Bab 2

Yuki membawa Rania masuk ke dalam apartementnya. Rania tak henti-hentinya menatap kagum interior mewah di dalam apartement idolanya itu

Yuki tersenyum melihat tingkah Rania yang lugu. Dengan sangat antusias gadis itu menyebutkan semua lagu Yuki dan menyanyikannya

Yuki memberikan tepuk tangannya pada Rania, ia tahu ada banyak gadis-gadis yang tergila-gila ngefans kepadanya tapi yuki merasakan sesuatu yang lain pada gadis ini , yang seharusnya pantas menjadi anaknya jika ia sudah menikah. Namun diusianya yang melewati ke 38 ia masih belum menikah dengan wanita manapun .

"Siapa namamu ?"

"Rania.... Om...mmmmhhh pak ehh maksudku Yuki. Bagaimana aku harus memanggilmu? Rasanya tidak sopan jika hanya panggil nama saja?"

Yuki tertawa "om yuki juga bagus kedengerannya ko"

"Ehh beneran aku boleh panggil om yuki?"

Yuki mengangguk tersenyum .

Rania girang bukan main, ternyata idolanya baik sekali pikir gadis itu

"Mau minum apa Rania?"

"Apa aja om" jawab Rania tersipu malu.

Yuki membuka pintu kulkasnya, didalam sana ada banyak stok minuman dan cemilan yang berbahan cokelat

"Wah ga nyangka , om yuki suka makanan dan minuman cokelat"

"Ambillah yang kamu suka Rania"

Rania mengangguk girang, ia mengambil sekotak susu rasa cokelat dan muffin cokelat dari sana

Yuki mengajak Rania duduk sambil mengobrol di balkon apartement. Dan lagi-lagi Rania menatap takjub sekelilingnya

"Wuahhhh.... Indah banget pemandangannya dari sini" nanar kedua matanya melihat pemandangan lampu-lampu yang terang benderang dari kursi tempat duduknya sekarang

"Kamu suka Rania?"

Rania mengangguk mengiyakan. Ini berbeda jauh dengan kamar tempat tidurnya di panti asuhan

"Mau menginap disini? Tapi kamu harus punya alasan yang tepat saat ditanya kedua orangtuamu nanti "

"Orangtuaku mungkin tahu aku disini tapi mereka tak bisa lagi melarangku sekarang" ucap Rania

Gadis ini pasti gadis nakal yang suka membantah kedua orangtuanya, tebak Yuki . Dan laki-laki itu akan memanfaatkannya atas dasar suka sama suka

"Kau yakin?" Tanya Yuki lagi memastikan

"Ya.... "

❤️❤️❤️❤️

Yuki menuntun Rania ke atas ranjangnya dan melucuti pakaian gadis itu. Ia melakukannya perlahan , Rania menerima pasrah setiap cumbuan dan sentuhan dari Yuki.

Ketika airmata Rania merembas keluar dari pelupuk matanya karena menahan sakit, Yuki baru sadar ternyata gadis ini masih perawan

Di dalam hati pria itu ia merutuki tingkahnya yang gegabah ia ingin menghentikan gerakan tubuhnya namun nafsunya sudah tak bisa ia bendung. Di satu sisi , ia merasa senang ia belum pernah mendapatkan seorang perawan yang polos seperti Rania

Malampun berganti dengan pagi

Tubuh Rania yang polos masih tertutupi selimut putih, ia turun dari ranjang mencari sosok Yuki

"Ambil ini, pergi dari sini dan jangan mencariku lagi" Yuki tiba-tiba muncul mengagetkan Rania, dan selembar kertas cek bertuliskan nominal dua ratus juta lebih mengagetkan Rania lagi

"Apa ini om?"

"Ini untukmu,pulanglah ke rumahmu. Kedua orangtuamu pasti menunggumu . Aku minta maaf atas kekhilafanku semalam"

"Aku tidak butuh itu, aku menyukai om Yuki dengan sepenuh hatiku " ucap Rania berusaha menahan tangisnya , ia menepis cek itu

"Aku minta maaf, ambil ini dan pergi dari sini . Jangan menemuiku kembali " Yuki membuang pandangannya

"Tapi om kenapa aku tidak boleh menemuimu lagi ?"

"Itu bukan urusanmu. Dengar urusan kita berdua sudah selesai "

"Apa wanita yang menamparmu semalam dia istrimu? Pacarmu?"

"Itu bukan urusanmu Rania" ucap Yuki sambil keluar dari kamar apartementnya

Sementara gadis itu disana jatuh terduduk lunglai, ia menangis berderai airmata . Idolanya tak sebaik yang ia pikirkan sebelumnya. Yuki sama saja seperti kebanyakan artis lain yang hanya memanfaatkan kencan semalam dengan para fansnya

Yuki bermaksud mengantarkan Rania kerumahnya dengan mobilnya. Di dalam perjalanan tak ada satupun dari mereka berdua yang bicara .Sesekali Yuki melihat wajah Rania yang sembab dari kaca mobilnya . Rania hanya tertunduk sambil menahan tangisnya

"Apa rumahmu masih jauh?" Tanya Yuki membuka percakapan

"Turunkan saja aku disini, tempat tinggalku tidak jauh dari sini "

"Kau serius?"

"Ya"

Rania turun dari mobil tanpa melihat lagi ke arah idolanya itu. Ia berjalan tertatih menahan rasa sakit dibagian pangkal pahanya. Ia sangat menyesali perbuatannya semalam. Kesuciannya terenggut sia-sia. Ia hanya mendapatkan cinta dari laki-laki yang dipujanya hanya semalam saja saat langit masih gelap . Ketika langit berganti hangat di pagi harinya, Yuki membuangnya begitu saja dan yang menyakitkan ia dilarang menemuinya lagi

"Sialan.... Kenapa aku malah merasa kasihan, aku kan sudah memberinya uang pengganti " umpat Yuki, ia akhirnya memutuskan mengikuti langkah gadis itu beberapa meter di belakangnya

Rania tidak berbohong kepada pria itu, tempat tinggal Rania hanya tinggal berbelok kiri, Rania membuka pintu pagar besi berwarna hitam sambil menangis membuat Yuki terkejut bukan main, karena disamping pagar besi itu ada sebuah papan kayu bertuliskan Panti Asuhan Bunda

"Kenapa gadis itu tak mengatakannya padaku" desah Yuki tak percaya

Rania berjalan masuk kedalam panti asuhan tanpa menoleh lagi ke belakang, ia pun tidak tahu yuki mengikutinya dan melihatnya dari balik pagar

Yuki berteriak penuh sesal

"Apa yang sudah kulakukan" ia mengingat kembali perkataan Rania semalam tentang orangtuanya yang bisa melihat anaknya namun tak bisa melarangnya

"Aku begitu bodoh Rania,maafkan aku " ucap Yuki

❤️❤️❤️❤️

Dua hari berlalu sejak hari itu. Tubuh Rania masih mengalami demam, Bu nur selaku pemimpin panti sudah memberinya paracetamol namun tubuh Rania masih terbaring lemah diatas tempat tidurnya

"Kita berobat ya Rania, nanti biar bik Sari yang nemenin ke klinik" ucap bu Nur menyentuh kening Rania yang masih tinggi , ia mengecek suhu tubuh Rania.

"Dari kemarin masih 38 derajat , kita berobat ke dokter ya, ayo ganti bajunya" pinta lembut Bu Nur

Rania menggeleng, ada airmata disudut pelupuk matanya, ia merubah posisinya memunggungi Bu Nur

Bu nur , wanita penuh kasih sayang yang mengambil Rania 8 tahun yang lalu usai kebakaran yang menewaskan keduaorangtua Rania dan membawanya tinggal di panti asuhan yang dikelolanya menduga ada sesuatu yang disembunyikan Rania. Sendu mata Rania sekarang sama seperti saat saat pertama kalia Rania tiba di sini , depresi dan trauma.

Namun bu Nur memutuskan menanyakannya nanti saja , ia menghubungi seorang dokter kenalannya memintanya untuk memeriksa kesehatan Rania

"Lihat tuh Rania anak kesayangan mah dipanggilin dokter kesini , coba kalau kita mah disuruh ngantri ke puskesmas " dengus Safira , salah satu anak panti asuhan Bunda

Maya nyeletuk "Biarinlah sirik kamu ya "

"Iya aku sirik, kenapa selama ini perlakuan Bu Nur terhadap Rania berbeda dengan anak-anak lain , kenapa?"

"Karena Rania tinggal di panti asuhan ini enggak gratis, Rania hidup disini dari harta warisan keduaorangtuanya. Enggak kayak kamu atau aku yang enggak jelas siapa orangtuanya" timpal Maya

Plakk..... Sebuah tamparan dilayangkan Safira ke pipi Maya.

Maya tak tinggal diam ia balas menjambak rambut Safira sekuat tenaganya

"Awwww...... Sakit, lepasin" teriak Safira , ia juga berusaha menjambak rambut Maya

Anak-anak lain yang melihatnya bersorak sorai melihat perkelahian Maya dan Safira seolah itu pertunjukan sirkus . Bik Sari yang sedang memasak mendengar kebisingan yang terjadi meninggalkannya masakannya lalu melerai Maya dan Safira dengan kedua tangannya .

Tubuh Bik Sari yang besar dan tinggi memudahkannya untuk memisahkan kedua anak perempuan tersebut.

"Kalian ini apa-apaan, bukannya belajar atau bantuin bik Sari nyiapin makanan malah berkelahi, nanti bik Sari laporin ke bu Nur mau ?"

"Ayo minta maaf" perintah Bik Sari

Namun Safira dan Maya saling membuang wajahnya masing-masing

"Dia yang nampar aku duluan bik, lihat nih pipiku masih sakit" timpal Maya

"Benar itu Safira?' tanya Bik Sari

"Karena dia bilang orangtuaku enggak jelas, memangnya kenapa kalau orangtuaku enggak jelas. Siapa juga yang mau lahir jadi anak ga jelas . Kalau aku bisa milih takdir juga aku akan minta pada Tuhan jadi anak orang kaya dan terhormat" jawab Safira tersedu-sedu .

Bik Sari mengusap airmata Safira dengan lembut,

"Kamu benar sayang tapi tindakanmu menampar Maya itu perbuatan jelek, kita semua disini adalah saudara ,masih ingat ucapan Bu Nur kan"

Safira mengangguk

"Ayo semuanya berkumpul di ruang makan, makan malam hampir matang" perintah bik Sari membubarkan semua anak-anak yang berkerumun disana

"Dan kamu Maya ikut bibik bantuin siapin makanan" ucap bik Sari menyeret lengan Maya masuk ke dalam dapur

Anak-anak manapun di dunia tidak ada yang bisa memilih akan dilahirkan dari rahim dan benih siapa, anak-anak itu hanya mengikuti kehendak takdir yang sudah digariskannya.

Bab 3

Pov Rania

Dua minggu berlalu sejak pertemuanku dengan om Yuki. Aku kembali menjalani hari-hariku menjadi siswa Sma yang tinggal di panti asuhan seperti biasanya. Aku meyakinkan diriku berulang kali bahwa hidupku masih baik-baik saja. Aku sengaja menutup diriku dari segala hal berbau idolaku itu, aku mencopot poster Yuki yang menempel di dinding kamarku , kaset album Yuki, mercandhise bergambar wajahnya dan tentu saja cek bernilai dua ratus juta yang ia berikan padaku lalu aku menyimpannya ke dalam sebuah kotak dan menaruhnya dibawah tempat tidurku.

Meskipun kadang-kadang telingaku tak sengaja mendengar lagu-lagunya yang diputar di saluran radio . Lirik lagu-lagunya yang indah yang berisi pujian dan penghormatan terhadap wanita ternyata hanyalah kebohongan saja.

Ia mencicipiku dan menghempaskanku secepat ini

Dua minggu kulalui malam-malamku penuh airmata sampai airmataku terlalu kering untuk dikeluarkan lagi

Kamu pasti bisa Rania, hidupmu masih panjang dan cerah, gumamku menyemangati diriku sendiri

Ketika jam istirahat aku berada dikantin bersama teman-temanku, aku memesan bakso dan es teh manis . Namun ada sesuatu yang aneh yang baru pertama kali kurasakan seumur hidupku. Aku merasakan mual yang luar biasa tak tertahankan saat pesanan baksoku datang di mejaku

Aku tak bisa menahannya, aku muntah dihadapan teman-temanku

Uekkk.... Uekkk..... Ueekkkk......

Mereka pikir aku masih sakit , jadi aku diantarkan ke ruangan uks. Lalu memberiku beberapa butir obat asam lambung

Namun obat asam lambung itu tak membantuku, tubuhku semakin hari semakin merasakan mual dan pusing yang luar biasa . Hampir setiap jam aku bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku

Tidak hanya itu saja, suatu hari aku merasakan sakit di area dadaku yang seperti membengkak perlahan dan mengeluarkan sedikit cairan diujungnya .

Aku sadar akan perubahan yang terjadi pada tubuhku ini, aku bertanya-tanya pada sosok diriku di balik cermin dihadapanku

Apakah aku hamil......?????? Tanyaku pada diri sendiri

Kejadian yang aku alami sama persis seperti fim-film tentang pergaulan anak-anak yang bebas. Aku tahu alur ceritanya, si gadis akan hamil , diusir dari tempatnya tinggal dan dikucilkan dari pergaulan karena bagi mereka si gadis adalah aib yang baunya menyengat hidung-hidung mereka

Dulu sewaktu aku melihat film seperti ini aku selalu meledek dan mengumpat. Kenapa juga ada gadis sebodoh itu mengorbankan masa depannya karena diperbudak cinta

Sekarang mungkinkah aku mendapatkan karmanya dari Tuhan? Atas kebodohanku demi cinta satu malam bersama seorang pria yang baru saja kukenal

Kunyalakan keran air sampai full agar aliran suaranya terdengar deras menutupi tangisanku yang tak berguna ini

Tok tok tok tok tok ,seseorang mengetuk pintu dari luar

"Rania... Apa kamu didalam?" Tanya Bayu

"Ya, aku lagi mandi. Kamu pakai kamar mandi yang lain aja, aku masih lama mandinya " jawabku berbohong

"Ok" ucap Bayu yang dilanjut dengan suara langkah kakinya yang menjauh

❤️❤️❤️❤️

Kubuka pintu kamar mandi, aku terkejut ternyata Bayu malah bersandar di dinding depan pintu kamar mandi yang kugunakan

"Ko kamu ada disini, tadi kan....."

"Aku tidak kemana-kemana sejak tadi, aku disini mendengarkan kamu menangis"

"Maaf "

" Ada apa Rania, apa yang kamu sembunyikan?"

"Tidak ada" jawabku , lagi-lagi air mataku merembas keluar dari pelupuk mataku

"Jujur padaku Rania, kita sudah bersahabat sejak lama kan? Ada apa? Ceritakan padaku" desak Bayu

Akhirnya aku menceritakan semua yang terjadi padaku dimalam itu dengan terbata-bata kepada Bayu . Kupikir ia akan marah mengahakimiku dan melaporkan perbuatanku pada Bu Nur namun ia justru menenangkanku

"Biar aku yang besok beli alatnya ke apotik, kau harus memastikannya apa kau hamil atau sakit biasa"

"Bagaimana jika nanti hasilnya aku hamil"

"Kita pikirkan nanti. Kau bersikap tenanglah , aku tak akan bilang pada siapapun"

Aku menangis mendengar ucapan Bayu , ia yang selama ini selalu meledek dan bersikap ketus padaku justru merangkulku disaat aku terpuruk, andai saja malam itu aku mendengar nasihatnya

"Terima kasih Bayu, kamu...... "

"Ayo cepat hapus airmatamu nanti kalau orang lain lihat bisa curiga."

Aku mengangguk mengiyakan.

"Senyum dong, kayak gini . " Perintah Bayu , ia juga memasang pose tersenyum dengan gigi yang terlihat semua

Tanpa sadar aku tertawa . Bayu menghiburku untuk sesaat melupakan ketakutan yang menghantuiku

Keesokan harinya seusai pulang sekolah Bayu dan Rania pergi ke apotek untuk membeli sebuah alat tes kehamilan. Bayu menyuruh Rania menunggu di luar apotek, ia yang akan membelinya sendiri

Setibanya didalam bayu langsung mengatakan

"Mba, saya mau beli testpaknya dua" ucap Bayu tanpa mengecilkan suaranya

Orang-orang yang ada di sana langsung menengok ke arah Bayu lalu menatapnya sinis. Di dalam hati mereka tak habis pikir kenapa ada anak remaja yang masih mengenakan seragam membeli alat test kehamilan

"Buat siapa?" Tanya petugas apotek itu menatap Bayu

"Buat ibuku, tadi pagi ibuku menyuruh membelinya" jawab Bayu mengarang

"Jangan bohong, kamu Bayu kan temen sekelasnya Randy di sekolah"

"Iya, saya teman sekelasnya Randy" jawab Bayu mengiyakan, meskipun ia sendiri tidak terlalu akrab dengan Randy disekolah

"Randy bilang kamu tinggal di panti asuhan, jadi mana mungkin kamu punya ibu, kamu beli testpack buat siapa?"

"Memangnya kenapa jika aku tak punya ibu? Apa itu mengganggumu "

"Begini , biar aku jelaskan , kami tidak boleh sembarangan menjual obat dan alat-alat kehamilan kepada semua orang. Terlebih untuk anak dibawah umur seperti kamu. Paham kan?"

Bayu menatap tajam kepada petugas apotek yang melayaninya.

"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya melayani prosedur penjualan di sini. Lihat teman perempuanmu lagi ngintip di balik pintu itu"

Bayu menoleh ke belakang, ke arah pintu masuk apotek yang bening berlapis kaca. Disana dengan polosnya Rania menempelkan wajahnya

Bayu keluar dari apotek dengan wajah masam

"Gimana, udah beli barangnya?" Tanya Rania

"Kita cari apotek lain , ayo didalam barangnya habis" Bayu menarik lengan Rania pergi

❤️❤️❤️❤️

Di apotek kedua lagi-lagi Bayu menyuruh Rania untuk menunggunya saja di luar

Kali ini Bayu menutup sebagian wajahnya dengan masker dan topi. Ia melihat apotek tidak terlalu penuh dengan pengunjung.

"Saya mau beli testpeknya dua mba "

Penjaga apotek itu tersenyum seolah meledek sambil mengeluarkan empat jenis testpek dengan merek yang berbeda.

"Yang ini harganya 7 ribu, ini 15 ribu , ini 55 ribu dan ini yang paling mahal 135ribu "

Bayu tampak bingung memilih, uang di saku celananya hanya ada 35ribu saja

"Semuanya akurat dan terpercaya asal pacarmu bisa menggunakannya dengan benar" goda si penjaga apotik. Ia sudah beberapa kali menghadapi remaja seumuran bayu yang membeli alat tes kehamilan atau alat pengaman untuk berhubungan badan

"Yang ini aja,aku ambil dua" unjuk Bayu sambil mengeluarkan uang 30ribu

"Ini aja? Yang lain enggak?"

"Enggak usah ini aja"

"Sini biar aku kasih tahu cara pakainya, jadi alat ini akan akurat hasilnya jika digunakan pada pagi hari"

"Berarti enggak bisa sekarang ya mba?"

"Ha ha ha ha , ya enggak bisa dong adik manis"

Bayu mengambil kantung belanjanya lalu pergi darisana

"Hey dik, apapun hasilnya nanti. Jangan kalian gugurkan bayinya"

Bayu menoleh

"Mereka tidak bersalah, mereka juga berhak hidup di dunia ini bukan" ucap si mbak penjaga apotek yang Bayu tak tahu namanya itu dengan tersenyum

❤️❤️❤️❤️

Keesokan paginya, Rania mencoba alat tes kehamilan itu dengan jantung yang berdebar, ia mengikuti petunjuk yang tertera di kemasan. Pertama-tama ia menyiapkan sebuah wadah kecil untuk menampung air seni pertamanya di pagi hari lalu memasukan alat itu sampai batas tulisan max, ia mendiamkannya beberapa detik sebelum mengangkatnya

Rania menutup matanya, ia tak berani untuk melihat apa hasilnya apakah dua garis merah yang menandakan ia hamil atau garis satu

Aku mohon jangan garis dua, jangan garis dua , gumam Rania memohon

Tok tok tok tok pintu kamar mandi diketuk dariluar oleh Bayu

"Rania, gimana?"

Rania membuka kedua matanya perlahan, tubuhnya mendadak lemas seketika ketika dua garis merahlah yang akhirnya muncul

Ia tak percaya, ia mengulangi dengan alat yang kedua dan hasilnya tetap sama

Rania positif hamil

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED