana suka, itu juga termasuk kesukaan Alena. Alena menginginkan semua yang dimiliki Alana, apa pun itu.
“Al, mau jalan sama gue ngga?” tanya Rifal pada Alana.
Kini, mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.
Alana kembali menatap Alena. “Ah, gue disini aja Fal.” Jawabnya.
“Sama gue aja yuk, Fal!” ajak Alena tiba-tiba.
Alana dan Rifal menatap Alena. Rifal menoleh menatap Alana.
Alana yang mnmenyadarinya, pura-pura membuang muka.
“Yaudah, yuk Na. Alana, beneran ngga mau ikut?” tanya Rifal lagi.
Alana tersenyum dan mengangguk. “Iya.” Jawabnya.
Akhirnya, Alena dan Rifal meninggalkan Alana dan juga kedua keluarganya di meja ini.
Alana merasa bosan, hanya duduk dan mendengar pembicaraan bisnis di antara kedua keluarga. Alana lalu berpikir, bagaimana caranya ia biar tidak bosan seperti ini. Dan, yah...
“Ah, Tante, Om, Pa, Ma, Alana pamit ke toilet ya?” pamit Alana kepada mereka.
“Oh, iya Alana boleh.” jawab Mama dan Papanya Rifal bersamaan. Kalau mau tanya, bagaimana pendapat mama dan papanya sendiri. Ya, jelas pasti tau jawabannya. Mereka, jelas sudah tidak peduli.
Alana kemudian berdiri dan meninggalkan meja itu, pergi ke belakang. Bukan untuk ke toilet, ia malah berjalan menuju kebun bunga yang berada jauh dari taman.
Alana mencari tempat yang nyaman untuk ia duduki. Menoleh sekitarnya, sepi. Hanya itu, yang ia rasakan sekarang. Akhirnya, matanya tertuju pada sebuah tempat duduk yang tersedia. Ia langsung berlari, menghampiri tempat duduk itu dan duduk di sana.
Alana menyilangkan tangannya di kedua bahunya, menikmati udara malam alami dari kebun bunga ini. “Rasanya nyaman banget.” ujarnya.
Tiba-tiba, ada tangan yang menutupi matanya. Hal tersebut sontak, membuat Alana kaget.
Alana memegang tangan tersebut, berusaha melepaskan. “Siapa, kamu?” tanyanya.
“Coba tebak, aku siapa?” tanya orang itu balik. Eh, ini seperti suara laki-laki. Tetapi, ini siapa? Kalo Rifal? Bukannya sedang bersama Alena.
Lalu?
“Jawab atau aku teriak? Kamu siapa?” ancam Alana.
Tawa laki-laki itu oecah di belakang Alana. “Masa ngga kenal sama aku?” tanyanya.
Perlahan tangannya di lepas, dan membuat Alana berdiri cepat dan membalikkan badannya. Ternyata?