"Ya, begitu, Sayang. Kamu sangat lihai bergoyang. Ah ... ini benar-benar nikmat seperti yang kubayangkan."
Lenguhan suara yang bercampur antara pria dan wanita dewasa itu membuat seorang perempuan berkaca mata tebal dan berpenampilan culun itu bergetar hebat.
Lalu, dengan keberanian yang ia kumpulkan dengan susah payah, pintu apartemen itu ia buka dengan kencang.
Brak!
"Apa yang kalian lakukan?!"
Mata perempuan itu seketika memerah. Bingkisan berupa kue ulang tahun yang ia beli terjatuh dan isinya berserak keluar.
Di hadapannya, sepasang pria dan wanita yang sangat ia kenal tengah saling mereguk kenikmatan masing-masing. Bahkan, keduanya kini sedang tanpa busana!
"Kim Nara! Apa yang kau lakukan di sini!" ucap Axel terkejut. Ia tak menyangka, Kim Nara tiba-tiba muncul di apartemennya.
"Axel, kenapa kau tega melakukan semua ini! Kenapa harus dengan Vallerie?!"
Mata Kim Nara sembab, pengkhianatan di depannya benar-benar membuatnya hancur.
Ia awalnya berniat untuk memberikan surprise pada Axel dengan membawa kue untuk merayakan ulang tahunnya.
Namun justru, Kim Nara lah yang mendapat kejutan. Kejutan yang sangat menyakitkan. Axel justru tengah bergulat mesra di ranjang dengan perempuan lain. Dan, sialnya, perempuan itu adalah Valerrie, atasan Kim Nara sendiri!
Valerrie tengah bersandar di dada Axel dengan manja. Ia menatap Kim Nara seolah-olah menantangnya.
"Tempatmu memang seharusnya berada di bawahku, Nara. Bagaimana bisa perempuan jelek sepertimu, berusaha berada di atasku? Itu, tak akan pernah terjadi," ucap wanita itu penuh dendam.
Selama ini, Kim Nara selalu mendapatkan beban pekerjaan yang benar-benar tidak manusiawi dari Vallerie. Bahkan, ia kerap lembur karena pekerjaan-pekerjaan yang harusnya bukan merupakan tanggung jawabnya.
Namun demi bisa bertahan hidup, Kim Nara tak pernah bisa membantah, apalagi menolak perintah atasannya itu. Termasuk malam ini, ia dengan tergesa-gesa menuju apartemen Axel dari kantornya setelah mengerjakan kerjaan tambahan dari Vallerie.
Tetapi, justru Vallerie yang lebih dulu tiba. Bahkan, ia tengah berpeluh mesra dengan pacarnya itu!
"Jalang! Hentikan omong kosong itu dan enyah dari hadapannya!"
Kim Nara tak tinggal diam. Perempuan itu menarik Vallerie dari tubuh Axel hingga menyebabkan kerusuhan di antara mereka tak bisa dihindarkan.
Aksi saling dorong, jambak, hingga saling cakar mewarnai pertarungan kedua perempuan itu. Mengoyak mantel dan pakaian yang digunakan Kim Nara, serta meninggalkan bekas cakaran di tubuh telanjang Vallerie.
Sementara Axel berusaha menghentikan Kim Nara yang sangat brutal menyerang Vallerie dengan seluruh tenaga yang masih tersisa.
"Hentikan bodoh! Harusnya kamu cukup sadar diri dengan apa yang terjadi! Dibandingkan kamu, Vallerie yang lebih pantas menjadi kekasihku!" teriak Axel semakin melukai perasaan perempuan itu.
Ia tak percaya lelaki yang sudah satu tahun ini menjadi kekasihnya dan selalu bersikap manis dengan penuh cinta, mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan.
"Jadi ini sifat aslimu? Jadi ini alasan kenapa kamu selalu datang ke kantor sejak enam bulan terakhir? Diam-diam kamu berhubungan dengan wanita busuk ini?!" teriak Nara semakin tak terkendalikan.
Plak!
Sebuah tamparan menghentikan kalimat Kim Nara. Ia tak hanya merasakan perih di wajahnya, tapi juga di bagian organ paling dalam di tubuhnya.
Kalimat yang terucap dari Axel selanjutnya membuat perempuan itu benar-benar hancur.
"Dibandingkan kamu, Vallerie lebih memiliki segalanya. Kau seharusnya ngaca! Penampilanmu yang tak pernah berubah itu membuatku malu! Jangan bicara busuk jika kamu lebih busuk dibandingkan dia!"
Tangan Kim Nara mengepal. Ia tak mau diperlakukan seperti sampah oleh orang-orang yang lebih sampah dibandingkan dirinya.
"Kalian pantas mendapatkan ini!" jerit Kim Nara frustrasi sambil mengacungkan vas bunga yang berada di sampingnya.
Namun, gerakan perempuan itu kalah cepat dengan Axel yang lebih dulu menghantam kepala Nara dengan benda tumpul yang tak sengaja ditemukan dalam kamar.
Bruk!!
Tubuh si perempuan terkulai lemas di atas lantai kamar. Darah merembes dari bekas luka di kepala. Napasnya tersengal. Sementara air mata yang rebas membasahi pipi tak juga mengering.
"Axel! Apa yang kau lakukan!" ucap Vallerie dengan panik.
"Tentu saja menyelamatkanmu dari wanita buruk rupa ini! Sudah, bantu aku mengangkat tubuhnya!" Axel dengan gemetar menyeret tubuh Kim Nara bersama Vallerie yang tak kuasa menahan ketakutannya.
"Gadis yang malang. Seharusnya ia tak perlu mati sia-sia jika tahu di mana tempatnya!"
Sementara itu, kesadaran Kim Nara benar-benar semakin tipis. Hidupnya benar-benar hancur tak bersisa.
Sebelumnya, Kim Nara selalu mendapatkan cacian serta makian dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Setelah ditinggal ibu dan ayahnya, Kim Nara harus bekerja dengan keras demi menghidupi adiknya dan mengiriminya uang untuk sekolah dan kebutuhan hidup.
Saking kerasnya ia bekerja, ia sampai tak sempat untuk merawat tubuh dan penampilannya. Karena itu, tak pernah ada pria yang mendekatinya dan hal itu membuatnya berpikir ia merupakan wanita terjelek di dunia.
Sampai akhirnya, pria itu datang dan memberikan kesempatan Kim Nara untuk bahagia. Sayangnya, Axel hanya memanfaatkan kedekatan Kim Nara dengan Vallerie untuk lebih dekat dengan wanita itu. Kekecewaan itu membuat Kim Nara benar-benar menganggap dirinya menyedihkan!
"Aku ingin mati saja! Hidupku di dunia ini benar-benar tidak ada artinya!"
Sebelum mata Kim Nara terpejam, ia masih sempat melihat jam. Pukul 09.00 PM.
Tiba-tiba sebuah suara muncul diiringi cahaya yang membutakan mata.
"Uhuk ...."
Perempuan itu terbatuk. Ia tersedak oleh napasnya sendiri yang kembali secara tiba-tiba. Setelah sebelumnya ia merasa sesak seakan paru-parunya hendak meledak.
"Hah!"
Napasnya tersengal. Dengan rakus ia menghirup begitu banyak udara melalui hidung untuk mengisi kembali paru-parunya yang kosong.
Pelan-pelan, ia menyadari ada yang tidak biasa dari dirinya. Ia melihat sekeliling, dan mencoba menggerak-gerakkan tangannya.
“A-aku masih hidup?”
"Gadis yang malang. Seharusnya ia tak perlu mati sia-sia jika tahu di mana tempatnya!"
Suara itu kembali terdengar meski begitu samar. Tangannya refleks mengepal. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan menahan geram. Berusaha menemukan pemilik suara yang tiba-tiba ia benci sampai ke tulang-tulang.
Namun, yang ia temukan sama sekali berbeda dengan fakta yang diharapkan. Perempuan itu tak menemukan orang yang seharusnya telah menghina, merampas, hingga membuatnya terluka.
Luka?
Perempuan itu meraba bagian belakang kepalanya. Tak ada luka yang seharusnya berada di sana.
Padahal ia ingat betul lelaki berengsek itu memukul kepalanya hingga kehilangan kesadaran. Ia pikir dirinya sudah mati, tapi ternyata dirinya terbangun dalam keadaan linglung.
Dipikir-pikir, ia tak mengenali tempat di mana dirinya berada sekarang. Tempat itu berupa sebuah ruangan yang luas dan besar.
Gelap. Tak ada peneranggan. Perempuan itu hanya mendengar suara yang kembali terulang. Meski tak pernah tahu, di mana keberadaan suara-suara itu.
"Benar-benar gadis yang malang."
"Dia yang memilih jalannya sendiri."
"Apa boleh buat. Kaisar sudah menentukan pilihan."
Suara-suara di sekitarnya pun semakin jelas terdengar. Namun, tak ada seorang pun yang terlihat batang hidungnya.
"Halo!" seru perempuan itu. Berharap seseorang membalas seruannya.
Meski begitu, tak ada satu pun yang memberikan tanggapan.
"Percuma, tak akan ada orang yang mendengar suaramu. Suara-suara itu hanya berada dalam kepalamu," ucap sebuah suara dengan tiba-tiba.
Panik, ia menoleh ke sembarang arah. Kondisi ruangan yang gelap sama sekali tak menguntungkan bagi dirinya.
"Siapa di situ?" tanya si perempuan dengan suara gemetar.
"Aku sang pengendali waktu!"
Si perempuan semakin panik setelah mendengar jawaban. Tubuhnya yang setengah gemetar kembali ambruk ke atas lantai yang lembab dan dingin. Otaknya masih tak bisa mencerna di mana ia berada sekarang.
"Pe-pengendali waktu? A-anda, Dewa?"
"Bukan."
"Kalau bukan, la-lalu apa Anda, penyihir?"
"Bukan. Terserah apa kau menyebutnya. Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal yang harus kamu tahu!" Suara itu mulai tak sabar.
"Sa-saya tidak mengerti maksud ucapan Anda."
"Itulah mengapa aku datang untuk memberi tahumu."
Suara itu semakin terdengar keras dan dekat. Namun, tetap tak ada satu pun sosok yang tertangkap oleh retina.
Seakan suara itu hanya berasal dari dalam kepalanya sendiri. Apa ia sudah mulai gila? Kalaupun ia memang tidak gila, memang apa yang diharapkan dari tempat gelap tanpa penerangan seperti ini?
Sosok perempuan itu hanya sanggup bersimpuh di atas lantai yang dingin tanpa tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
"Kamu harus mendengarkan aku, Kim Nara!" sambung suara yang mengaku bahwa dirinya Sang Pengendali Waktu, membuat perempuan itu tersentak.
Untuk beberapa waktu ia sempat lupa siapa namanya. Satu-satunya hal yang ia ingat hanyalah bagaimana seorang wanita menindih tubuh kekasihnya dan lelaki berengsek itu justru memukul kepalanya hingga terluka. Bahkan mungkin hingga tak lagi bernyawa.
Faktanya ia terbangun dalam kondisi yang sama sekali tak dipahami. Dengan seseorang yang mengaku sebagai Sang Pendendali Waktu.
"Harusnya, kau sudah mati saat lelaki yang mengaku sebagai pacarmu itu memukul bagian belakang kepalamu. Tapi aku menyelamatkanmu dan membawamu ke dunia ini."
"A-apa? Mati? Jadi aku benar-benar sudah mati dan hidup kembali?" tanya Kim Nara yang sudah mengingat kembali namanya.
"Lebih tepatnya aku memindahkan nyawamu yang sudah sekarat ke tubuh perempuan yang kau tempati sekarang."
"Tu-tunggu, tunggu. Aku tak memahami ucapanmu, Tu-tuan?"
Dari suaranya jelas ia terdengar panik. Kim Nara bahkan tak lagi menggunakan bahasa formal yang sebelumnya ia gunakan.
Kini ia semakin tak memahami dengan apa yang terjadi.
"Argh, sudahlah. Aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskannya padamu. Intinya, kamu bisa hidup di dalam tubuh perempuan yang kau tempati sekarang. Anggap saja ini kesempatan kedua yang diberikan padamu," suara itu kembali terdengar tak sabar.
"Kau tentu ingin balas dendam kepada lelaki yang sudah membuatmu seperti ini bukan?"
Meski tak tahu dengan apa yang ia harapkan, Kim Nara mengangguk sebagai jawaban.
"Jika memang begitu, selesaikan tugasmu di dunia ini dan kamu bisa kembali untuk membalaskan dendammu pada Axel!"
"Jadi, benar aku bisa kembali dan membalas dendam pada mereka?" Nara bertanya dengan sedikit harapan yang membuncah.
"Tentu saja, kamu bisa kembali pada akhirnya. Asalkan, kamu bisa menyelesaikan tugasmu dengan baik."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Kamu akan segera tahu. Yang paling penting sekarang, kamu bukan lagi Kim Nara, melainkan Reinhart Blanchett."
"Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa lagi nanti!" Suara itu tiba-tiba menghilang. Tak menyisakan apa pun selain Kim Nara yang sendirian.
"Tunggu, siapa Reinhart Blanchett?" teriak perempuan itu tak lagi mendapatkan jawaban.
Bahkan ia tak mendapati suara apa pun, kecuali kesunyiaan. Namun, hal itu tak bertahan lama.
Suara yang memekakkan telinga membuat punggung Kim Nara tegak sepenuhnya. Ia kini berdiri di tengah ruangan sambil menatap keadaan sekitar dengan waspada.
Drakk!!
Suara itu makin keras terdengar. Seperti berasal dari pintu besar dan berat yang mengayun terbuka.
Lentera tiba-tiba menyala. Ruangan gelap seketika berganti dengan cahaya terang yang berasal dari nyala obor.
Saat itulah, Kim Nara baru menyadari bahwa ia sedang berada di sebuah ruangan yang sangat besar dan luas. Dinding-dindingnya dipenuhi berbagai macam patung dan relief yang sangat indah. Seperti muncul dari sebuah lukisan kuno yang sesekali ia nikmati di museum ketika hari libur.
Perempuan itu terpaku. Sekalipun ia tetap tidak tahu di mana dirinya berada sekarang.
"Yang Mulai Kaisar memasuki ruangan!" seru seseorang yang berada paling dekat dengan pintu.
Tubuh Kim Nara kian menegang. Perempuan itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, sepertinya sang pemilik tubuh sebelumnya mengingat apa yang harus dilakukan di saat seperti ini.
Terbukti, tubuhnya membungkuk 90 derajat sambil membentangkan gaun yang ia kenakan. Sekalipun Kim Nara bisa merasakan jika gerakannya sangat kaku dan sedikit menantang.
"Salam kepada Matahari Kekaisaran Demir. Seharusnya Kaisar tak perlu datang ke sini hanya untuk memastikan perempuan ini selamat. Saya yang akan melaporkannya pada Kaisar." Seorang pria berpakaian ksatria tiba-tiba berjalan di samping lelaki yang disebut-sebut sebagai kaisar.
Kim Nara sama sekali tak berani mengangkat tubuhnya. Ia masih membungkuk dalam sambil menyaksikan langkah kedua orang yang mendekat ke arahnya.
"Aku ingin tahu, seperti apa perempuan yang akan menjadi permaisuriku," ucap sebuah suara terdengar berat dan tegas.
Menggetarkan seluruh tubuh Kim Nara yang tak berhenti gemetar.
"Hei, angkat kepalamu!" suara lain terdengar sedikit lebih kejam. Diikuti gerakan yang cukup kasar. Memaksa Kim Nara mengangkat wajahnya di hadapan kaisar.
"Inilah bedanya kamu dengan seorang lady yang terhormat. Apa orang tuamu tak pernah mengajarkan cara memberi salam pada Kaisar?" ucap pria itu semakin dingin dan kejam.
Kini, Kim Nara bisa melihat bagaimana sosok dan rupa orang yang telah membentaknya. Pria itu memiliki tubuh yang besar dan tegap. Wajahnya ternyata sangat tampan. Namun, bekas luka yang membentang di sekitar wajahnya menceritakan seberapa keras hidup yang dilaluinya.
"Saya memberi salam kepada Matahari Kekaisaran Demir," ujar Kim Nara terdengar kaku.
Ia hendak membungkukkan badan untuk kedua kali ketika seorang lelaki menahan bahunya dengan ujung pedang.
Jujur saja, itu lebih menakutkan ketimbang semua hal yang pernah ia hadapi sebelumnya. Apa mungkin ia bakal kehilangan kepalanya jika membuat kesalahan? Itulah yang Kim Nara pikirkan hingga membuat seluruh tubuhnya semakin gemetar ketakutan.
"Tak perlu berlebihan, kita akan menjadi pasangan suami-istri sebentar lagi," ucap sang kaisar dengan nada lembut.
Anehnya, itu sama sekali bertolak belakang dengan raut wajah yang terlihat dingin dan datar. Bahkan, sorot matanya lebih terlihat mematikan ketimbang semua lelaki yang pernah Kim Nara kenal.
Hanya dengan bertatapan sekali saja, membuat seluruh tubuh Kim Nara gemetar ketakutan.
Apa ini tugas yang harus ia selesaikan setelah berpindah dimensi? Menjadi istri Kaisar?!
Utusan Kekaisaran Demir baru saja tiba di wilayah kekuasaan keluarga Blanchett. Titah kaisar menyebutkan bahwa keluarga tersebut harus menyerahkan anak gadis mereka untuk dijadikan istri sang kaisar.
Sebagai utusan sang penguasa yang memiliki kekuasaan hampir di seluruh daratan, tentu kedatangan mereka bukanlah untuk sebuah penolakan. Mereka harus kembali dengan membawa apa yang diinginkan kaisar.
Sementara keluarga Blanchett merupakan keluarga grand duke yang berada di wilayah perbatasan antara Kekaisaran Demir di wilayah barat dan Kerajaan Corbella di wilayah utara.
Selama ini Grand Duke Blanchett memiliki sejarah yang cukup panjang sebagai ksatria yang setia kepada Kerajaan Cobella. Namun, setelah perang panjang menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Corbella, tak ada lagi peperangan yang melanda benua. Kini keluarga Blanchett tinggal menikmati kerja keras para leluhur mereka.
Terlebih kedua kerajaan yang berbatasan dengan wilayah Grand Duke Blanchett pun memiliki hubungan baik, jadi tak pernah ada pertumpahan darah di antara keduanya. Itu menjadikan wilayah Grand Duke Blanchett memiliki keuntungan besar meski berada di wilayah perbatasan kedua kerajaan.
Usaha perdagangan dan tambang milik keluarga itu pun berjalan lancar tanpa ada kendala yang cukup berarti. Hal itu membuat keluarga tersebut dilimpahi kekayaan.
Namun, fakta yang harus Reinhart pahami bahwa ia bukanlah keturunan resmi yang berhak mendapatkan warisan dari keluarga Blanchett, selain gelar nama yang ia sandang. Itu pun diberikan atas kemurahan hati Grand Duke terdahulu.
Jika bukan karena beliau, ia tak akan pernah mendapatkan pengakuan dari pria yang mengaku sebagai ayah, tapi tak pernah berlaku sebagaimana mestinya.
Ibunya bukanlah istri sah dari sang tuan tanah. Alias selir yang dipelihara oleh Lupeon Blanchett sebelum mati akibat kelicikan istri sahnya. Yang berarti ia tak berhak mendapatkan apa pun, selain semua itu nantinya bakal diwariskan kepada anak tertua sekaligus anak lelaki mereka. Edgar Blanchett.
Selain itu, masih ada dua anak lainnya yang dilahirkan oleh Anastasya Blanchett. Amarilis Blanchett yang dua tahun lebih dua dari Reinhart dan Aster yang saat ini masih berusia sepuluh tahun.
Jangan tanyakan hubungan mereka. Selain berebut kekuasaan, mereka tak pernah menganggap Reinhart sebagai saudara.
"Saya menghadap Yang Mulai Grand Duke dan Gran Duchess Blanchett," ucap Reinhart sambil membentangkan gaun dan membungkuk di hadapan orang yang mengaku sebagai ayah serta nyonya di rumah ini.
"Kamu akan berangkat ke Demir besok pagi!" titah Lupeon Blanchett di sela makan malam.
"Saya sudah mengatakan ini sebelumnya, Ayah. Saya tidak mau menjadi istri Kaisar Demir."
"Apa kau pikir, kau berada dalam posisi menolak perintah ini?!" Seru sang nyonya rumah dengan wajah marah.
Reinhart melirik ke arah Anastasya Blanchett. Wanita itu tengah menatapnya dengan raut muka bengis seolah ingin melenyapkannya.
"Saya dengar, raja hanya ingin menikahi perempuan itu selama 99 hari. Setelahnya dia akan menghukum mati siapa pun yang bakal menjadi istrinya. Apa Anda kira saya mau menyerahkan nyawa saya begitu saja hanya demi mempercepat kematian saya?" Reinhart mengucapkan kalimat itu dengan berani.
"Kau memang pantas mati. Memang siapa yang menginginkan kamu hidup di dunia ini?" Edgar Blanchett ikut memberikan tanggapan hingga membuat tangan Reinhart mengepal geram.
"Benar, tak ada seorang pun yang berharap kamu hidup di dunia ini!" Amarilis anak kedua dalam keluarga Blanchett, menambahkan.
"Apa kamu percaya dengan rumor murahan semacam itu? Kaisar adalah orang yang penuh perhatian kepada istrinya. Para permaisuri itu berumur pendek karena mereka memiliki penyakit," tegur Anastasya membungkam mulut Reinhart.
"Jika kaisar bersikap bengis pada para istrinya, tak mungkin kaisar memerintahkan utusan untuk datang jauh-jauh ke wilayah Blanchett!" sambung wanita itu dengan penuh penekanan.
"Apa kamu kira pekerjaan mereka hanya untuk menemukan calon istri yang tak tahu malu seperti kamu?" tandasnya lebih tegas.
"Kau dengar kata Ibu, pergilah menjadi istri kaisar dan kau akan mati pada hari ke-99," tandas Amarilis dengan raut muka yang benar-benar menjijikan.
Kalau saja Reinhart memiliki kekuatan untuk melawan, ia ingin sekali menancapkan garpu ke atas punggung tangan perempuan yang hanya selisih dua tahun lebih tua darinya.
Bahkan seekor nyamuk sekalipun masih diberi kesempatan untuk hidup. Mengapa dirinya sebagai manusia tak memiliki harapan untuk hidup juga? Geram Reinhart menahan kesal.
Sayangnya, benar apa yang diucapkan Anastasya Blanchett. Ia sama sekali tak memiliki kekuatan apalagi kekuasaan untuk melawan.
Meski begitu, mulutnya tetap saja dengan lancang mengatakan,"Kalau begitu, kenapa tidak kau saja pergi untuk menjadi istri Kaisar Demir?"
"Kau! Beraninya mulut kotormu itu mengucapkan kalimat yang begitu kejam!" Seru Anastasya sambil membanting pisau dan garpunya.
"Kekaisaran Demir dan Kerajaan Corbella memiliki hubungan baik selama ini. Apa tidak masalah jika putri yang dikirimkan ke Demir sama sekali tak memiliki darah bangsawan dalam darahnya?" Reinhart terus melawan meski pada akhirnya ia tetap tak bisa membantah keputusan yang telah ditetapkan.
"Beraninya kau?! Kau anggap apa darah Blanchett yang mengalir dalam tubuhmu?!" gertak Lupeon dengan rahang mengeras.
"Apa yang merasuki tubuhmu hingga membuatmu bersikap lancang seperti ini?" imbuhnya lagi sambil menatap marah pada Reinhart.
"Maafkan aku Ayah, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tak pantas mendapatkan gelar Blanchett di belakang namaku."
"Kau sudah mulai gila rupanya! Beraninya kau membantah ucapan Grand Duke!" Suara Grand Duchess Blanchett.
"Benar-benar tak tahu diri. Apa ini balasan yang kau berikan pada Blanchett yang sudah merawatmu?!" Sebagai anak tertua, Egdar kembali ambil bagian.
"Anda sepertinya melewatkan hal terpenting, Tuan Muda. Seperti yang saya katakan di awal, bukankah ini akan menjadi penghinaan bagi Blanchett jika saya yang dikirimkan kepada Kaisar Demir?"
"Lagipula, bukankah itu yang selalu Anda katakan pada saya, Nyonya? Saya hanya seorang anak budak yang bahkan tak pantas mendapatkan gelar Blanchett!" lawan Reinhart sama sekali tak merasa takut dengan ucapan sang ibu tiri.
"Sudah cukup! Hentikan semua omong kosong ini! Bagaimanapun asal-usulmu, kau tetap menyandang gelar Blanchett yang sah. Kenapa kau selalu memperdebatkan hal itu?!"
"Jadi, baru di saat seperti ini saya diakui sebagai keluarga Blanchett?"
Reinhart tersenyum getir. Menatap satu per satu setiap wajah di meja makan yang menunjukkan ekspresi menjijikan.
***
"Argh ... hah, hah ...."
Kim Nara terbangun dengan napas terengah. Keringat membasahi kening dan seluruh tubuhnya. Ia baru saja mengalami mimpi yang cukup panjang.
Bukan, itu bukan mimpi. Ketimbang mimpi, apa yang baru saja ia alami lebih mirip seperti potongan ingatan pemilik tubuh sebelumnya. Reinhart Blanchett.
Ya, nama itulah yang harus ia sandang mulai saat ini. Ia harus segera membiasakan diri.
"Nona Reinhart! Apa yang terjadi, Nona?"
Kepala pelayan yang ditugaskan untuk melayaninya sejak tadi malam, menghampirinya tergesa dengan wajah panik. Namanya Nyonya Clottie. Wanita itulah yang akan bertugas melayani Reinhart Blanchett mulai saat ini.
"Ti-tidak apa-apa, Nyonya Clottie. Aku tidak apa-apa," jawab Reinhart menyembunyikan apa yang terjadi.
Mana mungkin ia mengatakan pada wanita itu tentang kejadian yang baru saja dialami.
Mengatakan hal itu sama dengan membeberkan rahasianya bahwa ia bukanlah Reinhart Blanchett yang sesungguhnya.
Beruntung pelayan wanita itu tampak mengerti. Ia tak memaksa Reinhart untuk mengatakan apa yang baru saja terjadi.
"Kalau begitu, saya harus membantu Anda bersiap, Nona. Hari ini merupakan hari pernikahan Anda dengan Kaisar Caspain."
"Ya? Kau bilang apa, Nyonya Clottie?" Perempuan itu menjawab dengan tergagap.
"Anda harus bersiap, Nona Reinhart. Bukankah Anda calon istri sang Kaisar? Hari ini adalah hari pernikahan Anda."
'Jadi aku benar-benar calon istri sang kaisar?' ucap perempuan itu dalam hati.