Bab 2

Lampung, 08 Mei 2023.

"Bu, ibu yakin nggak mau dateng ke pemakaman ayah?" tanyaku pada wanita yang begitu sangat menjijikkan bagi hidupku.

Ibu menoleh ke arahku, memandangku tajam penuh kebencian lalu dirinya secara tiba-tiba tersenyum. "Untuk apa? Setelah dia ngebuat aku kayak gini, aku masih sudi untuk hadir kembali dalam hidupnya, Cih! Dasar pria brengsek! Jangan harap, itu nggak akan pernah."

Aku menghela napas, lagi-lagi hati ini terlalu sakit setiap kali ibu mengumpat dengan sebutan kotor tentang ayah. Sekarang aku hanya bisa pasrah, meski sangat berharap ibu menemui ayah untuk terakhir kalinya ... agar aku bisa melihat keluargaku berkumpul kembali walau dalam keadaan terbawah sekali pun.

Namun, sudahlah ... harapan yang selalu aku bayangkan kini pupus. Ternyata sampai kapan pun keluargaku tidak akan bisa bersatu kembali.

"Dira, bisa pergi sekarang?" panggil pria tadi yang ternyata adik dari ayah. Aku langsung mengangguk ke arahnya.

Kemudian kami pergi berdua menggunakan mobil sedan berwarna putih, hampir sepanjang perjalanan kami hanya diam. Sampai akhirnya paman memandangku dengan tatapan senyum yang diukir paksa olehnya. "Gimana kabar ibumu, Ra?" tanya paman membuka obrolan.

Aku menoleh ke arahnya menjawab seadanya lalu tersenyum. "Baik." Hanya itulah yang bisa kuucapkan, tidak mungkin kuceritakan semua keadaanku selama ini padanya.

Walau sebenarnya ibu adalah sosok yang sangat menakutkan bagiku, mental ibu seperti terganggu aku menyadari saat aku menginjak sekolah menengah pertama. Ibu pernah terlihat menangis lalu tiba-tiba bisa dengan cepat tertawa! Terkadang juga ibu menghadap pada cermin, berbicara sendiri lalu menangis dan histeris dengan sendirinya di dalam kamar.

Ibu tidak pernah mandi, dia tidak peduli pada penampilannya, kadang pula bau badan ibu sampai menyeruak menusuk hidungku. Namun, ntah mengapa ibu masih saja tetap laku menjual diri di setiap harinya ... sampai sekarang perilaku itu tidak pernah ada yang berubah. Membuatku merasa mual setiap saat membayangkan aroma rumah itu, jika sudah bercampur aroma tubuh ibu yang bau, aroma alkohol dan bau anyir yang begitu amis entah berasal dari mana.

"Ra? Jangan ngelamun!" ujar paman membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk ke arahnya, sungguh ... aku ingin bertanya mengapa ayah sudah dua belas tahun lebih tidak menemuiku? Namun, aku lebih memilih untuk diam. Takut jika aku menyakiti hati paman padahal ini pertama kalinya kami bertemu kembali di saat aku telah dewasa.

Sekitar 30 menitan lamanya, akhirnya mobil paman berhenti di depan halaman rumah yang begitu sangat kurindukan.

Aku turun tanpa perintah, bola mataku mengedar pada rumah yang sama sekali tidak ada yang berubah masih sama seperti dua belas tahun silam. Rumah yang dulu menjadi rumah ternyaman bersama seorang lelaki yang rela bermain kejar-kejaran bersamaku meski tubuhnya sangat lelah, karena telah bekerja seharian.

Langkah ini semakin lemas rasanya saat melihat pada semua orang yang memakai pakaian serba hitam, membuatku tersadar jika ayah sudah tidak lagi bernyawa di dalam sana.

Paman menggandeng lenganku, sepertinya dia paham perasaanku saat ini. "Ayuk, Masuk." Aku mengangguk mengikutinya masuk ke dalam rumah.

Semua orang menatapku dengan raut wajah kesedihan, aku berjalan pelan berusaha menembus keramaian.

"Tolong beri ruang untuk anaknya, agar bisa mencium ayahnya." Suara paman pada orang-orang yang hadir membacakan doa.

Semua orang menoleh ke arahku lalu memberi ruang agar aku bisa menemui ayah.

Sekarang ... terlihat jelas, lelaki yang dulu tubuhnya tegap dan kuat saat menggendongku. Kini terbaring sangat kurus, pucat dan kaku di atas ranjang.

Kemudian tangisanku pecah, aku merasa Tuhan sedang mempermainkan takdirku, aku merasa Tuhan tidak pernah sedikit saja memberiku waktu untuk merasakan kebahagiaan sekali lagi bersama ayah ... ibu dan aku, lengkap seperti dulu.

Aku memeluk ayah erat lalu menciumnya penuh kerinduan. Aku sangat rindu pada lelaki yang selalu mencintaiku sepenuh hatinya.

Kupandangi wajah itu, wajahnya tersenyum sangat tenang tanpa beban.

Sedangkan aku ... hatiku begitu hancur saat aku ingin mencium ayah, paman berbisik di telinga kananku. "Sayang ... air matanya jangan sampai netes kena ayah ya, kasian ayah."

Aku melemah, seluruh anggota keluarga ayah menguatkanku. Kini kami berjalan mengantarkan ayah pada peristirahatan terakhirnya.

***

Tanah masih basah itu menutupi jiwa yang sangat tulus mencintaiku dan raga yang selalu tidak kenal lelah untuk memelukku setiap waktu. Aku terkehening sekarang, menatap lelaki yang aku rindukan kini semakin jauh ... kini tidak bisa lagi aku berandai untuk memeluknya meski hanya sedetik.

Kenapa Tuhan sekejam ini padaku? Bukan pertemuan ini yang aku inginkan! Aku hanya ingin berbahagia dengannya sekali saja, tidak boleh? Hanya ingin mengulang semua yang dulu pernah aku dapatkan, mengulang kisah lalu yang dulu pernah aku rasakan ... mengapa semua itu terasa begitu sulit bagimu, Tuhan? Bahkan sekarang Tuhan seperti menghilangkan ingatanku pada ritme suara ayah yang pernah tersimpan jelas di memoriku.

Melihat tubuh ayah hampir hilang dari pandangan, hatiku semakin sakit rasanya. Hingga tak sadar aku meraung kuat. "Ayah ... ayah!" teriakku histeris.

Semua terenyuh menatapku, tidak ada yang bisa menenangkan diriku termasuk paman. Akhirnya paman menepuk bahuku. "Ra ... ikhlas, ayahmu sudah sehat sekarang. Nanti akan paman ceritakan semuanya padamu. Yuk sekarang kita pulang."

Kaki ini masih belum siap untuk melangkah meninggalkan ayah, masih kutaburi bunga sedikit demi sedikit sebagai pengobat rindu yang belum sepenuhnya terobati.

Seandainya ayah tahu aku selalu iri pada teman-temanku, pada mereka yang hidupnya ditemani oleh sosok ayah. Dan seandainya ayah tahu ... ternyata perpisahannya dengan ibu merubah semua rasa kehidupan menjadi kesakitan dan derita.

Bisakah aku menyebut ayah sekarang tidak menyanyangiku lagi seperti ibu? Buktinya ... di saat aku kehilangan tempat untuk bertumpu, di saat aku sudah tidak tahu harus kemana dan tujuanku satu-satunya hanyalah pulang kepelukan ayah. Ia malah pergi menjauh ... tanpa memberi pesan lebih dulu padaku, tentang bagaimana seharusnya aku menjalani kehidupan selanjutnya? Tentang bagaimana seharusnya aku mengejar mimpi dan tentang semua perjalanan dunia yang penuh air mata ini.

Sekarang ... suara langkah orang-orang mulai pergi, paman menuntunku untuk pulang.

Selamat tinggal ayah, selamat jalan cintaku ... selamat jalan pahlawanku ... tunggu aku disana. Nanti akan kuceritakan, cerita yang belum sempat aku ceritakan bagaimana hidup tanpa sosok dirimu. Nanti ... di keabadian.

Air mataku terus menetes mengiringi langkahku. Sekarang ... aku hanya bisa berharap, semua bisa terlewati dengan mudah dan penuh kebahagiaan.

Di saat mataku basah dengan linangan air mata, bola mataku terfokus pada wanita yang berdiri di depan rumah ayah memakai dress berwarna merah dengan riasan wajah yang masih on fresh. Tidak nampak sama sekali kesedihan dari raut wajahnya.

Sebegitu hilangkah rasa semua di hati ibu pada ayah? Aku yang melihatnya saja seperti sakit hati. Apa lagi ayah yang melihat wanita yang pernah dicintainya selama puluhan tahun berlaga seperti orang biasa di pemakamannya.

Lalu untuk apa ibu datang ke rumah ayah? Apa ibu menyesali semua perbuatannya dan ingin menemui ayah?

Bab 3

Angin mengarah padaku, meliuk-liuk bermain pada anak rambut yang begitu lincah menyambutnya. Ya, anak rambut itu senang menyapa angin yang ternyata hanya singgah lalu pergi. Menciptakan debu yang tidak sengaja membuat pelupuk mata berlinang.

Raut wajah ibu memandang ke arahku tajam, aku menyelip pada bahu paman sambil berjalan menghampirinya. Berharap ibu tidak melakukan yang membuat diriku malu disini ... di depan keluarga besar ayah yang baru saja kujumpai.

Belum sampai aku di dekat ibu, langsung dengan cepat ibu menarik lenganku. Wajahnya sangat ketus menatap paman, bibirnya mencebik sinis menyeramkan. Aku hanya diam yang kini berdiri tepat di samping ibu, sedangkan ibu masih menggenggam jemariku kuat.

Kupandangi wajahnya, ada banyak pertanyaan besar di dalam isi kepalaku. Ada keperluan apa ibu menyusulku? Apakah mulut yang biasa mencaci ayah, kini telah sadar untuk meminta maaf atau ibu malah ingin mengacaukan suasana yang sedang berduka di rumah ini?

Jantung berdegup tiada henti, wajah ibu kini semakin sinis menatap semuanya. Giginya menggretak sangat kuat, tetapi ... hebatnya paman hanya tersenyum membalas tatapan ibu yang buas.

"Anakku sudah selesai menghadiri pemakaman abangmu, sekarang selesai juga hubungan kalian. Jadi jangan harap bisa menghasut anakku untuk tinggal disini," suara ibu gemetar tatkala ia berbicara, jemarinya semakin kuat menggenggam jemariku, aku hampir teriak karena merasa agak sakit.

Paman masih tersenyum, "Aku tidak pernah menghasut siapa pun, Mbak. Dira ingin tinggal bersama Mbak juga nggak apa, tinggal disini juga nggak apa ... ini rumah bang Hadi dan abangku sangat menyayanginya. Jadi kapan pun Dira ingin pulang, pintu rumah akan selalu terbuka."

Wajah paman begitu landai menanggapi ibu, sedangkan ibu terlihat sangat panik sejak tadi. Setelah mendengar ucapan paman saja ibu sontak menggeleng. "Ndak ... ndak! Dira akan tetep sama ibu! Iya kan, Ra?" sahut ibu sekarang napasnya menggebu.

Aku mengeram, menatapnya haru. Bisa kudengar suara itu sangat takut untuk kehilangan. Segera aku memegang lengan ibu. "Bu ... Dira nggak akan kemana-mana, Dira akan selamanya bersama ibu."

Jujur, jawaban yang baru saja kuucapkan. Adalah ucapan paling manis yang pernah kuucapkan untuk ibu. Karena selama ini kami tidak pernah akur meski dalam satu atap, aku setiap hari selalu membencinya dan kupikir ibu juga membenciku.

Namun, kali ini ... ibu menyusulku ke rumah ayah hanya karena takut jika aku tinggal bersama mereka. Percayalah hati ini senang, serasa lagi dibujuk rayu oleh pasangannya sendiri!

"Mbak denger sendiri kan? Mbak nggak perlu khawatir, Dira udah dewasa, Mbak. Dia tau betul apa yang dia mau termasuk untuk hidup dengan siapa."

Ibu menghela napas, wajahnya seketika berubah dari kaku sekarang normal kembali.

"Sudah tenang kan, Mbak? Boleh aku meminjam Dira sebentar? Ada yang mau aku omongin empat mata," ujar paman dan dibalas dengan deheman.

Paman mengajakku masuk ke dalam kamar ayah, lalu mempersilahkan aku duduk di atas ranjang. Kemudian ia mengeluarkan buku ukurannya sebesar saku seragam sekolah berwarna merah.

"Ra, sebelum ayahmu meninggal. Dia menitipkan ini untukmu." Paman memberi buku itu padaku. Lalu ia menunduk menangis. "Dia sangat menyayangimu, Ra. Sungguh ... nggak ada semenit pun dia ndak menceritakan tentangmu, dia selalu menceritakan semua masa kecilmu terus mengulang cerita yang sama di setiap harinya."

Aku menangis mendengar ucapan paman, menyesal mengapa aku terus menunggu dan selalu meninggikan ego untuk menemui ayah. Padahal aku rindu untuk selalu ingin memeluknya. Tetapi ... aku selalu meninggikan egoku untuk ayahlah yang seharusnya mencariku bukan malah aku! Hingga sekarang ... malah kematian ayah yang kini mempertemukan aku dengannya.

Setelah mendengar ucapan paman jika ayah sangat mencintaiku, aku juga bertanya mengapa sejak perceraian ayah tidak pernah menemui kami?

Kemudian paman menatapku, kini jemariku digenggam kuat olehnya. Dia menjelaskan jika sejak perceraian itu, ayah selalu menemui ibu. Tetapi ... hanyalah pengusiran yang ia dapatkan, untuk sekedar ingin bertemu denganku saja ibu melarangnya. Nomor ponsel yang ibu gunakan pun langsung diganti agar ayah tidak bisa menghubungi kami.

Hingga suatu hari ayah jatuh sakit dan terkena serangan stroke karena ia terlalu menyimpan rindu yang begitu besar. Semua kerabat ayah selalu datang ke rumah ibu untuk sekedar memberi tahu ibu tentang ayah.

Namun, mereka hanya mendapatkan cacian banyak kata-kata kotor yang keluar dari mulut ibu itulah sebabnya mereka memutuskan untuk menyerah. Tidak lagi menemuiku atau ibu lagi dengan harapan setelah diriku besar, aku akan mencari sang ayah dengan sendirinya.

Dadaku bergerumuh seketika mendengar penjelasan paman, aku menangis terus menyalahi diri! Mengapa diri ini sangat bodoh! Mengapa aku terus berpaku pada ibu? Mengapa aku tidak lari dan menemui ayah? Aku semakin membenci ibu ... padahal baru saja hatiku luluh untuknya.

Paman langsung memelukku, menepuk pundakku berkali-kali. "Udah, Ra. Udah. Ini semua sudah jalannya nggak ada yang perlu disesali dan kamu berhak tau satu hal." Perkataan paman berhenti ia mendorong tubuhku lalu menyuruhku membuka buku yang tadi ia beri.

"Coba, Ra. Baca halaman depan, nanti paman akan jelaskan yang belum pernah kamu ketahui selama ini."

Aku segera mengambil buku tersebut. Membuka buku yang belum pernah kulihat sebelumnya. Nampak ada sebuah tulisan panjang di halaman pertama buku tersebut.

[Dira, anakku yang cantik. Pasti sekarang kamu udah dewasa ... tumbuh menjadi anak yang hebat dan kuat. Maaf ya, Nak. Mungkin saat kamu membaca ini ayah udah nggak ada di sampingmu lagi, Ayah harap kamu jangan membenci ayah yaa, Nak.

Maafkan, ayah ... jika ayah nggak ada di sampingmu saat kamu membutuhkan ayah, maafkan ayah nggak bisa memperjuangkan hak asuhmu agar kita bisa tetap bersama.

Kamu ... adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kasih untuk ayah.

Maaf telah mengukir rindu yang begitu besar di hatimu.

Dan, Nak ... kamu berhak tau satu hal meski sangat berat mengatakan ini padamu. Tetapi ... dirimu harus tau, Ayah bukanlah ayah kandungmu. Ayah hanyalah bapak penggantimu.

Carilah ayahmu, Nak ... agar setidaknya kamu dan ibu bisa hidup lebih aman.

Sekali lagi ....

Selamat jalan putriku yang cantik dan manis, ketahuilah meski ayah bukanlah ayah kandungmu. Sayang dan cinta kasih ayah sepenuhnya milikmu.

Salam kecup ayah untukmu putri ayah satu-satunya]

Air mata menetes, tanganku gemetar kupeluk buku itu sangat erat. Membayangkan yang kupeluk saat ini adalah ayah. Aku tidak lagi peduli siapa ayah kandungku yang jelas dirinya adalah ayah yang terbaik untukku.

Paman masih menatapku sembari tersenyum dalam tangis, "Sabar ya, Ra. Sekarang sudah waktunya paman menceritakan tentang kesehatan mental ibumu yang sebenarnya."

Wajahku mengadah pada paman, tak membalas sepatah kata pun sangking terkejutnya mendengar ucapan itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED