Perkenalkan, namaku adalah Zhyvanna Amira. Aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan seorang anak perempuan yang cantik. Aku masih berusia 25 tahun. Masih cukup muda, bukan?
Aku adalah seorang mantan asisten desainer di sebuah perusahaan yang memproduksi pakaian jadi. Namun, kini aku memilih menjadi seorang ibu rumah tangga karena tak ingin keluargaku kehilangan kasih sayang dan perhatian dariku, khususnya anakku yang masih berusia dua tahun.
Hari itu, tak seperti biasanya suamiku pulang bekerja lebih awal. Suamiku hanyalah seorang karyawan di sebuah perusahaan besar yang gajinya lumayan cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga kami. Ya, meski tak lebih besar dari penghasilanku sebelumnya. Namun, aku tetap menerima berapa pun nafkah yang ia berikan tanpa membandingkan penghasilan kami yang jomplang.
"Yang, tolong siapin baju, ya? Mas sebentar lagi mau ada acara dengan teman-teman, Mas," ucap suamiku.
Belum sempat aku mengeluarkan suara, suamiku kembali berkata, "Kamu di rumah aja. Soalnya acaranya sampai malam. Kasihan Delisha kalau ikut. Takut capek."
Aku mengangguk dengan melemparkan seulas senyum yang sudah pasti ada sedikit keterpaksaan di dalamnya. Namun, apa boleh buat? Bukankah kita sebagai seorang istri harus menuruti apa permintaan suami selama itu baik untuk kita?
Pria itu kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Suara gemericik air, terdengar dari balik pintu ruangan yang tak terlalu besar di samping kamar itu.
Aku beranjak menuju lemari pakaian di kamar kami, menyiapkan pakaian yang pantas untuk suamiku. Setelah itu, aku meninggalkan kamar itu menuju kamar putri kesayangan ku yang sedang bermain di ruang tengah.
Tepat saat aku selesai memandikan Delisha, suamiku juga selesai bersiap dan rapi.
"Mas berangkat dulu, ya?"
Aku mengangguk. "Hati-hati di jalan. Kalau bisa jangan pulang terlalu malam, ya?"
Dia tak menjawab. Namun aku bisa menangkap kalau dirinya terpaksa untuk tersenyum. Ia langsung pergi meninggalkan kami berdua di dalam rumah.
***
Waktu begitu cepat bergulir. Kini, hari sudah berganti malam. Meskipun langit masih gelap, terdengar ayam berkokok pertanda saat ini sudah tengah malam. Namun, suamiku masih belum juga datang.
"Ada acara apa hingga lewat tengah malam?" gumam ku sembari terus melihat ke arah jendela kaca yang tertutup. Berharap suamiku datang.
Jarum jam di dinding kamar menunjukkan pukul satu lebih lima belas menit. Terdengar suara mesin mobil memasuki pelataran rumah. Aku segera berlari ke luar menyambut suamiku yang pastinya lelah dari luar rumah.
Aku mendekat ke arah pria itu. Tak seperti yang aku duga, pria itu masih tampak segar. Dan bisa kulihat rambutnya masih basah seperti baru saja mandi. Aku menepis segala bentuk pikiran buruk yang tiba-tiba bersarang di kepalaku.
"Sudah pulang, Mas?" ucapku kepada suamiku yang baru saja menutup pintu mobil.
"E-eh, kamu belum tidur, Zhy?" sahutnya gugup.
"Zhy?" aku mengulang perkataan suamiku yang memanggilku dengan nama panggilanku.
"E-em, maksud aku ... kamu belum tidur, Yang?" ucapnya meralat perkataannya tadi.
"Iya, Mas. Sengaja nunggu kamu. Khawatir kamu kenapa-kenapa karena gak ada kabar."
"Ya udah, ayo kita masuk." Suamiku berjalan lebih dulu melewati diriku yang masih mematung di ambang pintu.
Aroma sampo lain terendus indera penciumanku saat pria itu lewat di depanku. Aku hafal aroma sampo yang ada di kamar mandi rumah kami. Aromanya tak seperti itu.
"Habis mandi di mana kamu, Mas?" tanyaku pada suamiku yang kini hendak berganti pakaian.
"Mandi di rumah teman. Tadi soalnya bantu benerin mobilnya yang mogok. Karena badan kotor semua dan gerah, jadi mandi aja sekalian," ucapnya enteng. Hanya saja dia tak berani menatap kedua mataku seperti biasanya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku, mencoba memahami meskipun sulit untuk dimengerti.
Aku tak mendapati bekas oli atau kotor mobil pada pakaiannya. Dan juga, kenapa harus keramas juga? Dengan aroma sampo wanita pula.
Aku duduk di tepi ranjang, menunggu suamiku yang sangat lama berganti pakaian. Tak biasanya pria itu berperilaku demikian.
Setelah sekitar lima belas menit di kamar mandi, suamiku keluar dari ruangan itu. Dia tersenyum lalu mengajakku tidur.
Karena tak ingin terus menerus berpikir yang tidak-tidak, aku memilih menuruti keinginan suamiku untuk merebahkan diri di atas ranjang kami.
Pria itu memelukku dari belakang. Seperti malam-malam biasanya, kami selalu tidur saling berpelukan.
Aku mencoba memejamkan mata meski rasanya sangat susah. Akan tetapi aku harus beristirahat meski hanya beberapa jam agar tubuhku tetap bugar karena aktivitas pagi hari yang sangat padat.
Saat jam menunjukkan pukul empat pagi, aku merasakan ada benda kenyal yang menyentuh leher belakangku. Siapa lagi kalau bukan ulah suamiku. Aku tak bergeming meskipun ia melakukan hal itu. Aku biarkan ia melakukan apapun yang ia mau.
Beberapa saat kemudian, ia menghentikan kegiatannya karena tak mendapat balasan dariku. Dia kemudian beranjak ke kamar mandi, menutup pintu dengan sedikit kasar.
"Apa mungkin ia marah?" gumam ku lirih.
Aku mendapati ponsel suamiku di sisi ranjang yang sebelumnya ia tempati. Kucoba membuka ponselnya. Dikunci.
"Tak seperti biasanya," gumam ku.
Aku terus mencoba menggunakan kombinasi angka yang sering ia gunakan bahkan menggunakan kombinasi tanggal lahir kami. Gagal.
Sekali lagi aku mencoba menggunakan kombinasi tanggal pernikahan kami.
Belum selesai aku mengetikkan angka untuk membuka kunci benda pipih itu, sebuah notifikasi pesan masuk tertera di layar.
Sebuah nama hanya dengan tanda titik mengirimkan pesan kepada suamiku. Bisa aku pastikan kalau orang yang mengirim pesan itu adalah seorang wanita. Melihat foto profil yang ditampilkan di sana adalah seorang wanita berkaca mata yang sangat cantik dan modis.
"Nanti tolong jemput Icha dulu kalau mau ke rumah ya?" aku membaca isi pesan yang tampak di layar pop up ponsel yang terkunci itu.
Ponsel itu kembali berbunyi, menampilkan sebuah pesan lain dari nomor yang sama.
Belum sempat aku membaca isinya, benda pipih itu kini sudah beralih ke tangan seorang pria yang menatapku nyalang.
"Apa-apaan kamu?!" bentaknya.
Aku hanya terdiam. Hanya karena memegang ponselnya, dia se-marah itu?
"Kamu bisa gak, sih, menghargai privasi aku? Ponsel ini privasi aku, jangan sekali-kali kamu menyentuh atau membuka isinya!" ujarnya dengan suara meninggi.
Aku tertegun. Masih tak menyangka dengan ucapannya yang baru saja ia katakan.
Tanpa terasa, bulir bening mengalir di kedua pipiku. Air mata itu lolos dari bendungannya tanpa permisi.
Aku menatap pria itu tak kalah sengit. Kulihat wajahnya memerah dengan dadanya yang naik turun menahan emosi.
Dalam diam, aku mencoba mencerna perkataan suamiku yang ia lontarkan barusan. Apakah itu artinya ia memasang pembatas di antara kami?
Selamat membaca ❤️❤️❤️
Suamiku kemudian berlalu ke luar kamar kami. Ditutupnya pintu kamar dengan kasar. Dini hari itu menjadi awal petaka itu dimulai.
Kedua kakiku terasa lemas. Masih tak menyangka, suamiku yang sebelumnya lembut dan hangat kepadaku, kini berubah menjadi seorang pemarah. Kenapa dia berubah? Apa yang salah?
Aku terduduk sembari menangis. Mendengar seruan azan yang menggema dari masjid yang tak jauh dari rumah.
Aku menguatkan kedua kakiku untuk melangkah ke kamar mandi, bergegas wudhu sebelum melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
***
Aku menyibukkan diri dengan memasak di dapur. Setelah mengetahui kalau suamiku tidur di kamar tamu, hatiku sedikit lega. Suamiku tak memutuskan ke luar rumah atau menemui pengirim pesan yang menjadi pemicu pertengkaran kami.
"Mas, sarapannya udah siap," ucapku membangunkan suamiku.
Aku menggoyangkan lengannya perlahan. Tanpa disangka, ia menepis tanganku yang bersentuhan dengan lengannya.
Dan entah mengapa, hatiku terasa sedikit nyeri mendapatkan penolakan darinya.
Aku meninggalkan kamar tamu. Membiarkan dirinya kembali mengarungi mimpi.
Beruntung saat itu adalah hari Minggu. Yang artinya dia libur bekerja. Tetapi hatiku masih tetap merasa tak tenang. Aku takut suamiku benar-benar pergi menemui orang itu, orang yang tak ku kenali siapa itu.
Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Terdengar derap langkah mendekat ke arahku yang tengah bermain dengan Delisha.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar menyeret lenganku dengan kasar. Nyaris membuatku terjatuh karena tindakan kasar yang mengagetkan ku. Beruntung saat itu Delisha tak sedang dalam pangkuanku.
Aku menatap pria yang tengah memegang lenganku dengan sangat erat hingga aku meringis kesakitan.
"Kenapa kamu gak bangunin aku?!" geram suamiku, Raka.
"Lepasin dulu tanganmu, Mas." Aku berusaha melepas cengkeraman tangan pria itu yang semakin erat.
"Jawab dulu pertanyaan ku!!" bentak pria itu.
"Sakit, Mas. Lepasin tanganmu! Kamu menyakitiku!" ucapku dengan suara yang mulai meninggi.
Ia melepaskan cengkeraman tangannya dan menghempaskan lenganku kasar. Nyaris saja membuatku terjungkal.
"Aku sudah membangunkan mu jam tujuh tadi. Tapi kamu tak merespon. Kamu bahkan menepis tanganku saat aku berusaha membuatmu terjaga," ucapku sembari mengusap lenganku yang masih terasa nyeri.
"Alah! Alesan! Sudahlah, malas aku melihatmu lama-lama," ucap suamiku kemudian berlalu pergi.
Kulihat dia berjalan menuju kamar kami. Aku tak mengejarnya, karena tak mungkin aku membiarkan Delisha sendirian.
Tiga puluh menit kemudian, Delisha merengek. Sepertinya gadis kecilku kembali mengantuk. Malaikat kecilku itu masih suka tidur karena selalu bangun terlalu pagi. Setiap pukul setengah lima, gadis mungil itu sudah terjaga.
Aku membawa gadis kecilku ke kamarnya. Tepat saat aku membuka pintu kamar anakku, kulihat suamiku berjalan ke luar rumah dengan terburu-buru. Ingin rasanya aku mengejar pria itu dan mengikutinya.
Namun aku mengurungkan niatku mengingat Delisha yang mengantuk dan tak memungkinkan untuk berkendara. Tak mungkin juga aku membiarkan Delisha tinggal di rumah dengan ART yang masih sibuk mengerjakan pekerjaannya di ruang belakang sana.
Aku mengalah. Aku yakin, akan tiba saatnya apa yang suamiku sembunyikan, terbuka dengan sendirinya.
***
Hari sudah mulai sore. Senja sudah mulai menampakkan diri. Matahari sudah hendak kembali ke peraduannya. Aku masih menunggu suamiku di teras rumah. Berharap ia yang pergi sedari pagi, akan pulang sore ini.
Hingga azan Maghrib berkumandang, lelakiku tak kunjung datang. Tak ada kabar yang ia berikan. Apakah dia baik-baik saja di luar sana?
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku harus menyiapkan makan malam, khawatir suamiku pulang dalam keadaan lapar.
Saat aku baru saja menutup pintu rumah, terdengar suara mesin mobil memasuki carport rumah kami. Mobil itu berhenti, lalu suamiku tampak keluar dari dalamnya. Raut wajah datar ia tunjukkan saat melihatku menyambutnya di ambang pintu.
Dia mengabaikan ku, lagi!
Aku berusaha tersenyum, menghibur gadis kecil yang sedang aku gendong. Gadis itu merengek saat mendapati ayahnya tak menghiraukannya.
"Mas! Delisha." Aku memanggil suamiku, berharap pria itu mau menoleh ke arah Delisha.
Raut wajahnya berbeda dengan saat melihatku tadi. Suamiku menyambut Delisha yang meminta untuk digendong. Senyuman itu, tak lagi ia tunjukkan kepadaku. Kenapa? Apa salahku? Apa masih karena ponsel itu?
"Titip Delisha dulu sebentar, Mas. Aku mau nyiapin makan malam."
Dia tak menjawab. Hanya sebuah anggukan yang ia berikan sebagai persetujuan.
Aku bergegas memasak secepat kilat agar suamiku tak mengeluh lagi karena masakan lama terhidang. Dia selalu makan malam pukul tujuh, sesudah salat isya'.
Beberapa menit kemudian, makanan sudah selesai aku hidangkan. Aku berjalan menuju ruang tengah di mana Delisha dan suamiku bermain bersama sebelumnya.
Kulihat Delisha tertidur dengan nyenyak dalam dekapan ayahnya. Keduanya tampak kelelahan hingga tertidur di atas sofa.
Aku mendekat ke arah ayah-anak yang tertidur dengan lelap itu. Perlahan aku mengangkat tubuh mungil malaikat kecilku. Berharap makhluk mungil itu tak terusik dengan apa yang aku lakukan.
Menyadari aku mengangkat Delisha, suamiku akhirnya terjaga. Pria itu mengerjap perlahan lalu duduk di pinggir sofa tempat ia tertidur sebelumnya.
"Makan malam sudah siap. Makanlah dulu selagi hangat."
"Hemm." Pria itu mengangguk lalu berjalan menuju wastafel dapur untuk mencuci tangan dan mencuci wajahnya agar sedikit segar.
Aku meletakkan putriku di atas ranjang kecil di kamarnya. Gadis kecil itu tak merasa terganggu saat ku pindahkan. Mungkin ia masih merasa berada dalam dekapan Mas Raka. Sehingga ia tertidur dengan tenang.
Setelah itu, aku berjalan menuju dapur. Hendak menemani suamiku makan malam bersama. Dia masih di sana.
Ku lemparkan senyuman seperti biasanya. Namun, dia tak menatapku lagi. Mengabaikan ku dan bertindak seolah aku tak ada.
"Kamu masih marah, Mas?" tanyaku.
Dia tak menjawab.
"Maaf," ucapku lagi.
"Iya, aku maafin."
Setelah itu, kulihat suamiku meninggalkan meja makan sembari membawa piringnya yang sudah kosong ke tempat cuci piring.
Tak sengaja kulihat sebuah noda merah di kerah baju suamiku yang berwarna biru muda itu. Aku mendekat ke arah suamiku. Terendus bau parfum wanita.
Aku memberanikan diri menyentuh kerah baju suamiku. Memastikan kalau penglihatan ku tak salah. Sebuah noda merah namun tampak samar menempel di sana.
"Apa-apaan kamu?!" seru suamiku yang mungkin terkejut dengan kelakuanku yang tiba-tiba saja menarik krah bajunya.
Aku mundur beberapa langkah. berjaga agar pria itu tak bisa menjangkau ku jika memukul aku saat marah.
"Siapa wanita itu, Mas?" tanyaku dengan suara bergetar.
Mas Raka tampak terkejut. Dia tampak gugup mencari-cari alasan yang semakin tampak kebohongannya.
"B-bukan siapa-siapa. A-apa urusanmu?!" pria itu berusaha menutupi rasa terkejutnya.
"Parfum wanita dan noda merah lipstick, tertinggal padamu. Siapa dia, Mas?"
Selamat membaca ❤️❤️
Mas Raka memilih untuk pergi. Meninggalkanku yang masih menahan bendungan air yang dalam hitungan detik akan membuat aliran sungai deras melewati kdua pipiku.
"Tega kamu, Mas!" gumam ku di sela tangis yang mulai pecah.
Aku bangkit dan berjalan menuju kran air di dapur. Ku basuh wajahku agar penglihatan ku yang sedikit buram menjadi lebih cerah.
Selera makan kini telah sirna. aku merapikan sisa masakan di atas meja dan memasukkannya ke arah kulkas. berjaga-jaga takut suamiku akan merasa lapar saat malam hari seperti biasanya.
Ah, di saat seperti ini aku masih memikirkan dia?
Ingin rasanya aku menghapus segala ingatan tentang dirinya. Tapi sangat sulit. Pernikahan yang sudah lima tahun kami lalui tak semudah itu membuatku lupa. Apalagi perlakuan manisnya yang sebelumnya sangat luar biasa. Tak pernah sedikitpun aku membayangkan badai ini menerpa kehidupan rumah tanggaku.
Aku kira hanya ada di televisi atau novel-novel online yang sering aku baca. Ternyata kehidupanku kini tak jauh berbeda dengan apa yang pernah aku baca.
Apakah aku terlalu terbawa suasana dan mendalami karakter dalam cerita? Tidak! ini nyata! Rasa sakitnya benar terasa.
Tak semua pria bisa tahan dengan godaan yang bernama wanita. Dan apa mungkin suamiku seperti itu? Ya, bisa saja.
Tapi kenapa? apakah sudah tak ada lagi cinta dalam kehidupan rumah tangga kami?
Aku bergegas menuju kamar. Berharap suamiku akan kembali ke kamar kami seperti malam-malam sebelumnya.
Aku lebih dahulu memastikan Delisha tertidur lelap dan tak terganggu dengan pertengkaran kami baru saja.
Setelah dipastikan gadis kecil kami tertidur dengan lelap, bergegas aku berlari menuju kamar. dengan merapal doa, aku berharap suamiku ada di sana.
Ku buka pintu kamarku perlahan. Takut ia terganggu dengan suara pintu yang terbuka. Ku langkahkan kaki masuk ke dalam kamar kami yang cukup besar itu. Saat aku melihat ke arah ranjang kami, tak kudapatkan jejak suamiku di sana. Peraduan kami masih tampa rapi seperti sebelumnya.
Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar itu. berharap ia berada di sana. Sedang bersembunyi, mungkin?
Nihil!
Suamiku tak ada di sana. Lalu, ke mana dia?
Aku bergegas menuju luar rumah. Memastikan pria itu tak pergi meninggalkan rumah. Namun, tak sesuai perkiraan ku. Suamiku membawa mobilnya pergi meninggalkan rumah dan pergi entah ke mana
Tubuhku kembali luruh. Apakah aku sanggup menghadapi badai pernikahan kami? Akankah aku sanggup bertahan?
***
Tanpa sadar aku tertidur di sofa ruang tamu rumah ini. Aku terjaga saat toa masjid mengumandangkan panggilan untuk bersama-sama menunaikan kewajiban subuh. Gegas aku menuju kamar mandi dan melaksanakan kewajiban ku sebelum kembali memulai beraktifitas pagi itu.
*
Aku berjalan menuju kamar putri kecilku, memastikan apakah ia sudah terjaga atau masih nyaman mengarungi alam mimpinya.
Tak seperti biasanya Delisha masih tertidur pukul lima pagi ini. Namun, aku bersyukur. Itu artinya masih banyak waktu untukku menyiapkan keperluan anak dan suamiku serta membereskan rumah yang menjadi rutinitas setiap hari sebagai seorang ibu rumah tangga.
Ku coba menghubungi ponsel suamiku. berharap pria itu pagi ini menjawab panggilanku yang sejak malam diabaikannya.
Berulang kali aku mencoba menghubungi pria yang masih berstatuskan sebagai suamiku itu. Setelah panggilan ketiga, panggilanku dijawabnya.
"Halo?" suara seorang perempuan terdengar di seberang panggilan.
Belum sempat aku bersuara, suara seorang wanita asing justru menyapa indera pendengaran ku di pagi itu. Ku tutup mulutku dengan tangan kananku yang tak memegang benda lain. Air mata turun tanpa sempat permisi, membuat kedua mataku yang masih membengkak kembali terasa perih.
"Siapa yang menelpon?" Ku dengar suara pria yang tak asing bagiku. Seorang lelaki yang aku rindukan, yang aku khawatirkan keadaannya sejak malam tadi.
"Nggak tau Mas. Gak ada suaranya," jawab wanita yang sepertinya tengah memegang ponsel suamiku itu.
"Ada namanya, gak?" tanya pria itu lagi. Bisa ku dengar langkah pria itu yang mendekat ke arah ponselnya.
"Gak ada namanya, nih!" Bisa kubayangkan wanita itu menyodorkan ponsel suamiku kepada pemiliknya.
Tak ku dengar lagi suara dari seberang sana. Bisa aku pastikan pria itu kini sedang gugup dan akan bergegas kembali ke rumah ini.
Aku matikan ponsel yang panggilannya masih terhubung namun tak lagi terdengar suara di seberang sana.
Beruntung ponselku memiliki fitur rekam otomatis yang tak pernah diketahui oleh suamiku.
Pertanyaan yang selama ini terngiang di kepalaku, yang menjadi awal percikan api dalam hubungan pernikahan ini sudah mendapatkan titik terang. Kini aku sudah tahu apa penyebab suamiku berubah drastis, bahkan aku merasa tak lagi mengenali dirinya.
Aku bisa memastikan kalau hubungan mereka sudah terjalin begitu lama. Mendengar nama panggilan yang wanita itu lontarkan, cukup membuatku yakin kalau mereka menjalin hubungan spesial.
Mas Raka memang memiliki adik perempuan. Aku mengenal dengan baik suara adik-adiknya.
Aku melanjutkan kegiatanku pagi itu. Mengalihkan pikiran ku agar tak terbawa emosi yang sudah ada di ubun-ubun.
Kali ini aku tak boleh menangis. Air mataku terlalu berharga untuk seorang pria yang masih bertahta sebagai suamiku. Aku harus kuat demi anakku.
Tepat saat aku menyelesaikan kegiatan memasak sarapan pagi itu, aku mendengar suara langkah kaki memasuki rumah. Sudah bisa aku tebak, suara siapa itu.
"Zhy, Mas minta maaf. Itu tak seperti yang kamu pikirkan," ucap Mas Raka dengan suara yang tampak bergetar.
Aku bisa menebak kalau pria yang kini tengah mengekor di belakangku ini sedang ketakutan. Pria itu tak mau disalahkan. Dia enggan mengakui kalau kejadian tadi pagi adalah sebuah pengkhianatan.
Aku berusaha tetap tenang menghadapi pria yang tengah merengek seperti kucing itu.
"Makanlah!" ucap ku singkat.
Aku tak ingin mengucapkan banyak kata lagi yang nantinya akan berujung percuma. Aku tak ingin menunjukkan kelemahan ku di hadapannya. Dia tak boleh tahu kalau aku saat ini sedang rapuh.
Aku meninggalkan dapur dengan membawa menu sarapan putri kecilku. Aku bisa merasakan suamiku masih mengekor di belakangku.
"Makanlah! Aku yakin kamu belum sarapan di rumahnya."
Aku merasa ucapan ku kali ini terlalu kasar. Pria itu tampak terkejut saat aku mengatakan kalimat terakhir yang sengaja aku lontarkan untuk menyindirnya.
Mas Raka kemudian berbalik menuju dapur. Dia menuruti perkataan ku agar mengisi perutnya yang kosong.
Aku menyuapi Delisha terlebih dahulu. Sembari menyiapkan hati sebelum mendapat penjelasan yang aku yakin akan meremukkan hatiku.
Aku menghembuskan napas kasar. Makanan Delisha sudah tandas bertepatan dengan Mas Raka yang sudah menyelesaikan sarapannya.
Aku menitipkan Delisha kepada asisten rumah tangga yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya mencuci pakaian.
"Kita perlu bicara, Zhyvanna," ucap Mas Raka saat mendapati diriku yang hendak berlalu pergi.
"Tunggu di ruang tengah. Aku mau menaruh ini," ucapku sembari mengangkat alat makan Delisha yang sedang aku pegang.