Bab 1

Menikah di usia muda memang sebuah pilihan yang cukup menarik. Saat itu, April baru berusia dua puluh tahun. Meskipun banyak orang yang memberikan nasihat untuk tidak menikah di usia muda, apalagi dengan seorang lelaki yang lebih muda darinya, namun April memilih untuk mengikuti hatinya. Calon suaminya bahkan lebih muda satu tahun darinya.

Orang-orang sering mengingatkan bahwa menikah di usia muda, terutama dengan pasangan yang masih muda juga, bisa menjadi tantangan tersendiri. Mereka berpendapat bahwa lelaki yang belum matang sepenuhnya mungkin lebih rentan dalam menjalani pernikahan. Namun, dalam kasus April, cinta sepertinya telah membutakannya dari semua nasihat itu.

April berpikir, karena kadang-kadang cinta memang membuat kita tak peduli dengan apa pun selain perasaan yang membara di dalam hati.

Hari-hari yang penuh kasih sayang dan kebahagiaan terus berlalu bagi April, yang telah menjalin hubungan yang kokoh dan tulus dengan kekasihnya, Arga. Cinta mereka, yang tumbuh kuat selama tiga tahun, menjadi fondasi yang kokoh bagi impian April untuk membangun rumah tangga bahagia bersamanya.

Arga, pria penyabar dan penyayang, adalah pilar dukungan yang selalu ada di setiap langkah April. Setiap waktu luangnya dihabiskan bersama, menciptakan kenangan-kenangan manis yang membuat kisah cinta mereka semakin mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, April menemukan dirinya terjebak dalam butiran cinta yang begitu dalam, hingga mengalami kebutaan terhadap tanda-tanda mungkin adanya perubahan. Rasa percaya dirinya yang kuat terhadap kesetiaan Arga mungkin telah menutup mata April terhadap potensi ketidakpastian.

Puncak kebahagiaan mereka menjadi ujian sejati ketika April menemukan dirinya dalam kegelapan emosional, tidak mampu membayangkan hidup tanpa Arga. Namun, kebutaan cintanya perlahan-lahan terbuka ketika sebuah kejadian tak terduga mengguncang fondasi hubungan mereka.

Melalui perjalanan batin yang penuh konflik dan pertanyaan, April harus menghadapi kenyataan bahwa cinta dan kepercayaan kadang-kadang memerlukan pembersihan dan pemahaman yang lebih dalam.

Hari-hari yang dulunya penuh kebahagiaan dan kasih sayang kini berubah menjadi masa-masa yang penuh kegelisahan bagi April. Dua bulan terakhir ini, uang belanjanya berkurang drastis, hampir setengah dari jumlah biasanya. Arga juga pulang telat dan jarang menyentuhnya, meninggalkan April dengan pertanyaan yang menghantui pikirannya.

Ketidakpastian dan kekhawatiran mulai merajai pikiran April. Apakah Mas Arga terlalu lelah karena pekerjaannya yang membuatnya pulang larut malam? Atau ada alasan lain yang tidak diketahui oleh April? Pikiran-pikiran ini semakin membingungkan April, terutama ketika ia membandingkan situasinya dengan cerita sinetron yang sering ia tonton, di mana perubahan perilaku suami seringkali disebabkan oleh pihak ketiga.

Namun, April tidak ingin terjebak dalam prasangka dan asumsi yang tidak pasti. Ia memutuskan untuk menghadapi masalah ini dengan kepala tegak dan berani berbicara dengan Arga. Meskipun hatinya resah, April tidak ingin hanya diam dan merasa diabaikan oleh suaminya begitu saja.

Saat jam menunjukkan pukul 17:40, April merasa semakin gelisah karena Arga belum juga pulang. Pikirannya dipenuhi dengan keputusasaan dan keinginan untuk mengungkapkan perasaannya. Dia tahu bahwa dia harus berbicara dengan Arga, tidak peduli seberapa larut malam dia pulang.

Dalam hati, April bersumpah bahwa dia akan menghadapi Arga dan mengungkapkan perasaannya. Dia tidak bisa lagi membiarkan dirinya diabaikan dan merasa tidak dihargai. Keputusannya sudah bulat, dan dia siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

Pintu rumah terdengar dibuka. Langkah kaki Arga terdengar memasuki rumah. Jantung April berdegup kencang, keputusan untuk berbicara padanya malam ini terasa semakin mendesak.

"April, aku pulang!" teriak Arga dari ruang tamu.

Mengumpulkan keberanian, April menutup novel online yang tengah dibacanya dan berjalan menuju ruang tamu. Matanya mencari tanda-tanda, apakah ada yang berubah dari Mas Arganya, mencoba membaca wajahnya yang tampak lelah.

"Mas, kita perlu bicara," ujar April dengan suara yang berusaha tegar.

Mas Arga, yang baru saja melepas sepatunya, terlihat terkejut. "Ada apa, Sayang? Kamu terlihat serius sekali."

"April duduk, menatap Arga dalam-dalam. "Aku merasa ada yang berubah, Mas. Uang belanja yang berkurang, kamu pulang terlalu malam, dan... kita sudah lama tidak seperti dulu lagi. Apakah ada yang terjadi yang perlu aku tahu?"

Arga menarik napas panjang. Wajahnya berubah, ada rasa bersalah yang tersembunyi di balik ekspresinya. April merasakan jantungnya semakin berdebar. Apakah dia benar-benar harus mengetahui kenyataan yang mungkin akan mengubah segalanya?

"Sayang, aku...," Mas Arga memulai, tapi ragu-ragu.

April menunggu dengan napas tertahan, mencoba mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Apakah kekhawatirannya akan menjadi kenyataan? Atau mungkin ada penjelasan lain yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya?

Bab 2

Bukannya menjelaskan, Arga malah mengatakan ingin ke toilet, "emmh, aku ingin ke toilet sebentar" ucap Arga akhirnya. sudah cukup lama April menunggu Arga keluar dari kamar mandinya. namun, tampaknya Arga masih ingin berlama-lama di sana, "kenapa dia lama sekali" gumam April. karena tak sabar, akhirnya April memutuskan untuk menghampiri Arga di kamar mandinya.

Sesampai di depan pintu kamar mandi, April mendengar suara orang sedang berbicara. April menempelkan kupingnya ke daun pintu kamar mandi dan menajamkan pendengarannya. ternyata benar, Arga tengah berbincang dengan seseorang di dalam, "tapi siapa, apa Mas Arga tengah menelfon seseorang?" Gumam April

April memutuskan untuk menunggunya di depan kamar mandi tanpa bersuara.

Setelah beberapa saat pintupun terbuka.

"Eh,," Arga terkejut melihat April ada disana sampai-sampai ponselnya terjatuh.

"Kamu telfonan" tanya April penuh selidik sembari memperhatikan Arga yang tengah gugup.

"Kamu ngapain disini" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan April

"aku nanya mas, dijawab!!bukannya dibalas dengan pertanyaan"

"Udah lah aku ngantuk" sahutnya lagi lalu pergi menghiraukan April.

"Mas,tunggu" panggil April seraya mengejarnya.

"Mas,kita harus bicara"

"Mas"

Tapi Arga terus berjalan menuju ranjang dan menghamburkan tubuhnya di sana.

"Mas,kamu ini kenapa sih?"

"Kenapa kamu memperlakukan ku seperti ini?aku salah apa??

"Kalau aku punya salah beritahu aku mas!!jangan bersikap seperti ini.

April terus meronta-ronta sedangkan di balik selimut itu tidak ada jawaban yang ku dengar.

"Mas,aku bicara kamu jangan tidur!!

Kamu ini kaya anak kecil sa_

Belum sempat April melanjutkan kalimatnya, April di buat kaget saat Arga tiba-tiba bangkit dengan tatapan nyalangnya.

"kamu bisa diam tidak?aku mau istirahat.kalau kamu terus-terusan berisik seperti ini besok aku tidak akan pulang kerumah saja."sahut Arga dengan suara lantang yang membuatku terdiam saat itu juga.

Setelahnya dia kembali melanjutkan tidurnya.

Sementara April berbaring dengan perasaan yang gemuruh,Matanya juga tak ada tanda-tanda akan terpejam. Ia malah mengeluarkan air hangat secara perlahan.

April melirik jam di atas dinding menunjukkan pukul dua dini hari.

April mencoba memejamkan matanya untuk kesekian kalinya. belum sempat April tertidur April malah mendengar Arga bergumam.

"Emmh,shhhh ahh.."

April bangkit dan memperhatikan Arga, apa dia tengah bermain solo atau tengah bermimpi.

April memperhatikan wajah Arga secara intens.terlihat kedua matanya masih terpejam.

"Ah ternyata mas arga sedang mengigau"gumamnya dalam hati.

"Tapi bersama siapa dia di mimpi itu" April mencoba mencari tau dengan menunggunya menyebutkan nama seseorang.

Hatinya berdebar tak karuan takut-takut kalau Arga akan menyebut nama wanita lain.

"Emmmh shhh yahhh"

Ucap Arga lagi di tengah tidurnya.

Mata April pun mulai menelisik benda keras di balik selimut itu. jujur, April sangat merindukannya.

Di tambah lagi dengan Arga yang terus merancau seperti itu.

Membuat libido April semakin naik.

April memberanikan diri untuk menyentuh Arga,siapa tahu setelah ini sikapnya akan kian melunak.

Saat aku hendak menyentuh benda keras di balik selimut

Alangkah terkejutnya April mendengar Arga merancau dalam tidurnya.

Nafas April terhenti sejenak saat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Arga. Ekspresi campur aduk terpampang di wajahnya, mencerminkan kebingungan dan kekagetan. Hatinya berdebar-debar, mencoba mencerna setiap kata yang terlontar.

"Mhhh Siii... kenapa milikmu begitu menggigit.. emhhh..!!"

Ucapan bercampur dengan desahan membuat April terpaku di tempatnya. Pikirannya bergejolak, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan tak terungkap ini. "Siapa yang dimaksud oleh Mas Arga? Apakah ini hanya khayalan atau adakah wanita lain yang terlibat?"

April menarik tangannya kembali, merasa seperti melangkah pada wilayah yang tidak seharusnya dia sentuh. Kegelisahan mencengkeram hatinya, menciptakan kekosongan di dalam dirinya. Dia bersandar di divan ranjangnya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

"Mungkinkah aku salah dengar? Atau apakah ini hanya bagian dari impian Mas Arga?" bisik April dalam hatinya, mencoba meredakan kebingungannya.

Dia memutuskan untuk memberi Mas Arga ruang untuk menjelaskan dirinya sendiri. Dengan hati yang berat, April mengurungkan niat untuk menyentuh Arga, memilih duduk di tempatnya sambil terus memperhatikan ekspresi dan kata-kata yang mungkin akan mengungkap misteri di balik rancauan Mas Arga.

Sembari duduk di sana, April berharap agar Arga segera menyebutkan nama wanita yang membuatnya berubah. Meski hatinya terasa sakit, rasa penasaran yang menggelayut dalam dirinya tak bisa dihindari. Ia siap menghadapi kenyataan, meski mungkin itu akan membawa kepedihan yang sulit diatasi.

Bab 3

Perjalanan lima belas menit yang terasa seperti abad telah berlalu sejak Mas Arga berhenti merancau. April masih duduk di tempatnya, terperangkap dalam aliran pikiran yang berputar-putar, mencoba mencerna segala yang telah terjadi. Keingintahuannya tentang wanita yang disebutkan oleh Arga masih mengganjal di hatinya, tetapi tak ada jawaban yang memuaskan.

"Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi di balik selimut sana?" gumam April, mencoba mencari pemahaman atas perilaku yang tak biasa itu.

Namun, tanpa penjelasan lebih lanjut dari Arga, kegelisahan April hanya semakin memuncak. Dia terombang-ambing antara keinginan untuk bertanya dan rasa hormat pada privasi dan ruang pribadi Mas Arga.

Setelah berusaha beberapa kali memejamkan mata, April akhirnya merasakan kelelahan yang memaksanya untuk tertidur. Air mata yang telah menetes dari matanya menandai perjalanan emosional yang berat. Mata yang lelah akhirnya menutup diri, membawanya ke alam mimpi, tempat dia berharap menemukan kedamaian meskipun hanya untuk sesaat.

Keheningan akhirnya menyelimuti kamar, membiarkan April dan Arga terlelap dalam mimpi masing-masing.

***

Cahaya pagi yang lembut merayap masuk melalui sela-sela jendela, menyentuh setiap sudut ruangan dan memberikan kehangatan pada tubuh April yang terbangun dari tidurnya. Namun, hangatnya cahaya itu juga membawa keingintahuan dan kekhawatiran yang menyeruak di dalam dirinya.

April membuka mata perlahan, membiarkan pandangannya mengelilingi ruangan. Ada getaran kecil dalam dirinya, harapan kecil bahwa semua yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk. Namun, saat tangannya menyentuh bekas tempat tidur Arga, kepastian menerpanya. Ranjang yang basah membuktikan bahwa kenyataan semalam bukanlah ilusi.

Sementara itu, ranjang Arga kosong, menandakan bahwa ia telah meninggalkan kamar. Hari weekend yang seharusnya diisi dengan kebersamaan, namun Mas Arga seperti menghilang tanpa jejak.

Air mata April mulai menggenang di matanya saat dia menyadari bahwa cairan yang basah itu bukanlah air mata biasa, melainkan kenangan yang telah lama terpendam. Begitu banyak waktu telah berlalu sejak Arga merasakannya, dan semalam adalah momen yang membawa kembali sensasi yang telah terlupakan.

Dengan langkah-langkah gemetar, April membersihkan wajahnya dan mengambil nafas dalam-dalam. Meskipun hatinya hancur, tanggung jawabnya sebagai istri menghadapinya. Dia tahu dia harus menjalani rutinitas harian, bahkan jika hatinya terasa berat dan penuh kekhawatiran.

Perlahan tapi pasti, April mengikuti jalur rutinitasnya. Tidak ada tanda-tanda Arga di sekitar, dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantui pikirannya. Namun, untuk saat ini, dia harus melanjutkan hari seperti biasa, menyembunyikan kepedihan dan ketidakpastian di balik senyumnya yang rapuh.

***

Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, April duduk di teras depan, merenung sambil menyesap secangkir teh. Pekerjaan sehari-hari telah selesai, namun pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Apakah harus meminta berpisah atau mempertahankan rumah tangga yang masih seumur jagung ini?

Dalam keheningan yang menyelimuti teras, April merenungkan setiap pilihan yang terbuka di hadapannya. Keputusan sulit itu menghantui pikirannya, dan cangkir tehnya menjadi semakin dingin tanpa disadari.

Tiba-tiba, pandangannya teralih ketika mobil Arga memasuki pelataran rumah tetangga, tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Hatinya berdegup kencang saat melihat Arga turun dari mobil, diikuti oleh seorang wanita yang dikenalnya sebagai Sisil, penghuni rumah tetangga.

Wajah April merefleksikan kejutan dan kebingungan. "Jadi, yang dimaksud Mas Arga di dalam rancauannya kemarin adalah Sisil," gumamnya dengan nada lirih. Semua pertanyaan yang menghantui pikirannya seketika mendapatkan jawaban, meskipun jawaban itu membawa kekecewaan dan rasa sakit.

Dia berdiri, langkahnya mengarah ke gerbang rumah, mencoba memastikan bahwa penglihatannya tidak keliru. Namun, kenyataan tak terelakkan, dan pertemuan Arga dengan Sisil menggambarkan cerita yang belum pernah terbayangkan oleh April.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

180 Days

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED