Bab 1

Alana Septiani Putri, gadis yang kini usianya beranjak dewasa. Di setiap harinya, ia harus menguatkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa. Bukan karena apa. Tetapi, memang harusnya seperti itu sebelum ia mendapatkan hal yang tidak diinginkan. Misalnya, dijatuhkan berkali-kali oleh keluarganya sendiri, atau diperlakukan seenaknya oleh keluarganya.

Gadis yang biasanya dipanggil Al, atau Alana ini, adalah gadis cantik yang memiliki wajah yang nyaris sempurna. Dilihat dari kulitnya yang putih, tubuh yang tingginya berkisar 165 cm, tidak terlihat kurus, juga tidak terlihat gemuk. Sangat pas, dengan dirinya. Hidung mancungnya, bibir tipisnya, bulu mata lentiknya, dan juga bola matanya yang indah.

Alana tipe cewek yang pendiam. Akan tetapi, ia memiliki sifat yang ramah kepada semua orang. Misalnya kepada orang tua, ia akan membantu ketika melihat orang tua yang kesusahan dimanapun ia menjumpainya. Atau, kepada orang-orang yang ia jumpai di jalan. Pastinya, ia akan memberikan senyuman dan sapaan kepada orang tersebut.

Alana memang bukan anak yang pintar, atau sangat berbakat dalam hal prestasi. Ia hanyalah gadis biasa saja. Mampu mengikuti, mampu melakukan, mampu berfikir, dan bisa semua itu.Akan tetapi, hanya secukupnya saja. Padahal, ia bisa. Tetapi, ia tidak ingin merasa sombong karena prestasi. Biarkan itu menjadi bakat yang ia pendam.

“Alana, bisa ngga sih. Lo itu, kerjaannya yang bener? Bantu mikir doang, kok susah banget sih!” gerutu sang kakak. Alana yang masih duduk di depan sang kakak, dengan mengerjakan beberapa lembar jawaban kakaknya itu, hanya memandang dan terus berfikir keras untuk mencari jawaban.

“Maaf Kak,” ujarnya.

Yup, kini Alana sedang duduk di ruang tamu bersama sang kakak. Mengerjakan tugas sang kakak adalah kebiasaan Alana setiap harinya setelah ia lulus dari SMA. Padahal, ia saja belum masuk ke perguruan tinggi. Walaupun, sebentar lagi ia akan masuk. Tetapi pikirkan saja coba, kakaknya sudah duduk di semester dua bangku kuliah. Dan bahkan, Alana saja belum masuk satu semester pun sudah disuruh mengerjakan tugasnya.

Sang kakak berdecih. “Segitu aja ga bisa. Bodoh banget sih jadi orang!” cetus sang kakak kasar kepadanya.

Alana hanya bisa pasrah. Apapun yang ia dengar, apapun yang ia terima, apapun yang ia lihat, semuanya emang harus ia terima mau bagaimanapun, itu adalah jalan satu-satunya dia masih dianggap anak oleh keluarganya.

“Ini ada apa sih, dari tadi teriak-teriak terus. Mama sampai ga fokus sama urusan Mama.” ucap sang mama yang tiba-tiba datang dari kamarnya.

Alana dan Alena menoleh menatap kedatangan sang mama. “Tuh, liat Mah. Alana masa dari tadi suruh ngerjain itu aja, masa ga bisa!” adu Alena pada mamanya.

Sang mama menoleh menatap Alana sinis. Melangkahkan kakinya menuju tempat Alana duduk dan menarik kasar lengan Alana berdiri secara terpaksa.

“Aww, Mah. Sakiiitt!” jerit Alana ketika merasakan sakit di lengannya.

Sang mama terus menarik Alana berjalan mengikutinya. Menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamar di ujung, tak lain kamar Alana sendiri. Sang mama membuka pintu, dan menguncinya. Kemudian, menghempaskan tubuh Alana ke lantai dengan kasar.

“Awww!” jeritnya.

Sang mama berdiri angkuh dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, melihat Alana yang berada di bawah lantai.

“KAMU, JADI ANAK KOK BODOH BANGET SIH! PAPA KAMU TUH NYARI UANG BUAT KAMU, ITU TUH BIAR KAMU BISA JADI ANAK PINTER. BISA NGGA SIH, GA USAH MALU-MALUIN KELUARGA SAYA? KAMU, KELUARGA SAYA BUKAN? HAH?” bentak sang mama di depan Alana.

Alana hanya bisa menunduk. Sakit? Yah, sudah pasti. Fisiknya yang berkali-kali disakiti, dan juga batinnya yang terus-terusan tersiksa. Beginilah hidupnya. Kadang, ia mengharapkan papanya yang selalu ada untuknya dan memberikan semangat. Tetapi, akan ada tanggapan negatif dari sang mama, dan kakaknya yang membuatnya tidak bisa berbicara atau membantah. Karena memang, inilah yang sudah terjadi. Mau dibantah pun, sama saja ia akan memulai perkara baru lagi. Dan lebih, lebih, menyakitkan bukan?

Alana hanya menunggu waktu yang pas dan tepat. Khususnya, dimana ia akan melihat keluarganya benar-benar menginginkan kehadirannya. Tetapi, mungkin sekarang bukan dan belum waktunya saja. Apa ia harus terus tetap sabar menghadapi dan menguatkan dirinya, untuk selalu menerima perlakuan di hidupnya.

“BANGUN KAMU!” perintah sang mama.

Alana ingin menangis. Tetapi, ia terus menahannya. Ia menundukkan kepalanya, dan terus duduk di hadapan mamanya.

“KAMU TULI? HAH?” bentak sang mama lagi yang baru disadari Alana.

Alana yang kaget mendengarnya langsung berdiri. Walaupun tubuhnya tidak kuat untuk berdiri, ia paksakan untuk bisa. Karena, tidak untuk dirinya menunjukkan kelemahan di depan sang mama.

“Buruan turun, lalu masak!” titah sang mama. Kemudian berbalik, dan membuka pintu kamar juga membantingnya secara kasar.

Alana hanya memegang dadanya, rasanya benar-benar nyeri. Ia memandang pintu tersebut, dan menundukkan kepalanya kembali, meremas dadanya kuat, dan tak terasa air matanya lolos begitu saja.

“Sakiiiittt Mah.” ucapnya lirih.

“ALAANAAAAA BURUAAAANNN, GUE UDAH LAPAAAR GAUSAH LELET YAAA JADI ORANG!” teriak Alena dari bawah masuk sampai ke pendengaran Alana.

Alana yang menyadarinya, langsung mengusap air matanya dan menghembuskan nafasnya pelan. “Alana, you can! Don't down!! Its, okee.” ucapnya, kemudian berjalan keluar dan menutup pintu kamar.

Bukan hal yang mudah bagi Alana melewati ini semua. Kadang, ia sudah berusaha sebaik mungkin apakah ia bisa jadi seorang anak yang seperti diinginkan oleh orang tuanya. Tetapi, hari demi hari bukan semakin baik, tapi sebaliknya. Dulu, papanya Alana adalah orang yang paling percaya dengan Alana. Karena, Alana adalah anak yang paling baik, ceria, rajin dan selalu dinomorsatukan oleh sang papa. Tetapi, itu diselingi dengan kesibukan papanya. Dan sekarang, sulit bagi Alana untuk selalu bersama sang papa, dan mendapatkan kasih sayang papanya lagi. Tetapi, semenjak kakaknya tidak menerima Alana diperlakukan seperti itu, akhirnya ia membuat Alana menderita sekarang.

Dan, ketika Alana menjadi semakin dewasa, dunianya berubah. Karena, ia susah mendapatkan prestasi. Apapun itu, tidak pernah sama sekali. Tetapi, semua itu hanya kebohongan yang dipalsukan oleh kakaknya, yang tidak mau kalah dan harus paling utama sebelum Alana.

Kalau dibilang Alena licik. Berarti, perlu dibenarkan. Ia memang wanita licik yang tidak punya hati. Selalu iri, dan juga syirik. Kepada Alana, khususnya!

Flashback 10 tahun yang lalu,

Alana yang menginjak usia ke 8 tahun, sedangkan sang kakak yang berusia 10 tahun. Tepatnya, ketika kenaikan kelas di SD. Alana yang baru saja naik kelas 2 SD, dan kakaknya yang akan naik kelas 4 SD.

Saat itu, papanya Alana sedang berada di luar kota. Jadi, yang akan mengambil rapor kedua anak adalah sang mama.

Waktu itu, Alana sedang berada di samping kanan mamanya, dan Alena duduk di samping kiri mamanya juga. Saat pembagian rapor di kelas dua, nama Alana berada di posisi rangking pertama di kelasnya. Sedangkan, Alena berada di posisi rangking tiga di kelasnya.

Setelah selesai pembagian rapor, mereka keluar dari ruangan tersebut. Dan ternyata, berpapasan dengan beberapa ibu-ibu di luar ruangan. Ada yang anaknya kelas 3, kelas 2, dan juga kelas 4. Yah, berada di kelas yang sama dengan Alena.

“Ehh, Alena. Dapet peringkat berapa, nak?” tanya sang ibu yang putranya berada di kelas 4.

“Dapet peringkat 3, Bu.” jawab sang mama.

“Ohhh, anak saya peringkat pertama di kelas kamu, Alena.” ucap sang ibu lagi.

Alena yang mendengarkan, hanya mengerutkan dahinya.

“Oh ya, siapa anaknya Bu?” tanya mamanya Alena.

“Namanya Evan, Bu.” jawabnya.

“Ohh, anaknya pinter ya Bu?” ucap mamanya Alena lagi.

“Iya Bu, oh iya ini anak ibu juga?” tanyanya, ketika melihat Alana yang berdiri dan diam di samping sang mama.

“Iya Bu, ini yang kelas dua.” jawabnya.

“Alana ya ?” tanya ibu yang satunya.

“Iya, kok Ibu tau?” tanya mamanya Alena balik.

“Anak saya kan, kelas dua juga Bu.” ucapnya.

“Alana pinter ya, bisa dapat peringkat satu. Eh, Kakaknya malah dapat tiga. Alena, coba liat adek kamu aja bisa, masa kamu ngga!” lanjut ibu itu.

“Iya yah, Alana pinter.” sambung ibunya Evan.

“Heheh, iya Bu. Namanya juga anak-anak jadi kita gatau bisanya dimana. Biasalah, beda-beda gitu.” jawab mamanya Alana dan Alena.

Alena yang mendengar penuturan tersebut menjadi marah. Wajahnya berubah seketika. Sepertinya, ia tau bahwa mereka sama saja menjelek-jelekkan dirinya.

Alena juga menatap Alana, yang selalu senyum-senyum menanggapi penuturan ibu-ibu disitu, membuat Alena menjadi bertambah marahnya.

“Senyum terus Alana, sebelum aku buat senyummu itu ilang!” batinnya, lalu melepaskan tangannya dari sang Mama, kemudian pergi meninggalkan orang-orang disitu.

Alana yang melihat Alena pergi bingung seketika.

Flashback off

“WOY, LO GABISA MASAK YANG BENER. HAH? LIAT? MASAKANNYA JADI GOSONG, GARA-GARA LO NGELAMUN DARI TADI. BENER-BENER GA BECUS KALO KERJA LO!” bentak sang kakak.

Alana yang menyadari kedatangan sang kakak menjadi kaget, dan lebih kagetnya ia melihat telur yang ia goreng menjadi gosong.

Alana langsung mematikan kompor dan memegang tangan wajan dengan tidak sengaja, hal itu membuat ia langsung menjerit. Ia tak menyadari, kalau wajan yang ia pegang masih panas. Kenapa ia harus memegangnya.

“Aww, aww, panass!” jeritnya kesakitan.

Alena yang melihatnya langsung memutar matanya malas. “Gue nyesel ya, punya adek kaya lo. Kalo mau ngerjain sesuatu tuh, mikir! Punya otak ga sih lo?” nyolot Alena, kemudian membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Alana di dapur.

Alana hanya menatap kepergian kakaknya.

“Non, ngapain disini?” tiba-tiba sang Bibi datang dan berbicara kepada Alana.

Alana yang mengetahui hal itu, menoleh dan menatap sang bibi. Lalu, ia memberikan senyuman kepada sang bibi

“Ah, iya Bi. Alana bantuin Bibi masak, ya?” katanya.

Sang bibi yang mendengar penuturan majikannya sedikit kaget.

“Loh, Non Alana sebaiknya istirahat. Ini pekerjaan saya, biarkan saya saja yang mengerjakannya ya!” bantah sang bibi tak ingin merepotkan.

Alana yang sedang membersihkan wajan, yang baru saja ia pakai untuk membuat telur tersebut menoleh, menatap dan tersenyum tulus kepada sang bibi.

“Alana udah gede, Bi. Alana mau kok, Alana juga ga merasa ngerepotin Bibi kok. Kan, emang seharusnya Alana yang disuruh kaya gini. Gapapa ya, Bi,” ucapnya.

Sang bibi yang mengerti akan arah pembicaraan Alana, merasa tidak enak hati. Rasanya sedih, jika berada di posisi majikannya tersebut. Tak butuh waktu lama, sang bibi langsung menghamburkan pelukannya kepada Alana. Memeluk erat tubuh mungil itu, dan mengusap kepalanya dengan tulus seperti anaknya sendiri.

Alana yang merasakan pelukan hangat tersebut langsung menangis. Rasanya sesak seperti ini, inilah hal yang ia inginkan dari mereka, terutama sang papa. Tetapi apalah dayanya, Alana tak bisa membuat hal tersebut menjadi nyata.

“Sabar ya, Non. Non Alana anak kuat, Non ngga boleh menyerah semudah dan bagaimanapun keadaan Non. Ingat, ada Bibi disini yang bisa bantu Non Alana. Kapanpun itu. Oke?” tutur sang bibi.

Hal tersebut, justru membuat Alana semakin menahan tangisnya. “Kenapa sesakit ini, ya Allah!” batinya dalam hati.

Matanya ia pejamkan dan menikmati pelukan dari sang bibi. Dengan air matanya yang tak pernah henti merasakan betapa sakitnya ia menerima ini semua.

Alana mengendorkan pelukannya kembali, menatap mata sang bibi dalam. Dari Alana lahir, bahkan sampai sekarang Alana sudah dewasa hanya bibilah yang selalu menemaninya, di waktu dan di saat apapun itu. Hanya bibi, dan bibi yang selalu ia jadikan rumah keduanya untuk pulang saat ia tak dapat mengharapkan rumah lagi dari keluarganya.

Hanya bibilah, tempat bermain dan tempat mengadu Alana sewaktu ia kecil, dan sampai sekarang. Alana sampai tidak tahu, udah berapa kali ia jadikan bahu sang bibi ketika ia meneteskan air matanya. Tetapi, semua itu tak pernah dijadikan beban oleh sang bibi. Alana merasa dia sangat berhutang kepada bibinya. Bertahun-tahun lamanya, bibilah yang selalu menemaninya. Bukan disaat waktu ia bersedih saja, tapi bibilah yang selalu membuatnya bahagia. Kenapa, kenapa bibi melakukan semua itu padanya. Padahal, bibi bukan siapa-siapanya. Tetapi, rasanya sekarang adalah ia melihat sang bibi seperti darah dagingnya sendiri.

“Alana ngga apa-apa kok, Bi,” ucapnya, kemudian memberikan senyuman tulus singkat kepada sang bibi.

“Yaudah, mending Non ke atas aja ya. Nanti, biarin Bibi aja yang masak,” kata sang bibi.

Alana mengerutkan keningnya tak terima. “Eh, ngga. Alana ngga mau, ini kan juga tugas Alana. Yaudah, mending bibi sama Alana masaknya barengan. Okee!” tutur Alana.

Sang bibi langsung tersenyum, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Alana. Masih sama rasanya, dari dulu sampai sekarang. Alana, tetaplah Alana yang ia lihat. Walaupun, kini ia semakin dewasa, tak akan pernah pudar sifat, dan sikapnya yang lemah lembut itu dari dirinya.

“Yaudah, berdua aja yang masak. Ayoo!” ucap sang bibi memutuskan.

Alana dengan senang hati tersenyum. “Ayo!” ucapnya bersemangat.

Akhirnya, keduanya pun memulai kegiatannya masing-masing. Alana membantu sang bibi dengan melakukan beberapa hal yang bibinya perintahkan. Dan bibinya menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan. Semuanya dilakukan dengan baik, sampai masakan yang dibuat oleh keduanya dan pekerjaan keduanya selesai.

“Udah Non, udah selesai! Sekarang, Non Alana mandi dulu aja, siap-siap abis itu turun baru makan bareng!” perintah sang bibi.

Alana yang sedang mencuci piring menoleh. “Alana, makan bareng Bibi aja ya?” katanya.

Bibi tak terima dengan penuturan Alana. “Ngga boleh gitu toh, Non. Kan, harus makan bareng keluarga besar,” jelas sang bibi.

Alana mengukir senyumnya kecil. “Keluarga besar? Emang Alana dianggap keluarga besarnya?” tuturnya pahit.

Bibi yang melihatnya merasa tidak enak karena tahu perihal apa yang Alana rasakan. Bibi langsung mendekati Alana, kemudian mengusap pelan bahu Alana.

“Non kuat kok, jangan lemah ya! Non boleh marah, boleh merasa sakit. Tapi, Non harus tunjukkan kepada mereka, kalo Non juga manusia yang berhak untuk diperlakukan sebaiknya. Apalagi, ini keluarga Non sendiri, bukan orang lain. Jadi, Non lakuin apapun yang harusnya Non lakuin. Ingat, jangan takut sama siapapun! Ada Allah di hati Non, setiap saat.” Nasehat sang bibi.

Alana yang mendengar penjelasan sang bibi lantas tersenyum haru.

“Apa-apaan ini, kok malah senyam-senyum! Bukannya buat makanan yang bener, malah asik sendiri,” ucap sang mama yang tiba-tiba datang.

Alana dan bibi yang menyadarinya kaget melihat kedatangan sang mama. Setelah penuturan sang mama, akhirnya keduanya kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya, memang sudah selesai. Cuma, ada beberapa hal yang perlu disiapkan saja di meja makan.

“Alana, kamu panggilin Alena untuk makan!” perintah sang mama, yang sudah lebih dahulu duduk di meja makan.

Alana yang mendengarnya menoleh. “Baik, Ma.” jawabnya. Kemudian, berlalu meninggalkan dapur dan menghampiri kakaknya ke lantai dua.

Saat di depan kamar Alena, tiba-tiba pintu Alena terbuka dan menunjukkan sosoknya di depan pintu. Saat Alana baru saja ingin berbicara, “Kak, ay ...” langsung dipotong oleh Alena,“Lo bisa ngga sih, ga usah nakut-nakutin gue, dengan cara lo berdiri di depan pintu kaya gini? Untung gue ga jantungan, kalo gue jantungan lo mau tanggung jawab, hah?” tutur sang Kakak kesal, langsung berjalan dan menyenggol kasar bahu Alana.

Alana yang terdorong ke belakang, langsung berbalik menatap pundak kakaknya yang semakin jauh dari pandangannya. Ia membuang nafasnya pelan, “Serba salah ya, jadi Alana,” ucapnya, kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu dan kembali lagi ke dapur.

Saat tiba di meja makan, Alana hendak mendudukkan dirinya di bangku yang sudah tertera di sana. Yang biasanya, ia jadikan tempat duduk ketika papanya ada di rumah dan makan bersama keluarganya. Tetapi, hal itu sudah tak pernah terjadi. Kini, ia yang mencoba untuk memberanikan diri lagi, apapun hal yang akan terjadi ia akan menerimanya.

“Eehhh, kamu ngapain duduk di situ?” tiba-tiba sang mama menegurnya.

Alana yang baru akan duduk berhenti seketika dan menatap sang mama. “Emang, Alana ngga boleh duduk di sini?” tanyanya.

Alena hanya memutar matanya malas, sedangkan sang mama sudah menunjukkan aura yang berbeda. Sepertinya, ia akan marah lagi.

“Kamu pikir, kamu siapa hah? Seenaknya kamu duduk, kan saya sudah pernah bilang kalau mau makan jangan di meja makan keluarga. Kalo bisa, kamu makan sama Bi Lia di dapur sana!” ucap sang mama tak terima, yang lebih tepatnya mengusir Alana.

Alena sudah tersenyum puas di tempatnya. Alana langsung berdiri, dan mengatur kursi seperti semula serta meninggalkan tempat makan tersebut. Berjalan cepat, dan menuju kamarnya.

Alana menutup pintu kasar, menyenderkan tubuhnya di belakang pintu. Ia perlahan memejamkan matanya, kemudian menatap langit-langit kamarnya. “Ya Allah, Alana masih kuat kan?” tanyanya. “Alana harus apa? Apa Alana memang bukan terlahir dari keluarga ini?” lanjutnya lagi.

“Sakit. Ya, Allah, lebih sakit di jatuhkan oleh keluarga seperti ini, daripada dijatuhkan oleh orang lain,” keluhnya.

Perlahan tubuhnya merosot, lututnya ia peluk dan air matanya kembali menetes. Wajahnya ia benamkan pada kedua lututnya.

Suara tangisnya ia sembunyikan dibalik wajahnya. Iya, Alana cape. Alana butuh semangat, tapi dari siapa? Siapa yang bisa bantu Alana untuk pulih? Hmm, sepertinya mustahil.

Bab 2

Tiba-tiba, hujan turun begitu saja. Jendela kamar Alana terbuka lebar, karena ditiup angin kencang. Sisa-sisa air hujan masuk lewat ventilasi kamarnya. Alana yang tertidur pulas di belakang pintu terbangun akibat tetesan yang terkena wajahnya. Perlahan ia membuka matanya, ia dapat melihat jendelanya yang lupa ia tutup itu masih terbuka.

Kemudian, ia bangun dari lantai dan melangkah menuju jendela. Lalu, ia tutup jendela kamar dan berbalik menuju pintu balkon yang tertutup. Dapat ia lihat, bahwa di teras balkon sana sudah dipenuhi dengan derasnya air hujan.

Alana kembali melangkahkan kakinya, membuka pelan pintu balkon dan mencoba untuk keluar. Setelah di luar, ia kembali menutup pintu balkon itu dari luar dan berbalik. Berjalan menuju pembatas balkon dan menengadahkan tangannya agar ia dapat merasakan tetesan air hujan tersebut.

Kepalanya ia dongakkan keatas, melihat langit yang sudah mulai gelap, awan yang hitam, dan hujan deras yang turun.

Alana mengukir senyum di bibirnya. “Indah bukan, Allah begitu baik sama Alana. Ia menurunkan hujan, sama halnya ia mengetahui bahwa perasaan Alana sedang tidak baik-baik saja,” tuturnya.

'Pip, pip,'

Bunyi klakson membuat Alana kaget. Ia menoleh cepat, melihat ke sumber suara. Dan yah, di bawah sana mobil papanya baru saja memasuki pekarangan rumah.

“Papa, pulang?” tanyanya pada diri sendiri.

Hari ini, papanya pulang dari luar kota tempatnya bekerja. Alana merasa akan ada hal yang tidak diinginkan. Lain sisi, ia merasa ikut senang papanya kembali ke rumahnya. Tetapi, di sisi lain ia merasa sesuatu akan terjadi padanya.

“Ah, tidak!” Alana membuang jauh-jauh pikirannya itu. Ia berharap tidak akan ada hal yang lebih buruk setelah ini.

‘Brak’

Suara pintu kamarnya terdengar jelas di telinganya. Dengan cepat, Alana membalikkan badannya dan melihat. Ternyata, papanya sudah berada di ambang pintu kamar Alana. Alana yang masih di balkon itu pun membuka pintu, kemudian menghampiri sang papa.

“Kenapa, Pa?” tanyanya di depan papanya.

'Plak'

Satu tamparan lolos begitu saja mengenai pipi Alana. Panas? Udah pasti. Alana memegang pipinya kaget, kemudian menoleh menatap sang papa.

“KAMU INI, TIDAK TAHU DIRI. BUKANNYA BERTERIMA KASIH SAMA KAKAK KAMU, MALAH SEMAKIN NGELUNJAK. APA PERINTAH SAYA KETIKA MAU KE LUAR KOTA? APA KAMU PIKUN HAH?” marah sang papa padanya.

Iya, Alana diberi amanah untuk belajar bersama sang kakak. Tetapi, kalian pasti tau bukan? bukannya ia yang mengerjakan tugas sang kakak? Terus, maksud dari belajarnya itu bagaimana?

“Pa, tapi ... ”

“Gausah banyak alasan kamu! Lusa kamu sudah masuk kuliah, awas aja kamu bikin saya malu!” peringat sang papa.

Alana yang hendak berbicara kembali, menjadi bungkam. Karena, papanya sudah berlalu dari hadapannya begitu saja.

Alana memegang pipinya yang masih perih akibat bekas tamparan dari papanya. Rasanya sangat sakit. Berarti, apa yang Alana pikirkan benar terjadi. Buktinya, sekarang ia mengalaminya lagi.

Alana melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, kemudian menutupnya. Ia berbalik, dan berjalan ke tempat tidur. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, lalu menatap langit-langit kamarnya. Tak terasa, air matanya perlahan menetes.

“Serumit inikah?” tanyanya.

Alana memejamkan matanya perlahan, menikmati semua yang ia rasakan. Membayangkan, bagaimana rasanya ia ketika bahagia. Oh, ini sangat tidak memungkinkan.

“ALAANAAAAA!!” tiba-tiba suara teriakan dari luar membuat Alana kaget.

Alana membuka matanya, kemudian duduk. Menghela nafas pelan, dan menghapus air matanya. “Apalagi ini?” tuturnya pelan.

Alana langsung turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya, mencari dimana sumber suara tersebut. Dan yah, di bawah sana. Tepatnya, di ruang tamu sudah ada keluarganya. Ada sang mama, papa, dan juga Alena. Alana pun menghampiri mereka.

Tepat di samping sofa yang diduduki Alena. “Kenapa, Kak?” tanyanya.

Alena langsung menarik kasar tangan Alana, hingga jatuh dan duduk di sofa sebelahnya.

“Alana, Alena, malam ini Papa ada pertemuan dengan rekan kerja Papa. Dan Papa harap, kalian berdua tidak membuat Papa malu di hadapan mereka. Terutama kamu, Alana!” jelas sang papa.

Alana yang mendengar namanya diucap mengangkat kepalanya, menatap sang papa. “Iya, Pa.” jawabnya.

“Jam berapa, Pa?” tanya Alena pada papanya.

“Jam 8 malam.” jawab sang papa.

'Drtt, drtt,’

Bunyi HP papanya membuyarkan lamunan mereka. Papanya yang menyadarinya langsung mengambil hp tersebut dari saku celananya, kemudian menatap layar hp itu.

Papanya mengangkat kepala kemudian berujar, “Papa angkat telpon dulu dari rekan kerja, penting!” katanya.

Alena, Alana, dan sang mama hanya mengangguk mengiyakan sang papa. Lalu, sang mama menatap Alena.

“Yaudah, Alena ayo bantu Mama nyiapin baju buat nanti malam yuk!” ajak mama pada Alena.

Alana yang mendengarnya ikut menjawab, “Alana ngga ikut, Ma?” tanyanya.

Alena dan mamanya menatap Alena sinis. “Udah gede kan? Yaudah mandiri!” ujar sang mama. Alena hanya ikut tersenyum puas.

Alana menatap punggung keduanya yang berlalu dari hadapannya. Kenapa rasanya perih? Tak terbayang begini rasanya diperlakukan seperti ini oleh Ibu kandungnya sendiri. Alana memegang dadanya, sakit sekali!

“Alana, your strong! Don't down. Its oke?” ujarnya.

Perlahan ia berdiri dan berlalu dari ruang tamu itu, menuju kamarnya.

Alana menutup pintu kamar, berjalan menuju cermin rias dan duduk di depannya. Menatap dirinya sendiri. “Apa salah Alana? Ada apa dengan diri Alana? Kenapa Alana terus diginiin?” tanyanya pada diri sendiri.

“Nanti malam, Alana pake apa ya?” pikirnya. Kemudian, berdiri dan menuju lemari pakaian yang ada di kamarnya itu. Membukanya, kemudian melihat pakaian mana yang cocok untuk ia pakai malam ini. Matanya tertuju pada sebuah gaun cokelat cream itu. Gaun dibawah lutut dengan sedikit ditambahin kesan gold nya, lengan panjang, dan juga dapat menutupi lehernya itu menarik perhatian Alana untuk menggunakannya.

“Tunggu, ini gaun dari siapa ya?” tanyanya seraya berpikir.

Gaun ini sepertinya pernah ia gunakan untuk acara pernikahan sepupunya, dan waktu itu ada seseorang yang memberikannya gaun ini.

Alana mencoba mengingat. Dan, “Ah, ini dari Ryan,” ujarnya.

Ya, Rifaldo Aldryan. Mamanya Ryan, dan papa nya Alana adalah adik kakak. Yang berarti, Alana dan Ryan adalah sepupu.

Alana tersenyum melihat gaun tersebut, mengingat malam itu kembali.

Flashback on

Malam pernikahan Dea, kakaknya Ryan.

Alana masih berumur 16 tahun, dan Ryan masih berumur 18 tahun. Usia keduanya tidak terlalu jauh. Pada malam itu, Alana bingung harus memakai baju apa di acara resepsi pernikahan kakaknya Ryan. Sedangkan, Alena dan mamanya saja tidak peduli akan dirinya. Akhirnya, Alana memutuskan untuk tidak mengikuti saja.

Hingga, pada malam itu Alana hanya duduk di kamarnya.

'Tok, tok,’

Bunyi suara pintu membuatnya tersadar. Alana mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya, malam ini semua keluarganya bukannya sudah pergi ke acara. Lalu, siapa yang datang ke kamarnya sekarang. Alana berpikir, apakah itu bi Lia? Tetapi, bi Lia sudah pulang sejak sore tadi karena disuruh sang mama.

“Siapa?” tanya Alana tanpa ingin membuka pintu tersebut.

“Ini aku.” jawab orang itu.

Alana melorotkan matanya tak percaya, ia langsung melompat dari atas tempat tidur dan berlari membuka pintu.

“Kamu ngapain kesini?” tanyanya pada orang di depannya itu.

Ryan hanya menyengir, tanpa dosa ia menjulurkan starbuck berisi pakaian. Justru hal tersebut membuat Alana heran. “Apaan ini?” tanyanya.

“Buka lah! Yaudah, aku tunggu di bawah,” ucapnya kemudian pergi dari hadapan Alana. Alana menatap punggung Ryan yang berlalu, kemudian menatap bag yang diberikan.

Tak butuh waktu lama, Alana sudah siap. Alana mendekat pada cermin dan menatap dirinya. Memutar badannya dan tersenyum. “Udah, kan?” tanyanya pada diri sendiri.

Karena teringat Ryan menunggunya di bawah, Alana langsung mengambil tas kecilnya dan berjalan keluar kamar.

Ryan yang masih duduk menoleh menatap Alana yang menuruni anak tangga. “Alana?” lirihnya pelan. Alana malam ini sangat cantik. Gaun yang ia gunakan dari Ryan, rambut panjangnya yang ia buka dan memberikan sedikit gelombang pada ujungnya, sepatu hak yang tidak terlalu tinggi, dan juga make up wajahnya yang tidak terlalu menonjol. Sempurna!

“Ini Alana?” tanya Ryan, saat Alana sudah berada di hadapannya.

Alana tersenyum malu, “Apaan, sih!” ucapnya malu.

“Cantik banget, Al. Sumpah, aku ga boong!” tuturnya, kemudian menunjukkan dua jari pada Alana.

Alana langsung memukul pelan bahu Ryan. “Ishh, udah jangan becanda,” ucapnya.

“Lah, siapa yang becanda. Orang beneran!” ucap Ryan lagi.

“Yaudah, ayo berangkat!” lanjutnya.

“Ayo!” jawab Alana.

Keduanya pun meninggalkan rumah, kemudian menuju tempat dimana resepsi pernikahan kakaknya berlangsung.

Flashback on

“Hmm, Ryan kemana ya sekarang?” tanya Alana bingung.

Alana meletakkan kembali gaun itu, lalu berjalan menuju tempat tidurnya. Mencari HPnya, dan mencari sesuatu di HP itu. Kemudian, ia meletakkan HP itu di telinganya.

Tak butuh waktu lama ia menunggu, “Hallo?” ucapnya.

[“Iya, hallo?”] ucap orang di seberang sana.

“Ini Ryan, kan?” tanyanya.

[“Ah, iya. Ini siapa, ya?”] tanya Ryan.

“Kamu ga kenal sama aku?” tanya Alana tanpa menjawab pertanyaan Ryan.

[“Ngga tau, kamu siapa?”] tanyanya balik.

“Aku Alana,” ucap Alana.

Terdengar suara tawa dari seberang telepon.

Hal tersebut membuat Alana mengerutkan keningnya bingung, kemudian menatap layar teleponnya, memastikan tidak salah nomor atau ini orang yang salah?

[“Al, apa kabar? Udah lama ngga ada kabar!”] tutur Ryan.

Alana memutar matanya malas. “Aku kira kamu kesurupan,” jedanya, “Aku Alhamdulillah. Kamu, gimana?” lanjutnya.

[“Yakali Al, masa aku kesurupan. Haha ... Oh iya, aku juga Alhamdulillah,”] jawab Ryan.

“Kamu disana baik-baik aja ya, kan?” tanya Alana. Ia memastikan bahwa Ryan yang berada di negara orang baik-baik saja.

[“Iya, Al. Disini lumayanlah, bisa mandiri. Kamu ayo kuliah disini aja!”] ajak Ryan.

Alana menarik senyum tipisnya. “Ngga mungkin, Yan. Aku ngga sepinter kamu,” ucapnya.

[“Jangan gitu, Alana yang aku kenal ngga pernah ngerasa rendah. Alana yang aku kenal itu pasti berjuang, apapun keadaannya. Iya, kan?”] jelasnya.

Alana tersenyum lebar, mendengar penuturan Ryan. “Makasih, Yan. Kamu doang orang yang masih peduli sama aku.” ucap Alana pelan, tapi masih terdengar oleh Ryan.

[“Ets, sepupu aku ga boleh sedih. Tetap senyum, okee!”] ucapnya lagi.

Alana merasakan, bagaimana rasanya bahagia oleh orang yang masih peduli dan sayang sama dia. Inilah rasanya, ia beruntung memiliki Ryan. Ya, walaupun Ryan bukan darah dagingnya. Tetapi, Ryanlah orang kedua setelah bi Lia yang Alana jadikan rumah kedua untuk pulang.

[“Woe, Alana kamu ngga ngilang kan?”] teriak Ryan membuyarkan lamunan Alana.

Alana tertawa pelan. “Hihi, ngga Ryan. Aku disini.” jawabnya.

Terdengar suara hembusan nafas dari seberang. [“Aku kira, kamu ilang loh!”] ucap Ryan.

[“Eh iya, Al aku punya cerita nih. Kemarin kan, aku libur kan. Nah, aku lagi jalan-jalan di taman. Terus kamu tau ga?”] tanya Ryan.

Alana yang penasaran langsung menjawab, “Apa? Ngga tau!” jawabnya.

[“Ada cewe, cantik banget. Dia nyamperin aku terus bilang gini, hai Kakak ganteng boleh minta nomor teleponnya? Terus aku tanya balik, buat apa ya? Dia bilang, cuma mau kenal. Kata aku gimana coba, Al?”] tanyanya lagi.

“Apa coba?” tanya Alana penasaran.

[“Gini, maaf ya tapi aku udah ada pacar. Terus, aku tunjukkin foto kamu Al. Dia langsung kaya sedih gitu coba, kaya abis di tolak. Hahah ... ”] jelasnya.

Alana memanyunkan bibirnya. “Iiihh, kenapa foto akuu?” tanyanya tak terima.

[“Soalnya kamu lebih cantik dari dia, jadi yaudahlah aku tunjukkin aja. Lagian aku ngga mau deket sama cewe manapun, kecuali kamu!”] tuturnya.

Alana melototkan matanya. “Ryan, kamu gila? Cuma aku, ya kamu tuh harus punya cewe juga ya Allah,” ucap Alana heran dengan saudaranya ini.

[“Ngga ada yang menarik!”] jawabnya.

Alana menghembuskan nafas pasrah. “Terserah, terserah kamu. Kapan kamu balik kesini?” tanya Alana.

[“Eumm, bulan Mei aku balik Al. Tunggu aku, ya?”] katanya.

“Okee, aku tunggu. Lusa, aku udah masuk kuliah Yan,” ucap Alana.

Tidak terdengar suara lagi dari seberang sana, justru membuat Alana bingung. Ia mengecek layar HP, tapi layar HPnya masih terhubung.

“Halo? Ryan?” panggil Alana.

[“Ah, iya Al. Yaudah kalo gitu, nanti belajar yang bener ya. Tunggu aku pulang, jangan bandel di kampus baru kamu. Ingat! Kalo ada masalah telpon aja. Yaudah, kalo gitu aku tutup dulu ya mau nugas, hehe ... ”] jelas Ryan.

Alana merasa ada sesuatu yang Ryan sembunyikan. Tetapi, apa? Ah sudahlah, hanya pikiran Alana saja kali.

“Yaudah, Yan jaga kesehatan ya. Assalamualaikum,” ucap Alana.

[“Waalaikumsalam.”] jawabnya.

‘Tiitt, titt,’

Penggilan diputuskan secara sepihak.

Alana meletakkan kembali HPnya di atas kasur. Menatap jam beker di atas nakasnya, menunjukkan pukul 5 sore. Alana kemudian memilih untuk keluar ke balkonnya. Ia menutup pintu balkon dan berdiri di samping pembatas balkon.

Menatap langit sore yang mulai memerah, dan matahari yang akan tenggelam di sana. Baru saja tadi siang hujan, sekarang cuacanya kembali berubah menjadi panas, tanpa membawa bekas air hujan yang turun tadi kini semuanya telah kering dan tidak tersisa.

“Sama halnya seperti seseorang. Kadang, ia berada di posisi teratas dan benar-benar membuatnya merasa paling bahagia. Dan kadang juga, ia berada jauh di bawah karena benar-benar tak sanggup untuk bangkit. Maka dari itu, jadilah di tengah-tengahnya. Merasa bahagia, dan juga merasa sedih. Tapi, tak pernah ada pikiran untuk mau menyerah.” jelas Alana.

Ia menarik bibirnya perlahan, menerbitkan senyuman manisnya dan berujar, “Alana kuat, Alana ngga boleh lemah. Alana harus siap dalam hal apapun. Mau itu hal yang benar-benar bikin Alana jatuh, atau hal yang akan membuat Alana bahagia. Keep strong, and keep smile. Wherever and whenever!” ujarnya.

'Allahu Akbar, Allahu Akbar ... ‘

“Alhamdulillah,” ucap Alana, ketika mendengar suara adzan telah dikumandangkan. Alana langsung menutup pintu balkon, hordennya tidak lupa, dan juga menutup jendela kamarnya. Ia melangkah ke kamar mandi, kemudian mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat maghrib.

Tak butuh waktu lama, Alana keluar dari kamar mandi dengan wajah yang dipenuhi tetesan air. Ia berjalan ke arah nakas dan membukanya. Mengeluarkan mukena, sajadah, tasbih, dan alat sholat lainnya kemudian mencari arah Kiblat dan melaksanakan sholat.

5 menit berlangsung, Alana melaksanakan sholat.

Setelah itu, ia berdzikir kemudian mengangkat tangannya.

Air matanya mulai menetes. “Ya Allah, Alana mohon. Tunjukkan jalan lurus untuk Alana. Alana tau, Allah tak akan memberikan cobaan diatas kemampuan Alana. Tapi, Alana mohon. Bantulah Alana! Kuatkan Alana! Dan jadikan Alana wanita yang tak mudah lemah. Alana tau, ini cobaan yang Engkau berikan kepada Alana. Tapi, Ya, Allah. Hanya engkaulah Alana meminta pertolongan, dan kepada engkaulah Alana akan kembali. Aamiin ... ” ucap Alana di dalam doanya.

Setelah mengusap wajahnya, Alana semakin mengeluarkan tangisnya. Rasanya benar-benar sakit, ketika mengeluh seperti ini kepada Tuhan. Tetapi, Alana hanya ingin semuanya menjadi ringan. Karena, setiap ia menceritakan keluh kesahnya, Tuhan selalu menjadi pendengar yang baik dan selalu membuat Alana menjadi tak terbebani setelah itu.

Alana memejamkan matanya, dan merasakan perlahan. Sedikit, demi sedikit semuanya hilang. Semuanya menjadi ringan.

Setelah itu, ia membuka mukenanya dan melipatnya. Lalu meletakkan kembali dengan rapih di nakas.

“Assalamualaikum, Non Alana?” panggil seseorang dari balik pintu kamarnya.

Bab 3

Alana yang mendengar, bergegas menuju pintu. Dibukanya pintu tersebut, ternyata bi Lia sudah berdiri di hadapannya.

“Ada yang bisa Alana bantu, Bi?” tanyanya.

Bi Lia menggeleng. “Tidak Non. Bibi mau ngasih tau Non Alana, kalo Tuan, Nyonya, dan Non Alena sudah berangkat lebih awal.” jelas sang bibi.

“Udah duluan?” tanya Alana menyakinkan.

Bi Lia mengangguk cepat. “Iya Non.” jawabnya.

“Oh, yaudah gapapa kok Bi. Bibi kan tau, Alana sudah terbiasa.” ucapnya.

“Bibi tau, Non. Tapi, tadi kata tuan Non Alana harus sudah sampai jam 8 tepat disana. Lalu, Non Alana juga harus pesan taxi secepatnya, Non. Bibi juga kaget, sekarang udah jam setengah 8 lewat. Tapi, Non saja masih disini. Gimana, Non?” jelas bibi

Alana tersenyum menanggapi sang bibi. “Udah, Bibi ngga usah khawatir. Abis ini, Alana langsung siap-siap kok. Terus berangkat, semoga Alana sampe tepat waktu ya, Bi.” ucapnya yakin, lalu memegang kedua bahu sang bibi dan mengusapnya.

Bi Lia membalas senyuman Alana. “Yaudah, ayo Non siap-siap!” perintahnya.

Alana mengangguk kemudian melepaskan tangannya. “Yaudah, Alana siap-siap ya Bi.” Ucap Alana.

Bi Lia mengangguk, kemudian berujar, “Yaudah, kalo gitu Bibi pulang duluan ya Non. Non, hati-hati di jalan. Semoga sampe tujuan dengan selamat, yah.” jelasnya.

Alana mengangguk. “Iya, Bi.” jawabnya.

Bi Lia pamit dan meninggalkan Alana di tempatnya. Setelah melihat bi Lia hilang dari pandangannya, Alana langsung masuk kembali ke kamarnya dan bersiap-siap.

Alana mengganti bajunya dengan gaun yang sudah ia pilih. Tidak lupa, polesan make up natural di wajahnya. Dan juga, rambutnya yang ia cepol satu, dengan meninggalkan beberapa helai anak rambut di sampingnya membuat ia terlihat lebih cantik.

Hanya 10 menit, Alana menghabiskan waktunya untuk bersiap-siap. Setelah merasa dirinya sudah siap, Alana mengambil tas kecilnya, diisinya dengan dompet dan juga hpnya. Kemudian, mengambil sepatu jelasnya yang tak terlalu tinggi di rak, ia pakai untuk malam ini.

Saat melihat jam yang terpampang jelas di kamarnya, kini sudah menunjukkan pukul 19:48. Alana langsung bergegas, dan meninggalkan kamarnya yang lupa untuk ia tutup.

Setelah sampai di pekarangan, ia dapat melihat taxi yang tadi ia pesan sewaktu bersiap-siap telah tiba di depan rumahnya.

Langsung saja, Alana memasuki taxi tersebut dan menyuruh Supirnya untuk cepat. Jangan tanyakan alamatnya. Karena, tadi saat siap-siap ada pesan masuk dari Alena yang menunjukkan di mana tempat pertemuan papanya tersebut.

Tepat pukul, 19:56. Alana tiba di depan sebuah hotel bintang lima. Tak lupa ia membayar taxi, kemudian turun.

Alana memandangi hotel tersebut. “Kok, hotel?” gumamnya.

Tak ingin berlama-lama dan membuang waktunya, Alana langsung saja memasuki hotel tersebut. Menyalakan gps dan mencocokkan dengan kepunyaan papanya. Dan benar saja, Alana mengikuti titik di mana sang papa berada.

Lift demi lift, ruangan demi ruangan, semuanya telah Alana lewati. Dan kini, titik yang ia temui adalah di sebuah ruangan yang tertutup. Pintunya terbuka lebar, sepertinya ini adalah sebuah aula. Akhirnya, Alana memasuki ruangan tersebut. Saat sampai di dalamnya, ia melihat banyak tamu undangan dimana-mana.

Alana mencari di mana keluarganya berada. Dan, ketemu.

Keluarganya sedang duduk di kursi yang tersedia di sana, dan di depan mereka ada beberapa orang yang tidak ia kenali. Mungkin saja, itu rekan papanya.

Mau tak mau, Alana melangkahkan kakinya menuju tempat tersebut. “Permisi.” ucapnya sopan.

“Eh iyaa.” jawab seorang wanita paruh baya, yang tak terlalu jauh dari usia mamanya.

“Ini, Alana?” tanyanya kembali.

Alana bingung di tempat. “Ah iya, itu Alana Bu. Dia memang suka terlambat, jadi maaf.” ujar sang papa.

Alana merasa sedikit bersalah, apa memang dia terlambat? Tetapi, ia juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Kenapa, masih saja disalahkan?

“Ngga apa-apa. Mungkin, dia dandan yang cantik dulu baru kesini. Ya, kan Alana?” tanya wanita itu padanya.

Alana menjawabnya dengan senyumannya saja, ia tak tahu harus menjawab apa lagi. Takutnya, ketika berbicara ia akan disalahkan lagi.

“Yaudah, sini sayang duduk samping Tante.” ajak wanita itu.

Alana langsung menatap sang papa dan mamanya. Karena, tak ada jawaban dan juga ekspresi wajahnya juga tidak ingin menjawab, akhirnya Alana memutuskan untuk duduk di samping wanita itu.

“Alana udah gede aja, ya?” tanya wanita itu.

“Iya, Tante.” jawab Alana pelan.

“Kamu tau Tante, ngga?” tanya wanita itu lagi.

Alana berpikir. Tetapi, ia tidak ingat siapa wanita ini. “Alana...”

“Mama? Rifal kan udah bilang, Rifal ngga mau dateng.” potong seorang tiba-tiba dari belakang Alana.

Alana berbalik. Dan, “Rifal?” ucap Alana kaget.

Tidak kalah kagetnya, Rifal juga melototkan matanya melihat Alana. “Loh, Alana? Lo kok bisa ada disini?” bingungnya.

“Aduh, tadi dateng ngomel-ngomel kaya apa tau, pas liat Alana malah kaya orang linglung. Sini duduk!” titah Mamanya Rifal, menyuruhnya duduk tepat di sebelah Alana.

Alana yang melihat itu pun, langsung saja beralih menatap Alena yang duduk di hadapannya. Wajahnya menunjukkan kemurkaan terhadap Alana. Sepertinya, Alana akan dimarahi oleh Alena karena hal ini.

“Lo, apa kabar?” tanya Rifal.

Alana merasa tidak enak terhadap Alena, yang masih melihatnya tak suka.

“Alhamdulillah, aku baik.” jawabnya.

Rifal mengangguk-anggukan kepalanya, “Oh iya, lo kuliah dimana?” tanyanya lagi.

“Insya Allah, di Universitas Pancasila.” jawab Alana.

“Udah ih, Rifal kamu dari tadi nanya-nanya mulu. Udah ayo, kita mulai makan malamnya saja, ya?” tanya sang Mama kepada semuanya.

“Oh, iya Bu boleh.” Jawab papanya Alana.

Nino Adriansyah. Papanya Alana, dan juga Alena. Memiliki kerja sama dengan banyak perusahaan di Jakarta. Salah satunya, dengan keluarganya Rifal. Nino adalah Ayah yang tegas, dan juga menyikapi anaknya untuk mandiri. Kadang, ia baik dan juga jahat untuk keduanya. Tetapi, sekarang semuanya sudah tergantung kemampuan anaknya.

Ia lebih menomor satukan Alena, daripada Alana. Karena, prestasi Alana yang meningkat dan selalu berada di urutan teratas membuatnya bisa menjadi terkenal dan selalu dikenal dimana pun.

Sedangkan, Alena selalu ia salahkan dalam hal sepele apapun itu. Karena, baginya Alana adalah anak yang tidak bisa seperti Alena. Padahal, nilai dan semua yang Alena dapatkan itu berasal dari Alana. Tetapi, tak akan ada satu pun yang percaya akan hal itu.

Alena Faeyza Kirei, saudari pertama sekaligus kakaknya Alana. Gadis yang tidak mau kalah dari adiknya. Gadis yang angkuh dan sombong. Selalu merasa paling tinggi dari adiknya. Apa pun yang Alana dapat, ia yang seharusnya mendapatkan itu. Apa yang Alana suka, itu juga termasuk kesukaan Alena. Alena menginginkan semua yang dimiliki Alana, apa pun itu.

“Al, mau jalan sama gue ngga?” tanya Rifal pada Alana.

Kini, mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.

Alana kembali menatap Alena. “Ah, gue disini aja Fal.” Jawabnya.

“Sama gue aja yuk, Fal!” ajak Alena tiba-tiba.

Alana dan Rifal menatap Alena. Rifal menoleh menatap Alana.

Alana yang mnmenyadarinya, pura-pura membuang muka.

“Yaudah, yuk Na. Alana, beneran ngga mau ikut?” tanya Rifal lagi.

Alana tersenyum dan mengangguk. “Iya.” Jawabnya.

Akhirnya, Alena dan Rifal meninggalkan Alana dan juga kedua keluarganya di meja ini.

Alana merasa bosan, hanya duduk dan mendengar pembicaraan bisnis di antara kedua keluarga. Alana lalu berpikir, bagaimana caranya ia biar tidak bosan seperti ini. Dan, yah...

“Ah, Tante, Om, Pa, Ma, Alana pamit ke toilet ya?” pamit Alana kepada mereka.

“Oh, iya Alana boleh.” jawab Mama dan Papanya Rifal bersamaan. Kalau mau tanya, bagaimana pendapat mama dan papanya sendiri. Ya, jelas pasti tau jawabannya. Mereka, jelas sudah tidak peduli.

Alana kemudian berdiri dan meninggalkan meja itu, pergi ke belakang. Bukan untuk ke toilet, ia malah berjalan menuju kebun bunga yang berada jauh dari taman.

Alana mencari tempat yang nyaman untuk ia duduki. Menoleh sekitarnya, sepi. Hanya itu, yang ia rasakan sekarang. Akhirnya, matanya tertuju pada sebuah tempat duduk yang tersedia. Ia langsung berlari, menghampiri tempat duduk itu dan duduk di sana.

Alana menyilangkan tangannya di kedua bahunya, menikmati udara malam alami dari kebun bunga ini. “Rasanya nyaman banget.” ujarnya.

Tiba-tiba, ada tangan yang menutupi matanya. Hal tersebut sontak, membuat Alana kaget.

Alana memegang tangan tersebut, berusaha melepaskan. “Siapa, kamu?” tanyanya.

“Coba tebak, aku siapa?” tanya orang itu balik. Eh, ini seperti suara laki-laki. Tetapi, ini siapa? Kalo Rifal? Bukannya sedang bersama Alena.

Lalu?

“Jawab atau aku teriak? Kamu siapa?” ancam Alana.

Tawa laki-laki itu oecah di belakang Alana. “Masa ngga kenal sama aku?” tanyanya.

Perlahan tangannya di lepas, dan membuat Alana berdiri cepat dan membalikkan badannya. Ternyata?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED