Bukannya menjelaskan, Arga malah mengatakan ingin ke toilet, "emmh, aku ingin ke toilet sebentar" ucap Arga akhirnya. sudah cukup lama April menunggu Arga keluar dari kamar mandinya. namun, tampaknya Arga masih ingin berlama-lama di sana, "kenapa dia lama sekali" gumam April. karena tak sabar, akhirnya April memutuskan untuk menghampiri Arga di kamar mandinya.
Sesampai di depan pintu kamar mandi, April mendengar suara orang sedang berbicara. April menempelkan kupingnya ke daun pintu kamar mandi dan menajamkan pendengarannya. ternyata benar, Arga tengah berbincang dengan seseorang di dalam, "tapi siapa, apa Mas Arga tengah menelfon seseorang?" Gumam April
April memutuskan untuk menunggunya di depan kamar mandi tanpa bersuara.
Setelah beberapa saat pintupun terbuka.
"Eh,," Arga terkejut melihat April ada disana sampai-sampai ponselnya terjatuh.
"Kamu telfonan" tanya April penuh selidik sembari memperhatikan Arga yang tengah gugup.
"Kamu ngapain disini" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan April
"aku nanya mas, dijawab!!bukannya dibalas dengan pertanyaan"
"Udah lah aku ngantuk" sahutnya lagi lalu pergi menghiraukan April.
"Mas,tunggu" panggil April seraya mengejarnya.
"Mas,kita harus bicara"
"Mas"
Tapi Arga terus berjalan menuju ranjang dan menghamburkan tubuhnya di sana.
"Mas,kamu ini kenapa sih?"
"Kenapa kamu memperlakukan ku seperti ini?aku salah apa??
"Kalau aku punya salah beritahu aku mas!!jangan bersikap seperti ini.
April terus meronta-ronta sedangkan di balik selimut itu tidak ada jawaban yang ku dengar.
"Mas,aku bicara kamu jangan tidur!!
Kamu ini kaya anak kecil sa_
Belum sempat April melanjutkan kalimatnya, April di buat kaget saat Arga tiba-tiba bangkit dengan tatapan nyalangnya.
"kamu bisa diam tidak?aku mau istirahat.kalau kamu terus-terusan berisik seperti ini besok aku tidak akan pulang kerumah saja."sahut Arga dengan suara lantang yang membuatku terdiam saat itu juga.
Setelahnya dia kembali melanjutkan tidurnya.
Sementara April berbaring dengan perasaan yang gemuruh,Matanya juga tak ada tanda-tanda akan terpejam. Ia malah mengeluarkan air hangat secara perlahan.
April melirik jam di atas dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
April mencoba memejamkan matanya untuk kesekian kalinya. belum sempat April tertidur April malah mendengar Arga bergumam.
"Emmh,shhhh ahh.."
April bangkit dan memperhatikan Arga, apa dia tengah bermain solo atau tengah bermimpi.
April memperhatikan wajah Arga secara intens.terlihat kedua matanya masih terpejam.
"Ah ternyata mas arga sedang mengigau"gumamnya dalam hati.
"Tapi bersama siapa dia di mimpi itu" April mencoba mencari tau dengan menunggunya menyebutkan nama seseorang.
Hatinya berdebar tak karuan takut-takut kalau Arga akan menyebut nama wanita lain.
"Emmmh shhh yahhh"
Ucap Arga lagi di tengah tidurnya.
Mata April pun mulai menelisik benda keras di balik selimut itu. jujur, April sangat merindukannya.
Di tambah lagi dengan Arga yang terus merancau seperti itu.
Membuat libido April semakin naik.
April memberanikan diri untuk menyentuh Arga,siapa tahu setelah ini sikapnya akan kian melunak.
Saat aku hendak menyentuh benda keras di balik selimut
Alangkah terkejutnya April mendengar Arga merancau dalam tidurnya.
Nafas April terhenti sejenak saat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Arga. Ekspresi campur aduk terpampang di wajahnya, mencerminkan kebingungan dan kekagetan. Hatinya berdebar-debar, mencoba mencerna setiap kata yang terlontar.
"Mhhh Siii... kenapa milikmu begitu menggigit.. emhhh..!!"
Ucapan bercampur dengan desahan membuat April terpaku di tempatnya. Pikirannya bergejolak, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan tak terungkap ini. "Siapa yang dimaksud oleh Mas Arga? Apakah ini hanya khayalan atau adakah wanita lain yang terlibat?"
April menarik tangannya kembali, merasa seperti melangkah pada wilayah yang tidak seharusnya dia sentuh. Kegelisahan mencengkeram hatinya, menciptakan kekosongan di dalam dirinya. Dia bersandar di divan ranjangnya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
"Mungkinkah aku salah dengar? Atau apakah ini hanya bagian dari impian Mas Arga?" bisik April dalam hatinya, mencoba meredakan kebingungannya.
Dia memutuskan untuk memberi Mas Arga ruang untuk menjelaskan dirinya sendiri. Dengan hati yang berat, April mengurungkan niat untuk menyentuh Arga, memilih duduk di tempatnya sambil terus memperhatikan ekspresi dan kata-kata yang mungkin akan mengungkap misteri di balik rancauan Mas Arga.
Sembari duduk di sana, April berharap agar Arga segera menyebutkan nama wanita yang membuatnya berubah. Meski hatinya terasa sakit, rasa penasaran yang menggelayut dalam dirinya tak bisa dihindari. Ia siap menghadapi kenyataan, meski mungkin itu akan membawa kepedihan yang sulit diatasi.
Perjalanan lima belas menit yang terasa seperti abad telah berlalu sejak Mas Arga berhenti merancau. April masih duduk di tempatnya, terperangkap dalam aliran pikiran yang berputar-putar, mencoba mencerna segala yang telah terjadi. Keingintahuannya tentang wanita yang disebutkan oleh Arga masih mengganjal di hatinya, tetapi tak ada jawaban yang memuaskan.
"Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi di balik selimut sana?" gumam April, mencoba mencari pemahaman atas perilaku yang tak biasa itu.
Namun, tanpa penjelasan lebih lanjut dari Arga, kegelisahan April hanya semakin memuncak. Dia terombang-ambing antara keinginan untuk bertanya dan rasa hormat pada privasi dan ruang pribadi Mas Arga.
Setelah berusaha beberapa kali memejamkan mata, April akhirnya merasakan kelelahan yang memaksanya untuk tertidur. Air mata yang telah menetes dari matanya menandai perjalanan emosional yang berat. Mata yang lelah akhirnya menutup diri, membawanya ke alam mimpi, tempat dia berharap menemukan kedamaian meskipun hanya untuk sesaat.
Keheningan akhirnya menyelimuti kamar, membiarkan April dan Arga terlelap dalam mimpi masing-masing.
***
Cahaya pagi yang lembut merayap masuk melalui sela-sela jendela, menyentuh setiap sudut ruangan dan memberikan kehangatan pada tubuh April yang terbangun dari tidurnya. Namun, hangatnya cahaya itu juga membawa keingintahuan dan kekhawatiran yang menyeruak di dalam dirinya.
April membuka mata perlahan, membiarkan pandangannya mengelilingi ruangan. Ada getaran kecil dalam dirinya, harapan kecil bahwa semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk. Namun, saat tangannya menyentuh bekas tempat tidur Arga, kepastian menerpanya. Ranjang yang basah membuktikan bahwa kenyataan semalam bukanlah ilusi.
Sementara itu, ranjang Arga kosong, menandakan bahwa ia telah meninggalkan kamar. Hari weekend yang seharusnya diisi dengan kebersamaan, namun Mas Arga seperti menghilang tanpa jejak.
Air mata April mulai menggenang di matanya saat dia menyadari bahwa cairan yang basah itu bukanlah air mata biasa, melainkan kenangan yang telah lama terpendam. Begitu banyak waktu telah berlalu sejak Arga merasakannya, dan semalam adalah momen yang membawa kembali sensasi yang telah terlupakan.
Dengan langkah-langkah gemetar, April membersihkan wajahnya dan mengambil nafas dalam-dalam. Meskipun hatinya hancur, tanggung jawabnya sebagai istri menghadapinya. Dia tahu dia harus menjalani rutinitas harian, bahkan jika hatinya terasa berat dan penuh kekhawatiran.
Perlahan tapi pasti, April mengikuti jalur rutinitasnya. Tidak ada tanda-tanda Arga di sekitar, dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantui pikirannya. Namun, untuk saat ini, dia harus melanjutkan hari seperti biasa, menyembunyikan kepedihan dan ketidakpastian di balik senyumnya yang rapuh.
***
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, April duduk di teras depan, merenung sambil menyesap secangkir teh. Pekerjaan sehari-hari telah selesai, namun pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Apakah harus meminta berpisah atau mempertahankan rumah tangga yang masih seumur jagung ini?
Dalam keheningan yang menyelimuti teras, April merenungkan setiap pilihan yang terbuka di hadapannya. Keputusan sulit itu menghantui pikirannya, dan cangkir tehnya menjadi semakin dingin tanpa disadari.
Tiba-tiba, pandangannya teralih ketika mobil Arga memasuki pelataran rumah tetangga, tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Hatinya berdegup kencang saat melihat Arga turun dari mobil, diikuti oleh seorang wanita yang dikenalnya sebagai Sisil, penghuni rumah tetangga.
Wajah April merefleksikan kejutan dan kebingungan. "Jadi, yang dimaksud Mas Arga di dalam rancauannya kemarin adalah Sisil," gumamnya dengan nada lirih. Semua pertanyaan yang menghantui pikirannya seketika mendapatkan jawaban, meskipun jawaban itu membawa kekecewaan dan rasa sakit.
Dia berdiri, langkahnya mengarah ke gerbang rumah, mencoba memastikan bahwa penglihatannya tidak keliru. Namun, kenyataan tak terelakkan, dan pertemuan Arga dengan Sisil menggambarkan cerita yang belum pernah terbayangkan oleh April.