"Assalamualaikum," teriakku dengan lelah sembari memutar pedal pintu yang ternyata tidak terkunci.
Aku masuk ke dalam rumah seperti biasanya, tanpa balasan salam, apa lagi senyuman hangat oleh ibu seperti teman sebayaku setelah mereka pulang sekolah.
Tidak ada yang spesial dari rumah ini, selain bau alkohol yang menyeruak hingga ke seluruh penjuru rumah. Aku masuk lebih dalam dan duduk menghempaskan diri pada sofa yang sudah tidak layak untuk diduduki.
Kemudian Bola mataku tidak sengaja terfokus pada pintu kamar yang tertutup, air mataku tidak terasa menetes ... mengambil napas kasar lalu dengan cepat menghapusnya.
Perasaan kecewa selalu hinggap di benakku yang terkurung pedih tidak dapat tersalurkan, aku benci ibu ... aku benci dirinya ... aku benci hidupnya.
Andai saja aku bisa memilih waktu itu, pasti akan kupilih hidup bersama ayah bukan hidup bersama wanita kotor seperti ibu.
Pelupuk mataku terpejam mengasihani diri sendiri, menangis dalam diam sambil menahan sakitnya hati karena baru saja diejek oleh temanku yang mengatakan IBUKU ADALAH PELACUR!!! Aku tidak bisa berbuat apa-apa atas perkataan mereka.
Karena pada nyatanya ibuku memang wanita kotor yang melayani orang-orang bodoh dan culas!
Aku benci semuanya, aku benci sekolah dan aku benci rumah yang menurut mereka rumah adalah tempat pulang, tetapi ... bagiku rumah adalah tempat sampah rusak yang harus segera dibakar.
Emosiku semakin naik, setelah mendengar suara mendesah dari balik kamar. Pelupuk mata yang tadi terpejam kini reflek terbuka menatap pintu itu dengan tajam.
"Sialan! Bukannya berubah malah makin menjadi," ujarku sambil menahan napas dendam. Baru saja tadi pagi ibu berjanji padaku untuk tidak melayani warga atau tetangga terdekat kami, sekarang malah mendesah keenakan di siang bolong begini!
Suara ibu semakin menjadi, aku yang panik karena takut terdengar dari luar dan malah menimbulkan masalah lagi seperti kemarin. Langsung beranjak menghampiri pintu mengetuknya kuat. "Buk ... Buk ... ini Dira, Buk. Tolong buka pintunya," panggilanku yang tiba-tiba terpotong setelah melihat pintu kamarku malah terbuka.
Alisku menaut, bola mataku membulat menatap seorang pria bertelanjang dada dan perut yang buncit baru saja keluar dari kamarku.
"Eh ... Neng Dira udah pulang, om tunggu dari tadi di dalam kamar loh ...." Wajahnya tersenyum mengeluarkan gigi yang berwarna kuning, tubuhnya tambun dengan rambut acak keriting dan berkeringat.
Aku bergidik ngeri menatapnya dari depan pintu yang sedari tadi tidak terbuka ... tubuhku terasa kaku dan lidahku kelu padahal aku ingin sekali teriak sekencang mungkin setiap tapak kakinya melangkah menghampiriku.
Tubuhku gemetar hebat saat pria itu mulai menyentuhku dan tangannya mulai masuk secara perlahan ke dalam rok berwarna abu-abu yang saat ini kukenakan.
Lidahnya menjulur, air liurnyaa mulai berjatuhan mengenai wajahku. Jantungku berdegup kencang ... aku berusaha sekuat mungkin melawan rasa takut agar lidahku tidak kelu.
"I-i-i-buuuuu ...," teriakku dengan menggedor pintu sangat kencang. "I-i-i-ibuuuuu ...," teriakku lagii.
Namun, semakin aku berteriak semakin pria itu mengulum bibirku dan tubuhku yang kecil kini terjatuh dengan posisi di bawah tubuh pria gila ini, diri ini mulai kesusahan untuk berteriak sebab mulutku sudah sepenuhnya di dalam mulutnya, aku pun juga kesusahan untuk melawan, tubuhnya sangat berat ... aromanya seperti got sangat menjijikkan.
Aku menangis pasrah menatap pintu, sambil berharap ibu akan mengasihaniku. Air mataku menetes deras, kancing bajuku mulai satu persatu pria itu membukanya.
Dan sekarang ... baju seragam yang kukenakan lepas sudah, ia melempar baju itu tepat di samping wajahku.
Tek!! Suara pisau kater yang jatuh bersamaan dengan baju yang dilempar kuat di depan mata.
Dengan cepat aku mengambilnya, lalu ....
Crakk!!!!
Goresan panjang kubuat di wajah pria jelek itu, ia reflek menjauhiku mengerang kesakitan menutupi wajahnya. Aku segera bangkit dan berlari menjauh darinya ....
"Sialan!" pria itu mengumpat sambil menggetarkan gigi dan memasang mimik wajah yang begitu menyeramkan. Ia menghusap darah yang menetes dari wajahnya lalu melihat telapak tangannya yang sudah dipenuhi oleh darah.
"Cih! Cari mati kau rupanya ...." Ia menatapku tajam, kemudian berlari menghampiriku.
Aku pun juga berlari ke arah luar, berteriak meminta pertolongan. "Tolong ... tolong," teriakku sekencang mungkin dan tubuh pria itu berhenti di balik pintu lalu menutupnya.
Aku menangis, meraung dan tersungkur di halaman rumah. Masih kutatap ke arah dalam yang sama sekali ibu tidak keluar dari sana untuk sekedar mengkhawatirkan keadaanku sedikit saja ....
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya seorang pria paruh baya memakai kemeja batik menutup tubuhku dengan kain jarik yang ia bawa.
Pria itu ketua RT di desaku dengan tatapan ramah ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ndok ... ada apa?"
Tubuhku masih gemetar, lidahku sangat kelu untuk menjelaskan, tangisku tersengal terdengar pecah.
"P-pak ... t-tolonng aku, bawa warga ke rumahku dan bakarlah rumah ini! Ada banyak sampah di dalamnya!" ujarku yang masih gemetar.
Pak RT hanya mengangguk mengiyakan, tidak lama setelah ia menghubungi seseorang datang banyak warga mengerumuni rumahku.
Terlihat banyak orang yang mencebik melihat ke arahku, ntah apa yang mereka pikirkan tentangku. Tetapi wajah itu menggambarkan penuh kejijikan
"Silahkan, Pak ...." Aku mengangguk mempersilahkan.
Seluruh warga berkumpul menimpuki kaca rumahku dengan batu. "Keluarlah! Sarni! Keluarlah! Atau kami bakar rumah ini," teriak salah satu warga memanggil nama ibu dan mengancamnya.
Kemudian ibu keluar hanya menggunakan sarung yang ia pakai sebagai kemben menutupi dada, rambutnya masih acak bak tidak kenal malu dan tidak lagi takut oleh warga sekitar.
"Ada apa?" tanya ibu wajahnya datar, tetapi bola matanya tajam menyorot ke arahku.
"Pergilah dari sini jangan jadi tulah dan kesialan di desa ini!" teriak warga lain menimpali.
"Aku?" Alis ibu menaut seolah dibuat bingung, "Aku tidak melakukan apa pun?!" jawab ibu berkelit.
Aku menggeleng sambil menangis, semua warga kini balik menatapku tajam.
"Ohh ... anak itu, dia habis kupukuli karena sudah lancang menjual diri pada temanku. Kupukuli habis-habisan ... aku tidak mau ia salah melangkah sepertiku dulu ...." Ibu menyeringai lalu melanjutkan perkataannya lagi. "Lalu apa aku salah mengajarkan anakku, agar tidak salah melangkah?" tanya ibu tersenyum manis.
Aku menggeleng lagi, tubuhku merapat pada pak RT. "Pak, Buk ... tolong periksa rumah kami," jawabku pelan.
Pak RT mengangguk dan mempersilakan beberapa warganya untuk masuk.
Beberapa menit mereka masuk lalu kembali lagi, "Tidak ada apa-apa di dalam, Pak. Hanya ada bau alkohol yang menyeruak di dalam sana."
Ibu menyeringai puas. "Anak itu sudah mencoba mabuk-mabukkan semalam, Pak! Jadi wajar dong kuhajar dia habis-habisaan!" ucap ibu yang sudah lihai dalam mengarang cerita.
Semua warga menggeleng menatapku penuh dengan kebencian.
"Ibu sama anak ... sama aja!"
"Wajar sih keturunan, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya!"
"Ibunya mau berubah, malah sekarang anaknya yang berulah!"
Begitulah rentetan kata-kata yang mereka ucapkan ke arahku.
Kemudian pak RT menepuk bahuku berkali-kali. "Ndok ... turutilah ibumu, dia menghajarmu karena ingin dirimu menjadi yang lebih baik lagi. Pesan bapak ... jangan lakukan hal yang sama lagi yaa, Ndok ...."
Sekarang pria itu menghusap rambutku lalu pergi bersamaan dengan perginya para warga meninggalkan aku sendiri yang masih menunduk dan menangis, tidak lagi sanggup melihat wajah perempuan jahanam di hadapanku.
Plak!!
Tamparan kuat melayang di wajahku, "Kau bodoh!" umpatnya, matanya melotot hampir melompat keluar seperti di film zombie.
Lalu mencengkram tanganku kuat, ditariknya aku untuk masuk ke dalam. Aku menolak untuk masuk, meski aku tahu pria bejat itu pasti sudah melarikan diri lewat pintu belakang. Tetapi, rasanya ... tubuh ini sudah enggan untuk masuk.
"Aku ingin ke rumah ayah ...," ujarku yang entah keberapa kali aku mengucap ingin ke rumah ayah.
Ibu tersenyum miring seketika, "Ck! Kamu lupa? Ayahmu sudah nggak menemuimu 12 tahun lamanya! Dia tidak lagi peduli padamu, Dira!" bentak ibu wajahnya merah padam sangat menakutkan.
"Aku nggak peduli, setidaknya aku nggak hidup bersama ibu sepertimu!" teriakku tidak kalah keras.
"Seperti apa maksutmu?!" tanyanya dengan wajah yang semakin menyeramkan. "Ibu yang kamu maksut kotor begini juga bisa menyekolahkanmu hingga kau SMA, Dira! Mana ayahmu yang selalu kau puja-puja dan kau sebut? Tidak ada kan?!"
Aku terdiam ....
Benar perkataan itu, aku juga ikut menikmati hasil dari jerih payah keharaman ibu.
Di saat kami saling diam, tidak lama pria paruh baya yang samar kumengingatnya datang menemui kami.
"Assalamualaikum, Sarni ...," panggilnya.
Lalu aku dan ibu menoleh secara bersamaan memandang nya. "Walaikumsalam," jawabku yang masih memandang wajahnya untuk memastikan siapa dirinya.
"Mbak ... aku datang kemari memberi tahu jika Bang Hadi meninggal jam 10 siang tadi akan dimakamkan secepatnya hanya menunggu Dira dan Mba Sarni lagi."
Aku ternganga berapa detik tidak percaya yang pria itu katakan adalah nama ayahku, bagiku semuanya terlalu mendadak. Aku belum siap untuk mendengar kabar itu ... bahkan rindu ingin bertemu pun belum juga terkabulkan, malah sudah tertinggal lagi untuk kedua kalinya ....
"Hargh!"
Ibu menarik napasnya kasar lalu ia tertawa sebentar. "Dua belas tahun nggak memberi kabar, sekarang kebetulan banget baru aja lelaki itu diomongin. Sudahlah ... aku nggak sempat untuk menemuinya, Jika Dira mau ajaklah dia ...," ujar Ibu sembari melangkah mengarah masuk ke dalam rumah meninggalkan kami berdua di depan halaman rumah.
Lampung, 08 Mei 2023.
"Bu, ibu yakin nggak mau dateng ke pemakaman ayah?" tanyaku pada wanita yang begitu sangat menjijikkan bagi hidupku.
Ibu menoleh ke arahku, memandangku tajam penuh kebencian lalu dirinya secara tiba-tiba tersenyum. "Untuk apa? Setelah dia ngebuat aku kayak gini, aku masih sudi untuk hadir kembali dalam hidupnya, Cih! Dasar pria brengsek! Jangan harap, itu nggak akan pernah."
Aku menghela napas, lagi-lagi hati ini terlalu sakit setiap kali ibu mengumpat dengan sebutan kotor tentang ayah. Sekarang aku hanya bisa pasrah, meski sangat berharap ibu menemui ayah untuk terakhir kalinya ... agar aku bisa melihat keluargaku berkumpul kembali walau dalam keadaan terbawah sekali pun.
Namun, sudahlah ... harapan yang selalu aku bayangkan kini pupus. Ternyata sampai kapan pun keluargaku tidak akan bisa bersatu kembali.
"Dira, bisa pergi sekarang?" panggil pria tadi yang ternyata adik dari ayah. Aku langsung mengangguk ke arahnya.
Kemudian kami pergi berdua menggunakan mobil sedan berwarna putih, hampir sepanjang perjalanan kami hanya diam. Sampai akhirnya paman memandangku dengan tatapan senyum yang diukir paksa olehnya. "Gimana kabar ibumu, Ra?" tanya paman membuka obrolan.
Aku menoleh ke arahnya menjawab seadanya lalu tersenyum. "Baik." Hanya itulah yang bisa kuucapkan, tidak mungkin kuceritakan semua keadaanku selama ini padanya.
Walau sebenarnya ibu adalah sosok yang sangat menakutkan bagiku, mental ibu seperti terganggu aku menyadari saat aku menginjak sekolah menengah pertama. Ibu pernah terlihat menangis lalu tiba-tiba bisa dengan cepat tertawa! Terkadang juga ibu menghadap pada cermin, berbicara sendiri lalu menangis dan histeris dengan sendirinya di dalam kamar.
Ibu tidak pernah mandi, dia tidak peduli pada penampilannya, kadang pula bau badan ibu sampai menyeruak menusuk hidungku. Namun, ntah mengapa ibu masih saja tetap laku menjual diri di setiap harinya ... sampai sekarang perilaku itu tidak pernah ada yang berubah. Membuatku merasa mual setiap saat membayangkan aroma rumah itu, jika sudah bercampur aroma tubuh ibu yang bau, aroma alkohol dan bau anyir yang begitu amis entah berasal dari mana.
"Ra? Jangan ngelamun!" ujar paman membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk ke arahnya, sungguh ... aku ingin bertanya mengapa ayah sudah dua belas tahun lebih tidak menemuiku? Namun, aku lebih memilih untuk diam. Takut jika aku menyakiti hati paman padahal ini pertama kalinya kami bertemu kembali di saat aku telah dewasa.
Sekitar 30 menitan lamanya, akhirnya mobil paman berhenti di depan halaman rumah yang begitu sangat kurindukan.
Aku turun tanpa perintah, bola mataku mengedar pada rumah yang sama sekali tidak ada yang berubah masih sama seperti dua belas tahun silam. Rumah yang dulu menjadi rumah ternyaman bersama seorang lelaki yang rela bermain kejar-kejaran bersamaku meski tubuhnya sangat lelah, karena telah bekerja seharian.
Langkah ini semakin lemas rasanya saat melihat pada semua orang yang memakai pakaian serba hitam, membuatku tersadar jika ayah sudah tidak lagi bernyawa di dalam sana.
Paman menggandeng lenganku, sepertinya dia paham perasaanku saat ini. "Ayuk, Masuk." Aku mengangguk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Semua orang menatapku dengan raut wajah kesedihan, aku berjalan pelan berusaha menembus keramaian.
"Tolong beri ruang untuk anaknya, agar bisa mencium ayahnya." Suara paman pada orang-orang yang hadir membacakan doa.
Semua orang menoleh ke arahku lalu memberi ruang agar aku bisa menemui ayah.
Sekarang ... terlihat jelas, lelaki yang dulu tubuhnya tegap dan kuat saat menggendongku. Kini terbaring sangat kurus, pucat dan kaku di atas ranjang.
Kemudian tangisanku pecah, aku merasa Tuhan sedang mempermainkan takdirku, aku merasa Tuhan tidak pernah sedikit saja memberiku waktu untuk merasakan kebahagiaan sekali lagi bersama ayah ... ibu dan aku, lengkap seperti dulu.
Aku memeluk ayah erat lalu menciumnya penuh kerinduan. Aku sangat rindu pada lelaki yang selalu mencintaiku sepenuh hatinya.
Kupandangi wajah itu, wajahnya tersenyum sangat tenang tanpa beban.
Sedangkan aku ... hatiku begitu hancur saat aku ingin mencium ayah, paman berbisik di telinga kananku. "Sayang ... air matanya jangan sampai netes kena ayah ya, kasian ayah."
Aku melemah, seluruh anggota keluarga ayah menguatkanku. Kini kami berjalan mengantarkan ayah pada peristirahatan terakhirnya.
***
Tanah masih basah itu menutupi jiwa yang sangat tulus mencintaiku dan raga yang selalu tidak kenal lelah untuk memelukku setiap waktu. Aku terkehening sekarang, menatap lelaki yang aku rindukan kini semakin jauh ... kini tidak bisa lagi aku berandai untuk memeluknya meski hanya sedetik.
Kenapa Tuhan sekejam ini padaku? Bukan pertemuan ini yang aku inginkan! Aku hanya ingin berbahagia dengannya sekali saja, tidak boleh? Hanya ingin mengulang semua yang dulu pernah aku dapatkan, mengulang kisah lalu yang dulu pernah aku rasakan ... mengapa semua itu terasa begitu sulit bagimu, Tuhan? Bahkan sekarang Tuhan seperti menghilangkan ingatanku pada ritme suara ayah yang pernah tersimpan jelas di memoriku.
Melihat tubuh ayah hampir hilang dari pandangan, hatiku semakin sakit rasanya. Hingga tak sadar aku meraung kuat. "Ayah ... ayah!" teriakku histeris.
Semua terenyuh menatapku, tidak ada yang bisa menenangkan diriku termasuk paman. Akhirnya paman menepuk bahuku. "Ra ... ikhlas, ayahmu sudah sehat sekarang. Nanti akan paman ceritakan semuanya padamu. Yuk sekarang kita pulang."
Kaki ini masih belum siap untuk melangkah meninggalkan ayah, masih kutaburi bunga sedikit demi sedikit sebagai pengobat rindu yang belum sepenuhnya terobati.
Seandainya ayah tahu aku selalu iri pada teman-temanku, pada mereka yang hidupnya ditemani oleh sosok ayah. Dan seandainya ayah tahu ... ternyata perpisahannya dengan ibu merubah semua rasa kehidupan menjadi kesakitan dan derita.
Bisakah aku menyebut ayah sekarang tidak menyanyangiku lagi seperti ibu? Buktinya ... di saat aku kehilangan tempat untuk bertumpu, di saat aku sudah tidak tahu harus kemana dan tujuanku satu-satunya hanyalah pulang kepelukan ayah. Ia malah pergi menjauh ... tanpa memberi pesan lebih dulu padaku, tentang bagaimana seharusnya aku menjalani kehidupan selanjutnya? Tentang bagaimana seharusnya aku mengejar mimpi dan tentang semua perjalanan dunia yang penuh air mata ini.
Sekarang ... suara langkah orang-orang mulai pergi, paman menuntunku untuk pulang.
Selamat tinggal ayah, selamat jalan cintaku ... selamat jalan pahlawanku ... tunggu aku disana. Nanti akan kuceritakan, cerita yang belum sempat aku ceritakan bagaimana hidup tanpa sosok dirimu. Nanti ... di keabadian.
Air mataku terus menetes mengiringi langkahku. Sekarang ... aku hanya bisa berharap, semua bisa terlewati dengan mudah dan penuh kebahagiaan.
Di saat mataku basah dengan linangan air mata, bola mataku terfokus pada wanita yang berdiri di depan rumah ayah memakai dress berwarna merah dengan riasan wajah yang masih on fresh. Tidak nampak sama sekali kesedihan dari raut wajahnya.
Sebegitu hilangkah rasa semua di hati ibu pada ayah? Aku yang melihatnya saja seperti sakit hati. Apa lagi ayah yang melihat wanita yang pernah dicintainya selama puluhan tahun berlaga seperti orang biasa di pemakamannya.
Lalu untuk apa ibu datang ke rumah ayah? Apa ibu menyesali semua perbuatannya dan ingin menemui ayah?
Angin mengarah padaku, meliuk-liuk bermain pada anak rambut yang begitu lincah menyambutnya. Ya, anak rambut itu senang menyapa angin yang ternyata hanya singgah lalu pergi. Menciptakan debu yang tidak sengaja membuat pelupuk mata berlinang.
Raut wajah ibu memandang ke arahku tajam, aku menyelip pada bahu paman sambil berjalan menghampirinya. Berharap ibu tidak melakukan yang membuat diriku malu disini ... di depan keluarga besar ayah yang baru saja kujumpai.
Belum sampai aku di dekat ibu, langsung dengan cepat ibu menarik lenganku. Wajahnya sangat ketus menatap paman, bibirnya mencebik sinis menyeramkan. Aku hanya diam yang kini berdiri tepat di samping ibu, sedangkan ibu masih menggenggam jemariku kuat.
Kupandangi wajahnya, ada banyak pertanyaan besar di dalam isi kepalaku. Ada keperluan apa ibu menyusulku? Apakah mulut yang biasa mencaci ayah, kini telah sadar untuk meminta maaf atau ibu malah ingin mengacaukan suasana yang sedang berduka di rumah ini?
Jantung berdegup tiada henti, wajah ibu kini semakin sinis menatap semuanya. Giginya menggretak sangat kuat, tetapi ... hebatnya paman hanya tersenyum membalas tatapan ibu yang buas.
"Anakku sudah selesai menghadiri pemakaman abangmu, sekarang selesai juga hubungan kalian. Jadi jangan harap bisa menghasut anakku untuk tinggal disini," suara ibu gemetar tatkala ia berbicara, jemarinya semakin kuat menggenggam jemariku, aku hampir teriak karena merasa agak sakit.
Paman masih tersenyum, "Aku tidak pernah menghasut siapa pun, Mbak. Dira ingin tinggal bersama Mbak juga nggak apa, tinggal disini juga nggak apa ... ini rumah bang Hadi dan abangku sangat menyayanginya. Jadi kapan pun Dira ingin pulang, pintu rumah akan selalu terbuka."
Wajah paman begitu landai menanggapi ibu, sedangkan ibu terlihat sangat panik sejak tadi. Setelah mendengar ucapan paman saja ibu sontak menggeleng. "Ndak ... ndak! Dira akan tetep sama ibu! Iya kan, Ra?" sahut ibu sekarang napasnya menggebu.
Aku mengeram, menatapnya haru. Bisa kudengar suara itu sangat takut untuk kehilangan. Segera aku memegang lengan ibu. "Bu ... Dira nggak akan kemana-mana, Dira akan selamanya bersama ibu."
Jujur, jawaban yang baru saja kuucapkan. Adalah ucapan paling manis yang pernah kuucapkan untuk ibu. Karena selama ini kami tidak pernah akur meski dalam satu atap, aku setiap hari selalu membencinya dan kupikir ibu juga membenciku.
Namun, kali ini ... ibu menyusulku ke rumah ayah hanya karena takut jika aku tinggal bersama mereka. Percayalah hati ini senang, serasa lagi dibujuk rayu oleh pasangannya sendiri!
"Mbak denger sendiri kan? Mbak nggak perlu khawatir, Dira udah dewasa, Mbak. Dia tau betul apa yang dia mau termasuk untuk hidup dengan siapa."
Ibu menghela napas, wajahnya seketika berubah dari kaku sekarang normal kembali.
"Sudah tenang kan, Mbak? Boleh aku meminjam Dira sebentar? Ada yang mau aku omongin empat mata," ujar paman dan dibalas dengan deheman.
Paman mengajakku masuk ke dalam kamar ayah, lalu mempersilahkan aku duduk di atas ranjang. Kemudian ia mengeluarkan buku ukurannya sebesar saku seragam sekolah berwarna merah.
"Ra, sebelum ayahmu meninggal. Dia menitipkan ini untukmu." Paman memberi buku itu padaku. Lalu ia menunduk menangis. "Dia sangat menyayangimu, Ra. Sungguh ... nggak ada semenit pun dia ndak menceritakan tentangmu, dia selalu menceritakan semua masa kecilmu terus mengulang cerita yang sama di setiap harinya."
Aku menangis mendengar ucapan paman, menyesal mengapa aku terus menunggu dan selalu meninggikan ego untuk menemui ayah. Padahal aku rindu untuk selalu ingin memeluknya. Tetapi ... aku selalu meninggikan egoku untuk ayahlah yang seharusnya mencariku bukan malah aku! Hingga sekarang ... malah kematian ayah yang kini mempertemukan aku dengannya.
Setelah mendengar ucapan paman jika ayah sangat mencintaiku, aku juga bertanya mengapa sejak perceraian ayah tidak pernah menemui kami?
Kemudian paman menatapku, kini jemariku digenggam kuat olehnya. Dia menjelaskan jika sejak perceraian itu, ayah selalu menemui ibu. Tetapi ... hanyalah pengusiran yang ia dapatkan, untuk sekedar ingin bertemu denganku saja ibu melarangnya. Nomor ponsel yang ibu gunakan pun langsung diganti agar ayah tidak bisa menghubungi kami.
Hingga suatu hari ayah jatuh sakit dan terkena serangan stroke karena ia terlalu menyimpan rindu yang begitu besar. Semua kerabat ayah selalu datang ke rumah ibu untuk sekedar memberi tahu ibu tentang ayah.
Namun, mereka hanya mendapatkan cacian banyak kata-kata kotor yang keluar dari mulut ibu itulah sebabnya mereka memutuskan untuk menyerah. Tidak lagi menemuiku atau ibu lagi dengan harapan setelah diriku besar, aku akan mencari sang ayah dengan sendirinya.
Dadaku bergerumuh seketika mendengar penjelasan paman, aku menangis terus menyalahi diri! Mengapa diri ini sangat bodoh! Mengapa aku terus berpaku pada ibu? Mengapa aku tidak lari dan menemui ayah? Aku semakin membenci ibu ... padahal baru saja hatiku luluh untuknya.
Paman langsung memelukku, menepuk pundakku berkali-kali. "Udah, Ra. Udah. Ini semua sudah jalannya nggak ada yang perlu disesali dan kamu berhak tau satu hal." Perkataan paman berhenti ia mendorong tubuhku lalu menyuruhku membuka buku yang tadi ia beri.
"Coba, Ra. Baca halaman depan, nanti paman akan jelaskan yang belum pernah kamu ketahui selama ini."
Aku segera mengambil buku tersebut. Membuka buku yang belum pernah kulihat sebelumnya. Nampak ada sebuah tulisan panjang di halaman pertama buku tersebut.
[Dira, anakku yang cantik. Pasti sekarang kamu udah dewasa ... tumbuh menjadi anak yang hebat dan kuat. Maaf ya, Nak. Mungkin saat kamu membaca ini ayah udah nggak ada di sampingmu lagi, Ayah harap kamu jangan membenci ayah yaa, Nak.
Maafkan, ayah ... jika ayah nggak ada di sampingmu saat kamu membutuhkan ayah, maafkan ayah nggak bisa memperjuangkan hak asuhmu agar kita bisa tetap bersama.
Kamu ... adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kasih untuk ayah.
Maaf telah mengukir rindu yang begitu besar di hatimu.
Dan, Nak ... kamu berhak tau satu hal meski sangat berat mengatakan ini padamu. Tetapi ... dirimu harus tau, Ayah bukanlah ayah kandungmu. Ayah hanyalah bapak penggantimu.
Carilah ayahmu, Nak ... agar setidaknya kamu dan ibu bisa hidup lebih aman.
Sekali lagi ....
Selamat jalan putriku yang cantik dan manis, ketahuilah meski ayah bukanlah ayah kandungmu. Sayang dan cinta kasih ayah sepenuhnya milikmu.
Salam kecup ayah untukmu putri ayah satu-satunya]
Air mata menetes, tanganku gemetar kupeluk buku itu sangat erat. Membayangkan yang kupeluk saat ini adalah ayah. Aku tidak lagi peduli siapa ayah kandungku yang jelas dirinya adalah ayah yang terbaik untukku.
Paman masih menatapku sembari tersenyum dalam tangis, "Sabar ya, Ra. Sekarang sudah waktunya paman menceritakan tentang kesehatan mental ibumu yang sebenarnya."
Wajahku mengadah pada paman, tak membalas sepatah kata pun sangking terkejutnya mendengar ucapan itu.