Bab 1

Aroma jasmine dan citrus yang berpadu, membuat mata Alec terpejam demi menyerap aroma manis, menyegarkan, sekaligus tidak menyengat di hidung. Wangi itu melintasi wajahnya hanya dalam hitungan detik, tapi seolah akan bertahan di kepalanya untuk selamanya. Ditambah efek memabukkan. Tanpa daya, kepala Alec berputar mengikuti sesosok tubuh ramping yang kini sudah berjalan menjauh dan berhenti tak jauh dari tempatnya.

Wanita itu memutar tubuh menghadap ke arah Alec, tak hanya wangi tubuhnya yang membuat Alec terhipnotis, kini tubuh Alec terpaku. Meski untuk beberapa detik, ia mengakui keindahan yang ada di hadapannya kali ini. Keindahan yang belum pernah ia temui seumur hidupnya. Sosok itu bagaikan magnet yang menarik dirinya untuk mendekat. Aura memikat begitu kental menyelubungi tubuh seksi itu dari ujung kepala hingga kaki. Daya tarik seksual melekat erat di setiap sudut yang melekuk indah.

Wanita itu berada beberapa meter dari tempatnya berdiri. Tampak menonjol di antara wanita-wanita yang terang-terangan melemparkan tatapan memuja untuknya. Tak diragukan lagi, hanya wanita itu satu-satunya yang tak menyadari keberadaan serta perhatian yang sengaja ia sisihkan, dengan niat mendapatkan sedikit balasan. Tetapi, seolah wanita itu memiliki dunianya sendiri, terlalu sibuk dengan si pria yang berdiri di hadapan si wanita. Apakah mereka sepasang kekasih? Atau sepasang suami istri? Sepertinya Alec tak pernah punya batasan untuk wanita yang bersedia berbaring di ranjangnya. Wanita ataupun istri orang lain, asalkan mereka bersenang-senang, Alec tak akan keberatan. Toh, hanya untuk satu malam.

Dari jarak sejauh ini, Alec bisa menelusuri dengan sangat jelas setiap inci dan detail wajah mungil itu. Rahang yang kecil, dagu yang runcing, hidung mancung lurus, bibir yang merekah, dan mata sejernih lautan. Alec tahu kecantikan sesempurna itu akan mampu mengguncang dunianya dalam sekali sentakan. Wanita seperti itu tentu lebih dari sekedar mampu untuk mengancam kewarasannya. Ia mulai tak yakin akan menikmati wanita itu hanya untuk satu malam.

Sialan! Alec tak menyangkal hasratnya yang begitu ingin mencicipi keindahan itu. Alec menjilat bibirnya. Cuping hidungnya membesar dan menyempit karena napas serta detak jantungnya yang berdenyut lebih cepat. Dan mendadak ia merasa gelisah. Pertanda saat ia ingin menuntaskan kefrustrasiannya di atas ranjang. Sebaiknya dengan si pencetus gairahnya.

Wanita itu tersenyum, menggumamkan sesuatu dan si pria ikut tertawa. Senyumnya bahkan lebih menawan dari yang Alec perhitungkan. Sialan, ia harus membuat wanita itu berada di atas ranjangnya malam ini juga. Setelah urusannya selesai. Urusan? Sialan lagi, saat ini ia tengah berdiri di antara keriuhan pesta demi membuat sedikit kekacauan agar pesta tidak berakhir membosankan. See, ia bahkan sampai lupa di mana kakinya berpijak karena begitu terpesona oleh wanita pengalih kewarasannya itu.

Memaksa kepalanya berputar ke arah panggung. Pada sosok yang tengah berdiri balik podium, menyebarkan basa-basinya yang sudah sangat busuk dan membuat perutnya mual. Ia harus mengakhiri ceramah itu lebih cepat atau telinganya akan ikut membusuk. Pesta tanpa suara pecahan kaca, gelas, atau apa pun akan jadi sangat membosankan untuk seorang Alec si pengacau.

Praannggggg ....

Keheningan pesta mendadak semakin mencekam dan suara sambutan dari arah podium terhenti. Lalu suara kasak-kusuk para undangan beralih menjadi rasa penasaran akan suara benda pecah yang berasal dari pusat ballrrom. Orang-orang mulai berkerumunan, mencari tahu lebih pada asal suara dan menyisakan ruang yang cukup luas di tengah ballroom.

Di sana, di meja tengah ballrom, tempat patung es berbentuk huruf MH raksasa seharusnya dipajang –karena kini patung esnya sudah jatuh tercerai berai di lantai- berdiri seorang pria. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang terjatuh menutupi salah satu matanya. Tuxedo berwarna gelap yang dirancang dengan bahan kualitas tinggi membungkus tubuh tinggi dan kekar itu dengan sangat apik.

“Perhatian!” Kedua tangan pria itu terangkat dengan kebanggaan dan kepercayan diri yang tinggi, mengingat ia berdiri dengan cara tak sopan di pesta resmi yang bukan miliknya. “Apa kalian tahu siapa aku?”

Keheningan sekali lagi menyebar ke setiap sudut ballroom. Tidak cukup banyak orang yang mengenali Alec, tapi kegilaan yang dilakukan pria itu membuat beberapa orang terpekik kaget ketika beberapa benda jatuh di sekitar meja karena menghalangi gerakan kaki Alec.

“Ya, ini aku. Alec Cage. Pewaris tunggal Cage Group dan bukankah pesta ini perayaan sepuluh tahun Mahendra Hotels?”

Kesiap kaget menyebar di sekitar Alec. Ya, Cage Group adalah rumah besar bagi MH. Yang hanya salah satu cabang perusahaan CG di dunia perhotelan.

“Beberapa tahun aku mengasingkan diri, dan ayahku sudah menunjuk orang lain sebagai CEO Cage Grand Hotels. Dan menggantinya dengan Mahendra Hotels? Apakah kalian benar-benar tidak tahu malu?” Alec melemparkan tawa cemooh pada Arsen yang berdiri di panggung. Tanpa sempat menyelesaikan pidato basa-basinya yang lebih mengarah ke kesombongan. Melemparkan sejuta pujian untuk diri sendiri. Cih, bagi Alec, sosok Arsen Mahendra tak lebih dari seorang pengemis yang berusaha menggerogoti posisi tertinggi dengan muka tebalnya.

Arsen menahan Arza yang hendak menghentikan keributan dengan isyarat tangan. Alec Cage, pewaris tunggal Cage Group secara sah. Apa pun yang berdiri di belakang pria itu bukanlah sesuatu yang perlu ia usik. Lalu dengan isyarat mata, Arsen menyuruh Arza mengamankan wanita yang berdiri di sisi pria itu. Tanpa membantah sedikit pun, Arza mematuhi perintah kakaknya.

“Sekarang aku kembali. Memastikan apa pun yang menjadi milikku tetap aman dalam genggamanku.” Tak lupa Alec menyelipkan seringai mengancam di garis bibirnya yang dingin pada Arsen. Lalu ia menyesap anggur di gelasnya, mengangkatnya tinggi seakan bersulang dengan seluruh tamu undangan. “Selamat menikmati pesta yang meriah ini. Tidak perlu sungkan-sungkan.”

Bab 2

“Arsen dari MH ada di sini.” Suara sekretaris Alec membuyarkan lamunan Alec. Sungguh hari yang buruk untuk memulai pekerjaan barunya. Ia tahu Arsen Mahendra akan mendatanginya, meski ia cukup dikecewakan dengan pertemuan yang lebih lama dari yang ia perhitungkan. Seminggu sejak ia mengacaukan pesta itu dan melemparkan ancaman lewat mulut yang tak digubris oleh Arsen. Akhirnya sekarang Alec berhasil menarik perhatian Arsen.

“Masuk,” perintah Alec singkat.

Tak menunggu lama pintu terbuka. Arsen masuk dengan wajah kusut dan bersungut-sungut melangkah mendekati mejanya. Alec tak merasa perlu tahu apa penyebab kekusutan itu dan bukan urusannya. Tetapi, mengejek pria itu akan menjadi sedikit hiburan untuk pagi harinya.

“Dilihat dari tampangmu, sepertinya ada beban yang tak bisa kaukatakan. Tapi aku tak tertarik untuk mencari tahu,” ejek Alec.

“Apa kau yang mengadakan rapat pemegang saham untuk penunjukan CEO baru?”

“Itu agenda perlima tahun.”

“Agenda tahunan yang tak pernah dan tak seharusnya diadakan lagi mengingat ayahmu yang sudah menunjukku untuk menduduki jabatan ini. Selama sepuluh tahun kinerjaku sama sekali tak goyah dan semakin menunjukkan perkembangan yang semakin baik setiap tahunnya. Bahkan jajaran dewan direksi tak mampu mengeluhkan pekerjaanku.”

“Ayahku sudah mati dan akulah pemegang saham utama MH. Ah, sepertinya aku harus mulai menggantinya dengan CGH. MH sedikit membosankan di telingaku.” Alec menggaruk-garuk telinganya yang tak gatal.

“Nama MH adalah kesepakatanku dan ayahmu kenapa aku bisa duduk di kursi CEO. Kau tak bisa mengusir kami seenaknya. Selama kau pergi, kamilah yang memegang kendali Mahendra Hotels hingga manajemen perusahaan tertangani dengan sangat baik.”

“Apa aku harus berterima kasih untuk itu? Kau dibayar lebih dari cukup untuk melakukan tugasmu.”

“Cage Group berada dalam kendalimu, tapi Mahendra Hotels akan tetap bernaung dibawah Cage Group. Kami tak akan mengusik Cage Group dan tetap menjalankan MH di bawah kendalimu. Dengan syarat jabatan CEO akan tetap di bawah keluarga kami.”

“Apa yang membuatmu berpikir aku akan membiarkan kalian menduduki jabatan yang bukan hakmu?”

“Aku hanya butuh kompensasi untuk kerja keras yang kulakukan demi menyelamatkan perusahaan ini. Saat kau bersikap pengecut dengan urusanmu sendiri.” Kalimat terakhir Arsen penuh sindiran yang sinis. Seolah setiap katanya ditekan dengan sangat jelas tertambat di telinga Alec.

Rahang Alec mengencang. Berteriak marah hanya akan memperjelas sikap pengecut yang pernah ia ambil. Dulu. “Aku hanya memiliki sedikit hobi. Apa kau tidak penasaran bagaimana aku bersenang-senang dengan hobiku?”

Arsen menyeringai sinis. “Bukan urusanku.”

Baguslah, batin Alec. Memecahkan kepala Arsen akan sedikit merepotkan untuk membersihkan mayat pria itu. Dan Saga tak akan menyukai hobi gelapnya disangkutpautkan dengan kematian Arsen. Arsen bukan sembarangan orang yang bisa ia lenyapkan begitu saja tanpa alasan yang jelas. Pria itu terlalu bersih. Amat sangat bersih hingga tak ada secuil pun alasan untuk mengusik pria itu. Selain, bagaimana prestasi membanggakan Arsen dan perhatian ayahnya yang terlalu besar pada pria itu yang membuatnya iri. Dan jelas sebaik-baiknya rasa iri adalah tidak diketahui oleh si pencetus.

“Yang aku tahu, aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan, kau tak kehilangan apa pun, dan bahkan ...” Arsen berhenti. Merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar foto ke hadapan Alec. “... aku akan memberimu sedikit hadiah.”

Alec melirik lembaran yang diseret Arsen dengan jari telunjuk ke hadapannya. Membalik foto itu dan matanya menyipit mengamati foto itu lekat-lekat. Wanita ini, dengan wajahnya yang tanpa polesan make up mampu membuat mata pria mana pun terpusat pada wajah cantik itu. Ingatan Alec kembali berputar mencari detik-detik ketika wanita itu melintas di depannya. Seolah tak menyadari keterpakuan para makhluk liar di sekitar yang sibuk menjadikan wanita itu obyek busuk dan liar di kepala mereka. Di pesta malam itu.

Alec masih bergeming. Tak akan berpura-pura tidak mengetahui wanita dalam foto tersebut atau merasa begitu penasaran di hadapan Arsen.

“Dia adalah bungsu keluarga kami,” jelas Arsen.

Gen keluarga Mahendra tentu tak bisa Alec remehkan. Ketampanan yang dimiliki Arsen pun lebih dari cukup dibilang sempurna. Ia sebagai seorang pria pun mengakui keunggulan wajah yang dimiliki pria satu ini.

“Apakah sekarang kesepatakan ini tampak adil?”

Alec tampak menimbang-nimbang jawabannya sambil mengibas-ngibaskan foto itu di samping tubuhnya. Ya, wanita itu lebih dari cukup menarik perhatiannya. Kecantikan, keanggunan, keseksian sekaligus kepolosannya benar-benar membuat Alec terpana pada pandangan pertama. Ia pikir, mungkin karena efek dirinya yang sudah lama tak bersenang-senang dengan wanita-wanitanya. Namun, saat ia mencoba menggaet sembarang wanita di pesta malam itu demi sekedar meredakan gairahnya, bayangan wanita itu membuat wanita telanjang di kasurnya tak lagi menarik. Saat itulah Alec memutuskan, akan membawa wanita itu ke ranjangnya.

“Aku tahu kau tertarik dengan bungsu kami.”

“Tertarik?” Alis Alec terangkat sala satunya, lalu berdecak mencemooh. “Kata itu terlalu berlebihan mengekspresikan perasaanku? Aku hanya ... sedikit penasaran.”

“Jadi, kau menyuruh anak buahmu mencari tahu tentang Alea hanya demi rasa penasaranmu itu?” dengkus Arsen tak kalah sinisnya. “Data keluarga kami tersimpan dengan sangat baik. Tak akan mudah mendapatkannya hanya karena kau ingin mencari tahu.”

“Aku memang belum benar-benar ingin mencari tahu.”

Arsen menyeringai. “Dan sekarang, infoku tentu lebih cepat dan lebih dalam dari yang didapat anak buahmu, kan.”

Alec meletakkan kembali foto itu di mejanya. “Umpan yang cukup manis untuk seekor kucing. Sayangnya aku seekor singa,” komentarnya.

Arsen menggeleng. “Ini bukan perangkap. Aku tak sengaja memperhatikanmu yang tertarik pada adikku dan hanya memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Aku tahu dia mendapatkan perhatianmu sebanyak yang tak kauharapkan.”

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa adikmu begitu berharga di mataku? Ada ribuan wanita yang jatuh di kakiku yang kuyakin lebih baik dibandingkan adikmu.”

Arsen menyeringai. “Kau yakin?”

Alec tak yakin, tapi ia tak akan membiarkan Arsen mengetahui itu. Tak akan pernah membiarkan Arsen tahu bahwa tekadnya untuk membawa wanita bernama Alea itu semakin menguat.

“Kami tak pernah mengkhianati keluarga.”

Alec menarik punggungnya menempel di punggung kursi. Kedua siku bersandar di sisi kursi dengan jemari yang saling terjalin dan kakinya menggerakkan kursi bergoyang ke kanan dan kiri. Wajahnya mendongak menatap mata Arsen penuh pertimbangan. “Bolehkah aku menimbang-nimbang sebentar? Apakah yang kudapat akan sepadan dengan apa yang kuberikan padamu?”

Arsen meluruskan punggungnya dengan senyum simpul melengkung di kedua sudut bibirnya. “Besok aku akan mengirimnya ke sini. Kau bisa memberiku jawaban setelah melihatnya lebih dekat.”

Alec mengangkat bahunya. Menyembunyikan gelombang ketidaksabaran yang mendadak menerjang tepat setelah penawaran Arsen keluar.

“Dia sangat manis dan penurut. Lebih dari sempurna untuk dibawa ke pesta.”

Alec berdecak. Ya, ia suka wanita yang manis dan penurut. Berjengit ketakutan ketika ia menyentuhnya, Alec sangat menikmati ketakutan yang merebak di mata dan wajah seseorang ketika hendak menerkam seseorang tersebut. Bukannya wanita yang begitu mudahnya melebur dalam arus gairahnya. Bersikap murahan di balik riasan dan pakaiannya yang mahal.

“Aku menjaganya dengan sangat baik, itulah sebabnya kau akan jadi pria pertamanya.”

Alec terbahak. Perawan tak akan tahu cara menyenangkan dirinya, tapi ia tak keberatan untuk mengajari perawan yang satu ini bagaimana cara bersenang-senang.

***

“Kenapa aku?”

Arsen hanya mengangkat bahunya tak peduli pada sang adik yang berdiri di seberang mejanya. “Kenapa? Apa aku tak boleh menyuruhmu? Apa kau tak ingin sedikit membantu pekerjaanku setelah semua fasilitas yang kuberikan untukmu? Sedikit berterimakasih tak akan merendahkan dirimu, Alea.”

Alea mengabaikan kecurigaannya. Tak biasanya Arsen menyuruhnya membawa berkas penting pada seseorang. Bahkan pria itu tak pernah membiarkan ia ikut campur urusan MH sedikit pun. Hidupnya hanya untuk dirinya sendiri, melakukan apa pun yang ia sukai, membeli apa yang ia inginkan, dengan catatan ia tak membuat masalah yang membuat Arsen terlibat untuk membereskan kekacauannya. Atau melewati batasannya sebagai seorang wanita yang belum menikah. Garis keras yang selalu ditegaskan oleh Arsen.

Selama ini hidupnya begitu teratur. Berkencan dengan pria yang ia cintai. Menikmati setiap momen kebahagiaan mereka. Dan bersenang-senang dengan kehidupannya yang sempurna. Tidak ada lagi yang Alea inginkan selain berakhir sebagai seorang istri dari pria yang ia cintai untuk saat ini.

“Arza akan mengantarmu.”

Kecurigaan Alea menguap. Apa pun niat yang disembunyikan Arsen, jika ada Arza di sisinya semua akan baik-baik saja. Perlahan penolakan yang hendak keluar kembali tertelan di tenggorokannya. “Baiklah. Apa aku hanya perlu menyerahkan berkas ini pada ....” Alea menggantung kalimatnya. Ia tak terlalu memperhatikan ketika Arsen menyebutkan nama seseorang untuk pertama kalinya yang mengikuti perintah sang kakak tadi.

“Alec Cage. Kau bisa mengkonfirmasinya di lobi. Mereka akan langsung mengarahkanmu ke ruangannya.”

Alea tertegun. Merasa nama itu tak terlalu asing di telinganya.

“Kenapa? Apa kau mengenalnya?”

Alea mengambil berkas di meja dan menggeleng. “Aku hanya tahu keluarga Cage.”

Arsen mengiyakan. Alea memang tak pernah tahu dan tak pernah ingin tahu tentang urusan bisnis keluarga mereka. “Keluarlah. Aku harus bicara dengan Arza. Dia akan menyusulnya dalam lima menit.”

Alea mengangguk dan memutar tubuhnya. Berhenti sejenak memberikan kecupan kecil di pipi Arza sebelum melewati pintu ruangan Arsen.

“Kau harus membiasakan diri menjaga jarak dengan Alea mulai sekarang. Jauhi dia. Cage tak akan suka seseorang menyentuh miliknya.”

Arza mengangguk dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Mengendalikan reaksi wajahnya dari jejak kecupan di pipi yang ditinggalkan oleh Alea.

“Pastikan dia masuk ke ruangan Cage seorang diri.”

Sekali lagi Arza mengangguk dengan patuh.

“Dan, kau bisa memperkenalkan seseorang sebagai pacarmu pada Alea.”

Arza tertegun sesaat. Kali ini tak mengangguk. “Aku akan mengurus hubungan kami.”

Arsen mengangkat sedikit wajahnya, menangkap ekspresi datar Arza.

“Hubungan kami dimulai dengan baik-baik, sudah seharusnya hubungan kami berakhir tanpa saling menghancurkan perasaan satu sama lain.”

Arsen menyeringai puas dengan jawaban Arza. “Ya, kau melakukan tugasmu sebagai kakak dengan sangat baik. Satu-satunya hal yang tak bisa kuberikan pada Alea dan Karen. Mungkin itu alasan ayah membawamu ke rumah.”

Arza memaklumi. Jika sikap Arsen selemah dirinya, tentu pria itu tak akan cukup andal mengendalikan krisis perusahaan. Mendapatkan kepercayaan pemegang saham untuk bertanggung jawab penuh atas jabatan yang diduduki oleh Arsen. Lagi pula, tidak ada darah Mahendra di nadinya. Membawa nama Mahendra di belakang namanya sudah lebih dari cukup dari segala-galanya. Seumur hidupnya tak akan cukup untuk membalas kebaikan yang diberikan keluarga ini padanya. Dan memiliki Alea tentu hanyalah angan-angan yang tak akan mungkin menjadi kenyataan. Alea Mahendra pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari dirinya.

“Kau boleh keluar sekarang.”

“Terima kasih, Kak.” Arza menundukkan kepala dan berputar.

Arsen tertegun selama beberapa saat setelah tubuh Arza menghilang di balik pintu. Satu-satunya alasan utama ia membiarkan Arza berkencan dengan Alea adalah karena tahu pria itu tak akan berani menyentuh Alea. Ia tahu pria itu akan menjaga mahkota Alea hingga waktunya tiba untuk diberikan pada orang yang tepat.

Bab 3

“Kenapa Arsen tidak menyuruhmu?” tanya Alea ketika mobil yang mereka tumpangi mulai meninggalkan halaman hotel.

“Karena kau Alea Mahendra.”

“Kau juga seorang Mahendra.”

Arza hanya tersenyum simpul. Alea selalu tahu cara membangkitkan ketidakpercayaan dirinya ketika dihadapkan nama keluarga mereka yang sangat besar.

Setengah jam kemudian, ketika memasuki gedung Cage Group berlantai tiga puluh dengan kaca hitam mengeliling seluruh sisi gedung itu, Alea mengamati dengan takjub seluruh desain penuh keindahan dan kemegahan gedung ini. Lantai marmer berwarna putih dan meja resepsionis tak jauh dari pintu putar berwarna hitam. Gedung Arsen sama sekali bukan tandingannya meski MH tak kalah mewah dan megahnya.

“Atas nama?” tanya resepsionis ketika Arza mengutarakan niat kedatangan mereka berdua.

“Alea Mahendra,” jawab Arza mendahului Alea.

Alea memutar wajah dengan kernyitan di dahi.

Arza hanya mengangkat bahu menangkap tanda tanya dalam tatapan Alea. “Arsen terlanjur memakai namamu sebagai jadwal janji temu ini.”

Salah satu wanita itu mengkonfirmasi sesaat lewat telepon lalu mengarahkan mereka pada lift khusus yang harus mereka naiki untuk sampai di lantai tempat Alec Cage berada.

Alea dan Arza berjalan bersamaan ketika lift berdenting dan pintunya terbuka. Seorang pria paruh baya keluar dan tanpa sengaja menabrak bahu Arza dan menumpahkan kopi yang dipegang. Pria itu membungkuk meminta maaf dan Arza butuh waktu lebih lama untuk meyakinkan pria paruh baya itu bahwa dia baik-baik saja tanpa perlu merasa bersalah.

“Kemejamu,” tukas Alea melihat noda kopi tampak mengotori bagian depan kemeja Arza setelah pria paruh baya itu berlalu.

“Aku akan ke toilet, kau naiklah lebih dulu. Aku akan menyusulmu setelah selesai dan hubungi aku jika butuh sesuatu.” Arza mengarahkan Alea masuk ke dalam lift. Memastikan pintu lift tertutup dan ia berdiri tertegun selama beberapa saat sebelum benar-benar berjalan ke arah toilet. Merelakan satu-satunya hal yang harus ia lakukan. Sangat berat, tapi bukan berarti ia tak bisa melakukannya. Saat ini, Alea adalah adiknya. Tidak ada lagi posisi lain yang merangkap selain dirinya yang sebagai kakak kedua Alea.

***

“Apa yang kauinginkan?” Alec menjawab panggilan telpon Arsen dengan enggan sejak pertama mengangkat. Sedikit basa-basa Arsen mulai membuatnya semakin malas dan meladeni pembicaraan pria itu lebih jauh.

“Pernikahan.”

Alec mendengus sinis dan bosan. “Sepengetahuanku, tidak ada apa pun dalam pernikahan kecuali membuat kepalamu yang pusing semakin berdenyut. Dua temanku melakukan kesalahan yang cukup fatal dan aku tak ingin dibuat pening oleh makhluk bernama wanita.” Alec tersenyum mengingat keriuhan rumah tangga Saga dan Arga.

“Tidak ada yang bisa memiliki adikku kecuali dengan ikatan sah yang menguntungkan untuk bisnisku.”

“Bolehkah aku mencicipinya?”

“Jangan menyentuh apa yang bukan milikmu, Cage. Atau kau akan menyesal telah melewati batasanmu. Kau tahu aku lebih dari sekedar mampu memporak-porandakan MH dan akan memberimu sakit kepala yang luar biasa.”

“Ck, kau mengancamku?”

“Anggap saja begitu.”

“Tuan, Nona Alea Mahendra ada di sini.” Suara sekretaris Alec dari arah speaker telepon mengalihkan pembicaraanya dengan Arsen.

“Masuk,” serunya setelah menekan salah satu tombol di telepon. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Tubuh ramping dengan celana jeans tiga seperempat dan atasan berwarna putih tulang yang ujung bagian depannya terselip di ujung celana jeans, mengambil satu langkah masuk di ruangannya. Mata Alec terpaku takjub mengamati tubuh mungil itu dari atas ke bawah dengan saksama. Tampilan casual yang dipilih Alea sama sekali tak mengurangi ketertarikan Alec pada sosok menawan itu. Rambut terurai yang bahkan harumnya sudah mencapai hidung Alec dan membuat produksi air liurnya meningkat drastis. Alec benar-benar tak sabar memiliki kecantikan sempurna itu dalam genggamannya. Tentu saja ia tak akan melewatkan kesempatan sesempurna ini.

“Jadi?” Arsen berhenti sesaat. Ada kemenangan dalam suaranya yang ditarik-tarik. “Apa dia menjadi milikmu?”

“Aku akan memutuskan hari baik kami. Segera.” Alec mengakhiri perbincangannya dengan Arsen. Apa pun yang ada di pernikahan mereka, rasanya gairah saja sudah cukup melengkapi pernikahannya nanti. Alec menekan tombol di bawah meja dan mengunci pintu ruangannya. Ia tak butuh gangguan-gangguan kecil lainnya.

Alea masuk lebih dalam. Berjalan melintasi ruangan besar itu dengan langkahnya yang ringan dan polos. Tanpa sadar ia telah masuk dalam perangkap sang kakak yang menjalin kesepatakan dengan iblis. “Ehm, kakakku mengutusku untuk membawa berkas ini langsung padamu. Maaf jika mengganggu acaramu,” jelas Alea dengan suaranya

Alec menggeleng sedikit. Seperti sebelumnya, Alea tak pernah menyadari kecantikan yang menarik perhatian para makhluk di sekitar wanita itu. Beruntung kali ini hanya dirinya seorang di ruangan tertutup ini yang jatuh terlalu jauh dalam pesona Alea. “Aku sudah menunggumu sejak tadi pagi, dan kau datang tepat waktu. Tak ada yang perlu disesalkan.”

Alec hampir tak bernapas ketika wangi Alea yang semakin merangsek ke dalam hidungnya membuat Alec tak bisa menahan diri. Wangi wanita itu masih sama seperti yang ia ingat dan tertanam di benaknya.

Tulang punggung Alea membeku sejenak. Mencerna dengan teliti setiap kata yang menyiratkan makna sangat dalam dari Alec Cage. Masih tak memahami meski ia sudah memutar kembali kata-kata itu di kepalanya untuk kedua kalinya.

Alec membuka berkas yang dibawa Alea. Menjawab pertanyaan di mata Alea yang masih belum menemukan jawaban.

Alea terkejut, menatap map yang isinya hanya lembaran kosong. Arsen sialan! Pria itu menjebaknya. Bukan map itu yang ia antar kemari, melainkan dirinya sendiri. Alea mengangkat sedikit wajahnya, seringai di wajah Alec Cage meyakinkan tuduhannya pada Arsen. Sialan!! Alea menyesal mengabaikan kecurigaannya akan sikap aneh Arsen. Pria itu tak pernah melibatkan dirinya dengan urusan bisnis apa pun. Jika sudah seperti ini, keputusan Arsen tak akan bisa diganggu gugat. Arsen sudah memutuskan masa depannya dan bayangan mengerikan tentang sosok di depannya sama sekali tak bisa ia terima dengan sukarela.

Alea melirik ke arah pintu dan menghitung berapa langkah yang ia butuhkan untuk sampai ke pintu dan berteriak meminta tolong pada Arza.

“Hanya membuang waktu jika kau berlari ke pintu. Pintu itu terkunci tepat setelah kau mengambil langkah pertama memasuki ruangan ini.”

“Apa yang kauinginkan?” Alea mengendalikan ketakutan yang merebak hampir ke seluruh tubuhnya. Kakinya mulai goyah, tapi ia berusaha keras agar ketakutan itu tak muncul ke permukaan. Alec Cage bukan pria sembarangan. Pria itu tahu apa yang dilakukan dan apa yang akan dilakukan dengan penuh perhitungan melihat manik mata Alec yang bersinar cemerlang tanpa suatu ekspresi pun yang mengganjal.

Alec bediri, menyelipkan kedua tangannya di saku dan berjalan mengelilingi meja mendekati Alea. Gurat ketakutan yang berusaha keras wanita itu sembunyikan membuat Alec tertawa geli. “Aku tak akan menyakitimu.”

“Jangan mendekat!” teriak Alea ketika merasa ketakutan di dalam dirinya tak terbendung lagi. Dan langkah pria itu yang sama sekali tak mengurangi kecepatannya membuat Alea semakin panik. Alea

Alec menangkap lengan Alea, menarik tubuh wanita itu hingga naik di meja. Kemudian Alec mendorongnya hingga punggung Alea menempel meja kacanya. Di antara barang-barang Alec.

“Kumohon, jangan lakukan ini.” Tangisan menyelimuti rintihan Alea. Tubuhnya yang lemah di tindih oleh tubuh Alec yang memaku kedua tangannya di atas kepala.

“Aku ingin menahannya sampai kau benar-benar menjadi milikku, tapi lagi-lagi kau membuatku hilang kendali.”

“Aku ... aku akan membayar apapun yang diambil Arsen darimu.” Suara Alea bergetar. Kekuatannya yang sama sekali tak memengaruhi tekanan Alec di tubuhnya tak membuatnya putus asa.

“Ya, memang harus.” Sedetik Alec menyelesaikan kalimatnya, detik berikutnya Alec memiringkan kepala dan bibirnya menyapu bibir ranum Alea.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED